29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
July 6, 2023
in Ulas Film
Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Poster film NNS | Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

NGERI NGERI SEDAP (NNS) yang diproduksi Imajinari berkolaborasi dengan Visionari Film Fund tahun 2022 dan disutradarai Bene Dion Rajagukguk adalah sebuah film Indonesia yang menggugah. Dia adalah karya yang humanis, jujur, mindful, dan provokatif secara bersamaan.

Dalam 64 hari penayangan film ini berhasil mengumpulkan hampir 3 juta penonton. Amazing! Respons penontonpun positif. Kehadiran NNS bagaikan titik terang bangkitnya film Indonesia setidaknya dalam konteks film yang mengusung budaya lokal kental.

Film ini tak hanya menawarkan kebaruan perspektif, namun juga menawarkan optimisme pada kualitas film Indonesia masa depan. Sebagai karya yang humanis kita dapat melihat bahwa isu yang ditawarkan dalam film ini adalah isu manusia dalam konteks yang paling esensial dan eksistensial.

The essence of being menjadi sebuah premis dalam film ini, soal siapa diri kita sebagai manusia. Isu esensial bisa dilihat dari sejauh mana manusia melihat dirinya sebagai subjek dari kehidupannya dan kebahagiaannya sendiri.

Sedangkan isu eksistensial dapat dilihat dari premis kedua dalam film ini, the existence of being yang ditunjukkan dengan pencarian identitas masing-masing karakter untuk meraih tujuan mereka sendiri dengan mandiri. Isu essence dan existence ini adalah isu sentral yang dihadapi semua manusia. Makna menjadi manusia dan tujuan menjadi manusia.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Dalam bingkai dua premis itu, penulis naskah sekaligus sutradara Bene Dion Rajagukguk dengan cerdas dan cemerlang menyajikan karya ini sebagai sebuah art piece yang mengharukan, menyentuh, dan menggugah.

Yang disentuh Bene adalah relevansi film ini dengan keseharian kita yang sangat kompleks. Persoalan keluarga khususnya menjadi isu sentral yang menggerakkan alur cerita. Siapapun yang memiliki keluarga dengan konteks masing-masing akan terhubung dengan film ini. Ia membangun sesuatu yang dekat dengan audiens, yang mampu menyihir, yang mampu menyindir, sekaligus memaksa berpikir.

Film adalah sebuah bahasa gambar yang mewakili realitas. Realitas mengalami redefinisi dalam film karena dia menjadi realitas baru yang telah melalui serangkaian proses produksi.  Bagaimana Bene Dion sebagai penulis naskah sekaligus sutradara menerjemahkan bahasa verbal menjadi bahasa visual? Bagaimana perspektif filsafat melihat bahasa visual?

Dalam pengantarnya untuk buku “Tractatus Logico Philosophicus” karya Wittgenstein (1922) Bertrand Russel mengatakan bahwa ada beberapa persoalan bahasa di mana kata-kata tidak dapat begitu saja mewakili fakta atau realita.

Menurut Russel, Wittgenstein ingin mengajukan sebuah tesis fundamental bahwa harus ada kesamaan antara struktur bahasa dan struktur fakta. Filosofi bekerja jika realita dapat diamati. Karena objeknya adalah klarifikasi logika.

Menurut Wittgenstein gambar adalah representasi realitas atau struktur fakta, karena hanya dengan demikian ia dapat diamati dengan logika. Dalil ketiga dalam tractatus adalah “a logical picture of fact is the thought”. Dalam konteks film, bahan bakar dalam film adalah pikiran sutradara yang diterjemahkan dalam gambar yang logis. Sedangkan dalil keempat adalah “a thought is a proposition with a sense”. Bahwa pikiran disusun dari sebuah gagasan dengan logika.

Jadi alur pikir sutradara Bene Dion dapat diamati dengan jelas lewat bahasa visualnya. Dalam konteks film NNS, logika gambar ini sangat kuat. Bahkan sangat mindful dan meaningful. Kita disuguhi fakta visual Danau Toba yang indah dan menawan, juga alam yang mendukungnya, langit yang cantik, bukit yang permai, dan seterusnya.

Ia memanjakan logika dan rasa dalam diri kita. Lalu bahasa mengalir hadir, tidak hanya melalui visual namun melalui bahasa dialog dengan aksen Batak yang kental, dengan budaya yang filosofis, dan juga membangun kebaruan. Setting rumah keluarga yang sederhana, akrab, dan hangat juga menjadi sebuah realitas visual yang kuat.

Di sinilah kekuatan lain hadir. Mindfulness. Mindfulness adalah sebuah gagasan yang dimunculkan oleh Ellen J Langer, seorang pakar psikologi yang menawarkan konsep ketenangan dan kedamaian sebagai benih evolusi budaya. Menurut Langer (1989) mindfulness dapat dicermati dari empat indikator mindfulness yaitu mencermati kebaruan, menemukan konteks, menjadi fleksibel, dan membuat sebuah kategori baru.

Dalam indikator kebaruan, film NNS memberikan kebaruan yaitu mengangkat isu humanisme dengan narrative yang baru, di mana sebuah budaya patriarkis dikritisi dengan cerdas dan menggunakan pendekatan yang baru yaitu pendekatan kultural Batak. Dalam film ini kita akan menyadari bahwa secara mindful film ini menyajikan kondisi budaya Batak dengan dominasi laki-laki yang kuat seperti tergambar dalam karakter Pak Domu yang keras kepala.

Ia selalu mendominasi keputusan keluarga, khususnya mengendalikan kehendak istrinya dan anak-anaknya. Yang konyol, dia memiliki ide pura-pura bercerai dengan istrinya agar anak-anaknya yang jauh merantau mau pulang dan mendamaikan.

Nahasnya, kebohongan tercipta hanya untuk menciptakan kebohongan baru, dan perlahan kondisi makin runyam. Kendali Pak Domu makin kuat dan makin tak masuk akal sehingga Mak Domu merasa lelah dan iapun membongkar semua kebohongan Pak Domu.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Kebaruan lain dalam film ini kemudian terletak pada bagaimana kendali itu perlahan memudar dan goyah seiring dengan perlawanan Mak Domu (istri Pak Domu) yang mengatakan cukup lelah dengan semua tekanan yang terjadi dan memilih menentukan sikap untuk berpisah dari Pak Domu dan kembali ke rumah ibunya.

Perlawanan Mak Domu adalah pendobrakan terhadap dominasi patriarki sebagai kebaruan dalam konteks budaya patriarki. Hal ini diikuti oleh  kepergian semua anaknya yang merasa telah dibohongi dan dikendalikan dengan tak masuk akal. Keharuan hadir ketika adegan Pak Domu kesepian dan merenungi rumahnya seorang diri, makan sendiri di meja makan, dan tampak bersedih.

Indikator kedua dalam mindfulness adalah berakar pada konteks. Konteks yang terjadi dalam film ini adalah sebuah konteks budaya di mana budaya Batak digambarkan dengan kuat dan indah, di mana ada dominasi patriarki dan dengan natural dikritisi oleh film ini melalui karakter Mak Domu dan anak-anaknya yang mendobrak dominasi Pak Domu dan memberinya pelajaran.

Karakter Pak Domu yang egois dan keras kepala menjadi memudar dan sadar pada dirinya bahwa ia masih membutuhkan keluarga. Bahwa essence of being-nya adalah menjadi seorang ayah. Dan the existence of being-nya adalah menjadi ayah yang baik dan mampu diterima anak-anaknya.

Indikator ketiga dalam mindfulness adalah fleksibilitas. Fleksibilitas dalam film ini digambarkan dengan karakter Pak Domu yang akhirnya mau menerima perubahan dan mau mengakui kesalahannya.

Ia mengakui bahwa ia terlalu mendominasi dan mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf dengan tulus kepada anak-anaknya dan Mak Domu, memahami kondisi yang menyebabkan anak-anaknya dan istrinya memberontak kepadanya. Fleksibilitas ini adalah sebuah ciri mindfulness yaitu dapat berubah menyesuaikan dengan kondisi.

Indikator keempat dalam mindfulness adalah creating new category atau membuat kategori baru di mana film ini menyajikan sebuah realitas baru di mana isu humanisme tentang essence of being dan the existence of being dapat disajikan dengan kesegaran budaya Batak yang kental namun dibungkus dengan kritik yang membangun. Sebuah narrative baru lahir di mana dominasi patriarki dapat dikritisi dengan perspektif baru dan bahwa perubahan dapat terjadi jika diusahakan bersama-sama.

Adegan happy ending menutup film ini, di mana Pak Domu sekeluarga makan bersama dan bahagia. Simbol adegan ini adalah lahirnya harapan baru, kebahagiaan baru, dan kesempatan baru.[T]

Daftar pustaka:

  • Langer, E. J. (1989). Mindfulness. Merloyd Lawer. http://www.perseusbooksgroup.com
  • Wittgenstein, L. (1922). Tractatus logico philosophicus. Harcourt, Brace and Company, Inc.
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!
Lima Film Program Purwa Carita Campuhan: Karya yang Lengkap, Klise, Ketengan, dan Terkesan Main-main
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
White Building : Potret Keruntuhan
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8
Tags: bioskopfilmFilm Indonesiafilm layar lebarfilsafatUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugeng Santoso: Guru Muda Berprestasi yang Mengajar Sampai Jauh

Next Post

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co