25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Emi Suy by Emi Suy
January 14, 2024
in Esai
Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Riri Satria dan Emi Suy | Foto: Dok. Emi Suy

KEMAJUAN teknologi memang tidak dapat dihindari. Di media sosial ramai orang mempersoalkan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Saya yang kebetulan berkecimpung di dunia sastra, baik di kepenulisan (puisi dan esai) atau di komunitas sastra, turut mengikuti perkembangan topik tersebut. Topik yang cukup ramai adalah yang berhubungan dengan kepenulisan sastra yang dilakukan oleh mesin. Saya ingin mengulasnya secara ringan dalam esai pendek ini.

Martin Suryajaya lewat bukunya yang berjudul Penyair sebagai Mesin: Sebuah Eksperimen dalam Penulisan Jauh dan Sejarah Lain Puisi Indonesia (Gang Kabel, 2023), sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat, tapi saya hanya menyimak dari jauh. Kita tahu, Martin memang suka melakukan banyak eksperimen penulisan, ia adalah penulis muda yang cukup tekun.

Melihat fenomena “puisi mesin” itu, mungkin jadi menarik membicarakan kembali hasil diskusi saya dengan Bang Riri Satria mengenai topik-topik seputar teknologi seperti; AI, algoritma, ChatGPT, metaverse dan sastra. Kebetulan Bang Riri memang pakar teknologi digital, hal-hal mengenai komputer, mesin, internet, beliau ahlinya, sehingga menjadi menarik untuk berdialog dengan pemikirannya tentang fenomena digitalisasi yang sedang marak terjadi, terutama di bidang kesusastraan. Dalam tulisan ini saya juga mencoba untuk memberikan tanggapan-tanggapan pribadi merespon pemikiran Bang Riri Satria tentang topik-topik tersebut.

Beberapa dari kita mungkin khawatir kalau-kalau posisi kita dalam dunia pekerjaan akan segera digantikan oleh mesin atau robot. Di banyak negara sudah terjadi hal demikian, misalnya, di Jepang, sudah banyak restoran yang tidak dilayani lagi oleh manusia, tetapi robot. Kekhawatiran yang sama juga dirasakan di dunia sastra, meskipun tidak terlalu dianggap serius. Malah oleh beberapa penulis, teknologi berhasil dimanfaatkan dengan cukup baik untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi, seperti yang telah dilakukan Martin Suryajaya dengan bukunya yang terbaru.

Martin mencoba melakukan apa yang disebutnya “penulisan jauh” (dalam konteks penulisan sastra menggunakan mesin) dan “pembacaan jauh” (dalam konteks kritik sastra) untuk melihat sastra Indonesia dari sisi yang lain, secara lebih luas, menyeluruh dan kompleks, menggunakan metode statistik juga kritis. Memang itu baru suatu percobaan, tetapi toh turut meramaikan jagat sastra kita dan memperkaya kritik sastra kita yang melulu melakukan “pembacaan dekat”, serta yang akhir-akhir ini mulai padam.

Saya kira, apa yang dilakukan Martin Suryajaya sejalan dengan pemikiran Bang Riri Satria tentang bagaimana memanfaatkan teknologi AI untuk membantu kita dalam meneliti karya sastra. Namun, melihat betapa ribetnya bekerja menggunakan teknologi seperti yang dilakukan Martin, membutuhkan banyak data dan banyak orang untuk mengolahnya, waktu yang jauh lebih lama, agaknya memunculkan pertanyaan; sebarapa akan berpengaruh dan bertahan model kritik sastra seperti itu? Ke depan kita akan melihatnya bersama-sama.

Kasus buku Martin adalah contoh yang menarik mengenai apa yang sering Bang Riri Satria jelaskan tentang AI dan cara kerja ChatGPT, artinya menemukan konteksnya pada eksperimen Martin itu. Tapi, tentu saja buku Penyair sebagai Mesin banyak mengalami perdebatan, dan hasil “puisi mesin” itu juga banyak dikritik, bahkan ditolak sebagai puisi oleh sebagian besar penyair, tetapi argumentasinya cukup diterima dan sangat kontekstual dengan zaman kita.

Penyair lain yang melakukan penulisan “radikal” terhadap puisi, yang juga menggunakan perangkat mesin adalah Afrizal Malna. Walaupun keduanya sama membuat puisinya dengan bantuan mesin, tetapi kasus “puisi gelap” Afrizal mengalami sentuhan intelektual penyairnya (subyektivitas), sehingga jauh berbeda hasilnya dengan “puisi mesin” hasil eksperimen Martin (meskipun ada sentuhan dalam mengedit, yang artinya ada unsur subyektivitas “terbatas” atau lebih tepat dibatasi). Jika Martin hendak menghilangkan aspek “emosi” di dalam puisi melalui penulisan oleh mesin, pada puisi-puisi Afrizal kita masih menemukan sedikit kadar “emosi” itu, terutama di sajak-sajaknya yang lama. Tetapi saya tidak akan banyak membicarakan kedua hal tersebut di sini.

Kembali ke Bang Riri, beliau selalu mengatakan pentingnya kita untuk meningkatkan HOTS agar kita bisa menghadapi tantangan teknologi ke depan. Saya kutipkan tulisan dari teks Orasi Budaya tahun 2023 lalu oleh Bang Riri, berikut:

Menurut teori Taksonomi Bloom, manusia itu dikarunai Tuhan sebanyak 6 tingkatan kemampuan berpikir, yaitu: remembering (mengingat atau menghafal), understanding (memahami), applying, (menggunakan dengan tepat) analysing, (menganalisis) evaluation (mengevaluasi), serta creating (mencipta). Tiga yang pertama disebut dengan istilah LOTS atau low order thinking skills, sedangkan tiga yang kedua disebut dengan HOTS atau high order thinking skills. Sejatinya manusia tentu harus memaksimalkan karunia Tuhan ini, namun perjalanan hidup orang per orang membuat ada yang bisa memaksimalkan, ada yang setengah maksimal, serta ada yang tidak maksimal. Nah, pemunculan teknologi kecerdasan buatan akan menjadi masalah buat mereka yang hanya berhenti pada LOTS dan tidak mampu memaksimalkan HOTS. Namun, bagi mereka yang sanggup memaksimalkan HOTS, harusnya tidak menjadi masalah, bahkan bisa menjadi alat bantu bekerja untuk produktivitas dan kinerja yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian, saatnya mengasah kemampuan HOTS kita sejak dari anak-anak. Jangan lagi jejali anak-anak kita dengan hanya sekedar menghafal, melainkan sampai dengan mengembangkan kemampuan HOTS yang tentu saja disesuaikan dengan perkembangan mereka. (Orasi Budaya, 2034)

Masalah tersebut menjelaskan bahwa pendidikan masih menjadi tonggak utama untuk meningkatkan kemampuan SDM kita dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Tapi, di negeri tercinta kita ini, pendidikan masih menjadi wilayah yang belum tersentuh. Pendidikan kita masih banyak terbantu pendidikan tradisional, seperti pesantren, sanggar, dst., yang ada di kampung-kampung atau di sebagian “pinggiran” kota. Sedangkan pendidikan formal kita masih sibuk utak-utik kurikulum yang sifatnya lebih teknis daripada humanis.

Selain pendidikan, tentu saja kemelakan pada karya sastra oleh sebagian besar anak Gen Z kini tidak begitu terbaca jelas. Melihat perkembangan industri buku dan internet, agaknya kemungkinan buku-buku sastra bercampur baur dengan buku-buku yang non sastra semakin menguatkan dugaan bahwa anak-anak Gen Z ini mengalami istilahnya “amnesia budaya”, yaitu hilangnya memori tentang kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini, termasuk khazanah sastranya. Meski demikian, para sastrawan, penulis, komunitas sastra, dan beberapa penerbit buku sastra masih komit dan berusaha mengangkat sastra ke publik.

Bang Riri Satria selalu menekankan dan mendorong agar kita tetap berani menulis dan menjawab tantangan zaman yang semakin mekanis dan digital. Beliau juga pernah menulis dalam puisinya yang berjudul Perubahan (2019), bahwa perubahan dipahami oleh orang dengan berbeda-beda sesuai sudut pandang yang dipakainya. Namun, perubahan harus dijawab dengan perubahan yang diarahkan ke hal-hal yang lebih baik dan positif.

….
Namun tak mudah manusia menerima perubahan
Apalagi menciptakan perubahan
Mental manusia mengikuti kurva perubahan
Butuh waktu untuk penyadaran

Tetapi, perubahan tetap suatu keniscayaan
Karena dia membentuk peradaban

Perubahan bukan sekedar ingin berubah
Perubahan harus membawa kemaslahatan
Perubahan harus dibingkai kebaikan

Namun ada satu yang tidak berubah sampai akhir zaman
Itulah Cinta sejati kepada Tuhan
kepada sesama manusia, dan alam

(Jakarta, 2019)

Dalam sajak di atas digambarkan dengan lugas bahwa ada yang tidak akan hilang dari perubahan, yakni Cinta (rasa). Maka dengan berpegang teguh pada “nurani” (tempat cinta itu), kita akan tetap mampu mengahadapi tantangan zaman yang terus mengalami perubahan. Bahwa ada banyak hal yang terjadi, khususnya dalam dunia sastra akhir-akhir ini, kita tetap menggunakan “nurani” untuk membaca gejalanya, sehingga apa yang dinamakan “puisi” tetap hidup di hati, meskipun bentuk-bentuk yang lain; seperti eksperimen “puisi mesin” banyak bermunculan, ke depan puisi yang tetap “berhati” itulah yang akan “abadi” di hati manusia.

Dalam rangka tetap kontekstual di abad digital itulah kami (saya dan Bang Riri) akhirnya menerbitkan buku antologi puisi bersama yang menghimpun puisi-puisi lama kami, tetapi diberi judul baru; “Algoritma Kesunyian”. Kami berdua berusaha melakukan suatu metode penyusunan buku yang di dalamnya terdapat pembahasan mengenai “kesunyian” (kondisi yang menurut kami tidak mungkin dialami sebuah mesin), metode ini tentu saja ingin menyerupai “algoritma”, istilah yang populer saat-saat ini. Bang Riri juga telah menerbitkan buku kumpulan puisinya, yaitu Metaverse (2022), yang ingin menggambarkan bahwa kita berada di dalam dunia digital, di dalam alam algoritma, ter-alienasi di dimensi lain itu sebagai avatar yang merindukan kesunyian.

Kesunyian sebagai aspek yang khas manusia, ruang yang memungkinkan perenungan dan permenungan dilakukan, momen yang paling intim bagi rasa kita berkembang meluas dan mendalam, ruang yang telah melahirkan puisi-puisi kami hingga bermetamorfosa ke dalam buku-buku yang mengangkat narasi dunia teknologi masa kini. Tentu saja, kami (setidaknya saya sendiri) percaya bahwa puisi-puisi lama dari para penyair kita tidak akan bisa dibuat oleh mesin, tetapi masih tetap bisa terbit dengan kemasan baru dan tetap kontekstual. Itu artinya kontekstualisasi puisi paling lama pun masih tetap bisa aktual di abad digital ini. Sedangkan kita belum pernah mendengar atau membaca, bahwa puisi hasil mesin yang disebut “puisi mesin” itu pernah memiliki prestasi sedemikian sebagaimana puisi buatan para penyair.

Saya pernah membaca kutipan yang bagus oleh salah seorang penyair Amerika sekaligus psikolog bernama Keith Holyoak, ia menulis bahwa “Ketiadaan pengalaman batin membuat AI kekurangan atas sesuatu yang paling dibutuhkan untuk mengapresiasi puisi: rasa kebenaran puitis berdasarkan pengalaman subjektif, bukan objektif.” Saya sangat setuju dengan pernyataan kutipan tersebut, mesin tidak mungkin akan memiliki “subjektivitas” untuk memahami sekaligus menghayati suatu pengalaman, sebab mereka dibuat (bukan diciptakan) untuk bertindak secara objektif, sesuai data dan program yang dibuat untuknya.

Pemikiran Bang Riri Satria mengenai AI, penciptaan puisi, algoritma, ChatGPT, metaverse, dan menulis sastra, tetap kembali ke kesimpulan yang saya sepakati, yakni; pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, dengan merawat terus etika (sesuatu yang esensial pada manusia), yaitu dengan terus belajar dan belajar, berlatih dan berlatih, meningkatkan LOTS menjadi HOTS, menjadi modern atau bahkan postmodern tanpa meninggalkan tradisi, merawat tradisi dan kearifan lokal tetapi dengan tetap menjadi modern dan melek digital, sehingga manusia dapat tumbuh tubuh dan jiwanya, dan tidak kebingungan di zaman kecangkihan teknologi juga tidak kehilangan akar serta asal usulnya.

Saya kira inilah yang bisa saya tulis untuk menanggapi dan mengapresiasi pemikiran-pemikiran Bang Riri Satria, yang ide-idenya turut menginspirasi dan memotivasi saya agar tetap belajar menulis puisi juga esai, meski di sisi lain, mesin juga tengah dengan getolnya dilatih untuk mahir menulis puisi dan mungkin kritik sastra.

Di akhir tulisan ini izinkan saya mengutip salah satu puisi dari begawan puisi Bali yang baru saja berpulang, Frans Nadjira, semoga beliau dalam kedamaian abadi di alam maha puisi. Saya sangat yakin bahwa puisi ini (atau yang seperti ini) tidak akan pernah dibuat oleh ChatGPT atau “mesin menulis”, secanggih apa pun mesin itu dan sekeras apa pun ia dilatih, tak akan pernah menghasilkan puisi seperti berikut:

Jadikan Sajak

dengar desir air
dengar sihir nyiur
kelepak sayap kelewar…

Senyap itu bertangan. Jangan lelap.
Malam dengan sedikit sinar tipis di tepinya
siap menjemputmu.
Cahaya darimu
Tercipta dari sumber
Yang memisahkan garam dari laut
Mengembalikan air ke sifat cairnya.

Bangkit, ulurkan tanganmu pada ranting
angin dingin. Lebur jiwamu
jadi beringas laut
jadi pisau api
yang kau pandang jika duka
Yang kau genggam jika marah. Ayo, ke laut!
Pandangan beringasnya dengan paham
Genggam ganasnya dengan diam : Jadikan sajak.

(dari buku Jendela Jadikan Sajak karya Frans Nadjira, PADMA, 2003)

Jakarta, Januari 2024

  • BACA artikel lain dari penulis EMI SUY
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Tags: AIChatGPTEmi SuyFrans NadjirametaverseRiri Satriasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Next Post

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co