23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Kristia Ningsih by Kristia Ningsih
November 14, 2023
in Bahasa
Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Foto diolah dari internet

FILM, yakni lakon atau cerita gambar hidup (KBBI Online). Sebut saja misalnya Get Married (2007) yang dibintangi Nirina Zubir. Kalau kita ingin haha hihi, film ini bisa jadi pilihan. Kita juga dapat menikmati persahabatan, cinta, hingga rumah tangga di dalamnya.

Namun, kali ini penulis bukan hendak mereview film tersebut. Fokus pembahasan kali ini yakni mengenai judul-judul film di negeri kita, baik yang berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Indonesia. Pengaruh hal tersebut pada pengakuan kualitas filmnya juga akan turut jadi pembahasan.

Dalam televisi, biasanya iklan berseliweran, salah satunya iklan promosi film yang akan tayang di bioskop. Sebut saja misalnya Dear Nathan: Thank You Salma. Walau berbahasa Inggris, film ini buatan dalam negeri. Sama halnya seperti film saat penulis masih remaja dulu, ada Eiffel, I’m in Love. Diakui atau tidak, judul film dalam bahasa Inggris sudah tak asing lagi di negeri kita.

Bagaimana dengan judul film yang berbahasa Indonesia? Pada 2008 lalu, muncul film dalam negeri berlatar Mesir. Tokoh utamanya seorang mahasiswa Indonesia dengan beberapa dialog berbahasa Inggris dan Arab di dalamnya. Tak tanggung-tanggung, film ini juga fenomenal: bertemakan poligami. Tema yang umumnya membuat ibu-ibu berkerut dahi nan merasa dimadu, ternyata bisa memberi pemahaman baru. Poligami seolah solusi kehidupan.

Meski budaya dan bahasa asing tampil di film ini, tetapi judulnya tetap berbahasa Indonesia: Ayat-Ayat Cinta. Selain kena ke hati, film ini dianugerahi rekor Muri karena dianggap paling banyak ditonton (antaranews.com).

Di samping itu, film ini mendapat penghargaan dari Festival Film Bandung: Film Terpuji, Sutradara Terpuji, Pemeran Utama Pria Terpuji, Penata Musik Terpuji, dan Penata Artistik Terpuji. Sedangkan dalam Festival Film Indonesia, film ini justru tak masuk nominasi sehingga menjadi kontroversi.

Lain lagi, film aksi laga yang mengenalkan silat Sumatra Barat diberi judul Merantau. Merantau berarti pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu dan sebagainya) (KBBI Online).Dalam film ini, selain sang tokoh utama benar-benar merantau, yang mana berarti tepat guna diksi merantau tadi; ia juga benar-benar bertarung berhadapan dengan orang yang berbahasa Inggris alias mafia bule.

Rasa-rasanya wajar bila film ini diberi judul berbahasa Inggris, tetapi lagi-lagi rupanya tidak. Sampai pada bahasan ini, rasanya, kaitan kualitas film dengan pemilihan bahasa pada judulnya, menarik untuk dicermati.

***

Mari kita lihat film-film peraih penghargaan lima tahun terakhir. Kita juga akan melihat judul-judul film yang dibahasai-Inggris di masanya. Sebelumnya patutlah kita kenalkan, siapa pemberi penghargaan perfilman kita. Festival Film Indonesia adalah ajang yang memberikan piala citra dengan kata ‘terbaik’. Sedangkan Festival Film Bandung menyandingkan kata ‘terpuji’ bagi sang pemenang nominasinya.

Dikutip dari Wikipedia, pada 2021, piala citra jatuh pada Penyalin Cahaya. Tidak ada film terpuji di tahun itu. Ali & Ratu Ratu Queens (Ali dan Ratu-Ratu) danParanoia (Penyakit Gila Karena Ketakutan) menampilkan bahasa Inggris pada judulnya. Kemudian, Perempuan Tanah Jahanam mendapat piala citra dan Bumi Manusia menjadi film terpuji pada 2020.

Judul nginggris di angkatannya: Humba Dreams (Impian Humba), Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (Ketaksempurnaan: Karir, Cinta & Timbangan), dan Susi Susanti: Love All (Susi Susanti: Sayang Semuanya).

Mundur pada tahun 2019, piala citra dinobatkan pada Kucumbu Tubuh Indahku dan Dua Garis Biru menjadi film terpuji. 27 Steps of May (27 Langkah May) tak mendapatkan penghargaan terbaik tahun itu. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi film terbaik Indonesia pada tahun 2018. Film terpuji yakni Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Ada Love for Sale (Cinta Buat Dijual) di angkatannya.

Terakhir, pada 2017, film terbaik akhirnya jatuh pada film yang judulnya dibahasa-inggris-kan: Night Bus. Cek Toko Sebelah menjadi film terpuji pada tahun itu. Tak ada film lain yang menggunakan bahasa Inggris di angkatannya yang masuk dalam nominasi. Ringkasnya, dalam lima tahun terakhir, hanya ada satu film terbaik yang judulnya dalam bahasa Inggris. Sedangkan tujuh judul film berbahasa Inggris lainnya, tidak. Judul film berbahasa Indonesia lebih mendominasi pemerolehan penghargaan.

Ada pula film dalam negeri yang masuk kancah internasional. Apakah judulnya pasti dalam bahasa Inggris? Mari kita lihat. Dilansir dari grid.id, ada 15 film Nusantara yang mendapat perhatian luar negeri dari ajang film seperti Tokyo International Film Festival, Asia-Pacific Film Festival, Hawaii International Film Festival, Asian Film Awards, Vesoul International Film Festival, Busan International Film Festival hingga Melbourne International Film Festival.

Apa saja filmnya? Daun di Atas Bantal (1998), Pasir Berbisik (2001), Berbagi Suami (2006), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), 3 Doa 3 Cinta (2009), Merantau (2009), The Raid (2011), Modus Anomali (2012), Jalanan (2014), Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017), Turah (2016), Sekala Niskala (The Seen and Unseen) (2017), Humba Dreams (2017), dan Battle of Surabaya (2017).

Dari keseluruhan film ini, hanya ada tiga judul dengan bahasa Inggris: The Raid, Humba Dreams,dan Battle of Surabaya. Sedangkan Sekala Niskala yang diterjemahkan menjadi The Seen and Unseen tak dianggap menggunakan judul berbahasa Inggris karena judul asli filmnya dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan 12 judul film berbahasa Indonesia lainnya ada yang memenangkan penghargaan, ada pula yang hanya masuk nominasi. Ahli perfilman akan lebih mumpuni menjelaskan apa saja kualitas 15 film dalam negeri tadi. Namun, kembali pada maksud tulisan ini, kita hendak mencicipi rasa bahasa judul-judul film go internationl tersebut.

Lihat saja, Daun di Atas Bantal.Apakah pemandangan daun di atas bantal ini suatu yang sering terjadi? Tidak bukan? Namun bisa saja, judul film tahun 1998 ini menandakan seseorang benar-benar pernah melihat daun di atas bantal.

Kemudian ingatan itu direkam dan disusun menjadi kata-kata. Tak ubahanya seseorang yang membaca apel yang jatuh. Lalu ia sibuk berpikir dan bertanya mengapa. Kejadian apel yang jatuh ini menginspirasinya. Terciptalah teori gravitasi pada1665 oleh Isaac Newton.

Pasir Berbisik bermajaskan personifikasi. Mana mungkin pasir dapat meniru manusia yang berbisik. Namun sang penentu judul film bisa saja seorang yang peka. Ia barangkali sedang berada di suatu pantai. Pantai mungkin sekadar tempat berwisata bagi banyak orang. Namun baginya, ia mendapatkan hiburan, ketenteraman. Begitu hal itu bersatupadu, ia merasa seolah pasir sedang berbisik padanya.

Berbagi Suami,tidakkah ini menggelitik. Mana ada wanita yang rela berbagi suami. Mungkin ada, tetapi seperti jarum dalam tumpuk jerami.  Padahal dalam Islam, poligami diperbolehkan dan justru tak menyelisihi agama. Berbagi Suami tentu menawarkan perspektif yang tidak biasa hingga memikat mata internasional.

Film dengan judul Penyalin Cahaya bukan suatu yang lazim. Cahaya bukan tulisan yang dapat disalin. Tentu ada maksud lain di sana. Sebagai seorang yang sama sekali belum pernah menonton film ini, mungkin kita bisa terpancing untuk membaca sinopsis atau bahkan mencoba mengakses filmnya.

Perempuan Tanah Jahanam juga sama memancingnya. Adakah tempat yang lebih jahanam selain neraka yang dimaksudkan film ini? Apakah itu peperangan ataukah suatu lingkungan sosial yang amat sangat gelap? Serta apa yang terjadi dengan perempuan di tanah jahanam tersebut.

Bagaimana dengan Kucumbu Tubuh Indahku?Lagi-lagi memancing tanya. Biasanya cumbu adalah suatu interaksi antara dua manusia. Mesum bagi yang belum menikah dan rahasia bagi yang sudah menikah. Lalu bagaimana dengan seseorang yang mencumbu dirinya sendiri. Apakah dia tak waras ataukah dia kesurupan?

Demikianlah kiranya, betapa bahasa Nusantara kita, bahasa Indonesia, amat sudah mumpuni sebagai judul film. Justru akan sangat memancing untuk disimak. Terlebih bila judul tersebut menggunakan gaya-gaya bahasa. Justru judul film Nusantara dengan bahasa Inggris, malah sedikit saja yang mendapat penghargaan.

Judul film dengan bahasa Indonesia tidak menghalangi kualitas filmnya. Justru judul-judul tersebut membuat mata-mata asing penasaran. Apa gerangan arti kata tersebut? Kemudian mereka mencari sendiri artinya. Tidakkah ini juga termasuk bangga sekaligus mempromosikan bahasa Indonesia ke kancah dunia?[T]

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: BahasaBahasa IndonesiaBahasa Inggrisfilm
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Next Post

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Kristia Ningsih

Kristia Ningsih

Penulis lepas dari Bangka Belitung

Related Posts

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co