23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
August 20, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MULUT adalah gerbang kesehatan dan kesakitan. Melalui mulut, berbagai makanan yang penuh nutrisi masuk untuk diolah menjadi sumber tenaga. Demikian pula sebaliknya, melalui mulut pula berbagai kuman dan virus masuk sehingga menjadi sumber penyakit yang menyebabkan manusia menderita.

Berangkat dari kesadaran dwifungsi mulut itulah para tetua Bali yang suntuk mempelajari tubuh kemudian mengembangkan berbagai sistem pengetahuan tentang makanan. Sistem pengetahuan tentang cara makan dan makanan itu menyusup dalam berbagai warisan lontar Bali. Tak jarang, dalam karya-karya sastra yang bertema kadyatmikan, etik tentang makanan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Pantangan Mandi sebelum Makan

Hal itu misalnya dapat dilihat dalam Geguritan Loda yang diduga karya I Gusti Ngurah Made Agung. Meski mengulas tentang fungsi mistis aksara dan wangsit kadyatmikan yang disebut sapta weci, karya sastra ini pada bagian akhir juga memuat dimensi tentang etika makan. Hal itu dapat dilihat pada petikan bawah ini.    

Yadin soroh matoh-tohan, yan twah siddha masih punggĕl-punggĕlin, ĕda ngamah yan tonden manjus, masih ulahang pisan, bratayang pilihin i camah campur, nda nginĕm ne mamunyahin. (Geguritan Loda, Pupuh Pangkur I: 3).

Petikan di atas selain menyarankan agar seseorang mengontrol diri ketika berjudi, juga menyarankan agar pembacanya tidak makan sebelum mandi termasuk memilih makanan yang kotor dan bersih serta memabukkan. Kenapa mandi sebelum makan? Jawabannya tidak sulit. Tentu agar tubuh manusia bersih dan higienis.

Di luar alasan kehigienisan, genetika pemikiran tidak boleh makan sebelum mandi ini tampaknya bersumber dari pustaka Adi Parwa. Dalam karya sastra itu dijelaskan bahwa sebelum Garuda memberikan tirta amerta kepada para ular untuk menebus perbudakan ibunya, putra dewi Winata itu menyuruh kawanan ular untuk mandi terlebih dahulu. Meski akhirnya para ular hanya mendapat percik tirta amerta yang menetes di ujung ilalang, fragmen ini ternyata dijadikan laku etik dalam karya-karya sastra yang lebih muda.

Hal yang senada juga disampaikan dalam pustaka Aji Brata. Pantangan untuk mandi atau setidaknya mencuci wajah sebelum makan dalam pustaka itu disebut dengan brata asuci laksana.

bratā aśuci lakşańā, nga, tan pamangan yan durung ararawup, alĕlĕnga. Pha, apĕkik rĕngan, sapari polahing ngabrātā, lĕwasing rambut, asĕdhĕping pāngucap, mwang rūpā (Lontar Brata, 16a).

            Terjemahan.

Brata Asuci Laksana artinya tidak makan apabila belum mencuci wajah, dan meminyaki rambut. Pahalanya, wajah menjadi rupawan dalam melaksanakan berbagai brata, rambut halus, dan ucapan serta wajah yang manis.

Menyimak penjelasan pustaka lontar Aji Brata di atas, kita mendapatkan pesan untuk senantiasa menjaga kehigienisan diri sebelum makan. Tidak hanya mencuci wajah, persiapan sebelum makan di atas juga dilengkapi dengan meminyaki rambut. Pustaka itu menjanjikan pahala berupa wajah yang rupawan, rambut halus, dan ucapan serta wajah yang manis bagi orang yang melakukan brata asuci laksana. Intinya, makanan yang dimaknai sama dengan amerta yang suci, juga mesti disambut dengan kesucian diri.

Sikap Ketika Makan

Kehigienisan yang ditekankan dua pustaka di atas dilengkapi dengan uraian etika makan yang ngamertanin dalam lontar Suptaprana. Pustaka tersebut menyatakan bahwa seseorang yang ingin mendapatkan amerta “manfaat” dan bukan wisya “penyakit” dari makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, mereka disarankan menghadap ke arah timur dengan sikap bersila ketika makan.

Setelah selesai makan, orang tersebut juga tidak diperkenankan langsung mencuci tangan di wadah makanan yang digunakan karena hal itu sama dengan mengusir Sang Hyang Amerta (nundung amertha). Tangan pun tidak boleh langsung dibersihkan, melainkan mesti dioleskan dulu ke telapak kaki sebagai usaha untuk angunci merta ‘mengunci amretha’. Setelah itu, barulah tangan bisa dicuci. Yang terakhir ini penting dipertimbangkan dalam konteks kekinian.

Di luar sikap bersila yang menghadap ke timur, pustaka Suptaprana juga menyatakan sejumlah sikap yang tidak boleh dilakukan ketika makan. Pertama, tidak boleh aboret yang artinya makan sambil berjalan. Kedua, tidak boleh anugtih yang artinya makan sambil melentangkan kaki dan melilitkannya. Ketiga, tidak boleh angloklok yang artinya makan sambil jongkok. Keempat, tidak boleh nglaler yang artinya makan sambil berdiri. Kelima, tidak boleh ngamah yang artinya makan sambil tidur. Sekali lagi, semua pantangan tersebut dilakukan agar makanan yang masuk ke tubuh kita dapat memberi daya hidup alias ngamertanin.

Itulah berbagai sikap yang tidak dianjurkan ketika makan. Berbagai istilah tentang makanan yang berbeda di atas ternyata membungkus fitur makna yang tidak sama. Hanya orang yang bersila dengan menghadap ke arah timur saja yang diyakini akan mendapatkan anugerah amerta.

Hari Kelahiran dan Pantangan Makanan

Tidak hanya berhubungan dengan larangan atas sikap-sikap tertentu, pustaka Pawetuan Jadma Ala Ayu[i] juga menguraikan relasi antara hari lahir dan jenis makanan yang dianjurkan untuk tidak dikonsumsi. Singkatnya, setiap hari tertentu memiliki pantangan makanannya masing-masing. Dampak buruk yang terjadi apabila hal tersebut dilanggar adalah munculnya berbagai penyakit dan memperparah penyakit yang sebelumnya diderita seseorang.

Apabila seseorang lahir pada hari Minggu, ia tidak boleh memakan ikan julit dan hiu yang hidup di laut. Sementara itu, sayur yang pantang dimakan adalah blego dan labu. Apabila itu dilanggar, sejumlah penyakit akan semakin parah. Penyakit itu adalah panas tinggi, gelisah, lesu, sakit mata, sakit kepala seperti lempuyengan, sakit kepala yang keras, pinggang kaku hingga kaki, dan tak akan sembuh-sembuh (Nuju radete mdhal, tong dadi mangan be julit, miwah kakya ring sgarā, jangane blego walu, yanning to ya purugang, manguwuhin, sakitthe tka nglabihhang. Stata kabus marapah ngibuk uwon mata sakkit, edan krasa lempuyengan, stata mnadi puruh, bangkyange sakit manajal, kayang batis tong taen ṣeger abulub).  

Selanjutnya, jika seseorang lahir pada hari Senin, ia tidak boleh memakan daging kerbau dan babi belang. Apabila hal itu dilanggar, ia akan selalu menderita sakit perut, lumpuh, koreng parang balang, sering gelisah, setiap persendian terasa nyeri (yan dhi somane lĕkad, ditu bratannyane lwih, tong dadi mangan be kbo, miwah celeng blang iku, yan ṭo bakat puwuk, manguwuhin, stata nyakitthang basang. Rumpuh koreng parang balang ngibuk ngemu hmu sai, sawa bukune malwang).  

Demikian pula, apabila seseorang lahir pada hari Selasa, ia  tidak boleh memakan ikan layur dan daging anjing. Apabila itu dilanggar maka pinggang dan perutnya akan selalu sakit, sakit kepala, rumpuh, koreng, disertai batuk yang semakin parah, disentri, anyang-anyangan, dan diserang oleh penyakit tiwang (ring dina anggara mtu, ĕbe layurre impasang, miwah cicing, hdha pisan mamuwukang. Katuju bakat purugang, bangkyange satata sakit, miwah nyakitthang basang, langu miwah sakit rumpuh, koreng maduluran dhĕkah, mangarigis, mising mutah lalangĕddhan. Miwah yan ba anyang-anyangan, tuju bngenge tan mari, mula twah galakkin ṭiwang). 

Jika seseorang lahir pada hari Rabu, ia tidak boleh mamakan burung dara dan babi. Apalagi daging anjing, patut hindari sekali. Apabila itu dilanggar akan tertimpa demam dan lemas, kaku, sakit tangan sebelah, perut kembung, sesak nafas, dan tidak nafsu makan (yaning ndhi budane mtu, kdhis dharane impasang, miwah bawi, mangan be asu da pisan. Yaning nto ne kapuwukang, sakitthe tka matindhih, purung parang ngbus won, jangkĕl kepek cakĕt luyu, stata baṣangnge bĕngka, ngədhek ati, miwah tong lagĕs madahar). 

Tak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, apabila seseorang lahir pada hari Kamis, ia  tidak boleh makan daging sapi dan ikan hiu serta sudang. Apabila itu dilanggar, ia akan terkena banyak penyakit (komplikasi) yang semakin parah. Penyakit itu seperti sakit perut, mencret, muntah, lempuyengan, gelisah dan sesak, serta sakit di seluruh tubuh dan tak henti-hentinya bersedih, sering terluka, sakit terlihat sehat (ring dina wraspati lĕkad, tong dadi mangan be sampi, miwah be kakya lan sudang, pradene pacang kapurug, dadi sakitnyane katah, manguwuhin, to marĕn nyakitthang basang, mising mutah lĕmpuyĕngan, buduh ibuk ĕnĕk ati, mwah tur nyakitṭang awak, miwah kwan mangantun, sbĕt manah twara pgat, śringan kanin, sakit katpuk abĕh).

Jika seseorang lahir pada Jumat,  ia tidak boleh memakan daging kambing, ayam berwarna kelabu, belut dan sejenisnya. Apabila itu dilanggar maka seluruh tubuh akan sakit, hati buyar, panas gelisah lempuyengan, dan sakit perut serta terkena pamali, koreng, parang tiada henti, gondok gontak, perut kembung, punggung terasa sakit hingga ke pangkal paha. (yanning di sukrane lĕkad, tan wanang mangan be kambing, ayam kalawu lindhung kadangnya, yanning ṭo pacang kapurug, dhadi nyakitthang awak, buyan ati, kbus inguk lĕmpuyĕngan. miwah nyakitṭang basang, ludin dhamənnin pamali, koreng parang twara pgat, gondhong gonṭek, bĕngka  bĕngkul, pundhukke twara tunaan, banya sakit, mnakĕd kaśikśikkan). 

Terakhir, apabila seseorang lahir pada hari Sabtu, ia tidak boleh memakan ular, daging sapi, anjing, dan sisa persembahan dari upacara pangabenan. Sebab sangat pingit. (Di caniscarane lakad, tan wĕnang mangan lalipi, hbe sampine īmpasṣang, maduluran ulam asu, miwah byana pangabennan, dahĕt pingit, cara tingkah papingitan). 

Demikianlah hubungan antara hari kelahiran dengan jenis makanan yang sebaiknya dihindari seseorang berdasarkan pustaka lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu. Dalam konteks kekinian, uraian pustaka tersebut sangat mirip dengan konsep arlergi. Setiap individu sesungguhnya memiliki kecenderungan arlergi terhadap makanan tertentu sehingga ada jenis makanan yang perlu dikurangi dan dihindari. Apabila pantangan tersebut dilanggar maka ia berpotensi menderita jenis penyakit tertentu, bahkan menstimulus penyakit lain yang lebih kronis atau sulit diobati.

Sekali lagi, mulut adalah gerbang kesakitan dan kesehatan. Oleh sebab itu, berbagai etik dan pantangan makanan penting dipertimbangkan agar kelahiran menjadi manusia di dunia tidak sia-sia. Dalam bahasa Ida Padanda Made Sidemen, pangresek jagat.


[i] [i] Naskah ini milik Jero Mangku dari Banjar Kelusa, Payangan. Terima kasih diucapkan kepada Gede Nyana Kusuma dan para Penyuluh Bahasa Bali, Kecamatan Payangan yang telah membantu Pusat Kajian Lontar untuk melakukan digitalisasi di Kecamatan Payangan.

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: Hindu Balikesehatanlontarmakanmakananrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Next Post

Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co