7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
July 6, 2023
in Ulas Film
Perspektif Logika Wittgenstein dan Mindfulness pada Film Ngeri Ngeri Sedap

Poster film NNS | Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

NGERI NGERI SEDAP (NNS) yang diproduksi Imajinari berkolaborasi dengan Visionari Film Fund tahun 2022 dan disutradarai Bene Dion Rajagukguk adalah sebuah film Indonesia yang menggugah. Dia adalah karya yang humanis, jujur, mindful, dan provokatif secara bersamaan.

Dalam 64 hari penayangan film ini berhasil mengumpulkan hampir 3 juta penonton. Amazing! Respons penontonpun positif. Kehadiran NNS bagaikan titik terang bangkitnya film Indonesia setidaknya dalam konteks film yang mengusung budaya lokal kental.

Film ini tak hanya menawarkan kebaruan perspektif, namun juga menawarkan optimisme pada kualitas film Indonesia masa depan. Sebagai karya yang humanis kita dapat melihat bahwa isu yang ditawarkan dalam film ini adalah isu manusia dalam konteks yang paling esensial dan eksistensial.

The essence of being menjadi sebuah premis dalam film ini, soal siapa diri kita sebagai manusia. Isu esensial bisa dilihat dari sejauh mana manusia melihat dirinya sebagai subjek dari kehidupannya dan kebahagiaannya sendiri.

Sedangkan isu eksistensial dapat dilihat dari premis kedua dalam film ini, the existence of being yang ditunjukkan dengan pencarian identitas masing-masing karakter untuk meraih tujuan mereka sendiri dengan mandiri. Isu essence dan existence ini adalah isu sentral yang dihadapi semua manusia. Makna menjadi manusia dan tujuan menjadi manusia.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Dalam bingkai dua premis itu, penulis naskah sekaligus sutradara Bene Dion Rajagukguk dengan cerdas dan cemerlang menyajikan karya ini sebagai sebuah art piece yang mengharukan, menyentuh, dan menggugah.

Yang disentuh Bene adalah relevansi film ini dengan keseharian kita yang sangat kompleks. Persoalan keluarga khususnya menjadi isu sentral yang menggerakkan alur cerita. Siapapun yang memiliki keluarga dengan konteks masing-masing akan terhubung dengan film ini. Ia membangun sesuatu yang dekat dengan audiens, yang mampu menyihir, yang mampu menyindir, sekaligus memaksa berpikir.

Film adalah sebuah bahasa gambar yang mewakili realitas. Realitas mengalami redefinisi dalam film karena dia menjadi realitas baru yang telah melalui serangkaian proses produksi.  Bagaimana Bene Dion sebagai penulis naskah sekaligus sutradara menerjemahkan bahasa verbal menjadi bahasa visual? Bagaimana perspektif filsafat melihat bahasa visual?

Dalam pengantarnya untuk buku “Tractatus Logico Philosophicus” karya Wittgenstein (1922) Bertrand Russel mengatakan bahwa ada beberapa persoalan bahasa di mana kata-kata tidak dapat begitu saja mewakili fakta atau realita.

Menurut Russel, Wittgenstein ingin mengajukan sebuah tesis fundamental bahwa harus ada kesamaan antara struktur bahasa dan struktur fakta. Filosofi bekerja jika realita dapat diamati. Karena objeknya adalah klarifikasi logika.

Menurut Wittgenstein gambar adalah representasi realitas atau struktur fakta, karena hanya dengan demikian ia dapat diamati dengan logika. Dalil ketiga dalam tractatus adalah “a logical picture of fact is the thought”. Dalam konteks film, bahan bakar dalam film adalah pikiran sutradara yang diterjemahkan dalam gambar yang logis. Sedangkan dalil keempat adalah “a thought is a proposition with a sense”. Bahwa pikiran disusun dari sebuah gagasan dengan logika.

Jadi alur pikir sutradara Bene Dion dapat diamati dengan jelas lewat bahasa visualnya. Dalam konteks film NNS, logika gambar ini sangat kuat. Bahkan sangat mindful dan meaningful. Kita disuguhi fakta visual Danau Toba yang indah dan menawan, juga alam yang mendukungnya, langit yang cantik, bukit yang permai, dan seterusnya.

Ia memanjakan logika dan rasa dalam diri kita. Lalu bahasa mengalir hadir, tidak hanya melalui visual namun melalui bahasa dialog dengan aksen Batak yang kental, dengan budaya yang filosofis, dan juga membangun kebaruan. Setting rumah keluarga yang sederhana, akrab, dan hangat juga menjadi sebuah realitas visual yang kuat.

Di sinilah kekuatan lain hadir. Mindfulness. Mindfulness adalah sebuah gagasan yang dimunculkan oleh Ellen J Langer, seorang pakar psikologi yang menawarkan konsep ketenangan dan kedamaian sebagai benih evolusi budaya. Menurut Langer (1989) mindfulness dapat dicermati dari empat indikator mindfulness yaitu mencermati kebaruan, menemukan konteks, menjadi fleksibel, dan membuat sebuah kategori baru.

Dalam indikator kebaruan, film NNS memberikan kebaruan yaitu mengangkat isu humanisme dengan narrative yang baru, di mana sebuah budaya patriarkis dikritisi dengan cerdas dan menggunakan pendekatan yang baru yaitu pendekatan kultural Batak. Dalam film ini kita akan menyadari bahwa secara mindful film ini menyajikan kondisi budaya Batak dengan dominasi laki-laki yang kuat seperti tergambar dalam karakter Pak Domu yang keras kepala.

Ia selalu mendominasi keputusan keluarga, khususnya mengendalikan kehendak istrinya dan anak-anaknya. Yang konyol, dia memiliki ide pura-pura bercerai dengan istrinya agar anak-anaknya yang jauh merantau mau pulang dan mendamaikan.

Nahasnya, kebohongan tercipta hanya untuk menciptakan kebohongan baru, dan perlahan kondisi makin runyam. Kendali Pak Domu makin kuat dan makin tak masuk akal sehingga Mak Domu merasa lelah dan iapun membongkar semua kebohongan Pak Domu.

Beberapa adegan dalam film NNS / Foto: Dok. @ngeringerisedapmovie

Kebaruan lain dalam film ini kemudian terletak pada bagaimana kendali itu perlahan memudar dan goyah seiring dengan perlawanan Mak Domu (istri Pak Domu) yang mengatakan cukup lelah dengan semua tekanan yang terjadi dan memilih menentukan sikap untuk berpisah dari Pak Domu dan kembali ke rumah ibunya.

Perlawanan Mak Domu adalah pendobrakan terhadap dominasi patriarki sebagai kebaruan dalam konteks budaya patriarki. Hal ini diikuti oleh  kepergian semua anaknya yang merasa telah dibohongi dan dikendalikan dengan tak masuk akal. Keharuan hadir ketika adegan Pak Domu kesepian dan merenungi rumahnya seorang diri, makan sendiri di meja makan, dan tampak bersedih.

Indikator kedua dalam mindfulness adalah berakar pada konteks. Konteks yang terjadi dalam film ini adalah sebuah konteks budaya di mana budaya Batak digambarkan dengan kuat dan indah, di mana ada dominasi patriarki dan dengan natural dikritisi oleh film ini melalui karakter Mak Domu dan anak-anaknya yang mendobrak dominasi Pak Domu dan memberinya pelajaran.

Karakter Pak Domu yang egois dan keras kepala menjadi memudar dan sadar pada dirinya bahwa ia masih membutuhkan keluarga. Bahwa essence of being-nya adalah menjadi seorang ayah. Dan the existence of being-nya adalah menjadi ayah yang baik dan mampu diterima anak-anaknya.

Indikator ketiga dalam mindfulness adalah fleksibilitas. Fleksibilitas dalam film ini digambarkan dengan karakter Pak Domu yang akhirnya mau menerima perubahan dan mau mengakui kesalahannya.

Ia mengakui bahwa ia terlalu mendominasi dan mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf dengan tulus kepada anak-anaknya dan Mak Domu, memahami kondisi yang menyebabkan anak-anaknya dan istrinya memberontak kepadanya. Fleksibilitas ini adalah sebuah ciri mindfulness yaitu dapat berubah menyesuaikan dengan kondisi.

Indikator keempat dalam mindfulness adalah creating new category atau membuat kategori baru di mana film ini menyajikan sebuah realitas baru di mana isu humanisme tentang essence of being dan the existence of being dapat disajikan dengan kesegaran budaya Batak yang kental namun dibungkus dengan kritik yang membangun. Sebuah narrative baru lahir di mana dominasi patriarki dapat dikritisi dengan perspektif baru dan bahwa perubahan dapat terjadi jika diusahakan bersama-sama.

Adegan happy ending menutup film ini, di mana Pak Domu sekeluarga makan bersama dan bahagia. Simbol adegan ini adalah lahirnya harapan baru, kebahagiaan baru, dan kesempatan baru.[T]

Daftar pustaka:

  • Langer, E. J. (1989). Mindfulness. Merloyd Lawer. http://www.perseusbooksgroup.com
  • Wittgenstein, L. (1922). Tractatus logico philosophicus. Harcourt, Brace and Company, Inc.
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!
Lima Film Program Purwa Carita Campuhan: Karya yang Lengkap, Klise, Ketengan, dan Terkesan Main-main
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
White Building : Potret Keruntuhan
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8
Tags: bioskopfilmFilm Indonesiafilm layar lebarfilsafatUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugeng Santoso: Guru Muda Berprestasi yang Mengajar Sampai Jauh

Next Post

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Pemburu yang Jatuh Cinta Pada Rusa Buruannya | Dari Pentas Kesenian Tradisional Hainan di PKB

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co