23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
August 20, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MULUT adalah gerbang kesehatan dan kesakitan. Melalui mulut, berbagai makanan yang penuh nutrisi masuk untuk diolah menjadi sumber tenaga. Demikian pula sebaliknya, melalui mulut pula berbagai kuman dan virus masuk sehingga menjadi sumber penyakit yang menyebabkan manusia menderita.

Berangkat dari kesadaran dwifungsi mulut itulah para tetua Bali yang suntuk mempelajari tubuh kemudian mengembangkan berbagai sistem pengetahuan tentang makanan. Sistem pengetahuan tentang cara makan dan makanan itu menyusup dalam berbagai warisan lontar Bali. Tak jarang, dalam karya-karya sastra yang bertema kadyatmikan, etik tentang makanan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Pantangan Mandi sebelum Makan

Hal itu misalnya dapat dilihat dalam Geguritan Loda yang diduga karya I Gusti Ngurah Made Agung. Meski mengulas tentang fungsi mistis aksara dan wangsit kadyatmikan yang disebut sapta weci, karya sastra ini pada bagian akhir juga memuat dimensi tentang etika makan. Hal itu dapat dilihat pada petikan bawah ini.    

Yadin soroh matoh-tohan, yan twah siddha masih punggĕl-punggĕlin, ĕda ngamah yan tonden manjus, masih ulahang pisan, bratayang pilihin i camah campur, nda nginĕm ne mamunyahin. (Geguritan Loda, Pupuh Pangkur I: 3).

Petikan di atas selain menyarankan agar seseorang mengontrol diri ketika berjudi, juga menyarankan agar pembacanya tidak makan sebelum mandi termasuk memilih makanan yang kotor dan bersih serta memabukkan. Kenapa mandi sebelum makan? Jawabannya tidak sulit. Tentu agar tubuh manusia bersih dan higienis.

Di luar alasan kehigienisan, genetika pemikiran tidak boleh makan sebelum mandi ini tampaknya bersumber dari pustaka Adi Parwa. Dalam karya sastra itu dijelaskan bahwa sebelum Garuda memberikan tirta amerta kepada para ular untuk menebus perbudakan ibunya, putra dewi Winata itu menyuruh kawanan ular untuk mandi terlebih dahulu. Meski akhirnya para ular hanya mendapat percik tirta amerta yang menetes di ujung ilalang, fragmen ini ternyata dijadikan laku etik dalam karya-karya sastra yang lebih muda.

Hal yang senada juga disampaikan dalam pustaka Aji Brata. Pantangan untuk mandi atau setidaknya mencuci wajah sebelum makan dalam pustaka itu disebut dengan brata asuci laksana.

bratā aśuci lakşańā, nga, tan pamangan yan durung ararawup, alĕlĕnga. Pha, apĕkik rĕngan, sapari polahing ngabrātā, lĕwasing rambut, asĕdhĕping pāngucap, mwang rūpā (Lontar Brata, 16a).

            Terjemahan.

Brata Asuci Laksana artinya tidak makan apabila belum mencuci wajah, dan meminyaki rambut. Pahalanya, wajah menjadi rupawan dalam melaksanakan berbagai brata, rambut halus, dan ucapan serta wajah yang manis.

Menyimak penjelasan pustaka lontar Aji Brata di atas, kita mendapatkan pesan untuk senantiasa menjaga kehigienisan diri sebelum makan. Tidak hanya mencuci wajah, persiapan sebelum makan di atas juga dilengkapi dengan meminyaki rambut. Pustaka itu menjanjikan pahala berupa wajah yang rupawan, rambut halus, dan ucapan serta wajah yang manis bagi orang yang melakukan brata asuci laksana. Intinya, makanan yang dimaknai sama dengan amerta yang suci, juga mesti disambut dengan kesucian diri.

Sikap Ketika Makan

Kehigienisan yang ditekankan dua pustaka di atas dilengkapi dengan uraian etika makan yang ngamertanin dalam lontar Suptaprana. Pustaka tersebut menyatakan bahwa seseorang yang ingin mendapatkan amerta “manfaat” dan bukan wisya “penyakit” dari makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, mereka disarankan menghadap ke arah timur dengan sikap bersila ketika makan.

Setelah selesai makan, orang tersebut juga tidak diperkenankan langsung mencuci tangan di wadah makanan yang digunakan karena hal itu sama dengan mengusir Sang Hyang Amerta (nundung amertha). Tangan pun tidak boleh langsung dibersihkan, melainkan mesti dioleskan dulu ke telapak kaki sebagai usaha untuk angunci merta ‘mengunci amretha’. Setelah itu, barulah tangan bisa dicuci. Yang terakhir ini penting dipertimbangkan dalam konteks kekinian.

Di luar sikap bersila yang menghadap ke timur, pustaka Suptaprana juga menyatakan sejumlah sikap yang tidak boleh dilakukan ketika makan. Pertama, tidak boleh aboret yang artinya makan sambil berjalan. Kedua, tidak boleh anugtih yang artinya makan sambil melentangkan kaki dan melilitkannya. Ketiga, tidak boleh angloklok yang artinya makan sambil jongkok. Keempat, tidak boleh nglaler yang artinya makan sambil berdiri. Kelima, tidak boleh ngamah yang artinya makan sambil tidur. Sekali lagi, semua pantangan tersebut dilakukan agar makanan yang masuk ke tubuh kita dapat memberi daya hidup alias ngamertanin.

Itulah berbagai sikap yang tidak dianjurkan ketika makan. Berbagai istilah tentang makanan yang berbeda di atas ternyata membungkus fitur makna yang tidak sama. Hanya orang yang bersila dengan menghadap ke arah timur saja yang diyakini akan mendapatkan anugerah amerta.

Hari Kelahiran dan Pantangan Makanan

Tidak hanya berhubungan dengan larangan atas sikap-sikap tertentu, pustaka Pawetuan Jadma Ala Ayu[i] juga menguraikan relasi antara hari lahir dan jenis makanan yang dianjurkan untuk tidak dikonsumsi. Singkatnya, setiap hari tertentu memiliki pantangan makanannya masing-masing. Dampak buruk yang terjadi apabila hal tersebut dilanggar adalah munculnya berbagai penyakit dan memperparah penyakit yang sebelumnya diderita seseorang.

Apabila seseorang lahir pada hari Minggu, ia tidak boleh memakan ikan julit dan hiu yang hidup di laut. Sementara itu, sayur yang pantang dimakan adalah blego dan labu. Apabila itu dilanggar, sejumlah penyakit akan semakin parah. Penyakit itu adalah panas tinggi, gelisah, lesu, sakit mata, sakit kepala seperti lempuyengan, sakit kepala yang keras, pinggang kaku hingga kaki, dan tak akan sembuh-sembuh (Nuju radete mdhal, tong dadi mangan be julit, miwah kakya ring sgarā, jangane blego walu, yanning to ya purugang, manguwuhin, sakitthe tka nglabihhang. Stata kabus marapah ngibuk uwon mata sakkit, edan krasa lempuyengan, stata mnadi puruh, bangkyange sakit manajal, kayang batis tong taen ṣeger abulub).  

Selanjutnya, jika seseorang lahir pada hari Senin, ia tidak boleh memakan daging kerbau dan babi belang. Apabila hal itu dilanggar, ia akan selalu menderita sakit perut, lumpuh, koreng parang balang, sering gelisah, setiap persendian terasa nyeri (yan dhi somane lĕkad, ditu bratannyane lwih, tong dadi mangan be kbo, miwah celeng blang iku, yan ṭo bakat puwuk, manguwuhin, stata nyakitthang basang. Rumpuh koreng parang balang ngibuk ngemu hmu sai, sawa bukune malwang).  

Demikian pula, apabila seseorang lahir pada hari Selasa, ia  tidak boleh memakan ikan layur dan daging anjing. Apabila itu dilanggar maka pinggang dan perutnya akan selalu sakit, sakit kepala, rumpuh, koreng, disertai batuk yang semakin parah, disentri, anyang-anyangan, dan diserang oleh penyakit tiwang (ring dina anggara mtu, ĕbe layurre impasang, miwah cicing, hdha pisan mamuwukang. Katuju bakat purugang, bangkyange satata sakit, miwah nyakitthang basang, langu miwah sakit rumpuh, koreng maduluran dhĕkah, mangarigis, mising mutah lalangĕddhan. Miwah yan ba anyang-anyangan, tuju bngenge tan mari, mula twah galakkin ṭiwang). 

Jika seseorang lahir pada hari Rabu, ia tidak boleh mamakan burung dara dan babi. Apalagi daging anjing, patut hindari sekali. Apabila itu dilanggar akan tertimpa demam dan lemas, kaku, sakit tangan sebelah, perut kembung, sesak nafas, dan tidak nafsu makan (yaning ndhi budane mtu, kdhis dharane impasang, miwah bawi, mangan be asu da pisan. Yaning nto ne kapuwukang, sakitthe tka matindhih, purung parang ngbus won, jangkĕl kepek cakĕt luyu, stata baṣangnge bĕngka, ngədhek ati, miwah tong lagĕs madahar). 

Tak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, apabila seseorang lahir pada hari Kamis, ia  tidak boleh makan daging sapi dan ikan hiu serta sudang. Apabila itu dilanggar, ia akan terkena banyak penyakit (komplikasi) yang semakin parah. Penyakit itu seperti sakit perut, mencret, muntah, lempuyengan, gelisah dan sesak, serta sakit di seluruh tubuh dan tak henti-hentinya bersedih, sering terluka, sakit terlihat sehat (ring dina wraspati lĕkad, tong dadi mangan be sampi, miwah be kakya lan sudang, pradene pacang kapurug, dadi sakitnyane katah, manguwuhin, to marĕn nyakitthang basang, mising mutah lĕmpuyĕngan, buduh ibuk ĕnĕk ati, mwah tur nyakitṭang awak, miwah kwan mangantun, sbĕt manah twara pgat, śringan kanin, sakit katpuk abĕh).

Jika seseorang lahir pada Jumat,  ia tidak boleh memakan daging kambing, ayam berwarna kelabu, belut dan sejenisnya. Apabila itu dilanggar maka seluruh tubuh akan sakit, hati buyar, panas gelisah lempuyengan, dan sakit perut serta terkena pamali, koreng, parang tiada henti, gondok gontak, perut kembung, punggung terasa sakit hingga ke pangkal paha. (yanning di sukrane lĕkad, tan wanang mangan be kambing, ayam kalawu lindhung kadangnya, yanning ṭo pacang kapurug, dhadi nyakitthang awak, buyan ati, kbus inguk lĕmpuyĕngan. miwah nyakitṭang basang, ludin dhamənnin pamali, koreng parang twara pgat, gondhong gonṭek, bĕngka  bĕngkul, pundhukke twara tunaan, banya sakit, mnakĕd kaśikśikkan). 

Terakhir, apabila seseorang lahir pada hari Sabtu, ia tidak boleh memakan ular, daging sapi, anjing, dan sisa persembahan dari upacara pangabenan. Sebab sangat pingit. (Di caniscarane lakad, tan wĕnang mangan lalipi, hbe sampine īmpasṣang, maduluran ulam asu, miwah byana pangabennan, dahĕt pingit, cara tingkah papingitan). 

Demikianlah hubungan antara hari kelahiran dengan jenis makanan yang sebaiknya dihindari seseorang berdasarkan pustaka lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu. Dalam konteks kekinian, uraian pustaka tersebut sangat mirip dengan konsep arlergi. Setiap individu sesungguhnya memiliki kecenderungan arlergi terhadap makanan tertentu sehingga ada jenis makanan yang perlu dikurangi dan dihindari. Apabila pantangan tersebut dilanggar maka ia berpotensi menderita jenis penyakit tertentu, bahkan menstimulus penyakit lain yang lebih kronis atau sulit diobati.

Sekali lagi, mulut adalah gerbang kesakitan dan kesehatan. Oleh sebab itu, berbagai etik dan pantangan makanan penting dipertimbangkan agar kelahiran menjadi manusia di dunia tidak sia-sia. Dalam bahasa Ida Padanda Made Sidemen, pangresek jagat.


[i] [i] Naskah ini milik Jero Mangku dari Banjar Kelusa, Payangan. Terima kasih diucapkan kepada Gede Nyana Kusuma dan para Penyuluh Bahasa Bali, Kecamatan Payangan yang telah membantu Pusat Kajian Lontar untuk melakukan digitalisasi di Kecamatan Payangan.

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: Hindu Balikesehatanlontarmakanmakananrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Next Post

Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co