20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
November 4, 2022
in Ulas Film
Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa

Gambar diambil dari Aftersun Trailer/youtube

Rekaman vidio yang kabur mencatat keping-keping percakapan antara anak dan ayah. Zoom in—zoom out yang agak goyah, memulai sebuah pertanyaan—sekaligus mengakhirinya: “Apa itu?”, “Ketika kau berumur 11 tahun, apa yang kau lakukan?”.

Dan jeda. Gambar tenggelam oleh nyaring suara, seketika gelap, seketika hitam. Dari kegelapan mengkilat segaris cahaya yang terbuka, ada kerumunan orang-orang menari. Namun masih belum tampak jelas, semuanya lewat dan melintas begitu saja.

Di tengah-tengah cahaya yang jatuh bangun, seorang wanita memejamkan kedua matanya—terpenjara dalam framing. Sepertinya ia menarik diri ke lembaran masa lalunya, menggapai ingatan yang lusuh bagai kertas terlepas dari kepalan tangan. Tetapi cuma satu yang dihinggapi. Di sana segalanya nyaris putih. Dan tampak seorang gadis kecil melambaikan tangan dengan wajah yang entah menyembunyikan tangisan—entah melawan senyuman.

Sebuah debut fitur yang bersih dari Charlotte Wells selaku sutradara dan penulis skenario. Lewat kolaborasinya dengan Paul Mescal dan si gadis cantik Frankie Corio, Aftersun arahannya memberi sentuhan yang informal—bukan  drama ayah-anak layaknya Fathers and Daughters atau The Pursuit of Happyness, yang memaksa penonton untuk berlinang air mata terus-menerus.

Dalam Aftersun, keakraban dan keberjarakan tersegmentasi lewat subjek-subjek yang tampil. Terkesan selalu ada jarak antara keduanya dan kita (para penonton) dari kaca jendela, televisi cembung juga kamera perekam. Namun di balik benda-benda yang menjadi semacam pantulan kisah, yang menahan kita untuk bisa lebih dekat, mereka—ayah dan anak itu mempunyai semesta kedekatannya sendiri.

Musim panas pertengahan, Sophie dan Calum, pasangan ayah-anak, pergi berlibur untuk menghabiskan waktu bersama ke sebuah kota di negara Turkey. Di sana momen-momen acak mereka lakukan bersama tanpa banyak mengungkit apa yang pernah ada dan terjadi pada masa lampau.

Shopie, gadis berumur 11 tahun itu, tak pernah menanyakan dengan spesifik kenapa ayahnya dan ibunya berpisah. Calum tak pula berkenan mengungkapkan. Ruang kedekatan mereka ternyata meletakkan sekatnya sendiri. Kerenggangan tercipta dari cerita yang tak terungkap. Sophie seperti tak mengenal utuh sosok ayahnya. Tapi tak perlu menjadi pusat keresahan. Karena titik perhatian mengarah pada relasi kedua karakter. Pada momen penghabisan mereka terhadap waktu.

Mungkin lebih dari satu jam durasi, kita akan melihat jelajah keduanya di kawasan wisata, kolam renang, kamar, dan tempat pemandian lokal Turkey. Peristiwa-peristiwa yang datang dan tergambarkan dalam kurung durasi tersebut—tentu akan kita anggap sebagai sebuah penawaran yang nihil. Pun kekosongan ruang yang begitu lama ditampilkan—melahirkan kebosanan.

Bahkan hal-hal yang sengaja ditinggalkan oleh Charlotte Wells di sana. Seperti penggalan-penggalan tegas karakter Calum yang mengidap depresi dan rasa cemas. Yang mana Calum tak menyangka Sophie akan beranjak dewasa, dan ia harus lebih awas akan hal yang terjadi pada waktu mendatang—akan terlihat tak memiliki motif yang krusial. Asumsi itu akan tumbuh bersama kita, akan mengekori kita.

Namun asumsi itu harus kita gugurkan sementara oleh kilasan adegan yang disusupi di tengah-tengah cerita. Kita patut curiga atas kehadiran salindia tersebut. Apa maksudnya? Dan apakah ada kesenjangan dalam cerita? Salindia tersebut, fragmen yang muncul secara kedipan mata itu—adalah jembatan antara momen-momen acak dan apa yang berusaha Charlotte Wells munculkan dalam Aftersun. Sebuah upaya mengais memori dari Sophie terhadap sosok ayahnya dan peristiwa yang mereka jalani bersama-sama.

Charlotte Wells mampu mengemas semua ini begitu artistik, terartikulasikan dengan kuat dan narasi yang sanggup tak berloncatan, kendati ada sejumput kilas-balik—ia menangkis interupsi tersebut. Sebuah debut fitur yang benar-benar mengagumkan.

Aftersun adalah kesedihan yang berwibawa. Mengungkapkan kerinduan kepada ingatan yang tersangkut di jantung masa lalu—dan itu menghantuinya. Jalinan cerita yang awalnya cuman sebagai bukti dari kenangan yang memadat dalam diri Sophie dewasa—berhasil menyentuh sensibilitas yang paling sensitif dari diri kita.

Walau film ini mempunyai beberapa catatan seperti: graphic match yang terlalu boros dan mudah ditebak kedatangannya, lalu latar Turkey yang cuman sebagai tempelan dan bukan eksplorasi kisah. Catatan tersebut tak melemahkan kisah ini ketika kita berlabuh di penghujung. Semua catatan itu lenyap—semua itu menjelma sebuah kelebihan dan karakteristik.

Pamungkasnya yang emosional, Calum menari bersama para turis lainnya dan mengajak Sophie bergabung. Iringan lagu Under Pressure  dari Queen mewarnai tarian mereka. Lalu kilasan adegan itu muncul lagi, menyusup ke tengah-tengah tarian. Tampak seorang wanita, wanita yang sebelumnya memejamkan mata itu—Sophie dewasa.

Ia melewati kerumunan, melihat ayahnya, Calum, menari-nari di antara cahaya yang jatuh bangun. Ia berteriak memanggilnya—tapi tiada terdengar, segalanya kedap, ia menariknya, memeluknya—dan menangis di pelukannya. Tapi seketika semuanya nyaris putih. Tak ada kelip-kelip lampu lagi. Tak ada kerumunan yang menari-nari. Hanya lambaian seorang gadis kecil, yang entah menyembunyikan tangisan—entah melawan senyuman.

Dan jeda. Saya melihat momentum ending yang sangat apik: sebuah paralel penutup dari Krzystof Kieslowski dalam Three Colours Red, dan saya nikmati lagi dalam Aftersun. Indah, menakjubkan, luar biasa menarik emosi. Atmosfir kesedihan yang sulit dielakan. [T]

Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru
Tags: filmfilm layar lebarsinema
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan

Next Post

Awal Tahun Gaji Perbekel Biasa Tertunda | Lihadnyana Minta Tahun 2023 Tepat

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Awal Tahun Gaji Perbekel Biasa Tertunda | Lihadnyana Minta Tahun 2023 Tepat

Awal Tahun Gaji Perbekel Biasa Tertunda | Lihadnyana Minta Tahun 2023 Tepat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co