10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 13, 2022
in Khas
Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Salah satu adegan dalam Film Ratna

Rabu , 11 Mei 2022, Film berjudul Ratna yang disutradarai oleh Hendry Wahana diputar di Mash Denpasar, Jalan Pulau Madura No 3, Denpasar. Penontonnya sebagian besar adalah aktor dan kru yang terlibat,  sebagian kecilnya adalah kawan-kawan yang khusus diundang untuk memberikan masukan, kritikan, makian atas film pendek tersebut.

Malam yang hangat, saya dan beberapa kawan mengobrol santai sambil ditemani kopi panas, dan bakpao mini sebelum pemutaran dimulai. Penonton tidak hanya berasal dari Denpasar, ada juga dari Bangli, Tabanan dan Buleleng. Siska selaku produser sedari tadi mengecek atas kedatangan mereka, sejak dua hari sebelum pemutaran ia mewanti-wanti agar undangan mengkonfirmasi kedatangan mereka, karena ini menyangkut kuota duduk di Mash – 30 orang maksimal.

Foto: Saya saat diskusi film pendek Ratna di Mash Denpasar

Acara dimulai pukul 19.10, 10 menit telat dari yang terjadwalkan. Memang pemutaran ini kesannya ekslusif karena semua penontonnya saling mengenal. Namun ada beberapa penonton yang belum mengenal Hendry. Perlu diketahui Hendry dan Siska belum setahun pindah ke Bali, kebetulan Hendry merupakan teman sepergaulan saya di Surabaya. Kami sering terlibat dalam sejumlah proyek kreatif, sering gontok-gontokan gagasan, sering adu pendapat, tapi karena itulah kami sering berkarya bersama.

“Jong, kau makelar penonton yah sekarang?!” kelakar seorang kawan yang baru saja datang. Cukup jeli juga ia membaca situasi.

Dengan sengaja, saya mengundang kawan-kawan yang memiliki latar belakang berbeda, ada linguistik murni, ada peneliti lontar, ada penulis, sastrawan, desain grafis dan lain sebagainya. Wacana interdisplin ini menarik untuk dibawa ke ruang-ruang diskusi untuk mengapresiasi sebuah karya bersama. Sebagai film ia dapat dinikmati, sebagai karya diluar film – menyangkut  sistem kultural atau isu diluar film, juga turut mendapat perhatian. Apa pentingnya sebuah karya hadir ditengah kita. Sederhananya film ini sedang mengacu atau mengarah pada isu apa?

Setelah Hendry Wahana memberi pemaparan singkatnya, Ratna di-play. Kami menonton kurang lebih 15 menit. Setelah itu diskusi santai dimulai. Hendry menjelaskan tentang ide karya ini, sebenarnya sudah terpendam cukup lama hampir dua tahunan, hanya dibicarakan, dibincangkan, belum dieksekusi.

Film pendek Ratna mengisahkan tentang seorang perempuan yang dulunya beragama Hindu kemudian menikah dengan suami yang beragama Islam. Namun sayang tidak berselang lama setelah pernikahan, sang suami meninggal. Ratna bingung, harus kemana ia berpijak, menjadi Islam lalu tinggal bersama keluarga suami di luar Bali. Atau kembali ke rumahnya, bersama ajik (ayah) dan biang (ibu). Ratna diceritakan berasal dari keluarga berkasta pada masyarakat Bali.

“Saya sempat kebingungan akan mengeksekusi karya ini, di Bali atau Yogjakarta, sebab pilihan kami pindah dari Surabaya ada di dua kota tersebut. Akhirnya di Bali,” katanya sambil tertawa.

Ia menjelaskan lebih lanjut, bahwa isu ini cukup seksi dibicarakan di Indonesia, tentang pernikahan berbeda Agama. Tapi dalam filmnya ia ingin menjelaskan dari sudut pandang pelakunya, bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam. Mengingat Ratna adalah manusia yang memiliki nalar untuk menjatuhkan pilihannya atas apapun.

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Pernyataan Hendry dipertanyakan ulang oleh Wayan Sumahardika – Sutradara dan penulis lakon. Justru Suma tidak melihat motivasi kuat atas pilihan Ratna menikahi suaminya yang meninggal itu. Apakah ada kecendrungan perempuan Bali menikah dengan laki-laki bukan Hindu, apakah ada alasan selain perasaan dan logika yang dapat diperhitungkan. Sehingga tindakan Ratna merupakan dampak dari suatu kultur dan narasi yang lebih besar. Selain itu Suma pula menyinggung satu kebudayaan yang hampir mirip dengan orang Bali saat melaksanakan upacara. Seperti meminjam sejumlah barang, karpet dan kursi. Serta sistem menejenukanpun dipraktekan, hanya saja mungkin jenis barang-barangnya berbeda dengan di Bali.

Sementara itu Nirartha – sutradara dari Film Sarad , lebih banyak membahas teknis dan kualitas gambar yang masih kurang dibeberapa bagian. Masih adanya noise – gambar kotor pada adegan dapur, saat Ratna membuat minuman. Ada potongan-potongan suara yang kurang halus, sehingga perlu diperbaiki.  Terakhir adegan teriakan Ratna yang dihantam dengan lagu, semestinya dapat ditimbang volumenya, menjadi berantakan dan terkesan menganggu karena kurang teliti dalam racikan suara tersebut.

“Mungkin itu bisa dihilangkan saja lagunya, saya lebih suka mendengar teriakan lantang nya Ratna sampai di akhir film,” ujar Nirartha.

Dharma Putra seorang akademisi dan peneliti lontar mengutarakan pendapatnya bahwa ada tatanan bahasa yang tidak biasa dilakukan dalam bahasa Bali. Saat percakapan Ayah dan Ratna terdengar seperti Bahasa Indonesia yang mengalami terjemahan ke Bahasa Bali, jadi logika-logika Bahasa Indonesia masih terasa.

“Kayak,….. nike sane Gek kenehang, itu aneh di dalam Bahasa Bali, biasanya ….nike sane kenehang Gek. Saya nggak tahu siapa yang menerjemahkan bahasanya yah, tapi terasa kayak bahasa Indonesia,” ujarnya.

“Aku, aku yang ngerjain itu!” kata saya lantang, sambil tunjuk tangan, disambut dengan tawa penonton termasuk Dharma Putra

Saya pun menjawab, bahwa wacana ini bergerak dari analisis-analisis tokoh yang ada dalam film. Ratna tumbuh di Kota dalam hal ini Denpasar, yang sudah mengalami pembauran penduduk, karena banyak kawan-kawan rantau yang datang untuk bekerja di kota. Identitas kemudian mengalami gejolak karena banyak mendapat pengaruh, termasuk identitas Bahasa.

Ratna seorang bangsawan yang hidup dalam keluarga konvensional dan konservatif, tapi lingkungannya sungguh cair, sehingga  berdampak pada cara dia berbahasa. Konteks ini juga sedang terjadi saat ini, betapa tegangnya bahasa kita hari ini, karena mendapat sisipan, serapan, atas trend media sosial, lingkungan dan bahan bacaan.

Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi

Hendry Wahana menjelaskan bahwa atas kemepetan waktu, segalanya dilakukan dengan tergesa-gesa. Sebenarnya karya ini dijadwalkan pada Desember tahun 2021, namun karena pepatnya pekerjaan, dan mesti diselesaikan, maka terkesan karya ini diselesaikan terburu-buru. Terutama soal teknis yang disampaikan oleh Nirartha, dan riset -riset kecendrungan pola masyarakat Bali yang masih dapat dieksplorasi lebih dalam lagi.

Menanggapi hal ini, Mas Edo selaku punggawa Mash Denpasar, memberi pujian karena karya ini hadir tanpa founding sama sekali. Namun sayang dikerjakan secara cepat dan terburu-buru, justru sebenarnya dapat dikerjakan lebih santai karena tidak ada tuntutan apapun dalam pengerjaannya.

“Apa yang dikejar sebenarnya , kok terburu-buru begini?” tanya Mas Edo

Hendry menjelaskan dirinya selaku kreator punya kebiasaan buruk,  tidak menyelesaikan satu garapan, bahkan hanya berujung pada draft naskah. Tidak pernah benar-benar selesai, Ratna menjadi satu capaian yang ia banggakan karena selesai, walapun tetap telat dari jadwal yang disepakati.  Karya ini suatu lompatan bagi dirinya sendiri, dan senang karena bisa dikerjakan  di Bali, hal ini mengantarkannya pada ruang-ruang pertemanan yang lebih luas.

Acara diskusi santai selesai, padahal saya sudah todong satu persatu untuk bertanya, rupanya tidak yang ingin mengutarakan isi hati. Acara dilanjutkan di luar Mash, dengan dua botol arak  serta beribu cerita menjelang tidur. Acara tukar  pikiran ini sudah lama saya rindukan, akhirnya terjadi lagi, semoga tidak ada halangan global yang menghalangi.[T]

Tags: agamafilmfilm pendekmenikahmenikah beda agama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Adalah Kota Persinggahan

Next Post

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku "Kota Kabut Walli Jing Kang"

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co