5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali

Komang Berata by Komang Berata
January 11, 2024
in Bahasa

Foto: tatkala.co

BULAN Bahasa Bali Tahun 2024 sangat dekat sudah. Tahun 2024 Tahun Kabisat. Bulan Februari Tahun 2024 berakhir pada tanggal 29. Menjadi lebih istimewa, ada tambahan satu hari pada Bulan Bahasa Bali Tahun 2024 ini dibandingkan Bulan Bahasa Bali tiga tahun terakhir, selain juga ada hajatan nasional pada pertengahan berlangsungnya Bulan Bahasa Bali Tahun 2024 ini.

Bagi saya, Bulan Bahasa Bali dan hari Kamis adalah momentum jagra akan keberadaan bahasa Bali yang mesti saya jaga dan saya sikapi, sayangnya pada momentum istimewa tersebut tidak selalu saya berhasil tetap majagra ngemit berbahasa Bali. Kran multibahasa saya benar-benar belum otomatis. Kebocoran berbahasa kerap saya alami.

Meski tumbuh semangat menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024, perhatian saya kepada bahasa Bali banyak terabaikan. Catatan kecil atas tiga di antara enam gejala penambahan dan penanggalan fonem pada kosakata bahasa Bali saya jadikan semacam penawar sikap abai saya itu. Tiga gejala bahasa yang saya maksud adalah aferesis, sinkope, dan paragog.

Sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Bali mengalami gejala bahasa seperti aferesis yaitu penghilangan atau penanggalan fonem pada awal kata. Ambil contoh kata biana (bukan, tidak). Mengalami aferesis, biana menjadi yana, ana, atau na. Pada beberapa tempat ada banak, nak, dan nek.

Dalam satu wilayah hampir tidak mungkin terjadi biana, yana, ana, atau na dituturkan semua. Seperti sudah mempunyai kesepakatan komunal memilih satu kata di antara kata yang mengalami aferesis, atau pilihan jatuh pada kata yang tidak mengalami aferesis.

Selain biana, kata yang mengalami aferesis dalam bahasa Bali seperti inggih (menjadi nggih), nénten (menjadi ten), sampun (menjadi ampun dan pun), sampunang (menjadi ampunang dan punang), suba (menjadi uba dan ba), dan tusing (menjadi using dan sing).

Aferesis dalam bahasa Bali menjadi penting untuk diperhatikan. Kosakata ragam degag tidak terpengaruh ketika mengalami aferesis. Mengalami atau tidak mengalami aferesis, kosakata suba atau tusing tetap bercokol pada ragam degag. Berbeda dengan kosakata inggih, nénten, sampun, dan sampunang.

Semakin banyak fonem dihilangkan atau ditanggalkan, semakin berkurang ke-natya-annya. Inggih, nénten, sampun, dan sampunang adalah kosakata ragam natya yang akan menjadi ragam amadyana (tanggung, di antara degag dan natya) ketika mengalami aferesis.

Selain kata yang mengalami aferesis, saya terbiasa dengan kata yang mengalami sinkope seperti bin mani, bin pidan, dan bin teka. Saya sangat terbiasa menuturkan dan menuliskan kosakata yang mengalami sinkope yaitu penghilangan atau penanggalan fonem pada tengah kata, yang tidak banyak itu. Justru saya benar-benar merasa tidak akrab dengan buin mani, buin pidan, dan buin teka. Saya merasa sénglad.

Akan tetapi, saya tidak terbiasa juga menuturkan dan menuliskan pon (dari paon). Kosakata pon (dari paon) saya dapatkan dari teman saya yang berasal dari wilayah Pagan (Denpasar). Bertemu selama tiga bulan, tidak banyak kosakata yang saya dapatkan dari teman saya itu.

Seperti sinkope, tidak banyak juga kosakata bahasa Bali yang mengalami paragog, yaitu penambahan fonem pada akhir kata. Saya terbiasa menerima pidan dan tundu sebagai kata dasar, akan tetapi pada beberapa tulisan saya temukan pida dan tundun diterima sebagai kata dasar. Saya tahu saya salah menerima pidan (pada ipidan dan buin pidan), akan tetapi saya merasa sénglad menuturkan dan menuliskan pida (menjadi ipida dan buin pida).

Saya menerima tundu sebagai kata dasar yang baku, akan tetapi kamus yang ada mencantumkan tundun adalah kata dasar yang baku, setidaknya tundu tidak tercatat pada kamus dan tundun tercatat pada kamus, saya tidak dapat berbuat. Saya menjadi maklum karena saya penutur dan penulis bahasa Bali yang mendapatkan transfer bahasa dari orang (yang sangat saya singgih-kan) yang tidak mengenal huruf Latin.

Sebagaimana aferesis, maka sinkope dan paragog dalam bahasa Bali adalah kesepakatan komunal juga, meski tidak banyak kosakata bahasa Bali yang saya ketahui mengalami sinkope dan paragog.

Tidak sebagaimana kata yang mengalami aferesis, sebagian mengalami penurunan nilai dan sebagian tidak mengalami penurunan nilai kata, kosakata yang mengalami sinkope dan paragog tidak menyebabkan penurunan nilai kata.

Menentukan pilihan kata yang dituturkan adalah satu di antara cara menampilkan identitas penutur kata. Si Sendi menuturkan biana, buin, atau tundu maka tanpa mesti dikatakan Si Tampul tahu tempat bermukim Si Sendi. Demikian juga jika Si Tampul memilih yana, bin, tundun, atau yang lain maka Si Sendi tahu tempat bermukim Si Tampul.

Apakah aferesis, sinkope, dan paragog dalam bahasa Bali adalah fenomena kesalahan berbahasa? Jika itu adalah kesalahan berbahasa maka aferesis, sinkope, dan paragog adalah fenomena kesalahan berbahasa yang bersifat komunal, disepakati bersama oleh penutur bahasa Bali yang masih bertahan pada kenyataan berbahasa Bali.[T]

Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?
Pelestarian Bahasa Bali, Kebijakan Setengah Hati?
Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji

Next Post

Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

by I Made Sudiana
May 26, 2026
0
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

Read moreDetails

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

by I Made Sudiana
May 19, 2026
0
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

Read moreDetails

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

by I Made Sudiana
May 15, 2026
0
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

Read moreDetails

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

by I Made Sudiana
May 5, 2026
0
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

Read moreDetails

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

by I Made Sudiana
April 29, 2026
0
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

Read moreDetails

Glosarium Krisis Sampah Bali

by I Made Sudiana
April 17, 2026
0
Glosarium Krisis Sampah Bali

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga...

Read moreDetails

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

by I Made Sudiana
April 13, 2026
0
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

DALAM percakapan sehari-hari, kerap kali digunakan kata pelindungan dan perlindungan secara bergantian. Namun, dalam ranah hukum dan kebijakan publik di...

Read moreDetails

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

by I Made Sudiana
April 6, 2026
0
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co