8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Hafis Azhari by Hafis Azhari
January 14, 2024
in Cerpen
Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Ilustrasi tatkala.co | Sumber lukisan karya Kabul Suasana

ADA empat pohon mangga yang sedang ditanam istri saya sore ini. Tiga pohon sudah berhasil ditanam di pekarangan rumah, namun ketika hari mulai gelap ia memutuskan untuk menanam satu pohon lagi besok pagi, setelah terbitnya matahari. Ia mencuci tangannya di bawah pancuran air keran yang terpasang di kamar mandi. Saya menyuruh petukang untuk membuatkan dua pancuran air, yang satu untuk mengisi bak mandi, satunya lagi di samping bak agar memudahkan kami mencuci atau membersihkan sesuatu dari pancuran air tersebut.

Setelah isya, istri saya menyediakan hidangan makan malam, kemudian kami sekeluarga berkumpul di sekitar meja makan. Kedua puteri saya, Adiba dan Alena sudah duduk seraya berdoa sambil tertawa-tawa saling berlomba siapa di antara mereka yang lebih fasih membaca doa sebelum makan. Istri saya menegur mereka agar duduk dengan sopan saat berdoa, “Karena Tuhan akan mencintai hamba-Nya yang lebih serius berdoa, daripada orang yang bercanda seolah-olah mempermainkan doa.”

Alena membela diri bahwa ia memang bercanda, tetapi ia tak berniat mempermainkan doa, apalagi mempermainkan Tuhan. Meskipun kakaknya, Adiba berusaha menengahi bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, terlebih kepada hamba-Nya yang mau berdoa sebelum dan sesudah makan. Akhirnya, saya pun menyarankan mereka agar menghabiskan makanannya, terutama Alena yang seringkali menyisakan makanan di piring. Tapi malam ini, tampaknya ia makan dengan lahapnya hingga tak menyisakan sisa makanan sedikit pun.

Ketika mereka sedang belajar di kamar, istri saya menatap mata saya dengan sorotan tajam, “Ada apa, Pah?” tanyanya kemudian.

“Ke sini sebentar, Mah!” Saya mengajaknya menuju sofa ruang tamu, dan kami pun duduk berdampingan.

“Ada apa sih? Sepertinya Papah serius banget tadi di meja makan?”

Saya menatap matanya, kemudian berbisik pelan, “Mah, apa yang akan kita lakukan kalau malam ini adalah malam terakhir kita?”

“Maksudnya?”

“Malam ini akan datang kiamat, Mah,” kata saya.

“Ah, Papah ada-ada saja,” balasnya tak acuh sambil mengamit pot bunga dan membetukan dahan kawat yang melenggkung.

“Saya serius, Mah, malam ini akan datang kiamat,” tegas saya lagi.

“Ah, dari mana Papah tau?”

“Serius Mah, malam ini!”

Sorot mata istri saya mulai berkaca-kaca. Ia menghela nafas dalam-dalam. “Tapi saya enggak dengar kabar apa-apa?”

Ia menghilang sebentar ke dapur, membuatkan dua cangkir teh, kemudian kembali duduk di sofa tanpa suara. Cahaya lampu agak berkedap-kedip, lalu Adiba berteriak dari kamar menanyakan pada ibunya. Seketika saya menjawab, bahwa tegangan listriknya mungkin sedang menurun. “Sebentar lagi juga terang kembali, Sayang,” kata saya menenangkan. Istri saya menatap lampu dengan perasaan waswas.

“Papah serius, malam ini?” ujarnya.

“Ya,” kata saya mengangguk.

“Lalu, apa yang harus kita persiapkan, Pah? Apakah kita perlu telepon saudara-saudara kita sekarang?”

“Saya kira tidak perlu.”

“Apakah akan ada bom hidrogen? Apakah gara-gara perang antara Israel dan Palestina?”

“Bukan,” kata saya menggeleng, “Ini memang sudah waktunya akhir zaman.”

“Semacam tutup buku di Lauhul Mahfudz, begitu?”

“Kurang lebih seperti itu,” kata saya dengan tatapan menerawang.

“Ah, saya enggak paham, Pah.”

“Sama, saya juga enggak paham. Saya cuma merasakan saja. Kadang perasaan ini membuat saya takut… tapi, anehnya kadang juga membuat hati merasa tentram.”

Saya melangkah pelan menuju pintu kamar, menoleh ke dalam untuk memastikan kedua puteri saya sedang belajar. Rambut Alena yang nampak agak pirang, sudah memanjang melewati bahu dengan warna berkilauan di bawah sinar lampu 20 watt. Saya kembali ke sofa sambil merendahkan suara, “Mah, sekarang Papah mau bilang, bahwa tanda-tandanya sudah saya rasakan sejak seminggu lalu.”

“Maksud Papah?”

“Saya mimpi munculnya suara melengking seperti terompet raksasa yang ditiup oleh laki-laki berjubah putih, dengan tubuhnya yang tinggi dan besar.”

“Mungkin itu yang dimaksud Malaikat Israfil?”

“Suara itu mengisyaratkan bahwa semua yang ada di muka bumi ini akan hancur dan binasa. Tadinya saya enggak mempedulikan mimpi itu, tapi ketika paginya saya berangkat mengajar ke sekolah, tiba-tiba Pak Supadilah wali kelas tiga A bercerita di kantor guru, bahwa dia telah bermimpi sama dengan apa yang saya mimpikan. Jadi, mimpi dia itu persis sama, khususnya mengenai jenis terompetnya, ciri-ciri peniupnya, pakaiannya, bahkan bentuk kehancuran yang disaksikannya.”

“Setelah terompet itu ditiup?”

“Ya, persis sekali.”

Kami terdiam sejenak, lalu lanjut saya, “Siang harinya, ketika saya keluar kelas sehabis mengajar, saya berpapasan dengan Ibu Irawaty yang habis mengajar di kelas dua C, tampaknya dia diam saja ketika saya sapa, lalu saya mengajaknya duduk-duduk di bangku panjang untuk menanyakan ada masalah apa. Tiba-tiba dia membuka mulutnya, lalu menceritakan mimpi yang sama dengan apa yang kami mimpikan. Saya tak habis pikir, sebab dia pun bicara tentang terompet, tentang manusia raksasa yang berjubah putih, bahkan bentuk lengkingan terompet itu pun sama saja. Lalu, saya menduga, barangkali banyak orang-orang yang bermimpi sama, hanya mereka enggak mau menceritakannya seperti Ibu Irawaty dan Pak Supadilah.”

“Jadi, Papah percaya dengan mimpi itu?” ulang istri saya, sambil menatap lampu yang beberapa kali berkedip.

“Saya yakin malam ini, Mah. Tanda-tandanya sudah jelas sekali.”

Istri saya menggeser posisi duduknya, lebih mendekat ke arah saya. “Kira-kira jam berapa, Pah?”

“Ini malam apa, Mah?” tanya saya spontan.

“Malam Jumat.”

“Mungkin beberapa saat setelah jam duabelas malam.”

“Jadi, begitu di mimpi Papah? Ada kabar mengenai waktunya?”

“Tidak,” kata saya menggeleng. “Di mimpi itu suasananya gelap sekali, kemungkinan besar di sekitar jam-jam itu. Jadi, malam ini di wilayah Indonesia, Asia dan sekitarnya, lalu menyusul wlayah-wilayah lainnya. Prosesnya kira-kira memakan waktu duapuluh empat jam.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan malam ini, Pah? Apakah Adiba dan Alena perlu diberitahu sekarang juga?”

“Ssst, jangan, nanti mereka panik… lebih baik kita hadapi saja bersama-sama, apa yang akan terjadi malam ini.”

Kami duduk duduk dalam diam, suasana hening dan senyap. Saya mengambil cangkir dan menghirup teh yang sudah mendingin. Istri saya menoleh sebentar untuk memastikan apakah kedua puteri kami sudah tidur.

“Apakah kita pantas mendapatkan kehancuran ini, Pah?”

“Bukan soal pantas atau tidak pantas, masalahnya ini sudah akhir zaman, sudah ketentuan Tuhan. Seperti halnya Alena yang jatuh dari pohon jambu dua bulan lalu. Diterima atau tidak diterima, kejadian itu sudah menjadi catatan-Nya di sana,” kata saya menunjuk ke atas.

“Tapi dalam beberapa hari ini, hampir tidak ada siaran teve yang menayangkan akan datangnya kiamat?”

“Untuk apa memberitakan sesuatu yang belum terjadi? Misalnya, kejadian tsunami beberapa tahun lalu di perairan Aceh atau di Selat Sunda, toh malam harinya enggak ada kabar apa-apa, tapi pagi harinya tiba-tiba terjadi begitu saja, kun fayakun?”

“Lalu, bagaimana dengan Dajjal, dan datangnya Imam Mahdi?”

“Saya kira, itu semacam metafora atau simbol yang dibuat untuk diwujudkan ke dalam teks hadis atau kitab suci, tapi boleh jadi sosok-sosok perusak itu memang sudah ada, begitu pun sosok-sosok penegak kebenaran dan keadilan. Tapi, entah di mana tempatnya dan siapa orangnya, mungkin kita tidak melihatnya. Sedangkan simbolisasi Dajjal bermata satu itu identik dengan pemikiran manusia dengan perspektif tunggal, ketika banyak orang menghendaki agar setiap manusia berkiblat dalam satu peradaban dunia, sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dikehendakinya.”

“Semacam Ka’bah, begitu?”

“Bukan, kalau Ka’bah memang dari wahyu Tuhan, tapi kiblat yang dikehendaki Dajjal lahir dari ambisi dan obsesi manusia sendiri.”

“Kenapa mereka tega melakukan perbuatan sekejam ini, Pah?”

“Masalahnya, mereka juga berbuat atas dasar kebanaran.”

“Ini pembenaran, bukan kebenaran,” kata istri saya jengkel.

“Ya, saya setuju, tapi mereka berbuat atas dasar keyakinan mereka.”

“Omong kosong, saya kira ini cuma nafsu eksplorasi yang tak mau direm oleh mereka. Semacam hawa nafsu yang tak mau mereka kendalikan…”

“Padahal tidak semua yang sanggup terjangkau oleh kecerdasan otak, boleh semua-maunya mereka lakukan,” sambung saya lagi.

“Ya, padahal mereka juga manusia yang dibekali pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.” Ia terdiam sejenak, dan lanjutnya, “Lalu, mengenai jebolnya tembok pembatas, munculnya Ya’juj dan Ma’juj yang berbaur dengan umat manusia?” 

“Itu juga metafora di dalam Alquran. Apakah jebolnya tembok dan penyatuan manusia itu identik dengan jebolnya Tembok Berlin dan bersatunya Jerman Barat dan Timur, ataukah Tembok China yang tak ada batasan lagi, ataukah bersatunya Korea Selatan dan Korea Utara? Ataukah justru bertemunya Israel dan Palestina berikut runtuhnya batas-batas yang memisahkannya. Saya kira, di seluruh dunia sudah tidak ada batasan lagi antara orang beriman dan kafir, muslim dan musyrik, theis dan atheis, termasuk yang liberal maupun yang religius. Sekarang, semuanya sudah menyatu dan berbaur di sekeliling kita.”

“Lalu, munculnya binatang melata atau dabbah dari perut bumi?”

“Mah,” kata saya mengingatkan, “bukankah virus corona berikut varian-variannya beberapa tahun terakhir, ini adalah fakta yang baru kali ini terjadi dalam sejarah, suatu penyakit bisa mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia di seluruh permukaan bumi ini. Juga negara kita kewalahan menanganinya, bahkan saudara-kerabat, dan keluarga kia pun merasakannya.”

Saya mengelus-elus bahu istri saya yang sedang menatap pintu kamar dengan tatapan yang mencekam, “Apakah kamu takut?” tanya saya kemudian.

Ia pun menggeleng, “Enggak, saya hanya lebih fokus memikirkan anak-anak ketimbang diri saya sendiri. Kalau dulu saya merasa takut dengan kematian, tapi setelah berbaring tujuh minggu di rumah sakit waktu terkena Covid-19 lalu, persepsi saya tentang mati sudah berubah.”

“Tapi, bukan berarti menantang Tuhan, kan?”

“Sama sekali tidak.”

Kami terdiam dalam suasana khidmat, kemudian kata saya, “Bagaimanapun kita harus siap menghadapi keputusan Tuhan, dalam situasi apapun.”

“Ya,” balas istri saya dengan tatapan menerawang, “melihat kenyataan hidup di sekeliling kita, bahkan di seluruh dunia saat ini, sepertinya cukup logis jika hal ini memang harus terjadi.”

“Tapi hidup kita selama ini baik-baik saja, kan?”

“Ya,” jawab istri saya, “tampaknya hidup kita biasa-biasa saja. Dalam hal-hal tertentu justru lebih baik daripada rumah-tangga orang lain. Kita juga tidak melakukan hal-hal yang berisiko tinggi untuk melanggar peraturan agama, maupun kejahatan kemanusiaan. Sementara, banyak orang, atau rumah-tangga lain yang tergopoh-gopoh ingin mengubah hidup mereka menjadi luar biasa.”

Kedua puteri kami ternyata belum tidur. Waktu sudah menunjukkan Pk. 21.30 malam. Di kamar mereka sedang memainkan balok-balok plastik yang disusun hingga meninggi. Kadang balok-balok itu dibiarkan berdiri tegak dalam susunan yang rapi, sampai kemudian keesokan paginya mereka robohkan kembali untuk dimasukkan ke wadah plastik.

“Kadang saya membayangkan, ketika muncul suara sangkakala yang disusul dengan kerusakan di sana-sini, lalu orang-orang tentu akan berhamburan keluar rumah sambil berteriak-teriak histeris di sepanjang jalan.”

“Saya kira itu cuma imajinasi dalam film saja,” tegur saya. “Kalau kehancuran itu terjadi seketika, dan suasananya sedemikian parah, orang-orang sudah tidak sanggup lagi berteriak. Mereka hanya menerima apa adanya.”

Saya duduk tengadah, menarik nafas panjang dan menatap jam dinding yang sudah menunjukkan Pk. 22.15. Istri saya menyingkap hordeng dan melongok keluar jendela yang gelap. Kedua puteri kami sudah tidur, lalu saya mengecup kening mereka satu persatu. Saya memeluk istri di ruang depan dalam posisi berdiri, kemudian berkata sambil berbisik, “Kita hadapi saja bersama-sama. Jika memang benar-benar terjadi malam ini, yakinlah bahwa ini adalah hal terbaik yang Allah putuskan.”

“Tapi, apa yang harus kita persiapkan, Pah? Menurut kiai ini kita harus baca ini, menurut ulama itu, kita harus baca itu. Lalu, mana di antara pendapat mereka yang benar, paling tidak mendekati kebenaran, hingga kita sanggup menyelamatkan diri atas pertolongan Tuhan?” kata istri saya semakin tegang.

“Saya kira para ulama maupun pendeta bermaksud baik, mereka hanya berbeda dalam soal menafsirkan wahyu Tuhan. Tapi pilihan yang tepat saat ini, sebaiknya kita percayakan sepenuhnya pada kekuasaan Allah Yang Menggenggam dan Merawat alam raya ini. Dia Maha Pengasih dan Penyayang. Yakinlah, bahwa sifat Penyayang Allah kepada hamba-Nya akan melebihi sifat-sifat lainnya. Mustahil Dzat Yang Penyayang itu akan berlaku zalim kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya.”

Kami terdiam sejenak, dan sambung saya, “Kalau ada kesepakatan ahli-ahli agama untuk melakukan yang terbaik, tentu malam ini seluruh manusia di dunia akan melakukan hal yang sama. Tapi, memang inilah yang pertama kali dalam sejarah manusia, di mana semua orang sedang melakukan apa yang terbaik menurut keyakinan masing-masing.”

“Saya jadi penasaran, apa yang sedang dilakukan orang-orang malam ini, selama beberapa jam ke depan.”

“Apapun yang dilakukan orang-orang di luar sana, malam ini sebaiknya kita matikan teve, ponsel, dan semua jenis elektronik yang mengeluarkan suara.”

“Oo iya, saya harus tutup rapat air keran dulu. Sepertinya masih ada suara air yang keluar,” istri saya menuju kamar mandi, lalu muncul lagi sambil bertanya, “Lalu, kenapa harus malam ini, Pah? Kenapa bukan suatu malam di tahun lalu, seabad lalu, atau sepuluh abad lalu?”

 “Mungkin karena tidak ada tanggal 19 Januari 2024 di abad-abad sebelumnya. Tapi sekarang, tanggal itu membawa petaka yang sebentar lagi akan menghancurkan dunia dan seisinya.”

 “Bagaimana kalau kita salat tahajud bersama di ruangan ini, Pah, sementara kita biarkan anak-anak tidur di kamar?”

“Saya kira itu pilihan yang terbaik,” sambut saya.

Kini, waktu sudah menunjukkan Pk. 23.24. Istri saya menyisakan sedikit celah dan tidak menutup kamar anak rapat-rapat. Barangkali, supaya kami bisa mendengar suara mereka jika memanggil-manggil orang tuanya.

Saya membayangkan, bahwa malam ini, orang-orang di seluruh dunia sedang menghabiskan menit-menit terakhir dalam hidup mereka, dengan caranya masing-masing. Bahkan, masing-masing tokoh agama pasti menjatuhkan pilihan terbaik sesuai dengan keyakinan mereka yang berbeda-beda.

Apa yang bisa kami lakukan, setelah melaksanakan salat tahajud adalah duduk berdampingan sambil berpegangan tangan di samping pembaringan kedua puteri kami. Menit demi menit, bahkan detik demi detik sudah hampir mendekati Pk. 24.00. Istri saya semakin erat menggenggam kedua telapak tangan saya.

Ketika detik terakhir mendekati Pk. 24.00, tiba-tiba keluar suara dari mulut istri saya, “Pah, ingatkan saya, ada satu lagi pohon mangga yang siap ditanam di pekarangan rumah kita.”

“Kapan pohon mangga itu mau ditanam, Sayang?”

“Besok, setelah matahari terbit.”

Dan saya pun memeluk istri saya sambil tersenyum. [T]

  • Baca CERPEN-CERPEN lain tatkala.co
Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Next Post

Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha

Hafis Azhari

Hafis Azhari

Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co