10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 4, 2023
in Ulas Film
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Foto diambil dari poster film Inang

HANTU. Masyarakat Indonesia─walaupun tidak semua, tapi kebanyakan─masih memegang erat kepercayaan bahwa hantu itu ada. Di era yang serba modern, canggihan, materialistis, kepercayaan akan hantu tidak pernah pupus. Bahkan, bagi sebagian orang, hantu menjadi komoditas yang laris manis di dunia hiburan. Sejauh yang saya ingat, film bergenre horor─tentu selain film drama cinta dan laga─masih menjadi pilihan yang sangat diminati masyarakat Indonesia untuk ditonton di waktu senggang.

Tempo dulu banyak film horor yang diputar di stasiun TV─ya, dan kita semua tahu itu. Seperti, misalnya, yang melekat dalam ingatan saya, film-film horor yang dibintangi Sang Legenda, Suzana.

Mengingat nama Suzana, khususnya generasi 90-an–2000-an, sudah pasti terbayang bagaimana seramnya perawakan hantu yang diperankannya dalam film Malam Satu Suro (1988), Beranak dalam Kubur (1971), Malam Jumat Kliwon (1986), dan Ratu Buaya Putih (1988), misalnya. Atau, tentu saja, penggalan scene yang sangat melekat dalam benak, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Sungguh, pada zaman itu, sensasi takutnya susah untuk digambarkan.

Sepertinya semua sepakat bahwa Suzana adalah sosok memiliki jiwa magis. Bukan hanya saat bersandiwara menjadi hantu, tetapi juga dalam kehidupan nyata─setidaknya menurut rumor yang beredar.

Dalam memerankan hantu, sulit rasanya untuk menandingi akting Suzana─meskipun belakangan muncul nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, Ayu Azhari dan sederet nama top lainnya.

***

Tetapi, seiring perjalanan zaman, saat saya masih SMP, film horor Indonesia di produksi seakan-akan hanya mengeksploitasi bagian tubuh wanita saja, terkesan jorok, porno, saru. Benar. Alih-alih tegang dengan adegan horornya, malah justru tegang karena adegan ranjangnya. Alih-alih fokus alur ceritanya, malah justru fokus ke yang lainnya. Sederet nama seperti Julia Perez, Dewi Persik, atau Ayu Azhari, hampir selalu berhasil menjadi bahan fantasi─oh, lupakan saja bagian ini.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan di atas, sadar atau tidak, dalam film horor, perempuan hampir selalu menjadi hantunya. Tak hanya di Indonesia, produksi film-film horor luar negeri pun sering menjadikan perempuan sebagai pemeran hantunya. Mengapa demikian?

>>>

Remotivi berusaha menjawabnya. Pertama, hantu perempuan seringkali tercipta dari kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadapnya. Teror hantu perempuan menggambarkan kondisi ironis, di mana untuk menghukum pelaku kekerasan, perempuan harus turun tangan sendiri.

Kedua, teror hantu perempuan sebagai tindakan balas dendam. Gagasan bahwa seorang perempuan ketika masih hidup tidak berdaya, dan menjadi marah ketika ia mati terdengar lebih “realistis” bagi kita, sebab laki-laki ketika disakiti akan melakukan balas dendam seketika itu juga, atau saat masih hidup. berbeda dengan perempuan, untuk balas dendam saja mereka harus menjadi hantu terlebih dahulu.

Ketiga, coba kita lihat teori Freudian tentang kembalinya kaum tertindas. Menurut Freud, pikiran sadar kita menekan pikiran-prikiran traumatis ke dalam alam bawah sadar kita. Suatu saat pikiran-pikiran itu akan muncul lagi dengan cara yang lebih terdistorsi atau simbolis. Interpretasi Freud dalam film horor biasanya berpendapat bahwa tokoh hantu dalam film horor mewakili kembalinya mereka yang tertindas, tapi kali ini tampil dalam bentuk yang lebih kuat. Dan perempuanlah yang sering berada di posisi tersebut; tertindas, namun ujung-ujungnya cuma disurruh “sabar”

Keempat, perempuan−entah manusia atau hantu− menjadi komoditi kapital dalam dunia hiburan. Fisik wanita seakan-akan lebih pantas untuk memerankan sosok hantu, rambut yang menjuntai panjang, suara tangisan bahkan bagian-bagian tubuh yang sebenarnya tak mesti ditonjolkan dalam film horor. Dalam hal ini lebih cenderung kepada pemenuhan esek-esek kaum laki-laki.

Saya kira, budaya patriarki yang masih mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia juga menjadi alasan kenapa perempuan seakan-akan “pantas” untuk memerankan sosok astral itu. Rasanya memang kurang pas jika laki-laki berperan menjadi hantu, kecuali pocong. Bayangkan saja, mana mungkin ada sosok hantu muncul dari atas pohon dengan kumis tebal dan badan yang sedikit berotot, menggoda pedagang sate kemudian berkata, “Bang, sate, Bang. Satenya 200 tusuk, makan di sini”. Wagu. Alih-alih seram malah terlihat aneh dan menarik gelak tawa penonton. Meskipun tidak menutup kemungkinan, kalau laki-laki mati juga bisa menjadi hantu. Itu tergantung amal ibadahnya saja.

***

Produksi film horor tahun 80-an identik dengan narasi horor yang berasal dari folklore (cerita rakyat atau budaya) yang melegenda. Sementara, sejak tahun 2000-an, narasinya lebih identik dengan urban legend (legenda urban dan kontemporer). Sedangkan pada era ini juga, banyak film horor yang mewarnai dunia perfilman tanah air seperti Jelangkung (2001), Pocong (2006), Hantu Jembatan Ancol (2008) Rumah Dara (2010), atau yang terbaru, KKN di Desa Penari (2022) dan sederet film horor lainnya.

Berbicara film horor, sudah barang tentu juga berbicara sutradaranya. Dan menurut awam saya, sutradara seperti Joko Anwar, Fajar Nugros, serta Azhar Kinoi Lubis, menggarap film horor secara totalitas dan epik.  Saya selalu dibuat kaget dan takut ketika menonton film horor garapan mereka. Oleh sebab itu, biasanya, saya selalu mengajak teman untuk ikut menonton bersama─untuk meminimalisir ketakutan saya yang berlebihan.

Film-film mereka memiliki alur cerita yang tidak membosankan. Sound effect, pencahayan dan latar tempatnya juga selalu menarik. Enggan untuk melewatkannya, sedetik pun.

***

Maka, pada kesempatan kali ini, sebagai bonus, saya rekomendasikan 5 film terbaik menurut saya─yang pasti membuat bulu roma Anda berdiri. Tenang, di sini tak ada kata “nomor lima bikin pingsan”. Oke, berikut daftarnya:

1. Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Film yang di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Maya (Tara Basro) yang sedang bersusah payah hidup di kota tanpa keluarga, hanya ditemani satu sahabatnya yang bernama Dini.

>>>

Ketika usaha mereka di kota mengalami masa-masa sulit dan sedang membutuhkan modal lebih, Maya teringat warisan dari orang tuanya yang berada di desa. Maya─ditemani Dini─ memutuskan pergi ke kampung halamannya untuk mengurusi warisan tersebut. Sesampainya di kampung, mereka menginap di rumah besar yang sudah terbengkalai bertahun-tahun. Sedangkan di sekitar rumah itu terlihat aneh─dan angker tentu saja. Banyak kuburan anak-anak di sana.

Malam harinya Maya mendengar suara jeritan seorang perempuan yang hendak melahirkan. Maya menuju asal suara tersebut. Dari situlah, sedikit demi sedikit, misteri di kampungnya mulai terungkap.

Film ini saya beri nilai 8/10

2. Pengabdi Setan 1 (2017) dan 2 (2022)

Film yang masih di sutradarai Joko Anwar ini menceritakan tentang 1 keluarga yang awalnya tinggal di sebuah desa yang asri dan sejuk harus pindah kerumah susun di Jakarta semenjak ibu mereka meninggal dan hilangnya Ian, adik paling bungsu.

>>>

Kehidupan Rini, Bapak dan adik-adiknya yang awalnya baik-baik saja mendadak dipenuhi kekhawatiran semenjak adanya ancaman badai yang akan melanda daerah tempat tinggal mereka. Kemudian muncul kejadian-kejadian aneh yang mereka rasakan setelah adanya tragedi lift yang macet dan menelan korban jiwa.

Film ini saya beri nilai 9/10

3. Mangkujiwo (2020)

Film besutan Azhar Kinoi Lubis ini diperankan oleh Sujiwo Tejo sebagai Brotoseno. Setelah Brotoseno disingkirkan dari keraton oleh Cokrokusumo, ia berencana balas dendam dengan menggunakan pusaka cermin yang ia miliki. Dengan penuh tipu daya, Brotoseno sangat berambisi untuk membalaskan dendamnya terhadap Cokrokusumo.

>>>

Film ini saya beri nilai 8/10

4. Inang (2022)

Film yang disutradari Fajar Nugros ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Wulan, yang sehari-hari bekerja sebagai kasir supermarket─yang harus menelan kepahitan ketika sang pacar meninggalkannya dan tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

>>>

Wulan yang kebingungan pun sempat mempunyai niatan ingin melakukan aborsi. Namun niatan itu ia urungkan dan mencoba mencari solusi di media online. Keanehan-keanehan mulai dirasa ketika Wulan tinggal bersama keluarga yang mau mengadopsi anak yang dikandungnya itu.

Film ini saya beri nilai 9/10

5. The Medium (2021)

Ini film Thailand. Film bergenre semi dokumenter  horor ini di sutradari oleh Banjong Pisanthanakun yang juga menggarap film bergenre horor lainnya seperti Pee Mak (2013) dan Shutter (2004). The Medium bercerita tentang seorang dukun bernama Nim dari daerah Isan-Thailand yang sebagian masyarakatnya masih percaya dengan adanya kekuatan roh leluhur sebagai pelindung. Nim merupakan orang yang terpilih dari garis keluarganya sebagai dukun yang dirasuki oleh roh leluhur.

>>>

Namun kejadian aneh dimulai ketika Min, ponakan dari Nim mengalami gejala-gejala aneh seperti Nim ketika pertama kali akan terpilih dirasuki oleh roh Bayan. Nampaknya Min akan mewarisi bakat dukun dari keluarga mereka.

Film ini saya beri nilai 10/10

***

Itulah lima film horor yang saya rekomendasikan. Saya yakin, film-film yang beredar sekarang ini selalu memiliki pesan moral di dalamnya. Sekalipun itu film horor.

Hari ini film horor tidak hanya sebatas tontonan saja melainkan juga diharapkan sebagai tuntunan bagi masyarakat untuk lebih mencintai budaya sendiri dan kembali ke kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya, horor dan humor nampaknya memang memiliki perbedaan yang sangat tipis. Ada kalanya yang horor menjadi humor dan sebaliknya, humor bisa menjadi horor. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Balimakarya Film Festival, Peluang Bagi Bangkitnya Karya Film di Bali
Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar
Tags: filmfilm hororFilm Indonesiahantu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Next Post

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co