13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan

Emi Suy by Emi Suy
December 25, 2023
in Esai
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan

Konser Pandemic Poems yang dilakukan Ananda Sukarlan

MESKI ini bukan sebuah filosofi, tetapi ada baiknya kita merujuk dan meminjam istilah Jawa. Sebuah istilah yang silogismenya dianggap sanepan atau juga sebuah kontradiksi bulan Desember, yakni desember sebagai akronim dari gede-gedene sumber. Mungkin agak prismatis (membias), jika rangkaian peristiwa dimaknai sebagai peringatan atau seremonial pada bulan Desember, hanya sebagai algoritma nalar logika.

Bulan Desember menjadi episentrum sekaligus katalisator sepanjang perjalanan selama satu tahun. Menjadi penghangat sekaligus pendingin pada ruang waktu. Bulan dimana kita kerap membuat catatan evaluasi tentang pencapaian, kegagalan, dan resolusi strategi untuk menghadapi tahun yang akan datang, sebab hidup terus berproses ke depan.

Indonesia yang beriklim subtropis sering mengalami perubahan-perubahan iklim yang cukup ekstrim di bulan Desember. Curah hujan yang begitu tinggi seakan menjadi rimba kemurkaan iklim di orbit musim. Dalam catatan musim, sering kali kita dihadapkan pada persoalan sebab-akibat di luar hitungan nalar manusia. Dampak hujan seperti badai membuat persoalan-persoalan yang bersinggungan dengan kerusakan lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan; menjadi porak poranda: —katastrofe—

Dalam konteks kini, persoalan global yang begitu deras, apa yang harus kita perbuat? Kita tidak punya legitimasi untuk menghentikan bencana alam. Selain berikhtiar hanya sebatas menjadi manusia. Kita hanya menjadi manusia yang imajiner. Tetapi kita tetap berpengharapan, masih ada “Sukacinta Desember” untuk menempatkan rasa kasih; rasa cinta dalam melewati perjalanan panjang selama 12 bulan. Menjadi sebuah monumen kemanusiaan yang memiliki nilai kebanggaan kita.

.

Dalam tekstual ini, seorang Ananda Sukarlan telah memberi warna melalui musik dan puisi untuk menjawab persoalan-persoalan benang merah yang belum terurai. Bulan Desember menjadi momen berharga untuk sebuah perenungan dan permenungan kehidupan manusia, khususnya untuk menyambut kalender masehi yang baru.

Persoalan-persoalan bangsa yang selalu dinamis, seakan memberi corak bagi kita dalam memasuki peradaban baru. Kita seolah-olah ingin membakar peristiwa-peristiwa legam, pahit dan kegetiran masa silam dengan sebuah titian yang lebih bijak dan dewasa. Traumatik masa lalu yang masih membekas, seperti badai yang meruntuhkan kekuatan nalar bersih kita.

Beberapa tahun lalu, kita dihadapkan pada musuh terbesar sepanjang abad ini. Merebaknya pandemi Covid-19, tanah-tanah ini bagai kolong-kolong persembunyian yang senantiasa diintai oleh virus tersebut. Musuh yang tidak berwujud tetapi mematikan! Panggung seni pun sepi. Semua orang seakan pasrah, membenarkan keterbatasan, ketersempitan ruang gerak, dan menganalogikan ruang gerak ini sebagai distopia, skizofrenia yang berada dalam tembok panoptikon! Seni bagai sebuah senandung sunyi yang menanti ajal dibacakan.

Di bulan Desember ini, Ananda Sukarlan ingin mengajak sidang pembaca (audiens) untuk membuka aura baru. Bagaimana kita menarik garis lurus kepada peradaban baru yang lebih beradab. Memuliakan manusia  dengan rasa “Sukacinta Desember”, tentu tidak terlepas dari fenomena yang sifatnya seremonial dan universal. Kita memaknai peringatan Hari Ibu dengan mengulik betapa pentingnya harkat dan kedudukan seorang ibu. Fungsi dan peran seorang wanita yang tidak mungkin tergantikan secara kodrati oleh kaum laki-laki. Kasih seorang ibu tidak terbatas!

Di bulan Desember ini juga, umat Kristiani merayakan Natal untuk menempatkan supremasi kemanusiaan (humanity) berlandaskan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Perwujudan ini seyogianya menjadi interaksi koneksitas yang tidak dipandang sebagai retorika belaka; hanya demi menggugurkan kewajiban entitas raga manusia. Lebih dari itu, menjadi keutuhan dan keindahan konsepsi seni tentang hidup.

Desember, gede-gedene sumber (besar-besarnya sumber) kasih — kita dan orang-orang merayakan kasih Ibu dan bagi umat kristiani merayakan kasih Natal. Desember telah hadir di tengah-tengah kita sebagai bulan penutup tahun setelah perjalanan 12 bulan yang kita lewati.

Desember, bulan yang identik dengan perayaan Natal di seluruh dunia, yang dirayakan oleh warga kristiani dengan hikmat di pelosok-pelosok paling terpencil sekalipun. Perayaan Natal pada setiap tahunnya harusnya tidak tersekat dalam bersolidaritas, toleransi, dan kemanusiaan. Dalam butir-butir Pancasila, rasa saling menghargai itu telah dituliskan, bahwa semua umat beragama patut saling menghargai dan saling menghormati.

Selain perayaan Natal, Desember juga bulan perayaan hari Ibu di Indonesia. Walaupun sebenarnya, bagi saya setiap hari adalah hari Ibu, sebab ibu adalah sumber mata air kasih sayang yang tak pernah kering. Ibu adalah gede-nya sumber kasih sayang, sebab itulah ibu menjadi simbol bagi tanah air kelahiran; ibu pertiwi.

.

Datangnya bulan Desember adalah pertanda tahun akan segera berganti. Ada yang datang, pasti ada yang pergi. Tahun baru akan tiba dengan harapan dan sukacita baru. Tahun baru akan membawa sesuatu yang baru yang akan tumbuh bersama cita-cita kita masing-masing, sedang yang lama segera berganti, kecuali mungkin kenangan.

Sementara pandemi telah pergi, meski belum benar-benar lenyap. Namun, perayaan Natal di Indonesia kali ini, yang tentu terasa Indonesia banget bakal dibarengi dengan sukacita dan kehikmatan, setelah sebelumnya terhalang sebab efek COVID-19. Selesainya pandemi di Indonesia akhirnya membawa berkah bagi kita semua. Pandemi telah dinyatakan sebagai endemi, yang efeknya tidak semasif di tahun-tahun sebelumnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penetapan Berakhirnya Status Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia. Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 21 Juni 2023. Bunyi ketentuan penutup Keppres 17/2023 yang ditetapkan pada tanggal 22 Juni 2023 tersebut adalah sebagai berikut.

“Menetapkan status pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah berakhir dan mengubah status faktual Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menjadi penyakit endemi di Indonesia.”

Melalui Keppres ini, Presiden juga mencabut penetapan kedaruratan Kesehatan masyarakat COVID-19 dan penetapan bencana non alam penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional.

COVID-19 telah mengubah segalanya; mengubah dunia, mengubah kita, mengubah pola pikir, juga mengubah tatanan pola hidup dan kehidupan kita. COVID-19 tak hanya meninggalkan banyak luka tatkala kita kehilangan orang-orang tercinta, tetapi juga hikmah. Di balik semua luka itu, COVID-19 memberikan pelajaran berharga buat kita tentang pentingnya kesehatan, kebersihan, kasih dan kepedulian.

Selama pandemi banyak sekali yang terjadi. Mengalir ketulusan dan kepedulian dari garda terdepan orang-orang yang berjuang untuk mengobati dan menyembuhkan. Namun, banyak juga yang bermain dalam musibah ini; ada yang memancing di tengah air keruh, memanfaatkan situasi untuk mengeruk keuntungan. Padahal, bersikap etis saat bencana global seperti itu adalah kunci pemulihan, tetapi masih saja ada oknum-oknum yang hatinya tertutup sehingga makin memperparah kerusakan.

Ananda Sukarlan turut hadir dan berkontribusi mewarnai Desember kita dengan KONSER ANANDA SUKARLAN TENTANG PANDEMIC POEMS yang digelar pada hari Minggu, 17 Desember 2023 di Galeri Hadiprana Boutique Mal, Kemang, Jakarta.

Selain untuk merayakan Natal, konser ini juga bertujuan menggalang dana untuk penyelenggaraan kompetisi Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun depan untuk para musikus klasik muda Indonesia di semua instrumen musik. Untuk itulah sang pianis dan komponis yang baru saja menerima penghargaan tertinggi Kerajaan Spanyol Royal Order of Isabel la Catolica ini mengajak dua pemenang edisi ASA tahun 2023 ini; pemain biola Aghisna Indah Mawarni, dan soprano yang mainkan oleh Shelomita Amory yang baru berusia 14 tahun.

Menariknya, dua lagu natal yang divariasikan tersebut memiliki elemen sangat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia juga bisa merayakan Natal walaupun menggunakan lagu-lagu yang sangat kental unsur “western”-nya. Tapi yang paling istimewa adalah dinyanyikannya untuk pertama kali karya baru Ananda, “Pandemic Poems” oleh Shelomita Amory.

Pandemic Poems adalah empat tembang puitik berdasarkan empat puisi yang ditulis saat pandemi yaitu “Gugus 1: Pemedis di Garis Depan” (puisi Goenawan Monoharto), “Beda Keyakinan” (Hilmi Faiq), “Setelah Dirumahkan (5)” (Muhammad Subhan) dan diakhiri dengan “Dialog Sesama Virus Korona Tentang Koruptor” (Riri Satria).

Untuk selengkapnya bisa dibaca, silakan bisa klik: https://majalahelipsis.com/ananda-sukarlan-konserkan-pandemic-poems-dari-puisi-karya-hilmi-faiq-goenawan-monoharto-muhammad-subhan-dan-riri-satria/. (sumber keterangan).

Konser Pandemic Poems yang dilakukan Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan beberapa penyair bisa dipastikan telah membawa nuansa baru pada dunia sastra dan musik klasik yang selama ini sering dianggap ekslusif. Merespon bencana alam yang melanda ke seluruh dunia dengan puisi dan musik di bulan penuh kasih ini, membuktikan bahwa ada yang lebih kuat ketimbang bencana, yaitu kasih dan seni. Bersama kasih dan seni itulah kita menjalani hidup ke depan dengan sukacinta.

Di luas dunia — puisi terbuat dari setitik sunyi di dalam hiruk pikuk ruang kehidupan yang bising dan gaduh. Sedangkan musik klasik — denting-denting piano adalah ruang sublim yang tercipta di dalam ruang intim. Alunan yang menggema di ruang batin kita berasal dari tangan seorang komposer yang handal.

Terbuat dari saripati rasa yang mengendap — dari olah rasa, karsa dan karya, yang melewati permenungan dan perenungan, dari kontemplasi musikal tercipta harmonisasi baru — bukan sekedar musikalisasi yang terdiri dari bunyi-bunyian belaka dan biasa, namun ada sebuah terowongan penghubung, yaitu peradaban. Di keluasan jiwa ada suara-suara yang menggetarkan lubuk di tiap-tiap hentakan jemari, berdentinglah kekuatan nada-nada, ketangkasan jari-jemari yang menari — melintas di antara tuts-tuts piano – mencipta keajaiban.

Beberapa tahun lalu hingga belakangan ini saya mengenal  Ananda Sukarlan. Dan ketika itu, beliau meminta izin untuk menggubah beberapa puisi saya menjadi “tembang puitik” (istilah untuk karya yang terinspirasi dari puisi di dunia musik klasik). Sejak itu, saya mengenal beliau tidak hanya sebagai seorang musisi dan komposer, tapi juga sebagai musisi yang pencinta sastra, terutama puisi. Beliau memiliki kepekaan yang bisa menembus ke dalam bunyi irama puisi – jiwa puisi.

.

Mas Ananda juga telah banyak menggubah puisi menjadi musik klasik, baik itu karya penyair Indonesia maupun dari pengarang di berbagai negara selain Indonesia. Saya termasuk salah satu yang beruntung, karena beberapa puisi saya dijadikan musik oleh beliau. Ada satu hal yang menarik perhatian saya, beliau pernah mengatakan bahwa; “Holiday itu bisa baca dan bikin music dari semua yang aku pengin, bukan pesanan juga bukan suruhan, tapi di mana saja kapan saja.”

Dalam beberapa kesempatan beliau mengatakan bahwa puisi ibarat buah jeruk dan musik klasik karya beliau adalah inti sari jeruk itu — sari jeruk yang dihasilkan dari jeruk yang diperas. Musik klasik yang dihasilkan oleh Ananda Sukarlan bukanlah musikalisasi, namun maha karya baru yang inspirasinya datang dari puisi. Jadi, kebayang ‘kan, teman-teman, inti sari buah jeruk tadi?

Congratulation, Ananda Sukarlan! Proud of you! Semoga sukses terus dengan maha karyanya. Aamiin. [T]

Tags: Ananda SukarlanHari Natalmusiksastratahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Next Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co