6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
July 6, 2023
in Ulas Film
Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Poster film NNS | Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

NGERI NGERI SEDAP (NNS) yang diproduksi Imajinari berkolaborasi dengan Visionari Film Fund tahun 2022 dan disutradarai Bene Dion Rajagukguk adalah sebuah film Indonesia yang menggugah. Dia adalah karya yang humanis, jujur, mindful, dan provokatif secara bersamaan.

Dalam 64 hari penayangan film ini berhasil mengumpulkan hampir 3 juta penonton. Amazing! Respons penontonpun positif. Kehadiran NNS bagaikan titik terang bangkitnya film Indonesia setidaknya dalam konteks film yang mengusung budaya lokal kental.

Film ini tak hanya menawarkan kebaruan perspektif, namun juga menawarkan optimisme pada kualitas film Indonesia masa depan. Sebagai karya yang humanis kita dapat melihat bahwa isu yang ditawarkan dalam film ini adalah isu manusia dalam konteks yang paling esensial dan eksistensial.

The essence of being menjadi sebuah premis dalam film ini, soal siapa diri kita sebagai manusia. Isu esensial bisa dilihat dari sejauh mana manusia melihat dirinya sebagai subjek dari kehidupannya dan kebahagiaannya sendiri.

Sedangkan isu eksistensial dapat dilihat dari premis kedua dalam film ini, the existence of being yang ditunjukkan dengan pencarian identitas masing-masing karakter untuk meraih tujuan mereka sendiri dengan mandiri. Isu essence dan existence ini adalah isu sentral yang dihadapi semua manusia. Makna menjadi manusia dan tujuan menjadi manusia.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Dalam bingkai dua premis itu, penulis naskah sekaligus sutradara Bene Dion Rajagukguk dengan cerdas dan cemerlang menyajikan karya ini sebagai sebuah art piece yang mengharukan, menyentuh, dan menggugah.

Yang disentuh Bene adalah relevansi film ini dengan keseharian kita yang sangat kompleks. Persoalan keluarga khususnya menjadi isu sentral yang menggerakkan alur cerita. Siapapun yang memiliki keluarga dengan konteks masing-masing akan terhubung dengan film ini. Ia membangun sesuatu yang dekat dengan audiens, yang mampu menyihir, yang mampu menyindir, sekaligus memaksa berpikir.

Film adalah sebuah bahasa gambar yang mewakili realitas. Realitas mengalami redefinisi dalam film karena dia menjadi realitas baru yang telah melalui serangkaian proses produksi.  Bagaimana Bene Dion sebagai penulis naskah sekaligus sutradara menerjemahkan bahasa verbal menjadi bahasa visual? Bagaimana perspektif filsafat melihat bahasa visual?

Dalam pengantarnya untuk buku “Tractatus Logico Philosophicus” karya Wittgenstein (1922) Bertrand Russel mengatakan bahwa ada beberapa persoalan bahasa di mana kata-kata tidak dapat begitu saja mewakili fakta atau realita.

Menurut Russel, Wittgenstein ingin mengajukan sebuah tesis fundamental bahwa harus ada kesamaan antara struktur bahasa dan struktur fakta. Filosofi bekerja jika realita dapat diamati. Karena objeknya adalah klarifikasi logika.

Menurut Wittgenstein gambar adalah representasi realitas atau struktur fakta, karena hanya dengan demikian ia dapat diamati dengan logika. Dalil ketiga dalam tractatus adalah “a logical picture of fact is the thought”. Dalam konteks film, bahan bakar dalam film adalah pikiran sutradara yang diterjemahkan dalam gambar yang logis. Sedangkan dalil keempat adalah “a thought is a proposition with a sense”. Bahwa pikiran disusun dari sebuah gagasan dengan logika.

Jadi alur pikir sutradara Bene Dion dapat diamati dengan jelas lewat bahasa visualnya. Dalam konteks film NNS, logika gambar ini sangat kuat. Bahkan sangat mindful dan meaningful. Kita disuguhi fakta visual Danau Toba yang indah dan menawan, juga alam yang mendukungnya, langit yang cantik, bukit yang permai, dan seterusnya.

Ia memanjakan logika dan rasa dalam diri kita. Lalu bahasa mengalir hadir, tidak hanya melalui visual namun melalui bahasa dialog dengan aksen Batak yang kental, dengan budaya yang filosofis, dan juga membangun kebaruan. Setting rumah keluarga yang sederhana, akrab, dan hangat juga menjadi sebuah realitas visual yang kuat.

Di sinilah kekuatan lain hadir. Mindfulness. Mindfulness adalah sebuah gagasan yang dimunculkan oleh Ellen J Langer, seorang pakar psikologi yang menawarkan konsep ketenangan dan kedamaian sebagai benih evolusi budaya. Menurut Langer (1989) mindfulness dapat dicermati dari empat indikator mindfulness yaitu mencermati kebaruan, menemukan konteks, menjadi fleksibel, dan membuat sebuah kategori baru.

Dalam indikator kebaruan, film NNS memberikan kebaruan yaitu mengangkat isu humanisme dengan narrative yang baru, di mana sebuah budaya patriarkis dikritisi dengan cerdas dan menggunakan pendekatan yang baru yaitu pendekatan kultural Batak. Dalam film ini kita akan menyadari bahwa secara mindful film ini menyajikan kondisi budaya Batak dengan dominasi laki-laki yang kuat seperti tergambar dalam karakter Pak Domu yang keras kepala.

Ia selalu mendominasi keputusan keluarga, khususnya mengendalikan kehendak istrinya dan anak-anaknya. Yang konyol, dia memiliki ide pura-pura bercerai dengan istrinya agar anak-anaknya yang jauh merantau mau pulang dan mendamaikan.

Nahasnya, kebohongan tercipta hanya untuk menciptakan kebohongan baru, dan perlahan kondisi makin runyam. Kendali Pak Domu makin kuat dan makin tak masuk akal sehingga Mak Domu merasa lelah dan iapun membongkar semua kebohongan Pak Domu.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Kebaruan lain dalam film ini kemudian terletak pada bagaimana kendali itu perlahan memudar dan goyah seiring dengan perlawanan Mak Domu (istri Pak Domu) yang mengatakan cukup lelah dengan semua tekanan yang terjadi dan memilih menentukan sikap untuk berpisah dari Pak Domu dan kembali ke rumah ibunya.

Perlawanan Mak Domu adalah pendobrakan terhadap dominasi patriarki sebagai kebaruan dalam konteks budaya patriarki. Hal ini diikuti oleh  kepergian semua anaknya yang merasa telah dibohongi dan dikendalikan dengan tak masuk akal. Keharuan hadir ketika adegan Pak Domu kesepian dan merenungi rumahnya seorang diri, makan sendiri di meja makan, dan tampak bersedih.

Indikator kedua dalam mindfulness adalah berakar pada konteks. Konteks yang terjadi dalam film ini adalah sebuah konteks budaya di mana budaya Batak digambarkan dengan kuat dan indah, di mana ada dominasi patriarki dan dengan natural dikritisi oleh film ini melalui karakter Mak Domu dan anak-anaknya yang mendobrak dominasi Pak Domu dan memberinya pelajaran.

Karakter Pak Domu yang egois dan keras kepala menjadi memudar dan sadar pada dirinya bahwa ia masih membutuhkan keluarga. Bahwa essence of being-nya adalah menjadi seorang ayah. Dan the existence of being-nya adalah menjadi ayah yang baik dan mampu diterima anak-anaknya.

Indikator ketiga dalam mindfulness adalah fleksibilitas. Fleksibilitas dalam film ini digambarkan dengan karakter Pak Domu yang akhirnya mau menerima perubahan dan mau mengakui kesalahannya.

Ia mengakui bahwa ia terlalu mendominasi dan mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf dengan tulus kepada anak-anaknya dan Mak Domu, memahami kondisi yang menyebabkan anak-anaknya dan istrinya memberontak kepadanya. Fleksibilitas ini adalah sebuah ciri mindfulness yaitu dapat berubah menyesuaikan dengan kondisi.

Indikator keempat dalam mindfulness adalah creating new category atau membuat kategori baru di mana film ini menyajikan sebuah realitas baru di mana isu humanisme tentang essence of being dan the existence of being dapat disajikan dengan kesegaran budaya Batak yang kental namun dibungkus dengan kritik yang membangun. Sebuah narrative baru lahir di mana dominasi patriarki dapat dikritisi dengan perspektif baru dan bahwa perubahan dapat terjadi jika diusahakan bersama-sama.

Adegan happy ending menutup film ini, di mana Pak Domu sekeluarga makan bersama dan bahagia. Simbol adegan ini adalah lahirnya harapan baru, kebahagiaan baru, dan kesempatan baru.[T]

Daftar pustaka:

  • Langer, E. J. (1989). Mindfulness. Merloyd Lawer. http://www.perseusbooksgroup.com
  • Wittgenstein, L. (1922). Tractatus logico philosophicus. Harcourt, Brace and Company, Inc.
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!
Lima Film Program Purwa Carita Campuhan: Karya yang Lengkap, Klise, Ketengan, dan Terkesan Main-main
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
White Building : Potret Keruntuhan
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8
Tags: bioskopfilmFilm Indonesiafilm layar lebarfilsafatUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugeng Santoso: Guru Muda Berprestasi yang Mengajar Sampai Jauh

Next Post

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co