30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 5, 2023
in Pilihan Editor, Ulas Musik
Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Salah sati scene dalan video Kita dan Dunia, Dialog Dini Hari

Kepada pembaca budiman, jika berluang waktu ditonton link video di bawah terlebih dahulu nggih:

MENELISIK alat musik banjo, seperti mencari ketidakpastian yang tak memiliki muasal.  Membaca beberapa artikel lepas di internet, membuat saya susah untuk men-tracking-nya, membuat silsilah yang runut, agar turunanannya jelas. Bukankah identitas menjadi hal yang lumrah dicari, hingga hari ini.

Banjo datang ke Dunia Baru-Amerika tidak berupa fisik, ia datang bersama alam pikir para budak Afrika yang didatangkan untuk bekerja paksa, pada tahun 1500-1700an. Dalam alam pikir itulah banjo dirangkai dengan benda-benda temuan seadanya, untuk mengakomodir kerinduan para budak tentang rumahnya yang jauh. Setidaknya jika tak menyambangi secara fisik, mereka menyambangi secara dunia rasa, berupa musik.

Bahan sederhana untuk membuat banjo berupa labu berlubang, leher dari kayu, kulit binatang sebagai penutup labu, senar dari rambut kuda, usus binatang, atau bahan lainnya yang bisa di dapat. Dapat dibayangkan, alat musik sebagai pemersatu budak, hadir dalam kebersamaan dalam kesempitan, sekaligus penderitaan bersama. Ia pasti akan selalu dinanti menjelang malam, sebagai pengiring untuk melepas lelah, atau mabuk di kebun sampai lupa akan nasib untuk melanjutkan peran esok hari.

Hingga hari ini, banjo mengalami banyak cerita, gaya permainan, dimainkan oleh musisi-musisi, serta merebut posisi yang dulunya musik kelas lowbrow menjadi populer. Satu di antaranya hadir dalam intro lagu “Kita dan Dunia” oleh Dialog Dini Hari, yang di-release berupa official lyric video 3 Februari 2023 di kanal youtube mereka.

Nuansa instrument banjo ini, sangat mempengaruhi arasemen lagu “Kita dan Dunia” yang dulu tahun 2012 pernah di-release. Saya mencurigai diri saya sendiri, apakah ini soal perasaan saya saja, karena mengikuti perubahan lagu ini, atau ada hal lain?

Mari kita bahas, agar terlihat berlogika, soal perasaan ditangguhkan dulu sebentar.

Banjo dan Kehangatannya

Di awal tulisan, saya memulainya  dengan banjo. Tampaknya petikan yang terbilang kasar itu, adalah penyemangat budak-budak untuk melanjutkan hari. Jauh sebelum hari ini, nada-nada, petikan-petikan itu tidak kehilangan semangatnya, marwahnya sebagai sesuatu untuk mengatakan tidak boleh kalah dengan kehidupan, walau derita bertubi datang menerjang.

Dalam video “Kita dan Dunia”, ia dimetaforakan atas dua aktor kicik-kicik, anak laki-laki dan perempuan. Malika Atha Nayotama Hadiyatha dan Najwa Mazaya Sabrina. Mereka berdua sedang melakukan petualangan, tanpa bahasa, tanpa percakapan (setidaknya para pendengar, tidak mengetahui apa yang mereka bincangkan) ia hadir dalam kepadatan hanya impresi tubuh, ekspresi wajah, serta laku-laku yang mudah kita maknai. Seperti tertawa, berjalan, tarik menarik,  urunan duit, berjalan, berlari, bersepeda, main skateboard dan lain-lain yang mungkin lalai dari pengamatan saya.

Pilihan aktor kicik, sangat pas dengan gubahan baru “Kita dan Dunia”, bahkan ya kalau teman-teman perhatikan kata Dialog Dini Hari huruf depannya kecil, ditulis “dialog dini hari”. Dan judul pun ditulis demikian “kita dan dunia”.

Video ini memaksa kita menjadi kecil, atau setidaknya mengakomodir ingatan kita terhadap masa kecil, yang bertahun lalu kita sudah lalui. Saya sendiri menyusur kembali ingatan-ingatan, saat bermain di Tukad Badung, tersesat di gang-gang buntu Jalan Gajah Mada, bermain perang-perangan di lapangan bekas expo di Jalan Gunung Agung, serta adu lemparan di sekolah hingga memecahkan kaca dan lain-lain. Apakah kita benar-benar tumbuh tanpa kenangan semacam itu, atau watak kita terbentuk dari kenangan semacam itu?

Dan mereka yang kita ajak waktu itu, bagaimana kabarnya? Apakah baik-baik saja? Atau sudah lost kontak?

Jiwa anak-anak biasanya tetap bersemayam dalam tubuh laki-laki, ada kawan yang mengatakan begitu. Saya setuju sebagai studi kasus untuk membaca pengalaman ketubuhan saya sendiri. Hingga hari ini kerja logika dalam kesenian, masih bertaruh pada kenakalan eksperimen untuk mencapai satu estetika yang segar. Begitu juga Dialog Dini Hari, dalam gubahan pertama tahun 2013, lagu ini hadir sebagai bentuk presentasi pendewasaan. Hadir dengan video pasangan Om Saylow dan Mbok Oming yang sederhana, penuh canda-tawa saat menaiki wahana air.

Video itu diputar di Taman Agro di Hayam Wuruk, saat proyek tur Suara Tujuh Nada, bersama Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes and The Couples Company. “Kita dan Dunia” ialah hadiah pernikahan Dialog Dini Hari untuk Om Saylow, yang akan menikah usai tur berlangsung.

Kenapa kemudian, lagu tahun 2013 yang begitu dewasa, beralih pada subjek anak-anak? Tidakkah aneh? Coba perhatikan liriknya:

Perempuanku gengam tanganku
lalu menyusur lah bersamaku
jika suara mu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu

Dunia tak abadikan kita
dan cinta kita kan berlalu
tapi tetaplah gengam tanganku
teriak lantang bersamaku

Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara

Perempuanku genggam tanganku
lalu menyusurlah bersamaku
jika suaramu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu
bersamamu bersamamu bersamamu

Kurang cinta apa? Kurang dalem kayak gimana? Kurang pemahaman hidup seperti apa? Tapi senyatanya yang saya dapati, ia sangat sederhana dalam gubahan kedua. Benar…, karena Banjo, kehangatan anak-anak itu terjaga dalam lirik-lirik yang seolah menuju kesimpulan itu.

Kata “perempuanku” dalam lirik saya lebarkan menjadi kawan-kawan seperjuangan, yang dulu pernah mengamini hidup bersama kita. Kendati dalam kedua video memang diperankan oleh laki-laki dan perempuan. Yang saya garis bawahi adalah nilai-nilai sayang, cinta, kemudian menjadi spirit atas laku hidup sesama manusia.

“Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara”

Lirik ini membawa saja antara kelindan bayangan hari ini, dengan sejarah terhadap para budak Afrika yang bekerja di Amerika. Dunia tidak menyajikan apa-apa, ia kemudian dapat diimajinasikan menjadi dunia utopia dalam pikiran masing-masing. Bisa bergembira, bisa bersedih, bisa marah, apapapun bisa. Bagi sebagian orang utopia ini adalah kemustahilan begitu juga Dialog Dini Hari, dalam baitnya di atas. Ketidaksetaraan pun dibaca sebagai kelas masyarakat, ada budak, ada kaum borjuis, garis untuk menentukan kemiskinan dan orang kaya dan dualisme yang lain.

Jika dunia tidak menyajikan apa-apa?
Kita yang harus menyajikan diri kita pada dunia,
menjadi apapun, menjadi siapapun, atas pilihan yang sadar.
(saya menjawab lirik Dialog Dini Hari seperti di atas)

Hal-hal Lucu dan Penegas

Catatan dalam sub ini mungkin untuk Indira larin sebagai sutradara dan yang menulis naskahnya. Stylistnya saya suka, celana panjang dengan lipatan bawah, sepatu kets, baju di masukkan ke dalam sehingga memperlihatkan ikat pinggang yang mereka pakai, baju yang senada berwana abu-abu, dan tas gendong dengan warna polos tanpa corak. Ah paduan sederhana, dengan lirik-lirik yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Pembacaan turunan lirik ini, jadi penting untuk melihat bagaimana kemudian properti menyesuaikan keutuhan mood yang diinginkan. Terimkasih kerja keras dan pembacaannya.

>>>

Dari style rambut juga lucu, Sabrina dengan rambut yang gerai, dan Atha rambut pendek, mengingatkan saya pada Om Saylow dan Mbok Oming di video pertama. Apakah kamu sedang mengacu pada visual itu? Jika itu maksud dan tujuannya, berhasil. Sebab saya sendiri berulang kali secara bergantian melihat dan mendengar kedua video Kita dan Dunia.

Tapi catatanku yang agaknya perlu dipertimbangankan ialah jalannya logika peristiwa dalam setiap adegan. Bagi saya setiap scene memiliki satu keterkaitan, dan satu jalan cerita yang mestinya dapat berupa logika keseluruhan. Walaupun scene tampak melompat-lompat, tentang kegiatan sehari-hari, tapi perlu juga untuk merunutnya sebagai satu jalan cerita, ada premis, ada semacam motivasi yang ingin dibangun. Tapi sejauh ini, oke sih.

Memasukkan teks lirik juga jadi pemanis yang pas, liriknya sedang divisualkan, visualnya sedang bergerak atas lirik. Dan ditempatkan bukan lirik yang kaku, liriknya bergerak, dinamis, mendistraksi saya tapi pada kadar estetika yang tidak berlebihan. Mungkin ya, Rin, saya membayangkang jika itu tampak lirik, videomu akan tak sekuat sekarang. Pilihan yang tepat, dan menempatkan scene juga sangat kamu dipertimbangkan. Misalnya,

Pada menit 01.03
Liriknya: Lalu menyusurlah bersamaku
Scene-nya: berlari bersama, menuju semak

Pada menit 01.19
Liriknya: Ku kan berteriak bersamamu
Scene=nya: Atha sedang menyeringai, Sabrina ketawa, sambil memegang pagar kawat, lalu berdua merangkak di bawah kawat.

Pada menit 02.36
Liriknya: Dunia tak sajikan cinta
Scene-nya: Atha dan Sabrina bersandar di batang pohon besar, sambil tertawa, dan memandang jauh

Pada menit 03.31-03.42
Liriknya: bersamamu… bersamamu… bersamamu…
Scene-nya: sabrina memakan es krim, Atha dan Sabrina berdua duduk di depan rolling door, dan berdua menyusur semak.

Pada menit 04.41
Tak ada lirik
Tapi scene-nya mereka tetap berjalan, kita dan dunia masih berlanjut, menggantung.

Demikian saya sebagai penikmat, saya menawarkan sajian pembacaan ini untuk diri saya sendiri, ataupun bagi kawan-kawan pembaca. Selamat atas karyanya, dan salam. [T]

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari
Dialog Dini Hari: Terus Menulis dan Merilis
Soundrenaline 2018 dan “Benda-benda Kecemasan” dalam Pikiran Saya
Tags: baliDialog Dini Harimusikvideo musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Next Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails
Next Post
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co