26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Vincent Chandra by Vincent Chandra
August 20, 2023
in Ulas Rupa
Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”

Suasana opening pameran “Diari Diri”, 19 Agustus 2023, di Purga Art Space

Gambar 1. Karya Vincent Chandra, “Here Lying The Kapitan”, Installation view at Purga Art Space, 19 Agustus – 16 September 2023, “HERE LYING THE KAPITAN” (Kiri) 100 cm x 120 cm, (Kanan) 30 x 45 x 25 cm, Pencil, enamel, Chinese ink, tracing paper, light brick, shelf installation, archive binder, watercolor paper, literature

Judul gambar ini, “Here Lying The Kapitan” merujuk pada Bongpai (makam) seorang tokoh Kapitan Tionghoa terakhir yang berpengaruh di Tangerang yakni Oei Kiat Tjin.

Ia awalnya merupakan seorang Landheer (semacam tuan tanah) Karawaci yang kemudian diangkat oleh kompeni sebagai Kapitein der Chinezen Tangerang pada tahun 1928-wafat 1934, menggantikan kapitan-kapitan terdahulu; ayahnya Oei Djie San (1907-1916) dan kakeknya Oei Khe Tay (1884-1897). Oei Kiat Tjin sekaligus menjadi pemerintah sipil Tionghoa lokal terakhir di Tangerang. Pada zamannya ia diberi kewenangan mengatur komunitas masyarakat yang dipimpinnya, menangani administrasi serta perizinan.

Walau gelar tituler terakhirnya sama-sama Kapitan, nasib makam Kapitan Oei rupanya berbeda dengan makam-makam Kapitan lain. Katakanlah makam elit Kapitan Tjong A Fie di Medan atau bahkan makam Kapitan Souw Beng Kong—makam tertua di Jakarta yang dekade lalu baru dipugar dan diperluas hingga selebar 170m. Bahkan berbeda juga dengan nasib makam-makam Tionghoa di Bali yang cenderung tertata, masih terawat, diukir halus dan dicat rapi.

Belakangan baru diketahui bahwa makam Kapitan Oei Kiat Tjin yang merupakan warisan budaya Tionghoa ini kondisinya lebih mengenaskan. Fasadnya hancur oleh coretan vandal disana-sini, badan makam dan komplek makamnya dikotori oleh tumpukan sampah.

Ada pula informasi yang mengatakan bahwa rumah semasa sang Kapitan malang masih hidup, kini bangunannya telah diubah total menjadi restoran siap saji. Hadeh miris. Entah sejak kapan dan oleh siapa yang pasti pelakunya perlu ‘melukat’ berkali-kali.

Dugaan saya, selain karena ulah iseng oknum-oknum ahistoris, kerusakan-kerusakan semacam ini juga terjadi seiring sejumlah tragedi kerusuhan di Indonesia yang seringkali melibatkan etnis Tionghoa sebagai kambing hitam. Maka dirusaklah juga makam-makam termasuk makam sang Kapitan oleh oknum-oknum sebagai bentuk kongkret atas hasrat “pelampiasan” mereka.

.

Gambar 2. (Atas) Kondisi makam Kapitan Oei Kiat Tjin, Mei 2023, sumber: Kompas.com. (Bawah) Studi Vincent Chandra, Gouache on paper, 2023

Fenomena dizaliminya makam Tionghoa sendiri, bukan barang baru. Claudine Salmon dalam jurnalnya menjelaskan, setidaknya kejadian ancaman pada makam Tionghoa yang paling awal ditemukan terjadi di Semarang pada abad ke-18 ketika beberapa makam kuno yang dianggap menghalangi rencana pembangunan oleh kompeni kemudian dipindah keluar kota sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang hubungannya terputus dengan para leluhurnya.

Pasca kemerdekaan (1975), makam terakhir orang Tionghoa di Kota Bambu diratakan oleh serbuan penduduk. Pada periode berikutnya, makam-makam ini bertemu dengan bahaya baru. Selain risiko penjarahan, makam yang dulunya sengaja didirikan di pedesaan/lahan kosong seiring waktu kini diselimuti oleh pemukiman yang secara bertahap menghimpit makam dan mengancam dibongkarnya makam-makam.

Persoalan harga lahan makam yang tinggi, lalu membuat praktik pemakaman di Indonesia bergeser pada praktik kremasi (ngaben) sejak 1950-an. Secara bertahap pergeseran ini diterima oleh masyarakat setelah dibangun kolumbaria serta memorial park sekaligus sebagai solusi atas persoalan lahan tadi.

Bagaimana bisa makam-makam leluhur tadi hingga makam seorang Kapitan yang harusnya menjadi situs penting atau cagar budaya mengalami kejadian tersebut?

Pertanyaan inilah yang selanjutnya menggerakkan saya untuk meminjam portret kondisi makam Kapitan sebagai representasi atas persoalan-persoalan kompleks yang mengelilingi identitas etnis Tionghoa di Indonesia.

.

Gambar 3. Detail Karya Here Lying The Capitan

Sejatinya bongpai/makam-makam leluhur manapun adalah penghormatan dari para keluarga dan masyarakat Tionghoa untuk memberikan tempat peristirahatan yang damai bagi mereka yang meninggal. Baik makam, klenteng, bentuk tradisi dan warisan budaya Tionghoa lainnya adalah elemen krusial bagi mentalitas masyarakat Tionghoa.

Mereka mencerminkan kondisi realitas sosial serta evolusi masyarakat Tionghoa yang hidup dan tumbuh disana. Dengan masih ditemukannya cidera pada salah satu elemen tersebut, menandakan bahwa sentimen negatif yang dikonstruk oleh pemerintah masa kolonial—sejak geger pacinan, perang Jawa, dst—terhadap orang Tionghoa masih terus menular bak racun.

Baru belakangan saya menerima informasi tentang rusaknya makam Kapitan Oei yang berbahan semen dan bergaya arsitektur khas Tionghoa ini dari seorang kawan lewat sosmed. Setelah mencari tahu lebih dalam, mulai timbul keinginan berempati yang menggerakkan saya untuk menggambarkan makam sang Kapitan, sekaligus merespon kebanalan yang melandanya. Yah, hanya bermodal skill dan sensibilitas yang jarang-jarang diasah, tak bisa seheorik kawan-kawan yang langsung turun ke lokasi saat Ceng Beng lalu.

Walaupun demikian karya ini berusaha dikerjakan dengan mendekati objek makam dengan penuh rasa hormat, sebisa mungkin bertimbang pada signifikansi data sejarah dan budaya yang melekat padanya.

Artinya konten gambar, selain yang dirusak, mulai bentuk hingga teks dalam nisan sebisa mungkin dibuat menyerupai kondisi primanya. Hanya pada beberapa motif ukiran lah akibat keterbatasan arsip visual dan coretan vandal yang merusak bentuk asli, maka diputuskan mau tidak mau bentuk harus mengalami penyesuaian.

Seperti yang sudah disinggung pada paragraf-paragraf sebelumnya, gambar ini sebetulnya tidak hanya ingin membahas ketokohan Kapitan Oei dan aspek kesejarahan yang meliputinya.

Pretensi awal meminjam portret makam Kapitan hadir beriringan pula dengan keinginan pada katakanlah memahami dan menyoroti persoalan dibaliknya, yakni salah satunya tentang keterputusan koneksi antara leluhur dengan keturunannya.

Terabaikannya makam Kapitan Oei sendiri oleh keluarga/keturunannya/penduduk kini tidak jauh-jauh dari persoalan tadi.

Makam Kapitan Oei lagi-lagi hanya contoh kecil dari banyaknya makam-makam Tionghoa yang ditinggalkan, hilang, tidak terawat, dan dirusak.

Selain karena sentimen-sentimen negatif yang berkembang, penyebabnya juga tidak lain karena banyak penduduk yang merasa asing dengan sang pemilik makam, apalagi sejak keluarganya menghilang dan mengabaikan makam sang Kapitan malang.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana awal mula sterotip dan sentimen buruk terhadap etnis Tionghoa di Indonesia terbentuk, lalu posisi-posisi tokoh dan masyarakat Tionghoa di era kolonial, pengaruhnya pada politik, ekonomi dan budaya Indonesia, hingga kedatangan awal para “Chinezen” di Indonesia, maka disuguhkanlah beberapa literatur serta arsip studi visual yang saya kumpulkan dalam beberapa tahun terakhir disusun diatas sebuah rak buku bergaya design menyerupai altar (tok) sebagai penampang dari karya utama “Here Lying The Kapitan”.

.

Gambar 4. Suasana opening pameran “Diari Diri”, 19 Agustus 2023, di Purga Art Space

Gambar ini bersama beberapa elemen penunjangnya tadi, dipresentasikan sebagai bagian dari pameran kelompok “Diari Diri” yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari di Purga Art Space, Ubud, pada tanggal 19 Agustus – 16 September 2023 bersama 5 perupa lainnya; Wellwul, Gadis Putri Maharani, Ni Wayan Penawati, Pradnya Paramita, dan Tia Rama.

Harapannya gambar ini bisa mengingatkan kita pada keberadaan (makam) Kapitan dan berbagai persoalan dan ironi yang melandanya, sesuai teks seruan pada gambar: “這裡躺著船長 (Pinyin: Zhè lǐ tang zhe chuán zhǎng)/ HERE LYING THE KAPITAN”.

Gambar ini sebagai penghormatan pada Kapitan Oei, para leluhur dan warisan budayanya, sebagai ajakan kepada masyarakat untuk memelihara dan melindungi situs-situs penting yang ada di daerahnya.

Sebagai penutup catatan, saya ingin mengutip nasihat dari Wang Heming dalam jurnal Claudine Salmon: “先人遗骨为我之身,先人本体封葬於窀,或生或沒一体至亲. 不能护守安用后人” (Pinyin: Xiān rén yí gǔ wèi wǒ zhī shēn, xiān rén běntǐ fēng zàng yú zhūn, huò shēng huò méi yītǐ zhìqīn. Bùnéng hù shǒu’ān yòng hòu rén).  Jika diterjemahkan, “Kami adalah produk dari tulang nenek moyang kami yang jenazahnya dikubur di bawah tumuli (tanah makam); hidup atau mati kita semua serumpun. Jika kita tidak bisa melindungi kuburan atau nenek moyang kita, apa gunanya memiliki keturunan?”. [T]

Batubulan, 2023

REFERENSI

  • Claudine Salmon, Ancient Chinese Cemeteries of Indonesia as Vanishing Landmarks of the Past (17th-20th c.), 2016 https://journals.openedition.org/archipel/282#bodyftn26
  • Claudine Salmon, From Cemeteries to Luxurious Memorial Parks, 2016 https://journals.openedition.org/archipel/320
  • Ikrar Raksaperdana and Kemas Ridwan Kurniawan, Souw Beng Kong’s Tomb: Transformation of a Green Chinese Cemetery Area to a Present Dense Area https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/764/1/012013/meta

Tags: Seni RupaTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Koran Sudah Menjadi Artefak Jurnalisme?

Next Post

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co