23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 16, 2024
in Esai
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Made Adnyana Ole dan LKadek Sonia Piscayanti saat memberi workshop puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SUDAH hampir sepekan ini, Singaraja nyaris tak mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Awan hitam menebal di penjuru langit bumi Panji Sakti siang dan malam. Hujan lebat berangin, pohon tumbang, dan tanah longsor terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Meski begitu, semua harus tetap berjalan. Bumi akan tetap berputar meski seseorang sedang pada tahap kesedihan yang paling ratap sekalipun. Maka dari itu, mulai Jumat, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, meski cuaca sedang dalam kondisi yang sangat labil, Komunitas Mahima tetap merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun—atau yang lebih dikenal dengan “Mahima March March March”.

Ya, meski dunia sedang dalam keadaan kacau sekalipun, semuanya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, bukan? Benar, tapi tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah diperhitungkan dengan sangat matang.

Di ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini, sama seperti pada perayaan hari jadi di tahun-tahun sebelumnya, Komunitas Mahima memberikan semacam angin segar bagi masyarakat Singaraja dan sekitarnya yang haus akan pengetahuan seni dan budaya.

Berbagai program andalan seperti puisi, bedah buku, pementasan teater, serta pementasan musikalisasi puisi, dan yang lainnya, tetap hadir di dalam perayaan hari jadinya kali ini. Dan, untuk perayaan di hari pertama—memang, ulang tahun Komunitas Mahima dirayakan sampai berhari-hari—dirayakan dengan workshop menulis puisi yang di komandoi oleh si pemilik hajat, Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole.

Di antara sisa-sisa air hujan yang masih menetes, derap langkah mulai terdengar. Langkah kaki beriringan itu milik mereka peserta workshop yang hadir di Komunitas Mahima. Usia mereka tak jauh berbeda. Masih pada jenjang pendidikan yang sama. Meski, ada beberapa mahasiswa dan orang tua juga turut hadir pada perayaan sore itu.

Kami berkumpul di tempat yang sama dan dengan tujuan yang sama, yakni workshop menulis puisi. Meskipun, pada dasarnya, di antara sekian banyak peserta yang datang di hari itu, saya adalah orang yang paling awam dengan karya sastra yang lahir dari peradaban Yunani kuno itu.

Menurut Bunda—panggilan akrab kami kepada Bu Sonia—Puisi adalah sebuah seni untuk memaknai suatu kehidupan. “Dengan puisi kita dapat memaknai diri kita dan lingkungan di sekitar kita,” katanya.

Sebelum melanjutkan pemaparannya, ia mencoba berinteraksi dengan peserta workshop dengan meminta pendapat mereka. “Apa yang dimaksud dengan puisi?”

Tentu, dalam hal ini, saya tak mempunyai tanggapan apa-apa mengenai pertanyaan tersebut. “Wong saya gak ngerti puisi itu apa kok”. Namun, pada akhirnya, satu persatu dari mereka mulai memberikan tanggapannya dengan pengertiannya masing-masing.

Selanjutnya, Bunda bercerita tentang betapa pentingnya puisi di dalam sebuah kehidupan manusia. Di dunia barat, misalnya—maksudnya luar negeri—puisi diyakini sebagai cikal bakal dari lahirnya ilmu filosofi. Menurutnya, di dalam puisi, mengandung unsur-unsur kebijaksanaan yang menjadi poin utama dalam dunia filsafat.

Benar, puisi seringkali dianggap sebagai ekspresi artistik yang mampu menggambarkan pemikiran dan pandangan dunia seseorang. Di sisi lain, filsafat merupakan upaya manusia untuk memahami eksistensi, kebenaran, nilai-nilai, dan makna kehidupan secara lebih mendalam. Maka, sah jika puisi dianggap sebagai cikal bakal dari filsafat. Karena, melalui penggunaan bahasa yang kreatif dan metaforis, puisi dapat menggambarkan kompleksitas pemikiran filsafat dengan cara yang lebih emosional dan estetis.

Di Indonesia, misalnya, pada periode kemerdekaan, penyair-penyair pada masa itu menggunakan sajak-sajak metaforis sebagai alat untuk membakar semangat perjuangan bangsa. Salah satunya adalah Chairil Anwar dengan puisi “Aku-nya yang sangat kontroversial.

Chairil sering dianggap sebagai “pemberontak” dalam dunia sastra karena karya-karyanya yang menggugat norma-norma sosial dan budaya pada masanya. Dengan penggunaan kata-kata yang tajam, ia mampu mengekspresikan sebuah penolakan serta kegelisahan kondisi sosial pada saat tu.

Namun, Bunda kemudian membandingkan antara sajak-sajak Chairil dengan sajak-sajak yang berseliweran di dunia maya pada saat ini. Ia menganggap, bahwa apa yang berseliweran di media sosial sekarang bukanlah puisi, melainkan hanya semacam celotehan saja.

Sebab, menulis puisi tentunya memiliki sebuah tujuan. Jika Chairil membuat puisi dengan tujuan untuk membakar semangat perjuangan, lantas mengapa sajak-sajak di media sosial sekarang ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan?

Mengenai hal itu, Pak Ole—panggilan akrab saya kepada Made Adnyana Ole—mencoba menjelaskan duduk persoalan tersebut. Menurutnya, jika sebuah sajak hanya dikirimkan ke media sosial, yang terjadi adalah, tidak adanya kurator untuk menguji baik dan tidaknya sajak tersebut.

Hal itu yang menjadikan sajak di media sosial yang konon sedang ngetren di akhir-akhir ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan. Menurutnya, sebuah puisi lahir dari adanya sebuah pantulan penghayatan diri seseorang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Kesadaran diri—atau mengambil istilah yang sering digunakan Pak Ole; self culture—akan membentuk dan mengembangkan aspek-aspek seperti pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan kesadaran diri seseorang berbeda-beda.

Maka, dalam proses ini, setiap penyair akan melahirkan sebuah puisi yang berbeda dengan penyair lainnya atas dasar kesadaran diri yang berbeda-beda. Dengan demikian, benar apa yang dikatakan Pak Ole, yakni puisi tidak memiliki makna tunggal.

Sekadar informasi tambahan, jauh sebelum saya dilahirkan—atau barangkali ibu-bapak saya belum saling mencintai satu sama lain—Pak Ole sudah menjadi sastrawan dengan berbagai karya sastranya (maksudnya menulis puisi).

Sementara Pak Ole masih asik menjelaskan tentang proses lahirnya sebuah puisi kepada peserta workshop, di sisi lain, tampak beberapa pemuda sedang asyik menyantap mi instan dan menyeruput kopi tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Padahal, sekarang adalah bulan Puasa, dan beberapa pemuda itu adalah seorang yang saya tahu beragama Islam. Dengan kata lain, mereka tidak berpuasa. Meski aib, tapi tak mengapa. Toh, mereka teman-teman saya.

(Bisa saja dua paragraf di atas tak saya ikut sertakan. Tapi karena saya jengkel, maka biarlah sudah. Hanya saja, ini bukan karena sok soleh atau sok taat, barangkali iman saya saja yang cetek, yang melihat orang minum kopi—dan rokok, tentu saja—di siang bolong di bulan Ramadan, membuat keteguhan iman saya agak terintimidasi.)   

Lupakan dua tiga paragraf di atas. Kita kembali ke subtansi saja.

Pada hari itu, saat menjelaskan, sesekali Pak Ole membacakan sebuah puisi yang membuat peserta workshop merasa terhipnotis dalam beberapa saat. Ya, Pak Ole membaca puisi berjudul Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini karya Pablo Neruda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan Saut Situmorang.

Puisi itu, dengan pembacaan Pak Ole, seakan menjelma sebagai nyanyian tidur yang diam-diam melelapkan. Kami terpukau dengan puisi itu. Indah dan, tentu saja, bermakna yang sangat dalam.

Menurut Pak Ole, langkah awal untuk membuat sebuah puisi adalah diawali dengan membaca puisi sebanyak-banyaknya—puisi yang bagus. Sebab, semakin banyak kita membaca puisi, maka semakin banyak pula kita memiliki jaring untuk memilah sebuah puisi.

Dengan begitu, kita akan mampu membedakan mana puisi bagus dan yang tidak bagus. Dan, dengan membaca puisi yang bagus, adalah sebuah cara yang tepat untuk menulis puisi yang bagus pula. Tentu, juga dengan memperkaya kosa kata di dalam diri kita. Maka, dengan begitu, pemilihan diksi yang dipilih untuk dirangkai menjadi sebuah puisi akan lebih bervariasi. 

Di akhir acara, Pak Ole meminta peserta workshop membuat sebuah puisi dengan penghayatan diri masing-masing. Menyambut hal itu, semua antusias untuk segera membuat puisi. Ada yang selesai, ada yang tidak. Dan tentu saja yang tidak selesai itu adalah saya. Mungkin akan saya selesaikan lain waktu.[T]

Editor: Jaswanto

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati
Kadang di Belakang, di Depan Kadang-Kadang | Catatan Mahima March March March dari Layar Belakang
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2024Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Next Post

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co