14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
December 18, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK mudah mengenal karakteristik seseorang. Apalagi orang itu sudah terbiasa diterjang berbagai badai kehidupan. Dalam laci hati yang dipenuhi kemarahan, ia bisa menunjukkan wajah yang dipenuhi keramahan. Dalam relung hati yang kecewa, ia bisa mempertontonkan tawa. Dalam jiwa yang diakrabi kehilangan, ia justru selalu tampak riang. Ditutupinya kenyataan hidup dalam sebuah ruang rahasia sehingga yang tampak di luar selalu kebalikannya.

Kelebihan orang ini tentu karena pengalaman hidup suka-duka yang telah diakrabinya. Meski barangkali tubuhnya sangat lelah merapikan serakan keadaan untuk ditampilkan selalu indah di permukaan, kenyataannya tidak semua orang leluasa menunjukkan diri luar dan dalam. Artinya, orang selalu berusaha tidak jujur atas dirinya. Ada tuntutan pekerjaan, status sosial, kedudukan, dan seterusnya yang mengikatnya untuk tampil purna tanpa cela. Menjadi apa adanya semakin sulit akibat berbagai kebutuhan sosial dan mungkin juga media sosial.

Meski begitu rumit untuk mengetahui karakteristik seseorang, para cerdik pandai Bali di masa lalu ternyata ada yang berminat untuk mempelajari khazanah pengetahuan ini. Cara yang ditawarkannya untuk menyibak karakteristik seseorang justru bertitik pangkal dari sesuatu yang dekat, yaitu sisi fisiknya. Bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit atau rambut, dan tanda-tanda lain tubuh diduga membawa kecenderungan karakteristik bawaan khas, unik, dan khusus.

Hasil pergulatan memahami hubungan yang ada di antara fisik dan karakteristik inilah yang kemudian ditulis dalam salah satu lontar yang berjudul Pawetuan Jadma. Kata pawetuan bermakna kelahiran. Sementara itu, kata jadma berarti manusia. Dengan demikian, pawetuan jadma berarti kelahiran manusia. Dalam konteks yang lebih luas, kelahiran manusia yang dimaksud adalah potensi karakteristiknya. Kita tentu bertanya, siapa yang memproduksi teks ini dan tujuan apa? Di bagian akhir tulisan ini, kta akan coba memetakan berbagai jawaban atas pertanyaan di atas.

Lontar Pawetuan Jadma

Pustaka lontar Pawetuan Jadma dikoleksi oleh keluarga pendeta di wilayah Payangan Gianyar. Teks dimulai dari uraian mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seorang perempuan. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang tentang laki-laki. Meski dalam berbagai pustaka lain ada kelahiran yang disebut kedi (perempuan dengan karakteristik laki-laki atau sebaliknya), tetapi pustaka ini tidak menyinggung watak kelahiran tersebut. Mungkin diperlukan strategi khusus untuk mengetahui sifat dari kelahiran seseorang yang disebutkan terakhir, atau mungkin penulis belum memprioritaskannya.

Lebih jauh, mari kita baca sejumlah identifikasi karakter seorang perempuan yang telah dihimpun oleh penulis pustaka Pawtuan Jadma di bawah ini. Sesungguhnya ada dua puluh dua karakter yang diulas secara panjang lebar, tetapi kita batasi sepuluh saja dulu yang mungkin bisa mewakili karakteristik seseorang pada umumnya. Sisanya, kita bahas pada kesempatan yang lainnya.   

Pertama, pustaka pawetuan jadma menyebutkan apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih kemerahan, perawakannya tinggi besar, dan payudaranya besar. Itu disebut dengan Durga Ngrik. Maka, tidak baik dijadikan istri karena akan membuat suaminya takut. Kedua, apabila ada perempuan yang tubuhnya kecil dengan warna kulit putih mulus, ujung payudaranya berwarna merah muda, dan rambutnya kekuningan. Itu disebut dengan Durga Saring. Orang itu tidak akan berhenti berpikiran negatif dan jahat. Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna kuning langsat (nyandat), payudaranya bagus karena berukuran kecil, rambutnya hitam, dan betisnya kecil. Itu disebut dengan Istri Koci Kecana (Kencana). Perempuan itu akan selalu berperilaku baik dan setia kepada suami.

Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, tubuhnya tinggi besar, payudaranya bagus, rambut berwarna hitam, tangannya panjang, dan betisnya juga bagus.  Itu disebut dengan Istri Bitang (Bintang) Dreman. Baik dijadikan istri oleh sang raja (wnang patning de sang ratu). Keempat, apabila ada perempuan yang warna kulitnya putih, tubuhnya kecil, jarinya juga kecil, perawakannya pendek, dan rambutnya hitam. Itu disebut dengan Bintang Kara. Luar biasa baik karena bisa mendatangkan kekayaan. Kelima, apabila ada seorang perempuan yang tubuhnya tinggi besar, rambutnya panjang dan lebat, kulitnya berwarna hitam, dan payudaranya kecil.Itu disebut dengan Taman Ayu. Apabila payudaranya besar, disebut dengan Paksi Ngrem. Karekter perempuan itu malas (kiyul).

Keenam, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, rambutnya hitam dengan ujung berwarna kuning, cara berjalannya agak cepat. Itu disebut dengan Istri Ula Mandhi. Buruk dan tidak baik dijadikan pendamping (apennin). Ketujuh, apabila ada perempuan yang tubuhnya agak gempal dan tinggi, cara berjalannya agak cepat, payudara bagus. Itu adalah perempuan yang mungkin tidak bisa melahirkan keturunan. Kedelapan, apabila ada perempuan yang memiliki gigi dengan jarak renggang, mata cekung. Itu adalah perempuan yang suka berhutang (kuat mutang). Apabila dinikahi akan sering bertengkar. Kesembilan, apabila ada perempuan yang urat matanya agak keputihan, raut wajahnya sopan, itu adalah perempuan yang takut kepada suaminya. Sangat baik dan utama. Kesepuluh, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, perawakan tubuhnya tinggi, payudaranya padat, rambutnya ikal, seperti suara uang logam suaranya merdu. Perempuan itu akan mendatangkan banyak harta dan pengetahuan. Ini disebut dengan Udan Rasa atau Udan Pipis. Kemungkinan besar akan kaya dan bisa dijadikan istri.

Kakung (Laki-Laki)

Agar seimbang, selanjutnya kita bahas tentang ciri-ciri fisik laki-laki yang dihubungkan dengan karakteristiknya. Pustaka Pawetuan Jadma membentangkan tiga puluh ciri-ciri fisik seorang laki-laki untuk mengetahui karakteristiknya. Untuk penjelasan yang lebih rinci, mari kita ambil sepuluh saja dari tiga puluh uraian yang ada.

Pertama, apabila ada laki-laki yang hidungnya besar, tetapi lobangnya kecil, itu adalah orang yang benar dan terpercaya (pasaja gugu). Kedua, apabila ada laki-laki yang bibirnya tebal, itu adalah orang yang pemalu. Ketiga, apabila ada laki-laki yang dagunya lebar, itu adalah orang yang berpikiran baik. Keempat, apabila ada laki-laki yang dagunya kecil dan agak runcing, itu adalah orang yang penakut. Kelima, apabila ada laki-laki yang lehernya panjang, itu adalah orang yang teliti dan terampil, serta bersih.

Keenam, apabila laki-laki yang matanya cekung, pendek, dan tubuhnya kecil (kurus), itu adalah orang yang tidak bisa diberi rahasia. Ketujuh, apabila ada laki-laki yang dadanya kecil, bahunya menurun, itu adalah orang yang penakut, pasti mendatangkan keburukan. Kedelapan, apabila ada laki-laki yang tangannya pendek, itu adalah orang yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Hanya makan saja. Kesembilan, Apabila ada laki-laki yang telinganya berisi tahi lalat, pasti akan disenangi oleh tuannya. Kesepuluh, apabila ada laki-laki yang posisi giginya renggang, itu adalah laki-laki yang sombong dan pembohong (buruk).

Yang Bersembunyi di Balik Naskah

            Demikianlah hubungan antara ciri fisik dengan karakteristik seseorang menurut pustaka Pawetuan Jadma. Kembali ke pertanyaan awal, siapakah figur di balik teks ini? Dengan tujuan apa ia memproduksinya?

Apabila menyimak uraiannya tentang kelindan ciri fisik dan karakteristik yang konsisten diwacanakan dalam hubungannya dengan tuan atau raja, kita bisa menduga kuat bahwa produsen teks ini adalah seseorang yang berada di lingkaran kekuasaan. Pustaka Siwagama menyebutkan setidaknya ada dua pejabat khusus yang berhubungan dengan tata kelola para abdi negara yang kemungkinan memproduksi teks ini, yaitu Rakryan Demang dan Juru Pangalasan.  

Rakryan Demang adalah pejabat yang bertugas untuk mengurusi segala upacara raja, bunyi-bunyian, menata keindahan istana, merancang dan membuat pakaian kebesaran raja, membangun tempat berkumpulnya para gadis (karang kaputren), membuat ramalan-ramalan, dan yang lainnya. Berangkat dari tugas utama Rakryan Demang kita dapat menduga pejabat inilah yang bertugas untuk merekrut abdi perempuan untuk melayani sang raja atau memberi raja pertimbangan dalam memilih pasangan hidupnya.

Sebab, tak dapat disangkal, bahwa seorang permaisuri akan sangat menentukan apakah raja akan mencapai keajayaan atau sebaliknya kesuraman dalam menatakelola pemerintahannya. Oleh sebab itulah perlu pertimbangan yang luar biasa untuk menentukan pasangan yang paling ideal agar raja mencapai titik optimalnya dalam mengusahakan kesejahteraan rakyatnya (mahayu ning rāt).

Berbagai karakteristik perempuan seperti koci kencana, bintang dreman, bintang kara, udan rasa, dan yang lainnya adalah figur yang secara eksplisit disebut wenang patning de sang ratu‘bisa dijadikan istri oleh sang raja’. Sementara itu, sejumlah sebutan seperti Durga Ngrik, Durga Sring, ula mandhi, dan yang lainnya menurut pustaka Pawetuan Jadma sebaiknya dihindari karena bisa membuat pendamping hidupnya takut, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki kerendahan hati untuk menerima kekurangan masing-masing. Figur perempuan yang disebutkan terakhir dalam konteks kekinian barangkali tepat untuk mengisi posisi-posisi pekerjaan seperti Polwan, Satpam, dan yang lainnya karena memiliki daya yang tinggi untuk mengatur berbagai keadaan.

Di samping itu, sejumlah karakteristik laki-laki yang berhubungan dengan nilai-nilai keuletan, penjagaan rahasia, kesetiaan, dan yang lainnya juga berhubungan erat dengan tata kelola pasukan kerajaan yang ditangani oleh Juru Pangalasan. Juru Pangalasan pada zaman kerajaan memiliki fungsi untuk menyeleksi pasukan raja yang siap bertempur, mencari tipu muslihat musuh, berani, dan setia dalam menjaga rahasia kerajaan. Juru Pangalasan ini dalam perusahaan yang modern bisa disejajarkan dengan HRD (Human Resource Depelovment). Sebagai seseorang yang bertugas untuk merekrut tenaga kerja keraajaan yang mumpuni, mereka perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang hubungan fisik dan karakeristik seseorang. SDM pegawai memiliki peran sentral untuk bisa menggulung pasar atau justru menjadi gulung tikar.

Itulah penjelasan penjelasan pustaka Pawetuan Jadma mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seseorang. Sebagai manusia biasa di luar konteks tugas kerajaan, beberapa bagian tubuh tentu tak akan bisa diubah, tetapi menyadari berbagai karakter dasar bawaannya menjadi penting sebagai pijakan awal untuk memperbaiki diri. Konon kebahagiaan akan bisa diraih seseorang apabila dia tahu dua hal, yaitu tahu diri dan tahu batas. Tahu diri membuatnya berusaha memperkecil kekurangan, tahu batas membuatnya untuk memperbesar rasa syukur.   [T]


[i] Terima kasih dihaturkan kepada sahabat De Nyana Kusuma dan Penyuluh Bahasa Bali atas bantuannya mendigitialisasi naskah ini di wilayah Desa Kelusa Payangan sekitar tahun 2018. Tulisan ini tidak bermaksud body shamming atau yang sejenisnya, tetapi berusaha menjadi pintu masuk untuk mempertimbangkan berbagai warisi literasi kuno untuk kehidupan kita saat ini.

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: lontarManusia Balisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menengok Sisi-sisi Lain Manusia dalam Festival Film Kemanusiaan

Next Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co