2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Komang Berata by Komang Berata
January 14, 2024
in Bahasa
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

PERTENGAHAN tahun 1990-an saya mulai menulis sajak dan cerita pendek berbahasa Bali. Sebagai buah karma saya menulis karya sastra berbahasa Bali, tahun 1999 saya mendapatkan ganjaran Hadiah Sastera Rancagé atas Lekad Tumpek Wayang, buku kumpulan cerita pendek dan sajak berbahasa Bali. IDK Raka Kusuma, mendiang, menjadi biang menjerumuskan saya menulis karya sastra berbahasa Bali. Mendiang juga yang mulanya bersemangat membawa saya menulis karya sastra berbahasa Indonesia mendekati tahun 1990-an.

Saya mengakui bahwa Lekad Tumpek Wayang bukanlah karya dengan ciri khas bahasa Bali yang saya tuturkan, bahasa yang ditransfer oleh ayah dan lingkungan pergaulan ayah saya. Muncul kesangsian saya ketika itu. Maklumlah, saya penulis yang sing nawang langkah-langkahan, belum kenal wilayah di luar tempat tinggal. Pergaulan berkutat sebatas tempat tinggal. Jika saya menulis dengan ciri lokal Karangasem saya, jangan-jangan pembaca tidak menangkap makna kata yang saya tulis. Saya kurang percaya diri meski Nyoman Tusthi Eddy, mendiang, berpendapat bahasa Bali saya tidak terpengaruh bahasa Indonesia. Sebuah jerat yang setia menganga untuk saya.

Pada akhirnya Lekad Tumpek Wayang saya bumbui kosakata yang saya tangkap dari luar diri saya. Kosakata sadin (biasanya saya menuturkan gugu atau gega), misalnya, saya dapatkan dari pergaulan selama tiga bulan saya dengan teman yang berasal dari wilayah Jembrana. Sesekali saya mencuri dengar kosakata IDK Raka Kusuma yang berasal dari Getakan, Klungkung. Saya ambil juga kosakata penulis yang berasal dari Denpasar. Saya pungut juga tutur kata teman ayah dari Geriyana Kauh, Selat, Karangasem.

Setiap terbuka peluang untuk saya, selalu siap saya memungut kata. Hanya saja tidak selalu saya tulis kata yang saya pungut. Saya belum menulis kosakata yang saya dapatkan dari Seraya, Karangasem, seperti kénto (begitu) atau tang kija (hendak ke mana). Saya tulis kata yang saya rasa sudah nyarira.

Sejak tahun 2018 saya bersemangat kembali menulis cerita pendek berbahasa Bali. Saya sangat bersemangat mencatatkan kosakata dari dua wilayah yang sangat dekat dengan hati saya, Basangalas dan Susuan, pada cerita pendek saya. Sengaja memang saya membatasi diri menulis sajak berbahasa Bali. Saya tidak mendapatkan ruang bertele-tele dalam sajak.

Baik, saya kenalkan. Basangalas terletak di kaki bukit Lempuyang, Abang. Susuan terletak di pinggir kota Karangasem. Basangalas adalah asal ayah dan ibu saya, Susuan adalah tempat lahir saya, tempat saya dibesarkan, dan tempat tinggal saya. Memang ada perbedaan makna kosakata yang dituturkan di Basangalas dan di Susuan. Kosakata mel, misalnya.

Di Susuan mel itu sawah. Jika ayah saya mengatakan akan kamel maka ayah saya akan ke sawah. Sedikit berbeda jika paman saya di Basangalas mengatakan akan kamel maka paman saya hendak menuju tempat tinggalnya. Di Basangalas mel adalah ladang dengan hunian tempat tinggal orang berumah tangga yang lengkap terdiri dari bangunan tempat memasak, bangunan tempat tinggal, dan bangunan tempat pemujaan.

Saya mendapatkan kosakata tiya (baca seperti dialog pemeran orang Madura yang terkenal di layar televisi dulu itu: taiye) di Susuan dan di Basangalas, dituturkan ketika belum yakin dengan informasi yang disampaikannya. Biasa saya dengar nyén tiya, kija tiya, apa tiya, dija tiya, atau ngujang tiya.

Kosakata tiya semakna dengan kapa seperti nyén kapa, kija kapa, apa kapa, dija kapa, atau ngujang kapa. Kosakata tiya semakna juga dengan kadén seperti nyén kadén, kija kadén, apa kadén, dija kadén, atau ngujang kadén. Semakna juga kosakata tiya dengan jenenga, maka nyén jenenga, kija jenenga, apa jenenga, dija jenenga, atau ngujang jenenga. Tiya, kapa, kadén, dan jengenga sangat dekat dengan makna entah, entah siapa, entah ke mana, entah di mana, juga entah mengapa.

Saya menduga tiya itu berasal dari kata ta iya: ta adalah entah, iya adalah ia, dia, atau itu, maka nyén tiya (entah siapa dia), kija tiya (entah ke mana dia), apa tiya (entah apa itu), dija tiya (entah di mana dia), dan ngujang tiya (entah mengapa dia).

Selain berusaha menulis sajak dan cerita pendek dengan perbendaharaan bahasa Bali yang saya miliki, sesekali saya menampilkan perbendaharaan kosakata bahasa Bali saya pada akun media sosial saya. Mempunyai teman dengan beragam latar di media sosial, saya berusaha menanggapi mereka, entah serius, entah bercanda, entah juga nyampahin dan nyampahang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika orang bertemu layar beku, tidak bertemu klisat orang.

Ini tidak terlepas dari raos ngémpélin yang kerap digunakan untuk menjebak atau bahkan majengahin. Dengan ruang seperti itu, ada yang memilih tampil dengan ciri penganut aliran Pan Balang Tamak versi kiri atau aliran Pan Bongkling versi kiri, yang diingat cuma versi kurang dan negatifnya. Tentu tidak sedikit juga yang bersikap Pan Balang Tamak versi kanan dan Pan Bongkling versi kanan. Rwa bhinnéda tidak terpisahkan, memang. Anggap daripada tidak mendapatkan tanggapan.

Yang belum saya pahami, setiap perbendaharaan kata saya yang belum menjadi perbendaharaan kata pembaca, kerap dianggap dialek daerah saya, bahkan dianggap idiolek saya, belum diterima untuk memperkaya perbendaharaan kata pembaca. Kamus daring yang ada dan yang paling mudah diakses memang belum menampilkan kosakata yang saya tampilkan dalam tulisan saya. Menjadi-jadilah derita dialek dan idiolek saya.

Kamus mungkin tidak pernah akan menjadi sempurna karena penutur bahasa selalu kreatif dan tanpa henti melakukan terobosan berbahasa. Saya mencatat pada draft email saya tanggal 29 April 2022 kosakata terhenyak belum tercantum dalam KBBI V versi daring, akan tetapi sudah muncul dalam KBBI VI versi daring.

Di antara kosakata yang dianggap dialek bahkan idiolek saya oleh pembaca tulisan saya seperti lempuraan atau mapasah. Lempuraan adalah derita akibat dalam kurun waktu yang boleh dikatakan lama tidak mengirimkan makanan ke alat pencernaan sehingga alat pencernaan menjadi kosong, dan terjadilah kelaparan, lempuraan itu. Lalu mapasah itu nénten matedung, akibat mapasah maka derita yang ditanggung adalah diguyur hujan dan diterpa sinar matahari.

Saya sangat tidak berharap dialek atau idiolek tidak dialamatkan kepada saya jika ada yang terbiasa dengan cingak tiyang atau pireng tiyang, sementara saya terbiasa dengan ton tityang, tonin tityang, dingeh tiyang, atau piragin tityang. Jika terjadi juga, ya sudahlah.

Apa pun kendala yang ada, saya terus berusaha menampilkan kosakata bahasa Bali yang menghuni kepala saya, meski saya sempat mendapat teguran di tiktok akibat saya menampilkan komentar buwung. Saya tidak memilih buwung, tidak memilih buwung payu, tidak juga payu buwung, maka saya tidak mamuwung. Saya memilih payu, maka saya mamayu untuk bahasa Bali. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balidialek baliidiolek balikarangasem
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co