13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Nanda Insadani by Nanda Insadani
March 3, 2023
in Ulas Film
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api

Film "Kembang Api" | Foto: IG @ falconpictures

BUNUH DIRI DIYAKINI sebagai perbuatan yang tercela. Sebuah upaya untuk mengakhiri hidup dan berpikir mati adalah solusi lantaran masalah yang dihadapi sudah sangat di luar kendali.

Apakah orang yang mau bunuh diri perlu diselamatkan? Yang jelas, kita tidak bisa menghujat orang-orang yang mau bunuh diri, apalagi sampai menghakimi mereka bahwa mereka sudah tersesat dan imannya kurang. Bisa jadi kita yang kurang iman dan kurang ilmu sampai-sampai kurangnya rasa empati dan kebijaksanaan dalam diri.

Persoalan bunuh diri berarti kita berbicara soal depresi. Ini adalah isu yang lekat dengan masyarakat kita. Depresi cenderung disepelekan, penyakit mental dianggap tak lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik.

Saat kita membuka obrolan dengan apa kabar, kita menjawab pertanyaan itu dengan kondisi fisik kita, bukan kondisi mental. Karena tidak demam, tidak pilek, dianggap sehat. Kita tidak mencoba melihat ke dalam: apakah aku bahagia? Kalau tidak bahagia, apa penyebabnya?

***

Saya juga bertanya-tanya, apa penyebabnya film Kembang Api ini sepi peminat? Saya tidak tahu di kota lain, tapi di tempat saya, sepertinya Kembang Api tak mampu memikat banyak penonton.

Saya hanya bersama empat orang saja di dalam studio waktu menonton Kembang Api. Padahal tanpa bermaksud melebih-lebihkan, film ini punya “sajian lezat” di tengah perfilman Indonesia yang belakangan cenderung temanya “itu-itu saja”.

Meski Kembang Api merupakan adaptasi dari film Jepang yang berjudul 3 Ft Ball and Souls yang rilis 2017 lalu, bukan berarti menandakan bahwa tak ada kreativitas di sana. Justru sebaliknya, alih-alih mengadaptasi film yang sekadar menghibur, mereka memilih film yang “berisi” dan secara kreatif menyesuaikan situasi kita saat ini sebagai warga Indonesia: banyak yang depresi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ternyata lebih dari sembilan belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari dua belas juta penduduk berusia lebih dari lima belas tahun mengalami depresi.

Seperti yang kita tahu, orang yang depresi cenderung melakukan hal-hal yang ingin menyakiti diri dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Apakah benar bunuh diri itu gampang dan solusi terbaik di saat kita punya banyak masalah?

***

Barangsiapa yang bunuh diri, maka ia akan masuk neraka. Bagi umat beragama pasti meyakini hal demikian. Atau jangan-jangan, banyak yang tidak jadi bunuh diri hanya karena takut neraka?

Waktu menonton film Kembang Api, saya tersenyum kecil. “Yap, that’s absolutely hell,” saya membatin. Empat manusia berkumpul di sebuah gudang untuk bunuh diri berjamaah. Mereka adalah orang asing yang dipersatukan dengan niat yang sama.

Mereka percaya bahwa kematian mereka itu adalah jalan terbaik, bahkan ada yang percaya bahwa kematian mereka akan menguntungkan bagi orang yang disayanginya. Mereka tak pernah menduga bahwa proses bunuh diri mereka akan menjadi siksa, dan gudang itu menjadi neraka bagi mereka.

Kita mengira bahwa neraka itu begitu jauh untuk saat ini. Ia ada di atas sana atau di bawah sana. Kita hanya akan bisa pergi ke sana setelah hari kiamat. Untuk saat ini tidak mungkin kita bisa merasakannya, begitulah keyakinan kebanyakan orang. Neraka itu jauh, tidak mungkin lidah-lidah apinya dapat menyentuh kita selama kita masih ada di bumi.

Sama seperti Tuhan, Dia tidak jauh, Dia begitu dekat dan saking dekatnya kita sampai tak mampu melihat-Nya dan malah mengabaikan-Nya. Neraka dan surga sama: mereka dekat, dan kita tak menyadarinya.

Banyak para ilmuwan yang percaya bahwa neraka dan surga adalah kondisi pikiran (state of mind). Artinya, kita bisa merasakan apa itu neraka tanpa harus mati terlebih dahulu. Bahkan seorang tokoh eksistensialis terkenal seperti Jean-Paul Sartre pernah berujar bahwa “neraka adalah orang lain.”

Anggapan orang lain dapat menjadi neraka bagi kita tentu bukan isapan jempol belaka. Mereka yang merasa depresi bisa jadi karena punya masalah dengan orang lain. Mereka yang berniat bunuh diri bisa jadi takut dengan orang tertentu. Itulah kenapa William Shakespeare pernah mengatakan, “neraka kosong dan semua iblis ada di sini.”

Bumi yang indah ini dapat menjadi neraka bagi kita. Apalagi bagi orang-orang yang tak mampu berpikir jernih dan merasa bahwa tak ada kebaikan atau sesuatu yang layak diperjuangkan di hidup ini; apalagi bagi mereka yang tak mampu mengendalikan dan menaklukkan ego dan nafsu mereka.

Abu Hamid Al-Ghazali, seorang teolog dan filsuf muslim pernah berkata “yang paling besar di bumi ini bukanlah gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.”

Keempat manusia yang mau bunuh diri di film Kembang Api yakin dengan mati mereka akan terlepas dari siksa beban dan rasa sakit yang mereka rasakan semasa hidup. Dengan bunuh diri, mereka percaya mereka akan berada di situasi yang hening dan tak merasakan apa pun lagi. Sayangnya tidak. “Mau mati aja kok ribet banget sih!” ujar salah satu dari mereka.

Sama seperti balas dendam. Kita berpikir menuntaskan dendam adalah cara jitu menghancurkan belenggu depresi. Padahal tidak. Kita hanya menambah belenggu baru dengan mendendam. Begitu pula bunuh diri. Mereka berempat malah merasakan “neraka” lantaran ingin bunuh diri. Mereka tak bisa menjemput ketenangan dan kedamaian.

***

Urip iku urup, sebagaimana tertulis di bola kembang api yang akan mereka nyalakan untuk mengakhiri hidup bersama. Hidup itu harus menyala, begitu artinya; menjadi cahaya dan memberi manfaat. Ini tak hanya pesan untuk orang yang depresi dan mau bunuh diri, tapi juga menjadi reminder untuk kita yang masih sehat dan waras.

Jika kita menemukan orang yang depresi dan ingin bunuh diri, mari berupaya untuk menjadi cahaya bagi mereka yang terperangkap dalam kegelapan. Hidup ini memang penuh kesulitan dan masalah.

Oleh sebab itu, ayo kita bekerja sama, saling membantu dan belajar bagaimana menjadi manusia sejati yang mampu menciptakan kebahagiaan dari dalam diri. Karena memang, hidup hanya untuk mereka yang mau sadar dan mau belajar. [T]

Laut Menyatukan Kita | Catatan tentang Film Avatar: The Way of Water
Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa
Film “Petualangan Tara & Pramana”: Remaja dan Rempah-rempah
Tags: filmFilm IndonesiaFilm Kembang Apifilm layar lebarkesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Next Post

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Nanda Insadani

Nanda Insadani

Lahir di Medan, tapi sekarang tinggal di Sampit. Suka dengan film yang membuatnya berpikir dan merenung. Selain menulis tentang apa yang sudah ditonton, juga gemar menulis cerita-cerita aneh yang ada di kepalanya. Dapat ditemui di Facebook dengan nama asli.

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co