31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 5, 2023
in Esai, Pilihan Editor
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Miley Cyrus | Foto hasil tangkap layar dari youtube Miley Cyrus - Flowers (Official Video)

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Apakah anda sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat populer saat ini?

Yes. Anda sama dengan saya. Kita barangkali semua sedang dibius oleh lirik lagu Miley Cyrus. Sepakat dengan kebanyakan manusia di bumi ini, sekitar 165 juta orang (saat tulisan ini dibuat) yang menonton lagu ini di youtube, 100 juta kali putar di Spotify dan memuncaki Billboard Hot 100 selama hampir dua puluh hari.

Bagaimana lagu ini bisa melekat dan mencengkeram kepala kita? Dia menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang yang patah hati dan kembali bangkit. Dari respon yang meledak di youtube dan social media lainnya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar orang mengatakan terkesan dengan lagu ringan sekaligus berat ini. Bagaimana ceritanya lagu ringan ini menjadi berat sekaligus?

Saya tidak akan membedah Miley secara personal, karena kalian bisa membacanya di ribuan sumber lain, kali ini saya ingin membedah  lirik lagunya.

Saya akan membedah lagu ini dari sudut pandang poetry, sound and sense, imagery, dan voice.

Sound and Sense

Sound and Sense adalah sebuah judul buku teori puisi karangan Laurrence Perrine yang mengatakan bahwa sastra adalah sebuah verbal works of arts. 

Dalam konteks puisi, sebagai kata kerja yang mengandung nilai seni, kata-kata dalam puisi bukanlah sembarang kata. Ia mengatakan sesuatu yang sederhana menjadi lebih intense dan padat, kata-kata menjadi lebih padat, menjadi lebih kuat, karena diberi tenaga atau diberi kuasa untuk menyampaikan pesan.

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Sound yang kita dengar adalah keserasian bunyi dan jumlah suku kata tiap barisnya. Baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua dengan 6 suku kata, baris ketiga dengan 7 suku kata, dan baris keempat dengan 7 suku kata. Flowers berima dengan hours. Sand berima dengan understand. Ketika dinyanyikan, baris ini terasa singkat, padat, cermat.

Maknanya “aku bisa membelikan diriku sendiri bunga”, “menulis namaku di pasir”, “bicara pada diriku sendiri berjam-jam”, “tentang hal yang tak kau pahami”.

Mengapa kata-kata itu terbit demikian rupa. Mengapa harus dia memilih kata-kata semacam flowers, memilih pasir, memilih bicara pada diri sendiri,  tentang kata-kata yang tak dipahami.

Flowers sering sekali menjadi symbol cinta, yang biasanya diberikan oleh laki-laki kepada perempuan. Seringkali flowers menjadi harapan akan cinta yang mekar, berwarna, indah, harum, dan segala hal baik lainnya. Biasanya perempuan suka berharap pasangannya memberi bunga, seolah dia ingin dipuja, dicinta, disayang.

Dalam lagu Miley, justru sebaliknya, dia mengatakan “Aku bisa membeli bunga untuk diriku sendiri,” sebagai sebuah perlawanan pada stereotype perempuan suka bunga, tepatnya dihadiahi bunga atau dibelikan bunga.

Lagu ini mengatakan, tidak perlu kau belikan, aku beli sendiri mampu. Apalagi Cuma bunga murahan, cuihh. Tak sudi. Seolah begitulah yang ingin dia katakan. Bagian lagu ini menjadi viral di mana-mana, seolah menjadi anthem atau lagu kebangsaan perempuan perkasa di luar sana.

Beberapa komentar di social media mengatakan inilah lagu yang menginspirasi kemandirian perempuan. Di youtube misalnya ada komentar yang saya kutip sebagai berikut.

Nothing better than self love. I think this song is inspiring to all women. It helps us see we should all look for love within ourselves rather than depending on someone else for that. Especially when that person is unreliable, and puts you down.

Dari komentar ini kita tahu bahwa lagu Miley membangkitkan semangat mencintai diri sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki, khususnya dalam konteks hubungan yang tidak sehat.

Jadi lirik lagu Miley tak hanya puitis, namun juga mengandung logika yang bermakna sangat luas dan memberi dampak pada feminisme global setidaknya memberi semangat pada perjuangan perempuan untuk tidak mencari validasi kebahagiaan pada laki-laki. Kerapnya lagu ini diputar di berbagai platform menjadi semacam reminder bahwa perempuan harus punya tujuan dan bahagia dengan diri sendiri.

Imagery

Dalam puisi terdapat salah satu jenis metafora yang disebut imagery. Imagery adalah sebuah gaya bahasa yang membuat kita seolah-olah mampu melihat image atau gambar yang jelas dan nyata dalam sebuah kata.  

Lirik lagu Miley mengandung imagery dalam bait berikut.

We were good, we were gold
Kinda dream that can’t be sold
We were right til we weren’t
Built a home and watched it burn

Ada sebuah gambar yang disajikan disini, ada sebuah image tentang emas, mimpi, lalu sebuah rumah, dan bagaimana rumah itu terbakar. Kekuatan imagery ini menjadi sebuah tenaga yang sangat kuat dalam bangunan lagu.

Pikiran kita menjelma menjadi sebuah peta tentang mimpi yang indah bagai kilau emas, bangunan rumah yang sempurna, lalu sia-sia ketika terbakar. Terlepas dari cerita nyata soal lagu ini, Miley telah berhasil menyulap pengalaman pribadinya menjadi puisi yang enak dan gurih. Terasa sangat nyata, terbayang di mata, dan sampai di jiwa.

Apakah ini kebetulan belaka. Saya rasa tidak. Miley telah menghitung semua dengan cermat, pilihan kata, pilihan suku kata, rima, dan irama, menjadi sebuah paket yang menjadikan lagu ini bukan saja easy listening tapi kuat secara utuh.

Bait lainnya yang juga menyajikan imagery yang kuat adalah bait berikut ini.

I can take myself dancing
And I can hold my own hands
I can love me better than you can

Secara visual kita bisa membayangkan, seseorang menari dengan dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiannya sendiri. Dia juga bisa memegang tangannya sendiri dan mencintai dirinya sendiri lebih baik, sebab mengapa tidak? Mengapa tidak.

Tak heran, dalam hanya tiga minggu sejak dirilis 13 Januari 2023, lagu ini telah ditonton 165 juta kali (dan terus akan bertambah) di youtube, menjadi lagu hits nomor satu selama hampir dua puluh hari. Ini menjadi inspirasi ribuan orang melakukan peniruan atau meme menggunakan lagu Miley di berbagai platform social media.

Voice

Mengapa lagu ini menjadi sangat fenomenal? Voice yang dibawa, pesan di balik lagu ini tentang pentingnya menjadi diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan mencintai lebih sendiri, adalah semacam pengingat bahwa tidak perlu orang lain untuk hadir dalam memvalidasi kebahagiaan kita.

Dengan lirik yang membakar seperti itu, tak berlebihan rasanya Miley kini menjadi simbol kekuatan perempuan dalam membahagiakan dirinya sendiri. Perjuangan Miley dalam kehidupan pribadinya sendiri rupanya telah dilihat publik sebagai sebuah proses pendewasaan Miley yang mengubahnya dengan total.

Banyak yang menghubungkan lagu ini dengan kisah cinta Miley dengan Liam Hemsworth aktor Hollywood yang menjalani hubungan asmara on and off atau putus nyambung, menikah di tahun 2018 dan bercerai di tahun 2020.

Rumor mengatakan Liam terlibat skandal dengan perempuan lain selama masih bersama Miley. Dan, jika rumor itu benar, lagu ini barangkali sebuah tamparan bagi Liam, dirilis tepat di hari ulang tahunnya pula!

Pada bait ini tercermin bangkitnya semangat Miley kembali.  

I didn’t wanna leave you I didn’t wanna lie
Started to cry but then remembered I
I can buy myself flowers
Write my name in the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand
I can take myself dancing
And I can hold my own hand
Yeah I can love me better than you can

Intinya adalah aku bisa mencintai diriku lebih baik dari kamu. So, tidak perlu sibuk menunggu kamu membahagiakanku.

Inti dari semangat mencintai diri sendiri inilah yang menjadi pesan Miley kepada semua orang di dunia. Ini semacam pengingat bahwa apapun yang terjadi, cintailah diri sendiri sehingga kamu bahagia.

Singkatnya, selamat Miley dan selamat bangkit semua pejuang hidup yang belum pernah mencintai diri sendiri, namun berusaha mencintai orang lain, kini waktunya untuk kembali mengingat makna bahagia itu di dalam diri sendiri.

Dan apakah sesungguhnya kita menunggu Miley untuk mengatakan itu baru kita percaya, bahwa self-love itu baik dan berguna? Sepertinya tidak, namun dengan reminder global yang disuarakan terus menerus di setiap detik, sepertinya kesadaran itu bangkit kembali, karena bukankah demikian fungsinya seni, fungsinya sastra, membangkitkan kekuatan yang sudah ada, dengan nafas baru yang lebih segar dan bertenaga. [T]

Singaraja, 4 Februari 2023

[][][]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali
“Het Achterhuis” | Catatan Anne Frank 12 Mei yang Menggetarkan Hati Dunia
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: artis dunialaguMyley CyrusPerempuanPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Next Post

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co