23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur

Son Lomri by Son Lomri
March 18, 2024
in Esai
Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur

Peserta workshop puisi Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SEBAGAI penjaga dapur, sudah seharusnya saya menjajakan jajanan dan minuman. Tapi sambil menanti pembeli memesan, di sela-sela itu saya mendengar-mengamati bagaimana kegiatan hari pertama Mahima March March March 2024, yang diisi kegiatan workshop menulis puisi—yang sangat menyenangkan—yang digelar pada Jum’at, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan siswa-siswi SMA itu, menjadikan tempat kegiatan terasa sempit, berdesakan, karena begitu ramai setelah mereka datang. Dan di tengah perhatian mereka menyimak, Bunda Kadek Sonia Piscayanti, selaku pembicara sekaligus tuan rumah, memberikan sambutan hangat kepada mereka.

Bu Sonia menceritakan sedikit tentang perjalanan Komunitas Mahima yang didirikan pada tahun 2008, dan tetap berusaha konsisten selama itu dalam mengembangkan kesusastraan di Bali Utara sampai hari ini. Setelah itu ia menjelaskan tentang seluk-beluk puisi—Bu Sonia memaparkan materi yang telah disiapkan dengan apik melalui layar proyektor.

Di tengah para penyimak, ia cukup mengejutkan saya ketika mengatakan “hidup adalah puisi”. Ia banyak mengutip puisi penyair klasik dari Barat, saat memberikan wejangan pembuka-filosofis tentang hidup dan puisi sebelum dilanjutkan secara intens oleh pemateri kedua, Pak Ole—panggilan akrab Made Adnyana Ole, penyair, wartawan senior, sekaligus suami Bu Sonia.

Kalimat pendek, tetapi sangat mendalam itu membuat saya sadar bahwa dalam hidup manusia memang mengandung puisi. Hanya saja tak banyak orang menyadarinya. Selain itu, Bu Sonia juga mengatakan sesuatu yang lain, bahwa kita mesti memeriksa apa-apa yang sudah kita lakukan, atau yang dilewati oleh diri. “Begitulah berpikir filosofis-puitis kira-kira,” katanya.

Mengingat Chairil Anwar

Sedang dalam menulis puisi, menurut Bu Sonia, adalah sama halnya kita menumpahkan sesuatu atas apa yang kita rasakan. Sehingga, puisi itu kemudian menjadi dahsyat, menjadi sesuatu yang dapat diperhitungkan keberadaanya karena terdapat sesuatu hal di dalamnya. “Menulis tanpa tujuan bukan menulis sama sekali,”  ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan seperti apa puisi yang dapat melibatkan perasaan atau emosional terhadap orang lain. “Puisi Aku Chairil Anwar adalah salah satu contoh puisi (yang ditulis dalam suasana penjajahan) telah menyadarkan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka,” kata Bu Sonia.

Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti pada workshop puisi Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada puisi Chairil Anwar, menurutnya, merupakan salah satu puisi yang dapat membakar jiwa seseorang—bahkan lebih daripada itu—di zamannya.

“…Kalau sampai waktuku. Ku mau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau. Tak perlu sedu sedan itu. Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang. Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari..“— Aku, Chairil Anwar.

Cara kerja puisi adalah kebebasan. Suara merdeka dari penyair adalah suatu renungan paling dalam untuk menyadarkan sesuatu yang tertutup, seperti rasa ketakutan. Sebab itu, dalam puisi tak hanya diperhitungkan seberapa indah dia dapat dibaca, melainkan pula seperti apa pesan di dalamnya.

Chairil Anwar (1922-1949) merupaka penyair muda kala itu. Dikenal sebagai ‘Binatang Jalang’ melalui puisinya berjudul “Aku” yang ditulis pada tahun 1943. Puisinya tersebut dianggap berbahaya bagi Kolonial Belanda. Sebab dianggap berpotensi dapat merubah kesadaran seseorang terhadap kesadaran untuk merdeka, terutama pada kalangan anak mudanya saat itu.

Bahasa Memiliki Kekuatan

Kita mesti menyadari bahwa bahasa itu memiliki kekuatan tersendiri, dan puisi salah satu daripada itu. Bahkan tentang cinta, puisi dapat mencitrakannya lebih pekat atau berarti.

“Puisi cinta Sapardi Djoko Damono yang berjudul Aku Ingin, kita bisa membayangkannya bagaimana cinta ditulis dengan sangat dalam,” ujar Made Adnyana Ole (Pak Ole) saat memberikan pelatihan cara menulis puisi setelah istrinya memberikan materi.

“ ..Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..”— Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono.

Dalam puisi, tentu yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana mereka, penyair, menulis indah seperti itu, kata Pak Ole. Penyair seperti memiliki mata-cara pandang tersendiri atas apa yang ia lihat. Sehingga, sosial-kultural dan tempat di mana penyair tinggal pula sangat berpengaruh terhadap puisi-puisinya yang dibuat.

“Dalam percakapan, ‘kata’ dapat menegaskan apa yang kita rasakan untuk menguatkan sesuatu. Semisal ‘sakkiiiittt..’ untuk menjelaskan betapa sakitnya dirinya dalam menjelaskan. Tapi dalam puisi, itu tidak mesti, justru berbeda cara mereka (penyair) menuliskan perasaannya terhadap sesuatu. Mereka (penyair) menggunakan-memilih diksi yang tepat. Yang padat. Tidak biasa. Dan tentunya yang indah saat dibacakan,” tutur Pak Ole.

Apa yang dikatakan Pak Ole di atas, secara sederhana dapat saya pahami bahwa cara penyair menuliskan sesuatu, memilih diksi, merupakan hal penting. Sehingga mereka sangat berbeda atau tidak klise. Dari sanalah kita selalu melihat puisi seperti memiliki kekuatan tersendiri (khas) dalam menjelaskan sesuatu (pesan).

Dalam mencontohkan seperti apa puisi yang bagus, Pak Ole kemudian membacakan satu puisi cinta yang lain, puisi karya Pablo Nerruda berjudul “Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini”, yang diterjemahan oleh Saut Situmorang.

“..aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini. misalnya, menulis: “malam penuh bintang, dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan..”

Pak Ole kemudian menjelaskan, bahwa dalam puisi seperti itulah contoh puisi yang bagus. Kita bisa merasakan tidak biasa dalam pilihan diksinya.

“Tentu, dalam puisi cinta seperti itu, tak hanya mengandalkan intuisi saat menuliskannya. Tetapi logika (kegiatan berpikir) dalam menulis puisi juga menjadi hal penting. Agar puisi menjadi bagus, masuk akal, dan tidak mengawang-ngawang,” sambung Bu Sonia, melanjutkan pembahasan suaminya, Made Adnyana Ole.

Praktik Menulis Puisi

Tampak dari sudut dapur, mereka, para peserta itu, sangat antusias. Pada sesi praktik, setelah mendengar panjang lebar dan padat seperti apa puisi dan bagaimana cara menuliskannya, peserta diminta untuk membuat masing-masing satu puisi bebas dan membacakannya di depan.

Berikut dua puisi peserta yang sempat dibacakan dan dapat saya tulis dari dapur:

Darah
Oleh Adip

Kamu selalu sulit diterka
Bagai darah tanpa wadah
Mengucur terang merah-

Kadang biru,
Yang kasang bercabang,
Hingga ujungmu,
Tak terlihat kemana

Hitam legam bersama,
Hidangan padang seserhana.
Runtuhkan sinar rupa,
Karena suryaku yang gerhana.

Namun darahmu ramah.
Hangat saat rasa bertemu rasa.
Aku takut,-
Darahmu terasa beku.
Tampak kebiruan ungu.
Takut jelas di bawah punggungmu.
Bolehkah aku mendahuluimu?

Mahima, 15 Maret 2024.

Dirimu
Oleh Frisca

Tatapanmu…
Bagaikan petir di malam hari,
Penuh cahaya dan berhasil menyambar hati
Senyumanmu…
Selalu berhasil meluluhkan hati kecilku
Bagaikan sebuah perahu di lautan,
Begitulah diriku yang terombang ambing
Oleh pesonamu.
Bagaikan sebuah Aliran Sungai, Cintaku selalu mengalir
Untuk dirimu dan hanya dirimu.

Mahima, 15 Maret 2024.[T]

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima
Ruang Ketiga; Kebudayaan yang Menguar di Tongkrongan
Tags: baliKomunitas MahimaMahima March March March 2024PuisisastraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspedisi Budaya Indonesia dari Fatris MF, Catatan Perjalanan yang Menggelitik dan Penuh Ironi

Next Post

Jawan, Film Angry Young Man?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jawan, Film Angry Young Man?

Jawan, Film Angry Young Man?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co