3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Vincent Chandra by Vincent Chandra
August 20, 2023
in Ulas Rupa
Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Suasana opening pameran “Diari Diri”, 19 Agustus 2023, di Purga Art Space

Gambar 1. Karya Vincent Chandra, “Here Lying The Kapitan”, Installation view at Purga Art Space, 19 Agustus – 16 September 2023, “HERE LYING THE KAPITAN” (Kiri) 100 cm x 120 cm, (Kanan) 30 x 45 x 25 cm, Pencil, enamel, Chinese ink, tracing paper, light brick, shelf installation, archive binder, watercolor paper, literature

Judul gambar ini, “Here Lying The Kapitan” merujuk pada Bongpai (makam) seorang tokoh Kapitan Tionghoa terakhir yang berpengaruh di Tangerang yakni Oei Kiat Tjin.

Ia awalnya merupakan seorang Landheer (semacam tuan tanah) Karawaci yang kemudian diangkat oleh kompeni sebagai Kapitein der Chinezen Tangerang pada tahun 1928-wafat 1934, menggantikan kapitan-kapitan terdahulu; ayahnya Oei Djie San (1907-1916) dan kakeknya Oei Khe Tay (1884-1897). Oei Kiat Tjin sekaligus menjadi pemerintah sipil Tionghoa lokal terakhir di Tangerang. Pada zamannya ia diberi kewenangan mengatur komunitas masyarakat yang dipimpinnya, menangani administrasi serta perizinan.

Walau gelar tituler terakhirnya sama-sama Kapitan, nasib makam Kapitan Oei rupanya berbeda dengan makam-makam Kapitan lain. Katakanlah makam elit Kapitan Tjong A Fie di Medan atau bahkan makam Kapitan Souw Beng Kong—makam tertua di Jakarta yang dekade lalu baru dipugar dan diperluas hingga selebar 170m. Bahkan berbeda juga dengan nasib makam-makam Tionghoa di Bali yang cenderung tertata, masih terawat, diukir halus dan dicat rapi.

Belakangan baru diketahui bahwa makam Kapitan Oei Kiat Tjin yang merupakan warisan budaya Tionghoa ini kondisinya lebih mengenaskan. Fasadnya hancur oleh coretan vandal disana-sini, badan makam dan komplek makamnya dikotori oleh tumpukan sampah.

Ada pula informasi yang mengatakan bahwa rumah semasa sang Kapitan malang masih hidup, kini bangunannya telah diubah total menjadi restoran siap saji. Hadeh miris. Entah sejak kapan dan oleh siapa yang pasti pelakunya perlu ‘melukat’ berkali-kali.

Dugaan saya, selain karena ulah iseng oknum-oknum ahistoris, kerusakan-kerusakan semacam ini juga terjadi seiring sejumlah tragedi kerusuhan di Indonesia yang seringkali melibatkan etnis Tionghoa sebagai kambing hitam. Maka dirusaklah juga makam-makam termasuk makam sang Kapitan oleh oknum-oknum sebagai bentuk kongkret atas hasrat “pelampiasan” mereka.

.

Gambar 2. (Atas) Kondisi makam Kapitan Oei Kiat Tjin, Mei 2023, sumber: Kompas.com. (Bawah) Studi Vincent Chandra, Gouache on paper, 2023

Fenomena dizaliminya makam Tionghoa sendiri, bukan barang baru. Claudine Salmon dalam jurnalnya menjelaskan, setidaknya kejadian ancaman pada makam Tionghoa yang paling awal ditemukan terjadi di Semarang pada abad ke-18 ketika beberapa makam kuno yang dianggap menghalangi rencana pembangunan oleh kompeni kemudian dipindah keluar kota sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang hubungannya terputus dengan para leluhurnya.

Pasca kemerdekaan (1975), makam terakhir orang Tionghoa di Kota Bambu diratakan oleh serbuan penduduk. Pada periode berikutnya, makam-makam ini bertemu dengan bahaya baru. Selain risiko penjarahan, makam yang dulunya sengaja didirikan di pedesaan/lahan kosong seiring waktu kini diselimuti oleh pemukiman yang secara bertahap menghimpit makam dan mengancam dibongkarnya makam-makam.

Persoalan harga lahan makam yang tinggi, lalu membuat praktik pemakaman di Indonesia bergeser pada praktik kremasi (ngaben) sejak 1950-an. Secara bertahap pergeseran ini diterima oleh masyarakat setelah dibangun kolumbaria serta memorial park sekaligus sebagai solusi atas persoalan lahan tadi.

Bagaimana bisa makam-makam leluhur tadi hingga makam seorang Kapitan yang harusnya menjadi situs penting atau cagar budaya mengalami kejadian tersebut?

Pertanyaan inilah yang selanjutnya menggerakkan saya untuk meminjam portret kondisi makam Kapitan sebagai representasi atas persoalan-persoalan kompleks yang mengelilingi identitas etnis Tionghoa di Indonesia.

.

Gambar 3. Detail Karya Here Lying The Capitan

Sejatinya bongpai/makam-makam leluhur manapun adalah penghormatan dari para keluarga dan masyarakat Tionghoa untuk memberikan tempat peristirahatan yang damai bagi mereka yang meninggal. Baik makam, klenteng, bentuk tradisi dan warisan budaya Tionghoa lainnya adalah elemen krusial bagi mentalitas masyarakat Tionghoa.

Mereka mencerminkan kondisi realitas sosial serta evolusi masyarakat Tionghoa yang hidup dan tumbuh disana. Dengan masih ditemukannya cidera pada salah satu elemen tersebut, menandakan bahwa sentimen negatif yang dikonstruk oleh pemerintah masa kolonial—sejak geger pacinan, perang Jawa, dst—terhadap orang Tionghoa masih terus menular bak racun.

Baru belakangan saya menerima informasi tentang rusaknya makam Kapitan Oei yang berbahan semen dan bergaya arsitektur khas Tionghoa ini dari seorang kawan lewat sosmed. Setelah mencari tahu lebih dalam, mulai timbul keinginan berempati yang menggerakkan saya untuk menggambarkan makam sang Kapitan, sekaligus merespon kebanalan yang melandanya. Yah, hanya bermodal skill dan sensibilitas yang jarang-jarang diasah, tak bisa seheorik kawan-kawan yang langsung turun ke lokasi saat Ceng Beng lalu.

Walaupun demikian karya ini berusaha dikerjakan dengan mendekati objek makam dengan penuh rasa hormat, sebisa mungkin bertimbang pada signifikansi data sejarah dan budaya yang melekat padanya.

Artinya konten gambar, selain yang dirusak, mulai bentuk hingga teks dalam nisan sebisa mungkin dibuat menyerupai kondisi primanya. Hanya pada beberapa motif ukiran lah akibat keterbatasan arsip visual dan coretan vandal yang merusak bentuk asli, maka diputuskan mau tidak mau bentuk harus mengalami penyesuaian.

Seperti yang sudah disinggung pada paragraf-paragraf sebelumnya, gambar ini sebetulnya tidak hanya ingin membahas ketokohan Kapitan Oei dan aspek kesejarahan yang meliputinya.

Pretensi awal meminjam portret makam Kapitan hadir beriringan pula dengan keinginan pada katakanlah memahami dan menyoroti persoalan dibaliknya, yakni salah satunya tentang keterputusan koneksi antara leluhur dengan keturunannya.

Terabaikannya makam Kapitan Oei sendiri oleh keluarga/keturunannya/penduduk kini tidak jauh-jauh dari persoalan tadi.

Makam Kapitan Oei lagi-lagi hanya contoh kecil dari banyaknya makam-makam Tionghoa yang ditinggalkan, hilang, tidak terawat, dan dirusak.

Selain karena sentimen-sentimen negatif yang berkembang, penyebabnya juga tidak lain karena banyak penduduk yang merasa asing dengan sang pemilik makam, apalagi sejak keluarganya menghilang dan mengabaikan makam sang Kapitan malang.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana awal mula sterotip dan sentimen buruk terhadap etnis Tionghoa di Indonesia terbentuk, lalu posisi-posisi tokoh dan masyarakat Tionghoa di era kolonial, pengaruhnya pada politik, ekonomi dan budaya Indonesia, hingga kedatangan awal para “Chinezen” di Indonesia, maka disuguhkanlah beberapa literatur serta arsip studi visual yang saya kumpulkan dalam beberapa tahun terakhir disusun diatas sebuah rak buku bergaya design menyerupai altar (tok) sebagai penampang dari karya utama “Here Lying The Kapitan”.

.

Gambar 4. Suasana opening pameran “Diari Diri”, 19 Agustus 2023, di Purga Art Space

Gambar ini bersama beberapa elemen penunjangnya tadi, dipresentasikan sebagai bagian dari pameran kelompok “Diari Diri” yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari di Purga Art Space, Ubud, pada tanggal 19 Agustus – 16 September 2023 bersama 5 perupa lainnya; Wellwul, Gadis Putri Maharani, Ni Wayan Penawati, Pradnya Paramita, dan Tia Rama.

Harapannya gambar ini bisa mengingatkan kita pada keberadaan (makam) Kapitan dan berbagai persoalan dan ironi yang melandanya, sesuai teks seruan pada gambar: “這裡躺著船長 (Pinyin: Zhè lǐ tang zhe chuán zhǎng)/ HERE LYING THE KAPITAN”.

Gambar ini sebagai penghormatan pada Kapitan Oei, para leluhur dan warisan budayanya, sebagai ajakan kepada masyarakat untuk memelihara dan melindungi situs-situs penting yang ada di daerahnya.

Sebagai penutup catatan, saya ingin mengutip nasihat dari Wang Heming dalam jurnal Claudine Salmon: “先人遗骨为我之身,先人本体封葬於窀,或生或沒一体至亲. 不能护守安用后人” (Pinyin: Xiān rén yí gǔ wèi wǒ zhī shēn, xiān rén běntǐ fēng zàng yú zhūn, huò shēng huò méi yītǐ zhìqīn. Bùnéng hù shǒu’ān yòng hòu rén).  Jika diterjemahkan, “Kami adalah produk dari tulang nenek moyang kami yang jenazahnya dikubur di bawah tumuli (tanah makam); hidup atau mati kita semua serumpun. Jika kita tidak bisa melindungi kuburan atau nenek moyang kita, apa gunanya memiliki keturunan?”. [T]

Batubulan, 2023

REFERENSI

  • Claudine Salmon, Ancient Chinese Cemeteries of Indonesia as Vanishing Landmarks of the Past (17th-20th c.), 2016 https://journals.openedition.org/archipel/282#bodyftn26
  • Claudine Salmon, From Cemeteries to Luxurious Memorial Parks, 2016 https://journals.openedition.org/archipel/320
  • Ikrar Raksaperdana and Kemas Ridwan Kurniawan, Souw Beng Kong’s Tomb: Transformation of a Green Chinese Cemetery Area to a Present Dense Area https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/764/1/012013/meta

Tags: Seni RupaTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Koran Sudah Menjadi Artefak Jurnalisme?

Next Post

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co