2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Nanda Insadani by Nanda Insadani
March 3, 2023
in Ulas Film
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Film "Kembang Api" | Foto: IG @ falconpictures

BUNUH DIRI DIYAKINI sebagai perbuatan yang tercela. Sebuah upaya untuk mengakhiri hidup dan berpikir mati adalah solusi lantaran masalah yang dihadapi sudah sangat di luar kendali.

Apakah orang yang mau bunuh diri perlu diselamatkan? Yang jelas, kita tidak bisa menghujat orang-orang yang mau bunuh diri, apalagi sampai menghakimi mereka bahwa mereka sudah tersesat dan imannya kurang. Bisa jadi kita yang kurang iman dan kurang ilmu sampai-sampai kurangnya rasa empati dan kebijaksanaan dalam diri.

Persoalan bunuh diri berarti kita berbicara soal depresi. Ini adalah isu yang lekat dengan masyarakat kita. Depresi cenderung disepelekan, penyakit mental dianggap tak lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik.

Saat kita membuka obrolan dengan apa kabar, kita menjawab pertanyaan itu dengan kondisi fisik kita, bukan kondisi mental. Karena tidak demam, tidak pilek, dianggap sehat. Kita tidak mencoba melihat ke dalam: apakah aku bahagia? Kalau tidak bahagia, apa penyebabnya?

***

Saya juga bertanya-tanya, apa penyebabnya film Kembang Api ini sepi peminat? Saya tidak tahu di kota lain, tapi di tempat saya, sepertinya Kembang Api tak mampu memikat banyak penonton.

Saya hanya bersama empat orang saja di dalam studio waktu menonton Kembang Api. Padahal tanpa bermaksud melebih-lebihkan, film ini punya “sajian lezat” di tengah perfilman Indonesia yang belakangan cenderung temanya “itu-itu saja”.

Meski Kembang Api merupakan adaptasi dari film Jepang yang berjudul 3 Ft Ball and Souls yang rilis 2017 lalu, bukan berarti menandakan bahwa tak ada kreativitas di sana. Justru sebaliknya, alih-alih mengadaptasi film yang sekadar menghibur, mereka memilih film yang “berisi” dan secara kreatif menyesuaikan situasi kita saat ini sebagai warga Indonesia: banyak yang depresi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ternyata lebih dari sembilan belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari dua belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami depresi.

Seperti yang kita tahu, orang yang depresi cenderung melakukan hal-hal yang ingin menyakiti diri dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Apakah benar bunuh diri itu gampang dan solusi terbaik di saat kita punya banyak masalah?

***

Barangsiapa yang bunuh diri, maka ia akan masuk neraka. Bagi umat beragama pasti meyakini hal demikian. Atau jangan-jangan, banyak yang tidak jadi bunuh diri hanya karena takut neraka?

Waktu menonton film Kembang Api, saya tersenyum kecil. “Yap, that’s absolutely hell,” saya membatin. Empat manusia berkumpul di sebuah gudang untuk bunuh diri berjamaah. Mereka adalah orang asing yang dipersatukan dengan niat yang sama.

Mereka percaya bahwa kematian mereka itu adalah jalan terbaik, bahkan ada yang percaya bahwa kematian mereka akan menguntungkan bagi orang yang disayanginya. Mereka tak pernah menduga bahwa proses bunuh diri mereka akan menjadi siksa, dan gudang itu menjadi neraka bagi mereka.

Kita mengira bahwa neraka itu begitu jauh untuk saat ini. Ia ada di atas sana atau di bawah sana. Kita hanya akan bisa pergi ke sana setelah hari kiamat. Untuk saat ini tidak mungkin kita bisa merasakannya, begitulah keyakinan kebanyakan orang. Neraka itu jauh, tidak mungkin lidah-lidah apinya dapat menyentuh kita selama kita masih ada di bumi.

Sama seperti Tuhan, Dia tidak jauh, Dia begitu dekat dan saking dekatnya kita sampai tak mampu melihat-Nya dan malah mengabaikan-Nya. Neraka dan surga sama: mereka dekat, dan kita tak menyadarinya.

Banyak para ilmuwan yang percaya bahwa neraka dan surga adalah kondisi pikiran (state of mind). Artinya, kita bisa merasakan apa itu neraka tanpa harus mati terlebih dahulu. Bahkan seorang tokoh eksistensialis terkenal seperti Jean-Paul Sartre pernah berujar bahwa “neraka adalah orang lain.”

Anggapan orang lain dapat menjadi neraka bagi kita tentu bukan isapan jempol belaka. Mereka yang merasa depresi bisa jadi karena punya masalah dengan orang lain. Mereka yang berniat bunuh diri bisa jadi takut dengan orang tertentu. Itulah kenapa William Shakespeare pernah mengatakan, “neraka kosong dan semua iblis ada di sini.”

Bumi yang indah ini dapat menjadi neraka bagi kita. Apalagi bagi orang-orang yang tak mampu berpikir jernih dan merasa bahwa tak ada kebaikan atau sesuatu yang layak diperjuangkan di hidup ini; apalagi bagi mereka yang tak mampu mengendalikan dan menaklukkan ego dan nafsu mereka.

Abu Hamid Al-Ghazali, seorang teolog dan filsuf muslim pernah berkata “yang paling besar di bumi ini bukanlah gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.”

Keempat manusia yang mau bunuh diri di film Kembang Api yakin dengan mati mereka akan terlepas dari siksa beban dan rasa sakit yang mereka rasakan semasa hidup. Dengan bunuh diri, mereka percaya mereka akan berada di situasi yang hening dan tak merasakan apa pun lagi. Sayangnya tidak. “Mau mati aja kok ribet banget sih!” ujar salah satu dari mereka.

Sama seperti balas dendam. Kita berpikir menuntaskan dendam adalah cara jitu menghancurkan belenggu depresi. Padahal tidak. Kita hanya menambah belenggu baru dengan mendendam. Begitu pula bunuh diri. Mereka berempat malah merasakan “neraka” lantaran ingin bunuh diri. Mereka tak bisa menjemput ketenangan dan kedamaian.

***

Urip iku urup, sebagaimana tertulis di bola kembang api yang akan mereka nyalakan untuk mengakhiri hidup bersama. Hidup itu harus menyala, begitu artinya; menjadi cahaya dan memberi manfaat. Ini tak hanya pesan untuk orang yang depresi dan mau bunuh diri, tapi juga menjadi reminder untuk kita yang masih sehat dan waras.

Jika kita menemukan orang yang depresi dan ingin bunuh diri, mari berupaya untuk menjadi cahaya bagi mereka yang terperangkap dalam kegelapan. Hidup ini memang penuh kesulitan dan masalah.

Oleh sebab itu, ayo kita bekerja sama, saling membantu dan belajar bagaimana menjadi manusia sejati yang mampu menciptakan kebahagiaan dari dalam diri. Karena memang, hidup hanya untuk mereka yang mau sadar dan mau belajar. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa
Film “Petualangan Tara & Pramana”: Remaja dan Rempah-rempah
Tags: filmFilm IndonesiaFilm Kembang Apifilm layar lebarkesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Next Post

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Nanda Insadani

Nanda Insadani

Lahir di Medan, tapi sekarang tinggal di Sampit. Suka dengan film yang membuatnya berpikir dan merenung. Selain menulis tentang apa yang sudah ditonton, juga gemar menulis cerita-cerita aneh yang ada di kepalanya. Dapat ditemui di Facebook dengan nama asli.

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co