2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
April 10, 2023
in Esai
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

HAMPIR SEMUA orang saya pikir pernah mengalami fase gabut. Ya, gabut merupakan salah satu bahasa populer yang kerap digunakan anak muda dalam bahasa sehari-hari. Kira-kira kata ini memiliki arti sebuah keadaan di mana seseorang merasakan kejenuhan dan bosan untuk melakukan sesuatu. Hal tersebut bisa saja mengakibatkan produktivitas seseorang menurun.

Tak jarang saya mendengar teman-teman di kampus berkata: “Duh, gabut banget, nih”, ketika mereka sedang merasa bosan di rumah atau di kampus atau di mana saja. Alhasil, dalam kondisi seperti itu, biasanya mereka akan mengajak saya untuk sekadar keluar main atau nongkrong di beberapa minimarket di Kota Singaraja.

Kalau sudah begitu, biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan obrolan panjang masalah percintaan teman saya dan tentu dibumbui dengan gosip (kadang lebih banyak mengada-ada) tentang anak-anak berpengaruh di kampus. Kami akui sering menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting.

Padahal, daripada menggosipkan hal yang tidak jelas, sebenarnya banyak hal positif yang bisa kami lakukan untuk mengganti kegabutan. Hal yang mungkin saja lebih bermanfaat, seperti misal, membicarakan tentang bagaimana rencana perkuliahan ke depan.

Atau, jika mau lebih serius, sebagai mahasiswa komunikasi, barangkali tak ada salahnya jika kami berdiskusi tentang industri sinetron Indonesia yang akting para artisnya terkesan asal-asalan dan cenderung buruk—atau jalan ceritanya yang sering tidak masuk akal—sehingga tak jarang pesan yang hendak disampaikan mentah di tengah jalan.

Namun, pada kenyataannya, tak jarang ketika merasa gabut, alih-alih melakukan aktivitas yang bermanfaat, anak muda saat ini—tentu saja termasuk saya dan beberapa teman—akan mengalihkannya dengan menghabiskan bahan bakar, boros, berkendara motor mengelilingi kota sambil berdalih self healing di story media sosial.

Seperti yang kita ketahui, self healing merupakan kata yang belakangan banyak digunakan anak muda di tanah air. Kata tersebut biasa diartikan sebagai sebuah proses penyembuhan diri yang disebabkan oleh gangguan kondisi emosi seseorang.

Dengan begitu, aktivitas atau kegiatan self healing yang dilakukan tentu harus memiliki manfaat. Dalam artian, aktivitas tersebut tidak semata-mata dilakukan hanya untuk menghabiskan waktu saja, tetapi, sekali lagi, harus ada manfaat yang didapat setelahnya.

Sekadar menyebut satu contoh, seperti Fiersa Besari, misalnya, seorang penulis, pemusik, sekaligus traveller—ia memang memiliki hobi berkelana menjelajah alam Indonesia—yang melakukan self healing tanpa kesia-siaan, dan tentu saja, menghasilkan secara ekonomi.

Bung Fiersa suka mendaki gunung, berkelana, mengunjungi kota-kota pelosok di Indonesia. Dari sana ia banyak menghasilkan karya, baik berupa musik (lagu), video perjalanan, maupun buku. Dan, ia menjadi tokoh, punya fans, sebab tidak sedikit yang meminati karya-karyanya—karya Fiersa dirasa relate bagi kehidupan anak muda.

Saya pernah membaca salah satu kutipan Fiersa Besari dalam bukunya yang berjudul Garis Waktu: “Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya”.

Duh, bikin meleleh. (Setelah membaca kutipan tersebut, secara kebetulan, saya bertemu dengan salah satu orang yang mampu mengubah pola pikir saya terhadap arti kata gabut.)

***

Sampai di sini saya tekankan sekali lagi, banyak hal bermanfaat (postif) untuk mengisi kegabutan.

Jika kita tidak bisa seperti Fiersa Besari yang mengisi kegabutannya dengan menghasilkan karya musik, video dan buku, setidaknya kita dapat memanfaatkan waktu yang membosankan itu dengan membaca buku sambil mendengarkan musik dari pelantun lagu favorit daripada membuang-buang waktu dengan bergosip, menghambur-hamburkan uang, atau berkendara yang tak jelas tujuannya.

Hal ini pernah saya rasakan sendiri. Suatu kali saat merasa gabut, saya mencoba untuk membaca buku (kadang menggambar), dan benar saja, rasanya jauh lebih meninggalkan kesan puas dibandingkan dengan sekadar nongkrong, bergosip, atau keliling kota yang, sekali lagi, tidak jelas tujuannya.

Namun, jika terlalu malas untuk membaca buku, kita bisa menonton film untuk mengatasinya. Sedikit saran dari saya, tontonlah film yang mudah dipahami tapi tetap mempunyai value yang dapat mengubah cara berpikir kita atau film yang dapat menumbuhkan pikiran kritis dalam diri kita. Bukan film yang hanya sekadar keren di permukaan, tapi dangkal isi, plot, dan ceritanya.

Jika boleh merekomendasikan sebuah film, maka saya akan menyebut satu film berjudul “Three Idiots”—film India yang sampai saat ini masih saya ingat ceritanya.

Sekadar informasi, film yang dirilis tahun 2009 dan disutradarai Vidhu Vinod Chopra itu, bercerita tentang tentang 3 orang mahasiswa—Farhan Qureshi (Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi) dan “Rancho” Shamaldas Chanchad (Aamir Khan)—jurusan teknik mesin yang kulian di Imperial College of Engineering (ICE).

Mereka menjalani suka duka dunia perkuliahan yang keras di ICE, sambil bertahan dari penindasan dan tekanan Direktur ICE, Dr. Viru Sahastrabuddhe—atau yang biasa dipanggil Virus/Virus Komputer oleh para mahasiswa.

Film ini mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi mahasiswa yang kritis, inovatif, berani, menjunjung tinggi idealisme dan rasa kemanusiaan, juga sedikit menyinggung soal sistem hafalan (tahu teori jauh dari konteks) di sekolah atau perguruan tinggi yang sudah ketinggalan zaman.

Banyak pesan positif dalam film ini, seperti misalnya kuliah itu bertujuan mendapat ilmu pengetahuan, keterampilan, bukan hanya sekadar mengharap selembar ijazah. Film semacam inilah yang dapat kita manfaatkan (tonton) untuk mengisi waktu gabut itu.

Dan, bukan hanya itu saja, kalau malas menonton film, tak ada salahnya juga kita mencoba melakukan aktivitas di luar ruangan sebagai self healing yang nyata dan memiliki manfaat seperti berolahraga atau mengunjungi tempat wisata alam.

Semua itu tentu akan memberi manfaat untuk menjernihkan pikiran kita dari padatnya jadwal sehari-hari dan juga dapat menambah pengetahuan terhadap daerah-daerah yang belum pernah kita jangkau sebelumnya.

Dengan begitu, akan lebih banyak pelajaran yang bisa diambil ketika kita melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Lebih bagus lagi kalau aktivitas bermanfaat tersebut adalah hal yang saya atau kalian sukai sehingga tidak akan menjadi beban bagi kita dalam menjalaninya.

Seperti kata pepatah, “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” atau “menyelam sambil minum air”. Melakukan hobi, self healing, syukur-syukur menghasilkan secara ekonomi. Seperti layaknya Fiersa Besari yang memiliki hobi menulis di Twitter dan berkelana. Hasilnya, banyak orang terinspirasi oleh tulisannya.

Dan hal ini juga yang menjadi motivasi saya agar mampu bergerak dan berkembang seperti Fiersa dan orang-orang yang mengisi kegabutannya dengan soal-soal yang bermanfaat. Ya, walaupun tidak sama, setidaknya ada hal positif yang bisa dipetik hikmahnya.

Jadi, terakhir, kawan-kawan harus bisa membedakan mana aktivitas yang murni self healing dengan aktivitas gabut yang hanya berkedok self healing, ya![T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Panduan untuk Memilih Buku Bacaan yang Tepat
Ke Kampus Mengejar Cinta atau Cita-Cita? Nah, Lho?!
Ya Kuliah, Ya Kerja | Tips Membagi Waktu Kuliah Sambil Bekerja
Tags: esaitips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pekan Apresiasi Seni, Tari Magrumbungan, dan Pengalamanku sebagai Pembimbing

Next Post

Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co