23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Komang Berata by Komang Berata
January 14, 2024
in Bahasa
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PERTENGAHAN tahun 1990-an saya mulai menulis sajak dan cerita pendek berbahasa Bali. Sebagai buah karma saya menulis karya sastra berbahasa Bali, tahun 1999 saya mendapatkan ganjaran Hadiah Sastera Rancagé atas Lekad Tumpek Wayang, buku kumpulan cerita pendek dan sajak berbahasa Bali. IDK Raka Kusuma, mendiang, menjadi biang menjerumuskan saya menulis karya sastra berbahasa Bali. Mendiang juga yang mulanya bersemangat membawa saya menulis karya sastra berbahasa Indonesia mendekati tahun 1990-an.

Saya mengakui bahwa Lekad Tumpek Wayang bukanlah karya dengan ciri khas bahasa Bali yang saya tuturkan, bahasa yang ditransfer oleh ayah dan lingkungan pergaulan ayah saya. Muncul kesangsian saya ketika itu. Maklumlah, saya penulis yang sing nawang langkah-langkahan, belum kenal wilayah di luar tempat tinggal. Pergaulan berkutat sebatas tempat tinggal. Jika saya menulis dengan ciri lokal Karangasem saya, jangan-jangan pembaca tidak menangkap makna kata yang saya tulis. Saya kurang percaya diri meski Nyoman Tusthi Eddy, mendiang, berpendapat bahasa Bali saya tidak terpengaruh bahasa Indonesia. Sebuah jerat yang setia menganga untuk saya.

Pada akhirnya Lekad Tumpek Wayang saya bumbui kosakata yang saya tangkap dari luar diri saya. Kosakata sadin (biasanya saya menuturkan gugu atau gega), misalnya, saya dapatkan dari pergaulan selama tiga bulan saya dengan teman yang berasal dari wilayah Jembrana. Sesekali saya mencuri dengar kosakata IDK Raka Kusuma yang berasal dari Getakan, Klungkung. Saya ambil juga kosakata penulis yang berasal dari Denpasar. Saya pungut juga tutur kata teman ayah dari Geriyana Kauh, Selat, Karangasem.

Setiap terbuka peluang untuk saya, selalu siap saya memungut kata. Hanya saja tidak selalu saya tulis kata yang saya pungut. Saya belum menulis kosakata yang saya dapatkan dari Seraya, Karangasem, seperti kénto (begitu) atau tang kija (hendak ke mana). Saya tulis kata yang saya rasa sudah nyarira.

Sejak tahun 2018 saya bersemangat kembali menulis cerita pendek berbahasa Bali. Saya sangat bersemangat mencatatkan kosakata dari dua wilayah yang sangat dekat dengan hati saya, Basangalas dan Susuan, pada cerita pendek saya. Sengaja memang saya membatasi diri menulis sajak berbahasa Bali. Saya tidak mendapatkan ruang bertele-tele dalam sajak.

Baik, saya kenalkan. Basangalas terletak di kaki bukit Lempuyang, Abang. Susuan terletak di pinggir kota Karangasem. Basangalas adalah asal ayah dan ibu saya, Susuan adalah tempat lahir saya, tempat saya dibesarkan, dan tempat tinggal saya. Memang ada perbedaan makna kosakata yang dituturkan di Basangalas dan di Susuan. Kosakata mel, misalnya.

Di Susuan mel itu sawah. Jika ayah saya mengatakan akan kamel maka ayah saya akan ke sawah. Sedikit berbeda jika paman saya di Basangalas mengatakan akan kamel maka paman saya hendak menuju tempat tinggalnya. Di Basangalas mel adalah ladang dengan hunian tempat tinggal orang berumah tangga yang lengkap terdiri dari bangunan tempat memasak, bangunan tempat tinggal, dan bangunan tempat pemujaan.

Saya mendapatkan kosakata tiya (baca seperti dialog pemeran orang Madura yang terkenal di layar televisi dulu itu: taiye) di Susuan dan di Basangalas, dituturkan ketika belum yakin dengan informasi yang disampaikannya. Biasa saya dengar nyén tiya, kija tiya, apa tiya, dija tiya, atau ngujang tiya.

Kosakata tiya semakna dengan kapa seperti nyén kapa, kija kapa, apa kapa, dija kapa, atau ngujang kapa. Kosakata tiya semakna juga dengan kadén seperti nyén kadén, kija kadén, apa kadén, dija kadén, atau ngujang kadén. Semakna juga kosakata tiya dengan jenenga, maka nyén jenenga, kija jenenga, apa jenenga, dija jenenga, atau ngujang jenenga. Tiya, kapa, kadén, dan jengenga sangat dekat dengan makna entah, entah siapa, entah ke mana, entah di mana, juga entah mengapa.

Saya menduga tiya itu berasal dari kata ta iya: ta adalah entah, iya adalah ia, dia, atau itu, maka nyén tiya (entah siapa dia), kija tiya (entah ke mana dia), apa tiya (entah apa itu), dija tiya (entah di mana dia), dan ngujang tiya (entah mengapa dia).

Selain berusaha menulis sajak dan cerita pendek dengan perbendaharaan bahasa Bali yang saya miliki, sesekali saya menampilkan perbendaharaan kosakata bahasa Bali saya pada akun media sosial saya. Mempunyai teman dengan beragam latar di media sosial, saya berusaha menanggapi mereka, entah serius, entah bercanda, entah juga nyampahin dan nyampahang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika orang bertemu layar beku, tidak bertemu klisat orang.

Ini tidak terlepas dari raos ngémpélin yang kerap digunakan untuk menjebak atau bahkan majengahin. Dengan ruang seperti itu, ada yang memilih tampil dengan ciri penganut aliran Pan Balang Tamak versi kiri atau aliran Pan Bongkling versi kiri, yang diingat cuma versi kurang dan negatifnya. Tentu tidak sedikit juga yang bersikap Pan Balang Tamak versi kanan dan Pan Bongkling versi kanan. Rwa bhinnéda tidak terpisahkan, memang. Anggap daripada tidak mendapatkan tanggapan.

Yang belum saya pahami, setiap perbendaharaan kata saya yang belum menjadi perbendaharaan kata pembaca, kerap dianggap dialek daerah saya, bahkan dianggap idiolek saya, belum diterima untuk memperkaya perbendaharaan kata pembaca. Kamus daring yang ada dan yang paling mudah diakses memang belum menampilkan kosakata yang saya tampilkan dalam tulisan saya. Menjadi-jadilah derita dialek dan idiolek saya.

Kamus mungkin tidak pernah akan menjadi sempurna karena penutur bahasa selalu kreatif dan tanpa henti melakukan terobosan berbahasa. Saya mencatat pada draft email saya tanggal 29 April 2022 kosakata terhenyak belum tercantum dalam KBBI V versi daring, akan tetapi sudah muncul dalam KBBI VI versi daring.

Di antara kosakata yang dianggap dialek bahkan idiolek saya oleh pembaca tulisan saya seperti lempuraan atau mapasah. Lempuraan adalah derita akibat dalam kurun waktu yang boleh dikatakan lama tidak mengirimkan makanan ke alat pencernaan sehingga alat pencernaan menjadi kosong, dan terjadilah kelaparan, lempuraan itu. Lalu mapasah itu nénten matedung, akibat mapasah maka derita yang ditanggung adalah diguyur hujan dan diterpa sinar matahari.

Saya sangat tidak berharap dialek atau idiolek tidak dialamatkan kepada saya jika ada yang terbiasa dengan cingak tiyang atau pireng tiyang, sementara saya terbiasa dengan ton tityang, tonin tityang, dingeh tiyang, atau piragin tityang. Jika terjadi juga, ya sudahlah.

Apa pun kendala yang ada, saya terus berusaha menampilkan kosakata bahasa Bali yang menghuni kepala saya, meski saya sempat mendapat teguran di tiktok akibat saya menampilkan komentar buwung. Saya tidak memilih buwung, tidak memilih buwung payu, tidak juga payu buwung, maka saya tidak mamuwung. Saya memilih payu, maka saya mamayu untuk bahasa Bali. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balidialek baliidiolek balikarangasem
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

by I Made Sudiana
May 26, 2026
0
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

Read moreDetails

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

by I Made Sudiana
May 19, 2026
0
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

Read moreDetails

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

by I Made Sudiana
May 15, 2026
0
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

Read moreDetails

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

by I Made Sudiana
May 5, 2026
0
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co