23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Nanda Insadani by Nanda Insadani
March 3, 2023
in Ulas Film
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Film "Kembang Api" | Foto: IG @ falconpictures

BUNUH DIRI DIYAKINI sebagai perbuatan yang tercela. Sebuah upaya untuk mengakhiri hidup dan berpikir mati adalah solusi lantaran masalah yang dihadapi sudah sangat di luar kendali.

Apakah orang yang mau bunuh diri perlu diselamatkan? Yang jelas, kita tidak bisa menghujat orang-orang yang mau bunuh diri, apalagi sampai menghakimi mereka bahwa mereka sudah tersesat dan imannya kurang. Bisa jadi kita yang kurang iman dan kurang ilmu sampai-sampai kurangnya rasa empati dan kebijaksanaan dalam diri.

Persoalan bunuh diri berarti kita berbicara soal depresi. Ini adalah isu yang lekat dengan masyarakat kita. Depresi cenderung disepelekan, penyakit mental dianggap tak lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik.

Saat kita membuka obrolan dengan apa kabar, kita menjawab pertanyaan itu dengan kondisi fisik kita, bukan kondisi mental. Karena tidak demam, tidak pilek, dianggap sehat. Kita tidak mencoba melihat ke dalam: apakah aku bahagia? Kalau tidak bahagia, apa penyebabnya?

***

Saya juga bertanya-tanya, apa penyebabnya film Kembang Api ini sepi peminat? Saya tidak tahu di kota lain, tapi di tempat saya, sepertinya Kembang Api tak mampu memikat banyak penonton.

Saya hanya bersama empat orang saja di dalam studio waktu menonton Kembang Api. Padahal tanpa bermaksud melebih-lebihkan, film ini punya “sajian lezat” di tengah perfilman Indonesia yang belakangan cenderung temanya “itu-itu saja”.

Meski Kembang Api merupakan adaptasi dari film Jepang yang berjudul 3 Ft Ball and Souls yang rilis 2017 lalu, bukan berarti menandakan bahwa tak ada kreativitas di sana. Justru sebaliknya, alih-alih mengadaptasi film yang sekadar menghibur, mereka memilih film yang “berisi” dan secara kreatif menyesuaikan situasi kita saat ini sebagai warga Indonesia: banyak yang depresi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ternyata lebih dari sembilan belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari dua belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami depresi.

Seperti yang kita tahu, orang yang depresi cenderung melakukan hal-hal yang ingin menyakiti diri dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Apakah benar bunuh diri itu gampang dan solusi terbaik di saat kita punya banyak masalah?

***

Barangsiapa yang bunuh diri, maka ia akan masuk neraka. Bagi umat beragama pasti meyakini hal demikian. Atau jangan-jangan, banyak yang tidak jadi bunuh diri hanya karena takut neraka?

Waktu menonton film Kembang Api, saya tersenyum kecil. “Yap, that’s absolutely hell,” saya membatin. Empat manusia berkumpul di sebuah gudang untuk bunuh diri berjamaah. Mereka adalah orang asing yang dipersatukan dengan niat yang sama.

Mereka percaya bahwa kematian mereka itu adalah jalan terbaik, bahkan ada yang percaya bahwa kematian mereka akan menguntungkan bagi orang yang disayanginya. Mereka tak pernah menduga bahwa proses bunuh diri mereka akan menjadi siksa, dan gudang itu menjadi neraka bagi mereka.

Kita mengira bahwa neraka itu begitu jauh untuk saat ini. Ia ada di atas sana atau di bawah sana. Kita hanya akan bisa pergi ke sana setelah hari kiamat. Untuk saat ini tidak mungkin kita bisa merasakannya, begitulah keyakinan kebanyakan orang. Neraka itu jauh, tidak mungkin lidah-lidah apinya dapat menyentuh kita selama kita masih ada di bumi.

Sama seperti Tuhan, Dia tidak jauh, Dia begitu dekat dan saking dekatnya kita sampai tak mampu melihat-Nya dan malah mengabaikan-Nya. Neraka dan surga sama: mereka dekat, dan kita tak menyadarinya.

Banyak para ilmuwan yang percaya bahwa neraka dan surga adalah kondisi pikiran (state of mind). Artinya, kita bisa merasakan apa itu neraka tanpa harus mati terlebih dahulu. Bahkan seorang tokoh eksistensialis terkenal seperti Jean-Paul Sartre pernah berujar bahwa “neraka adalah orang lain.”

Anggapan orang lain dapat menjadi neraka bagi kita tentu bukan isapan jempol belaka. Mereka yang merasa depresi bisa jadi karena punya masalah dengan orang lain. Mereka yang berniat bunuh diri bisa jadi takut dengan orang tertentu. Itulah kenapa William Shakespeare pernah mengatakan, “neraka kosong dan semua iblis ada di sini.”

Bumi yang indah ini dapat menjadi neraka bagi kita. Apalagi bagi orang-orang yang tak mampu berpikir jernih dan merasa bahwa tak ada kebaikan atau sesuatu yang layak diperjuangkan di hidup ini; apalagi bagi mereka yang tak mampu mengendalikan dan menaklukkan ego dan nafsu mereka.

Abu Hamid Al-Ghazali, seorang teolog dan filsuf muslim pernah berkata “yang paling besar di bumi ini bukanlah gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.”

Keempat manusia yang mau bunuh diri di film Kembang Api yakin dengan mati mereka akan terlepas dari siksa beban dan rasa sakit yang mereka rasakan semasa hidup. Dengan bunuh diri, mereka percaya mereka akan berada di situasi yang hening dan tak merasakan apa pun lagi. Sayangnya tidak. “Mau mati aja kok ribet banget sih!” ujar salah satu dari mereka.

Sama seperti balas dendam. Kita berpikir menuntaskan dendam adalah cara jitu menghancurkan belenggu depresi. Padahal tidak. Kita hanya menambah belenggu baru dengan mendendam. Begitu pula bunuh diri. Mereka berempat malah merasakan “neraka” lantaran ingin bunuh diri. Mereka tak bisa menjemput ketenangan dan kedamaian.

***

Urip iku urup, sebagaimana tertulis di bola kembang api yang akan mereka nyalakan untuk mengakhiri hidup bersama. Hidup itu harus menyala, begitu artinya; menjadi cahaya dan memberi manfaat. Ini tak hanya pesan untuk orang yang depresi dan mau bunuh diri, tapi juga menjadi reminder untuk kita yang masih sehat dan waras.

Jika kita menemukan orang yang depresi dan ingin bunuh diri, mari berupaya untuk menjadi cahaya bagi mereka yang terperangkap dalam kegelapan. Hidup ini memang penuh kesulitan dan masalah.

Oleh sebab itu, ayo kita bekerja sama, saling membantu dan belajar bagaimana menjadi manusia sejati yang mampu menciptakan kebahagiaan dari dalam diri. Karena memang, hidup hanya untuk mereka yang mau sadar dan mau belajar. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa
Film “Petualangan Tara & Pramana”: Remaja dan Rempah-rempah
Tags: filmFilm IndonesiaFilm Kembang Apifilm layar lebarkesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Next Post

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Nanda Insadani

Nanda Insadani

Lahir di Medan, tapi sekarang tinggal di Sampit. Suka dengan film yang membuatnya berpikir dan merenung. Selain menulis tentang apa yang sudah ditonton, juga gemar menulis cerita-cerita aneh yang ada di kepalanya. Dapat ditemui di Facebook dengan nama asli.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co