25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres

Emi Suy by Emi Suy
February 10, 2024
in Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres

Emi Suy | Foto: facebook

DOA
: kepada Riri Satria

barangkali usia kita terbuat dari lorong waktu
kegelapan diterangi cahaya
berasal dari doa
barangkali dada yang lebar terbuat dari perasaan
tak menakar seberapa besar sabar
tak mengukur panjang rasa syukur
Tuhan,
semoga Engkau mengirimkan
kebahagiaan sempurna kepada Riri Satria
berkali marah —
berkali diam
berkali berbaikan
pada akhirnya tugas kita
sebagai manusia adalah memaafkan
sebelum usai usia
sebelum tutup mata
sebelum terlambat masuk liang lahat
karena yang sejati tak akan pernah beranjak
tak pernah berhenti merawat
bukankah jarak itu hanya ada dalam peta

2023

RASA(N) – RASA(N)
: kepada B dan J

di teras itu dinding batu bata berubah jadi telinga
menyerap kata-kata yang diucapkan
oleh mulut waktu yang tak berpintu.
menganga di mana-mana,
ingat ketika meminta — lupa setelah diberi.
mungkin usia sekumpulan uban-uban di kepala seorang urban
sama halnya bayi belum tumbuh gigi.
ia berdiri terhuyung-huyung — butuh pegangan
agar tubuhnya yang rapuh
: tidak rubuh.

2023

JENDELA JAKARTA
: kepada Riri Satria

selalu ada kisah di sepanjang trotoar,
tentang masa depan yang masih dalam perjalanan,
di lampu merah itu waktu menghentikan kemarahan
tapi hanya sebentar setelah kuning dan hijau
mesti lekas melaju supaya tidak digilas zaman.
di JPO tempat orang-orang berlalu lalang —
menyeberangkan kesedihan.
penggalan cerita mirip potongan-potongan puzzle
terbuat dari problematika kaum urban tingkat bawahan.
terbuat dari pertanyaan -pertanyaan klasik,
“besok makan apa?”
oh iya, besok dikejar angsuran bank cicilan ajeg.
meski banjir di jalanan sehabis hujan
tak akan menyurutkan langkah.
di kepala sudah ditunggu teguran
belum bayar kontrakan.
rela terjebak bisingnya hidup di kota
yang mengandung janji manis.
bukti — aku dan orang-orang setia mencintai
hingga tumbuh hutan uban di kepala.

2024

KEPADA CAPRES

kepada tuan calon presiden
adakah yang menitipkan
sebentuk sunyi yang asyik di tanganmu?
jangan kau jadikan nasib rakyat
seperti bidak di papan catur.
sejauh apa rindumu pada rakyat berjarak,
seberapa banyak harapan rakyat berderak.
berdetak dalam nadi dan jantungmu.
eratlah menggenggam nasib rakyat
yang menjadikanmu duduk di singgasana bertungku.
rakyatmu perkampungan kumuh
yang menunggu kau bangunkan
rumah yang layak.

2024

OZORA

di tanahku yang kadang-kadang lucu. keadilan terbuat dari rasa sakit yang mengendap dan berkarat — buah dari penderitaan kaum jelata.
bahkan kebenaran terkuak dari seorang anak yang nyaris kehilangan nyawa. lantaran dianiaya hingga lumpuh syaraf-syaraf otaknya. barulah terkuak misteri gratifikasi pajak yang bertahun-tahun disembunyikan teramat rapi.
semua terkuak lantaran ulah anaknya? kok bisa? “anak polah bopo kepradah” ternyata bukan sekadar peribahasa jawa ya
jangan pernah lupa seorang ozora berjasa — sebab kasusnya membongkar kebusukan pejabat pajak — yang konon berpijak dibawah kebijakan.

2023

TITIMANGSA: TITIAN TU7UH RUPA

tubuh waktu menari. usia meliuk-liuk di atas altar kefanaan
kehidupan, gaun jiwa menyerpih debu dan asap menguap
lakon hidup terbuat dari putaran mesin waktu
kita kerap kembali menjadi bayi yang belum tumbuh gigi
terlahir dari rahim peradaban modern yang sepi
ditimang-timang keramaian tak berarti

apakah masih tersimpan jejak masa silam
ketika manusia berperan sebagai wayang
ketika segala kecanggihan adalah dalang?
apakah kita akan menjadi robot
di tengah laju waktu yang menderu
di lintasan nilai yang kian bobrok?

di mana artefak dari titimangsa ke titian masa
menyisakan warna-warni ingatan, juga kenangan?
di kepala siapa mesin pengendali bekerja
sementara memanusiakan manusia, menjadi hal paling langka?
dan kita semakin mengikis peradaban nilai, lalu
siapakah yang menjadi otak dari balik tangan-tangan jahil itu?

tangan raksasa yang menjarah dan menjajah kemanusiaan
merusak tatanan dan tuntunan menjadi tontonan
kehidupan yang dungu dan memuakkan

ingatan demi ingatan menjadi rekam jejak
penghubung masa silam dan masa depan
kita kerap melihat orang-orang menjelma kanak
yang dininabobokan bius digital
hari-hari manusia serupa robot, kaku
menunggu kehabisan baterai, beku

kenangan demi kenangan serupa candi kesepian
di rembang petang sunyi menyala lebih terang
aku melihat kotak-kotak serupa denah
dan luka-luka serupa peta terbuka
menganga di sepanjang titimangsa
apakah penyembuhnya adalah waktu
yang bermukim di kerontang dada kita?

sunyi bukanlah sepi (kesepian) atau kesendirian,
sunyi adalah ruang batin; tempat bercakap-cakap dengan diri
dengan yang sejati, berbincang menyapa semesta
lebih dekat mendengar suara-suara alam dan tuhan
sebab hidup adalah menggenggam kerinduan-kerinduan
dari waktu ke waktu, hingga musim-musim patah berganti
: kita tumbuh, tua. bersama dalam duka, dalam suka dan cinta

tanpa sunyi, kita tak punya ruang-waktu untuk bercermin
kita tak punya ruang-waktu untuk mengenali diri sendiri
kita kehilangan ruang-waktu untuk mendengarkan suara murni
merasakan aliran napas sendiri. di mana kita kini dari hari ke hari
semakin jauh dari diri sendiri, semakin asing dari jiwa kita sendiri

2023

 
PELUKAN

sebuah pelukan
tak hanya sebagai rumah
untuk pulang
ketika tubuh terlalu lelah
tapi juga penawar
yang dibuat ketulusan
agar kita terhindar
dari penyakit kegilaan

2023

 
JOKPIN DAN SUJIWO TEJO

Jokpin bilang,
“tak ada asu di antara kita”

Sujiwo Tejo bilang,
“semua akan jancok pada waktunya”

Aku setuju,
asu dan jancok
biarlah di tempatnya masing-masing.

Toh nanti,
semua kita
akan sunyi pada akhirnya

2023

 
MENGHUBUNGI RINDU

halo, apa benar ini nomor telepon rindu
selamat malam, rindu, apa kabarmu?
masihkah kau disiksa temu yang tertunda itu
atau kau berlapis dinding tebal waktu?

atau kau dipenggal jarak yang berderak?
bukankah Jokpin pernah berkata;
jarak hanya ada di dalam perasaanmu?
meskipun sebenarnya, jarak tertulis di peta.

kutitipkan segalanya pada sunyi
yang menemanimu. jika begitu, biarlah …
engkau tetap ada dan menjadi rindu paling purba
tumbuh di segala musim di hatiku saja, biarlah …

: sekalipun kita adalah fana.

2023

 
BIBIR

seseorang berpesan pada bibir cangkir
di sesapan terakhir
sebelum cangkir jatuh ke atas meja:

“jangan mengukur jauh dekatnya jarak
dengan jumlah sepi yang berserak —
dengan seberapa sering kau menatap
sepasang mata, dan menjadikannya cermin

sebab kata Jokpin;
“jauh dekatnya jarak hanya dipisahkan oleh perasaan”

2023

 
ALARM SENO GUMIRA AJIDARMA

di tubuh malam, sunyi berbaring lelap
dalam selimut ingatanku sendiri
sebagai lembar-lembar buku waktu yang fana
aku kerap membacamu berulang kali
tak pernah jemu: mungkin kisah hidup
seperti sepenggal puisi yang ingin abadi
sebab di kotaku setiap kepala menjelma jam weker
yang deringnya membangunkanku pada ceritamu

2019 – 2023

 
LAIN KATA
kepada diriku sendiri

selain menjahit luka
perempuan mesti bisa menanak duka
agar kelak anak cucu tidak berhitung
berapa hari-hari tangis
berapa menit-menit gembira
mesti dibayar lunas tanpa harga

2020 – 2023

 
RUMAH LBH

engkaulah luas halaman itu
di teras ingatan, berserak jejak kenangan
palung hatimu tempat jiwa ragaku pulang
menempuh jarak duka dan senang
engkaulah arti rumah
: tempat bermukim remah-remah
di tubuh sejarah yang lelah

2019 – 2023

 
RITUAL MENYEDUH SEPI

engkau menjerang sepi
hingga mendidih seteko sedih
kau tuang pas satu cangkir
kau campurkan bubuk, lalu kau aduk
pertemuan gula, bubuk kopi dan sepi
mengepul rasa, menyala kata

2023

 
MENABUH SEPI

di luar bulan bundar
mirip sebuah rebana
cahaya jatuh bermandi
malam meluruh
di antara sepi bertabuh
Engkau ada di segala
penjuru semesta

Mei 2020

 
MEMESAN KEBAHAGIAAN

aku memesan kebahagian pada Tuhan
tapi yang dikirim adalah air mata
mungkin Tuhan mengirim hujan
sebelum menerbitkan pelangi

Tuhan tidak pernah tidur
selalu terjaga, selalu bicara
memberi tahu pada kehidupan
bahwa yang terbaik adalah menerima

2019 – 2023

 
PULANG PADA KEHENINGAN

orang-orang gaduh
saling melempar luka
di pertarungan hitam nasib
tapi engkau memilih menjadi sunyi
bagi diri yang berpulang pada keheningan
yang dirahasiakan puisi paling nyeri

memberi pada sesama
tak memandang usia
adalah perjalananmu mencari Tuhan
di antara hati yang terkoyak
usai bencana menyapa
nyanyianmu tetap akan bergema
serupa plester pembalut luka

2020 – 2023

 
SUNYI MEMBUNYI

kata-kata ribuan kali kau sebut,
Dia-lah pemilik segala nama, ribuan kali terpaut
sunyilah kau tanam dalam doa
melayari lautan malam
bunyi-bunyi kau tabuh di antara tualang
melawati riang siang, melewati hari
untuk berbagi kasih sayang

2020 – 2023

 
ARLOJI DI KEPALA

detik berdetak — kenang berserak
di jarum arloji, berderai sajak
menitik meniup angka-angka
lembar-lembar almanak di kepala:
selamat hari lahir untuk kita semua
kiranya dilimpahkan banyak berkah
dan tentu saja harapan yang kian menyala

2023

 
ONRUST PULAU YANG TAK PERNAH TIDUR

kita berjalan menyusuri pulau Onrust
dengan tubuh dan mata menyala
menatap bongkahan sepi berhambur
ke sisa-sisa reruntuhan kenangan
bersama membilang detak dermaga

orang-orang menari dan mencari
jejak galangan kapal VOC
saksi sejarah lingkaran sengketa
Banten dan Jayakarta
saat Belanda menjarah kayu
untuk dibuat kapal
ingatanku berlayar

suara-suara menjelma bendera
mengibarkan warna perih
yang dilukis abad-abad
dalam ruang lipat sejarah berdarah

Onrust tak pernah tertimbun waktu
kita menyisir dan terus menyisir
mengikuti peta dari masa lampau luka
mencari jawab dari teka-teki sebuah negeri
sedang aku ingin mengabadikannya dalam puisi

orang-orang mengais makna purba
anganku mendayung kerinduan tua
waktu mencatat cinta dari tatar Sunda
terbawa arus ke masa sudah

mari kita intip sunset atau sunrise di pulau ini
dari mercusuar sunyi sambil menabuh genta
semoga terdengar ke hatimu, semoga
tergetar ke mimpimu, dan samar-samar kita
dengarkan pesan Onrust yang tak pernah tidur itu:

“Jangan enggan merawat masa silam,
jangan juga mengacaukan masa depan
di malam-malam lengang
kesedihan mematung
kita terhuyung-huyung
detak detik tak mampu lagi menghitung
berapa jumlah peradaban yang hilang dan tugur!”

maka, biarlah di pulau puisi ini
aku menjadi perahu yang menunggu
tanpa pernah berlabuh di mana pun
ditikam aroma rempah-rempah dari segala arah

aku hanya bisa meneguk asin air mata sejarah!

2023

 
DOA UNTUK JOKPIN

orang-orang mengirim kabar
perihal napasmu yang sesak
teman lama itu menikam suaramu
membuatmu terbaring di ranjang
yang tak setia dan dingin

kau yang kini berjuang
di dalam ruang paling sunyi
lekaslah pulih, Penyair
agar puisi tak kesepian dan sendiri

katamu, Jogya terbuat dari rindu,
pulang dan angkringan, tapi bagiku
puisi terbuat dari jiwamu yang sederhana,
lapang dan mencerahkan

hari ini kudengar
alat bantu napas itu sudah terlepas
aku dan orang-orang merasa lega
bertubi-tubi doa memelukmu
dari segala penjuru menjelma puisi

2023

 
JAKARTA

sebab apa ia jauh datang
kemudian menetap di Jakarta?
demi hujan yang turun di musim kemarau
demi hidup yang kerontang dan kacau
tapi hujan membasahi mata dan seluruh
tubuh cita-cita basah, daun-daun mimpi gugur
semoga kau tetap betah menjaga diri
yang tidak lagi menyalakan sunyi

2023

 
AKHIR(AT)

dunia adalah
kesempatan untuk mencintai
sebanyak-banyaknya
sedangkan akhirat adalah
peluang untuk dikenang
sedalam-dalamnya
selamaNya, di dalamNya

2023

 
BOCOR

aku tak akan mengisi lagi bejana
yang telah pecah dinding-dindingnya

2023

 
PANAH

semenjak ia belajar
meruncingkan kata-kata
menjadikannya anak panah
aku diam sebagai busur
dan biarlah ia melesat hancur
di tembok-tembok waktu dan sejarah

2023

 
TINTA

adalah setitik tinta
yang menetes dalam segelas air
merubah warna
mengeruhkan suasana

2023

 
TAK LAGI

aku tak lagi menaruh apa-apa di atas meja
yang kakinya patah satu
aku tak ingin menjadi pecahan kaca
: sia-sia

2023

RUNCING

ada yang lebih tajam
dari runcing jarum
menusuk ujung telunjuk
Ialah runcing panah
dari kata-kata yang kau rakit

2023

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2023

BACA PUISI-PUISI LAIN

Puisi-puisi Pranita Dewi | Bedawang Nala
Puisi-puisi Santi Dewi | Di Terik Akhir Juni
Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen
Tags: Emi SuyPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tuanku Adalah Rakyat, Jabatan Adalah Mandat”

Next Post

Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana

Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co