10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 5, 2023
in Pilihan Editor, Ulas Musik
Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Salah sati scene dalan video Kita dan Dunia, Dialog Dini Hari

Kepada pembaca budiman, jika berluang waktu ditonton link video di bawah terlebih dahulu nggih:

MENELISIK alat musik banjo, seperti mencari ketidakpastian yang tak memiliki muasal.  Membaca beberapa artikel lepas di internet, membuat saya susah untuk men-tracking-nya, membuat silsilah yang runut, agar turunanannya jelas. Bukankah identitas menjadi hal yang lumrah dicari, hingga hari ini.

Banjo datang ke Dunia Baru-Amerika tidak berupa fisik, ia datang bersama alam pikir para budak Afrika yang didatangkan untuk bekerja paksa, pada tahun 1500-1700an. Dalam alam pikir itulah banjo dirangkai dengan benda-benda temuan seadanya, untuk mengakomodir kerinduan para budak tentang rumahnya yang jauh. Setidaknya jika tak menyambangi secara fisik, mereka menyambangi secara dunia rasa, berupa musik.

Bahan sederhana untuk membuat banjo berupa labu berlubang, leher dari kayu, kulit binatang sebagai penutup labu, senar dari rambut kuda, usus binatang, atau bahan lainnya yang bisa di dapat. Dapat dibayangkan, alat musik sebagai pemersatu budak, hadir dalam kebersamaan dalam kesempitan, sekaligus penderitaan bersama. Ia pasti akan selalu dinanti menjelang malam, sebagai pengiring untuk melepas lelah, atau mabuk di kebun sampai lupa akan nasib untuk melanjutkan peran esok hari.

Hingga hari ini, banjo mengalami banyak cerita, gaya permainan, dimainkan oleh musisi-musisi, serta merebut posisi yang dulunya musik kelas lowbrow menjadi populer. Satu di antaranya hadir dalam intro lagu “Kita dan Dunia” oleh Dialog Dini Hari, yang di-release berupa official lyric video 3 Februari 2023 di kanal youtube mereka.

Nuansa instrument banjo ini, sangat mempengaruhi arasemen lagu “Kita dan Dunia” yang dulu tahun 2012 pernah di-release. Saya mencurigai diri saya sendiri, apakah ini soal perasaan saya saja, karena mengikuti perubahan lagu ini, atau ada hal lain?

Mari kita bahas, agar terlihat berlogika, soal perasaan ditangguhkan dulu sebentar.

Banjo dan Kehangatannya

Di awal tulisan, saya memulainya  dengan banjo. Tampaknya petikan yang terbilang kasar itu, adalah penyemangat budak-budak untuk melanjutkan hari. Jauh sebelum hari ini, nada-nada, petikan-petikan itu tidak kehilangan semangatnya, marwahnya sebagai sesuatu untuk mengatakan tidak boleh kalah dengan kehidupan, walau derita bertubi datang menerjang.

Dalam video “Kita dan Dunia”, ia dimetaforakan atas dua aktor kicik-kicik, anak laki-laki dan perempuan. Malika Atha Nayotama Hadiyatha dan Najwa Mazaya Sabrina. Mereka berdua sedang melakukan petualangan, tanpa bahasa, tanpa percakapan (setidaknya para pendengar, tidak mengetahui apa yang mereka bincangkan) ia hadir dalam kepadatan hanya impresi tubuh, ekspresi wajah, serta laku-laku yang mudah kita maknai. Seperti tertawa, berjalan, tarik menarik,  urunan duit, berjalan, berlari, bersepeda, main skateboard dan lain-lain yang mungkin lalai dari pengamatan saya.

Pilihan aktor kicik, sangat pas dengan gubahan baru “Kita dan Dunia”, bahkan ya kalau teman-teman perhatikan kata Dialog Dini Hari huruf depannya kecil, ditulis “dialog dini hari”. Dan judul pun ditulis demikian “kita dan dunia”.

Video ini memaksa kita menjadi kecil, atau setidaknya mengakomodir ingatan kita terhadap masa kecil, yang bertahun lalu kita sudah lalui. Saya sendiri menyusur kembali ingatan-ingatan, saat bermain di Tukad Badung, tersesat di gang-gang buntu Jalan Gajah Mada, bermain perang-perangan di lapangan bekas expo di Jalan Gunung Agung, serta adu lemparan di sekolah hingga memecahkan kaca dan lain-lain. Apakah kita benar-benar tumbuh tanpa kenangan semacam itu, atau watak kita terbentuk dari kenangan semacam itu?

Dan mereka yang kita ajak waktu itu, bagaimana kabarnya? Apakah baik-baik saja? Atau sudah lost kontak?

Jiwa anak-anak biasanya tetap bersemayam dalam tubuh laki-laki, ada kawan yang mengatakan begitu. Saya setuju sebagai studi kasus untuk membaca pengalaman ketubuhan saya sendiri. Hingga hari ini kerja logika dalam kesenian, masih bertaruh pada kenakalan eksperimen untuk mencapai satu estetika yang segar. Begitu juga Dialog Dini Hari, dalam gubahan pertama tahun 2013, lagu ini hadir sebagai bentuk presentasi pendewasaan. Hadir dengan video pasangan Om Saylow dan Mbok Oming yang sederhana, penuh canda-tawa saat menaiki wahana air.

Video itu diputar di Taman Agro di Hayam Wuruk, saat proyek tur Suara Tujuh Nada, bersama Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes and The Couples Company. “Kita dan Dunia” ialah hadiah pernikahan Dialog Dini Hari untuk Om Saylow, yang akan menikah usai tur berlangsung.

Kenapa kemudian, lagu tahun 2013 yang begitu dewasa, beralih pada subjek anak-anak? Tidakkah aneh? Coba perhatikan liriknya:

Perempuanku gengam tanganku
lalu menyusur lah bersamaku
jika suara mu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu

Dunia tak abadikan kita
dan cinta kita kan berlalu
tapi tetaplah gengam tanganku
teriak lantang bersamaku

Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara

Perempuanku genggam tanganku
lalu menyusurlah bersamaku
jika suaramu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu
bersamamu bersamamu bersamamu

Kurang cinta apa? Kurang dalem kayak gimana? Kurang pemahaman hidup seperti apa? Tapi senyatanya yang saya dapati, ia sangat sederhana dalam gubahan kedua. Benar…, karena Banjo, kehangatan anak-anak itu terjaga dalam lirik-lirik yang seolah menuju kesimpulan itu.

Kata “perempuanku” dalam lirik saya lebarkan menjadi kawan-kawan seperjuangan, yang dulu pernah mengamini hidup bersama kita. Kendati dalam kedua video memang diperankan oleh laki-laki dan perempuan. Yang saya garis bawahi adalah nilai-nilai sayang, cinta, kemudian menjadi spirit atas laku hidup sesama manusia.

“Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara”

Lirik ini membawa saja antara kelindan bayangan hari ini, dengan sejarah terhadap para budak Afrika yang bekerja di Amerika. Dunia tidak menyajikan apa-apa, ia kemudian dapat diimajinasikan menjadi dunia utopia dalam pikiran masing-masing. Bisa bergembira, bisa bersedih, bisa marah, apapapun bisa. Bagi sebagian orang utopia ini adalah kemustahilan begitu juga Dialog Dini Hari, dalam baitnya di atas. Ketidaksetaraan pun dibaca sebagai kelas masyarakat, ada budak, ada kaum borjuis, garis untuk menentukan kemiskinan dan orang kaya dan dualisme yang lain.

Jika dunia tidak menyajikan apa-apa?
Kita yang harus menyajikan diri kita pada dunia,
menjadi apapun, menjadi siapapun, atas pilihan yang sadar.
(saya menjawab lirik Dialog Dini Hari seperti di atas)

Hal-hal Lucu dan Penegas

Catatan dalam sub ini mungkin untuk Indira larin sebagai sutradara dan yang menulis naskahnya. Stylistnya saya suka, celana panjang dengan lipatan bawah, sepatu kets, baju di masukkan ke dalam sehingga memperlihatkan ikat pinggang yang mereka pakai, baju yang senada berwana abu-abu, dan tas gendong dengan warna polos tanpa corak. Ah paduan sederhana, dengan lirik-lirik yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Pembacaan turunan lirik ini, jadi penting untuk melihat bagaimana kemudian properti menyesuaikan keutuhan mood yang diinginkan. Terimkasih kerja keras dan pembacaannya.

>>>

Dari style rambut juga lucu, Sabrina dengan rambut yang gerai, dan Atha rambut pendek, mengingatkan saya pada Om Saylow dan Mbok Oming di video pertama. Apakah kamu sedang mengacu pada visual itu? Jika itu maksud dan tujuannya, berhasil. Sebab saya sendiri berulang kali secara bergantian melihat dan mendengar kedua video Kita dan Dunia.

Tapi catatanku yang agaknya perlu dipertimbangankan ialah jalannya logika peristiwa dalam setiap adegan. Bagi saya setiap scene memiliki satu keterkaitan, dan satu jalan cerita yang mestinya dapat berupa logika keseluruhan. Walaupun scene tampak melompat-lompat, tentang kegiatan sehari-hari, tapi perlu juga untuk merunutnya sebagai satu jalan cerita, ada premis, ada semacam motivasi yang ingin dibangun. Tapi sejauh ini, oke sih.

Memasukkan teks lirik juga jadi pemanis yang pas, liriknya sedang divisualkan, visualnya sedang bergerak atas lirik. Dan ditempatkan bukan lirik yang kaku, liriknya bergerak, dinamis, mendistraksi saya tapi pada kadar estetika yang tidak berlebihan. Mungkin ya, Rin, saya membayangkang jika itu tampak lirik, videomu akan tak sekuat sekarang. Pilihan yang tepat, dan menempatkan scene juga sangat kamu dipertimbangkan. Misalnya,

Pada menit 01.03
Liriknya: Lalu menyusurlah bersamaku
Scene-nya: berlari bersama, menuju semak

Pada menit 01.19
Liriknya: Ku kan berteriak bersamamu
Scene=nya: Atha sedang menyeringai, Sabrina ketawa, sambil memegang pagar kawat, lalu berdua merangkak di bawah kawat.

Pada menit 02.36
Liriknya: Dunia tak sajikan cinta
Scene-nya: Atha dan Sabrina bersandar di batang pohon besar, sambil tertawa, dan memandang jauh

Pada menit 03.31-03.42
Liriknya: bersamamu… bersamamu… bersamamu…
Scene-nya: sabrina memakan es krim, Atha dan Sabrina berdua duduk di depan rolling door, dan berdua menyusur semak.

Pada menit 04.41
Tak ada lirik
Tapi scene-nya mereka tetap berjalan, kita dan dunia masih berlanjut, menggantung.

Demikian saya sebagai penikmat, saya menawarkan sajian pembacaan ini untuk diri saya sendiri, ataupun bagi kawan-kawan pembaca. Selamat atas karyanya, dan salam. [T]

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari
Dialog Dini Hari: Terus Menulis dan Merilis
Soundrenaline 2018 dan “Benda-benda Kecemasan” dalam Pikiran Saya
Tags: baliDialog Dini Harimusikvideo musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Next Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails
Next Post
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co