27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 14, 2022
in Khas
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”

Jong Santiasa Putra (moderator, Desi Nurani dan Guna Yasa (pembicara) pada diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Barang kali ini merupakan tulisan yang sangat personal, tapi tak apa, ini demi sebuah catatan- arsip yang suatu saat nanti, mungkin saja berguna bagi saya sendiri atau untuk Manik Sukadana.

Kenapa Manik Sukadana?

Ia kawan saya, satu kelompok di Teater Kalangan, Manik sering saya rusuhi dengan berbagai kegiatan impulsif yang sering saya kerjakan. Manik jarang marah, karena ia bersikap – kalau bisa, dia bilang bisa, kalau tidak bisa, dia jawab tidak bisa. Mungkin Manik sudah paham dengan kemendadakan setiap ide yang saya ingin ciptakan.

Biasanya ia saya minta untuk mengurus visual mapping, desain poster, serta sejumlah garapan yang menggunakan multimedia. Namun beberapa bulan belakangan, saya jarang mengontaknya mendadak, saya perhitungan waktu, agar ia tidak kelabakan. Manik suka panik kalau pekerjaan, banyak mengerubungi kepalanya. Ketika garapan bersama, ia terbiasa untuk menyambi pekerjaannya sebagai guru, kadang nelpon murid, kadang memarahi muridnya, kadang memeriksa nilai, dan lain sebagainya.

Kami semua tahu, Manik sedang mengerjakan proyek novel ambisiusnya. Tidak jarang saya dapati dia duduk menulis di pojokan, di ruang AC Warung Men Brayut.  Ditemani kopi  hitam  tanpa gula, para barista di sana sudah hafal pesanan Manik. Barista tidak akan menganggunya duduk di sana berlama, bahkan jika warung tutup, Manik senantiasa akan memantikan lampu, merapikan meja, membawa gelas kosong ke area dapur dan mematikan AC – ia orang terakhir di warung. Sampai detik ini, kawan barista tidak ada yang protes, soal ia yang selalu menjadi pelanggan terakhir.

Mungkin saja, ini asal-asalan saya saja ya. Dalam ketenangan dan kesunyian malam di warung Men Brayut, ia mampu menulis banyak hal. Sebab Manik berasal dari sebuah Desa di Kintamani – Manikliyu yang suasananya hampir sama dengan suasana malam di warung.

Di tambah lagi Manik tidak suka keramaian, ia selalu menjadi orang yang berhasil menemukan kesunyian diantara hiruk pikuk. Pernah ada satu kejadian saat Manik datang ke pementasan saya di Joyland Festival – Taman Bhagawan, Jimbaran. Semua orang yang datang bergoyang saat mendengar DJ memutar lagu di stage Ravepasar, Manik diam memperhatikan, ia tengah mengamati visual mapping yang sedang berlangsung. Sementara saat menonton White Shoes & The Couples Company, semua pengunjung bergembira riang, hanya Manik diam menatap panggung, entah apa yang ada dikepalanya.

“Lihat Manik teman-teman, dia diam, kepalanya entah di mana,” kata seorang aktor, kepada teman-teman lain, kemudian ditimpali dengan tawa.

Suasana diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Saya mulai berfikir, mungkin saja saat-saat seperti itulah, ia sedang berusaha merangkai fragmen-fragmen peristiwa novel yang kemudian ditautkan dalam realitas hari ini. Saya harus akui kawan saya ini memiliki satu ketulusan, keikhlasan serta daya tahan yang luar biasa untuk menyelesaikan novel perdananya KOTA KABUT WALLI JING KANG, yang tebalnya 200 halaman lebih.

Beberapa waktu lalu, saya menginisiasi satu acara bertajuk Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada, Jalan Gajah Mada No 41 – Denpasar. Acara tersebut mendiskusikan buku novel Manik Sukadana, bersama Desi Nurani (guru, penulis ) dan Putu Eka Guna Yasa (dosen, penulis, pemerhati lontar). Sependek pengetahuan saya Desi Nurani merupakan kawan Manik, dari SMA hingga kuliah, dan sekarang menjadi guru di sekolah yang sama. Sementara Bli Guna Yasa melihat Manik dari jauh, namun dekat dengan wacana dari novelnya. Ada dua orang yang cukup berbeda, menautkan Manik dalam satu diskusi.

Acara dimulai pukul 19.05 WITA dan selesai pukul 20.56 Wita, hampir dua jam berlangsung. Saya juga bertugas menjadi moderator yang tidak membiarkan jalannya diskusi lempem, tensi yang menurun, saya beralih menjadi tukang todong super cepat, kepada peserta yang datang, agar tensi diskusi tidak datar.

Religiositas Walli Jīng-Kāng

Dalam keriuhan suasana kendaraan di Jalan Gajah Mada dan sliweran obrolan kawan-kawan yang datang,  menjadi tantangan sendiri untuk menjaga diskusi agar tetap kondusif, ditambah lagi kawan-kawan barista yang sering bersliweran di depan narasumber untuk membawa gelas kotor ke dalam, atau membawa makanan ringan dari dalam ke luar . itu semua menjadi teks sendiri di kepala saya, seperti menonton pertunjukan tradisional di Bali. Yang tariannya ditujukan kepada dewa-dewi, sehingga laku sekitarnya tidak berusaha untuk diintervensi agar menyimak. Dalam konteks ini, narasumber adalah penari, peserta yang serius mendengarkan kita sejajarkan jiwanya dengan dewa. Ketolah kira-kira.

Guna Yasa yang terbiasa membaca lontar, prasasti dan temuan masa lalu memiliki kesadaran untuk menjadikan guru sebuah bacaannya, dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini pula ia sejajarkan dalam membaca Kota Kabut Walli Jing Kang. Ia mencari makna dalam peristiwa, percakapan, serta teks yang berusaha dihadirkan Manik. Dalam pemaparannya ia menemukan 3 poin kandungan utama yaitu Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.

“Dalam novel ini banyak saya temukan, petuah-petuah, nasehat, yang sama ketika saya membaca lontar, saya suka di sisi ini” kata Guna Yasa.

Para peserta diskusi Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar

Dalam pemaparannya lebih lanjut, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.

Pendekatan semacam ini merupakan hal yang menarik untuk dibahas, karena memiliki realitas yang tentu saja berbeda dari apa yang kita ketahui di masyarakat. Tautan kepenulisan hari ini dengan masa lalu merupakan ilmu pengetahuan karena pengarang melakukan sejumlah riset wacana, riset lapangan, dan sebagainya. Buku ini bisa menjadi rujukan dalam merekontruksi arsip menjadi karya sastra modern.

“Satu hal yang saya suka adalah kalimat – ….Perlu kau ingat bahwa sesuatu yang kita dapatkan dalam hidup adalah sesuatu yang dicari dan yang tidak dicari. Dan, sesuatu yang didapat itu adalah sesuatu yang terbaik, sangat dalam dan mengandung makna filosofi kehidupan, padahal usia Manik baru 20an” ujar Guna sambil tersenyum.

Selain itu Guna juga menjelaskan bagaimana Manik menghadirkan macan duwe untuk menyelamatkan kerajaan. Kehadiran Macan ini merupakan sebuah simbol untuk isu lingkungan yang tengah terjadi hari ini. Isu menjaga hutan, hewan yang dilindungi, dan hal hal lain yang menyangkut keseimbangan alam.

Di Bali kental dengan premis semacam ini, jika ada Ikan Julid yang kepalanya tumbuh rambut, pasti segera dikatakan itu adalah Ikan Julid Duwe, atau pohon besar yang diberi kain, itu pohon duwe. Begitulah strategi orang Bali sejak dulu untuk menjaga lingkungan agar tetap utuh, dibuatkan mitos yang mampu menguasai alam pikir manusia, sehingga mereka dapat menghormati bagaimana alam semesta bekerja.

Guna juga menyinggung bagaimana Manik mampu berperan menjadi siapa saja dalam tokoh-tokoh novelnya. Menjadi seorang raja, istri raja, niang, patih dan lain sebagainya. Namun sayang semua tokoh diberikan porsi untuk mengucapkan petuah, jadi samar siapa yang sebenarnya memiliki hati yang bijak. Mungkin porsi ini dapat dipertimbangkan kembali, jika menyusun buku selanjutnya.

Soal menjadi siapa saja itu, ditanggapi oleh Desi Nurani bahwa Manik adalah seseorang yang dari dulu sering melakukan praktek menjadi siapa saja. Sebab Manik susah sekali untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan, Desi merasa buku ini adalah hal yang tidak terduga karena diselesaikan oleh Manik. Dalam buku, Manik dengan bebas mengutarakan pendapatnya melalui tokoh-tokoh ciptaannya, baik hal yang terjadi dalam dirinya, ataupun yang terjadi diluar dirinya.

“Saya tidak heran Manik bisa jadi siapa saja di novelnya, karena dari dulu ia memang seperti itu,” ujar Desi

Dalam ingatan Desi, Manik adalah kawan yang selalu sendiri, menyendiri, bahkan ketika berangkat sekolah ia selalu sendiri tanpa ditemani seorang kawan. Padahal bisa saja ia berangkat ke sekolah dengan kawan-kawan yang tempat tinggalnya tidak berjauhan. Bahkan dalam pertemanan yang cukup lama dengan Manik, Desi merasa Manik mampu menyembunyikan keberadaannya. Baru ketika belajar bersama di Mahima dan bekerja di Denpasar, dengan jelas Desi tahu Manik sebenarnya apa dan siapa, namun tetap mengacu pada pengalaman bersama yang ia lalui dari dulu.

Manik Sukadana (pegang kamera), penulis novel Kota Kabut Walli Jing Kang

Hal ini juga saya rasakan sendiri, pernah Manik satu rumah bersama saya di Denpasar. Karena waktu itu Teater Kalangan belum memiliki rumah kontrakan. Keberadaan Manik sulit dideteksi, apakah dia ada di rumah, atau sedang keluar. Walaupun motornya ada, belum tentu Manik “di rumah”, kalau keluar ia tidak langsung menyatakan tujuannya, paling dia akan jawab “kel ade alih dik” katanya pelan.  Ia seperti tubuh ninja, yang mampu menghilangkan aura kehadirannya untuk mencapai target.

Kota Kabut Walli Jing Kang masih akan beredar seperti kabut yang menyusur kota-kota, buku dapat dibeli, silahkan berkunjung ke IGnya @maniksukadana . Malam tambah sepi di Jalan Gajah Mada, beberapa kawan duduk di trotoar, menenggak bir, lalu bercerita apapun. Manik tampak senang menyalami beberapa kawan yang hendak membeli bukunya.

“Kak Jong, Manik ternyata udah menyiapkan buku selanjutknya, ada 8 seri di kepalanya, nanti akan ngalahin Musashi kayaknya” ujar seorang kawan kepada saya. Selebihnya kami tertawa, kabut masih hinggap di kepala.

Satu puisi pendek untuk Manik:

Kabut-Kabut itu Sedang di Kamarmu

Rupanya selain suka menulis puisi
kawanku suka mengundang kabut ke kamarnya
kabut-kabut itu akan duduk di atas kasur,
membuat kopi, lalu bercerita panjang lebar
tentang perjalanannya menuju kota Denpasar.

Pohon pinus tidak tumbuh di sini
mereka terpaksa menyelinap di antara desak kendaraan
riuh-riuh pikiran atas waktu yang habis
dan jalan aspal yang tak pernah usai.

Kau rindu rumah, Nik?
mari pulang, kita sembunyi di belakang kulit kayu
kita saksikan bagaimana sang raja Dadap berperang
apakah darah seorang raja akan tumbuh jadi manusia?
atau pangeran? Atau tumbuh jadi puisi di kepala setiap orang?

Tags: Manik Sukadananovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Next Post

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co