8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 5, 2023
in Esai, Pilihan Editor
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Miley Cyrus | Foto hasil tangkap layar dari youtube Miley Cyrus - Flowers (Official Video)

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Apakah anda sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat populer saat ini?

Yes. Anda sama dengan saya. Kita barangkali semua sedang dibius oleh lirik lagu Miley Cyrus. Sepakat dengan kebanyakan manusia di bumi ini, sekitar 165 juta orang (saat tulisan ini dibuat) yang menonton lagu ini di youtube, 100 juta kali putar di Spotify dan memuncaki Billboard Hot 100 selama hampir dua puluh hari.

Bagaimana lagu ini bisa melekat dan mencengkeram kepala kita? Dia menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang yang patah hati dan kembali bangkit. Dari respon yang meledak di youtube dan social media lainnya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar orang mengatakan terkesan dengan lagu ringan sekaligus berat ini. Bagaimana ceritanya lagu ringan ini menjadi berat sekaligus?

Saya tidak akan membedah Miley secara personal, karena kalian bisa membacanya di ribuan sumber lain, kali ini saya ingin membedah  lirik lagunya.

Saya akan membedah lagu ini dari sudut pandang poetry, sound and sense, imagery, dan voice.

Sound and Sense

Sound and Sense adalah sebuah judul buku teori puisi karangan Laurrence Perrine yang mengatakan bahwa sastra adalah sebuah verbal works of arts. 

Dalam konteks puisi, sebagai kata kerja yang mengandung nilai seni, kata-kata dalam puisi bukanlah sembarang kata. Ia mengatakan sesuatu yang sederhana menjadi lebih intense dan padat, kata-kata menjadi lebih padat, menjadi lebih kuat, karena diberi tenaga atau diberi kuasa untuk menyampaikan pesan.

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Sound yang kita dengar adalah keserasian bunyi dan jumlah suku kata tiap barisnya. Baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua dengan 6 suku kata, baris ketiga dengan 7 suku kata, dan baris keempat dengan 7 suku kata. Flowers berima dengan hours. Sand berima dengan understand. Ketika dinyanyikan, baris ini terasa singkat, padat, cermat.

Maknanya “aku bisa membelikan diriku sendiri bunga”, “menulis namaku di pasir”, “bicara pada diriku sendiri berjam-jam”, “tentang hal yang tak kau pahami”.

Mengapa kata-kata itu terbit demikian rupa. Mengapa harus dia memilih kata-kata semacam flowers, memilih pasir, memilih bicara pada diri sendiri,  tentang kata-kata yang tak dipahami.

Flowers sering sekali menjadi symbol cinta, yang biasanya diberikan oleh laki-laki kepada perempuan. Seringkali flowers menjadi harapan akan cinta yang mekar, berwarna, indah, harum, dan segala hal baik lainnya. Biasanya perempuan suka berharap pasangannya memberi bunga, seolah dia ingin dipuja, dicinta, disayang.

Dalam lagu Miley, justru sebaliknya, dia mengatakan “Aku bisa membeli bunga untuk diriku sendiri,” sebagai sebuah perlawanan pada stereotype perempuan suka bunga, tepatnya dihadiahi bunga atau dibelikan bunga.

Lagu ini mengatakan, tidak perlu kau belikan, aku beli sendiri mampu. Apalagi Cuma bunga murahan, cuihh. Tak sudi. Seolah begitulah yang ingin dia katakan. Bagian lagu ini menjadi viral di mana-mana, seolah menjadi anthem atau lagu kebangsaan perempuan perkasa di luar sana.

Beberapa komentar di social media mengatakan inilah lagu yang menginspirasi kemandirian perempuan. Di youtube misalnya ada komentar yang saya kutip sebagai berikut.

Nothing better than self love. I think this song is inspiring to all women. It helps us see we should all look for love within ourselves rather than depending on someone else for that. Especially when that person is unreliable, and puts you down.

Dari komentar ini kita tahu bahwa lagu Miley membangkitkan semangat mencintai diri sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki, khususnya dalam konteks hubungan yang tidak sehat.

Jadi lirik lagu Miley tak hanya puitis, namun juga mengandung logika yang bermakna sangat luas dan memberi dampak pada feminisme global setidaknya memberi semangat pada perjuangan perempuan untuk tidak mencari validasi kebahagiaan pada laki-laki. Kerapnya lagu ini diputar di berbagai platform menjadi semacam reminder bahwa perempuan harus punya tujuan dan bahagia dengan diri sendiri.

Imagery

Dalam puisi terdapat salah satu jenis metafora yang disebut imagery. Imagery adalah sebuah gaya bahasa yang membuat kita seolah-olah mampu melihat image atau gambar yang jelas dan nyata dalam sebuah kata.  

Lirik lagu Miley mengandung imagery dalam bait berikut.

We were good, we were gold
Kinda dream that can’t be sold
We were right til we weren’t
Built a home and watched it burn

Ada sebuah gambar yang disajikan disini, ada sebuah image tentang emas, mimpi, lalu sebuah rumah, dan bagaimana rumah itu terbakar. Kekuatan imagery ini menjadi sebuah tenaga yang sangat kuat dalam bangunan lagu.

Pikiran kita menjelma menjadi sebuah peta tentang mimpi yang indah bagai kilau emas, bangunan rumah yang sempurna, lalu sia-sia ketika terbakar. Terlepas dari cerita nyata soal lagu ini, Miley telah berhasil menyulap pengalaman pribadinya menjadi puisi yang enak dan gurih. Terasa sangat nyata, terbayang di mata, dan sampai di jiwa.

Apakah ini kebetulan belaka. Saya rasa tidak. Miley telah menghitung semua dengan cermat, pilihan kata, pilihan suku kata, rima, dan irama, menjadi sebuah paket yang menjadikan lagu ini bukan saja easy listening tapi kuat secara utuh.

Bait lainnya yang juga menyajikan imagery yang kuat adalah bait berikut ini.

I can take myself dancing
And I can hold my own hands
I can love me better than you can

Secara visual kita bisa membayangkan, seseorang menari dengan dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiannya sendiri. Dia juga bisa memegang tangannya sendiri dan mencintai dirinya sendiri lebih baik, sebab mengapa tidak? Mengapa tidak.

Tak heran, dalam hanya tiga minggu sejak dirilis 13 Januari 2023, lagu ini telah ditonton 165 juta kali (dan terus akan bertambah) di youtube, menjadi lagu hits nomor satu selama hampir dua puluh hari. Ini menjadi inspirasi ribuan orang melakukan peniruan atau meme menggunakan lagu Miley di berbagai platform social media.

Voice

Mengapa lagu ini menjadi sangat fenomenal? Voice yang dibawa, pesan di balik lagu ini tentang pentingnya menjadi diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan mencintai lebih sendiri, adalah semacam pengingat bahwa tidak perlu orang lain untuk hadir dalam memvalidasi kebahagiaan kita.

Dengan lirik yang membakar seperti itu, tak berlebihan rasanya Miley kini menjadi simbol kekuatan perempuan dalam membahagiakan dirinya sendiri. Perjuangan Miley dalam kehidupan pribadinya sendiri rupanya telah dilihat publik sebagai sebuah proses pendewasaan Miley yang mengubahnya dengan total.

Banyak yang menghubungkan lagu ini dengan kisah cinta Miley dengan Liam Hemsworth aktor Hollywood yang menjalani hubungan asmara on and off atau putus nyambung, menikah di tahun 2018 dan bercerai di tahun 2020.

Rumor mengatakan Liam terlibat skandal dengan perempuan lain selama masih bersama Miley. Dan, jika rumor itu benar, lagu ini barangkali sebuah tamparan bagi Liam, dirilis tepat di hari ulang tahunnya pula!

Pada bait ini tercermin bangkitnya semangat Miley kembali.  

I didn’t wanna leave you I didn’t wanna lie
Started to cry but then remembered I
I can buy myself flowers
Write my name in the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand
I can take myself dancing
And I can hold my own hand
Yeah I can love me better than you can

Intinya adalah aku bisa mencintai diriku lebih baik dari kamu. So, tidak perlu sibuk menunggu kamu membahagiakanku.

Inti dari semangat mencintai diri sendiri inilah yang menjadi pesan Miley kepada semua orang di dunia. Ini semacam pengingat bahwa apapun yang terjadi, cintailah diri sendiri sehingga kamu bahagia.

Singkatnya, selamat Miley dan selamat bangkit semua pejuang hidup yang belum pernah mencintai diri sendiri, namun berusaha mencintai orang lain, kini waktunya untuk kembali mengingat makna bahagia itu di dalam diri sendiri.

Dan apakah sesungguhnya kita menunggu Miley untuk mengatakan itu baru kita percaya, bahwa self-love itu baik dan berguna? Sepertinya tidak, namun dengan reminder global yang disuarakan terus menerus di setiap detik, sepertinya kesadaran itu bangkit kembali, karena bukankah demikian fungsinya seni, fungsinya sastra, membangkitkan kekuatan yang sudah ada, dengan nafas baru yang lebih segar dan bertenaga. [T]

Singaraja, 4 Februari 2023

[][][]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali
“Het Achterhuis” | Catatan Anne Frank 12 Mei yang Menggetarkan Hati Dunia
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: artis dunialaguMyley CyrusPerempuanPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Next Post

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co