13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 24, 2024
in Cerpen
Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co

JOE, begitu panggilan pria ganteng itu. Ia kebanggaan keluarga dan kerabatnya. Koneksinya banyak, dari orang-orang penting hingga kepeduliannya kepada orang-orang miskin. Ia menguasai banyak bahasa dan cepat menyelesaikan masalah. Itulah alasannya ia mendapat posisi penting dan strategis di perusahaan besar event organizer (EO) terkemuka itu. Salah satu EO yang bisnisnya telah merambah dunia, baik event hiburan, pameran, konferensi tingkat tinggi negara-negara sampai kongres ilmiah para ilmuwan.

“Orang-orang hebat memberi kita motivasi. Tapi jangan lupa, orang-orang yang menderita membuat kita bersyukur. Kalau mau jujur, ketimbang motivasi, rasa syukurlah yang membuat kita lebih cepat sukses!”

Kata-kata itu selalu diucapkannya kepada rekan-rekan kerjanya, keluarga dan kerabat atau saat ia diminta mengisi kelas motivasi di sejumlah instansi pendidikan di kotanya. Kata-kata itu juga salah satu quote yang sering ia ingatkan melalui akun media sosialnya.

“Karena, setinggi apa pun, kita tak pernah sempurna!”

Pengikutnya banyak sekali dan sebagian besar adalah kaum hawa. Tubuh ganteng dan wajah macho-nya menjadi salah satu daya tariknya. Jangan-jangan kaum lelaki ada juga yang naksir. Tetapi, ada seorang yang kurang menyukainya. Bosnya sendiri. Bos yang merasa posisinya bakal terancam. Ia model manusia, yang dengan mudah dapat melakukan segala cara untuk kepentingannya.

***

Saat ini, ia tengah mempersiapkan event prestisius, eksibisi kerajinan tangan tradisional oleh sebuah departemen pemerintah di kota Amsterdam. Kerajinan tangan yang telah menjalani proses kurasi yang ketat akan dikenalkan dalam sebuah event internasional di sebuah hotel di dekat Rijkmuseum, Belanda. Di salah satu ruang pertemuan gedung departemen itu, Joe memaparkan persiapan maupun panduan implementasi eksibisi yang akan mereka laksanakan. Hadir langsung Pak Menteri, sejumlah jajarannya dan seorang gadis cantik bernama Agnes, yang selama ini terus memberi perhatian kepada Joe.

Joe menggunakan setelan batik coklat muda dengan dasar warna hitam, membuatnya anggun. Ia berhasil memadukan unsur tradisional dengan sikap gayanya yang konsevatif, sebuah paduan selaras. Bahasa tubuhnya mengutarakan kekuatan dan superioritas.

“Baik, Bapak Menteri, Mbak Agnes dan bapak ibu semua. Venue eksibisi, kami sampaikan, berkat upaya keras tim dan bantuan kedutaan RI di Denhaag, kita mendapatkan hall paling strategis!”

Joe menampakkan wajah bangga dan semua yang hadir mengangguk tampak puas dan excited.

“Terkait akomodasi. Ini juga kabar baik untuk kita semua, Pak Menteri. Karena semua delegasi dipastikan mendapat kamar di hotel tempat eksibisi berlangsung, Park Central Amsterdam. Agen perjalanan yang kami gandeng  memang sangat responsif.”

Agnes, terus memandangi Joe.

“Bagaimana soal makanan?” Pak Menteri menggoda. Joe tersenyum.

“Aman, Pak. Kami sudah mendapat izin untuk menyewa dapur hotel. EO telah menyiapkan dua orang chef untuk Indonesian food. Ini dengan pertimbangan jumlah delegasi kita yang cukup banyak. Bapak Ibu yang bisa menikmati western food dapat langsung memesan di restoran hotel atau restoran sekitar.”

Pak Menteri tersenyum puas.

“Untuk kargo properti pameran, sudah fix ya, Pak Joe?” tanya Agnes.

Gadis itu ingin kepastian. Atau apakah sekadar basa-basi? Busana yang dikenakannya match dengan rambut lurus yang dicat coklat kekuningan, diikat ke belakang membuat giwang berlian yang dikenakannya sangat jelas terlihat. Bulu mata palsunya membuatnya terlihat makin sensual.

“Ya, Mbak Agnes. Untuk kargo, pagi ini sudah saya konfirmasi ke pihak maskapai dan sudah mendapat kepastian tertulis,” jawab Joe mantap.

Agnes melanjutkan pertanyaannya. “Ini kan event besar. Apakah sudah ada kepastian back up di venue dari pemerintah?”

Sesungguhnya ini harus dijawab oleh Pak Menteri sebagai perwakilan pemerintah. Namun Agnes menatap Joe yang saat itu memakai sweater dengan kerah kemeja menyembul keluar. Serasi dengan rahangnya persegi dan rambutnya yang tersisir rapi. Dalam usianya yang sudah memasuki 37 tahun, sebetulnya ia tergolong telat menikah.

Joe pun cepat menanggapi.

“Terimakasih, Mbak Agnes sudah mengingatkan. Sesuai info valid dari staf kementerian bapak!”

Ia mengangguk kepada Pak Menteri.

”Staf dari Indonesia House of Amsterdam akan mendampingi selama pameran berlangsung,” kata Pak Menteri.

Pertemuan itu berlangsung singkat dan efektif. Tentu saja lantaran kecakapan seorang Joe yang begitu profesional dan taktis. Ia sangat puas. Namun ada firasat buruk yang membayanginya. Kehadiran Agnes. Ia adalah ketua delegasi. Meskipun yang bersangkutan adalah seorang pengusaha eksport import kerajinan tangan eksklusif, namun posisinya sebagai ketua delegasi ini lebih karena, ia adalah putri dari sang Menteri sendiri. Joe berusaha menyingkirkan perasaan-perasaannya itu.

***

Langit Amsterdam pagi itu begitu cerah, sangat ideal buat mengisi waktu santai. Event eksibisi delegasi Indonesia sudah hampir seminggu berjalan dan sukses besar-besaran. Dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang begitu padat mendatangi venue dan sejumlah proposal kerja sama perdagangan yang telah masuk ke perwakilan pemerintah.

Joe sejauh ini, merasa sangat puas. Ia dapat memberikan skema terbaik dan solusi setiap masalah yang terjadi selama agenda berlangsung. Bukan hanya urusan formal eksibisi, termasuk promosi yang sangat efektif, juga hal-hal di luar ajang pameran seperti masalah fasilitas kamar hotel bagi delegasi, delegasi yang kehilangan dompet dan lain-lain.

Dan firasat yang dirasakannya saat masih di tanah air, akhirnya menjadi nyata. Beberapa kali Agnes menghubunginya untuk bertemu secara pribadi. Sejauh ini, ia masih bisa mengelak. Sampai akhirnya tadi malam, ia menerima telepon dari Agnes saat sedang berada di kamarnya membuat laporan.

“Joe, untuk sekali saja. Lusa kita sudah pulang ke Indonesia.” Agnes memaksa.

“Maaf, Mbak Agnes. Posisi saya sedang dalam bekerja. Menjalankan tugas kantor.”

Agnes terus mengintimidasi. “Takut sama bosmu? Nyatanya kerjamu awesome banget tuh!”

“Terimakasih, Mbak Agnes”

Agnes memotong. “Sudah ah, gak usah pake mbak-mbak. Gue jauh lebih kecil, hahaha!”

“Oh iya… masalahnya bukan semata hasil kerjaan. Ini soal ketentuan kantor, Agnes.”

“Sudahlah, event ini punya papa gue. Kamu tenang aja.”

“Ehm, gimana ya?” Joe ragu-ragu.

“Okay, besok gue tunggu di lobi yah. Jam 10. See you!”

Agnes menutup teleponnya. Joe begitu risau. Begitu banyak hal yang dirisaukannya, membuat tidurnya kurang nyenyak. Baru menjelang pagi ia terlelap kelelahan.

Demi tidak mengecewakan Agnes, Joe menemuinya di lobi. Mereka bercakap beberapa saat, sebelum keduanya keluar meninggalkan lobi.

Kini mereka sudah duduk intim bersebelahan, di atas cruise di Prins Hendrikkade 25, 1012 TM, bersiap menikmati wisata kanal Amsterdam. Ini merupakan wisata khas dan wajib jika berkunjung ke Amsterdam. Dikenal memiliki kanal-kanal yang indah, sering disebut sebagai Venesia di utara. Bagi Agnes itu adalah sebuah kesempatan baik mendekati Joe.

“Bagus ya Joe? Gue sebetulnya sudah sering ke Eropa, tapi baru kali ini berlayar di kanal.”

Joe tidak tahu harus menjawab apa. Agnes melanjutkan.

“Perasaan sering kali bikin bego ya? Hehehe… menurutmu bagaimana?”

Joe berusaha menjawab. “Ya, yang menarik dari Amsterdam adalah spirit kebebasannya.”

“Kanal ini, kebebasan juga?”

Agnes mulai menggenggam tangan Joe. Boat yang mulai bergerak membuat angin dingin menerpa tubuh mereka. Joe cenderung pasif.

“Ya, ini adalah banjir yang dibiarkankan dan diterima oleh penduduk Amsterdam. Ia dibebaskan masuk ke tengah kota melalui kanal-kanal ini.”

“Wahhh, gue baru sadar. Ini banjir yang diterima dan dikelola dengan cerdik ya?”

“Kini jadi salah satu obyek wisata favorit buat warga dunia.” Joe menegaskan rasa kagumnya.

Ia mengangguk.

Genggaman tangan Agnes kian erat. Joe makin gelisah.

Tiba-tiba Agnes mendekatkan wajahnya ke tubuh Joe yang tegap. Sesaat menyandar di bahunya, menyusuri lehernya lalu mencium bibir Joe yang kebingungan. Kedua lengan Agnes bergelayut pada leher Joe. Sudah beberapa kali ia berusaha memanggil Joe untuk datang ke kamarnya di hotel. Tapi Joe selalu menolak dengan segala cara. Kini maksudnya sedikit terpenuhi. Agnes begitu bergairah, sampai nafasnya terasa sesak.

Joe, tak sedikitpun dapat menikmati kejadian itu. Alih-alih sensasi seksual. Namun ia tetap bertahan. Hatinya justru terasa perih dan tak berguna. Baginya waktu itu terasa panjang sekali. Rumah kanal yang berjejer di tepi kanal seakan memberinya kenangan buruk. Sepintas terlihat bayangan antara warna coklat tua dan merah pada bangunan-bangunan yang tinggi dan ramping itu. Bayangan yang telah membuatnya benci. Sampai akhirnya ia mampu melepaskan aksi gadis anggun itu. Mereka tak bicara apapun, di dalam mobil saat kembali ke hotel.

***

Baru saja masuk kamar hotelnya, Joe mendengar nada dering dari ponselnya. Ia merasa tahu, siapa yang menghubunginya.

”Joe, bahkan untuk sekadar membuat gue senang sesaat saja, lu tak bersedia. Sebegitukah mahal diri lu?”

Wanita itu begitu marah. Joe, merasa kerongkongannya tercekik. Ia bimbang. Ia memilih diam. Kenapa perempuan itu tak mau mengharagi orang lain sedikit saja? Ia membantin dengan sedih. Ia tak berdaya.

“Kamu betul-betul telah menginjak-injak harga diri gue!” Wanita itu terus membabi buta dalam perasaan kalah dan dicampakkan.

“Mimpi aja gue gak bakal pernah mendapat perlakuan kayak begini. Lu siapa sih?”

Akhirnya dia menutup teleponnya, setelah mengancam Joe.

Dengan hati kesal yang tak tertahankan, ia menghubungi kepala perusahaan EO yang mengurus project eksibisinya itu, bosnya Joe. Menerima keluhan si anak Menteri, atasannya Joe langsung menanggapi dengan sigap. Bahkan ada rasa senang mengetahui staf andalannya itu menimbulkan keluhan dari kliennya. Ia meminta maaf, dan berjanji langsung memberi sanksi begitu Joe  kembali ke tanah air. Ia mengatakan itu, bahkan sebelum melakukan konfirmasi masalah terlebih dahulu. Baginya ini sebuah kesempatan untuk menyingkirkan Joe, yang dikhawatirkan akan mengancam karirnya sebagai pimpinan salah satu cabang perusahaannya. Pimpinan cabang dengan gaji fantastis dan fasilitas menggiurkan. Joe begitu cemerlang saat ini. Jangan sampai lelaki ganteng itu merebut posisinya!

Sore itu begitu menyiksa bagi Joe. Dia menyesali firasatnya. Kalau saja tak dikuasai firasat buruk itu, mungkin saja itu tak menjadi nyata. Dan ia takkan mengalami kesulitan sebegitu besar saat ini. Dalam perasaan bimbangnya, ia menyeret kakinya ke luar hotel. Ia tak tahu pasti untuk apa. Ia hanya ingin keluar dari kamarnya. Memakai mantel dan mengalungkan syal untuk menahan udara dingin yang mulai terasa menjelang malam itu. Ia merasa sendirian di sebuah lorong yang gelap.

Saat menyusuri area di salah satu sisi gedung museum, tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya menatap pola warna-warni pelangi dari lampu hias yang dipasang di salah satu atap gedung tersebut. Ornamen lampu hias itu seakan telah memberi kekuatan pada kedua kakinya yang gontai. Ia mulai merasakan tubuhnya hangat. Ia mulai menyadari tempat itu semakin ramai dan diliputi suasana bahagia. Ia terus menatap lampu hias pelangi itu. Sesekali mencium aroma ganja yang menyelinap disampingnya.

Sepasang muda-mudi bergumul di hadapannya, menikmati gelora cinta masa mudanya. Di sudut yang lain, pun tampak sepasang lelaki berpelukan mesra. Merdeka, bebas dan tetap dihargai. Karena semua sama. Ia melepaskan syalnya, ingin berteriak namun berusaha menahan suaranya. Semua orang yang lewat seakan menghadiahinya senyuman. Kerlap-kerlip lampu pelangi itu telah mengembalikan jiwa dan raganya. Kekuatannya. Ia bergegas cepat menuju kamarnya lalu menelepon seseorang.

“Hai Joe, lu berubah pikiran?” Agnes, masih saja berharap.

“Maaf Agnes, saya bukan laki-laki yang sesuai untukmu. Seperti yang kamu katakan, saya bukan siapa-siapa.” Ia tetap berusaha sopan.

“Maaf gue tadi sempat emosi. Mengapa lu merasa bukan siapa-siapa? Kalau gue yang mau, gimana?”  Wanita itu memang dominan.

“Karena saya seorang gay!”

Tanpa basa-basi dan tak perlu berpanjang lebar, Joe langsung ke pusat masalah.

Agnes bagai tersengat petir. Seketika ia memutus percakapannya. Bukannya merasa simpati kepada Joe. Ia malah merasa jijik dan emosional karena merasa tertipu. Sungguh sikap sangat konservatif. Lalu ia kembali menghubungi atasan Joe. Menumpahkan kekesalannya. Menurutnya, Joe tidak pantas ada di perusahaan bonafid itu. Seorang pendosa dengan kelainan seksual, dapat memberi citra buruk bagi perusahaan. Kepala cabang yang mendengar kabar ini semakin sumringah karena mendapat tambahan amunisi untuk menekan Joe. Amunisi yang diyakininya dapat menjadi sangat efektif.

Sementara Joe sendiri, kini merasa jauh lebih ringan. Beban yang dalam beberapa hari ini telah menggelayuti pundaknya seakan telah lepas. Ironisnya, itu bukanlah beban pekerjaan. Melainkan masalah-masalah yang diciptakan lantaran intrik dan segala macam ambisi manusia terhadap manusia lain. Homo homini lupus!

***

Joe duduk di hadapan bosnya, di ruang kantor pimpinannya itu yang dipenuhi asap rokok.

“Joe, selamat ya atas kesuksesan event eksibisi kementerian!”

Joe yang peka, sangat mudah merasakan itu apresiasi palsu dari seorang pimpinan yang pendengki. Namun ia tetap menjawab dengan sopan. “Terima kasih, Pak! Apa yang telah bu Agnes sampaikan kepada Bapak?”

Si bos agak terkejut karena Joe kurang banyak basa-basi dan mendahului masuk ke pokok pembicaraan.

“Oh ya. Saya rasa itu hal biasa. Keluhan-keluhan klien, hal yang tak bisa kita halangi.”

“Termasuk keluhan-keluhan yang tak relevan dengan bisnis kita?”

“Faktanya, keluhan itu nyata ada!” Si Bos membalas dengan sangat culas.

“Bapak seharusnya dapat melihat secara obyektif keluhan yang disampaikan klien. Dan mestinya dapat membela staf, yang telah bekerja sepenuh hati untuk perusahaan dan sesuai dengan SOP perusahaan!” Nada bicara Joe cukup kencang.

“Bukankah tadi saya telah mengapresiasi capaian anda? Namun, saya tidak mau perusahaan ini dijauhi, kehilangan pasar lantaran pegawai yang… ehm…” Si Bos kehilangan kata-katanya. Pada dasarnya ia seorang pengecut.

Joe melanjutkan dengan tenang. “Pegawai yang memiliki orientasi seksual berbeda, seperti saya?”

Bos jahat itu menunduk,  namun tetap berusaha menyerang.

“Maaf ya, Joe, dalam keyakinan kami, itu dosa dan kami sulit menerimanya.”

Ia tetap menunduk, sementara Joe tegak terus menatapnya. Anehnya, sedikitpun ia tak merasakan kebencian. Lampu hias warna-warni pelangi di atap Rijksmuseum, aroma ganja yang menyelinap dan senyuman setiap orang di taman museum itu telah menantinya… di mana semua orang takkan pernah bertanya, apa pilihan seksual anda, apa agama anda…  [T]

BACA cerpen-cerpan lain di rubrik CERPEN atau baca tulisan lain dari PUTU ARYA NUGRAHA

Lelaki Pemetik Cengkeh dan Pelacur yang Penuh Perhatian | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali

Next Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Di Atas Meja Pelukis Made Budhiana

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi GM Sukawidana | Di Atas Meja Pelukis Made Budhiana

Puisi-puisi GM Sukawidana | Di Atas Meja Pelukis Made Budhiana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co