4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy by Emi Suy
March 15, 2024
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

Menulis sebagai Terapi Jiwa

KETIKA kita punya cerita berupa kisah yang menguras energi, air mata, bahkan berdarah-darah dan kita sanggup melewati liku-liku luka itu dengan baik, sanggup melampauinya satu per satu hingga kau berada di titik saat ini, maka itu artinya kita memiliki kepribadian yang tangguh dan pantang menyerah. Ada kalanya kita merasa lelah butuh berhenti sesaat untuk istirahat. Namun dengan kesadaran penuh harus melanjutkan perjalanan. Boleh menangis, lelah dan istirahat, tapi jangan lupa lanjutkan langkah. Semua hal yang kita lewati itu memang tak harus dikabarkan, namun tak juga harus dilupakan begitu saja.

Semua itu proses jatuh bangun jatuh bangun menaiki anak tangga fase-fase kehidupan. Kita boleh mengabadikan momennya, boleh mencatatnya, mana tahu kelak kita membutihkan semacam “alarm” untuk menolak lupa dan kembali bernostalgia dengan kenangan-kenangan pahit yang kerap membentur-benturkan diri kita dalam kenyataan-kenyataan yang di luar ekspektasi kita, sehingga membentuk pribadi kita saat ini. Meminjam istilah Tan Malaka; “hidup itu terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.” Mereka dalam menempuh jalan itu akan mengalami ujian, ujian, ujian, baru kemudian bisa menjadi manusia berkarakter.

Tentu saja kita boleh menyimpannya dalam laci ingatan jadi milik sendiri. Tetapi tidak ada juga yang melarang untuk dibagikan kepada teman-teman, siapa tahu ada yang senasib, dan mana tahu ada bonus-bonus lain, misalnya kisah tersebut mampu memberi inspirasi bagi pembaca. Semua punya pilihan masing-masing. Kalau toh menjadi sebuah karya, saya percaya karya itu akan menemukan takdirnya. Apalagi karya yang dahsyat, bonus-bonus lainnya pasti mengikuti. Menjadikan pengalaman sebagai bagian dari proses kreatif tentu selain sebagai self-healing, katarsis, sekaligus mampu menghasilkan karya yang tidak datar-datar saja mirip penggaris.

Kalau pun itu dipublikasi dan melewati kurasi dewan redaksi media tertentu itu sama dengan mengukur seberapa berkualitasnya karya kita di mata orang lain. Tentu yang bisa menilai itu adalah orang lain, bukan? Jadi, mau jadi penulis serius yang bisa menghasilkan, atau mau jadi penulis sampingan seperti saya karena ada tugas utama bekerja dan lain-lain, atau mau jadi penulis tanpa time line, tanpa ingin ada pencapaian, tanpa punya ambisi sekecil apa pun, itu adalah meerupakan pilihan. Mari saling menghormati pilihan masing-masing. Jangan lupa bahwa bisa jadi kita menulis berangkat dari kegelisahan atau perasaan atas situasi tidak baik-baik saja.

Menulis adalah terapi jiwa, di sana ada pelepasan, penerimaan, perdamaian, yaitu berdamai dengan keadaan dan diri sendiri untuk menjaga agar tetap waras dan selalu kuat menghadapi dinamika hidup dan kehidupan ini. Di sana ada proses seni mengolah energi negatif menjadi menjadi dan akhirnya menjadi sebuah karya berbentuk tulisan, entah itu puisi, cerpen, novel, esai, atau apapun. Kemudian karya itu mau diapakan, itu terserah masing-masing. Setiap orang punya kebebasan berekspresi, berpikir dan lain sebagainya. Mari kita hargai jalan masing-masing.

Saya Memilih Sastra dan Menulis Puisi

Sudah lazim perkataan bahwa “sastra tidak muncul dari ruang kosong atau jatuh dari langit, tetapi dari disiplin belajar dan latihan terus menerus.” Buat saya, menulis puisi tidaklah berangkat dari kekosongan dan kesombongan diri, namun justru berangkat dari kegelisahan pikiran, adanya gagasan, serta suara-suara yang berisik di kepala.

Puisi tidak berangkat dari kekosongan atau kehampaan, puisi berangkat dari kegelisahan bahkan puisi adalah upaya untuk mengatasi rasa tidak baik-baik saja seperti cara perempuan dan laki-laki mengungkapkan sesuatu yang berisik dan mengganggu, atau cara lain agar bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri, menjahit keadaan dan perasaan, menambal lubang-lubang kecewa dan terkatuplah semuanya. Menulis adalah sebuah upaya memuliakan kehidupan, mengatasi rasa tidak baik-baik saja demi menjaga kewarasan dan keseimbangan dalam hidup.

Puisi milik semua orang. Menulis puisi menjadi salah satu upaya memeluk diri sendiri. Syukur-syukur dapat memeluk atau paling tidak dapat menyentuh ruang batin orang-orang yang membacanya atau mendengarkannya. Menulis puisi juga adalah sarana berkontemplasi paling elegan dan intelektual. Sebuah lorong sunyi yang panjang di riuhnya rutinitas dan dinamika hidup yang terkadang kompleks.

Menulis puisi sebagai salah satu jalan untuk melakukan pelepasan atau berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, sebuah suasana yang tadinya tak baik-baik saja menjadi rileks di dalam aktivitas menulis puisi. Seeperti saya singgung sebelumnya,ini juga bermakna bagaimana mengolah energi negatif menjadi sebuah karya sebagai wujud hal yang positif, serta bagaimana menciptakan sebuah ruang untuk permenungan dan perenungan sebagai sarana untuk “menyembuhkan diri” atau istilah kerennya sekarang adalah healing, serta bagaimana kita memaknainya sebagai proses katarsis, pencerahan, atau munculnya berbagai kesadaran baru.

Pengalaman terbuat dari kumpulan realita, kejadian, fakta, data, entah itu kejadian yang menimpa orang lain ataupun diri sendiri. Kita tentu saja boleh melupakan, menghapusnya, atau sebaliknya, mengenangnya, mencatatnya. Catatan itu bisa ditransformasikan menjadi sebuah karya apa saja, bisa berbentuk puisi, cerpen, bahkan karya seni yang lain seperti rupa dan musik, atau dibiarkan sekedar menjadi buku catatan dan buku harian saja. Semua terpulang pada masing-masing orang.

Catatan itu mau diapakan nantinya itu bebas saja, apakah mau disimpan di lemari milik sendiri, dibukukan, atau dipublikasikan, syukur-syukur menginspirasi yang membacanya. Apalagi jika kejadian yang dicatat tersebut adalah kejadian penting yang bernilai sejarah, atau yang mewakili situasi sosial yang tengah berkembang, atau malah hanya kondisi emosi personal, namun penting untuk disimak. Singkatnya, semua catatan itu penting sebagai bahan pembelajaran.

Apa pun keputusannya, suka-suka menurut keyakinan yang ditempuh masing-masing. Tentu tidak ada yang salah dan itu sangat tergantung kepada mindset masing-masing. Tetapi harus diingat bahwa jalanmu adalah jalanmu, dan itu pilihanmu, sedangkan jalanku adalah jalanku, dan itu pilihanku. Kalau mengutip perkataan Budha; “temukanlah sendiri cahayamu, temukanlah sendiri jalanmu.” Saya yakin sebuah karya akan menemukan takdir baiknya. Tidak punya ambisi sebagai penulis komersial juga sebuah pilihan. Namun, menjadi penulis yang terus berproses juga sebuah pilihan.

Jadi, bahagialah dengan apa yang menjadi pilihan masing-masing. Menurut saya, berkarya bukan untuk gagah-gagahan agar terlihat hebat atau keren, namun bagaimana kita mampu menghasilkan sesuatu yang membawa kepada kemaslahatan orang banyak, dan syukur-syukur dapat menginspirasi pembacanya, apalagi sampai mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bukankah itu membawa kemaslahatan?

Saya pernah mendengar bahwa karya sastra perlu dibaca banyak orang karena karya sastra turut serta menjaga nilai-nilai dalam perkembangan peradaban. Apalagi di era serba digital, masyarakat cerdas 5.0, kecerdasan buatan atau AI, dan sebagainya, karya sastra sangat dibutuhkan untuk menjaga aspek humanistik dari perkembangan semua aspek. Karya sastra akan memperhalus jiwa manusia, sehingga menjadi berkarakter dalam menghadapi tantangan zaman.

Jadi sekali lai, bagi saya pribadi, menulis puisi berangkat bukan dari kekosongan, apalagi kesombongan. Tidak sama sekali. Saya memulai dari kegaduhan dalam diri, bagaimana belajar pelepasan, berdamai dengan luka, bagaimana mengatasi kegelisahan yang bising di kepala. Saya berangkat dari keinginan untuk “sembuh” atau healing, serta menjadi proses katarsis yang membuat saya tercerahkan.

Kita menjadi dewasa dan bijaksana melalui berbagai benturan, berbagai ujian, kita menghadapi dan melewatinya dengan sepenuh jiwa. Mengutip Nietszche; “sesuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat.” Menulis adalah salah satu cara kita merekam proses “terbentur” tersebut, dan mempublikasikan karya berarti kita membagikan “mutiara” pengalaman tersebut kepada orang lain atau masyarakat. Semua akan menemui takdirnya, dan takdir terbaik adalah, apabila tulisan tersebut memberikan kemaslahatan kepada pembacanya.

Perlukah Karya (Tulisan) Dipublikasikan?

Mempublikasi karya adalah salah satu jalan lain apakah karya kita bisa diterima oleh publik, diterima pembaca melalui kurasi ketat redaksi. Itu juga menjawab pertanyaan; apakah karya kita layak dan cukup melewati persaingan ketat? Sampai di mana kualitas karya kita? Saya rasa kita sendiri sulit mengukurnya. Orang lain lebih mudah melihat noda di wajah kita daripada ktia sendiri, orang lain adalah tempat kita bercermin untuk mengenali diri sendiri.

Itu tidak hanya di dunia sastra semata. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia akademik yang juga sarat dengan menulis. Hasil-hasil penelitian baru akan bermanfaat untuk masyarakat ketika sudah dipublikasikan dan diterapkan. Kecuali kalau si peneliti sangat egois dan hanya ingin menyimpan ilmu pengetahuan berupa hasil risetnya untuk diri sendiri saja. Rasanya tidak ada peneliti yang seperti itu di dunia ini. Kualitas tulisan ilmiah hasil penelitian pun ikut ditentukan oleh publikasi, misalnya di jurnal akademik kualitas apa, apakah Scopus Q1, Q2, dan seterusnya, atau Sinta 1, Sinta 2, dan seterusnya.

Hari-hari membuat kehidupan bergerak semakin dinamis, lalu tumbuh kembang berdampingan dengan problematika yang muncul beragam di tengah kompleksnya kehidupan. Kita berupaya menjaga kesadaran dan menjaga keseimbangan agar tetap waras dan sebisa mungkin keluar dari keterkungkungan keadaan yang tidak menyehatkan hati, pikiran dan perasaan. Semua orang dari segala lapisan adalah pejalan kehidupan yang mengupayakan jalan ketenangan hidup.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Ini berarti kita harus menulis. Tidak hanya berhenti sampai di situ. “Sampaikanlah ilmu itu walau hanya satu ayat”. Ini berarti kita harus menyampaikan tulisan itu, atau mempublikasikannya, entah berbentuh buku, kuliah, tulisan lepas di internet, dan sebagainya. Kedua kalimat tersebut adalah hadist Nabi Muhammad SAW.

Kita juga mesti ingat ayat pertama yang turun adalah “Iqra’” atau “bacalah”. Kegiatan menulis mesti diawali dengan membaca, membaca, membaca, dan membaca, baru menulis. Membaca kenyataan, membaca kejadian, membaca diri, membaca perasaan, membaca alam, itu juga termasuk awalan sebelum jauh kita mengembangkannya menjadi ilmu, atau menjadikan bakat menulis itu menjadi karya sastra. Sebab tanpa membaca, kita tidak akan pernah tahu “ilmu”, tanpa ilmu kita tidak pernah mengerti artinya menulis, tanpa menulis kita tidak tahu diri kita.

Penutup

Pada akhir tulisan ini saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca untuk merenungkan, bahwa Tuhan memberikan jalan dan semesta alam serta semesta waktu akan bahu membahu mendorong kita mewujudkan usaha yang penuh dibarengi doa yang utuh. Semua membentuk harapan yang kuat dan akan memproduksi energi positif yang terus mengalir pada diri kita. Merekam semua perjalanan kehidupan tersebut denan menulis lalu mempublikasikannya supaya dapat dibaca orang lain adalah salah satu jalannya.

Demikianlah manusia saling berbagi pengalaman dan pemikiran serta saling menginspirasi. Semoga segalanya menjadi lebih baik, semua pertumbuhan kita dalam kesehatan spiritual, jasmani maupun mental. Semoga aman, semoga Aamiin. [T]

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra
Tags: Cara Menulis EsaiLiterasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bubur Kajanan, Kuliner Khas Bulan Ramadan

Next Post

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co