3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 14, 2022
in Khas
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra (moderator, Desi Nurani dan Guna Yasa (pembicara) pada diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Barang kali ini merupakan tulisan yang sangat personal, tapi tak apa, ini demi sebuah catatan- arsip yang suatu saat nanti, mungkin saja berguna bagi saya sendiri atau untuk Manik Sukadana.

Kenapa Manik Sukadana?

Ia kawan saya, satu kelompok di Teater Kalangan, Manik sering saya rusuhi dengan berbagai kegiatan impulsif yang sering saya kerjakan. Manik jarang marah, karena ia bersikap – kalau bisa, dia bilang bisa, kalau tidak bisa, dia jawab tidak bisa. Mungkin Manik sudah paham dengan kemendadakan setiap ide yang saya ingin ciptakan.

Biasanya ia saya minta untuk mengurus visual mapping, desain poster, serta sejumlah garapan yang menggunakan multimedia. Namun beberapa bulan belakangan, saya jarang mengontaknya mendadak, saya perhitungan waktu, agar ia tidak kelabakan. Manik suka panik kalau pekerjaan, banyak mengerubungi kepalanya. Ketika garapan bersama, ia terbiasa untuk menyambi pekerjaannya sebagai guru, kadang nelpon murid, kadang memarahi muridnya, kadang memeriksa nilai, dan lain sebagainya.

Kami semua tahu, Manik sedang mengerjakan proyek novel ambisiusnya. Tidak jarang saya dapati dia duduk menulis di pojokan, di ruang AC Warung Men Brayut.  Ditemani kopi  hitam  tanpa gula, para barista di sana sudah hafal pesanan Manik. Barista tidak akan menganggunya duduk di sana berlama, bahkan jika warung tutup, Manik senantiasa akan memantikan lampu, merapikan meja, membawa gelas kosong ke area dapur dan mematikan AC – ia orang terakhir di warung. Sampai detik ini, kawan barista tidak ada yang protes, soal ia yang selalu menjadi pelanggan terakhir.

Mungkin saja, ini asal-asalan saya saja ya. Dalam ketenangan dan kesunyian malam di warung Men Brayut, ia mampu menulis banyak hal. Sebab Manik berasal dari sebuah Desa di Kintamani – Manikliyu yang suasananya hampir sama dengan suasana malam di warung.

Di tambah lagi Manik tidak suka keramaian, ia selalu menjadi orang yang berhasil menemukan kesunyian diantara hiruk pikuk. Pernah ada satu kejadian saat Manik datang ke pementasan saya di Joyland Festival – Taman Bhagawan, Jimbaran. Semua orang yang datang bergoyang saat mendengar DJ memutar lagu di stage Ravepasar, Manik diam memperhatikan, ia tengah mengamati visual mapping yang sedang berlangsung. Sementara saat menonton White Shoes & The Couples Company, semua pengunjung bergembira riang, hanya Manik diam menatap panggung, entah apa yang ada dikepalanya.

“Lihat Manik teman-teman, dia diam, kepalanya entah di mana,” kata seorang aktor, kepada teman-teman lain, kemudian ditimpali dengan tawa.

Suasana diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Saya mulai berfikir, mungkin saja saat-saat seperti itulah, ia sedang berusaha merangkai fragmen-fragmen peristiwa novel yang kemudian ditautkan dalam realitas hari ini. Saya harus akui kawan saya ini memiliki satu ketulusan, keikhlasan serta daya tahan yang luar biasa untuk menyelesaikan novel perdananya KOTA KABUT WALLI JING KANG, yang tebalnya 200 halaman lebih.

Beberapa waktu lalu, saya menginisiasi satu acara bertajuk Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada, Jalan Gajah Mada No 41 – Denpasar. Acara tersebut mendiskusikan buku novel Manik Sukadana, bersama Desi Nurani (guru, penulis ) dan Putu Eka Guna Yasa (dosen, penulis, pemerhati lontar). Sependek pengetahuan saya Desi Nurani merupakan kawan Manik, dari SMA hingga kuliah, dan sekarang menjadi guru di sekolah yang sama. Sementara Bli Guna Yasa melihat Manik dari jauh, namun dekat dengan wacana dari novelnya. Ada dua orang yang cukup berbeda, menautkan Manik dalam satu diskusi.

Acara dimulai pukul 19.05 WITA dan selesai pukul 20.56 Wita, hampir dua jam berlangsung. Saya juga bertugas menjadi moderator yang tidak membiarkan jalannya diskusi lempem, tensi yang menurun, saya beralih menjadi tukang todong super cepat, kepada peserta yang datang, agar tensi diskusi tidak datar.

Religiositas Walli Jīng-Kāng

Dalam keriuhan suasana kendaraan di Jalan Gajah Mada dan sliweran obrolan kawan-kawan yang datang,  menjadi tantangan sendiri untuk menjaga diskusi agar tetap kondusif, ditambah lagi kawan-kawan barista yang sering bersliweran di depan narasumber untuk membawa gelas kotor ke dalam, atau membawa makanan ringan dari dalam ke luar . itu semua menjadi teks sendiri di kepala saya, seperti menonton pertunjukan tradisional di Bali. Yang tariannya ditujukan kepada dewa-dewi, sehingga laku sekitarnya tidak berusaha untuk diintervensi agar menyimak. Dalam konteks ini, narasumber adalah penari, peserta yang serius mendengarkan kita sejajarkan jiwanya dengan dewa. Ketolah kira-kira.

Guna Yasa yang terbiasa membaca lontar, prasasti dan temuan masa lalu memiliki kesadaran untuk menjadikan guru sebuah bacaannya, dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini pula ia sejajarkan dalam membaca Kota Kabut Walli Jing Kang. Ia mencari makna dalam peristiwa, percakapan, serta teks yang berusaha dihadirkan Manik. Dalam pemaparannya ia menemukan 3 poin kandungan utama yaitu Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.

“Dalam novel ini banyak saya temukan, petuah-petuah, nasehat, yang sama ketika saya membaca lontar, saya suka di sisi ini” kata Guna Yasa.

Para peserta diskusi Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Dalam pemaparannya lebih lanjut, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.

Pendekatan semacam ini merupakan hal yang menarik untuk dibahas, karena memiliki realitas yang tentu saja berbeda dari apa yang kita ketahui di masyarakat. Tautan kepenulisan hari ini dengan masa lalu merupakan ilmu pengetahuan karena pengarang melakukan sejumlah riset wacana, riset lapangan, dan sebagainya. Buku ini bisa menjadi rujukan dalam merekontruksi arsip menjadi karya sastra modern.

“Satu hal yang saya suka adalah kalimat – ….Perlu kau ingat bahwa sesuatu yang kita dapatkan dalam hidup adalah sesuatu yang dicari dan yang tidak dicari. Dan, sesuatu yang didapat itu adalah sesuatu yang terbaik, sangat dalam dan mengandung makna filosofi kehidupan, padahal usia Manik baru 20an” ujar Guna sambil tersenyum.

Selain itu Guna juga menjelaskan bagaimana Manik menghadirkan macan duwe untuk menyelamatkan kerajaan. Kehadiran Macan ini merupakan sebuah simbol untuk isu lingkungan yang tengah terjadi hari ini. Isu menjaga hutan, hewan yang dilindungi, dan hal hal lain yang menyangkut keseimbangan alam.

Di Bali kental dengan premis semacam ini, jika ada Ikan Julid yang kepalanya tumbuh rambut, pasti segera dikatakan itu adalah Ikan Julid Duwe, atau pohon besar yang diberi kain, itu pohon duwe. Begitulah strategi orang Bali sejak dulu untuk menjaga lingkungan agar tetap utuh, dibuatkan mitos yang mampu menguasai alam pikir manusia, sehingga mereka dapat menghormati bagaimana alam semesta bekerja.

Guna juga menyinggung bagaimana Manik mampu berperan menjadi siapa saja dalam tokoh-tokoh novelnya. Menjadi seorang raja, istri raja, niang, patih dan lain sebagainya. Namun sayang semua tokoh diberikan porsi untuk mengucapkan petuah, jadi samar siapa yang sebenarnya memiliki hati yang bijak. Mungkin porsi ini dapat dipertimbangkan kembali, jika menyusun buku selanjutnya.

Soal menjadi siapa saja itu, ditanggapi oleh Desi Nurani bahwa Manik adalah seseorang yang dari dulu sering melakukan praktek menjadi siapa saja. Sebab Manik susah sekali untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan, Desi merasa buku ini adalah hal yang tidak terduga karena diselesaikan oleh Manik. Dalam buku, Manik dengan bebas mengutarakan pendapatnya melalui tokoh-tokoh ciptaannya, baik hal yang terjadi dalam dirinya, ataupun yang terjadi diluar dirinya.

“Saya tidak heran Manik bisa jadi siapa saja di novelnya, karena dari dulu ia memang seperti itu,” ujar Desi

Dalam ingatan Desi, Manik adalah kawan yang selalu sendiri, menyendiri, bahkan ketika berangkat sekolah ia selalu sendiri tanpa ditemani seorang kawan. Padahal bisa saja ia berangkat ke sekolah dengan kawan-kawan yang tempat tinggalnya tidak berjauhan. Bahkan dalam pertemanan yang cukup lama dengan Manik, Desi merasa Manik mampu menyembunyikan keberadaannya. Baru ketika belajar bersama di Mahima dan bekerja di Denpasar, dengan jelas Desi tahu Manik sebenarnya apa dan siapa, namun tetap mengacu pada pengalaman bersama yang ia lalui dari dulu.

Manik Sukadana (pegang kamera), penulis novel Kota Kabut Walli Jing Kang

Hal ini juga saya rasakan sendiri, pernah Manik satu rumah bersama saya di Denpasar. Karena waktu itu Teater Kalangan belum memiliki rumah kontrakan. Keberadaan Manik sulit dideteksi, apakah dia ada di rumah, atau sedang keluar. Walaupun motornya ada, belum tentu Manik “di rumah”, kalau keluar ia tidak langsung menyatakan tujuannya, paling dia akan jawab “kel ade alih dik” katanya pelan.  Ia seperti tubuh ninja, yang mampu menghilangkan aura kehadirannya untuk mencapai target.

Kota Kabut Walli Jing Kang masih akan beredar seperti kabut yang menyusur kota-kota, buku dapat dibeli, silahkan berkunjung ke IGnya @maniksukadana . Malam tambah sepi di Jalan Gajah Mada, beberapa kawan duduk di trotoar, menenggak bir, lalu bercerita apapun. Manik tampak senang menyalami beberapa kawan yang hendak membeli bukunya.

“Kak Jong, Manik ternyata udah menyiapkan buku selanjutknya, ada 8 seri di kepalanya, nanti akan ngalahin Musashi kayaknya” ujar seorang kawan kepada saya. Selebihnya kami tertawa, kabut masih hinggap di kepala.

Satu puisi pendek untuk Manik:

Kabut-Kabut itu Sedang di Kamarmu

Rupanya selain suka menulis puisi
kawanku suka mengundang kabut ke kamarnya
kabut-kabut itu akan duduk di atas kasur,
membuat kopi, lalu bercerita panjang lebar
tentang perjalanannya menuju kota Denpasar.

Pohon pinus tidak tumbuh di sini
mereka terpaksa menyelinap di antara desak kendaraan
riuh-riuh pikiran atas waktu yang habis
dan jalan aspal yang tak pernah usai.

Kau rindu rumah, Nik?
mari pulang, kita sembunyi di belakang kulit kayu
kita saksikan bagaimana sang raja Dadap berperang
apakah darah seorang raja akan tumbuh jadi manusia?
atau pangeran? Atau tumbuh jadi puisi di kepala setiap orang?

Tags: Manik Sukadananovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Next Post

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co