22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
December 20, 2022
in Pilihan Editor, Ulas Film
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Avatar 2 The Way of Water. Foto: The Daily Mail

PRINSIP AIR menghubungkan semua hal. Sebelum kelahiranmu, dan setelah kematianmu. Apa yang disampaikan Lo’ak seorang avatar dari keluarga Sully dalam film Avatar: The Way of Water mungkin tak jauh dari prinsip dan kepercayaan orang Bali terhadap laku air dan laut; tirta, nyambutin, dan ngelarung. Air dan laut adalah awal sekaligus akhir bagi orang Bali. Hal-hal ini berhubungan dan hal-hal ini terjadi dalam film Avatar: The Way of Water.

Avatar: The Way of Water bercerita tentang Keluarga Jake Sully dan Na’vi (penduduk lokal) yang berhadapan melawan invasi manusia yang ingin menjajah dan menguasai Pandora, sebuah dunia Avatar. Jake Sully hidup sebagai kepala suku Omaticaya dan berkeluarga dengan Neytiri, termasuk putranya Neteyam dan Lo’ak dan putrinya Tuk, putri angkatnya Kiri dan seorang anak laki-laki bernama Spider, yang sejatinya adalah putra Kolonel Miles Quaritch yang lahir di Pandora dan tidak dapat diangkut ke Bumi namun begitu paham budaya Na’vi.

Manusia datang ke Pandora untuk menjajahnya, mendirikan basis operasi utama baru bernama Bridgehead City. Di antara pendatang baru itu adalah “rekombinan” Na’vi. Rekombinan atau dalam bahasa Inggris sering disingkat rDNA (recombinant DNA) adalah suatu bentuk DNA buatan yang dibentuk dengan cara menggabungkan atau merekombinasi dua atau lebih untaian benang DNA yang dalam keadaan normal tidak berpasangan atau terjadi bersama. Rekombinan ini bernama RDA dan Quaritch yang menjadi pemimpin mereka.

Jake Sully bergerilya melawan kedatangan RDA. Quaritch dan rekombinannya melakukan misi kontra-pemberontakan melawan Jake, menangkap anak-anaknya. Jake dan Neytiri tiba dan membebaskan sebagian besar dari mereka, namun sial Spider berhasil diambil oleh Quaritch. Sadar akan bahaya pengetahuan Spider tentang keberadaannya menimbulkan keresahan bagi Jake yang akan memiliki efek fatal terhadap keluarganya dan para Na’vi, Jake mengundurkan diri sebagai kepala suku Omaticaya (klan yang tinggal di Hutan dan Gunung) dan mengasingkan ke Metkayina (klan orang karang) yang berada di pesisir timur Pandora, di mana mereka diberi perlindungan, meskipun beberapa anggota suku mencemooh Jake dan anak-anak terhadap warisan genetik manusia mereka.

Sepanjang film yang berdurasi tiga jam karya James Cameron ini, saya menyadari adanya prinsip-prinsip kepercayaan para Na’vi khususnya klan Orang Karang terhadap konsep dan kepercayaan orang Bali. Yang paling terlihat adalah bagaimana mereka memperlakukan air. Bagi orang Bali, selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat Bali memaknai air sebagai simbol penyucian dan pembersihan. Tirta atau Air Suci merupakan sarana pokok dalam pelaksanaan kegiatan dan upacara di Bali.

Pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Bali juga melakukan ritual melukat guna menyucikan jiwa-raga di sumber-sumber mata air, seperti laut, sungai atau pancuran. Selain hal itu, dalam Avatar: The Way of Water saya tergelitik ketika menyadari beberapa kemiripan konsep dan kepercayaan lain seperti:

Melik dan Meluasang

Istilah melik dalam tradisi masyarakat Bali, yaitu sebuah anugrah yang dipercaya jika seseorang melik bisa melihat roh mistis atau hal-hal yang manusia biasa tidak bisa lihat. Dalam Avatar: The Way of Water, karakter Kiri menyerupai orang yang melik.

Dia bisa berkomunikasi dengan lingkungan-lingkungannya, baik ketika di Omaticaya maupun di Metkayina. Kiri mampu berkomunikasi dengan rumput, dengan ikan-ikan maupun ketika dia pergi ke pohon roh yang dianggap bisa menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya yang di sanalah dia bertemu dengan ibunya.

Yang membuat saya juga tergelitik adalah adanya medium yang bisa menghubungkan karakternya pada sebab musabab masalalu. Seperti asal usul ibu Kiri dan penyebab kenapa Payakan (seekor paus kepala baja) memilih untuk mengasingkan diri dari kawanannya.

Kesepekang

Kasepekang merupakan sanksi adat Bali, dimana si penerima sanksi akan dikucilkan, diasingkan atau diberhentikan dari kegiatan di desa (Madesa). Hal ini dikarenakan si pelaku melanggar aturan desa adat berkali-kali (keterlaluan), sehingga sanksi ini dianggap pantas untuk diberikan. Dalam film, Payakan (seekor paus kepala baja) dikucilkan dari kawanannya para Tulkun.

Tulkun adalah makhluk yang sangat cerdas, dan mereka dapat berkomunikasi dengan Na’Vi. Mereka juga memiliki budaya mereka tersendiri, dan menganggap bahwa perdamaian adalah segalanya. Payakan adalah anggota Tulkun yang “terbuang”. Berbeda dengan Tulkun lain yang menjunjung kedamaian, Payakan malah mencoba menginisiasi perang, demi membalaskan dendamnya pada manusia yang membunuh ibunya.

Dia ingin memulai perang terhadap pemburu paus. Namun perang yang dia mulai gagal, sehingga menimbulkan banyak kematian dari kubu Tulkun. Payakan bertanggung jawab atas banyak kematian Tulkun. Dan karena Payakan mengkhianati budaya bangsanya dengan memulai perang, karena itulah dia diasingkan dan selalu berenang sendirian di lautan. Adegan Lo’ak bertemu Payakan dalam film ini bagi saya sungguh emosional, ketika dia menjelaskan bahwa hidup bersama kawanan yang tidak bisa mengertinya sungguh menyakitkan. Hal yang sama pula terjadi saat Lo’ak tidak dipercaya ketika dia menjelaskan pada orang-orang di Metkayina bahwa Payakan adalah Tulkun yang baik.

Nyegara Gunung & Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Nyegara Gunung adalah filosofi Bali bahwa antara laut (segara) dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Oleh karena itu, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut. Hal yang sama pula terjadi di Pandora. Sebagai kesatuan semesta antara Omaticaya dan Metkayina, mereka saling berhubungan dan berkeluarga.

Apapun yang terjadi pada Jake Sully yang adalah orang dari suku di Omaticaya (Hutan dan Gunung) juga dirasakan pada orang-orang di suku Metkayina (klan Orang Karang). Memiliki kesamaan terhadap perasaan tersebut mereka berkerjasama dan melindungi satu dengan yang lain.

Konsep Bhuana Agung dan Bhuana Alit juga bisa kita lihat dalam film ini bahwa dalam diri kita (bhuana alit) adalah semesta kecil dari semesta yang lebih besar (bhuana agung) yang bagi para Na’vi dipercaya keberadaannya lewat Tulkun (saudara roh) atau The Great Mother, ibu Agung.

Nyentana

Nyentana adalah istilah dalam perkawinan adat di Bali dimana mempelai laki–laki tinggal di rumah mempelai perempuan. Kalau kita lihat sejarah Jake Sully, dia adalah manusia. Itu kenapa keluarga Jake Sully adalah Na’vi yang “blasteran”, gabungan antara manusia dan Na’vi. Jake adalah manusia dan Neytiri adalah orang Na’vi asli. Neytiri memiliki busur pemberian ayahnya. Jake memutuskan untuk tinggal bersama Neytiri dan berkeluarga.

Tak jarang, keputusan-keputusan Neytiri lebih mementingkan klannya, karena dia merasa bahwa dirinya adalah Na’vi asli, Na’vi tulen dengan keyakinan bahwa ia hidup dan akan mati di Pandora.

Yang berbeda hanya saja status Jake sebagai suami di sini dia hanya tinggal di rumah Neytiri, tidak mengubah statusnya sebagai pradana (perempuan) ​​karena kalau kita melihat konsep Nyentana sepenuhnya selain tinggal dalam di rumah mempelai perempuan, ia juga mengubah statusnya sebagai pradana. Namun dalam Avatar: The Way of Water status Jake masih sebagai kepala keluarga dan purusa.

Laut adalah tempat untuk pulang

Bagi orang Bali, laut adalah gerak selaras hidup. Misalnya, ngelarung, ngelarung adalah prosesi untuk penghormatan dan penyucian diatas landasan keyakinan. Dimana laut merupakan tempat melebur atau mengembalikan ke unsur aslinya atau unsur yg seharusnya menurut hukum alam.

Dalam film Avatar laut adalah tempat melarung Nateeyam, saudara Lo’ak, seolah menegaskan pandangannya pada laut dan air; The Way of Water connects all things. Before your birth, and after your death. (Prinsip air menghubungkan banyak hal. Sebelum kelahiranmu, dan setelah kematianmu).

Film Avatar: The Way of Water ini memberikan pengalaman visual yang luar biasa. Selain membawa pesan akan Anti-Imprealisme yang kuat, kecintaan dan hidup harmonis dengan lingkungan serta toleransi menjadi hal-hal yang membuat film ini penting dan layak ditonton anak-anak bahkan keluarga. Dari Avatar kita belajar bahwa semua hal dalam hidup ini berhubungan; kita dengan manusia, kita dengan lingkungan, dan kita dengan semesta. Selamat menonton! [T]

Film “Aftersun” : Kesedihan yang Berwibawa
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
White Building : Potret Keruntuhan
Tags: avatarbalifilmFilm Avatarfilm layar lebarhinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

Next Post

Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Gagal (Paham) Menulis Esai | Tanggapan Atas Esai I Wayan Artika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co