25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024: Sebuah Catatan Kecil tentang Aferesis, Sinkope, dan Paragog dalam Bahasa Bali

Komang Berata by Komang Berata
January 11, 2024
in Bahasa

Foto: tatkala.co

BULAN Bahasa Bali Tahun 2024 sangat dekat sudah. Tahun 2024 Tahun Kabisat. Bulan Februari Tahun 2024 berakhir pada tanggal 29. Menjadi lebih istimewa, ada tambahan satu hari pada Bulan Bahasa Bali Tahun 2024 ini dibandingkan Bulan Bahasa Bali tiga tahun terakhir, selain juga ada hajatan nasional pada pertengahan berlangsungnya Bulan Bahasa Bali Tahun 2024 ini.

Bagi saya, Bulan Bahasa Bali dan hari Kamis adalah momentum jagra akan keberadaan bahasa Bali yang mesti saya jaga dan saya sikapi, sayangnya pada momentum istimewa tersebut tidak selalu saya berhasil tetap majagra ngemit berbahasa Bali. Kran multibahasa saya benar-benar belum otomatis. Kebocoran berbahasa kerap saya alami.

Meski tumbuh semangat menyongsong Bulan Bahasa Bali Tahun 2024, perhatian saya kepada bahasa Bali banyak terabaikan. Catatan kecil atas tiga di antara enam gejala penambahan dan penanggalan fonem pada kosakata bahasa Bali saya jadikan semacam penawar sikap abai saya itu. Tiga gejala bahasa yang saya maksud adalah aferesis, sinkope, dan paragog.

Sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Bali mengalami gejala bahasa seperti aferesis yaitu penghilangan atau penanggalan fonem pada awal kata. Ambil contoh kata biana (bukan, tidak). Mengalami aferesis, biana menjadi yana, ana, atau na. Pada beberapa tempat ada banak, nak, dan nek.

Dalam satu wilayah hampir tidak mungkin terjadi biana, yana, ana, atau na dituturkan semua. Seperti sudah mempunyai kesepakatan komunal memilih satu kata di antara kata yang mengalami aferesis, atau pilihan jatuh pada kata yang tidak mengalami aferesis.

Selain biana, kata yang mengalami aferesis dalam bahasa Bali seperti inggih (menjadi nggih), nénten (menjadi ten), sampun (menjadi ampun dan pun), sampunang (menjadi ampunang dan punang), suba (menjadi uba dan ba), dan tusing (menjadi using dan sing).

Aferesis dalam bahasa Bali menjadi penting untuk diperhatikan. Kosakata ragam degag tidak terpengaruh ketika mengalami aferesis. Mengalami atau tidak mengalami aferesis, kosakata suba atau tusing tetap bercokol pada ragam degag. Berbeda dengan kosakata inggih, nénten, sampun, dan sampunang.

Semakin banyak fonem dihilangkan atau ditanggalkan, semakin berkurang ke-natya-annya. Inggih, nénten, sampun, dan sampunang adalah kosakata ragam natya yang akan menjadi ragam amadyana (tanggung, di antara degag dan natya) ketika mengalami aferesis.

Selain kata yang mengalami aferesis, saya terbiasa dengan kata yang mengalami sinkope seperti bin mani, bin pidan, dan bin teka. Saya sangat terbiasa menuturkan dan menuliskan kosakata yang mengalami sinkope yaitu penghilangan atau penanggalan fonem pada tengah kata, yang tidak banyak itu. Justru saya benar-benar merasa tidak akrab dengan buin mani, buin pidan, dan buin teka. Saya merasa sénglad.

Akan tetapi, saya tidak terbiasa juga menuturkan dan menuliskan pon (dari paon). Kosakata pon (dari paon) saya dapatkan dari teman saya yang berasal dari wilayah Pagan (Denpasar). Bertemu selama tiga bulan, tidak banyak kosakata yang saya dapatkan dari teman saya itu.

Seperti sinkope, tidak banyak juga kosakata bahasa Bali yang mengalami paragog, yaitu penambahan fonem pada akhir kata. Saya terbiasa menerima pidan dan tundu sebagai kata dasar, akan tetapi pada beberapa tulisan saya temukan pida dan tundun diterima sebagai kata dasar. Saya tahu saya salah menerima pidan (pada ipidan dan buin pidan), akan tetapi saya merasa sénglad menuturkan dan menuliskan pida (menjadi ipida dan buin pida).

Saya menerima tundu sebagai kata dasar yang baku, akan tetapi kamus yang ada mencantumkan tundun adalah kata dasar yang baku, setidaknya tundu tidak tercatat pada kamus dan tundun tercatat pada kamus, saya tidak dapat berbuat. Saya menjadi maklum karena saya penutur dan penulis bahasa Bali yang mendapatkan transfer bahasa dari orang (yang sangat saya singgih-kan) yang tidak mengenal huruf Latin.

Sebagaimana aferesis, maka sinkope dan paragog dalam bahasa Bali adalah kesepakatan komunal juga, meski tidak banyak kosakata bahasa Bali yang saya ketahui mengalami sinkope dan paragog.

Tidak sebagaimana kata yang mengalami aferesis, sebagian mengalami penurunan nilai dan sebagian tidak mengalami penurunan nilai kata, kosakata yang mengalami sinkope dan paragog tidak menyebabkan penurunan nilai kata.

Menentukan pilihan kata yang dituturkan adalah satu di antara cara menampilkan identitas penutur kata. Si Sendi menuturkan biana, buin, atau tundu maka tanpa mesti dikatakan Si Tampul tahu tempat bermukim Si Sendi. Demikian juga jika Si Tampul memilih yana, bin, tundun, atau yang lain maka Si Sendi tahu tempat bermukim Si Tampul.

Apakah aferesis, sinkope, dan paragog dalam bahasa Bali adalah fenomena kesalahan berbahasa? Jika itu adalah kesalahan berbahasa maka aferesis, sinkope, dan paragog adalah fenomena kesalahan berbahasa yang bersifat komunal, disepakati bersama oleh penutur bahasa Bali yang masih bertahan pada kenyataan berbahasa Bali.[T]

Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?
Pelestarian Bahasa Bali, Kebijakan Setengah Hati?
Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji

Next Post

Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Keluarga Menjadi Tempat Awal Membina Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co