2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Kristia Ningsih by Kristia Ningsih
November 14, 2023
in Bahasa
Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Foto diolah dari internet

FILM, yakni lakon atau cerita gambar hidup (KBBI Online). Sebut saja misalnya Get Married (2007) yang dibintangi Nirina Zubir. Kalau kita ingin haha hihi, film ini bisa jadi pilihan. Kita juga dapat menikmati persahabatan, cinta, hingga rumah tangga di dalamnya.

Namun, kali ini penulis bukan hendak mereview film tersebut. Fokus pembahasan kali ini yakni mengenai judul-judul film di negeri kita, baik yang berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Indonesia. Pengaruh hal tersebut pada pengakuan kualitas filmnya juga akan turut jadi pembahasan.

Dalam televisi, biasanya iklan berseliweran, salah satunya iklan promosi film yang akan tayang di bioskop. Sebut saja misalnya Dear Nathan: Thank You Salma. Walau berbahasa Inggris, film ini buatan dalam negeri. Sama halnya seperti film saat penulis masih remaja dulu, ada Eiffel, I’m in Love. Diakui atau tidak, judul film dalam bahasa Inggris sudah tak asing lagi di negeri kita.

Bagaimana dengan judul film yang berbahasa Indonesia? Pada 2008 lalu, muncul film dalam negeri berlatar Mesir. Tokoh utamanya seorang mahasiswa Indonesia dengan beberapa dialog berbahasa Inggris dan Arab di dalamnya. Tak tanggung-tanggung, film ini juga fenomenal: bertemakan poligami. Tema yang umumnya membuat ibu-ibu berkerut dahi nan merasa dimadu, ternyata bisa memberi pemahaman baru. Poligami seolah solusi kehidupan.

Meski budaya dan bahasa asing tampil di film ini, tetapi judulnya tetap berbahasa Indonesia: Ayat-Ayat Cinta. Selain kena ke hati, film ini dianugerahi rekor Muri karena dianggap paling banyak ditonton (antaranews.com).

Di samping itu, film ini mendapat penghargaan dari Festival Film Bandung: Film Terpuji, Sutradara Terpuji, Pemeran Utama Pria Terpuji, Penata Musik Terpuji, dan Penata Artistik Terpuji. Sedangkan dalam Festival Film Indonesia, film ini justru tak masuk nominasi sehingga menjadi kontroversi.

Lain lagi, film aksi laga yang mengenalkan silat Sumatra Barat diberi judul Merantau. Merantau berarti pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu dan sebagainya) (KBBI Online).Dalam film ini, selain sang tokoh utama benar-benar merantau, yang mana berarti tepat guna diksi merantau tadi; ia juga benar-benar bertarung berhadapan dengan orang yang berbahasa Inggris alias mafia bule.

Rasa-rasanya wajar bila film ini diberi judul berbahasa Inggris, tetapi lagi-lagi rupanya tidak. Sampai pada bahasan ini, rasanya, kaitan kualitas film dengan pemilihan bahasa pada judulnya, menarik untuk dicermati.

***

Mari kita lihat film-film peraih penghargaan lima tahun terakhir. Kita juga akan melihat judul-judul film yang dibahasai-Inggris di masanya. Sebelumnya patutlah kita kenalkan, siapa pemberi penghargaan perfilman kita. Festival Film Indonesia adalah ajang yang memberikan piala citra dengan kata ‘terbaik’. Sedangkan Festival Film Bandung menyandingkan kata ‘terpuji’ bagi sang pemenang nominasinya.

Dikutip dari Wikipedia, pada 2021, piala citra jatuh pada Penyalin Cahaya. Tidak ada film terpuji di tahun itu. Ali & Ratu Ratu Queens (Ali dan Ratu-Ratu) danParanoia (Penyakit Gila Karena Ketakutan) menampilkan bahasa Inggris pada judulnya. Kemudian, Perempuan Tanah Jahanam mendapat piala citra dan Bumi Manusia menjadi film terpuji pada 2020.

Judul nginggris di angkatannya: Humba Dreams (Impian Humba), Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (Ketaksempurnaan: Karir, Cinta & Timbangan), dan Susi Susanti: Love All (Susi Susanti: Sayang Semuanya).

Mundur pada tahun 2019, piala citra dinobatkan pada Kucumbu Tubuh Indahku dan Dua Garis Biru menjadi film terpuji. 27 Steps of May (27 Langkah May) tak mendapatkan penghargaan terbaik tahun itu. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi film terbaik Indonesia pada tahun 2018. Film terpuji yakni Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Ada Love for Sale (Cinta Buat Dijual) di angkatannya.

Terakhir, pada 2017, film terbaik akhirnya jatuh pada film yang judulnya dibahasa-inggris-kan: Night Bus. Cek Toko Sebelah menjadi film terpuji pada tahun itu. Tak ada film lain yang menggunakan bahasa Inggris di angkatannya yang masuk dalam nominasi. Ringkasnya, dalam lima tahun terakhir, hanya ada satu film terbaik yang judulnya dalam bahasa Inggris. Sedangkan tujuh judul film berbahasa Inggris lainnya, tidak. Judul film berbahasa Indonesia lebih mendominasi pemerolehan penghargaan.

Ada pula film dalam negeri yang masuk kancah internasional. Apakah judulnya pasti dalam bahasa Inggris? Mari kita lihat. Dilansir dari grid.id, ada 15 film Nusantara yang mendapat perhatian luar negeri dari ajang film seperti Tokyo International Film Festival, Asia-Pacific Film Festival, Hawaii International Film Festival, Asian Film Awards, Vesoul International Film Festival, Busan International Film Festival hingga Melbourne International Film Festival.

Apa saja filmnya? Daun di Atas Bantal (1998), Pasir Berbisik (2001), Berbagi Suami (2006), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), 3 Doa 3 Cinta (2009), Merantau (2009), The Raid (2011), Modus Anomali (2012), Jalanan (2014), Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017), Turah (2016), Sekala Niskala (The Seen and Unseen) (2017), Humba Dreams (2017), dan Battle of Surabaya (2017).

Dari keseluruhan film ini, hanya ada tiga judul dengan bahasa Inggris: The Raid, Humba Dreams,dan Battle of Surabaya. Sedangkan Sekala Niskala yang diterjemahkan menjadi The Seen and Unseen tak dianggap menggunakan judul berbahasa Inggris karena judul asli filmnya dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan 12 judul film berbahasa Indonesia lainnya ada yang memenangkan penghargaan, ada pula yang hanya masuk nominasi. Ahli perfilman akan lebih mumpuni menjelaskan apa saja kualitas 15 film dalam negeri tadi. Namun, kembali pada maksud tulisan ini, kita hendak mencicipi rasa bahasa judul-judul film go internationl tersebut.

Lihat saja, Daun di Atas Bantal.Apakah pemandangan daun di atas bantal ini suatu yang sering terjadi? Tidak bukan? Namun bisa saja, judul film tahun 1998 ini menandakan seseorang benar-benar pernah melihat daun di atas bantal.

Kemudian ingatan itu direkam dan disusun menjadi kata-kata. Tak ubahanya seseorang yang membaca apel yang jatuh. Lalu ia sibuk berpikir dan bertanya mengapa. Kejadian apel yang jatuh ini menginspirasinya. Terciptalah teori gravitasi pada1665 oleh Isaac Newton.

Pasir Berbisik bermajaskan personifikasi. Mana mungkin pasir dapat meniru manusia yang berbisik. Namun sang penentu judul film bisa saja seorang yang peka. Ia barangkali sedang berada di suatu pantai. Pantai mungkin sekadar tempat berwisata bagi banyak orang. Namun baginya, ia mendapatkan hiburan, ketenteraman. Begitu hal itu bersatupadu, ia merasa seolah pasir sedang berbisik padanya.

Berbagi Suami,tidakkah ini menggelitik. Mana ada wanita yang rela berbagi suami. Mungkin ada, tetapi seperti jarum dalam tumpuk jerami.  Padahal dalam Islam, poligami diperbolehkan dan justru tak menyelisihi agama. Berbagi Suami tentu menawarkan perspektif yang tidak biasa hingga memikat mata internasional.

Film dengan judul Penyalin Cahaya bukan suatu yang lazim. Cahaya bukan tulisan yang dapat disalin. Tentu ada maksud lain di sana. Sebagai seorang yang sama sekali belum pernah menonton film ini, mungkin kita bisa terpancing untuk membaca sinopsis atau bahkan mencoba mengakses filmnya.

Perempuan Tanah Jahanam juga sama memancingnya. Adakah tempat yang lebih jahanam selain neraka yang dimaksudkan film ini? Apakah itu peperangan ataukah suatu lingkungan sosial yang amat sangat gelap? Serta apa yang terjadi dengan perempuan di tanah jahanam tersebut.

Bagaimana dengan Kucumbu Tubuh Indahku?Lagi-lagi memancing tanya. Biasanya cumbu adalah suatu interaksi antara dua manusia. Mesum bagi yang belum menikah dan rahasia bagi yang sudah menikah. Lalu bagaimana dengan seseorang yang mencumbu dirinya sendiri. Apakah dia tak waras ataukah dia kesurupan?

Demikianlah kiranya, betapa bahasa Nusantara kita, bahasa Indonesia, amat sudah mumpuni sebagai judul film. Justru akan sangat memancing untuk disimak. Terlebih bila judul tersebut menggunakan gaya-gaya bahasa. Justru judul film Nusantara dengan bahasa Inggris, malah sedikit saja yang mendapat penghargaan.

Judul film dengan bahasa Indonesia tidak menghalangi kualitas filmnya. Justru judul-judul tersebut membuat mata-mata asing penasaran. Apa gerangan arti kata tersebut? Kemudian mereka mencari sendiri artinya. Tidakkah ini juga termasuk bangga sekaligus mempromosikan bahasa Indonesia ke kancah dunia?[T]

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: BahasaBahasa IndonesiaBahasa Inggrisfilm
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Next Post

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Kristia Ningsih

Kristia Ningsih

Penulis lepas dari Bangka Belitung

Related Posts

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

by I Made Sudiana
November 1, 2026
0
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

Read moreDetails

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

by I Made Sudiana
October 26, 2026
0
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

Read moreDetails

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co