15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
November 1, 2022
in Ulas Film
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal

Satu adegan dalam film Ballad of a White Cow | Gambar hasil screenshot dari video pada kanal youtube Berlinale - Berlin International Film Festival

Bagi kebanyakan penikmat film (terkhusus yang memiliki relasi tontonan yang luas), apa yang biasa dibayangkan ketika hendak menikmati film-film dari Iran? Yap, drama-dramanya.

Kebanyakan dari sinema-sinema Iran, masih ulat berkutat di lingkaran drama. Dan itu selalu menjadi identifikasi pertama kita untuk memahami bagaimana skema film-film Iran berjalan.

Ketimpangan sosial, alienasi diri, keluarga yang rumit, dan sebagainya dan sebagainya. Iran memang pusat bagaimana kita bisa melacak lalu memahami seluk dramatisasi yang kental dari rahim sinema.

Selepas kesuksesan besar Kiarostami dengan Taste Of Cherry, Makhmalbaf dengan A Moment of Innocent, Majid Majidi dengan Children of Heaven, Jafar Panahi dengan The White Balloon, sampai Ashgar Farhadi dengan A Separation, dan masih banyak lagi, di kancah sinema internasional. Kini, Maryam Moqadam dan Behtash Sanaeeha, mencoba menyusul orang-orang hebat itu dengan gayanya sendiri, melalui Ballad of a White Cow.

The Ballad of a White Cow, adalah film terbaru dua sutradara, Maryam Moqadam dan Behtash Sanaeeha, yang ditayangkan perdana di Festival Film Fajr ke-36.  Naskah film ditulis langsung oleh kedua sutradara tersebut bersama Mehrdad Kouroshniya. Selain sebagai sutradara, Maryam Muqoddam juga berkontribusi sebagai tokoh utama dalam filmnya, berperan sebagai seorang janda bernama Mina.

Bersama rekannya Alireza Sanifar yang berperan sebagai Reza. Dan beberapa aktor-aktor amatir lainnya. Satu hal yang menjadi kemenarikan bagi saya dan mungkin banyak orang dari sinema-sinema Iran adalah, para sutradaranya selalu membuka posisi bagi pemain-pemain amatir.

Iran, masih memegang teguh idealis neorealis di setiap garapan-garapannya. Dan itu, menjadi poin tambahan bagi sinema Iran, untuk lebih mudah membentuk kealamian di setiap film-filmnya.

The Ballad of a White Cow, menyajikan kehidupan seorang janda bernama Mina, dengan anaknya yang tuli, Bita, pasca pengeksekusian mati sang suami. Mina, menjalani hidupnya dengan wajah yang terus-menerus hampir mengeluarkan air mata. Tak jarang, ia selalu berbohong kepada anaknya, perihal kemana perginya si ayah.

Setahun berselang, Mina dengan kehidupannya yang masih melawan hari-hari yang kejam, mendapatkan panggilan dari pihak pengadilan. Ternyata pihak pengadilan menyatakan bahwa suami Mina tak bersalah dalam insiden pembunuhan yang dituduhkan.

Dari sini kita tahu seperti apa reaksi yang ditimbulkan. Pihak pengadilan menyesalkan keputusan. Mina, mengecam keputusan itu, yang telah merenggut nyawa suaminya. Namun film tak berhenti sampai di situ. Permulaannya, baru dimulai ketika seorang pria bernama Reza, datang ke rumah Mina dan mengaku sebagai sahabat masa muda suaminya. Tapi, sahabat hanya kedok yang dipakai Reza untuk menyamar. Ia ternyata orang di balik pengeksekusian suami Mina. Apa yang akan terjadi? Sisanya, bisa kalian ikuti lewat menonton The Ballad of a White Cow secara utuh.

Secara pribadi, saya sangat menyukai film-film yang lambat, dialog yang minim, yang bermain-main di lini bahasa visual. Itu memberikan peluang lebih besar dalam mengamati apa yang sedang diangkat.

The Ballad of a White Cow, mungkin sekilas demikian. Terlihat tidak tergesa-gesa mencapai klimaks. Film ini seperti sungai di pegunungan pada musim semi, beriak-beriak pelan dan mengalir jernih. Sayangnya, untuk melompat ke arah yang dituju, kedua sineas masih terbata-bata. Terlalu banyak gagasan yang dijejal tanpa disaring kepentingannya. Semisal menghadirkan kobobrokan birokrasi, ketika Mina mengajukan keluhannya terhadap kelalaian pengadilan. Adegan-adegan itu hadir secara subtil, tanpa ada pengaruh krusial bagi motivasi penceritaannya.

The Ballad of a White Cow, tak sekaliber film-film seniornya, seperti About Elly, Taste of Cherry, dan A Hero dalam menuntaskan-tampilkan sisi-sisi psikologis manusia. Banyak adegan yang kurang mencuri keprihatinan penonton. Efek psikologis—atau konfrontasi batin dalam diri seorang Reza, dan kesalahannya dalam memutuskan sebuah keadilan, yang menghantuinya siang dan malam, masih belum unjuk gigi.

Kesedihan dan emosinya terlalu enggan untuk dinampakkan, malah terkesan dipaksakan. Bahasa visual yang dihadirkan juga terbilang kurang mumpuni. Seakan belum bisa mengisi kekosongan dari setiap krisis dialog-dialognya. Pun, kedekatan Mina dan anaknya, Bita, belum diwujudkan dengan erat. Tak terkecuali penderitaan di antara mereka.

Lini-lini yang seharusnya dominan kurang diberikan ruang untuk ditampilkan lebih dalam lagi. Alhasil, beberapa sekuens tak punya kesinambungan satu sama lain. Saya, tentunya sedikit kecewa, dan merasa seharusnya film Iran bisa lebih dari ini.

Film The Ballad of a White Cow, adalah kumpulan gambar-gambar penampakan kehidupan yang miris sekaligus menyimpan banyak nilai. Yang disorot lewat mata kamera yang anggun. Keterkungkungan kelas menengah dalam menenggak keadilan, serta keterpurukan– kelas atas dalam upaya-upayanya mencari celah penebusan dosa.

Film ini, secara sadar, terselamatkan oleh sinematografinya. Resolusinya yang jernih, elaborasi warna hitam dan putih yang sangat kontras , pengambilan shot-shot-nya yang jauh, dan dari sisi-sisi yang tak terduga, menambah keistimewaannya. Tak lupa akting para pemainnya yang sudah sangat baik. Sedikit memudarkan apa-apa yang sudah saya sebutkan sebelumnya.[T]

White Building : Potret Keruntuhan
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos
Tags: filmFilm Iranfilm layar lebarIran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa pun Jumpa Puisi dalam Lomba Musikalisasi Puisi FNSP Jembrana | Juaranya SMAN 1 Kuta Utara

Next Post

Riset BRIN: Sama dan Beda Bahasa Bali Dialek Bali Aga dan Dialek Bali Dataran

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Riset BRIN: Sama dan Beda Bahasa Bali Dialek Bali Aga dan Dialek Bali Dataran

Riset BRIN: Sama dan Beda Bahasa Bali Dialek Bali Aga dan Dialek Bali Dataran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co