12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Kristia Ningsih by Kristia Ningsih
November 14, 2023
in Bahasa
Seberapa Greget Judul-Judul Film di Negeri Kita?

Foto diolah dari internet

FILM, yakni lakon atau cerita gambar hidup (KBBI Online). Sebut saja misalnya Get Married (2007) yang dibintangi Nirina Zubir. Kalau kita ingin haha hihi, film ini bisa jadi pilihan. Kita juga dapat menikmati persahabatan, cinta, hingga rumah tangga di dalamnya.

Namun, kali ini penulis bukan hendak mereview film tersebut. Fokus pembahasan kali ini yakni mengenai judul-judul film di negeri kita, baik yang berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Indonesia. Pengaruh hal tersebut pada pengakuan kualitas filmnya juga akan turut jadi pembahasan.

Dalam televisi, biasanya iklan berseliweran, salah satunya iklan promosi film yang akan tayang di bioskop. Sebut saja misalnya Dear Nathan: Thank You Salma. Walau berbahasa Inggris, film ini buatan dalam negeri. Sama halnya seperti film saat penulis masih remaja dulu, ada Eiffel, I’m in Love. Diakui atau tidak, judul film dalam bahasa Inggris sudah tak asing lagi di negeri kita.

Bagaimana dengan judul film yang berbahasa Indonesia? Pada 2008 lalu, muncul film dalam negeri berlatar Mesir. Tokoh utamanya seorang mahasiswa Indonesia dengan beberapa dialog berbahasa Inggris dan Arab di dalamnya. Tak tanggung-tanggung, film ini juga fenomenal: bertemakan poligami. Tema yang umumnya membuat ibu-ibu berkerut dahi nan merasa dimadu, ternyata bisa memberi pemahaman baru. Poligami seolah solusi kehidupan.

Meski budaya dan bahasa asing tampil di film ini, tetapi judulnya tetap berbahasa Indonesia: Ayat-Ayat Cinta. Selain kena ke hati, film ini dianugerahi rekor Muri karena dianggap paling banyak ditonton (antaranews.com).

Di samping itu, film ini mendapat penghargaan dari Festival Film Bandung: Film Terpuji, Sutradara Terpuji, Pemeran Utama Pria Terpuji, Penata Musik Terpuji, dan Penata Artistik Terpuji. Sedangkan dalam Festival Film Indonesia, film ini justru tak masuk nominasi sehingga menjadi kontroversi.

Lain lagi, film aksi laga yang mengenalkan silat Sumatra Barat diberi judul Merantau. Merantau berarti pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu dan sebagainya) (KBBI Online).Dalam film ini, selain sang tokoh utama benar-benar merantau, yang mana berarti tepat guna diksi merantau tadi; ia juga benar-benar bertarung berhadapan dengan orang yang berbahasa Inggris alias mafia bule.

Rasa-rasanya wajar bila film ini diberi judul berbahasa Inggris, tetapi lagi-lagi rupanya tidak. Sampai pada bahasan ini, rasanya, kaitan kualitas film dengan pemilihan bahasa pada judulnya, menarik untuk dicermati.

***

Mari kita lihat film-film peraih penghargaan lima tahun terakhir. Kita juga akan melihat judul-judul film yang dibahasai-Inggris di masanya. Sebelumnya patutlah kita kenalkan, siapa pemberi penghargaan perfilman kita. Festival Film Indonesia adalah ajang yang memberikan piala citra dengan kata ‘terbaik’. Sedangkan Festival Film Bandung menyandingkan kata ‘terpuji’ bagi sang pemenang nominasinya.

Dikutip dari Wikipedia, pada 2021, piala citra jatuh pada Penyalin Cahaya. Tidak ada film terpuji di tahun itu. Ali & Ratu Ratu Queens (Ali dan Ratu-Ratu) danParanoia (Penyakit Gila Karena Ketakutan) menampilkan bahasa Inggris pada judulnya. Kemudian, Perempuan Tanah Jahanam mendapat piala citra dan Bumi Manusia menjadi film terpuji pada 2020.

Judul nginggris di angkatannya: Humba Dreams (Impian Humba), Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (Ketaksempurnaan: Karir, Cinta & Timbangan), dan Susi Susanti: Love All (Susi Susanti: Sayang Semuanya).

Mundur pada tahun 2019, piala citra dinobatkan pada Kucumbu Tubuh Indahku dan Dua Garis Biru menjadi film terpuji. 27 Steps of May (27 Langkah May) tak mendapatkan penghargaan terbaik tahun itu. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi film terbaik Indonesia pada tahun 2018. Film terpuji yakni Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Ada Love for Sale (Cinta Buat Dijual) di angkatannya.

Terakhir, pada 2017, film terbaik akhirnya jatuh pada film yang judulnya dibahasa-inggris-kan: Night Bus. Cek Toko Sebelah menjadi film terpuji pada tahun itu. Tak ada film lain yang menggunakan bahasa Inggris di angkatannya yang masuk dalam nominasi. Ringkasnya, dalam lima tahun terakhir, hanya ada satu film terbaik yang judulnya dalam bahasa Inggris. Sedangkan tujuh judul film berbahasa Inggris lainnya, tidak. Judul film berbahasa Indonesia lebih mendominasi pemerolehan penghargaan.

Ada pula film dalam negeri yang masuk kancah internasional. Apakah judulnya pasti dalam bahasa Inggris? Mari kita lihat. Dilansir dari grid.id, ada 15 film Nusantara yang mendapat perhatian luar negeri dari ajang film seperti Tokyo International Film Festival, Asia-Pacific Film Festival, Hawaii International Film Festival, Asian Film Awards, Vesoul International Film Festival, Busan International Film Festival hingga Melbourne International Film Festival.

Apa saja filmnya? Daun di Atas Bantal (1998), Pasir Berbisik (2001), Berbagi Suami (2006), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), 3 Doa 3 Cinta (2009), Merantau (2009), The Raid (2011), Modus Anomali (2012), Jalanan (2014), Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017), Turah (2016), Sekala Niskala (The Seen and Unseen) (2017), Humba Dreams (2017), dan Battle of Surabaya (2017).

Dari keseluruhan film ini, hanya ada tiga judul dengan bahasa Inggris: The Raid, Humba Dreams,dan Battle of Surabaya. Sedangkan Sekala Niskala yang diterjemahkan menjadi The Seen and Unseen tak dianggap menggunakan judul berbahasa Inggris karena judul asli filmnya dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan 12 judul film berbahasa Indonesia lainnya ada yang memenangkan penghargaan, ada pula yang hanya masuk nominasi. Ahli perfilman akan lebih mumpuni menjelaskan apa saja kualitas 15 film dalam negeri tadi. Namun, kembali pada maksud tulisan ini, kita hendak mencicipi rasa bahasa judul-judul film go internationl tersebut.

Lihat saja, Daun di Atas Bantal.Apakah pemandangan daun di atas bantal ini suatu yang sering terjadi? Tidak bukan? Namun bisa saja, judul film tahun 1998 ini menandakan seseorang benar-benar pernah melihat daun di atas bantal.

Kemudian ingatan itu direkam dan disusun menjadi kata-kata. Tak ubahanya seseorang yang membaca apel yang jatuh. Lalu ia sibuk berpikir dan bertanya mengapa. Kejadian apel yang jatuh ini menginspirasinya. Terciptalah teori gravitasi pada1665 oleh Isaac Newton.

Pasir Berbisik bermajaskan personifikasi. Mana mungkin pasir dapat meniru manusia yang berbisik. Namun sang penentu judul film bisa saja seorang yang peka. Ia barangkali sedang berada di suatu pantai. Pantai mungkin sekadar tempat berwisata bagi banyak orang. Namun baginya, ia mendapatkan hiburan, ketenteraman. Begitu hal itu bersatupadu, ia merasa seolah pasir sedang berbisik padanya.

Berbagi Suami,tidakkah ini menggelitik. Mana ada wanita yang rela berbagi suami. Mungkin ada, tetapi seperti jarum dalam tumpuk jerami.  Padahal dalam Islam, poligami diperbolehkan dan justru tak menyelisihi agama. Berbagi Suami tentu menawarkan perspektif yang tidak biasa hingga memikat mata internasional.

Film dengan judul Penyalin Cahaya bukan suatu yang lazim. Cahaya bukan tulisan yang dapat disalin. Tentu ada maksud lain di sana. Sebagai seorang yang sama sekali belum pernah menonton film ini, mungkin kita bisa terpancing untuk membaca sinopsis atau bahkan mencoba mengakses filmnya.

Perempuan Tanah Jahanam juga sama memancingnya. Adakah tempat yang lebih jahanam selain neraka yang dimaksudkan film ini? Apakah itu peperangan ataukah suatu lingkungan sosial yang amat sangat gelap? Serta apa yang terjadi dengan perempuan di tanah jahanam tersebut.

Bagaimana dengan Kucumbu Tubuh Indahku?Lagi-lagi memancing tanya. Biasanya cumbu adalah suatu interaksi antara dua manusia. Mesum bagi yang belum menikah dan rahasia bagi yang sudah menikah. Lalu bagaimana dengan seseorang yang mencumbu dirinya sendiri. Apakah dia tak waras ataukah dia kesurupan?

Demikianlah kiranya, betapa bahasa Nusantara kita, bahasa Indonesia, amat sudah mumpuni sebagai judul film. Justru akan sangat memancing untuk disimak. Terlebih bila judul tersebut menggunakan gaya-gaya bahasa. Justru judul film Nusantara dengan bahasa Inggris, malah sedikit saja yang mendapat penghargaan.

Judul film dengan bahasa Indonesia tidak menghalangi kualitas filmnya. Justru judul-judul tersebut membuat mata-mata asing penasaran. Apa gerangan arti kata tersebut? Kemudian mereka mencari sendiri artinya. Tidakkah ini juga termasuk bangga sekaligus mempromosikan bahasa Indonesia ke kancah dunia?[T]

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: BahasaBahasa IndonesiaBahasa Inggrisfilm
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Next Post

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Kristia Ningsih

Kristia Ningsih

Penulis lepas dari Bangka Belitung

Related Posts

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Tiga Alasan Menonton Film “Gampang Cuan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co