2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
March 25, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

SEBELUM industri pariwisata mengubah mata pencaharian masyarakat Bali secara siginifikan, sebagian besar warga Bali sejatinya berprofesi sebagai petani. Profesi menggeluti tanah yang telah dilakukan selama bertahun-tahun untuk menyangga kehidupan ini tentu tidak menjadikan mereka petani biasa, tetapi petani profesional. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari pustaka-pustaka yang menjadi pegangan para petani.

Pustaka-pustaka seperti Siwagama, Dharma Pamacul, Wariga Krimping, Aji Pari, Usadha Carik, dan yang lainnya sebagai rujukan para petani ketika bercocok tanam menunjukkan bahwa mereka adalah petani yang literat. Maksudnya, petani itu memiliki panduan-panduan teks yang dijadikan penuntun dalam aktivitas bertani. Dalam istilah lain, petani Bali adalah petani yang nyastra. Mereka tak hanya mewariskan pengetahuan pertaniannya secara lisan, tetapi juga secara tertulis sehingga pengetahuan itu bisa ditransmisikan melampaui cengkraman waktu.

Selama ini, petani sering distigmakan dengan pekerjaan yang lebih banyak berhubungan dengan otot. Padahal, petani- petani Bali bekerja dengan landasan sastra yang jelas. Tanpa panduan sastra tersebut, para petani mungkin hanya bisa bekerja keras, tetapi tidak bekerja cerdas. Dengan menggunakan sandaran sastra, kerja keras para petani dilengkapi dengan kerja cerdas. Melalui cara kerja itulah para petani menghasilkan produk-produk pertanian yang berkualitas.

Kualitas produk pertanian yang dihasilkan para petani tidak dapat dilepaskan dari kesungguhan, keuletan, dan kesabaran  mereka  dalam  melakukan  Pretiwi  Sewana, “pengabdian kepada ibu pertiwi‟. Nyala semangat mereka seperti api pemujaan yang tak pernah padam. Tetesan keringatnya bagaikan tirta penyucian. Ayunan cangkulnya tidak berbeda dengan ayunan genta pendeta. Bija-bija persembahannya adalah biji-biji tumbuhan yang siap ditanam. Bunganya adalah rekah kembang tanaman yang akan menjadi buah. Inilah pemujaan para petani saban hari untuk kehidupan dan kemanusiaan. Maka, di balik sesuap nasi yang kita makan, di sana ada spirit kesabaran para petani yang tak terpisahkan.

Pustaka Nirārtha Prakrĕta secara alegoris menyinggung keteguhan para petani ketika bercocok tanam dengan ungkapan berikut ini.

Byaktekān kakaniścan rusiting twas nghing sudhairya ng manah,
Kadyangganing amet bhinukti mangarĕmbha dhānya sangkeng lĕmah,
lot mritya matĕkĕn paraśraya mijil wwahning tinandurnira,
panggil rakwa samangkanekana ng asādhyāhyun manĕmwang phala

(Nirārtha Prakrĕtha, Wirama I: 8) (Agastia, 2000: 24).

Betapa pun sulitnya mendapatkan tingkat rohani tersebut,
tetapi teguhkanlah hati.
Seperti orang yang mendapatkan makanan dengan menanam padi di tanah,
harus dengan penuh kesabaran,
dengan pertolongan orang lain akhirnya ke luarlah buah dari biji yang pernah ditanamnya.
Seperti itulah kiranya orang yang ingin berhasil.

Keteguhan dan kesabaran memang pantas disematkan kepada para petani. Tanpa etos kerja yang demikian, tidak akan ada hasil panen yang bisa dijadikan sumber pangan. Karena sumber pangan adalah kebutuhan yang paling dasar manusia maka hasil pertanian yang berlimpah pada gilirannya juga menjadi tolak ukur kesejahteraan suatu wilayah.

Pada saat yang bersamaan, hal ini pula yang menjadi parameter kesuksesan seorang pemimpin dalam menatakelola daerahnya. Kakawin Rāmāyana sebagai salah satu sumber literasi kepemimpinan Bali memuat peranan penting petani dalam konteks nasihat Rāma kepada adiknya Baratha di Gunung Citra Kutha. Rāma yang meninggalkan kerajaan untuk memenuhi janji kepada ayahnya, memberikan petuah kepemimpinan kepada Bharata yang akan menjadi raja sementara di kerajaan Ayodya. Rāma menegaskan peranan para petani yang harus diperhatikan dengan serius oleh raja seperti berikut ini.

Ikang thāni prĭtĭnubhaya guṇa ning bhūpati lanā,
ya sangkanyang bhogān hana pakĕna ning rājya ya tuwi,
asing senāluh nyekana ta tulungĕn haywa humĕnĕng.

(Kakawin Rāmāyana, III: 78).

Terjemahan.

Para petani sesungguhnya mengukuhkan wibawa raja.
Merekalah asal adanya pangan untuk kebutuhan rakyat.
Dalam keadaan sulit dan juga senang, tolonglah mereka jangan diam.

Petikan di atas dengan terang memuat peranan petani sebagai pengukuh wibawa raja karena dari merekalah asal adanya pangan untuk kebutuhan rakyat. Tanpa kerja-kerja tulus dari para petani maka rantai makanan akan terputus. Oleh sebab itu, adikawya Kakawin Rāmāyana menyarankan agar raja atau pemimpin senantiasa melindungi para petani dalam keadaan suka dan duka. Raja sebagai pemegang otoritas tertinggi tidak boleh membiarkan para petani ditindih berbagai kesulitan sehingga mengurangi kinerjanya dalam menghasilkan sumber pangan. Raja tak boleh mangkir, apalagi cuci tangan dari berbagai masalah yang dihadapi petani. Sebab, para petanilah yang memegang neraca kesuksesan atau kegagalan seorang raja dalam mengusahakan kesejahteraan rakyatnya.

Peranan vital petani sebagai pemasok kebutuhan pangan itulah yang menyebabkan para intelektual spiritual Bali dalam lintasan sejarah selalu memberikan perhatian terhadap sektor pertanian. Pustaka Bali Tattwa menyatakan bahwa Resi Markandya yang pertama kali mengubah wilayah Bali dari hutan belantara menjadi pemukimam sekitar abad VIII (Wiguna, 2008: 56), juga membangun sistem pertanian di Bali. Pasca mendirikan Kahyangan Tiga, Desa Pakraman, dan Banjar, Resi Markandya selanjutnya membangun sistem persawahan di Bali. Pustaka Bali Tattwa menyatakan sebagai berikut.

Mangkana pratyekaning pura-pura panêmbahan krama deśa, krama bañjar suwang-suwang, kang inaranan Kahyangan Tiga. Mwang ikang wwang kang kinon munggah têdun, kang sinabhara angamong kabrêsihaning Pura suwang inaran Pamangku. Len sangke rika, wruhana muwah, lwir pasamodaya nikang sawah carik, kabeh pinalih-palih juga, dinadyakêna pirang-pirang kumpulan sawah. Pupulanya ika, agung alit, inaranan Subak. liana mangaran subak iki, subak ika, anùt arti sowangsowang. Mwah sapalihan subak kang Agêng inaranan munduk munduk anu munduk anu,

Terjemahan.

“Demikian beberapa macam pura sebagai tempat berdoa warga desa, warga bañjar masing-masing, yang dinamakan Kahyangan Tiga. Dan warga yang disuruh naik turun, yang dibebankan tanggung jawab menjaga kebersihan Pura masing-masing dinamai Pamangku. Lain dari itu, hendaknya diketahui lagi, macam perkumpulan untuk persawahan, seluruhnya dibagi-bagi juga, dijadikannya beberapa perkumpulan sawah. Kumpulannya itu, besar kecil, dinamakan Subak. Lainnya bernama subak ini, subak itu, menurut artinya masing-masing. Dan pembagian subak yang lebih besar dinamakan munduk, munduk ini, munduk itu,”

Berdasarkan petikan di atas, dapat diketahui bahwa Resi Markandya tidak hanya membangun benteng pertahanan sosial dan rohani, tetapi juga benteng pertahanan pangan melalui terbentuknya subak-subak di Bali. Jika Resi Markandya disepakati sebagai figur yang pertama kali meletakkan peradaban Bali, pertanian adalah salah satu pilar penyangganya yang paling mendasar. Tanpa ketercukupan pangan, sekuat apa pun sandaran peradaban sebagai bentuk terhalus dari budaya akan roboh dengan sendirinya. Sebab, pertanian adalah ibu dan pengayom semua budaya lainnya. Manakala pertanian berjalan dengan baik, seantero budaya lainnya akan raharja. Manakala ia ditelantarkan maka semua budaya lainnya juga akan rusak (Suprapta, 2008; dalam Sulibra, 2017: 51).

Dalam periodisasi selanjutnya, sekitar abad XIV Mpu Kuturan yang datang ke Bali juga memberikan pembobotan terhadap sistem pertanian di Bali. Melalui pustaka Dharma Pamacul yang memuat otoritas ajaran Mpu Kuturan, disebutkan bahwa beliaulah figur di balik tatanan para dewata yang berstana di berbagai tempat di Bali. Di samping menata sistem keagamaan, Mpu Kuturan juga diyakini sebagai pendeta yang memberi pembobotan terhadap aspek ritual pertanian di Bali. Hal itu dapat dilihat dalam penjelasan pustaka Dharma Pamacul berikut ini.

Nihan prateka bhatarane ring Bali, nga, kaunggwan de nira Sang Mpu Kuturan, bhiniseka ring Majapahit, kagawa maring Bali, unggwan Bhatara kabeh, Bhatara ring Basukih, Batumadĕg. (Dharma Pamacul, 1 b; Tim Penyusun, 2007: 5).

Terjemahan.

Inilah uraian Bhatara di Bali yang distanakan oleh Mpu Kuturan, disesuaikan dengan keadaan di Majapahit, diterapkan juga di Bali seluruh tempat Bhatara, Bhatara di Basukih, Batumadeg.

Petikan di atas menunjukkan tatanan parhyangan yang diterapkan oleh Mpu Kuturan di Bali sesuai dengan yang pernah berlaku di Majapahit. Setelah menjelaskan stana para dewata itu, pustaka Dharma Pamacul menguraikan penyambutan Sang Hyang Baka Bumi sebagai jiwa hidup sawah (mangraksa uriping sawah) yang berstana di Ulun Suwi. Sarana untuk menyambut beliau untuk memberikan anugerah berupa kesuburan adalah upacara seperti kerbau hitam, setiap bulan Oktober disertai babi guling, pebangkit, suci, parencah babi, yang diolah dengan lengkap.

Aturang ring Gunung Agung, bras acatu, daksina 2, bebek 2, pada putih, jinah katur ring Gunung Agung 281. Ring Dewi Danu ring Batur, aturang bebek 2, pada petak, daksina 2, beras acatu, ketan acatu, raka den agĕnĕp, lawe 2, jinah aturan 222. Mĕtu tirta ring Batur, mwang ring Pĕngubĕngan, ring Wulun Swi…[Dharma Pamacul, 2a]

Terjemahan.

Haturkanlah di Gunung Agung beras satu catu, daksina 2, bebek berkaki putih 2, uang dihaturkan di Gunung Agung sejumlah 281. Kepada Dewi Danu di Batur haturkan bebek berkaki putih 2, daksina2, beras satu catu, ketan satu catu, buah-buahan sebagai sarana sesajen selengkapnya, benang 2 helai, dan uang sebanyak 222. Muncullah tirta di Batur dan di Pengubengan, di Ulun Sui.

Pustaka yang konon mengadopsi tata cara penyambutan air di Majapahit tersebut dengan jelas memuat kearifan lokal masyarakat Bali dalam memuliakan air sebagai bagian utama dari sistem pertanian di Bali. Itulah yang dilakukan Mpu Kuturan agar sistem pertanian di Bali dapat menghasilkan pangan yang berlimpah. Dengan demikian, tidak jauh berbeda dengan kekaryaan Resi Markandya, seorang Mpu Kuturan juga melakukan penataan terhadap basis pertanian di Bali.

Dalam arus waktu selanjutnya, pada era kedatangan Dang Hyang Nirartha dan putra-putranya ke Bali sekitar abad XV pertanian juga mendapatkan perhatian. Putra Dang Hyang Nirartha yang bergelar Ida Padanda Sakti Manuabha yang tinggal di daerah Manuaba, Gianyar di samping melakoni dunia kependetaan juga menekuni dunia pertanian. Babad Dalem menjelaskan keunggulan Ida Padanda Sakti Manuaba sebagai pendeta yang menguasai berbagai kesaktian sekaligus juga pertanian. Ketika Gusti Pande Basa diserang oleh Dalem Bekung, beliau sudah bisa membajak sawah (mananggala).

Nguni Ida Manuabha, duk I Gusti Pande rinĕjĕk olih I Dewa Bĕkung, ida sampun bisa mananggala (Putra Agung, 1987: 1988).

Terjemahan.

Dahulu, Ida Manuaba pada saat I Gusti Pande diserang oleh I Dewa Bekung, beliau sudah bisa membajak.

Ida Padanda Sakti Manuaba di samping menguasai berbagai pengetahuan kerohanian, juga menekuni sektor pertanian. Dengan menekuni dunia pertanian, beliau menjadi pendeta yang memiliki kemandirian pangan. Dalam artian tidak perlu bergantung dari pemberian raja. Oleh sebab itu, beliau tidak begitu banyak terikat pada lokika cara atau kepentingan dunia.

Pada akhir abad XX, seorang pendeta bernama Ida Padanda Made Sidemen sampai pada spirit esensial pertanian yang tidak hanya dilakukan di luar diri, tetapi di dalam diri. Dalam Geguritan Salampah Laku, Ida Padanda Made Sidemen menyatakan bahwa apabila seseorang tidak memiliki lahan sawah untuk digarap sebagai penyambung hidup. Seseorang bisa mengolah “sawah dirinya” untuk ditanami berbagai pengetahuan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di desa- desa. Ida Padanda Made Sidemen menyatakan sebagai berikut.

Idĕp bĕline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngĕlah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo ring desa-desa (Geguritan Salampah Laku, Puh Sinom: 11).

Terjemahan.

Keinginanku saat ini, bersiap-siap menjadikan kemiskinan sebagai tapa, sebab tak memiliki lahan sawah, lahan dirilah yang ditanami, pengetahuan dusun, yang digunakan di desa-desa.

Petikan Geguritan Salampah Laku di atas menjadikan interioritas diri sebagai ruang pertanian. Jika lahan dan sawah di luar diri ditanami padi dan berbagai jenis tumbuhan lainnya, lahan dan sawah di dalam diri mesti ditanami berbagai benih pengetahuan. Pengetahuan yang dibajak, ditanam, dipupuk, dan dirawat di dalam diri pada gilirannya juga akan menjadi pangupa  jiwa  atau  penyambung  hidup  bagi  penekunnya. Ungkapan “karang awake tandurin” yang disampaikan oleh Ida Padanda Made Sidemen benar-benar mengambil etos kerja para petani.

Demikianlah perhatian yang diberikan para intelektual dan spiritual Bali sepanjang waktu untuk melakukan pembobotan terhadap sektor pertanian di Bali. Hasil menggeluti pertiwi sepanjang hari inilah yang menyebabkan masyarakat Bali hari ini memiliki warisan naskah lontar tentang pertanian. Naskah-naskah lontar yang mewacanakan pertanian sebagai sari-sari pengalaman para leluhur ini sangat penting untuk dijadikan basis literasi oleh masyarakat Bali saat yang menghadapi berbagai tantangan zaman. Warisan literasi pertanian yang ada dalam naskah lontar Bali ini menjadikan sistem pertanian Bali berbeda sekaligus memiliki keunggulan dibandingkan yang lainnya. [T]


  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana
Hoax dalam Momentum Transisi Kekuasaan:  Refleksi Sastra untuk Membaca Realita
Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha
Tags: pertanianpetanisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanju (2018): Film Humas Sanjay Dutt?

Next Post

Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ia Pergi Bersama Seuntai Pelangi | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co