16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 5, 2023
in Esai, Pilihan Editor
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Miley Cyrus | Foto hasil tangkap layar dari youtube Miley Cyrus - Flowers (Official Video)

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Apakah anda sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat populer saat ini?

Yes. Anda sama dengan saya. Kita barangkali semua sedang dibius oleh lirik lagu Miley Cyrus. Sepakat dengan kebanyakan manusia di bumi ini, sekitar 165 juta orang (saat tulisan ini dibuat) yang menonton lagu ini di youtube, 100 juta kali putar di Spotify dan memuncaki Billboard Hot 100 selama hampir dua puluh hari.

Bagaimana lagu ini bisa melekat dan mencengkeram kepala kita? Dia menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang yang patah hati dan kembali bangkit. Dari respon yang meledak di youtube dan social media lainnya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar orang mengatakan terkesan dengan lagu ringan sekaligus berat ini. Bagaimana ceritanya lagu ringan ini menjadi berat sekaligus?

Saya tidak akan membedah Miley secara personal, karena kalian bisa membacanya di ribuan sumber lain, kali ini saya ingin membedah  lirik lagunya.

Saya akan membedah lagu ini dari sudut pandang poetry, sound and sense, imagery, dan voice.

Sound and Sense

Sound and Sense adalah sebuah judul buku teori puisi karangan Laurrence Perrine yang mengatakan bahwa sastra adalah sebuah verbal works of arts. 

Dalam konteks puisi, sebagai kata kerja yang mengandung nilai seni, kata-kata dalam puisi bukanlah sembarang kata. Ia mengatakan sesuatu yang sederhana menjadi lebih intense dan padat, kata-kata menjadi lebih padat, menjadi lebih kuat, karena diberi tenaga atau diberi kuasa untuk menyampaikan pesan.

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Sound yang kita dengar adalah keserasian bunyi dan jumlah suku kata tiap barisnya. Baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua dengan 6 suku kata, baris ketiga dengan 7 suku kata, dan baris keempat dengan 7 suku kata. Flowers berima dengan hours. Sand berima dengan understand. Ketika dinyanyikan, baris ini terasa singkat, padat, cermat.

Maknanya “aku bisa membelikan diriku sendiri bunga”, “menulis namaku di pasir”, “bicara pada diriku sendiri berjam-jam”, “tentang hal yang tak kau pahami”.

Mengapa kata-kata itu terbit demikian rupa. Mengapa harus dia memilih kata-kata semacam flowers, memilih pasir, memilih bicara pada diri sendiri,  tentang kata-kata yang tak dipahami.

Flowers sering sekali menjadi symbol cinta, yang biasanya diberikan oleh laki-laki kepada perempuan. Seringkali flowers menjadi harapan akan cinta yang mekar, berwarna, indah, harum, dan segala hal baik lainnya. Biasanya perempuan suka berharap pasangannya memberi bunga, seolah dia ingin dipuja, dicinta, disayang.

Dalam lagu Miley, justru sebaliknya, dia mengatakan “Aku bisa membeli bunga untuk diriku sendiri,” sebagai sebuah perlawanan pada stereotype perempuan suka bunga, tepatnya dihadiahi bunga atau dibelikan bunga.

Lagu ini mengatakan, tidak perlu kau belikan, aku beli sendiri mampu. Apalagi Cuma bunga murahan, cuihh. Tak sudi. Seolah begitulah yang ingin dia katakan. Bagian lagu ini menjadi viral di mana-mana, seolah menjadi anthem atau lagu kebangsaan perempuan perkasa di luar sana.

Beberapa komentar di social media mengatakan inilah lagu yang menginspirasi kemandirian perempuan. Di youtube misalnya ada komentar yang saya kutip sebagai berikut.

Nothing better than self love. I think this song is inspiring to all women. It helps us see we should all look for love within ourselves rather than depending on someone else for that. Especially when that person is unreliable, and puts you down.

Dari komentar ini kita tahu bahwa lagu Miley membangkitkan semangat mencintai diri sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki, khususnya dalam konteks hubungan yang tidak sehat.

Jadi lirik lagu Miley tak hanya puitis, namun juga mengandung logika yang bermakna sangat luas dan memberi dampak pada feminisme global setidaknya memberi semangat pada perjuangan perempuan untuk tidak mencari validasi kebahagiaan pada laki-laki. Kerapnya lagu ini diputar di berbagai platform menjadi semacam reminder bahwa perempuan harus punya tujuan dan bahagia dengan diri sendiri.

Imagery

Dalam puisi terdapat salah satu jenis metafora yang disebut imagery. Imagery adalah sebuah gaya bahasa yang membuat kita seolah-olah mampu melihat image atau gambar yang jelas dan nyata dalam sebuah kata.  

Lirik lagu Miley mengandung imagery dalam bait berikut.

We were good, we were gold
Kinda dream that can’t be sold
We were right til we weren’t
Built a home and watched it burn

Ada sebuah gambar yang disajikan disini, ada sebuah image tentang emas, mimpi, lalu sebuah rumah, dan bagaimana rumah itu terbakar. Kekuatan imagery ini menjadi sebuah tenaga yang sangat kuat dalam bangunan lagu.

Pikiran kita menjelma menjadi sebuah peta tentang mimpi yang indah bagai kilau emas, bangunan rumah yang sempurna, lalu sia-sia ketika terbakar. Terlepas dari cerita nyata soal lagu ini, Miley telah berhasil menyulap pengalaman pribadinya menjadi puisi yang enak dan gurih. Terasa sangat nyata, terbayang di mata, dan sampai di jiwa.

Apakah ini kebetulan belaka. Saya rasa tidak. Miley telah menghitung semua dengan cermat, pilihan kata, pilihan suku kata, rima, dan irama, menjadi sebuah paket yang menjadikan lagu ini bukan saja easy listening tapi kuat secara utuh.

Bait lainnya yang juga menyajikan imagery yang kuat adalah bait berikut ini.

I can take myself dancing
And I can hold my own hands
I can love me better than you can

Secara visual kita bisa membayangkan, seseorang menari dengan dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiannya sendiri. Dia juga bisa memegang tangannya sendiri dan mencintai dirinya sendiri lebih baik, sebab mengapa tidak? Mengapa tidak.

Tak heran, dalam hanya tiga minggu sejak dirilis 13 Januari 2023, lagu ini telah ditonton 165 juta kali (dan terus akan bertambah) di youtube, menjadi lagu hits nomor satu selama hampir dua puluh hari. Ini menjadi inspirasi ribuan orang melakukan peniruan atau meme menggunakan lagu Miley di berbagai platform social media.

Voice

Mengapa lagu ini menjadi sangat fenomenal? Voice yang dibawa, pesan di balik lagu ini tentang pentingnya menjadi diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan mencintai lebih sendiri, adalah semacam pengingat bahwa tidak perlu orang lain untuk hadir dalam memvalidasi kebahagiaan kita.

Dengan lirik yang membakar seperti itu, tak berlebihan rasanya Miley kini menjadi simbol kekuatan perempuan dalam membahagiakan dirinya sendiri. Perjuangan Miley dalam kehidupan pribadinya sendiri rupanya telah dilihat publik sebagai sebuah proses pendewasaan Miley yang mengubahnya dengan total.

Banyak yang menghubungkan lagu ini dengan kisah cinta Miley dengan Liam Hemsworth aktor Hollywood yang menjalani hubungan asmara on and off atau putus nyambung, menikah di tahun 2018 dan bercerai di tahun 2020.

Rumor mengatakan Liam terlibat skandal dengan perempuan lain selama masih bersama Miley. Dan, jika rumor itu benar, lagu ini barangkali sebuah tamparan bagi Liam, dirilis tepat di hari ulang tahunnya pula!

Pada bait ini tercermin bangkitnya semangat Miley kembali.  

I didn’t wanna leave you I didn’t wanna lie
Started to cry but then remembered I
I can buy myself flowers
Write my name in the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand
I can take myself dancing
And I can hold my own hand
Yeah I can love me better than you can

Intinya adalah aku bisa mencintai diriku lebih baik dari kamu. So, tidak perlu sibuk menunggu kamu membahagiakanku.

Inti dari semangat mencintai diri sendiri inilah yang menjadi pesan Miley kepada semua orang di dunia. Ini semacam pengingat bahwa apapun yang terjadi, cintailah diri sendiri sehingga kamu bahagia.

Singkatnya, selamat Miley dan selamat bangkit semua pejuang hidup yang belum pernah mencintai diri sendiri, namun berusaha mencintai orang lain, kini waktunya untuk kembali mengingat makna bahagia itu di dalam diri sendiri.

Dan apakah sesungguhnya kita menunggu Miley untuk mengatakan itu baru kita percaya, bahwa self-love itu baik dan berguna? Sepertinya tidak, namun dengan reminder global yang disuarakan terus menerus di setiap detik, sepertinya kesadaran itu bangkit kembali, karena bukankah demikian fungsinya seni, fungsinya sastra, membangkitkan kekuatan yang sudah ada, dengan nafas baru yang lebih segar dan bertenaga. [T]

Singaraja, 4 Februari 2023

[][][]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali
“Het Achterhuis” | Catatan Anne Frank 12 Mei yang Menggetarkan Hati Dunia
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: artis dunialaguMyley CyrusPerempuanPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Next Post

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co