23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
January 14, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

GERILYA para politisi untuk mendekati masyarakat di masa-masa menjelang pemilihan pimpinan daerah tampak semakin massif. Bujuk rayu mereka dalam berbagai simakrama untuk mendapatkan simpati dan dukungan para pemilih semakin gencar dilakukan.

Di zaman transaksional seperti sekarang, mendengarkan para politisi sama dengan membagi waktu di tengah berbagai kesibukan. Oleh sebab itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap masyarakat yang telah menjadi pendengar yang baik, apalagi mereka yang mumpuni memberi puja-puji, dan tepuk tangan meriah ketika simakrama berlangsung, biasanya diapresiasi oleh para politisi.

Wujud penghargaan dari para politisi itu bisa dinikmati baik secara kolektif maupun jatuh ke tangan-tangan individu. Intinya, berbeda yang didekati, berbeda pula yang menikmati.

Jika yang didekati bagian dari pimpinan-pimpinan masyarakat seperti kelihan, bendesa, dan orang-orang yang berpengaruh lainnya dengan cara formal, maka bentuk apresiasi akan dilimpahkan demi kepentingan publik. Bentuknya bisa berupa pemberian bantuan terhadap pembangunan suatu pura, renovasi wantilan atau balai banjar, dan biaya penyelenggaraan upacara yadnya.

Jika masyarakat telah terlanjur melakukan kebulatan tekad untuk memilih suatu calon, maka tertutuplah kesempatan bagi politisi lain untuk masuk secara formal ke desa-desa yang menjadi incaran. Akan tetapi, hal itu tidaklah menghentikan berbagai usaha para politisi untuk menembus desa-desa yang meskipun telah menyatakan briuk sapanggul, bah bedeg, kerik tingkih ‘tekad seratus persen mendukung” untuk memenangkan satu calon. Mereka seperti angin yang bisa memasuki berbagai celah. Tertutup celah formal, maka mereka akan mendobrak celah personal.

Apabila yang didekati adalah golongan personal maka apresiasi akan dinikmati oleh perorangan. Bentuknya bisa iming-iming pekerjaan bagi sanak saudara, sampai pada hal-hal yang pragmatis berupa uang. Baju kaos dan stiker sudah biasa!

Agaknya telah menjadi semacam “kesepakatan maya” di antara para oknum politisi itu dengan masyarakat bahwa mereka memberi untuk menerima. Meskipun sejatinya tak semua politisi melakukan hal ini, pun tak semua masyarakat rela dikerdilkan harga dirinya demi menerima uang yang bisa habis dalam sehari.Menerima pemberian para politisi dengan tagihan suara pada saat pemilu tanpa disadari adalah bentuk-bentuk kecil dari politik transaksional.

Untuk memahami konsekuensi dari sikap politik seperti itu, kita harus belajar dari Kakawin Bharatta Yuddha khususnya salampah laku Krisna dan Salya. Kedua tokoh itu memiliki perbedaan sikap politik sehingga menerima konsekuensi yang tidak sama dalam perang Bharatta Yuddha.

Barangkali belum banyak yang tahu bahwa ketika Krisna menjadi duta Panca Pandawa untuk melakukan konsolidasi di Hastina Pura, Ia dijamu secara besar-besaran oleh Korawa. Mereka mempersembahkan emas, permata, dan berbagai sajian makanan untuk menyambut Raja Yadu itu.

Meski hatinya senang melihat aneka sambutan dari raja Hastina, Krisna tidak menerima sedikitpun persembahan itu. Mengetahui penolakan tersebut, Duryodana segera menghardik Krisna dengan menyatakannya sebagai seseorang yang beretika buruk karena tidak mau menerima emas, permata, dan aneka sajian yang telah dihidangkannya.

Menyikapi hardikan Duryodana, Krisna menjawab “sebagai duta, pantang untuk menerima persembahan sebelum tujuan tercapai. Mengambil persembahan sebelum purna tugas, sama dengan memakan racun (apan mamukti wisya rakwa na siddhakarya)!

Walaupun tanpa sengaja, “racun” itulah yang diteguk oleh Salya ketika menerima berbagai jamuan yang diberikan oleh para Korawa dalam perjalanan menuju Kuruksetra. Salya tidak cermat ketika ajakan masuk ke perjamuan dilakukan dengan penuh sopan santun oleh Duryodana. Ia mengira, persembahan itu adalah bagian dari prosesi penyambutan yang dilakukan oleh Panca Pandawa kepadanya. Konsekuensi menerima sambutan itu menyebabkan pilihan yang sulit bagi Raja Madra. Ia yang seharusnya berpihak kepada Panca Pandawa karena merupakan paman dari Nakula-Sahadewa, terpaksa bertempur dengan keponakannya sendiri di medan perang.

Apa sesungguhnya yang hilang sebagai akibat dari penerimaan segala kenikmatan semu politik transaksional menjelang perebutan kekuasaan? Menurut Raja Salya dalam salah satu dialognya dengan Nakula, ia kehilangan kemahardikaan jiwa. Mahardika berarti jiwa yang bebas seratus persen untuk melakukan pilihan-pilihan dalam hidup sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh. Karena kemahardikaan itu telah ditukar oleh berbagai kenikmatan, di akhir pertemuan rahasianya dengan Nakula

Salya mengatakan “kesaktiannya akan diberikan untuk bertempur di pihak Korawa, tetapi hidupnya akan dipersembahkan kepada Panca Pandawa (śaktingkwiki lĕpasakĕne Hastina Pati, kunang praņnangkwā mah tiki kawĕkase māśku tarimanĕn). Di titik terkstrimnya, tumbal politik transaksional menurut Kakawin Bharatta Yuddha bisa jadi adalah nyawa.

Satu pertanyaan, masih adakah orang yang memiliki kemahaardikaan itu di tengah-tengah situasi politik saat ini?  [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Kata-Kata untuk Pemegang Tahta
Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Tags: Bharatayudacerita wayanggratifikasiGuna Yasakesenian baliMahabharatapewayanganPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Next Post

Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co