24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan

Emi Suy by Emi Suy
December 25, 2023
in Esai
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan

Konser Pandemic Poems yang dilakukan Ananda Sukarlan

MESKI ini bukan sebuah filosofi, tetapi ada baiknya kita merujuk dan meminjam istilah Jawa. Sebuah istilah yang silogismenya dianggap sanepan atau juga sebuah kontradiksi bulan Desember, yakni desember sebagai akronim dari gede-gedene sumber. Mungkin agak prismatis (membias), jika rangkaian peristiwa dimaknai sebagai peringatan atau seremonial pada bulan Desember, hanya sebagai algoritma nalar logika.

Bulan Desember menjadi episentrum sekaligus katalisator sepanjang perjalanan selama satu tahun. Menjadi penghangat sekaligus pendingin pada ruang waktu. Bulan dimana kita kerap membuat catatan evaluasi tentang pencapaian, kegagalan, dan resolusi strategi untuk menghadapi tahun yang akan datang, sebab hidup terus berproses ke depan.

Indonesia yang beriklim subtropis sering mengalami perubahan-perubahan iklim yang cukup ekstrim di bulan Desember. Curah hujan yang begitu tinggi seakan menjadi rimba kemurkaan iklim di orbit musim. Dalam catatan musim, sering kali kita dihadapkan pada persoalan sebab-akibat di luar hitungan nalar manusia. Dampak hujan seperti badai membuat persoalan-persoalan yang bersinggungan dengan kerusakan lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan; menjadi porak poranda: —katastrofe—

Dalam konteks kini, persoalan global yang begitu deras, apa yang harus kita perbuat? Kita tidak punya legitimasi untuk menghentikan bencana alam. Selain berikhtiar hanya sebatas menjadi manusia. Kita hanya menjadi manusia yang imajiner. Tetapi kita tetap berpengharapan, masih ada “Sukacinta Desember” untuk menempatkan rasa kasih; rasa cinta dalam melewati perjalanan panjang selama 12 bulan. Menjadi sebuah monumen kemanusiaan yang memiliki nilai kebanggaan kita.

.

Dalam tekstual ini, seorang Ananda Sukarlan telah memberi warna melalui musik dan puisi untuk menjawab persoalan-persoalan benang merah yang belum terurai. Bulan Desember menjadi momen berharga untuk sebuah perenungan dan permenungan kehidupan manusia, khususnya untuk menyambut kalender masehi yang baru.

Persoalan-persoalan bangsa yang selalu dinamis, seakan memberi corak bagi kita dalam memasuki peradaban baru. Kita seolah-olah ingin membakar peristiwa-peristiwa legam, pahit dan kegetiran masa silam dengan sebuah titian yang lebih bijak dan dewasa. Traumatik masa lalu yang masih membekas, seperti badai yang meruntuhkan kekuatan nalar bersih kita.

Beberapa tahun lalu, kita dihadapkan pada musuh terbesar sepanjang abad ini. Merebaknya pandemi Covid-19, tanah-tanah ini bagai kolong-kolong persembunyian yang senantiasa diintai oleh virus tersebut. Musuh yang tidak berwujud tetapi mematikan! Panggung seni pun sepi. Semua orang seakan pasrah, membenarkan keterbatasan, ketersempitan ruang gerak, dan menganalogikan ruang gerak ini sebagai distopia, skizofrenia yang berada dalam tembok panoptikon! Seni bagai sebuah senandung sunyi yang menanti ajal dibacakan.

Di bulan Desember ini, Ananda Sukarlan ingin mengajak sidang pembaca (audiens) untuk membuka aura baru. Bagaimana kita menarik garis lurus kepada peradaban baru yang lebih beradab. Memuliakan manusia  dengan rasa “Sukacinta Desember”, tentu tidak terlepas dari fenomena yang sifatnya seremonial dan universal. Kita memaknai peringatan Hari Ibu dengan mengulik betapa pentingnya harkat dan kedudukan seorang ibu. Fungsi dan peran seorang wanita yang tidak mungkin tergantikan secara kodrati oleh kaum laki-laki. Kasih seorang ibu tidak terbatas!

Di bulan Desember ini juga, umat Kristiani merayakan Natal untuk menempatkan supremasi kemanusiaan (humanity) berlandaskan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Perwujudan ini seyogianya menjadi interaksi koneksitas yang tidak dipandang sebagai retorika belaka; hanya demi menggugurkan kewajiban entitas raga manusia. Lebih dari itu, menjadi keutuhan dan keindahan konsepsi seni tentang hidup.

Desember, gede-gedene sumber (besar-besarnya sumber) kasih — kita dan orang-orang merayakan kasih Ibu dan bagi umat kristiani merayakan kasih Natal. Desember telah hadir di tengah-tengah kita sebagai bulan penutup tahun setelah perjalanan 12 bulan yang kita lewati.

Desember, bulan yang identik dengan perayaan Natal di seluruh dunia, yang dirayakan oleh warga kristiani dengan hikmat di pelosok-pelosok paling terpencil sekalipun. Perayaan Natal pada setiap tahunnya harusnya tidak tersekat dalam bersolidaritas, toleransi, dan kemanusiaan. Dalam butir-butir Pancasila, rasa saling menghargai itu telah dituliskan, bahwa semua umat beragama patut saling menghargai dan saling menghormati.

Selain perayaan Natal, Desember juga bulan perayaan hari Ibu di Indonesia. Walaupun sebenarnya, bagi saya setiap hari adalah hari Ibu, sebab ibu adalah sumber mata air kasih sayang yang tak pernah kering. Ibu adalah gede-nya sumber kasih sayang, sebab itulah ibu menjadi simbol bagi tanah air kelahiran; ibu pertiwi.

.

Datangnya bulan Desember adalah pertanda tahun akan segera berganti. Ada yang datang, pasti ada yang pergi. Tahun baru akan tiba dengan harapan dan sukacita baru. Tahun baru akan membawa sesuatu yang baru yang akan tumbuh bersama cita-cita kita masing-masing, sedang yang lama segera berganti, kecuali mungkin kenangan.

Sementara pandemi telah pergi, meski belum benar-benar lenyap. Namun, perayaan Natal di Indonesia kali ini, yang tentu terasa Indonesia banget bakal dibarengi dengan sukacita dan kehikmatan, setelah sebelumnya terhalang sebab efek COVID-19. Selesainya pandemi di Indonesia akhirnya membawa berkah bagi kita semua. Pandemi telah dinyatakan sebagai endemi, yang efeknya tidak semasif di tahun-tahun sebelumnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penetapan Berakhirnya Status Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia. Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 21 Juni 2023. Bunyi ketentuan penutup Keppres 17/2023 yang ditetapkan pada tanggal 22 Juni 2023 tersebut adalah sebagai berikut.

“Menetapkan status pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah berakhir dan mengubah status faktual Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menjadi penyakit endemi di Indonesia.”

Melalui Keppres ini, Presiden juga mencabut penetapan kedaruratan Kesehatan masyarakat COVID-19 dan penetapan bencana non alam penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional.

COVID-19 telah mengubah segalanya; mengubah dunia, mengubah kita, mengubah pola pikir, juga mengubah tatanan pola hidup dan kehidupan kita. COVID-19 tak hanya meninggalkan banyak luka tatkala kita kehilangan orang-orang tercinta, tetapi juga hikmah. Di balik semua luka itu, COVID-19 memberikan pelajaran berharga buat kita tentang pentingnya kesehatan, kebersihan, kasih dan kepedulian.

Selama pandemi banyak sekali yang terjadi. Mengalir ketulusan dan kepedulian dari garda terdepan orang-orang yang berjuang untuk mengobati dan menyembuhkan. Namun, banyak juga yang bermain dalam musibah ini; ada yang memancing di tengah air keruh, memanfaatkan situasi untuk mengeruk keuntungan. Padahal, bersikap etis saat bencana global seperti itu adalah kunci pemulihan, tetapi masih saja ada oknum-oknum yang hatinya tertutup sehingga makin memperparah kerusakan.

Ananda Sukarlan turut hadir dan berkontribusi mewarnai Desember kita dengan KONSER ANANDA SUKARLAN TENTANG PANDEMIC POEMS yang digelar pada hari Minggu, 17 Desember 2023 di Galeri Hadiprana Boutique Mal, Kemang, Jakarta.

Selain untuk merayakan Natal, konser ini juga bertujuan menggalang dana untuk penyelenggaraan kompetisi Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun depan untuk para musikus klasik muda Indonesia di semua instrumen musik. Untuk itulah sang pianis dan komponis yang baru saja menerima penghargaan tertinggi Kerajaan Spanyol Royal Order of Isabel la Catolica ini mengajak dua pemenang edisi ASA tahun 2023 ini; pemain biola Aghisna Indah Mawarni, dan soprano yang mainkan oleh Shelomita Amory yang baru berusia 14 tahun.

Menariknya, dua lagu natal yang divariasikan tersebut memiliki elemen sangat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia juga bisa merayakan Natal walaupun menggunakan lagu-lagu yang sangat kental unsur “western”-nya. Tapi yang paling istimewa adalah dinyanyikannya untuk pertama kali karya baru Ananda, “Pandemic Poems” oleh Shelomita Amory.

Pandemic Poems adalah empat tembang puitik berdasarkan empat puisi yang ditulis saat pandemi yaitu “Gugus 1: Pemedis di Garis Depan” (puisi Goenawan Monoharto), “Beda Keyakinan” (Hilmi Faiq), “Setelah Dirumahkan (5)” (Muhammad Subhan) dan diakhiri dengan “Dialog Sesama Virus Korona Tentang Koruptor” (Riri Satria).

Untuk selengkapnya bisa dibaca, silakan bisa klik: https://majalahelipsis.com/ananda-sukarlan-konserkan-pandemic-poems-dari-puisi-karya-hilmi-faiq-goenawan-monoharto-muhammad-subhan-dan-riri-satria/. (sumber keterangan).

Konser Pandemic Poems yang dilakukan Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan beberapa penyair bisa dipastikan telah membawa nuansa baru pada dunia sastra dan musik klasik yang selama ini sering dianggap ekslusif. Merespon bencana alam yang melanda ke seluruh dunia dengan puisi dan musik di bulan penuh kasih ini, membuktikan bahwa ada yang lebih kuat ketimbang bencana, yaitu kasih dan seni. Bersama kasih dan seni itulah kita menjalani hidup ke depan dengan sukacinta.

Di luas dunia — puisi terbuat dari setitik sunyi di dalam hiruk pikuk ruang kehidupan yang bising dan gaduh. Sedangkan musik klasik — denting-denting piano adalah ruang sublim yang tercipta di dalam ruang intim. Alunan yang menggema di ruang batin kita berasal dari tangan seorang komposer yang handal.

Terbuat dari saripati rasa yang mengendap — dari olah rasa, karsa dan karya, yang melewati permenungan dan perenungan, dari kontemplasi musikal tercipta harmonisasi baru — bukan sekedar musikalisasi yang terdiri dari bunyi-bunyian belaka dan biasa, namun ada sebuah terowongan penghubung, yaitu peradaban. Di keluasan jiwa ada suara-suara yang menggetarkan lubuk di tiap-tiap hentakan jemari, berdentinglah kekuatan nada-nada, ketangkasan jari-jemari yang menari — melintas di antara tuts-tuts piano – mencipta keajaiban.

Beberapa tahun lalu hingga belakangan ini saya mengenal  Ananda Sukarlan. Dan ketika itu, beliau meminta izin untuk menggubah beberapa puisi saya menjadi “tembang puitik” (istilah untuk karya yang terinspirasi dari puisi di dunia musik klasik). Sejak itu, saya mengenal beliau tidak hanya sebagai seorang musisi dan komposer, tapi juga sebagai musisi yang pencinta sastra, terutama puisi. Beliau memiliki kepekaan yang bisa menembus ke dalam bunyi irama puisi – jiwa puisi.

.

Mas Ananda juga telah banyak menggubah puisi menjadi musik klasik, baik itu karya penyair Indonesia maupun dari pengarang di berbagai negara selain Indonesia. Saya termasuk salah satu yang beruntung, karena beberapa puisi saya dijadikan musik oleh beliau. Ada satu hal yang menarik perhatian saya, beliau pernah mengatakan bahwa; “Holiday itu bisa baca dan bikin music dari semua yang aku pengin, bukan pesanan juga bukan suruhan, tapi di mana saja kapan saja.”

Dalam beberapa kesempatan beliau mengatakan bahwa puisi ibarat buah jeruk dan musik klasik karya beliau adalah inti sari jeruk itu — sari jeruk yang dihasilkan dari jeruk yang diperas. Musik klasik yang dihasilkan oleh Ananda Sukarlan bukanlah musikalisasi, namun maha karya baru yang inspirasinya datang dari puisi. Jadi, kebayang ‘kan, teman-teman, inti sari buah jeruk tadi?

Congratulation, Ananda Sukarlan! Proud of you! Semoga sukses terus dengan maha karyanya. Aamiin. [T]

Tags: Ananda SukarlanHari Natalmusiksastratahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Next Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co