24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy by Emi Suy
March 15, 2024
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

Menulis sebagai Terapi Jiwa

KETIKA kita punya cerita berupa kisah yang menguras energi, air mata, bahkan berdarah-darah dan kita sanggup melewati liku-liku luka itu dengan baik, sanggup melampauinya satu per satu hingga kau berada di titik saat ini, maka itu artinya kita memiliki kepribadian yang tangguh dan pantang menyerah. Ada kalanya kita merasa lelah butuh berhenti sesaat untuk istirahat. Namun dengan kesadaran penuh harus melanjutkan perjalanan. Boleh menangis, lelah dan istirahat, tapi jangan lupa lanjutkan langkah. Semua hal yang kita lewati itu memang tak harus dikabarkan, namun tak juga harus dilupakan begitu saja.

Semua itu proses jatuh bangun jatuh bangun menaiki anak tangga fase-fase kehidupan. Kita boleh mengabadikan momennya, boleh mencatatnya, mana tahu kelak kita membutihkan semacam “alarm” untuk menolak lupa dan kembali bernostalgia dengan kenangan-kenangan pahit yang kerap membentur-benturkan diri kita dalam kenyataan-kenyataan yang di luar ekspektasi kita, sehingga membentuk pribadi kita saat ini. Meminjam istilah Tan Malaka; “hidup itu terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.” Mereka dalam menempuh jalan itu akan mengalami ujian, ujian, ujian, baru kemudian bisa menjadi manusia berkarakter.

Tentu saja kita boleh menyimpannya dalam laci ingatan jadi milik sendiri. Tetapi tidak ada juga yang melarang untuk dibagikan kepada teman-teman, siapa tahu ada yang senasib, dan mana tahu ada bonus-bonus lain, misalnya kisah tersebut mampu memberi inspirasi bagi pembaca. Semua punya pilihan masing-masing. Kalau toh menjadi sebuah karya, saya percaya karya itu akan menemukan takdirnya. Apalagi karya yang dahsyat, bonus-bonus lainnya pasti mengikuti. Menjadikan pengalaman sebagai bagian dari proses kreatif tentu selain sebagai self-healing, katarsis, sekaligus mampu menghasilkan karya yang tidak datar-datar saja mirip penggaris.

Kalau pun itu dipublikasi dan melewati kurasi dewan redaksi media tertentu itu sama dengan mengukur seberapa berkualitasnya karya kita di mata orang lain. Tentu yang bisa menilai itu adalah orang lain, bukan? Jadi, mau jadi penulis serius yang bisa menghasilkan, atau mau jadi penulis sampingan seperti saya karena ada tugas utama bekerja dan lain-lain, atau mau jadi penulis tanpa time line, tanpa ingin ada pencapaian, tanpa punya ambisi sekecil apa pun, itu adalah meerupakan pilihan. Mari saling menghormati pilihan masing-masing. Jangan lupa bahwa bisa jadi kita menulis berangkat dari kegelisahan atau perasaan atas situasi tidak baik-baik saja.

Menulis adalah terapi jiwa, di sana ada pelepasan, penerimaan, perdamaian, yaitu berdamai dengan keadaan dan diri sendiri untuk menjaga agar tetap waras dan selalu kuat menghadapi dinamika hidup dan kehidupan ini. Di sana ada proses seni mengolah energi negatif menjadi menjadi dan akhirnya menjadi sebuah karya berbentuk tulisan, entah itu puisi, cerpen, novel, esai, atau apapun. Kemudian karya itu mau diapakan, itu terserah masing-masing. Setiap orang punya kebebasan berekspresi, berpikir dan lain sebagainya. Mari kita hargai jalan masing-masing.

Saya Memilih Sastra dan Menulis Puisi

Sudah lazim perkataan bahwa “sastra tidak muncul dari ruang kosong atau jatuh dari langit, tetapi dari disiplin belajar dan latihan terus menerus.” Buat saya, menulis puisi tidaklah berangkat dari kekosongan dan kesombongan diri, namun justru berangkat dari kegelisahan pikiran, adanya gagasan, serta suara-suara yang berisik di kepala.

Puisi tidak berangkat dari kekosongan atau kehampaan, puisi berangkat dari kegelisahan bahkan puisi adalah upaya untuk mengatasi rasa tidak baik-baik saja seperti cara perempuan dan laki-laki mengungkapkan sesuatu yang berisik dan mengganggu, atau cara lain agar bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri, menjahit keadaan dan perasaan, menambal lubang-lubang kecewa dan terkatuplah semuanya. Menulis adalah sebuah upaya memuliakan kehidupan, mengatasi rasa tidak baik-baik saja demi menjaga kewarasan dan keseimbangan dalam hidup.

Puisi milik semua orang. Menulis puisi menjadi salah satu upaya memeluk diri sendiri. Syukur-syukur dapat memeluk atau paling tidak dapat menyentuh ruang batin orang-orang yang membacanya atau mendengarkannya. Menulis puisi juga adalah sarana berkontemplasi paling elegan dan intelektual. Sebuah lorong sunyi yang panjang di riuhnya rutinitas dan dinamika hidup yang terkadang kompleks.

Menulis puisi sebagai salah satu jalan untuk melakukan pelepasan atau berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, sebuah suasana yang tadinya tak baik-baik saja menjadi rileks di dalam aktivitas menulis puisi. Seeperti saya singgung sebelumnya,ini juga bermakna bagaimana mengolah energi negatif menjadi sebuah karya sebagai wujud hal yang positif, serta bagaimana menciptakan sebuah ruang untuk permenungan dan perenungan sebagai sarana untuk “menyembuhkan diri” atau istilah kerennya sekarang adalah healing, serta bagaimana kita memaknainya sebagai proses katarsis, pencerahan, atau munculnya berbagai kesadaran baru.

Pengalaman terbuat dari kumpulan realita, kejadian, fakta, data, entah itu kejadian yang menimpa orang lain ataupun diri sendiri. Kita tentu saja boleh melupakan, menghapusnya, atau sebaliknya, mengenangnya, mencatatnya. Catatan itu bisa ditransformasikan menjadi sebuah karya apa saja, bisa berbentuk puisi, cerpen, bahkan karya seni yang lain seperti rupa dan musik, atau dibiarkan sekedar menjadi buku catatan dan buku harian saja. Semua terpulang pada masing-masing orang.

Catatan itu mau diapakan nantinya itu bebas saja, apakah mau disimpan di lemari milik sendiri, dibukukan, atau dipublikasikan, syukur-syukur menginspirasi yang membacanya. Apalagi jika kejadian yang dicatat tersebut adalah kejadian penting yang bernilai sejarah, atau yang mewakili situasi sosial yang tengah berkembang, atau malah hanya kondisi emosi personal, namun penting untuk disimak. Singkatnya, semua catatan itu penting sebagai bahan pembelajaran.

Apa pun keputusannya, suka-suka menurut keyakinan yang ditempuh masing-masing. Tentu tidak ada yang salah dan itu sangat tergantung kepada mindset masing-masing. Tetapi harus diingat bahwa jalanmu adalah jalanmu, dan itu pilihanmu, sedangkan jalanku adalah jalanku, dan itu pilihanku. Kalau mengutip perkataan Budha; “temukanlah sendiri cahayamu, temukanlah sendiri jalanmu.” Saya yakin sebuah karya akan menemukan takdir baiknya. Tidak punya ambisi sebagai penulis komersial juga sebuah pilihan. Namun, menjadi penulis yang terus berproses juga sebuah pilihan.

Jadi, bahagialah dengan apa yang menjadi pilihan masing-masing. Menurut saya, berkarya bukan untuk gagah-gagahan agar terlihat hebat atau keren, namun bagaimana kita mampu menghasilkan sesuatu yang membawa kepada kemaslahatan orang banyak, dan syukur-syukur dapat menginspirasi pembacanya, apalagi sampai mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bukankah itu membawa kemaslahatan?

Saya pernah mendengar bahwa karya sastra perlu dibaca banyak orang karena karya sastra turut serta menjaga nilai-nilai dalam perkembangan peradaban. Apalagi di era serba digital, masyarakat cerdas 5.0, kecerdasan buatan atau AI, dan sebagainya, karya sastra sangat dibutuhkan untuk menjaga aspek humanistik dari perkembangan semua aspek. Karya sastra akan memperhalus jiwa manusia, sehingga menjadi berkarakter dalam menghadapi tantangan zaman.

Jadi sekali lai, bagi saya pribadi, menulis puisi berangkat bukan dari kekosongan, apalagi kesombongan. Tidak sama sekali. Saya memulai dari kegaduhan dalam diri, bagaimana belajar pelepasan, berdamai dengan luka, bagaimana mengatasi kegelisahan yang bising di kepala. Saya berangkat dari keinginan untuk “sembuh” atau healing, serta menjadi proses katarsis yang membuat saya tercerahkan.

Kita menjadi dewasa dan bijaksana melalui berbagai benturan, berbagai ujian, kita menghadapi dan melewatinya dengan sepenuh jiwa. Mengutip Nietszche; “sesuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat.” Menulis adalah salah satu cara kita merekam proses “terbentur” tersebut, dan mempublikasikan karya berarti kita membagikan “mutiara” pengalaman tersebut kepada orang lain atau masyarakat. Semua akan menemui takdirnya, dan takdir terbaik adalah, apabila tulisan tersebut memberikan kemaslahatan kepada pembacanya.

Perlukah Karya (Tulisan) Dipublikasikan?

Mempublikasi karya adalah salah satu jalan lain apakah karya kita bisa diterima oleh publik, diterima pembaca melalui kurasi ketat redaksi. Itu juga menjawab pertanyaan; apakah karya kita layak dan cukup melewati persaingan ketat? Sampai di mana kualitas karya kita? Saya rasa kita sendiri sulit mengukurnya. Orang lain lebih mudah melihat noda di wajah kita daripada ktia sendiri, orang lain adalah tempat kita bercermin untuk mengenali diri sendiri.

Itu tidak hanya di dunia sastra semata. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia akademik yang juga sarat dengan menulis. Hasil-hasil penelitian baru akan bermanfaat untuk masyarakat ketika sudah dipublikasikan dan diterapkan. Kecuali kalau si peneliti sangat egois dan hanya ingin menyimpan ilmu pengetahuan berupa hasil risetnya untuk diri sendiri saja. Rasanya tidak ada peneliti yang seperti itu di dunia ini. Kualitas tulisan ilmiah hasil penelitian pun ikut ditentukan oleh publikasi, misalnya di jurnal akademik kualitas apa, apakah Scopus Q1, Q2, dan seterusnya, atau Sinta 1, Sinta 2, dan seterusnya.

Hari-hari membuat kehidupan bergerak semakin dinamis, lalu tumbuh kembang berdampingan dengan problematika yang muncul beragam di tengah kompleksnya kehidupan. Kita berupaya menjaga kesadaran dan menjaga keseimbangan agar tetap waras dan sebisa mungkin keluar dari keterkungkungan keadaan yang tidak menyehatkan hati, pikiran dan perasaan. Semua orang dari segala lapisan adalah pejalan kehidupan yang mengupayakan jalan ketenangan hidup.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Ini berarti kita harus menulis. Tidak hanya berhenti sampai di situ. “Sampaikanlah ilmu itu walau hanya satu ayat”. Ini berarti kita harus menyampaikan tulisan itu, atau mempublikasikannya, entah berbentuh buku, kuliah, tulisan lepas di internet, dan sebagainya. Kedua kalimat tersebut adalah hadist Nabi Muhammad SAW.

Kita juga mesti ingat ayat pertama yang turun adalah “Iqra’” atau “bacalah”. Kegiatan menulis mesti diawali dengan membaca, membaca, membaca, dan membaca, baru menulis. Membaca kenyataan, membaca kejadian, membaca diri, membaca perasaan, membaca alam, itu juga termasuk awalan sebelum jauh kita mengembangkannya menjadi ilmu, atau menjadikan bakat menulis itu menjadi karya sastra. Sebab tanpa membaca, kita tidak akan pernah tahu “ilmu”, tanpa ilmu kita tidak pernah mengerti artinya menulis, tanpa menulis kita tidak tahu diri kita.

Penutup

Pada akhir tulisan ini saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca untuk merenungkan, bahwa Tuhan memberikan jalan dan semesta alam serta semesta waktu akan bahu membahu mendorong kita mewujudkan usaha yang penuh dibarengi doa yang utuh. Semua membentuk harapan yang kuat dan akan memproduksi energi positif yang terus mengalir pada diri kita. Merekam semua perjalanan kehidupan tersebut denan menulis lalu mempublikasikannya supaya dapat dibaca orang lain adalah salah satu jalannya.

Demikianlah manusia saling berbagi pengalaman dan pemikiran serta saling menginspirasi. Semoga segalanya menjadi lebih baik, semua pertumbuhan kita dalam kesehatan spiritual, jasmani maupun mental. Semoga aman, semoga Aamiin. [T]

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra
Tags: Cara Menulis EsaiLiterasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bubur Kajanan, Kuliner Khas Bulan Ramadan

Next Post

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co