2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
January 14, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

GERILYA para politisi untuk mendekati masyarakat di masa-masa menjelang pemilihan pimpinan daerah tampak semakin massif. Bujuk rayu mereka dalam berbagai simakrama untuk mendapatkan simpati dan dukungan para pemilih semakin gencar dilakukan.

Di zaman transaksional seperti sekarang, mendengarkan para politisi sama dengan membagi waktu di tengah berbagai kesibukan. Oleh sebab itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap masyarakat yang telah menjadi pendengar yang baik, apalagi mereka yang mumpuni memberi puja-puji, dan tepuk tangan meriah ketika simakrama berlangsung, biasanya diapresiasi oleh para politisi.

Wujud penghargaan dari para politisi itu bisa dinikmati baik secara kolektif maupun jatuh ke tangan-tangan individu. Intinya, berbeda yang didekati, berbeda pula yang menikmati.

Jika yang didekati bagian dari pimpinan-pimpinan masyarakat seperti kelihan, bendesa, dan orang-orang yang berpengaruh lainnya dengan cara formal, maka bentuk apresiasi akan dilimpahkan demi kepentingan publik. Bentuknya bisa berupa pemberian bantuan terhadap pembangunan suatu pura, renovasi wantilan atau balai banjar, dan biaya penyelenggaraan upacara yadnya.

Jika masyarakat telah terlanjur melakukan kebulatan tekad untuk memilih suatu calon, maka tertutuplah kesempatan bagi politisi lain untuk masuk secara formal ke desa-desa yang menjadi incaran. Akan tetapi, hal itu tidaklah menghentikan berbagai usaha para politisi untuk menembus desa-desa yang meskipun telah menyatakan briuk sapanggul, bah bedeg, kerik tingkih ‘tekad seratus persen mendukung” untuk memenangkan satu calon. Mereka seperti angin yang bisa memasuki berbagai celah. Tertutup celah formal, maka mereka akan mendobrak celah personal.

Apabila yang didekati adalah golongan personal maka apresiasi akan dinikmati oleh perorangan. Bentuknya bisa iming-iming pekerjaan bagi sanak saudara, sampai pada hal-hal yang pragmatis berupa uang. Baju kaos dan stiker sudah biasa!

Agaknya telah menjadi semacam “kesepakatan maya” di antara para oknum politisi itu dengan masyarakat bahwa mereka memberi untuk menerima. Meskipun sejatinya tak semua politisi melakukan hal ini, pun tak semua masyarakat rela dikerdilkan harga dirinya demi menerima uang yang bisa habis dalam sehari.Menerima pemberian para politisi dengan tagihan suara pada saat pemilu tanpa disadari adalah bentuk-bentuk kecil dari politik transaksional.

Untuk memahami konsekuensi dari sikap politik seperti itu, kita harus belajar dari Kakawin Bharatta Yuddha khususnya salampah laku Krisna dan Salya. Kedua tokoh itu memiliki perbedaan sikap politik sehingga menerima konsekuensi yang tidak sama dalam perang Bharatta Yuddha.

Barangkali belum banyak yang tahu bahwa ketika Krisna menjadi duta Panca Pandawa untuk melakukan konsolidasi di Hastina Pura, Ia dijamu secara besar-besaran oleh Korawa. Mereka mempersembahkan emas, permata, dan berbagai sajian makanan untuk menyambut Raja Yadu itu.

Meski hatinya senang melihat aneka sambutan dari raja Hastina, Krisna tidak menerima sedikitpun persembahan itu. Mengetahui penolakan tersebut, Duryodana segera menghardik Krisna dengan menyatakannya sebagai seseorang yang beretika buruk karena tidak mau menerima emas, permata, dan aneka sajian yang telah dihidangkannya.

Menyikapi hardikan Duryodana, Krisna menjawab “sebagai duta, pantang untuk menerima persembahan sebelum tujuan tercapai. Mengambil persembahan sebelum purna tugas, sama dengan memakan racun (apan mamukti wisya rakwa na siddhakarya)!

Walaupun tanpa sengaja, “racun” itulah yang diteguk oleh Salya ketika menerima berbagai jamuan yang diberikan oleh para Korawa dalam perjalanan menuju Kuruksetra. Salya tidak cermat ketika ajakan masuk ke perjamuan dilakukan dengan penuh sopan santun oleh Duryodana. Ia mengira, persembahan itu adalah bagian dari prosesi penyambutan yang dilakukan oleh Panca Pandawa kepadanya. Konsekuensi menerima sambutan itu menyebabkan pilihan yang sulit bagi Raja Madra. Ia yang seharusnya berpihak kepada Panca Pandawa karena merupakan paman dari Nakula-Sahadewa, terpaksa bertempur dengan keponakannya sendiri di medan perang.

Apa sesungguhnya yang hilang sebagai akibat dari penerimaan segala kenikmatan semu politik transaksional menjelang perebutan kekuasaan? Menurut Raja Salya dalam salah satu dialognya dengan Nakula, ia kehilangan kemahardikaan jiwa. Mahardika berarti jiwa yang bebas seratus persen untuk melakukan pilihan-pilihan dalam hidup sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh. Karena kemahardikaan itu telah ditukar oleh berbagai kenikmatan, di akhir pertemuan rahasianya dengan Nakula

Salya mengatakan “kesaktiannya akan diberikan untuk bertempur di pihak Korawa, tetapi hidupnya akan dipersembahkan kepada Panca Pandawa (śaktingkwiki lĕpasakĕne Hastina Pati, kunang praņnangkwā mah tiki kawĕkase māśku tarimanĕn). Di titik terkstrimnya, tumbal politik transaksional menurut Kakawin Bharatta Yuddha bisa jadi adalah nyawa.

Satu pertanyaan, masih adakah orang yang memiliki kemahaardikaan itu di tengah-tengah situasi politik saat ini?  [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Kata-Kata untuk Pemegang Tahta
Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Tags: Bharatayudacerita wayanggratifikasiGuna Yasakesenian baliMahabharatapewayanganPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari

Next Post

Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Ramai-ramai Menanam Pohon di Blimbingsari, Jembrana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co