3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanju (2018): Film Humas Sanjay Dutt?

Jaswanto by Jaswanto
March 24, 2024
in Ulas Film
Sanju (2018): Film Humas Sanjay Dutt?

Ranbir Kapoor saat berperan sebagai Sanjay Dutt dalam film Sanju | Foto: tangkapan layar

MESKI tidak semua film Rajkumar Hirani saya tonton, tapi beberapa sangat membekas dalam benak saya. Saya menonton 3 Idiots (2009) dan PK (2014), dua film Hirani yang luar biasa—yang semakin membuat saya jatuh cinta kepada film India—dan sangat membekas sampai hari ini. Tapi belakangan, setidaknya setelah menonton Dunki (2023), saya rasa Tuan Hirani membuat saya sedikit kecewa.

Pada tahun 2018 Hirani merilis film biopic megabintang Bollywood, Sanjay Dutt, dengan judul Sanju—mengacu pada panggilan akrab Sanjay Dutt. Meski telah dirilis beberapa tahun yang lalu, saya baru menontonnya kemarin. Bukan karena tidak tahu, tapi tidak punya akses menonton. Saya tahu rilisnya film Sanju dari postingan beberapa orang di Facebook yang suka menonton film India. Sedangkan nama Sanjay Dutt sudah familiar sejak saya masih belum cakap menyeberang jalan raya.

Sebelum menonton Sanju, tanpa sengaja saya bertemu dengan Sanjay Dutt dalam film penuh ledakan, Jawan (2023)—film yang lebih dekat dengan Hollywood daripada Bollywood itu. Di sana Dutt menjadi cameo yang muncul di paruh akhir cerita. Sanjay Dutt, dengan segala kontroversial yang melekat sepanjang karirnya, sepertinya sudah kehabisan tenaga dalam panggung film India. Bagaimanapun, hari ini ia hanya aktor tua yang nyaris tenggelam di antara bintang baru yang berjibun seperti gulma di musim penghujan.

Dan seingat saya, saya tak pernah menonton film yang dibintangi Sanjay Dutt, kecuali film yang menjadikannya sebagai pemeran pembantu, seperti PK dan Jawan. Tapi, dulu, saat TV sudah masuk kampung saya, dan film India menjadi primadona, bisa jadi saya pernah menonton Sanjay Dutt dengan judul yang tak saya ketahui. Mungkin saja, sebab emak saya sering menyebut nama aktor ini dan saya selalu ikut emak menonton film India.

Tetapi biarlah. Itu tidak penting. Sebab ini juga bukan tentang perjumpaan saya dengan Baba Dutt, tapi ini tentang film otobiografinya yang menurut saya tidak jujur. Sanju, tampak seperti “humas” Sanjay Dutt yang berusaha—dengan sangat keras—memoles dan menepis semua riwayat kelam sang aktor.

***

Tidak ada yang salah dengan film Sanju sebenarnya. Ini jenis film India yang dieksekusi dengan baik—walaupun bukan yang terbaik. Secara teknis, kita sangat dimanjakan dengan gambar-gambar yang bagus. Mungkin ini karena teknologi yang semakin maju.

Dan Ranbir Kapoor sangat baik dalam memerankan Sanjay Dutt. Ia membuktikan dirinya lebih baik daripada sang ayah, Rishi Kapoor, dalam soal akting. Film ini seolah menjadi penanda bahwa Ranbir benar-benar punya bakat, bukan sekadar mendopleng nama besar Dinasti Kapoor.

Dalam Sanju, Ranbir seolah lenyap ditelan sosok yang ia perankan. Ia tak lagi menjadi Ranbir, tapi Sanju itu sendiri. Tatapan mata, gerak bahu, cara berjalan, bahkan gaya menolehnya, nyaris sama seperti Sanjay Dutt. Saya bahkan tak melihat Ranbir dalam film Ae Dil Hai Mushkil (2016), film Karan Johar yang cengeng itu.

Tapi, meski begitu, setidaknya ada dua hal yang membuat saya kecewa dengan Sanju, dengan Rajkumar Hirani. Pertama, seperti yang sudah saya sampai di atas, film ini tidak terlalu jujur dalam menggambarkan sosok Sanjay Dutt—dan itu terkesan lebih memanjakannya, jika bukan menjilatnya, daripada menyampaikan realitas tentangnya. Kedua, saya kecewa sebab bintang India pujaan saya, Anushka Sharma, dipermak Hirani menjadi perempuan dengan rabut keriting mengembang dan mata biru yang menakutkan.

Sanju dibuka dengan usaha Sanjay Dutt dalam mencari penulis biografi yang mau menuliskan tentang perjalanan hidupnya. Hal ini dilakukan Dutt untuk membersihkan namanya dari noda-noda kotor yang sudah melekat dalam kepala orang India. Narkoba, pemabuk, pemain wanita, tidak profesional, hubungannya dengan keluarga yang tak baik-baik saja, dan terakhir teroris, seperti terpacak di jidat sang bintang. Tuduhan tetoris bahkan menjebloskannya dalam penjara.

Dutt merasa, bahwa apa yang dituduhkannya selama ini tidak benar—dia merasa itu hanya gorengan media (pers India) yang hanya menginginkan berita sensasional saja. Maka dari itulah, Dutt harus menceritakan yang sebenarnya kepada orang yang mau menuliskannya. Dan orang itu bernama Winnie Dias, seorang penulis biografi terkenal yang tinggal di London. Winnie, perempuan bermata biru dan berambut keriting mengembang itu, diperankan oleh pujaan saya, Anushka Sharma. Jancuk, Hirani!

Dari cerita Sanjay Dutt kepada Winnie, kita dijejali pembenaran-pembenaran atas apa yang dilakukan Dutt. Pembenaran itu pada akhirnya menggiring kita untuk memaklumi perbuatan hitam sang bintang. Seolah, apa yang terjadi dalam hidup Dutt bukanlah sebuah kesalahan, tapi karena ada sebab lain yang membuat itu terjadi. Salah satunya adalah karena  Sunil Dutt, sang ayah, yang diperankan Paresh Rawal.

Di India, Sunil Dutt bukan orang sembarang. Selain aktor, ia juga seorang aktivis dan politisi yang baik hati. Sunil melegenda dan sangat dihormati. Tetapi, dalam film Sanju, khususnya dari awal sampai pertengahan, Sunil tampak sebagai seorang ayah yang konservatif, kaku, dan selalu menginginkan Sanjay Dutt tampil terbaik. Dan sikap ini diterangkan sebagai penyebab Dutt jatuh dalam pelukan narkoba.

Menurut cerita Sanjay Dutt, Sunil terlalu menekannya dengan banyak aturan. Sehingga dia merasa tertekan dan akhirnya mengonsumsi barang haram. Dari narasi ini, seolah kita diperlihatkan bahwa itu bukan salah Dutt, tapi Sunil saja yang tak becus menjadi ayah yang baik. Bahkan, seorang Sunil harus diingatkan—kalau bukan dinasehati—oleh pemuda bau kencur macam Kamlesh Kanhaiyalal Kapasi yang diperankan sangat baik oleh Vicky Kaushal. Kamlesh, sahabat Sanju yang tinggal di Amerika, meminta Sunil untuk menjadi ayah yang bisa memahami anaknya. Waw, sampai di sini sudah terlihat “humas”-nya?

Tidak hanya itu, Abhijat Joshi dan Hirani—yang bertanggung jawab atas cerita, skenario, dan dialog Sanju—telah memilih fakta dengan cermat dan memandikan selektivitas mereka dalam dosis besar yang memanjakan sang protagonis. Misalnya, kita diberitahu bahwa Dutt memperoleh tiga senapan AK-56 dan peluru tanpa izin karena takut akan keselamatan ayah dan saudara perempuannya dari serangan orang-orang yang membenci keluarganya. Ini memang adalah klaim yang dibuat Dutt dalam kehidupan nyata.

Namun, seperti kata Anna M. M. Vetticad (kritikus film sekaligus jurnalis asal India), film tersebut tidak menyebutkan bahwa Dutt juga pernah mengakui bahwa dia sudah memiliki tiga senjata api berlisensi yang, kata Dutt kepada polisi, dia beli karena kecintaannya dalam berburu. Jadi, mengapa Dutt memerlukan senjata lagi? (Dutt kemudian menarik pernyataannya yang terakhir.)

Sepanjang film, Tuan Hirani dan Joshi memainkan permainan ini dengan baik—dan mereka tampak semacam humas yang harus selalu menampilkan citra baik Sanjay Dutt. Bahkan, mereka berdua seperti tidak mempermasalahkan penyalahgunaan narkoba yang dilakukan Dutt, atau pergaulan bebasnya, ketidakprofesionalannya, perilakunya yang tidak bertanggung jawab terhadap orang tua dan koleganya, serta kebohongannya dalam masalah ini. Hirani dan Joshi menggambarkan—atau mencoba menutupi?—semua ini dengan cara yang lucu. (Guyonan dalam Sanju tak lebih baik daripada 3 Idiots dan PK.)

Dalam film ini, Hirani tak menampilkan masa kecil Dutt. Kita hanya ditunjukkan Dutt dalam beberapa film debutnya, penyakit ibunya, hubungan buruk dengan ayahnya, kecanduan alkohol dan narkoba, tuduhan keterlibatannya dalam ledakan bom Mumbai tahun 1993, penangkapannya di bawah hukuman yang kejam, pembebasan atas tuduhan teror dan hukuman berdasarkan UU Persenjataan, pemenjaraannya, dan pembebasan terakhirnya.

Untuk memermak nama Sanjay Dutt menjadi tampak berkilau, maka Hirani harus mencari sosok kambing hitam yang harus—dan pantas—kita hujat bersama-sama. Dan pilihan kambing hitam yang paling pantas dan strategis jatuh kepada media atau pers di India. Atas segala kesalahan yang telah dilakukan Sanju, tanggung jawab akhirnya terhenti di depan pintu pers pembohong—sebagaimana lirik “Baba bolta hain bas ho gaya”.

Itu adalah sebuah kejeniusan propaganda Hirani. Sebagian besar media di India—juga di Indonesia sebenarnya—begitu memalukan, sehingga kita tergoda untuk menyalak ketika ada yang menyalahkan mereka (media, pers) karena alasan apa pun—bahkan jika rasa jijik kita terhadap sensasionalisme media digunakan Hirani secara diam-diam untuk mempengaruhi kita agar menaruh simpati kepada Sanju. Dan, sekali lagi, semua itu tampak memburamkan kesalahan Dutt. Ini kekecewaan pertama saya dalam film ini.

Betapa disayangkan hal ini datang dari Hirani, pencipta film Munnabhai yang brilian (keduanya dibintangi oleh Dutt), selain 3 Idiots dan PK, yang, apa pun kekurangannya, memiliki poin-poin yang relevan untuk disampaikan. Begitu komentar Anna M. M. Vetticad dalam artikel kritik filmnya atas film Sanju.

***

Selain itu, saya juga kecewa kepada Hirani karena telah membuat sosok Anushka Sharma, seperti kata Cak Mahfud Ikhwan, yang wajahnya seperti telur rebus yang dikupas dengan hati-hati dan disajikan hangat-hangat itu, menjadi sosok yang nyaris tak saya kenali—dan tak saya sukai, tentu saja. Saya cukup kecewa ketika Hirani membuat bibir Anushka menjadi tebal dalam PK, dan muak saat Johar membuatnya tak punya rambut dalam Ae Dil Hai Mushkil.

Saya mau wajah Anushka Sarma yang saya lihat pertama kali dalam Rab Ne Bana Di Jodi atau dalam Jab Tak Hai Jan.  Saya tak mau wajah yang lain, rambut dan mata yang lain. Atau bibir dan senyum lebarnya yang lain.

Tuan Hirani, lain kali, kalau mengajak Anushka main film lagi, tolong kembalikan bibir tipis dan senyum lebarnya seperti saat ia berperan sebagai Akira di Jab Tak Hai Jan atau Tania dalam Rab Ne Bana Di Jodi! Maaf, mungkin ini agak berlebihan dan bersifat pribadi, tapi Anda harus paham bagaimana perasaan saya saat melihat pujaan hati tampil dengan topeng yang tidak cocok. (Anushka Sharma yang berperan sebagai penulis biografi Sanjay Dutt, Winnie Diaz, memiliki peran yang jelas tidak menantang sehingga karismanya terbuang sia-sia.)

Namun, terlepas dari itu semua, sepertinya benar, Sanju adalah milik Ranbir. Ia menghadirkan bakat yang imersif, terutama dalam adegan-adegan dengan intensitas emosional. Tetapi, sekali lagi, bahkan bintang berbakat ini tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa Sanju hanya sekadar “pembelaan” yang gemerlap untuk Sanjay Dutt.[T]

Jawan, Film Angry Young Man?
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: Anushka SharmaFilm Bollywoodfilm IndiaFilm SanjuRajkumar HiraniRanbir KapoorSanjay Dutt
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewadi Edition, Singaraja Menonton, dan Ruang Alternatif Nonton Film di Bali Utara

Next Post

Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co