2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 13, 2022
in Khas
Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Salah satu adegan dalam Film Ratna

Rabu , 11 Mei 2022, Film berjudul Ratna yang disutradarai oleh Hendry Wahana diputar di Mash Denpasar, Jalan Pulau Madura No 3, Denpasar. Penontonnya sebagian besar adalah aktor dan kru yang terlibat,  sebagian kecilnya adalah kawan-kawan yang khusus diundang untuk memberikan masukan, kritikan, makian atas film pendek tersebut.

Malam yang hangat, saya dan beberapa kawan mengobrol santai sambil ditemani kopi panas, dan bakpao mini sebelum pemutaran dimulai. Penonton tidak hanya berasal dari Denpasar, ada juga dari Bangli, Tabanan dan Buleleng. Siska selaku produser sedari tadi mengecek atas kedatangan mereka, sejak dua hari sebelum pemutaran ia mewanti-wanti agar undangan mengkonfirmasi kedatangan mereka, karena ini menyangkut kuota duduk di Mash – 30 orang maksimal.

Foto: Saya saat diskusi film pendek Ratna di Mash Denpasar

Acara dimulai pukul 19.10, 10 menit telat dari yang terjadwalkan. Memang pemutaran ini kesannya ekslusif karena semua penontonnya saling mengenal. Namun ada beberapa penonton yang belum mengenal Hendry. Perlu diketahui Hendry dan Siska belum setahun pindah ke Bali, kebetulan Hendry merupakan teman sepergaulan saya di Surabaya. Kami sering terlibat dalam sejumlah proyek kreatif, sering gontok-gontokan gagasan, sering adu pendapat, tapi karena itulah kami sering berkarya bersama.

“Jong, kau makelar penonton yah sekarang?!” kelakar seorang kawan yang baru saja datang. Cukup jeli juga ia membaca situasi.

Dengan sengaja, saya mengundang kawan-kawan yang memiliki latar belakang berbeda, ada linguistik murni, ada peneliti lontar, ada penulis, sastrawan, desain grafis dan lain sebagainya. Wacana interdisplin ini menarik untuk dibawa ke ruang-ruang diskusi untuk mengapresiasi sebuah karya bersama. Sebagai film ia dapat dinikmati, sebagai karya diluar film – menyangkut  sistem kultural atau isu diluar film, juga turut mendapat perhatian. Apa pentingnya sebuah karya hadir ditengah kita. Sederhananya film ini sedang mengacu atau mengarah pada isu apa?

Setelah Hendry Wahana memberi pemaparan singkatnya, Ratna di-play. Kami menonton kurang lebih 15 menit. Setelah itu diskusi santai dimulai. Hendry menjelaskan tentang ide karya ini, sebenarnya sudah terpendam cukup lama hampir dua tahunan, hanya dibicarakan, dibincangkan, belum dieksekusi.

Film pendek Ratna mengisahkan tentang seorang perempuan yang dulunya beragama Hindu kemudian menikah dengan suami yang beragama Islam. Namun sayang tidak berselang lama setelah pernikahan, sang suami meninggal. Ratna bingung, harus kemana ia berpijak, menjadi Islam lalu tinggal bersama keluarga suami di luar Bali. Atau kembali ke rumahnya, bersama ajik (ayah) dan biang (ibu). Ratna diceritakan berasal dari keluarga berkasta pada masyarakat Bali.

“Saya sempat kebingungan akan mengeksekusi karya ini, di Bali atau Yogjakarta, sebab pilihan kami pindah dari Surabaya ada di dua kota tersebut. Akhirnya di Bali,” katanya sambil tertawa.

Ia menjelaskan lebih lanjut, bahwa isu ini cukup seksi dibicarakan di Indonesia, tentang pernikahan berbeda Agama. Tapi dalam filmnya ia ingin menjelaskan dari sudut pandang pelakunya, bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam. Mengingat Ratna adalah manusia yang memiliki nalar untuk menjatuhkan pilihannya atas apapun.

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Pernyataan Hendry dipertanyakan ulang oleh Wayan Sumahardika – Sutradara dan penulis lakon. Justru Suma tidak melihat motivasi kuat atas pilihan Ratna menikahi suaminya yang meninggal itu. Apakah ada kecendrungan perempuan Bali menikah dengan laki-laki bukan Hindu, apakah ada alasan selain perasaan dan logika yang dapat diperhitungkan. Sehingga tindakan Ratna merupakan dampak dari suatu kultur dan narasi yang lebih besar. Selain itu Suma pula menyinggung satu kebudayaan yang hampir mirip dengan orang Bali saat melaksanakan upacara. Seperti meminjam sejumlah barang, karpet dan kursi. Serta sistem menejenukanpun dipraktekan, hanya saja mungkin jenis barang-barangnya berbeda dengan di Bali.

Sementara itu Nirartha – sutradara dari Film Sarad , lebih banyak membahas teknis dan kualitas gambar yang masih kurang dibeberapa bagian. Masih adanya noise – gambar kotor pada adegan dapur, saat Ratna membuat minuman. Ada potongan-potongan suara yang kurang halus, sehingga perlu diperbaiki.  Terakhir adegan teriakan Ratna yang dihantam dengan lagu, semestinya dapat ditimbang volumenya, menjadi berantakan dan terkesan menganggu karena kurang teliti dalam racikan suara tersebut.

“Mungkin itu bisa dihilangkan saja lagunya, saya lebih suka mendengar teriakan lantang nya Ratna sampai di akhir film,” ujar Nirartha.

Dharma Putra seorang akademisi dan peneliti lontar mengutarakan pendapatnya bahwa ada tatanan bahasa yang tidak biasa dilakukan dalam bahasa Bali. Saat percakapan Ayah dan Ratna terdengar seperti Bahasa Indonesia yang mengalami terjemahan ke Bahasa Bali, jadi logika-logika Bahasa Indonesia masih terasa.

“Kayak,….. nike sane Gek kenehang, itu aneh di dalam Bahasa Bali, biasanya ….nike sane kenehang Gek. Saya nggak tahu siapa yang menerjemahkan bahasanya yah, tapi terasa kayak bahasa Indonesia,” ujarnya.

“Aku, aku yang ngerjain itu!” kata saya lantang, sambil tunjuk tangan, disambut dengan tawa penonton termasuk Dharma Putra

Saya pun menjawab, bahwa wacana ini bergerak dari analisis-analisis tokoh yang ada dalam film. Ratna tumbuh di Kota dalam hal ini Denpasar, yang sudah mengalami pembauran penduduk, karena banyak kawan-kawan rantau yang datang untuk bekerja di kota. Identitas kemudian mengalami gejolak karena banyak mendapat pengaruh, termasuk identitas Bahasa.

Ratna seorang bangsawan yang hidup dalam keluarga konvensional dan konservatif, tapi lingkungannya sungguh cair, sehingga  berdampak pada cara dia berbahasa. Konteks ini juga sedang terjadi saat ini, betapa tegangnya bahasa kita hari ini, karena mendapat sisipan, serapan, atas trend media sosial, lingkungan dan bahan bacaan.

Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi

Hendry Wahana menjelaskan bahwa atas kemepetan waktu, segalanya dilakukan dengan tergesa-gesa. Sebenarnya karya ini dijadwalkan pada Desember tahun 2021, namun karena pepatnya pekerjaan, dan mesti diselesaikan, maka terkesan karya ini diselesaikan terburu-buru. Terutama soal teknis yang disampaikan oleh Nirartha, dan riset -riset kecendrungan pola masyarakat Bali yang masih dapat dieksplorasi lebih dalam lagi.

Menanggapi hal ini, Mas Edo selaku punggawa Mash Denpasar, memberi pujian karena karya ini hadir tanpa founding sama sekali. Namun sayang dikerjakan secara cepat dan terburu-buru, justru sebenarnya dapat dikerjakan lebih santai karena tidak ada tuntutan apapun dalam pengerjaannya.

“Apa yang dikejar sebenarnya , kok terburu-buru begini?” tanya Mas Edo

Hendry menjelaskan dirinya selaku kreator punya kebiasaan buruk,  tidak menyelesaikan satu garapan, bahkan hanya berujung pada draft naskah. Tidak pernah benar-benar selesai, Ratna menjadi satu capaian yang ia banggakan karena selesai, walapun tetap telat dari jadwal yang disepakati.  Karya ini suatu lompatan bagi dirinya sendiri, dan senang karena bisa dikerjakan  di Bali, hal ini mengantarkannya pada ruang-ruang pertemanan yang lebih luas.

Acara diskusi santai selesai, padahal saya sudah todong satu persatu untuk bertanya, rupanya tidak yang ingin mengutarakan isi hati. Acara dilanjutkan di luar Mash, dengan dua botol arak  serta beribu cerita menjelang tidur. Acara tukar  pikiran ini sudah lama saya rindukan, akhirnya terjadi lagi, semoga tidak ada halangan global yang menghalangi.[T]

Tags: agamafilmfilm pendekmenikahmenikah beda agama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Adalah Kota Persinggahan

Next Post

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku "Kota Kabut Walli Jing Kang"

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co