22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Komang Berata by Komang Berata
January 14, 2024
in Bahasa
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PERTENGAHAN tahun 1990-an saya mulai menulis sajak dan cerita pendek berbahasa Bali. Sebagai buah karma saya menulis karya sastra berbahasa Bali, tahun 1999 saya mendapatkan ganjaran Hadiah Sastera Rancagé atas Lekad Tumpek Wayang, buku kumpulan cerita pendek dan sajak berbahasa Bali. IDK Raka Kusuma, mendiang, menjadi biang menjerumuskan saya menulis karya sastra berbahasa Bali. Mendiang juga yang mulanya bersemangat membawa saya menulis karya sastra berbahasa Indonesia mendekati tahun 1990-an.

Saya mengakui bahwa Lekad Tumpek Wayang bukanlah karya dengan ciri khas bahasa Bali yang saya tuturkan, bahasa yang ditransfer oleh ayah dan lingkungan pergaulan ayah saya. Muncul kesangsian saya ketika itu. Maklumlah, saya penulis yang sing nawang langkah-langkahan, belum kenal wilayah di luar tempat tinggal. Pergaulan berkutat sebatas tempat tinggal. Jika saya menulis dengan ciri lokal Karangasem saya, jangan-jangan pembaca tidak menangkap makna kata yang saya tulis. Saya kurang percaya diri meski Nyoman Tusthi Eddy, mendiang, berpendapat bahasa Bali saya tidak terpengaruh bahasa Indonesia. Sebuah jerat yang setia menganga untuk saya.

Pada akhirnya Lekad Tumpek Wayang saya bumbui kosakata yang saya tangkap dari luar diri saya. Kosakata sadin (biasanya saya menuturkan gugu atau gega), misalnya, saya dapatkan dari pergaulan selama tiga bulan saya dengan teman yang berasal dari wilayah Jembrana. Sesekali saya mencuri dengar kosakata IDK Raka Kusuma yang berasal dari Getakan, Klungkung. Saya ambil juga kosakata penulis yang berasal dari Denpasar. Saya pungut juga tutur kata teman ayah dari Geriyana Kauh, Selat, Karangasem.

Setiap terbuka peluang untuk saya, selalu siap saya memungut kata. Hanya saja tidak selalu saya tulis kata yang saya pungut. Saya belum menulis kosakata yang saya dapatkan dari Seraya, Karangasem, seperti kénto (begitu) atau tang kija (hendak ke mana). Saya tulis kata yang saya rasa sudah nyarira.

Sejak tahun 2018 saya bersemangat kembali menulis cerita pendek berbahasa Bali. Saya sangat bersemangat mencatatkan kosakata dari dua wilayah yang sangat dekat dengan hati saya, Basangalas dan Susuan, pada cerita pendek saya. Sengaja memang saya membatasi diri menulis sajak berbahasa Bali. Saya tidak mendapatkan ruang bertele-tele dalam sajak.

Baik, saya kenalkan. Basangalas terletak di kaki bukit Lempuyang, Abang. Susuan terletak di pinggir kota Karangasem. Basangalas adalah asal ayah dan ibu saya, Susuan adalah tempat lahir saya, tempat saya dibesarkan, dan tempat tinggal saya. Memang ada perbedaan makna kosakata yang dituturkan di Basangalas dan di Susuan. Kosakata mel, misalnya.

Di Susuan mel itu sawah. Jika ayah saya mengatakan akan kamel maka ayah saya akan ke sawah. Sedikit berbeda jika paman saya di Basangalas mengatakan akan kamel maka paman saya hendak menuju tempat tinggalnya. Di Basangalas mel adalah ladang dengan hunian tempat tinggal orang berumah tangga yang lengkap terdiri dari bangunan tempat memasak, bangunan tempat tinggal, dan bangunan tempat pemujaan.

Saya mendapatkan kosakata tiya (baca seperti dialog pemeran orang Madura yang terkenal di layar televisi dulu itu: taiye) di Susuan dan di Basangalas, dituturkan ketika belum yakin dengan informasi yang disampaikannya. Biasa saya dengar nyén tiya, kija tiya, apa tiya, dija tiya, atau ngujang tiya.

Kosakata tiya semakna dengan kapa seperti nyén kapa, kija kapa, apa kapa, dija kapa, atau ngujang kapa. Kosakata tiya semakna juga dengan kadén seperti nyén kadén, kija kadén, apa kadén, dija kadén, atau ngujang kadén. Semakna juga kosakata tiya dengan jenenga, maka nyén jenenga, kija jenenga, apa jenenga, dija jenenga, atau ngujang jenenga. Tiya, kapa, kadén, dan jengenga sangat dekat dengan makna entah, entah siapa, entah ke mana, entah di mana, juga entah mengapa.

Saya menduga tiya itu berasal dari kata ta iya: ta adalah entah, iya adalah ia, dia, atau itu, maka nyén tiya (entah siapa dia), kija tiya (entah ke mana dia), apa tiya (entah apa itu), dija tiya (entah di mana dia), dan ngujang tiya (entah mengapa dia).

Selain berusaha menulis sajak dan cerita pendek dengan perbendaharaan bahasa Bali yang saya miliki, sesekali saya menampilkan perbendaharaan kosakata bahasa Bali saya pada akun media sosial saya. Mempunyai teman dengan beragam latar di media sosial, saya berusaha menanggapi mereka, entah serius, entah bercanda, entah juga nyampahin dan nyampahang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika orang bertemu layar beku, tidak bertemu klisat orang.

Ini tidak terlepas dari raos ngémpélin yang kerap digunakan untuk menjebak atau bahkan majengahin. Dengan ruang seperti itu, ada yang memilih tampil dengan ciri penganut aliran Pan Balang Tamak versi kiri atau aliran Pan Bongkling versi kiri, yang diingat cuma versi kurang dan negatifnya. Tentu tidak sedikit juga yang bersikap Pan Balang Tamak versi kanan dan Pan Bongkling versi kanan. Rwa bhinnéda tidak terpisahkan, memang. Anggap daripada tidak mendapatkan tanggapan.

Yang belum saya pahami, setiap perbendaharaan kata saya yang belum menjadi perbendaharaan kata pembaca, kerap dianggap dialek daerah saya, bahkan dianggap idiolek saya, belum diterima untuk memperkaya perbendaharaan kata pembaca. Kamus daring yang ada dan yang paling mudah diakses memang belum menampilkan kosakata yang saya tampilkan dalam tulisan saya. Menjadi-jadilah derita dialek dan idiolek saya.

Kamus mungkin tidak pernah akan menjadi sempurna karena penutur bahasa selalu kreatif dan tanpa henti melakukan terobosan berbahasa. Saya mencatat pada draft email saya tanggal 29 April 2022 kosakata terhenyak belum tercantum dalam KBBI V versi daring, akan tetapi sudah muncul dalam KBBI VI versi daring.

Di antara kosakata yang dianggap dialek bahkan idiolek saya oleh pembaca tulisan saya seperti lempuraan atau mapasah. Lempuraan adalah derita akibat dalam kurun waktu yang boleh dikatakan lama tidak mengirimkan makanan ke alat pencernaan sehingga alat pencernaan menjadi kosong, dan terjadilah kelaparan, lempuraan itu. Lalu mapasah itu nénten matedung, akibat mapasah maka derita yang ditanggung adalah diguyur hujan dan diterpa sinar matahari.

Saya sangat tidak berharap dialek atau idiolek tidak dialamatkan kepada saya jika ada yang terbiasa dengan cingak tiyang atau pireng tiyang, sementara saya terbiasa dengan ton tityang, tonin tityang, dingeh tiyang, atau piragin tityang. Jika terjadi juga, ya sudahlah.

Apa pun kendala yang ada, saya terus berusaha menampilkan kosakata bahasa Bali yang menghuni kepala saya, meski saya sempat mendapat teguran di tiktok akibat saya menampilkan komentar buwung. Saya tidak memilih buwung, tidak memilih buwung payu, tidak juga payu buwung, maka saya tidak mamuwung. Saya memilih payu, maka saya mamayu untuk bahasa Bali. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balidialek baliidiolek balikarangasem
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co