23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem

Komang Berata by Komang Berata
January 2, 2024
in Bahasa
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem

Ilustrasi tatkala.co

KARANG SASAK adalah komunitas orang-orang Sasak (Lombok, Nusa Tenggara Barat) yang turun-temurun bermukim di Kabupaten Karangasem. Karang Sasak tumbuh eksis berdampingan dengan Karang Bali dalam satu lingkungan atau dusun. Karang Sasak tumbuh dengan warna Islam (Lombok) dan Karang Bali tumbuh dengan warna Hindu (Bali).

Karang Sasak di Kecamatan Karangasem ada di Lingkungan Penaban, Gelumpang, Juwukmanis, Belong, Tibulaka, Karangcermen, Danginsema, Bangras, Karanglangko, Segarakaton, Ujung, Telagamas, Karangsokong, dan Bukit Tabwan.

Saya tidak tahu secara keseluruhan Karang Sasak yang ada di Kecamatan Karangasem karena tidak seluruh Karang Sasak pernah saya kunjungi.

Satu Karang Sasak ada di Desa Bungaya Kangin, Bebandem, Karangasem, yaitu Kecicang Islam. Orang Sasak di Desa Bungaya Kangin ini kerap menyebut komunitasnya dengan RRC (Republik Rakyat Cicang).

Beberapa keluarga di Kecicang Islam mengaku mempunyai garis keturunan dengan Raja Karangasem. Selain di sana, satu Karang Sasak lainnya di Karangasem ada di Sinduwati, Kecamatan Sidemen.

Meski dalam komunitas Karang Sasak di Karangasem orang-orang Sasak masih kerap bertutur dengan bahasa Sasak (Lombok), keberadaan mereka turut memberi warna tersendiri dalam perkembangan bahasa Bali. Sementara itu, bahasa pengantar antara komunitas Karang Sasak dan Karang Bali adalah bahasa Bali.

Mereka sangat fasih berbahasa Bali ragam natya. Komunikasi intern Karang Sasak cenderung memilih bahasa Bali ragam degag. Meski madegag, sor singgih tetap dijaga. Meski di lingkungan saya tidak ada Karang Sasak, sejak kecil saya terbiasa berinteraksi dengan mereka.

Saya sering bermain ke rumah teman-teman sekolah di Juwukmanis dan Gelumpang. Beberapa kali saya pernah menginap di rumah teman saya yang ayahnya menjadi guru (pemuka agama). Beberapa kali juga saya ikut pada kegiatan “Safaran” yang mereka selenggarakan di tepi Tukad Janga.

Meski hubungan pasidikaraan (saling undang dalam penyelenggaraan hajatan) antara Karang Sasak dengan Karang Bali masih terjaga juga, beberapa kosakata bahasa Bali komunitas Karang Sasak tidak familiar dituturkan di komunitas Karang Bali.

Beberapa saat lamanya saya harus berdiam diri agar dapat menangkap maksud dari perkataan mereka. Atau saya harus mengulur percakapan agar dapat menangkap maksud mereka.

Suatu ketika saya mengantarkan mertua saya mencari buruh tanam padi ke Karang Sasak Juwukmanis. Memasuki pekarangan sebuah keluarga, kami mendapati seorang bapak sedang bercakap-cakap dengan seorang anak muda.

Anak muda itu berpenampilan rapi. Saya menduga anak muda itu tinggal di luar Karangasem, entah di Denpasar atau Buleleng. Begitu tuan rumah menyilakan kami duduk, baru anak muda itu meninggalkan kami keluar pekarangan rumah.

“Sapapasira sané ngiring Bapak iwau?” saya bertanya kepada tuan rumah.

“Tityang jeroné,” tuan rumah menjawab pertanyaan saya.

“Sané pinih alit nggih, Pak?” saya kembali bertanya.

“Inggih. Tityang jeroné puniki pyanak tityangé sané pangejol.” Tuan rumah menjelaskan bahwa anak muda itu anak bungsunya.

“Ring dija makarya okané, Pak?” saya menanyakan tempat kerja anaknya.

“Ring Badung nika, Jero Komang.”

Saya mencari-cari padanan kata tityang jeroné dalam bahasa Indonesia. Tityang itu hamba atau sahaya. Jero itu tuan. Tityang jeroné itu hamba tuanku, sahaya tuanku, atau hamba sahaya tuanku. Seperti itu cara mereka merendah dalam berbahasa Bali.

Seseorang dari Karang Sasak ketika menyapa seseorang dari Karang Bali ada embel-embel jero, tuan. Jero Wayan, Jero Made, Jero Komang, atau Jero Luh, yang sejak kecil familiar saya dengar—dan beberapa yang masih mempertahankan cara menyapa seperti itu.

Untung saja saya tidak lahir sebagai anak keempat atau anak kedelapan atau kelipatannya sehingga nama urut saya bukan Ketut. Jika nama urut saya Ketut, karena tempat tinggal saya dekat dengan Karang Sasak, saya akan kerap disapa Jero Ketut.

Berbeda dengan Karang Sasak di Juwukmanis yang mengenalkan tityang jeroné kepada saya, teman Sasak saya dari Kecicang Islam, Bungaya Kangin, mengenalkan kosakata tuweng (untuk tuwung, terung), buweng (untuk buwung, batal), lalu ada sabah (untuk sabeh, hujan).

Teman saya dari Karangsasak Danginsema mengenalkan kosakata tuhung (untuk tuwung, terung) dan buhung (untuk buwung, batal). Lalu teman saya dari Karangsokong mengenalkan kosakata antino (untuk antina, ditunggu), sero (sera, terasi), kesuno (kesuna, bawang putih), dan abano (untuk abana, dibawa).

Gejala penambahan fonem dan atau penghilangan fonem pada kosakata bahasa Bali versi bahasa Sasak, berbeda antara di Karang Sasak dengan di Karang Bali. Kosakata byana (tidak, bukan), misalnya. Di Karang Bali, kosakata byana menjadi yana, ana, na, atau nek. Di Karang Sasak, byana menjadi banak atau nak.

Berbeda lagi dengan ipar saya yang tinggal di Sasak (Lombok). Kata sangkal atau sangkan menjadi sangkak atau angkak, lalu sangkala atau sangkana menjadi sangkak’a atau angkak’a (sangkak’a atau angkak’a saya tulis untuk menghindari dilafalkan sangkaka atau angkaka).

Dipungut juga kosakata bahasa Sasak mengaya bahasa Bali di Sasak seperti sebahan (mungkin mendekati sungguhan, betulan), kaok (kerbau), ijung (babi hutan), meriri (bersih-bersih di lingkungan tempat tinggal), dan ngenyok (minum). Lalu ada lasingan yang belum berhasil saya padankan dengan kosakata bahasa Bali.

Lenturnya penutur bahasa Bali menerima bahasa Sasak tentu menjadi keindahan tersendiri ketika berbahasa Bali. Sayangnya, dengan kian sempit ruang fungsi bahasa Bali di lingkungan kerja dan lingkungan keseharian, menyulitkan saya ketika berniat mencuri-dengar bahasa Bali versi lain dari bahasa Bali yang saya pahami.

Ditambah patron percakapan gaya orang masa kini seperti sudah otomatis dalam bahasa Indonesia, tidak bahasa Bali.[T]

Menuliskan /E/ Pepet dan /E/Taleng — Tinjauan Kecil Terhadap Sejumlah Cerpen Bali Modern
Nyaru Basa
Diseminasi Revitalisasi Bahasa Daerah: Mulai Dari Diri Agar Tidak “Sebates Munyi”
Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?
Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa

Next Post

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co