24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 16, 2024
in Esai
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Made Adnyana Ole dan LKadek Sonia Piscayanti saat memberi workshop puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SUDAH hampir sepekan ini, Singaraja nyaris tak mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Awan hitam menebal di penjuru langit bumi Panji Sakti siang dan malam. Hujan lebat berangin, pohon tumbang, dan tanah longsor terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Meski begitu, semua harus tetap berjalan. Bumi akan tetap berputar meski seseorang sedang pada tahap kesedihan yang paling ratap sekalipun. Maka dari itu, mulai Jumat, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, meski cuaca sedang dalam kondisi yang sangat labil, Komunitas Mahima tetap merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun—atau yang lebih dikenal dengan “Mahima March March March”.

Ya, meski dunia sedang dalam keadaan kacau sekalipun, semuanya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, bukan? Benar, tapi tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah diperhitungkan dengan sangat matang.

Di ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini, sama seperti pada perayaan hari jadi di tahun-tahun sebelumnya, Komunitas Mahima memberikan semacam angin segar bagi masyarakat Singaraja dan sekitarnya yang haus akan pengetahuan seni dan budaya.

Berbagai program andalan seperti puisi, bedah buku, pementasan teater, serta pementasan musikalisasi puisi, dan yang lainnya, tetap hadir di dalam perayaan hari jadinya kali ini. Dan, untuk perayaan di hari pertama—memang, ulang tahun Komunitas Mahima dirayakan sampai berhari-hari—dirayakan dengan workshop menulis puisi yang di komandoi oleh si pemilik hajat, Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole.

Di antara sisa-sisa air hujan yang masih menetes, derap langkah mulai terdengar. Langkah kaki beriringan itu milik mereka peserta workshop yang hadir di Komunitas Mahima. Usia mereka tak jauh berbeda. Masih pada jenjang pendidikan yang sama. Meski, ada beberapa mahasiswa dan orang tua juga turut hadir pada perayaan sore itu.

Kami berkumpul di tempat yang sama dan dengan tujuan yang sama, yakni workshop menulis puisi. Meskipun, pada dasarnya, di antara sekian banyak peserta yang datang di hari itu, saya adalah orang yang paling awam dengan karya sastra yang lahir dari peradaban Yunani kuno itu.

Menurut Bunda—panggilan akrab kami kepada Bu Sonia—Puisi adalah sebuah seni untuk memaknai suatu kehidupan. “Dengan puisi kita dapat memaknai diri kita dan lingkungan di sekitar kita,” katanya.

Sebelum melanjutkan pemaparannya, ia mencoba berinteraksi dengan peserta workshop dengan meminta pendapat mereka. “Apa yang dimaksud dengan puisi?”

Tentu, dalam hal ini, saya tak mempunyai tanggapan apa-apa mengenai pertanyaan tersebut. “Wong saya gak ngerti puisi itu apa kok”. Namun, pada akhirnya, satu persatu dari mereka mulai memberikan tanggapannya dengan pengertiannya masing-masing.

Selanjutnya, Bunda bercerita tentang betapa pentingnya puisi di dalam sebuah kehidupan manusia. Di dunia barat, misalnya—maksudnya luar negeri—puisi diyakini sebagai cikal bakal dari lahirnya ilmu filosofi. Menurutnya, di dalam puisi, mengandung unsur-unsur kebijaksanaan yang menjadi poin utama dalam dunia filsafat.

Benar, puisi seringkali dianggap sebagai ekspresi artistik yang mampu menggambarkan pemikiran dan pandangan dunia seseorang. Di sisi lain, filsafat merupakan upaya manusia untuk memahami eksistensi, kebenaran, nilai-nilai, dan makna kehidupan secara lebih mendalam. Maka, sah jika puisi dianggap sebagai cikal bakal dari filsafat. Karena, melalui penggunaan bahasa yang kreatif dan metaforis, puisi dapat menggambarkan kompleksitas pemikiran filsafat dengan cara yang lebih emosional dan estetis.

Di Indonesia, misalnya, pada periode kemerdekaan, penyair-penyair pada masa itu menggunakan sajak-sajak metaforis sebagai alat untuk membakar semangat perjuangan bangsa. Salah satunya adalah Chairil Anwar dengan puisi “Aku-nya yang sangat kontroversial.

Chairil sering dianggap sebagai “pemberontak” dalam dunia sastra karena karya-karyanya yang menggugat norma-norma sosial dan budaya pada masanya. Dengan penggunaan kata-kata yang tajam, ia mampu mengekspresikan sebuah penolakan serta kegelisahan kondisi sosial pada saat tu.

Namun, Bunda kemudian membandingkan antara sajak-sajak Chairil dengan sajak-sajak yang berseliweran di dunia maya pada saat ini. Ia menganggap, bahwa apa yang berseliweran di media sosial sekarang bukanlah puisi, melainkan hanya semacam celotehan saja.

Sebab, menulis puisi tentunya memiliki sebuah tujuan. Jika Chairil membuat puisi dengan tujuan untuk membakar semangat perjuangan, lantas mengapa sajak-sajak di media sosial sekarang ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan?

Mengenai hal itu, Pak Ole—panggilan akrab saya kepada Made Adnyana Ole—mencoba menjelaskan duduk persoalan tersebut. Menurutnya, jika sebuah sajak hanya dikirimkan ke media sosial, yang terjadi adalah, tidak adanya kurator untuk menguji baik dan tidaknya sajak tersebut.

Hal itu yang menjadikan sajak di media sosial yang konon sedang ngetren di akhir-akhir ini seakan tidak memiliki sebuah tujuan. Menurutnya, sebuah puisi lahir dari adanya sebuah pantulan penghayatan diri seseorang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Kesadaran diri—atau mengambil istilah yang sering digunakan Pak Ole; self culture—akan membentuk dan mengembangkan aspek-aspek seperti pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan kesadaran diri seseorang berbeda-beda.

Maka, dalam proses ini, setiap penyair akan melahirkan sebuah puisi yang berbeda dengan penyair lainnya atas dasar kesadaran diri yang berbeda-beda. Dengan demikian, benar apa yang dikatakan Pak Ole, yakni puisi tidak memiliki makna tunggal.

Sekadar informasi tambahan, jauh sebelum saya dilahirkan—atau barangkali ibu-bapak saya belum saling mencintai satu sama lain—Pak Ole sudah menjadi sastrawan dengan berbagai karya sastranya (maksudnya menulis puisi).

Sementara Pak Ole masih asik menjelaskan tentang proses lahirnya sebuah puisi kepada peserta workshop, di sisi lain, tampak beberapa pemuda sedang asyik menyantap mi instan dan menyeruput kopi tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Padahal, sekarang adalah bulan Puasa, dan beberapa pemuda itu adalah seorang yang saya tahu beragama Islam. Dengan kata lain, mereka tidak berpuasa. Meski aib, tapi tak mengapa. Toh, mereka teman-teman saya.

(Bisa saja dua paragraf di atas tak saya ikut sertakan. Tapi karena saya jengkel, maka biarlah sudah. Hanya saja, ini bukan karena sok soleh atau sok taat, barangkali iman saya saja yang cetek, yang melihat orang minum kopi—dan rokok, tentu saja—di siang bolong di bulan Ramadan, membuat keteguhan iman saya agak terintimidasi.)   

Lupakan dua tiga paragraf di atas. Kita kembali ke subtansi saja.

Pada hari itu, saat menjelaskan, sesekali Pak Ole membacakan sebuah puisi yang membuat peserta workshop merasa terhipnotis dalam beberapa saat. Ya, Pak Ole membaca puisi berjudul Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini karya Pablo Neruda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan Saut Situmorang.

Puisi itu, dengan pembacaan Pak Ole, seakan menjelma sebagai nyanyian tidur yang diam-diam melelapkan. Kami terpukau dengan puisi itu. Indah dan, tentu saja, bermakna yang sangat dalam.

Menurut Pak Ole, langkah awal untuk membuat sebuah puisi adalah diawali dengan membaca puisi sebanyak-banyaknya—puisi yang bagus. Sebab, semakin banyak kita membaca puisi, maka semakin banyak pula kita memiliki jaring untuk memilah sebuah puisi.

Dengan begitu, kita akan mampu membedakan mana puisi bagus dan yang tidak bagus. Dan, dengan membaca puisi yang bagus, adalah sebuah cara yang tepat untuk menulis puisi yang bagus pula. Tentu, juga dengan memperkaya kosa kata di dalam diri kita. Maka, dengan begitu, pemilihan diksi yang dipilih untuk dirangkai menjadi sebuah puisi akan lebih bervariasi. 

Di akhir acara, Pak Ole meminta peserta workshop membuat sebuah puisi dengan penghayatan diri masing-masing. Menyambut hal itu, semua antusias untuk segera membuat puisi. Ada yang selesai, ada yang tidak. Dan tentu saja yang tidak selesai itu adalah saya. Mungkin akan saya selesaikan lain waktu.[T]

Editor: Jaswanto

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati
Kadang di Belakang, di Depan Kadang-Kadang | Catatan Mahima March March March dari Layar Belakang
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2024Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Next Post

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rubuhnya Kampus Kami | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co