2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 5, 2023
in Pilihan Editor, Ulas Musik
Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Salah sati scene dalan video Kita dan Dunia, Dialog Dini Hari

Kepada pembaca budiman, jika berluang waktu ditonton link video di bawah terlebih dahulu nggih:

MENELISIK alat musik banjo, seperti mencari ketidakpastian yang tak memiliki muasal.  Membaca beberapa artikel lepas di internet, membuat saya susah untuk men-tracking-nya, membuat silsilah yang runut, agar turunanannya jelas. Bukankah identitas menjadi hal yang lumrah dicari, hingga hari ini.

Banjo datang ke Dunia Baru-Amerika tidak berupa fisik, ia datang bersama alam pikir para budak Afrika yang didatangkan untuk bekerja paksa, pada tahun 1500-1700an. Dalam alam pikir itulah banjo dirangkai dengan benda-benda temuan seadanya, untuk mengakomodir kerinduan para budak tentang rumahnya yang jauh. Setidaknya jika tak menyambangi secara fisik, mereka menyambangi secara dunia rasa, berupa musik.

Bahan sederhana untuk membuat banjo berupa labu berlubang, leher dari kayu, kulit binatang sebagai penutup labu, senar dari rambut kuda, usus binatang, atau bahan lainnya yang bisa di dapat. Dapat dibayangkan, alat musik sebagai pemersatu budak, hadir dalam kebersamaan dalam kesempitan, sekaligus penderitaan bersama. Ia pasti akan selalu dinanti menjelang malam, sebagai pengiring untuk melepas lelah, atau mabuk di kebun sampai lupa akan nasib untuk melanjutkan peran esok hari.

Hingga hari ini, banjo mengalami banyak cerita, gaya permainan, dimainkan oleh musisi-musisi, serta merebut posisi yang dulunya musik kelas lowbrow menjadi populer. Satu di antaranya hadir dalam intro lagu “Kita dan Dunia” oleh Dialog Dini Hari, yang di-release berupa official lyric video 3 Februari 2023 di kanal youtube mereka.

Nuansa instrument banjo ini, sangat mempengaruhi arasemen lagu “Kita dan Dunia” yang dulu tahun 2012 pernah di-release. Saya mencurigai diri saya sendiri, apakah ini soal perasaan saya saja, karena mengikuti perubahan lagu ini, atau ada hal lain?

Mari kita bahas, agar terlihat berlogika, soal perasaan ditangguhkan dulu sebentar.

Banjo dan Kehangatannya

Di awal tulisan, saya memulainya  dengan banjo. Tampaknya petikan yang terbilang kasar itu, adalah penyemangat budak-budak untuk melanjutkan hari. Jauh sebelum hari ini, nada-nada, petikan-petikan itu tidak kehilangan semangatnya, marwahnya sebagai sesuatu untuk mengatakan tidak boleh kalah dengan kehidupan, walau derita bertubi datang menerjang.

Dalam video “Kita dan Dunia”, ia dimetaforakan atas dua aktor kicik-kicik, anak laki-laki dan perempuan. Malika Atha Nayotama Hadiyatha dan Najwa Mazaya Sabrina. Mereka berdua sedang melakukan petualangan, tanpa bahasa, tanpa percakapan (setidaknya para pendengar, tidak mengetahui apa yang mereka bincangkan) ia hadir dalam kepadatan hanya impresi tubuh, ekspresi wajah, serta laku-laku yang mudah kita maknai. Seperti tertawa, berjalan, tarik menarik,  urunan duit, berjalan, berlari, bersepeda, main skateboard dan lain-lain yang mungkin lalai dari pengamatan saya.

Pilihan aktor kicik, sangat pas dengan gubahan baru “Kita dan Dunia”, bahkan ya kalau teman-teman perhatikan kata Dialog Dini Hari huruf depannya kecil, ditulis “dialog dini hari”. Dan judul pun ditulis demikian “kita dan dunia”.

Video ini memaksa kita menjadi kecil, atau setidaknya mengakomodir ingatan kita terhadap masa kecil, yang bertahun lalu kita sudah lalui. Saya sendiri menyusur kembali ingatan-ingatan, saat bermain di Tukad Badung, tersesat di gang-gang buntu Jalan Gajah Mada, bermain perang-perangan di lapangan bekas expo di Jalan Gunung Agung, serta adu lemparan di sekolah hingga memecahkan kaca dan lain-lain. Apakah kita benar-benar tumbuh tanpa kenangan semacam itu, atau watak kita terbentuk dari kenangan semacam itu?

Dan mereka yang kita ajak waktu itu, bagaimana kabarnya? Apakah baik-baik saja? Atau sudah lost kontak?

Jiwa anak-anak biasanya tetap bersemayam dalam tubuh laki-laki, ada kawan yang mengatakan begitu. Saya setuju sebagai studi kasus untuk membaca pengalaman ketubuhan saya sendiri. Hingga hari ini kerja logika dalam kesenian, masih bertaruh pada kenakalan eksperimen untuk mencapai satu estetika yang segar. Begitu juga Dialog Dini Hari, dalam gubahan pertama tahun 2013, lagu ini hadir sebagai bentuk presentasi pendewasaan. Hadir dengan video pasangan Om Saylow dan Mbok Oming yang sederhana, penuh canda-tawa saat menaiki wahana air.

Video itu diputar di Taman Agro di Hayam Wuruk, saat proyek tur Suara Tujuh Nada, bersama Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes and The Couples Company. “Kita dan Dunia” ialah hadiah pernikahan Dialog Dini Hari untuk Om Saylow, yang akan menikah usai tur berlangsung.

Kenapa kemudian, lagu tahun 2013 yang begitu dewasa, beralih pada subjek anak-anak? Tidakkah aneh? Coba perhatikan liriknya:

Perempuanku gengam tanganku
lalu menyusur lah bersamaku
jika suara mu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu

Dunia tak abadikan kita
dan cinta kita kan berlalu
tapi tetaplah gengam tanganku
teriak lantang bersamaku

Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara

Perempuanku genggam tanganku
lalu menyusurlah bersamaku
jika suaramu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu
bersamamu bersamamu bersamamu

Kurang cinta apa? Kurang dalem kayak gimana? Kurang pemahaman hidup seperti apa? Tapi senyatanya yang saya dapati, ia sangat sederhana dalam gubahan kedua. Benar…, karena Banjo, kehangatan anak-anak itu terjaga dalam lirik-lirik yang seolah menuju kesimpulan itu.

Kata “perempuanku” dalam lirik saya lebarkan menjadi kawan-kawan seperjuangan, yang dulu pernah mengamini hidup bersama kita. Kendati dalam kedua video memang diperankan oleh laki-laki dan perempuan. Yang saya garis bawahi adalah nilai-nilai sayang, cinta, kemudian menjadi spirit atas laku hidup sesama manusia.

“Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara”

Lirik ini membawa saja antara kelindan bayangan hari ini, dengan sejarah terhadap para budak Afrika yang bekerja di Amerika. Dunia tidak menyajikan apa-apa, ia kemudian dapat diimajinasikan menjadi dunia utopia dalam pikiran masing-masing. Bisa bergembira, bisa bersedih, bisa marah, apapapun bisa. Bagi sebagian orang utopia ini adalah kemustahilan begitu juga Dialog Dini Hari, dalam baitnya di atas. Ketidaksetaraan pun dibaca sebagai kelas masyarakat, ada budak, ada kaum borjuis, garis untuk menentukan kemiskinan dan orang kaya dan dualisme yang lain.

Jika dunia tidak menyajikan apa-apa?
Kita yang harus menyajikan diri kita pada dunia,
menjadi apapun, menjadi siapapun, atas pilihan yang sadar.
(saya menjawab lirik Dialog Dini Hari seperti di atas)

Hal-hal Lucu dan Penegas

Catatan dalam sub ini mungkin untuk Indira larin sebagai sutradara dan yang menulis naskahnya. Stylistnya saya suka, celana panjang dengan lipatan bawah, sepatu kets, baju di masukkan ke dalam sehingga memperlihatkan ikat pinggang yang mereka pakai, baju yang senada berwana abu-abu, dan tas gendong dengan warna polos tanpa corak. Ah paduan sederhana, dengan lirik-lirik yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Pembacaan turunan lirik ini, jadi penting untuk melihat bagaimana kemudian properti menyesuaikan keutuhan mood yang diinginkan. Terimkasih kerja keras dan pembacaannya.

>>>

Dari style rambut juga lucu, Sabrina dengan rambut yang gerai, dan Atha rambut pendek, mengingatkan saya pada Om Saylow dan Mbok Oming di video pertama. Apakah kamu sedang mengacu pada visual itu? Jika itu maksud dan tujuannya, berhasil. Sebab saya sendiri berulang kali secara bergantian melihat dan mendengar kedua video Kita dan Dunia.

Tapi catatanku yang agaknya perlu dipertimbangankan ialah jalannya logika peristiwa dalam setiap adegan. Bagi saya setiap scene memiliki satu keterkaitan, dan satu jalan cerita yang mestinya dapat berupa logika keseluruhan. Walaupun scene tampak melompat-lompat, tentang kegiatan sehari-hari, tapi perlu juga untuk merunutnya sebagai satu jalan cerita, ada premis, ada semacam motivasi yang ingin dibangun. Tapi sejauh ini, oke sih.

Memasukkan teks lirik juga jadi pemanis yang pas, liriknya sedang divisualkan, visualnya sedang bergerak atas lirik. Dan ditempatkan bukan lirik yang kaku, liriknya bergerak, dinamis, mendistraksi saya tapi pada kadar estetika yang tidak berlebihan. Mungkin ya, Rin, saya membayangkang jika itu tampak lirik, videomu akan tak sekuat sekarang. Pilihan yang tepat, dan menempatkan scene juga sangat kamu dipertimbangkan. Misalnya,

Pada menit 01.03
Liriknya: Lalu menyusurlah bersamaku
Scene-nya: berlari bersama, menuju semak

Pada menit 01.19
Liriknya: Ku kan berteriak bersamamu
Scene=nya: Atha sedang menyeringai, Sabrina ketawa, sambil memegang pagar kawat, lalu berdua merangkak di bawah kawat.

Pada menit 02.36
Liriknya: Dunia tak sajikan cinta
Scene-nya: Atha dan Sabrina bersandar di batang pohon besar, sambil tertawa, dan memandang jauh

Pada menit 03.31-03.42
Liriknya: bersamamu… bersamamu… bersamamu…
Scene-nya: sabrina memakan es krim, Atha dan Sabrina berdua duduk di depan rolling door, dan berdua menyusur semak.

Pada menit 04.41
Tak ada lirik
Tapi scene-nya mereka tetap berjalan, kita dan dunia masih berlanjut, menggantung.

Demikian saya sebagai penikmat, saya menawarkan sajian pembacaan ini untuk diri saya sendiri, ataupun bagi kawan-kawan pembaca. Selamat atas karyanya, dan salam. [T]

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari
Dialog Dini Hari: Terus Menulis dan Merilis
Soundrenaline 2018 dan “Benda-benda Kecemasan” dalam Pikiran Saya
Tags: baliDialog Dini Harimusikvideo musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Next Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co