2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 16, 2024
in Esai
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Made Adnyana Ole dan LKadek Sonia Piscayanti saat memberi workshop puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SUDAH hampir sepekan ini, Singaraja nyaris tak mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Awan hitam menebal di penjuru langit bumi Panji Sakti siang dan malam. Hujan lebat berangin, pohon tumbang, dan tanah longsor terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Meski begitu, semua harus tetap berjalan. Bumi akan tetap berputar meski seseorang sedang pada tahap kesedihan yang paling ratap sekalipun. Maka dari itu, mulai Jumat, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, meski cuaca sedang dalam kondisi yang sangat labil, Komunitas Mahima tetap merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun—atau yang lebih dikenal dengan “Mahima March March March”.

Ya, meski dunia sedang dalam keadaan kacau sekalipun, semuanya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, bukan? Benar, tapi tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah diperhitungkan dengan sangat matang.

Di ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini, sama seperti pada perayaan hari jadi di tahun-tahun sebelumnya, Komunitas Mahima memberikan semacam angin segar bagi masyarakat Singaraja dan sekitarnya yang haus akan pengetahuan seni dan budaya.

Berbagai program andalan seperti puisi, bedah buku, pementasan teater, serta pementasan musikalisasi puisi, dan yang lainnya, tetap hadir di dalam perayaan hari jadinya kali ini. Dan, untuk perayaan di hari pertama—memang, ulang tahun Komunitas Mahima dirayakan sampai berhari-hari—dirayakan dengan workshop menulis puisi yang di komandoi oleh si pemilik hajat, Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole.

Di antara sisa-sisa air hujan yang masih menetes, derap langkah mulai terdengar. Langkah kaki beriringan itu milik mereka peserta workshop yang hadir di Komunitas Mahima. Usia mereka tak jauh berbeda. Masih pada jenjang pendidikan yang sama. Meski, ada beberapa mahasiswa dan orang tua juga turut hadir pada perayaan sore itu.

Kami berkumpul di tempat yang sama dan dengan tujuan yang sama, yakni workshop menulis puisi. Meskipun, pada dasarnya, di antara sekian banyak peserta yang datang di hari itu, saya adalah orang yang paling awam dengan karya sastra yang lahir dari peradaban Yunani kuno itu.

Menurut Bunda—panggilan akrab kami kepada Bu Sonia—Puisi adalah sebuah seni untuk memaknai suatu kehidupan. “Dengan puisi kita dapat memaknai diri kita dan lingkungan di sekitar kita,” katanya.

Sebelum melanjutkan pemaparannya, ia mencoba berinteraksi dengan peserta workshop dengan meminta pendapat mereka. “Apa yang dimaksud dengan puisi?”

Tentu, dalam hal ini, saya tak mempunyai tanggapan apa-apa mengenai pertanyaan tersebut. “Wong saya gak ngerti puisi itu apa kok”. Namun, pada akhirnya, satu persatu dari mereka mulai memberikan tanggapannya dengan pengertiannya masing-masing.

Selanjutnya, Bunda bercerita tentang betapa pentingnya puisi di dalam sebuah kehidupan manusia. Di dunia barat, misalnya—maksudnya luar negeri—puisi diyakini sebagai cikal bakal dari lahirnya ilmu filosofi. Menurutnya, di dalam puisi, mengandung unsur-unsur kebijaksanaan yang menjadi poin utama dalam dunia filsafat.

Benar, puisi seringkali dianggap sebagai ekspresi artistik yang mampu menggambarkan pemikiran dan pandangan dunia seseorang. Di sisi lain, filsafat merupakan upaya manusia untuk memahami eksistensi, kebenaran, nilai-nilai, dan makna kehidupan secara lebih mendalam. Maka, sah jika puisi dianggap sebagai cikal bakal dari filsafat. Karena, melalui penggunaan bahasa yang kreatif dan metaforis, puisi dapat menggambarkan kompleksitas pemikiran filsafat dengan cara yang lebih emosional dan estetis.

Di Indonesia, misalnya, pada periode kemerdekaan, penyair-penyair pada masa itu menggunakan sajak-sajak metaforis sebagai alat untuk membakar semangat perjuangan bangsa. Salah satunya adalah Chairil Anwar dengan puisi “Aku-nya yang sangat kontroversial.

Chairil sering dianggap sebagai “pemberontak” dalam dunia sastra karena karya-karyanya yang menggugat norma-norma sosial dan budaya pada masanya. Dengan penggunaan kata-kata yang tajam, ia mampu mengekspresikan sebuah penolakan serta kegelisahan kondisi sosial pada saat tu.

Namun, Bunda kemudian membandingkan antara sajak-sajak Chairil dengan sajak-sajak yang berseliweran di dunia maya pada saat ini. Ia menganggap, bahwa apa yang berseliweran di media sosial sekarang bukanlah puisi, melainkan hanya semacam celotehan saja.

Sebab, menulis puisi tentunya memiliki sebuah tujuan. Jika Chairil membuat puisi dengan tujuan untuk membakar semangat perjuangan, lantas mengapa sajak-sajak di media sosial sekarang ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan?

Mengenai hal itu, Pak Ole—panggilan akrab saya kepada Made Adnyana Ole—mencoba menjelaskan duduk persoalan tersebut. Menurutnya, jika sebuah sajak hanya dikirimkan ke media sosial, yang terjadi adalah, tidak adanya kurator untuk menguji baik dan tidaknya sajak tersebut.

Hal itu yang menjadikan sajak di media sosial yang konon sedang ngetren di akhir-akhir ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan. Menurutnya, sebuah puisi lahir dari adanya sebuah pantulan penghayatan diri seseorang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Kesadaran diri—atau mengambil istilah yang sering digunakan Pak Ole; self culture—akan membentuk dan mengembangkan aspek-aspek seperti pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan kesadaran diri seseorang berbeda-beda.

Maka, dalam proses ini, setiap penyair akan melahirkan sebuah puisi yang berbeda dengan penyair lainnya atas dasar kesadaran diri yang berbeda-beda. Dengan demikian, benar apa yang dikatakan Pak Ole, yakni puisi tidak memiliki makna tunggal.

Sekadar informasi tambahan, jauh sebelum saya dilahirkan—atau barangkali ibu-bapak saya belum saling mencintai satu sama lain—Pak Ole sudah menjadi sastrawan dengan berbagai karya sastranya (maksudnya menulis puisi).

Sementara Pak Ole masih asik menjelaskan tentang proses lahirnya sebuah puisi kepada peserta workshop, di sisi lain, tampak beberapa pemuda sedang asyik menyantap mi instan dan menyeruput kopi tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Padahal, sekarang adalah bulan Puasa, dan beberapa pemuda itu adalah seorang yang saya tahu beragama Islam. Dengan kata lain, mereka tidak berpuasa. Meski aib, tapi tak mengapa. Toh, mereka teman-teman saya.

(Bisa saja dua paragraf di atas tak saya ikut sertakan. Tapi karena saya jengkel, maka biarlah sudah. Hanya saja, ini bukan karena sok soleh atau sok taat, barangkali iman saya saja yang cetek, yang melihat orang minum kopi—dan rokok, tentu saja—di siang bolong di bulan Ramadan, membuat keteguhan iman saya agak terintimidasi.)   

Lupakan dua tiga paragraf di atas. Kita kembali ke subtansi saja.

Pada hari itu, saat menjelaskan, sesekali Pak Ole membacakan sebuah puisi yang membuat peserta workshop merasa terhipnotis dalam beberapa saat. Ya, Pak Ole membaca puisi berjudul Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini karya Pablo Neruda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan Saut Situmorang.

Puisi itu, dengan pembacaan Pak Ole, seakan menjelma sebagai nyanyian tidur yang diam-diam melelapkan. Kami terpukau dengan puisi itu. Indah dan, tentu saja, bermakna yang sangat dalam.

Menurut Pak Ole, langkah awal untuk membuat sebuah puisi adalah diawali dengan membaca puisi sebanyak-banyaknya—puisi yang bagus. Sebab, semakin banyak kita membaca puisi, maka semakin banyak pula kita memiliki jaring untuk memilah sebuah puisi.

Dengan begitu, kita akan mampu membedakan mana puisi bagus dan yang tidak bagus. Dan, dengan membaca puisi yang bagus, adalah sebuah cara yang tepat untuk menulis puisi yang bagus pula. Tentu, juga dengan memperkaya kosa kata di dalam diri kita. Maka, dengan begitu, pemilihan diksi yang dipilih untuk dirangkai menjadi sebuah puisi akan lebih bervariasi. 

Di akhir acara, Pak Ole meminta peserta workshop membuat sebuah puisi dengan penghayatan diri masing-masing. Menyambut hal itu, semua antusias untuk segera membuat puisi. Ada yang selesai, ada yang tidak. Dan tentu saja yang tidak selesai itu adalah saya. Mungkin akan saya selesaikan lain waktu.[T]

Editor: Jaswanto

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati
Kadang di Belakang, di Depan Kadang-Kadang | Catatan Mahima March March March dari Layar Belakang
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2024Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Next Post

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co