4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Emi Suy by Emi Suy
January 14, 2024
in Esai
Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Riri Satria dan Emi Suy | Foto: Dok. Emi Suy

KEMAJUAN teknologi memang tidak dapat dihindari. Di media sosial ramai orang mempersoalkan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Saya yang kebetulan berkecimpung di dunia sastra, baik di kepenulisan (puisi dan esai) atau di komunitas sastra, turut mengikuti perkembangan topik tersebut. Topik yang cukup ramai adalah yang berhubungan dengan kepenulisan sastra yang dilakukan oleh mesin. Saya ingin mengulasnya secara ringan dalam esai pendek ini.

Martin Suryajaya lewat bukunya yang berjudul Penyair sebagai Mesin: Sebuah Eksperimen dalam Penulisan Jauh dan Sejarah Lain Puisi Indonesia (Gang Kabel, 2023), sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat, tapi saya hanya menyimak dari jauh. Kita tahu, Martin memang suka melakukan banyak eksperimen penulisan, ia adalah penulis muda yang cukup tekun.

Melihat fenomena “puisi mesin” itu, mungkin jadi menarik membicarakan kembali hasil diskusi saya dengan Bang Riri Satria mengenai topik-topik seputar teknologi seperti; AI, algoritma, ChatGPT, metaverse dan sastra. Kebetulan Bang Riri memang pakar teknologi digital, hal-hal mengenai komputer, mesin, internet, beliau ahlinya, sehingga menjadi menarik untuk berdialog dengan pemikirannya tentang fenomena digitalisasi yang sedang marak terjadi, terutama di bidang kesusastraan. Dalam tulisan ini saya juga mencoba untuk memberikan tanggapan-tanggapan pribadi merespon pemikiran Bang Riri Satria tentang topik-topik tersebut.

Beberapa dari kita mungkin khawatir kalau-kalau posisi kita dalam dunia pekerjaan akan segera digantikan oleh mesin atau robot. Di banyak negara sudah terjadi hal demikian, misalnya, di Jepang, sudah banyak restoran yang tidak dilayani lagi oleh manusia, tetapi robot. Kekhawatiran yang sama juga dirasakan di dunia sastra, meskipun tidak terlalu dianggap serius. Malah oleh beberapa penulis, teknologi berhasil dimanfaatkan dengan cukup baik untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi, seperti yang telah dilakukan Martin Suryajaya dengan bukunya yang terbaru.

Martin mencoba melakukan apa yang disebutnya “penulisan jauh” (dalam konteks penulisan sastra menggunakan mesin) dan “pembacaan jauh” (dalam konteks kritik sastra) untuk melihat sastra Indonesia dari sisi yang lain, secara lebih luas, menyeluruh dan kompleks, menggunakan metode statistik juga kritis. Memang itu baru suatu percobaan, tetapi toh turut meramaikan jagat sastra kita dan memperkaya kritik sastra kita yang melulu melakukan “pembacaan dekat”, serta yang akhir-akhir ini mulai padam.

Saya kira, apa yang dilakukan Martin Suryajaya sejalan dengan pemikiran Bang Riri Satria tentang bagaimana memanfaatkan teknologi AI untuk membantu kita dalam meneliti karya sastra. Namun, melihat betapa ribetnya bekerja menggunakan teknologi seperti yang dilakukan Martin, membutuhkan banyak data dan banyak orang untuk mengolahnya, waktu yang jauh lebih lama, agaknya memunculkan pertanyaan; sebarapa akan berpengaruh dan bertahan model kritik sastra seperti itu? Ke depan kita akan melihatnya bersama-sama.

Kasus buku Martin adalah contoh yang menarik mengenai apa yang sering Bang Riri Satria jelaskan tentang AI dan cara kerja ChatGPT, artinya menemukan konteksnya pada eksperimen Martin itu. Tapi, tentu saja buku Penyair sebagai Mesin banyak mengalami perdebatan, dan hasil “puisi mesin” itu juga banyak dikritik, bahkan ditolak sebagai puisi oleh sebagian besar penyair, tetapi argumentasinya cukup diterima dan sangat kontekstual dengan zaman kita.

Penyair lain yang melakukan penulisan “radikal” terhadap puisi, yang juga menggunakan perangkat mesin adalah Afrizal Malna. Walaupun keduanya sama membuat puisinya dengan bantuan mesin, tetapi kasus “puisi gelap” Afrizal mengalami sentuhan intelektual penyairnya (subyektivitas), sehingga jauh berbeda hasilnya dengan “puisi mesin” hasil eksperimen Martin (meskipun ada sentuhan dalam mengedit, yang artinya ada unsur subyektivitas “terbatas” atau lebih tepat dibatasi). Jika Martin hendak menghilangkan aspek “emosi” di dalam puisi melalui penulisan oleh mesin, pada puisi-puisi Afrizal kita masih menemukan sedikit kadar “emosi” itu, terutama di sajak-sajaknya yang lama. Tetapi saya tidak akan banyak membicarakan kedua hal tersebut di sini.

Kembali ke Bang Riri, beliau selalu mengatakan pentingnya kita untuk meningkatkan HOTS agar kita bisa menghadapi tantangan teknologi ke depan. Saya kutipkan tulisan dari teks Orasi Budaya tahun 2023 lalu oleh Bang Riri, berikut:

Menurut teori Taksonomi Bloom, manusia itu dikarunai Tuhan sebanyak 6 tingkatan kemampuan berpikir, yaitu: remembering (mengingat atau menghafal), understanding (memahami), applying, (menggunakan dengan tepat) analysing, (menganalisis) evaluation (mengevaluasi), serta creating (mencipta). Tiga yang pertama disebut dengan istilah LOTS atau low order thinking skills, sedangkan tiga yang kedua disebut dengan HOTS atau high order thinking skills. Sejatinya manusia tentu harus memaksimalkan karunia Tuhan ini, namun perjalanan hidup orang per orang membuat ada yang bisa memaksimalkan, ada yang setengah maksimal, serta ada yang tidak maksimal. Nah, pemunculan teknologi kecerdasan buatan akan menjadi masalah buat mereka yang hanya berhenti pada LOTS dan tidak mampu memaksimalkan HOTS. Namun, bagi mereka yang sanggup memaksimalkan HOTS, harusnya tidak menjadi masalah, bahkan bisa menjadi alat bantu bekerja untuk produktivitas dan kinerja yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian, saatnya mengasah kemampuan HOTS kita sejak dari anak-anak. Jangan lagi jejali anak-anak kita dengan hanya sekedar menghafal, melainkan sampai dengan mengembangkan kemampuan HOTS yang tentu saja disesuaikan dengan perkembangan mereka. (Orasi Budaya, 2034)

Masalah tersebut menjelaskan bahwa pendidikan masih menjadi tonggak utama untuk meningkatkan kemampuan SDM kita dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Tapi, di negeri tercinta kita ini, pendidikan masih menjadi wilayah yang belum tersentuh. Pendidikan kita masih banyak terbantu pendidikan tradisional, seperti pesantren, sanggar, dst., yang ada di kampung-kampung atau di sebagian “pinggiran” kota. Sedangkan pendidikan formal kita masih sibuk utak-utik kurikulum yang sifatnya lebih teknis daripada humanis.

Selain pendidikan, tentu saja kemelakan pada karya sastra oleh sebagian besar anak Gen Z kini tidak begitu terbaca jelas. Melihat perkembangan industri buku dan internet, agaknya kemungkinan buku-buku sastra bercampur baur dengan buku-buku yang non sastra semakin menguatkan dugaan bahwa anak-anak Gen Z ini mengalami istilahnya “amnesia budaya”, yaitu hilangnya memori tentang kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini, termasuk khazanah sastranya. Meski demikian, para sastrawan, penulis, komunitas sastra, dan beberapa penerbit buku sastra masih komit dan berusaha mengangkat sastra ke publik.

Bang Riri Satria selalu menekankan dan mendorong agar kita tetap berani menulis dan menjawab tantangan zaman yang semakin mekanis dan digital. Beliau juga pernah menulis dalam puisinya yang berjudul Perubahan (2019), bahwa perubahan dipahami oleh orang dengan berbeda-beda sesuai sudut pandang yang dipakainya. Namun, perubahan harus dijawab dengan perubahan yang diarahkan ke hal-hal yang lebih baik dan positif.

….
Namun tak mudah manusia menerima perubahan
Apalagi menciptakan perubahan
Mental manusia mengikuti kurva perubahan
Butuh waktu untuk penyadaran

Tetapi, perubahan tetap suatu keniscayaan
Karena dia membentuk peradaban

Perubahan bukan sekedar ingin berubah
Perubahan harus membawa kemaslahatan
Perubahan harus dibingkai kebaikan

Namun ada satu yang tidak berubah sampai akhir zaman
Itulah Cinta sejati kepada Tuhan
kepada sesama manusia, dan alam

(Jakarta, 2019)

Dalam sajak di atas digambarkan dengan lugas bahwa ada yang tidak akan hilang dari perubahan, yakni Cinta (rasa). Maka dengan berpegang teguh pada “nurani” (tempat cinta itu), kita akan tetap mampu mengahadapi tantangan zaman yang terus mengalami perubahan. Bahwa ada banyak hal yang terjadi, khususnya dalam dunia sastra akhir-akhir ini, kita tetap menggunakan “nurani” untuk membaca gejalanya, sehingga apa yang dinamakan “puisi” tetap hidup di hati, meskipun bentuk-bentuk yang lain; seperti eksperimen “puisi mesin” banyak bermunculan, ke depan puisi yang tetap “berhati” itulah yang akan “abadi” di hati manusia.

Dalam rangka tetap kontekstual di abad digital itulah kami (saya dan Bang Riri) akhirnya menerbitkan buku antologi puisi bersama yang menghimpun puisi-puisi lama kami, tetapi diberi judul baru; “Algoritma Kesunyian”. Kami berdua berusaha melakukan suatu metode penyusunan buku yang di dalamnya terdapat pembahasan mengenai “kesunyian” (kondisi yang menurut kami tidak mungkin dialami sebuah mesin), metode ini tentu saja ingin menyerupai “algoritma”, istilah yang populer saat-saat ini. Bang Riri juga telah menerbitkan buku kumpulan puisinya, yaitu Metaverse (2022), yang ingin menggambarkan bahwa kita berada di dalam dunia digital, di dalam alam algoritma, ter-alienasi di dimensi lain itu sebagai avatar yang merindukan kesunyian.

Kesunyian sebagai aspek yang khas manusia, ruang yang memungkinkan perenungan dan permenungan dilakukan, momen yang paling intim bagi rasa kita berkembang meluas dan mendalam, ruang yang telah melahirkan puisi-puisi kami hingga bermetamorfosa ke dalam buku-buku yang mengangkat narasi dunia teknologi masa kini. Tentu saja, kami (setidaknya saya sendiri) percaya bahwa puisi-puisi lama dari para penyair kita tidak akan bisa dibuat oleh mesin, tetapi masih tetap bisa terbit dengan kemasan baru dan tetap kontekstual. Itu artinya kontekstualisasi puisi paling lama pun masih tetap bisa aktual di abad digital ini. Sedangkan kita belum pernah mendengar atau membaca, bahwa puisi hasil mesin yang disebut “puisi mesin” itu pernah memiliki prestasi sedemikian sebagaimana puisi buatan para penyair.

Saya pernah membaca kutipan yang bagus oleh salah seorang penyair Amerika sekaligus psikolog bernama Keith Holyoak, ia menulis bahwa “Ketiadaan pengalaman batin membuat AI kekurangan atas sesuatu yang paling dibutuhkan untuk mengapresiasi puisi: rasa kebenaran puitis berdasarkan pengalaman subjektif, bukan objektif.” Saya sangat setuju dengan pernyataan kutipan tersebut, mesin tidak mungkin akan memiliki “subjektivitas” untuk memahami sekaligus menghayati suatu pengalaman, sebab mereka dibuat (bukan diciptakan) untuk bertindak secara objektif, sesuai data dan program yang dibuat untuknya.

Pemikiran Bang Riri Satria mengenai AI, penciptaan puisi, algoritma, ChatGPT, metaverse, dan menulis sastra, tetap kembali ke kesimpulan yang saya sepakati, yakni; pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, dengan merawat terus etika (sesuatu yang esensial pada manusia), yaitu dengan terus belajar dan belajar, berlatih dan berlatih, meningkatkan LOTS menjadi HOTS, menjadi modern atau bahkan postmodern tanpa meninggalkan tradisi, merawat tradisi dan kearifan lokal tetapi dengan tetap menjadi modern dan melek digital, sehingga manusia dapat tumbuh tubuh dan jiwanya, dan tidak kebingungan di zaman kecangkihan teknologi juga tidak kehilangan akar serta asal usulnya.

Saya kira inilah yang bisa saya tulis untuk menanggapi dan mengapresiasi pemikiran-pemikiran Bang Riri Satria, yang ide-idenya turut menginspirasi dan memotivasi saya agar tetap belajar menulis puisi juga esai, meski di sisi lain, mesin juga tengah dengan getolnya dilatih untuk mahir menulis puisi dan mungkin kritik sastra.

Di akhir tulisan ini izinkan saya mengutip salah satu puisi dari begawan puisi Bali yang baru saja berpulang, Frans Nadjira, semoga beliau dalam kedamaian abadi di alam maha puisi. Saya sangat yakin bahwa puisi ini (atau yang seperti ini) tidak akan pernah dibuat oleh ChatGPT atau “mesin menulis”, secanggih apa pun mesin itu dan sekeras apa pun ia dilatih, tak akan pernah menghasilkan puisi seperti berikut:

Jadikan Sajak

dengar desir air
dengar sihir nyiur
kelepak sayap kelewar…

Senyap itu bertangan. Jangan lelap.
Malam dengan sedikit sinar tipis di tepinya
siap menjemputmu.
Cahaya darimu
Tercipta dari sumber
Yang memisahkan garam dari laut
Mengembalikan air ke sifat cairnya.

Bangkit, ulurkan tanganmu pada ranting
angin dingin. Lebur jiwamu
jadi beringas laut
jadi pisau api
yang kau pandang jika duka
Yang kau genggam jika marah. Ayo, ke laut!
Pandangan beringasnya dengan paham
Genggam ganasnya dengan diam : Jadikan sajak.

(dari buku Jendela Jadikan Sajak karya Frans Nadjira, PADMA, 2003)

Jakarta, Januari 2024

  • BACA artikel lain dari penulis EMI SUY
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Tags: AIChatGPTEmi SuyFrans NadjirametaverseRiri Satriasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Next Post

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co