7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Dewa Ayu Yuliarini by Dewa Ayu Yuliarini
April 10, 2023
in Ulas Film
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Sumber: Instagram NKCTHI

SALAH SATU film favorit saya hingga saat ini adalah film yang berjudul “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)”.  Saya menyukai film ini karena sangat relate dengan kehidupan saya sebagai anak tengah.

NKCTHI merupakan satu di antara judul film yang rilis tahun 2020. Disutradarai Angga Dwimas Sasongko dengan bintang seperti Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Rachel Amanda, Donny Damara, Susan Bachtiar, Oka Antara, Niken Anjani, dan Agla.

Beberapa bintang lainnya seperti Chicco Jerikho, Umay Shahab, Muhammad Adhiyat, Sinyo, Nayla Denny Purnama, Alleyra Fakhira Kurniawan, Syaqila Afiffah Putri serta musisi Ardhito Pramono, menjadi pelengkap karakter.

Kisah dalam film ini diangkat dari buku karya Marchella FP—yang versi aslinya berisi pesan-pesan pendek (quotes)—tentang pengalaman pribadi seseorang yang sederhana, namun unik dan memikat.

Film NKCTHI mengisahkan tentang sebuah keluarga yang menyimpan sebuah “rahasia”. Si Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Rachel Amanda), kakak beradik yang hidup dalam keluarga bahagia hingga satu demi satu kebahagiaan itu mulai pudar seiring berjalannya waktu.

Perubahan itu diawali dari sikap Awan yang mendapat tekanan dari orang tuanya. Imbas dari kejadian tersebut, tiga kakak beradik itu pun mulai memberontak hingga akhirnya rahasia keluarga mereka terungkap, sebuah trauma “luka” besar dalam keluarga mereka.

Dari sisi penceritaan, film NKCTHI memiliki alur multiplot di mana penceritaan dalam film tersebut, selain memiliki cerita utama (kisah keluarga tentang orang tua dan ketiga anaknya), juga memiliki plot-plot terpisah pada masing-masing anak: Angkasa, Aurora, dan Awan. Ketiganya memiliki cerita sedih-pilunya sendiri dengan permasalahan yang berbeda-beda.

Si Tengah Aurora

Barangkali, dalam film tersebut, banyak orang yang fokus dengan kehidupan Awan, si anak bungsu, yang selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orangtuanya, khususnya Sang Ayah dan kakak pertamanya, Angkasa.

Tetapi, tidak dengan saya. Sebagai anak tengah, sudah barang pasti saya menaruh perhatian lebih pada karakter Aurora yang diperankan oleh Sheila Dara itu.

Sheila Dara Aisha pemeran Aurora dalam film NKCTHI

Dalam film yang berhasil menarik 2 juta lebih penonton ini mengisahkan Aurora sebagai anak tengah keluarga Narendra yang masa kecilnya digambarkan menjadi seorang atlit renang, namun saat dewasa berubah menjadi seorang seniman.

Sebagai putri pertama dalam keluarga tersebut, sosoknya sempat menjadi yang paling disayang, terutama oleh Angkasa, kakaknya. Namun, sejak kehadiran Awan si anak bungsu, semua perhatian keluarga seolah tersedot untuk Awan.

Tanggung jawab Angkasa sebagai kakak pun lebih banyak berperan bagi Awan daripada Aurora. Aurora sadar bahwa sosok Awan mampu menjadi “pusat dunia” baru bagi keluarga Narendra. Aurora sendiri memendam rasa kesepian sejak kecil lantaran hampir tidak ada yang pernah menyadari kehadirannya.

Aurora menjadi tokoh yang sering diabaikan oleh keluarganya. Ia sering merasa dianggap tidak ada, dan selalu dimanfaatkan keadaannya. Karena merasa “terasingkan” dalam keluarga, sosok Aurora menjadi lebih pendiam, dingin, dan terkesan sangat acuh.

Aurora si anak tengah dalam film NKCTHI, menggambarkan tentang perjuangan anak tengah yang pandai memendam kesedihannya, yang sesekali rindu menjadi pusat perhatian dunia dan keluarganya.

Pada awal tahun 2023, muncul sekuel film Nanti Kita Cerita Tetang Hari Ini, yaitu Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang. Film ini jauh lebih dalam menceritakan sosok Aurora yang lebih memilih melanjutkan kuliah di London.

Sosok Aurora mengajarkan anak tengah untuk tetap menjadikan rumah sebagai tempat pulang, karena pada dasarnya menjadi anak sulung, anak tengah, atau anak bungsu tidak akan pernah menjadi sesederhana yang dibayangkan, karena pada dasarnya apa yang terlihat di dunia nyata bukan gambaran utuh dari nuraninya.

Aurora adalah saya

Karakter Aurora dalam film NKCTHI ini sepertinya memang sangat relate dengan saya dan mungkin semua anak tengah yang ada di seluruh belahan dunia.

Karakter Aurora sangat tepat untuk menyampaikan isi hati seorang anak tengah. Dan benar, tanpa saya sadari, saat saya menonton filmnya, ada perasaan bergejolak di dalam hati saya saat momen-momen Aurora terus diabaikan.

Dapat saya rasakan bahwa anak tengah selalu menyimpan semua masalahnya sendiri, selalu tenang namun bukan berarti senang. Banyak suara-suara yang memaksa diungkapkan namun berakhir dipendam, dan disampaikan melalui tangisan.

Contoh kecil saja, saat anak pertama dan anak terakhir tidak ada di rumah, orangtua khawatirnya setengah mati. Tetapi, saat anak tengah yang tidak ada di rumah, mereka menganggap seolah-olah keluarga sudah lengkap.

Perasaan diabaikan yang dirasakan anak tengah sering kali membuat mereka menciptakan dunianya sendiri. Sosok anak tengah selalu berusaha tumbuh menjadi anak mandiri, yang tidak merepotkan kedua orangtua dan saudara-saudaranya.

Anak tengah selalu berjuang dengan gigih mencapai impian-impiannya tanpa melibatkan orang-orang sekitar. Hal ini didorong oleh perasaan yang sering diabaikan. Anak tengah selalu dituntut untuk menjadi kuat, harus berbagi dengan sang kakak, dan tentunya harus mengalah dengan si bungsu.

Selain itu, anak tengah juga dituntut harus mampu mengelola ego dan emosi lebih baik, sehingga dapat mengurangi sifat kompetitif yang dimiliki terhadap saudara-saudara yang lainnya.

Kami selalu digambarkan sebagai sosok yang suka “menyendiri”. Hal ini terjadi karena anak pertama merupakan anak yang kelahirannya dinantikan oleh kedua orangtua, sehingga semua perhatian akan dicurahkan untuk anak sulung ketika lahir.

Dan ketika anak tengah lahir, benar memang perhatian orangtua terbagi untuknya, namun ketika si bungsu lahir, seluruh perhatian itu akan fokus pada si bungsu. Apalagi ketika jarak kelahiran anak-anak yang sangat dekat.

Maka wajar, saat anak pertama dan anak terakhir tidak ada di rumah, orangtua khawatirnya setengah mati. Tetapi, saat anak tengah yang tidak ada di rumah, mereka menganggap seolah-olah keluarga sudah lengkap.

Ya, Aurora adalah diri saya sendiri. Saya berusaha menjadi yang terbaik, dan menuruti semua keinginan orangtua agar tidak merasa “tidak dianggap” atau “diabaikan”, sehingga ada yang bisa dibanggakan dari sosok saya.

Namun, sama persis seperti Aurora, tampaknya anak tengah memang terlahir untuk selalu diabaikan.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Tags: bioskopfilmfilm layar lebar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Next Post

Kita Sukses Karena Proses, Bukan Protes

Dewa Ayu Yuliarini

Dewa Ayu Yuliarini

Lahir di Singaraja, tahun 2001. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Kita Sukses Karena Proses, Bukan Protes

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co