10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Dokter yang Tak Pernah Pulang | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 11, 2024
in Cerpen
Seorang Dokter yang Tak Pernah Pulang | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co

HATI-HATI, kalau tak kuat iman, jangan merantau ke pedalaman Kalimantan. Bisa-bisa kau tak pernah kembali ke desamu. Apa sebabnya? Apalagi kalau bukan godaan gadis Dayak atau korban santet dukun Dayak yang mengerikan.

Demikianlah desas-desus dari mulut ke mulut yang terdengar oleh telinga dokter Gede ketika ia punya keinginan untuk mengabdi ke daerah sangat terpencil di pedalaman Kalimantan Timur, saat itu.

“Tidakkah Bli Gede khawatir dengan segala cerita itu, Bli?” Si Ketut, adik terkecil Dokter Gede terus mendesak kakaknya.

“Hahaha, itu cuma gosip. Kabar burung, jangan mudah percaya, Tut.” Dokter Gede menanggapi desakan adiknya sambil tersenyum.

Dokter Gede mengemasi barang-barangnya. Besok ia harus sudah berangkat ke Kalimantan Timur, memenuhi tugasnya sebagai dokter daerah terpencil selama kurang lebih dua tahun.

“Tapi, apa pun itu, pasti selalu ada sebabnya, Bli. Tak mungkin kabar itu muncul begitu saja kan?” kata Ketut.

“Itu kembali ke kita-kita saja, Tut, ke masing-masing orangnya. Kalau betul semua yang ke sana tak bisa kembali, tak mungkin pemerintah menugaskan kita ke sana kan?” kata Dokter Gede. Kakak yang penyabar itu terus menenangkan adiknya.

Ketut diam, memandang kakaknya.

“Kalau kita jahat, di kampung sendiri pun bisa celaka. Tak usahlah jauh-jauh ke pedalaman Kalimantan cari celaka. Di sini juga bisa, hehehe.” Kata Dokter Gede.

Jelas sekali si bungsu begitu menyayangi kakaknya. Apalagi mereka berasal dari keluarga petani miskin, yang bagai mimpi, si sulung bisa menamatkan sekolah kedokteran.

Si Ketut, nama lengkapnya Ketut Jelaga, anak laki-laki kedua dalam keluarga tersebut, yang masih duduk di bangku SMP pun bercita-cita menjadi dokter seperti kakaknya. Kalau mau jujur, bahkan si bungsu ini lebih pintar daripada semua kakak-kakaknya.

Selain Dokter Gede, ada dua lagi kakak perempuannya. Seorang telah menikah, dan satunya lagi masih bujangan, tamatan SMEA, bekerja di kantor desa.

Si Ketut yang cerdas, kelak mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran atas kepintarannya dan sebagai penghargaan atas pengabdian kakaknya yang seorang dokter di pedalaman.

“Bli hati-hati nanti di sana ya. Dukun santet di pedalam Kalimantan bisa memenggal kepala orang dari jarak jauh lho, dan bisa memindahkan alat kelamin katanya!” Anak ingusan SMP itu, begitu polos dan apa adanya. Matanya membelalak saat mengucapkan ancamannya itu.

Dokter Gede lagi-lagi tersenyum. Kali ini senyumnya lebih mengembang, sembari merangkul erat-erat adik bungsu yang bakal ditinggalkannya merantau itu.

“Serius lho, Bli. Jangan bergaul dengan gadis Dayak di sana ya?”

***

Dari kota terakhir yang bisa ditempuh dengan pesawat terbang, Dokter Gede perlu dua sampai tiga hari mengarungi sungai dengan perahu untuk sampai di tempat tugasnya. Semakin ke hulu, jeram sungai semakin terjal dan berbahaya. Namun, tak ada pilihan lain, sungai memang sarana transportasi paling utama dan penting di sana. Dokter Gede tahu dari cerita-cerita dokter lain yang pernah bertugas di pedalaman Kalimantan, bahwa untuk pelayanan puskesmas keliling pun, dokter dan tim puskesmas mesti naik perahu mengelilingi desa-desa di seluruh kecamatan di wilayah kerjanya. Itu bisa memakan waktu hingga belasan hari lamanya, baru rampung. Dan semua cerita itu benar. Ketika ia sudah tiba, dan mulai bertugas di pedalaman itu, ia menyimpulkan satu hal, bahwa sungai, di Kalimantan, adalah jalan raya bagi siapa pun yang hendak menuju ke sebuah tempat.

Namun semua itu tak sedikit pun menjadi masalah buat Dokter Gede.

Ia bahkan begitu menikmati tugasnya, petualangannya. Hidupnya terasa begitu berarti karena dapat melayani orang-orang yang sangat membutuhkan keahliannya sebagai seorang dokter.

“Di sinilah tempatku yang terbaik. Tempat di mana aku betul-betul diperlukan!” Ia sering membantin. Ia terus mengafirmasi dan memotivasi dirinya agar spirit pengabdiannya tak luntur oleh apa pun. Apalagi luntur sekadar karena uang. Pun seperti yang diingatkan adindanya, luntur hanya gara-gara leto. Leto artinya wanita dalam bahasa Dayak Kenyah.

Namun, bisakah ia kuat? Bagi seorang laki-laki normal seperti dirinya, kekuatan seorang perempuan tak bisa ia duga.

“Amai, bagaimana sudah hubungan kita ini?” tanya seorang gadis pada Dokter Gede. Ia gadis Dayak. Amai adalah panggilan laki-laki dewasa.

Gadis Dayak itu bernama Bungan. Ia bertanya manja kepada Dokter Gede, kekasih pujaannya.

Malam itu, berdua mereka berbaring di atas sebuah batu besar yang permukaannya pipih, di pinggir sungai di hilir desa, di bawah langit yang sedang diterangi bulan purnama. Air sungai tampak berkilau keemasan dihempas cahaya rembulan yang sempurna hingga rimbunan pepohonan di seberang sungai yang sangat lebar itu pun jadi lebih tampak jelas.

Sesekali mereka menangkap sinar yang dipancarkan kedua mata seekor kancil yang sedang minum air di tepi sungai di seberang. Suara air yang mengalir tak berujung, mereka dengar seperti nyanyian cinta sepanjang malam.

Dokter Gede memandang Bungan. Mendapat pertanyaan yang lebih terasa sebagai tuntutan, membuatnya lebih berhati-hati.

Leto itu memiringkan tubuhnya, lalu memeluk Dokter Gede, mendekatkan kepalanya ke wajah pacarnya itu, menatapnya dengan penuh harapan. Hening sesaat, hanya suara air yang tak berujung.

“Amai?” Gadis itu menciumnya.

“Ya, Bungan!”

Dokter flamboyan itu memeluknya, dengan perasaan yang dalam. Dan berbisik di telinga leto itu.

“Kita ke Bali.”

Bungan tampak sedih. “Wek-ku gimana sudah? Amai-ku sudah tak ada bah, tegakah kita bikin dia orang tinggal sendirian kalau kita pergi?”

“Kan soal gampang itu, kita bawa wek ikut ke Bali.”

“Haiyaah, mana pula wek-ku mau ikut pergi. Jauh betul itu bah.” Ia semakin erat memeluk Dokter Gede.

“Kalau nggak mau, ya nanti kita yang tengok ke sini. Kita bawakan wek cucu, hehehe.”

Bungan kaget. Ia melepaskan pelukannya. Kedua tangannya berpindah, kini mencengkeram leher kekasihnya. Lalu berlagak hendak mencekiknya. Lalu mereka tertawa bersama.

***

Bungan, boleh disebut adalah salah satu gadis paling cantik di desa di pusat kecamatan itu. Tubuhnya semampai dan kulitnya  putih bersih alami, seperti kulit gadis Dayak Kenyah pada umumnya. Ditambah lagi ia masih berdarah paren, atau bangsawan kalau di Jawa. Ia memang bersekolah sampai SMK saja, namun terlihat jelas kecakapan pada dirinya. Selain kecantikannya tentu saja. Ia bekerja sebagai bendahara di kantor kecamatan. Sudah banyak pria di desanya, bahkan dari pejabat-pejabat kabupaten yang ingin memilikinya. Namun hatinya telah tertambat pada seorang dokter flamboyan, orang alok yang sedang bekerja melayani masyarakatnya. Profesi dokter, selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat. Apalagi di daerah terpencil seperti itu.

Kata alok sebetulnya bukanlah bahasa Dayak Kenyah yang baku. Namun itu istilah prokem untuk menyebut orang asing atau bukan orang Dayak Kenyah. . Kenapa istilah alok itu kemudian menjadi sebutan bagi orang asing? Asal-usulnya tak terlalu jelas. Kabarnya dulu sekali, ada orang bule, mungkin bule yang datang pertama kali ke sana, untuk urusan berlibur, berpetualang atau mungkin saja penelitian, karena di sana ada sebuah taman nasional. Bule itu selalu menyapa warga dengan kata “Hallo!” Tentu saja ini kata umum yang digunakan oleh bangsa barat. Namun tidak dalam masyarakat suku Dayak Kenyah di sana. Sejak saat itulah, orang asing yang datang ke sana disebut sebagai orang alok.

***

Sore itu, Dokter Gede dan Bungan asik ngobrol di teras belakang rumah dinas dokter puskesmas. Sebuah rumah panggung terbuat dari kayu, seperti semua rumah pada umumnya di sana, yang teras belakangnya menghadap ke perbukitan dan hamparan ladang warga. Sebuah anak sungai dari puncak bukit mengaliri ladang dan sekaligus menjadi sumber air sehari-hari warga. Mereka duduk santai, menikmati kopi hitam dan penganan sanggar, atau pisang goreng.

Dokter Gede baru saja kembali seusai melaksanakan tugas puskesmas keliling ke seluruh desa di kecamatan itu. Tentunya mereka sudah saling merindukan.

“Capekkah, Amai?”

“Nggak terasa, Bungan! Selalu memberi kesenangan. Apalagi bareng tim tourney yang kompak!”Dokter Gede tersenyum, sambil menyeruput kopinya.

Tourney adalah istilah puskesmas keliling menggunakan sarana perahu di pedalaman.

“Apalagi di hulu, sempat ikut amai-amai meraba ikan, pas air lalut lagi keruh. Lumayan besar-besar ikan pasaknya, Dik!” kata Dokter Gede.

Lalut adalah sungai. Dan meraba ikan adalah tradisi warga menangkap ikan yang “buta” akibat air sungai yang keruh, hanya dengan tangan semata, tanpa menggunakan alat penangkap ikan apa pun.

“Wah asik betul. Ikut minum ciu juga kah, Amai?” tanya Bungan. Harusnya, hal itu tak perlu ia tanyakan. Karena sudah diketahui bersama, di setiap acara keramaian, menikmati minuman beralkohol itu  sudah menjadi tradisi.

Ciu dibuat dari fermentasi singkong yang kadar alkoholnya bisa mencapai di atas 25 persen. Rasanya lebih keras daripada arak Bali atau cap tikus di Sulawasi.

Dan betul saja, target pertanyaan Bungan bukanlah cuma sampai di situ.

“Hehehe, iya-lah, Bungan, sedikit saja!” kata Dokter Gede.

“Ada acara narinya juga kah? Pasti sama leto-leto di hulu ya?” Gadis cantik eksotik itu mengunci tatapannya pada wajah kekasihnya.

Paham situasi, Dokter Gede memeluk gadisnya, membisikkan kata-kata. “Menari kan spontanitas, buat menghormati saja. Dulu juga pas baru sampai di sini, malam penyambutan di BPU (balai pertemuan umum), saya juga dipaksa menari sama leto tia ini, hehehe. Memang boleh ditolak?”

Sambil mengucapkan kalimatnya itu, Dokter Gede menuding dahi kekasihnya. Ia mencium dahi leto tia itu, yang artinya gadis cantik. Dokter yang satu itu memang piawai berdiplomasi dan mengendalikan situasi.

Warga kecamatan memang sangat menghormati dan begitu segan dengan dokter dari Bali itu. Tentu saja bukan tanpa alasan. Karena ia begitu setia dan selalu sepenuh hati menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat. Setiap hari melayani pasien di puskesmas dengan sangat ramah, tak pernah menolak saat diminta mengunjungi pasien di kediamannya, jika pasien tersebut sangat lemah. Meskipun itu harus dijangkau dengan perahu, sekali pun di malam hari. Ia sering harus bermalam di rumah pasien ibu hamil yang harus dibantu melahirkan. Tentu saja ia juga rajin melakukan tourney. Bahkan selain sebagai dokter, ia juga mengajar di sekolah SMP negeri kecamatan yang kekurangan guru.

Dokter Gede memberi pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Ia pun sering berbaur dengan masyarakat saat nugal atau menanam padi dan majau atau memanen padi. Juga sesekali ikut warga pergi berburu. Itulah sebabnya, amai duktun atau pak dokter, sudah hampir lima tahun lamanya bertugas di sana karena selalu dihalangi oleh tetua adat, pemerintah kecamatan dan utamanya warga saat Dokter Gede hendak izin menyelesaikan masa baktinya di kecamatan itu.

Semua betul-betul menyayangi dokter yang berasal dari pulau hantu itu. Karena Bali dalam bahasa Dayak Kenyah punya arti hantu. Itu menjadi hantu yang dicintai masyarakat. Jadi bukan karena cintanya Bungan semata.

“Bungan, kamu sudah bilang sama wek bakal ikut saya ke Bali?”

Wajah Bungan seketika meredup. “Sedih bah aku, mau bilang itu sama wek.”

“Ya, tapi harus bilang kan?”

“Bisakah, ditunda setahun dua tahun lagi, Amai?” Kini wajah Bungan penuh harap.

Kopi Dokter Gede tak lagi menggoda seleranya. Pun sanggar-nya mulai dingin. Ia berada di persimpangan jalan, memilih  antara ibundanya yang sudah sendiri dengan pujaan hatinya yang tak tergantikan.

“Bungan, bukan masalah pada saya sebetulnya. Tapi itu masalah kesempatan untuk saya melanjutkan sekolah ahli. Kalau saya sudah dokter spesialis, kan baiknya buat kita semua juga. Buat wek juga. Iya nggak?”

Bungan mengangguk, namun bayangan sedih tetap terpancar dari sinar matanya.

“Bukankah kita sudah bahagia saat ini? Jika ikut ke Bali lalu aku kerja apa? Sementara kalau di sini, Amai tetap bisa bekerja sebgai duktun.”

Dokter Gede tidak menanggapi. Selalu berakhir seperti itu. Hening mereka cukup lama. Cuma desah suara nafas dan suara samar anak sungai di turunan kediaman mereka. Keduanya menatap perbukitan yang semakin diselimuti awan. Sesuai rencana, kira-kira lagi tiga bulan, setelah mengadakan tourney yang terakhir, Dokter Gede harus pulang ke Bali untuk melanjutkan pendidikannya.

***

Di kediaman keluarga Bungan, sekitar tiga bulan kemudian. Cukup banyak kerabat berkumpul. Seperti umumnya kebiasaan orang Dayak Kenyah, tempat paling sering buat ngumpul adalah di ruang dapur. Hampir semua rumah warga, masih memakai tungku dan kayu bakar untuk memasak. Di hadapan tungku, mereka menggelar tikar lesehan, buat ngobrol saja, ngopi atau makan. Para tamu pun lazim diterima di sana.

Bungan tampak berbicara dengan nada tinggi. “Dokter Gede akan terus bersama kita, dia orang takkan pernah bisa pulang ke Bali lagi!”

Ibunya memeluk menenangkannya. Kerabat yang lain hanya terduduk diam mengelilinginya.

Ibunya berusaha menjawab. “Aa Ungan, dorang duktun bakal di sini terus sama kita.”

Bungan memeluk wek-nya, tersenyum lalu terisak haru.

“Aku cinta betul sama amai duktun. Aku pun tak tega hati pergi ninggalin wek di sini sendirian. Bagus betul amai duktun tak jadi pulang ke Bali.”

Ia terus tersenyum.

“Aa Ungan, kamu istirahat dulu ya anak. Sini wek antar ke kamar ya?”

Mereka berpelukan menuju ruang tidurnya. Kerabat lain masih bercengkrama di hadapan tungku yang apinya kian meredup.

***

Pagi itu, diantar ibu dan sejumlah kerabatnya, Bungan sudah siap untuk berangkat ke Samarinda. Beberapa warga mendengar Bungan mendapat tugas baru di kota Samarinda. Bunyi mesin perahu longboat yang kebetulan punya kerabatnya sudah meraung-raung di tepi sungai. Pas juga debit air sungai cukup besar dan warnanya keruh. Sepertinya semalam hujan di hulu sungai membuat air sungai sangat pas untuk dilalui perahu besar. Dari dermaga terakhir, mereka perlu satu kali penerbangan ke kota Balikpapan untuk kemudian dilanjutkan dengan jalur darat untuk sampai ke Samarinda. Jadi, paling cepat baru sampai dalam dua hari.

“Kita sudah sampai Ungan.”

Salah seorang kerabat berbicara sambil memegang bahu Bungan, di jok belakang mobil yang membawa mereka dalam perjalanan darat dari Balikpapan.

Bungan diam saja. Wajahnya pucat, tak tampak sedikit pun berseri, apalagi bergairah seperti biasanya. Perjalanan yang jauh dan melelahkan baru saja dijalaninya. Akhirnya ia bicara.

“Kenapa juga aku mesti dibawa ke Samarinda? Bagus sudah aku bertugas di kantor kecamatan bah!”

“Aa Ungan, di sini dulu biar lebih baik.”

Mereka mengantar Bungan ke “kantor baru”-nya. Melewati beberapa konter dan petugas, akhirnya ia sampai di ruangan yang dituju. Belum menunggu terlalu lama, ia sudah dipanggil masuk. Didampingi ibu dan seorang kerabatnya, mereka memasuki ruangan.

“Selamat pagi Bungan. Apa kabarnya?”

Dokter wanita itu begitu ramah. Memakai jas putih bersih, dengan kemeja warna hijau muda dan rok selutut berwarna hitam. Warna sepatunya seirama dengan warna kemejanya.

“Wek, kenapa aku dibawa ketemu dokter?”

Tatapan matanya kosong.

“Aa Ungan, Bu Dokter ini baik, dorang bisa bantu kita.”

“Bantu apa kita wek? Aku tidak apa-apa bah!”

Suaranya meninggi.

“Ku sudah punya bah, duktun di hulu sana. Amai duktun selamanya di hulu. Ngapain cari dokter lagi jauh-jauh ke sini?”

Kata-katanya diikuti tangisan. Ibunya memeluk dan menenangkannya. Tangisannya makin keras dan tubuhnya berguncang. Kerabatnya ikut memeganginya.

“Tidak apa-apa, Bungan. Menangislah. Kamu akan baik-baik saja.”

Tangisan Bungan makin menjadi-jadi. Dokter tersebut memberi kode kepada kerabat yang mendampinginya. Lalu mereka masuk ke ruangan kantor dokter tersebut.

“Mohon maaf, Dok. Adik saya merepotkan.”

Kerabat itu memohon maaf dengan sangat sopan. Mereka masih berdiri.

“Oh, tak apa-apa, tak apa-apa, Pak. Biarkan dulu Bungan menangis. Jangan dibantah. Jika kondisinya sudah mereda, nanti kita terapi lagi.”

“Terima kasih, Dok. Mohon bantuan dokter untuk menyembuhkan Bungan dari gangguan jiwanya.”

Dokter itu menunjukkan sikap empati. Ia memegang bahu laki-laki kerabat Bungan itu, mengambil jarak lebih jauh dari Bungan dan ibunya, yang masih duduk di ruang prakteknya. Mereka duduk di teras belakang kantor yang menghadap taman RS Jiwa itu.

“Sebagai sejawat, kami seluruh dokter dan nakes di RS ini turut berduka atas musibah yang menimpa mendiang Dokter Gede. Semoga beristirahat dengan tenang di sisi Sang Pengasih.”

Matanya berkaca-kaca dan ada genangan air di sudut matanya. Tentu saja kabar tentang gugurnya seorang dokter saat menjalankan tugas di pedalaman, karena perahunya tenggelam, sudah tersiar ke seluruh negeri. Lebih-lebih di kalangan para koleganya sesama dokter atau insan kesehatan secara umum.  

Laki-laki itu pun menahan tangisnya. Ia bicara terbata-bata.

“Dokter Gede sudah menjadi keluarga kami, masyarakat di hulu, Dok. Sulit rasanya kami mencari pengganti sosok yang terlalu baik, untuk kami masyarakat malang yang hidup di pedalaman!”

Bu Dokter hanya bisa mengangguk.

“Amai duktun bukan hanya seorang dokter bagi kami. Namun juga guru bagi anak-anak kami di sekolah. Sering bantu saudara kami yang miskin dengan uangnya sendiri. Ikut kami nugal, majau, berburu. Bahkan tetua kami sering minta saran kepada arwah Dokter Gede untuk masalah-masalah desa di luar masalah kesehatan!”

Kata arwah sering digunakan seperti kata almarhum.

Psikiater itu terus mendengarkan. Ia tampak menyeka matanya dengan sehelai tisu yang sudah mulai basah.

“Setelah tourney itu, mestinya amai duktun pulang ke Bali. Keluarga besar kami ikut bahagia dan sudah merestui hubungan Bungan dengan almarhum untuk segera menikah. Sebetulnya sudah sejak lama kami setuju, namun Bungan yang sering menunda karena kasihan dengan wek-nya yang sendirian.”

“Saya turut berempati, Pak!”

“Kami sangat senang keluarga kami dapat jodoh orang sebaik itu, seorang dokter pula. Bahkan kami sering mendorong Bungan untuk lebih cepat mengambil keputusan karena sudah cukup usianya dan Dokter Gede harus melanjutkan pendidikan. Bahkan, kami keluarga besar sudah berencana ikut serta berangkat ke Bali untuk menghadiri pernikahan mereka!”

Hening sesaat.

“Yang ada…” Ia terisak.

“Yang ada, kami seluruh warga kecamatan mengantar jasad amai duktun, dengan ratusan perahu ke hilir. Oh Tuhan Yesus, berikan kami kekuatan… “

Ia kini benar-benar menangis.

Lalu hening lagi.

“Dok, bisakah adik kami mendapat kesembuhan?”

Dengan cepat, dokter jiwa itu menjawab bersemangat.

“Sangat bisa, Pak. Gangguan jiwa yang disebabkan karena pencetus yang nyata, seperti kehilangan orang yang dicintainya misalnya, akan jauh lebih mudah pemulihannya.”

***

Sepuluh tahun kemudian…

Sebuah perahu loangboat menyandar di dermaga sungai besar itu. Seorang pemuda dengan ransel besar di punggungnya, melompat ke tepi sungai. Seorang wanita muda, berwajah ayu, berpakaian dinas berwarna coklat telah menyambutnya. Keduanya saling mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Saya Bungan, saya camat di sini!”

“Saya Dokter Ketut. Lengkapnya, Ketut Jelaga!” [T]

BACA cerpen-cerpan lain di rubrik CERPEN atau baca tulisan lain dari PUTU ARYA NUGRAHA

Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha
Lelaki Pemetik Cengkeh dan Pelacur yang Penuh Perhatian | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpencerpen tentang cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembiaran Kekerasan pada Sekolah Kedinasan

Next Post

Pameran “Culmination” dan Harmonisasi Para Seniman

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Culmination” dan Harmonisasi Para Seniman

Pameran “Culmination” dan Harmonisasi Para Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co