2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Religiositas Walli Jīng-Kāng

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
May 3, 2022
in Ulasan
Religiositas Walli Jīng-Kāng

Novel Kota Kabut Walli Jing-Kang

Bisa jadi ini menjadi apa yang kita lihat dan apa yang kita simpulkan dari apa yang kita lihat itu. Kita, dalam konteks ini adalah saya dan pembaca lain ketika dihadapkan pada novel Kota Kabut Walli Jing-Kang karya Manik Sukadana. Mula-mula, kepala saya penuh kabut. Ingatan saya dilempar jauh pada cerita animasi Disney, Mulan dan serial Samurai X. Mengingat referensi tentang cerita perang yang terbatas. Meski mengisahkan tokoh dengan latar Tiongkok, novel bercover putih ini sesungguhnya bersetting Bali.

Jangan berharap novel ini menawarkan eksotisme serupa kisah-kisah Sastra Melayu Tionghoa (SMT). SMT lebih banyak bertema kontradiksi sosial masyarakat jajahan. Sebab cerita perang yang lebih ditonjolkan dan banyak menyajikan darah mengucur dan bau anyir kematian.

Kemudian pelan-pelan saya menyibak kisah yang dibagi menjadi tiga bagian ini. Seakan menyibak kabut, jarak pandang menjadi samar. Pada Kota Kabut ini, saya mendapati pembacaan atas literatur sejarah, kitab-kitab usada, namun lebih banyak yang seperti dirahasiakan. Sebetulnya ramuan gagasan-gagasan ini menarik dan menyediakan hamparan pemaknaan yang subtil dan visioner.

Mendedah Harapan dalam “Sublimasi Rasa” | Tentang Novel Karya Teddy C Putra

Kata kabut menjadi pintu masuk pertama yang harus saya ketuk ketika membaca novel Kota Kabut Walli Jing-Kang. Maka saya mengetuknya dengan dua definisi kabut dari KBBI; 1. a kelam; suram; tidak nyata, dan 2. n awan lembap yang melayang di dekat permukaan tanah. Begitulah kurang lebih visualisasi Walli Jing-Kang di kepala saya.

Pada definisi pertama, tampaknya menjadi sebuah strategi penceritaan. Latar perang melahirkan kabut yang menghalangi pandangan mata. Begitulah tokoh Maharaja Muda tak punya banyak pilihan saat menentukan perang, menyelamatkan rakyat daripada mengorbankannya. Kabut tebal menjadi payung antara hidup dan mati. Kabut memberi citraan dinginnya situasi perang.

Bahkan, perang hanyalah sebuah pilihan. “…. Seperti yang kau katakan dulu bahwa perang hanyalah perputaran dendam; karma-karma buruk tiap orang akan saling menindih. … Kau tahu, perang tidak akan menyelesaikan masalah apa-apa….” (hlm. 12). Pada adegan Ki Cawan mengingat kejadian lampau dengan sahabatnya, Maharaja. Bukankah hidup adalah peperangan?

Sedangkan definisi kedua adalah fenomena alam yang dapat menimbulkan berbagai perspektif, romantis hingga mistis. Keduanya, saya dapatkan pada novel ini. Suasana romantis hadir saat Kabut semakin tebal…. Dapdap mengambil mantel bulu dari dekat meja menempelkan ke punggung kekasihnya (hlm. 12). Suasana mistis hadir pada adegan upacara paluasan (hlm. 189) , kabut pelan-pelan hadir, selanjutnya pendeta kesurupan. Kabut, tetaplah kabut. Ketika membacanya, ada visualisasi kabut Kintamani, kabut Bedugul, atau kabut di halaman rumah mertua di Petang.

Pintu berikutnya, saya harus menyibak kabut atas ingatan, kekecewaan, atau mungkin patah hati dari penulisnya, Manik Sukadana. Kabut itu menempatkan diri antara narasi sejarah dan usaha penulis membumbui tradisi. Hal-hal unik yang menarik bagi saya adalah menonjolnya religiositas dan kearifan lokal usada pada novel.

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Religiositas tentu bukan hal baru yang dibicarakan sastrawan Bali dalam karya-karya mereka. Tetapi Manik menemukan cara berbeda dalam pengungkapannya. Ia mendebat konvensi masyarakat, seperti misal mempersoalkan kesucian pada perempuan atau hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan. Atau sebetulnya Manik mencoba mendefinisikan kembali identitas dan eksistensi masyarakat melalui novel ini?

Subijantoro Atmosuwito (2010) menyebutkan bahwa buku agama adalah sastra, dan sastra merupakan bagian dari agama. Ketika Maharaja Muda bermimpi bertemu dengan seorang pendeta, ada ajaran Hindu pada kalimat “Tidak ada yang benar-benar putus di dunia ini. Kelahiran, kebaikan, kesenangan, kesedihan, atau ketiadaan akan terus berputar dan saling menindih”. (hlm. 53)

Tidak memilih salah satu pemujaan menjadi pergunjingan bagi Sasih. Bahkan, sebetulnya pernikahannya dengan Maharaja Muda menjadi salah satu sebab perang. Hal-hal semacam ini masih akan terjadi jika tidak dilakukan penghayatan hingga ke sanubari terhadap sebuah nilai.

“Pemujaan? Aku tidak memilih salah satu pemujaan. Aku mengikuti cara-cara lama.” kata Sasih kepada Mémé Darga (hlm. 163)

Tuhan milik pribadi, tulis Ngurah Suryawan pada esainya Dari (Praktik) Upacara Menuju (Nilai) Teologis dan Diakhiri Penghayatan Diri (2020). Pencariannya dilakukan lewat penghayatan pribadi, seperti yang dilakukan Sasih.

Religius dalam pembahasan ini saya kembalikan pada akar kata religion yang diartikan sebagai religi, bukan agama. Dalam konteks ini, makna kata religi yang saya gunakan adalah ikatan atau pengikatan diri. Jadi pengertian ini lebih pada personalitas, hal yang lebih pribadi.

Sebagai teks yang hadir dari masa lalu, yang cukup jauh konteks dan waktu terbitnya dengan pembaca kini, pembaca tetap bisa menarik relevansinya hari ini. Seperti persoalan gering pada teks, diselesaikan dengan usada.

Biar Kumiliki Segala Kenangan Itu, Bapak | Membincangkan Buku Puisi “Prihentemen”

Tokoh Sasih menjadi titik tolaknya. Niángniáng ini selalu mempertanyakan hal-hal yang begitu mengundang risiko. Ia juga memiliki cara pandang tersendiri terkait keyakinan. Bahwa, simbol itu ada karena ingatan yang ingin kita tanam di pikiran kita (hlm. 164).

Ketika pembicaraan empat mata bersama Mémé Darga berikutnya, menjadi titik didih dari seluruh letupan yang hadir pada obrolan kedua tokoh. “…. Seperti darah, adalah sesuatu yang kotor ketika kita meneteskan darah di tempat pemujaan. Namun di sisi yang lain, darah adalah bagian terpenting tubuh kita. Jadi, apakah tubuhmu; tubuh kita bersifat suci?” (hlm. 183)

Tokoh pendeta yang muncul saat adegan upacara paluasang memunculkan dimensi lain dari religius. Pendeta itu telah dirasuki roh-roh. Kata-kata dengan bahasa kuno dilantunkan seperti tembang. Begitu indah juga sedih pada saat yang bersamaan. (hlm. 188) Ketika upacara suci dilakukan memang kerap mempertontonkan dialog, nyanyian, bahkan tangis dan laku gerak semacam tarian sebagai perwujudan “keberadaan” bhatara bhatari.

Praktik ritual, adegan-adegan upacara pada novel Kota Kabut, membawa pembaca meyakinkan hal-hal samar dan abstrak. Begitulah kabut-kabut bertebaran pada novel ini perlu disingkap pembaca agar tidak mengganggu pandangan.

Ketika tradisi lisan menjadi sangat kuat dalam menyampaikan pesan-pesan didaktis. Kala itu, penyair atau pengarangnya memanfaatkannya sebagai alat edukasi atas nilai-nilai tertentu. Pada novel ini, Manik pun melakukan hal serupa menggambarkan nilai-nilai tertentu yang dipegangnya untuk dimaknai pembaca.[T]

Tags: Literasinovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Next Post

Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co