24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Religiositas Walli Jīng-Kāng

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
May 3, 2022
in Ulasan
Religiositas Walli Jīng-Kāng

Novel Kota Kabut Walli Jing-Kang

Bisa jadi ini menjadi apa yang kita lihat dan apa yang kita simpulkan dari apa yang kita lihat itu. Kita, dalam konteks ini adalah saya dan pembaca lain ketika dihadapkan pada novel Kota Kabut Walli Jing-Kang karya Manik Sukadana. Mula-mula, kepala saya penuh kabut. Ingatan saya dilempar jauh pada cerita animasi Disney, Mulan dan serial Samurai X. Mengingat referensi tentang cerita perang yang terbatas. Meski mengisahkan tokoh dengan latar Tiongkok, novel bercover putih ini sesungguhnya bersetting Bali.

Jangan berharap novel ini menawarkan eksotisme serupa kisah-kisah Sastra Melayu Tionghoa (SMT). SMT lebih banyak bertema kontradiksi sosial masyarakat jajahan. Sebab cerita perang yang lebih ditonjolkan dan banyak menyajikan darah mengucur dan bau anyir kematian.

Kemudian pelan-pelan saya menyibak kisah yang dibagi menjadi tiga bagian ini. Seakan menyibak kabut, jarak pandang menjadi samar. Pada Kota Kabut ini, saya mendapati pembacaan atas literatur sejarah, kitab-kitab usada, namun lebih banyak yang seperti dirahasiakan. Sebetulnya ramuan gagasan-gagasan ini menarik dan menyediakan hamparan pemaknaan yang subtil dan visioner.

Mendedah Harapan dalam “Sublimasi Rasa” | Tentang Novel Karya Teddy C Putra

Kata kabut menjadi pintu masuk pertama yang harus saya ketuk ketika membaca novel Kota Kabut Walli Jing-Kang. Maka saya mengetuknya dengan dua definisi kabut dari KBBI; 1. a kelam; suram; tidak nyata, dan 2. n awan lembap yang melayang di dekat permukaan tanah. Begitulah kurang lebih visualisasi Walli Jing-Kang di kepala saya.

Pada definisi pertama, tampaknya menjadi sebuah strategi penceritaan. Latar perang melahirkan kabut yang menghalangi pandangan mata. Begitulah tokoh Maharaja Muda tak punya banyak pilihan saat menentukan perang, menyelamatkan rakyat daripada mengorbankannya. Kabut tebal menjadi payung antara hidup dan mati. Kabut memberi citraan dinginnya situasi perang.

Bahkan, perang hanyalah sebuah pilihan. “…. Seperti yang kau katakan dulu bahwa perang hanyalah perputaran dendam; karma-karma buruk tiap orang akan saling menindih. … Kau tahu, perang tidak akan menyelesaikan masalah apa-apa….” (hlm. 12). Pada adegan Ki Cawan mengingat kejadian lampau dengan sahabatnya, Maharaja. Bukankah hidup adalah peperangan?

Sedangkan definisi kedua adalah fenomena alam yang dapat menimbulkan berbagai perspektif, romantis hingga mistis. Keduanya, saya dapatkan pada novel ini. Suasana romantis hadir saat Kabut semakin tebal…. Dapdap mengambil mantel bulu dari dekat meja menempelkan ke punggung kekasihnya (hlm. 12). Suasana mistis hadir pada adegan upacara paluasan (hlm. 189) , kabut pelan-pelan hadir, selanjutnya pendeta kesurupan. Kabut, tetaplah kabut. Ketika membacanya, ada visualisasi kabut Kintamani, kabut Bedugul, atau kabut di halaman rumah mertua di Petang.

Pintu berikutnya, saya harus menyibak kabut atas ingatan, kekecewaan, atau mungkin patah hati dari penulisnya, Manik Sukadana. Kabut itu menempatkan diri antara narasi sejarah dan usaha penulis membumbui tradisi. Hal-hal unik yang menarik bagi saya adalah menonjolnya religiositas dan kearifan lokal usada pada novel.

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Religiositas tentu bukan hal baru yang dibicarakan sastrawan Bali dalam karya-karya mereka. Tetapi Manik menemukan cara berbeda dalam pengungkapannya. Ia mendebat konvensi masyarakat, seperti misal mempersoalkan kesucian pada perempuan atau hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan. Atau sebetulnya Manik mencoba mendefinisikan kembali identitas dan eksistensi masyarakat melalui novel ini?

Subijantoro Atmosuwito (2010) menyebutkan bahwa buku agama adalah sastra, dan sastra merupakan bagian dari agama. Ketika Maharaja Muda bermimpi bertemu dengan seorang pendeta, ada ajaran Hindu pada kalimat “Tidak ada yang benar-benar putus di dunia ini. Kelahiran, kebaikan, kesenangan, kesedihan, atau ketiadaan akan terus berputar dan saling menindih”. (hlm. 53)

Tidak memilih salah satu pemujaan menjadi pergunjingan bagi Sasih. Bahkan, sebetulnya pernikahannya dengan Maharaja Muda menjadi salah satu sebab perang. Hal-hal semacam ini masih akan terjadi jika tidak dilakukan penghayatan hingga ke sanubari terhadap sebuah nilai.

“Pemujaan? Aku tidak memilih salah satu pemujaan. Aku mengikuti cara-cara lama.” kata Sasih kepada Mémé Darga (hlm. 163)

Tuhan milik pribadi, tulis Ngurah Suryawan pada esainya Dari (Praktik) Upacara Menuju (Nilai) Teologis dan Diakhiri Penghayatan Diri (2020). Pencariannya dilakukan lewat penghayatan pribadi, seperti yang dilakukan Sasih.

Religius dalam pembahasan ini saya kembalikan pada akar kata religion yang diartikan sebagai religi, bukan agama. Dalam konteks ini, makna kata religi yang saya gunakan adalah ikatan atau pengikatan diri. Jadi pengertian ini lebih pada personalitas, hal yang lebih pribadi.

Sebagai teks yang hadir dari masa lalu, yang cukup jauh konteks dan waktu terbitnya dengan pembaca kini, pembaca tetap bisa menarik relevansinya hari ini. Seperti persoalan gering pada teks, diselesaikan dengan usada.

Biar Kumiliki Segala Kenangan Itu, Bapak | Membincangkan Buku Puisi “Prihentemen”

Tokoh Sasih menjadi titik tolaknya. Niángniáng ini selalu mempertanyakan hal-hal yang begitu mengundang risiko. Ia juga memiliki cara pandang tersendiri terkait keyakinan. Bahwa, simbol itu ada karena ingatan yang ingin kita tanam di pikiran kita (hlm. 164).

Ketika pembicaraan empat mata bersama Mémé Darga berikutnya, menjadi titik didih dari seluruh letupan yang hadir pada obrolan kedua tokoh. “…. Seperti darah, adalah sesuatu yang kotor ketika kita meneteskan darah di tempat pemujaan. Namun di sisi yang lain, darah adalah bagian terpenting tubuh kita. Jadi, apakah tubuhmu; tubuh kita bersifat suci?” (hlm. 183)

Tokoh pendeta yang muncul saat adegan upacara paluasang memunculkan dimensi lain dari religius. Pendeta itu telah dirasuki roh-roh. Kata-kata dengan bahasa kuno dilantunkan seperti tembang. Begitu indah juga sedih pada saat yang bersamaan. (hlm. 188) Ketika upacara suci dilakukan memang kerap mempertontonkan dialog, nyanyian, bahkan tangis dan laku gerak semacam tarian sebagai perwujudan “keberadaan” bhatara bhatari.

Praktik ritual, adegan-adegan upacara pada novel Kota Kabut, membawa pembaca meyakinkan hal-hal samar dan abstrak. Begitulah kabut-kabut bertebaran pada novel ini perlu disingkap pembaca agar tidak mengganggu pandangan.

Ketika tradisi lisan menjadi sangat kuat dalam menyampaikan pesan-pesan didaktis. Kala itu, penyair atau pengarangnya memanfaatkannya sebagai alat edukasi atas nilai-nilai tertentu. Pada novel ini, Manik pun melakukan hal serupa menggambarkan nilai-nilai tertentu yang dipegangnya untuk dimaknai pembaca.[T]

Tags: Literasinovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Next Post

Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Kiat Guru dalam Mengatasi Siswa Malas Membaca

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co