2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 14, 2022
in Khas
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra (moderator, Desi Nurani dan Guna Yasa (pembicara) pada diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Barang kali ini merupakan tulisan yang sangat personal, tapi tak apa, ini demi sebuah catatan- arsip yang suatu saat nanti, mungkin saja berguna bagi saya sendiri atau untuk Manik Sukadana.

Kenapa Manik Sukadana?

Ia kawan saya, satu kelompok di Teater Kalangan, Manik sering saya rusuhi dengan berbagai kegiatan impulsif yang sering saya kerjakan. Manik jarang marah, karena ia bersikap – kalau bisa, dia bilang bisa, kalau tidak bisa, dia jawab tidak bisa. Mungkin Manik sudah paham dengan kemendadakan setiap ide yang saya ingin ciptakan.

Biasanya ia saya minta untuk mengurus visual mapping, desain poster, serta sejumlah garapan yang menggunakan multimedia. Namun beberapa bulan belakangan, saya jarang mengontaknya mendadak, saya perhitungan waktu, agar ia tidak kelabakan. Manik suka panik kalau pekerjaan, banyak mengerubungi kepalanya. Ketika garapan bersama, ia terbiasa untuk menyambi pekerjaannya sebagai guru, kadang nelpon murid, kadang memarahi muridnya, kadang memeriksa nilai, dan lain sebagainya.

Kami semua tahu, Manik sedang mengerjakan proyek novel ambisiusnya. Tidak jarang saya dapati dia duduk menulis di pojokan, di ruang AC Warung Men Brayut.  Ditemani kopi  hitam  tanpa gula, para barista di sana sudah hafal pesanan Manik. Barista tidak akan menganggunya duduk di sana berlama, bahkan jika warung tutup, Manik senantiasa akan memantikan lampu, merapikan meja, membawa gelas kosong ke area dapur dan mematikan AC – ia orang terakhir di warung. Sampai detik ini, kawan barista tidak ada yang protes, soal ia yang selalu menjadi pelanggan terakhir.

Mungkin saja, ini asal-asalan saya saja ya. Dalam ketenangan dan kesunyian malam di warung Men Brayut, ia mampu menulis banyak hal. Sebab Manik berasal dari sebuah Desa di Kintamani – Manikliyu yang suasananya hampir sama dengan suasana malam di warung.

Di tambah lagi Manik tidak suka keramaian, ia selalu menjadi orang yang berhasil menemukan kesunyian diantara hiruk pikuk. Pernah ada satu kejadian saat Manik datang ke pementasan saya di Joyland Festival – Taman Bhagawan, Jimbaran. Semua orang yang datang bergoyang saat mendengar DJ memutar lagu di stage Ravepasar, Manik diam memperhatikan, ia tengah mengamati visual mapping yang sedang berlangsung. Sementara saat menonton White Shoes & The Couples Company, semua pengunjung bergembira riang, hanya Manik diam menatap panggung, entah apa yang ada dikepalanya.

“Lihat Manik teman-teman, dia diam, kepalanya entah di mana,” kata seorang aktor, kepada teman-teman lain, kemudian ditimpali dengan tawa.

Suasana diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Saya mulai berfikir, mungkin saja saat-saat seperti itulah, ia sedang berusaha merangkai fragmen-fragmen peristiwa novel yang kemudian ditautkan dalam realitas hari ini. Saya harus akui kawan saya ini memiliki satu ketulusan, keikhlasan serta daya tahan yang luar biasa untuk menyelesaikan novel perdananya KOTA KABUT WALLI JING KANG, yang tebalnya 200 halaman lebih.

Beberapa waktu lalu, saya menginisiasi satu acara bertajuk Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada, Jalan Gajah Mada No 41 – Denpasar. Acara tersebut mendiskusikan buku novel Manik Sukadana, bersama Desi Nurani (guru, penulis ) dan Putu Eka Guna Yasa (dosen, penulis, pemerhati lontar). Sependek pengetahuan saya Desi Nurani merupakan kawan Manik, dari SMA hingga kuliah, dan sekarang menjadi guru di sekolah yang sama. Sementara Bli Guna Yasa melihat Manik dari jauh, namun dekat dengan wacana dari novelnya. Ada dua orang yang cukup berbeda, menautkan Manik dalam satu diskusi.

Acara dimulai pukul 19.05 WITA dan selesai pukul 20.56 Wita, hampir dua jam berlangsung. Saya juga bertugas menjadi moderator yang tidak membiarkan jalannya diskusi lempem, tensi yang menurun, saya beralih menjadi tukang todong super cepat, kepada peserta yang datang, agar tensi diskusi tidak datar.

Religiositas Walli Jīng-Kāng

Dalam keriuhan suasana kendaraan di Jalan Gajah Mada dan sliweran obrolan kawan-kawan yang datang,  menjadi tantangan sendiri untuk menjaga diskusi agar tetap kondusif, ditambah lagi kawan-kawan barista yang sering bersliweran di depan narasumber untuk membawa gelas kotor ke dalam, atau membawa makanan ringan dari dalam ke luar . itu semua menjadi teks sendiri di kepala saya, seperti menonton pertunjukan tradisional di Bali. Yang tariannya ditujukan kepada dewa-dewi, sehingga laku sekitarnya tidak berusaha untuk diintervensi agar menyimak. Dalam konteks ini, narasumber adalah penari, peserta yang serius mendengarkan kita sejajarkan jiwanya dengan dewa. Ketolah kira-kira.

Guna Yasa yang terbiasa membaca lontar, prasasti dan temuan masa lalu memiliki kesadaran untuk menjadikan guru sebuah bacaannya, dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini pula ia sejajarkan dalam membaca Kota Kabut Walli Jing Kang. Ia mencari makna dalam peristiwa, percakapan, serta teks yang berusaha dihadirkan Manik. Dalam pemaparannya ia menemukan 3 poin kandungan utama yaitu Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.

“Dalam novel ini banyak saya temukan, petuah-petuah, nasehat, yang sama ketika saya membaca lontar, saya suka di sisi ini” kata Guna Yasa.

Para peserta diskusi Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Dalam pemaparannya lebih lanjut, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.

Pendekatan semacam ini merupakan hal yang menarik untuk dibahas, karena memiliki realitas yang tentu saja berbeda dari apa yang kita ketahui di masyarakat. Tautan kepenulisan hari ini dengan masa lalu merupakan ilmu pengetahuan karena pengarang melakukan sejumlah riset wacana, riset lapangan, dan sebagainya. Buku ini bisa menjadi rujukan dalam merekontruksi arsip menjadi karya sastra modern.

“Satu hal yang saya suka adalah kalimat – ….Perlu kau ingat bahwa sesuatu yang kita dapatkan dalam hidup adalah sesuatu yang dicari dan yang tidak dicari. Dan, sesuatu yang didapat itu adalah sesuatu yang terbaik, sangat dalam dan mengandung makna filosofi kehidupan, padahal usia Manik baru 20an” ujar Guna sambil tersenyum.

Selain itu Guna juga menjelaskan bagaimana Manik menghadirkan macan duwe untuk menyelamatkan kerajaan. Kehadiran Macan ini merupakan sebuah simbol untuk isu lingkungan yang tengah terjadi hari ini. Isu menjaga hutan, hewan yang dilindungi, dan hal hal lain yang menyangkut keseimbangan alam.

Di Bali kental dengan premis semacam ini, jika ada Ikan Julid yang kepalanya tumbuh rambut, pasti segera dikatakan itu adalah Ikan Julid Duwe, atau pohon besar yang diberi kain, itu pohon duwe. Begitulah strategi orang Bali sejak dulu untuk menjaga lingkungan agar tetap utuh, dibuatkan mitos yang mampu menguasai alam pikir manusia, sehingga mereka dapat menghormati bagaimana alam semesta bekerja.

Guna juga menyinggung bagaimana Manik mampu berperan menjadi siapa saja dalam tokoh-tokoh novelnya. Menjadi seorang raja, istri raja, niang, patih dan lain sebagainya. Namun sayang semua tokoh diberikan porsi untuk mengucapkan petuah, jadi samar siapa yang sebenarnya memiliki hati yang bijak. Mungkin porsi ini dapat dipertimbangkan kembali, jika menyusun buku selanjutnya.

Soal menjadi siapa saja itu, ditanggapi oleh Desi Nurani bahwa Manik adalah seseorang yang dari dulu sering melakukan praktek menjadi siapa saja. Sebab Manik susah sekali untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan, Desi merasa buku ini adalah hal yang tidak terduga karena diselesaikan oleh Manik. Dalam buku, Manik dengan bebas mengutarakan pendapatnya melalui tokoh-tokoh ciptaannya, baik hal yang terjadi dalam dirinya, ataupun yang terjadi diluar dirinya.

“Saya tidak heran Manik bisa jadi siapa saja di novelnya, karena dari dulu ia memang seperti itu,” ujar Desi

Dalam ingatan Desi, Manik adalah kawan yang selalu sendiri, menyendiri, bahkan ketika berangkat sekolah ia selalu sendiri tanpa ditemani seorang kawan. Padahal bisa saja ia berangkat ke sekolah dengan kawan-kawan yang tempat tinggalnya tidak berjauhan. Bahkan dalam pertemanan yang cukup lama dengan Manik, Desi merasa Manik mampu menyembunyikan keberadaannya. Baru ketika belajar bersama di Mahima dan bekerja di Denpasar, dengan jelas Desi tahu Manik sebenarnya apa dan siapa, namun tetap mengacu pada pengalaman bersama yang ia lalui dari dulu.

Manik Sukadana (pegang kamera), penulis novel Kota Kabut Walli Jing Kang

Hal ini juga saya rasakan sendiri, pernah Manik satu rumah bersama saya di Denpasar. Karena waktu itu Teater Kalangan belum memiliki rumah kontrakan. Keberadaan Manik sulit dideteksi, apakah dia ada di rumah, atau sedang keluar. Walaupun motornya ada, belum tentu Manik “di rumah”, kalau keluar ia tidak langsung menyatakan tujuannya, paling dia akan jawab “kel ade alih dik” katanya pelan.  Ia seperti tubuh ninja, yang mampu menghilangkan aura kehadirannya untuk mencapai target.

Kota Kabut Walli Jing Kang masih akan beredar seperti kabut yang menyusur kota-kota, buku dapat dibeli, silahkan berkunjung ke IGnya @maniksukadana . Malam tambah sepi di Jalan Gajah Mada, beberapa kawan duduk di trotoar, menenggak bir, lalu bercerita apapun. Manik tampak senang menyalami beberapa kawan yang hendak membeli bukunya.

“Kak Jong, Manik ternyata udah menyiapkan buku selanjutknya, ada 8 seri di kepalanya, nanti akan ngalahin Musashi kayaknya” ujar seorang kawan kepada saya. Selebihnya kami tertawa, kabut masih hinggap di kepala.

Satu puisi pendek untuk Manik:

Kabut-Kabut itu Sedang di Kamarmu

Rupanya selain suka menulis puisi
kawanku suka mengundang kabut ke kamarnya
kabut-kabut itu akan duduk di atas kasur,
membuat kopi, lalu bercerita panjang lebar
tentang perjalanannya menuju kota Denpasar.

Pohon pinus tidak tumbuh di sini
mereka terpaksa menyelinap di antara desak kendaraan
riuh-riuh pikiran atas waktu yang habis
dan jalan aspal yang tak pernah usai.

Kau rindu rumah, Nik?
mari pulang, kita sembunyi di belakang kulit kayu
kita saksikan bagaimana sang raja Dadap berperang
apakah darah seorang raja akan tumbuh jadi manusia?
atau pangeran? Atau tumbuh jadi puisi di kepala setiap orang?

Tags: Manik Sukadananovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Next Post

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co