13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
December 20, 2022
in Pilihan Editor, Ulas Film
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Avatar 2 The Way of Water. Foto: The Daily Mail

PRINSIP AIR menghubungkan semua hal. Sebelum kelahiranmu, dan setelah kematianmu. Apa yang disampaikan Lo’ak seorang avatar dari keluarga Sully dalam film Avatar: The Way of Water mungkin tak jauh dari prinsip dan kepercayaan orang Bali terhadap laku air dan laut; tirta, nyambutin, dan ngelarung. Air dan laut adalah awal sekaligus akhir bagi orang Bali. Hal-hal ini berhubungan dan hal-hal ini terjadi dalam film Avatar: The Way of Water.

Avatar: The Way of Water bercerita tentang Keluarga Jake Sully dan Na’vi (penduduk lokal) yang berhadapan melawan invasi manusia yang ingin menjajah dan menguasai Pandora, sebuah dunia Avatar. Jake Sully hidup sebagai kepala suku Omaticaya dan berkeluarga dengan Neytiri, termasuk putranya Neteyam dan Lo’ak dan putrinya Tuk, putri angkatnya Kiri dan seorang anak laki-laki bernama Spider, yang sejatinya adalah putra Kolonel Miles Quaritch yang lahir di Pandora dan tidak dapat diangkut ke Bumi namun begitu paham budaya Na’vi.

Manusia datang ke Pandora untuk menjajahnya, mendirikan basis operasi utama baru bernama Bridgehead City. Di antara pendatang baru itu adalah “rekombinan” Na’vi. Rekombinan atau dalam bahasa Inggris sering disingkat rDNA (recombinant DNA) adalah suatu bentuk DNA buatan yang dibentuk dengan cara menggabungkan atau merekombinasi dua atau lebih untaian benang DNA yang dalam keadaan normal tidak berpasangan atau terjadi bersama. Rekombinan ini bernama RDA dan Quaritch yang menjadi pemimpin mereka.

Jake Sully bergerilya melawan kedatangan RDA. Quaritch dan rekombinannya melakukan misi kontra-pemberontakan melawan Jake, menangkap anak-anaknya. Jake dan Neytiri tiba dan membebaskan sebagian besar dari mereka, namun sial Spider berhasil diambil oleh Quaritch. Sadar akan bahaya pengetahuan Spider tentang keberadaannya menimbulkan keresahan bagi Jake yang akan memiliki efek fatal terhadap keluarganya dan para Na’vi, Jake mengundurkan diri sebagai kepala suku Omaticaya (klan yang tinggal di Hutan dan Gunung) dan mengasingkan ke Metkayina (klan orang karang) yang berada di pesisir timur Pandora, di mana mereka diberi perlindungan, meskipun beberapa anggota suku mencemooh Jake dan anak-anak terhadap warisan genetik manusia mereka.

Sepanjang film yang berdurasi tiga jam karya James Cameron ini, saya menyadari adanya prinsip-prinsip kepercayaan para Na’vi khususnya klan Orang Karang terhadap konsep dan kepercayaan orang Bali. Yang paling terlihat adalah bagaimana mereka memperlakukan air. Bagi orang Bali, selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat Bali memaknai air sebagai simbol penyucian dan pembersihan. Tirta atau Air Suci merupakan sarana pokok dalam pelaksanaan kegiatan dan upacara di Bali.

Pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Bali juga melakukan ritual melukat guna menyucikan jiwa-raga di sumber-sumber mata air, seperti laut, sungai atau pancuran. Selain hal itu, dalam Avatar: The Way of Water saya tergelitik ketika menyadari beberapa kemiripan konsep dan kepercayaan lain seperti:

Melik dan Meluasang

Istilah melik dalam tradisi masyarakat Bali, yaitu sebuah anugrah yang dipercaya jika seseorang melik bisa melihat roh mistis atau hal-hal yang manusia biasa tidak bisa lihat. Dalam Avatar: The Way of Water, karakter Kiri menyerupai orang yang melik.

Dia bisa berkomunikasi dengan lingkungan-lingkungannya, baik ketika di Omaticaya maupun di Metkayina. Kiri mampu berkomunikasi dengan rumput, dengan ikan-ikan maupun ketika dia pergi ke pohon roh yang dianggap bisa menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya yang di sanalah dia bertemu dengan ibunya.

Yang membuat saya juga tergelitik adalah adanya medium yang bisa menghubungkan karakternya pada sebab musabab masalalu. Seperti asal usul ibu Kiri dan penyebab kenapa Payakan (seekor paus kepala baja) memilih untuk mengasingkan diri dari kawanannya.

Kesepekang

Kasepekang merupakan sanksi adat Bali, dimana si penerima sanksi akan dikucilkan, diasingkan atau diberhentikan dari kegiatan di desa (Madesa). Hal ini dikarenakan si pelaku melanggar aturan desa adat berkali-kali (keterlaluan), sehingga sanksi ini dianggap pantas untuk diberikan. Dalam film, Payakan (seekor paus kepala baja) dikucilkan dari kawanannya para Tulkun.

Tulkun adalah makhluk yang sangat cerdas, dan mereka dapat berkomunikasi dengan Na’Vi. Mereka juga memiliki budaya mereka tersendiri, dan menganggap bahwa perdamaian adalah segalanya. Payakan adalah anggota Tulkun yang “terbuang”. Berbeda dengan Tulkun lain yang menjunjung kedamaian, Payakan malah mencoba menginisiasi perang, demi membalaskan dendamnya pada manusia yang membunuh ibunya.

Dia ingin memulai perang terhadap pemburu paus. Namun perang yang dia mulai gagal, sehingga menimbulkan banyak kematian dari kubu Tulkun. Payakan bertanggung jawab atas banyak kematian Tulkun. Dan karena Payakan mengkhianati budaya bangsanya dengan memulai perang, karena itulah dia diasingkan dan selalu berenang sendirian di lautan. Adegan Lo’ak bertemu Payakan dalam film ini bagi saya sungguh emosional, ketika dia menjelaskan bahwa hidup bersama kawanan yang tidak bisa mengertinya sungguh menyakitkan. Hal yang sama pula terjadi saat Lo’ak tidak dipercaya ketika dia menjelaskan pada orang-orang di Metkayina bahwa Payakan adalah Tulkun yang baik.

Nyegara Gunung & Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Nyegara Gunung adalah filosofi Bali bahwa antara laut (segara) dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Oleh karena itu, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut. Hal yang sama pula terjadi di Pandora. Sebagai kesatuan semesta antara Omaticaya dan Metkayina, mereka saling berhubungan dan berkeluarga.

Apapun yang terjadi pada Jake Sully yang adalah orang dari suku di Omaticaya (Hutan dan Gunung) juga dirasakan pada orang-orang di suku Metkayina (klan Orang Karang). Memiliki kesamaan terhadap perasaan tersebut mereka berkerjasama dan melindungi satu dengan yang lain.

Konsep Bhuana Agung dan Bhuana Alit juga bisa kita lihat dalam film ini bahwa dalam diri kita (bhuana alit) adalah semesta kecil dari semesta yang lebih besar (bhuana agung) yang bagi para Na’vi dipercaya keberadaannya lewat Tulkun (saudara roh) atau The Great Mother, ibu Agung.

Nyentana

Nyentana adalah istilah dalam perkawinan adat di Bali dimana mempelai laki–laki tinggal di rumah mempelai perempuan. Kalau kita lihat sejarah Jake Sully, dia adalah manusia. Itu kenapa keluarga Jake Sully adalah Na’vi yang “blasteran”, gabungan antara manusia dan Na’vi. Jake adalah manusia dan Neytiri adalah orang Na’vi asli. Neytiri memiliki busur pemberian ayahnya. Jake memutuskan untuk tinggal bersama Neytiri dan berkeluarga.

Tak jarang, keputusan-keputusan Neytiri lebih mementingkan klannya, karena dia merasa bahwa dirinya adalah Na’vi asli, Na’vi tulen dengan keyakinan bahwa ia hidup dan akan mati di Pandora.

Yang berbeda hanya saja status Jake sebagai suami di sini dia hanya tinggal di rumah Neytiri, tidak mengubah statusnya sebagai pradana (perempuan) ​​karena kalau kita melihat konsep Nyentana sepenuhnya selain tinggal dalam di rumah mempelai perempuan, ia juga mengubah statusnya sebagai pradana. Namun dalam Avatar: The Way of Water status Jake masih sebagai kepala keluarga dan purusa.

Laut adalah tempat untuk pulang

Bagi orang Bali, laut adalah gerak selaras hidup. Misalnya, ngelarung, ngelarung adalah prosesi untuk penghormatan dan penyucian diatas landasan keyakinan. Dimana laut merupakan tempat melebur atau mengembalikan ke unsur aslinya atau unsur yg seharusnya menurut hukum alam.

Dalam film Avatar laut adalah tempat melarung Nateeyam, saudara Lo’ak, seolah menegaskan pandangannya pada laut dan air; The Way of Water connects all things. Before your birth, and after your death. (Prinsip air menghubungkan banyak hal. Sebelum kelahiranmu, dan setelah kematianmu).

Film Avatar: The Way of Water ini memberikan pengalaman visual yang luar biasa. Selain membawa pesan akan Anti-Imprealisme yang kuat, kecintaan dan hidup harmonis dengan lingkungan serta toleransi menjadi hal-hal yang membuat film ini penting dan layak ditonton anak-anak bahkan keluarga. Dari Avatar kita belajar bahwa semua hal dalam hidup ini berhubungan; kita dengan manusia, kita dengan lingkungan, dan kita dengan semesta. Selamat menonton! [T]

Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
White Building : Potret Keruntuhan
Tags: avatarbalifilmFilm Avatarfilm layar lebarhinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

Next Post

Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co