14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jawan, Film Angry Young Man?

Jaswanto by Jaswanto
March 19, 2024
in Ulas Film
Jawan, Film Angry Young Man?

Shah Rukh Khan sebagai Azad dalam film Jawan

I

PADA kisaran tahun ’70-an hingga pertengahan ‘90-an, India dijejali dengan film bergenre  Angry Young Man, yang—menyitir Mahfud Ikhwan—“berciri tokoh utama berusia muda, (biasanya) miskin, anti kemapanan, baik hati, penuh cinta tapi juga penuh dendam, menghabiskan hidupnya hanya untuk menikahkan adiknya, menyelamatkan kehormatan ibunya, atau merebut kekasihnya dari si ayah yang serakah, atau ketiga-tiganya sekaligus.”

Tetapi, genre yang identik dengan film India tersebut seketika lenyap tersapu hilang entah kemana. “Beberapa hal bisa jadi hilang untuk selama-lamanya. Beberapa yang lain harus mengaso dan menepi untuk waktu yang lama.” Begitu tulis Cak Mahfud.

Sebab lenyapnya Angry Young Man tak lain dan tak bukan adalah banjirnya—atau air bah—film-film cengeng Karan Johar pada akhir ’90-an. Saat Kuch Kuch Hota Hai dirilis pada tahun 1998, dan dengan cepat menyebar ke penjuru dunia, saat itu pula India telah kehilangan sosok Inspektur Vijay dan Tuan Takur.

Menurut Cak Mahfud, Kuch Kuch Hota Hai juga bisa dipastikan jadi penanda munculnya seorang penguasa baru Bollywood usai memudarnya pamor Amitabh Bachchan. Dialah Shah Rukh Khan, alias King Khan. Dan Khan, harus diakui, membawa pesona India menyebar lintas benua—hal yang Bachchan tak bisa berikan.

Khan mekar bersama Khan lain: Aamir, Salman, Saif Ali, dan yang telat tumbuh, Fardeen bin Feroz Khan. Berbeda dengan Aamir, Salman, Saif Ali, dan Fardeen, yang lahir dari keluarga selebriti—Saif malah lahir dari oplosan bintang olahraga dengan permata indah sinema India. Ayahnya adalah Kapten Tim Kriket India, Mansoor Ali Khan Pataudi dan sang ibu, Sharmila Tagore, salah satu bintang ayu dalam film Bollywood—Shah Rukh hanya seorang putra keluarga kelas menengah di Delhi yang memulai karirnya dari teater kampus.

Sebelum menjelma menjadi pemuda cengeng, manis, dan pandai menangis—ia memiliki gaya sendiri dalam hal ini: alis melengkung, suara terbata-bata, dan gestur tangannya—Khan merupakan bajingan gila yang bagus dalam beberapa film—bahkan peran ini telah memberinya tempat di panggung Bollywod.

Dalam Baazigar (1993) ia membunuh sana-sini. Dan Darr (1993) menjadikan Khan sebagai Rahul, pemuda pengecut yang tak sanggup mengungkapkan cintanya. Lalu Anjaam (1994) yang membuat Madhuri Dixit (orang ini cantiknya melegenda) menderita. (Sebelum membuat jutaan perempuan di dunia menangis, Shah Rukh sudah lebih dulu membuat perempuan-perempuan cantik di film India menangis karena ulahnya.)

Tapi Kuch Kuch Hota Hai merenggutnya, kata Cak Mahkfud. Karan Johar memermaknya menjadi pemuda cengeng, manis, kaya, bintang kampus, dan disukai wanita. Ia berubah menjadi romantis, alih-alih bengis. Mulutnya lebih pandai mencocokkan lirik lagu yang ditembangkan Udit Rarayan daripada para Khan yang lainnya. Saat itu ia berani bersaing dengan dinasti perfilman India: Kapoor, Bhatt, Dutt, Shetty, Akhtar, Chopra, Johar, Mukherji, Deol, Roshan, dan klan Bachchan.

Tahun 1995, Shah Rukh menemukan penunjuk arah ke mana karirnya akan menuju melalui Raj, pemuda tampan, tulus, manis, dan pandai menangis, dengan mandolin di punggungnya, yang keluyuran di kota-kota Eropa mengejar cinta Simran (Kajol) dalam Dilwale Dulhania Le Jayenge. Khan dan Kajol, setelah Kuch Kuch Hota Hai, semakin terlihat kokoh sebagai pasangan yang klop.

Kabhi Khusi Kabhie Gham (2001), My Name Is Khan (2010), dan Dilwale (2015) menjadikan chemistry Shah Rukh dan Kajol semakin kuat. Jadilah Shah Rukh neredupkan—atau justru menenggelamkan—dominasi para pahlawan perkasa (angry young man) yang menghajar para penjahat atau polisi korup dengan busungan dada dan bentangan tanggannya saat bernyanyi.

Khan menjadi raja di industri film India, sebagaimana namanya memang diambil dari nama sultan Dinasti Timuriyah yang berkuasa di kawasan Transoxiana selama 42 tahun (1404-1447).

II

Angry young man awalnya adalah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah gerakan seni (meliputi sastra, teater, dan film) di Britania Raya antara tahun ’50–’60-an. Mungkin karena dianggap memiliki ciri dan tema yang sama (muda, anti kemapanan, menggambarkan perjuangan kelas/masyarakat tertindas), istilah ini diadopsi oleh para wartawan India untuk menyebut film-film dan—terutama secara khusus—sosok Amitabh Bachchan sendiri.

Namun, istilah ini juga biasa dikenakan untuk jenis film yang memakai pakem Zanjeer dan aktor-aktor lain yang dibesarkan oleh film semacam itu di waktu-waktu yang lebih kemudian, seperti Mithun Chakraborty, Jacky Shroff, Sunny Deol, Anil Kapoor, Sanjay Dutt, hingga Ajay Devgan dan Aamir Khan untuk menyebut yang paling belakangan. Paragraf ini dan satu di atasnya saya ambil dari tulisan Cak Mahfud: Minggir, Inspektur Vijay Telah Kembali!

Saya sudah lama tidak menonton film-film sosok pahlawan muda (kadang dari desa) yang mampu mengganyang tikus-tikus korup di kantor-kantor pemerintahan atau menumbangkan dinasti mafia skala kota kecil yang bengis. Saya menonton Jai Ho (2014), tapi belum untuk Dabangg yang rilis empat tahun lebih dulu. Belakangan saya lebih banyak menonton film India yang menjadikan perempuan sebagai sosok pahlawannya.

Saya menonton Raatchasi (2019). Mengisahkan Geetha Rani (yang diperankan Jyothika), kepala sekolah pemerintah yang harus menghadapi murid bermasalah, staf pengajar yang malas, dan kerutinan yang bisa dibilang tak ada. Selagi menghadapi kesulitan ini, dia memperbaiki sistem edukasi dan masyarakat di sekitar. Lalu Gangubai Kathiawadi (2022), film biopic pelacur yang berjuang menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Juga Mrs. Chatterjee vs Norway (2023). Dan Bhakshak (2024), reporter perempuan yang mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap anak di penampungan berkedok panti asuhan.

Dan tahun ini, setelah Pathaan (2023), akhirnya saya kembali menonton film Bollywood berjudul Jawan (2023) yang dibintangi Shah Rukh Khan, Nayanthara, Deepika Padukone, dan lainnya. Singat saya, setidaknya ada empat film yang dibintangi Shah Rukh dan Deepika yang saya tonton: Om Shanti Om (2007), Happy New Year (2014), Pathaan (2023), dan Jawan (2023). Di film-film tersebut mereka selalu berpasangan—walaupun di Jawan, Deepika bukan yang utama.

III  

Jawan bercerita tentang seorang polisi bernama Azad Rathore (Shah Rukh), sipir penjara perempuan di Mumbai, yang diam-diam melakukan aksi di luar logika (mendekati utopis) dalam membalaskan dendam kedua orangtuanya. Selain itu, ia juga merupakan pahlawan bagi mereka—para perempuan yang dipenjara—yang juga memiliki dendam pada orang yang sama: Kaliee Gaikwad (yang diperankan Vijay Sethupathi), bajingan pemilik perusahaan senjata yang kongkalikong dengan para pejabat India.

Azad Rathore tumbuh menjadi “angry young man” yang lahir di balik jeruji besi ibunya, Aishwarya Rathore (Deepika Padukone), yang masuk penjara karena meledakkan dua kepala polisi suruhan Kaliee yang mencoba membunuh suaminya, Vikram Rathore, seorang tentara khusus yang menjadi mimpi buruk usaha abal-abal Kaliee Gaikwad.

Vikram melapor bahwa senjata buatan Kaliee tak berfungsi saat di lapangan—Kaliee menjual senjata setengah rusak—dan itu membuat pasukan India yang dikirim dalam memberantas teroris di perbatasan mati sia-sia, termasuk pasukan yang dipimpin Vikram. Jadilah Kaliee menanam dendam kepada Vikram dan keluarganya.

Kaliee melemparkan Vikram dari helikopter setelah membenamkan lima timah panas di tubuhnya, dan menjebloskan Aishwarya ke penjara dan dijatuhi hukuman gantung—Aishwarya dieksekusi setelah melahirkan dan membesarkan putranya, Azad Rathore, selama lima tahun di penjara. Sebelum kaku di tiang gantung, Aishwarya memercikkan dendam di hati dan pikiran Azad dan menitipkannya kepada cameo sipir perempuan yang baik hati.

Ketika dewasa, Azad menjadi sipir manis, berprestasi, sekaligus brangasan dan ugal-ugalan. Tindak-tanduk sang sipir memantik kemarahan Kaliee Gaikwad, musuh sang ayah. Azad ingin menghancurkan Kaliee dengan bekerja sama dengan beberapa perempuan penghuni penjara yang terlatih berperang—jawan: prajurit. Banyak plot yang tidak terduga dalam film ini. Atlee Kumar menyimpan beberapa adegannya sebagai kunci—walaupun kadang porsinya terlalu banyak. Ia memberi waktu yang panjang untuk Deepika, cameo manis dalam film ini.

Atlee membuat Azad berbicara mewakili masyarakat umum (sebagai pahlawan dengan cara yang radikal) dan berperilaku tidak menentu, melakukan tarian kecil yang dikocok dengan lembut di gerbong kereta di tengah para penumpang yang ketakutan. Dia dengan bangga dan susah payah menjelaskan bahwa dia sebenarnya orang baik yang melawan musuh sebenarnya: pegawai negeri yang tidak mengabdi pada negara.

Dalam Jawan, Shah Rukh memerankan dua sosok: Azad (sebagai anak dan sipir penjara), dan Vikram (sebagai ayah, tentara, dan musuh Kaliee). Dan ini bukan yang pertama. Memerankan dua sosok sekaligus sudah dilakukan Shah Rukh dalam beberapa film sebelumnya. Pada tahun 1998, Khan berperan ganda dalam Duplicate. Lalu Don (2006), Om Shanti Om (2007), Rab Ne Bana Di Jodi (2008), Ra One (2011), dan Fan (2016). Tampaknya, berperan ganda adalah salah satu kelebihan Shah Rukh Khan.

Jawan bersifat Pan-India. Penata aksi Tamil yang sedang naik daun, Atlee Kumar, mengimpor karakteristik kegaduhan dan kesadaran sosial sinema India Selatan dalam film yang berdurasi nyaris tiga jam itu. Dan tampaknya Atlee mencoba membawa Hollywood ke dalam aksi-aksi Bollywood. Ya, Jawan sangat dekat dengan visual film-film aksi Amerika. Selain aktor, tempat, bahasa, dan nyanyi-nari, ledakan, perang, tak ubahnya film-film  Christopher Nolan.

Sebagaimana Don 1 & 2, dengan lagu-lagu pesta yang buruk, helikopter, letupan tembakan, ledakan besar, mobil terjungkal, membuat film ini tampak bukan film India seperti biasanya, tapi film India yang mau jadi film Amerika. Saya tak peduli jika film ini menampilkan visual effect-nya. Bagi saya, Jawan terlalu bernafsu untuk menjadi Neo, sehingga Shah Rukh memaksa dirinya menyerupai Keanu Charles Reeves.

Namun, terlepas dari itu semua, barangkali, Jawan dengan sengaja menautkan diri dengan tradisi film-film angry young man di sinema India. Walaupun tokoh utamanya bukan seorang inspektur polisi, tapi tetap saja Azad seorang sipir penjara dengan seragam coklat mudanya.

Tapi, seperti kata Cak Mahfud untuk film Dabangg, ciri yang paling kuat tentu saja adalah formula yang dipakainya. Aparat jujur yang seorang diri berhadapan dengan sistem yang korup, pemuda baik hati melawan penjahat keji, penegakan hukum yang dicampurkan dengan pembalasan dendam, adalah resep yang telah dipakai hampir 50 tahun yang lalu, saat tokoh Inspektur Vijay menyeruak ke perfilman India lewat Zanjeer, dan diulang puluhan atau ratusan kali di film-film sejenis pada dekade ‘80-an.[T]

Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: Angry Young ManBollywoodfilm IndiaJawanShah Rukh KhanUlas Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur

Next Post

Pj Bupati Buleleng Inginkan Pameran dan Lomba Bonsai Jadi Agenda Rutin Tahunan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Pj Bupati Buleleng Inginkan Pameran dan Lomba Bonsai Jadi Agenda Rutin Tahunan

Pj Bupati Buleleng Inginkan Pameran dan Lomba Bonsai Jadi Agenda Rutin Tahunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co