23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 16, 2024
in Esai
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Made Adnyana Ole dan LKadek Sonia Piscayanti saat memberi workshop puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SUDAH hampir sepekan ini, Singaraja nyaris tak mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Awan hitam menebal di penjuru langit bumi Panji Sakti siang dan malam. Hujan lebat berangin, pohon tumbang, dan tanah longsor terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Meski begitu, semua harus tetap berjalan. Bumi akan tetap berputar meski seseorang sedang pada tahap kesedihan yang paling ratap sekalipun. Maka dari itu, mulai Jumat, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, meski cuaca sedang dalam kondisi yang sangat labil, Komunitas Mahima tetap merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun—atau yang lebih dikenal dengan “Mahima March March March”.

Ya, meski dunia sedang dalam keadaan kacau sekalipun, semuanya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, bukan? Benar, tapi tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah diperhitungkan dengan sangat matang.

Di ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini, sama seperti pada perayaan hari jadi di tahun-tahun sebelumnya, Komunitas Mahima memberikan semacam angin segar bagi masyarakat Singaraja dan sekitarnya yang haus akan pengetahuan seni dan budaya.

Berbagai program andalan seperti puisi, bedah buku, pementasan teater, serta pementasan musikalisasi puisi, dan yang lainnya, tetap hadir di dalam perayaan hari jadinya kali ini. Dan, untuk perayaan di hari pertama—memang, ulang tahun Komunitas Mahima dirayakan sampai berhari-hari—dirayakan dengan workshop menulis puisi yang di komandoi oleh si pemilik hajat, Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole.

Di antara sisa-sisa air hujan yang masih menetes, derap langkah mulai terdengar. Langkah kaki beriringan itu milik mereka peserta workshop yang hadir di Komunitas Mahima. Usia mereka tak jauh berbeda. Masih pada jenjang pendidikan yang sama. Meski, ada beberapa mahasiswa dan orang tua juga turut hadir pada perayaan sore itu.

Kami berkumpul di tempat yang sama dan dengan tujuan yang sama, yakni workshop menulis puisi. Meskipun, pada dasarnya, di antara sekian banyak peserta yang datang di hari itu, saya adalah orang yang paling awam dengan karya sastra yang lahir dari peradaban Yunani kuno itu.

Menurut Bunda—panggilan akrab kami kepada Bu Sonia—Puisi adalah sebuah seni untuk memaknai suatu kehidupan. “Dengan puisi kita dapat memaknai diri kita dan lingkungan di sekitar kita,” katanya.

Sebelum melanjutkan pemaparannya, ia mencoba berinteraksi dengan peserta workshop dengan meminta pendapat mereka. “Apa yang dimaksud dengan puisi?”

Tentu, dalam hal ini, saya tak mempunyai tanggapan apa-apa mengenai pertanyaan tersebut. “Wong saya gak ngerti puisi itu apa kok”. Namun, pada akhirnya, satu persatu dari mereka mulai memberikan tanggapannya dengan pengertiannya masing-masing.

Selanjutnya, Bunda bercerita tentang betapa pentingnya puisi di dalam sebuah kehidupan manusia. Di dunia barat, misalnya—maksudnya luar negeri—puisi diyakini sebagai cikal bakal dari lahirnya ilmu filosofi. Menurutnya, di dalam puisi, mengandung unsur-unsur kebijaksanaan yang menjadi poin utama dalam dunia filsafat.

Benar, puisi seringkali dianggap sebagai ekspresi artistik yang mampu menggambarkan pemikiran dan pandangan dunia seseorang. Di sisi lain, filsafat merupakan upaya manusia untuk memahami eksistensi, kebenaran, nilai-nilai, dan makna kehidupan secara lebih mendalam. Maka, sah jika puisi dianggap sebagai cikal bakal dari filsafat. Karena, melalui penggunaan bahasa yang kreatif dan metaforis, puisi dapat menggambarkan kompleksitas pemikiran filsafat dengan cara yang lebih emosional dan estetis.

Di Indonesia, misalnya, pada periode kemerdekaan, penyair-penyair pada masa itu menggunakan sajak-sajak metaforis sebagai alat untuk membakar semangat perjuangan bangsa. Salah satunya adalah Chairil Anwar dengan puisi “Aku-nya yang sangat kontroversial.

Chairil sering dianggap sebagai “pemberontak” dalam dunia sastra karena karya-karyanya yang menggugat norma-norma sosial dan budaya pada masanya. Dengan penggunaan kata-kata yang tajam, ia mampu mengekspresikan sebuah penolakan serta kegelisahan kondisi sosial pada saat tu.

Namun, Bunda kemudian membandingkan antara sajak-sajak Chairil dengan sajak-sajak yang berseliweran di dunia maya pada saat ini. Ia menganggap, bahwa apa yang berseliweran di media sosial sekarang bukanlah puisi, melainkan hanya semacam celotehan saja.

Sebab, menulis puisi tentunya memiliki sebuah tujuan. Jika Chairil membuat puisi dengan tujuan untuk membakar semangat perjuangan, lantas mengapa sajak-sajak di media sosial sekarang ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan?

Mengenai hal itu, Pak Ole—panggilan akrab saya kepada Made Adnyana Ole—mencoba menjelaskan duduk persoalan tersebut. Menurutnya, jika sebuah sajak hanya dikirimkan ke media sosial, yang terjadi adalah, tidak adanya kurator untuk menguji baik dan tidaknya sajak tersebut.

Hal itu yang menjadikan sajak di media sosial yang konon sedang ngetren di akhir-akhir ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan. Menurutnya, sebuah puisi lahir dari adanya sebuah pantulan penghayatan diri seseorang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Kesadaran diri—atau mengambil istilah yang sering digunakan Pak Ole; self culture—akan membentuk dan mengembangkan aspek-aspek seperti pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan kesadaran diri seseorang berbeda-beda.

Maka, dalam proses ini, setiap penyair akan melahirkan sebuah puisi yang berbeda dengan penyair lainnya atas dasar kesadaran diri yang berbeda-beda. Dengan demikian, benar apa yang dikatakan Pak Ole, yakni puisi tidak memiliki makna tunggal.

Sekadar informasi tambahan, jauh sebelum saya dilahirkan—atau barangkali ibu-bapak saya belum saling mencintai satu sama lain—Pak Ole sudah menjadi sastrawan dengan berbagai karya sastranya (maksudnya menulis puisi).

Sementara Pak Ole masih asik menjelaskan tentang proses lahirnya sebuah puisi kepada peserta workshop, di sisi lain, tampak beberapa pemuda sedang asyik menyantap mi instan dan menyeruput kopi tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Padahal, sekarang adalah bulan Puasa, dan beberapa pemuda itu adalah seorang yang saya tahu beragama Islam. Dengan kata lain, mereka tidak berpuasa. Meski aib, tapi tak mengapa. Toh, mereka teman-teman saya.

(Bisa saja dua paragraf di atas tak saya ikut sertakan. Tapi karena saya jengkel, maka biarlah sudah. Hanya saja, ini bukan karena sok soleh atau sok taat, barangkali iman saya saja yang cetek, yang melihat orang minum kopi—dan rokok, tentu saja—di siang bolong di bulan Ramadan, membuat keteguhan iman saya agak terintimidasi.)   

Lupakan dua tiga paragraf di atas. Kita kembali ke subtansi saja.

Pada hari itu, saat menjelaskan, sesekali Pak Ole membacakan sebuah puisi yang membuat peserta workshop merasa terhipnotis dalam beberapa saat. Ya, Pak Ole membaca puisi berjudul Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini karya Pablo Neruda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan Saut Situmorang.

Puisi itu, dengan pembacaan Pak Ole, seakan menjelma sebagai nyanyian tidur yang diam-diam melelapkan. Kami terpukau dengan puisi itu. Indah dan, tentu saja, bermakna yang sangat dalam.

Menurut Pak Ole, langkah awal untuk membuat sebuah puisi adalah diawali dengan membaca puisi sebanyak-banyaknya—puisi yang bagus. Sebab, semakin banyak kita membaca puisi, maka semakin banyak pula kita memiliki jaring untuk memilah sebuah puisi.

Dengan begitu, kita akan mampu membedakan mana puisi bagus dan yang tidak bagus. Dan, dengan membaca puisi yang bagus, adalah sebuah cara yang tepat untuk menulis puisi yang bagus pula. Tentu, juga dengan memperkaya kosa kata di dalam diri kita. Maka, dengan begitu, pemilihan diksi yang dipilih untuk dirangkai menjadi sebuah puisi akan lebih bervariasi. 

Di akhir acara, Pak Ole meminta peserta workshop membuat sebuah puisi dengan penghayatan diri masing-masing. Menyambut hal itu, semua antusias untuk segera membuat puisi. Ada yang selesai, ada yang tidak. Dan tentu saja yang tidak selesai itu adalah saya. Mungkin akan saya selesaikan lain waktu.[T]

Editor: Jaswanto

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati
Kadang di Belakang, di Depan Kadang-Kadang | Catatan Mahima March March March dari Layar Belakang
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2024Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Next Post

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co