26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

DN Sarjana by DN Sarjana
December 18, 2022
in Cerpen
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

ilustrasi tatkala.co

“Bapa Kelian, jangan tenget ya. Subak ini bukan milik Bapa. Jangan sok-sok Bapa membela Pura Subak?”

Bapa Darma, kelian subak yang biasa juga dipanggil dengan nama Bapa Kelian hanya diam mendengar kata-kata I Wayan Degag di tengah paruman atau rapat warga subak.

“Biar Bapa tahu, jangankan Pura Subak, rasanya tanah carik, tanah sawah, semua di subak ini kalau dijual akan dibayar oleh investor. Kok Bapa repot. Bapa duduk manis sudah dapat persenan. Uang warna merah akan bertumpuk-tumpuk di semua saku baju dan celana Bapa!”

I Wayan Degag yang penampilan parlente itu terus berkotbah di depan Bapa Darma dan pengurus subak yang lain. Tangannya penuh cincin dengan permata batu akik. Di lehernya bergelayut kalung emas. I Wayan Degag dengan mulut berbuih terus merayu kelian subak agar mau memindahkan Pura Subak ke tempat lain.

Pura Subak memang sangat strategis tempatnya. Ajakan untuk menjual dan memindahkan Pura Subak sudah sejak lama didengar Bapa Darma. Banyak makelar mendatanginya. Ada yang secara halus, tapi ada juga bernada keras, seperti mengancam. Dengan memindahkan Pura Subak, maka siapa pun, terutama investor, akan mudah membuat jalan menuju areal persawahan di belakang. Jika jalan sudah dibangun maka tanah sawah di belakang Pura Subak satu persatu akan mudah juga untuk bisa dijual.

“Yan, coba duduk dulu. Tidak bagus berdiri seperti itu. Lihat orang-orang tua duduk bersila. Belajarlah menghormati orang tua,” kata Bapa Darma kepada I Wayan Degag dengan suara halus.

I Wayan Degag duduk setelah membuang putung rokok dengan sembarangan.

“Wayan Degag. Bapa mengerti. Apa yang Wayan sampaikan tadi benar. Namanya pengusaha pasti uangnya banyak,” kata Bapa Darma.

“Terus, kenapa Bapa tidak setuju? Apa Pura itu milik Bapa? Bapa sibuk jadi kelian subak mengajak karma subak membersihkan plastik berserakan di parit. Terus apa yang Bapa dapat?”

Wayan Degag memotong pembicaraan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang diajak bicara. Kelihatan krama subak sangat kesal. Satu persatu berdiri, terus meninggalkan paruman. Wayan Degag bengong. Dikiranya orang-orang tua merasa takut kepada orang seperti Wayan Degag, ternyata tidak.

“Yan, sudah lihat. Krama sudah pulang. Mau bicara apa lagi?”

Bapa Darma menyentil, dan meninggalkan Wayan Degag. Wayan Degag bengong sendirian. Tatapan matanya kosong. Ia kesal. Bayangan uang ratusan juta yang sudah di depan mata ternyata tidak mudah didapat.

[][][]

Setelah menikmati makan siang, Bapa Darma merebahkan tubuhnya di bale-bale. Tatapan matanya lurus ke depan tapi lemah, seolah menyimpan beban yang berlebih. Bapa Darma sudah tiga puluh tahun menjadi kelian subak, dan sejak lima tahun ini merasa bebannya begitu berat.

Sejak peruamahn dibangun dengan memanfaatkan subak tegalan, subak sawah di Subak Yeh Telu juga kena dampaknya. Para pemilik modal mencari tanah lain untuk pengembangan pemukiman. Padahal Subak Yeh Telu merupakan subak sawah yang menjadi tulang punggung bagi kelangsungan penghidupan dari lima banjar.

Warga di banjar itu rata-rata memiliki sawah kisaran tiga puluh are. Panen di Subak Yeh Telu jarang sekali gagal. Dari namanya sudah disebut Yeh Telu. Air yang mengalir di subak ini bersumber dari tiga mata air, sehingga rata-rata panen tiga kali setahun.

“Kalau jabatan Kelian Subak ini diserahkan kepada orang lain, lalu siapa tugas itu diserahkan? Teman-teman petani sudah pada tua.” Bapa Darma ngomong sendirian.

“Mengapa ngomong sendiri, Bli. Kalau tidur, ya tidur. Tidurlah, nanti sore biar sehat agar bisa mencarikan rumput untuk sapi,” kata istri Bapa Darma tiba-tiba.

Bapa Darma terkejut mendengar suara istrinya. Dia terbangun.

“Pikiranku tidak tenang, Men Iluh. Tadi I Wayan Degag sedikit mengancam di paruman,” kata Bapa Darma.

“Tentang apa, Bli?”

Bapa Darma menceritakan apa yang dialaminya. Kecut wajah istri Bapa darma mendengar keluhan suaminya.

“Begini saja, Bli. Serahkan jabatan Kelian Subak. Bli kan sudah tua. Tidak boleh berpikir berat. Bisa struk,” kata istri Bapa Darma.

“Terus bagaimana nasib sawah-sawah nanti?”

“Ya, mau apa lagi. Bli kan tidak ada apa-apanya buat mereka. Kita terlalu kecil bagi mereka yang punya uang. Kalau tanah kita masih bisa dipertahankan, ya pertahankan tanah sawah Bli saja.”

Begitulah percakapan berlangsung. Tidak terasa sudah sore. Bapa Darma pergi ke sawah menyabit rumput, sambil menghalau burung di sawah. Waktu terus berlalu. Kehidupan di Subak Yeh Telu berlangsung normal. Dua bulan lagi panen pertama di bulan Mei akan berlangsung. Tampak buah padi sudah kelihatan besar. Di sudut-sudut sawah, banyak sesaji yang dihaturkan. Memang ada yang memulai ngerasak, sebagai wujud syukur padi sudah selamat.

Bunyi kentongan jelas terdengar. Ibu-ibu dengan setia menghalau burung-burung. Ada juga dengan mengikat plastik warna-warni yang ditarik-tarik sehingga burung pada terbang.

[][][]

Musim panen telah berlalu. Seperti biasa sawah harus dibiarkan selama satu bulan menunggu waktu tepat untuk memulai kerja di sawah. Petani banyak yang bekerja jadi tukang bangunan agar tetap mendapat penghasilan.

Beda dengan Bapa Darma. Dia tiap hari pergi ke sawah karena hanya itu satu-satunya pekerjaannya. Sambil duduk di sawah dia melihat banyak orang bergerombol. Tidak ada yang dia kenal. Tapi di situ dilihatnya Wayan Degag.

Bapa Darma mencoba mendekat.

“Bapa Darma, ini pekerjaan kecil bagi saya. Bapa Doglar sudah menjual sawahnya. Jalan akan diambil dari sini. Melingkar untuk mencari sawah di dalam. Sawah Bapa urus saja sendirian. Sudah tidak perlu,” kata Wayan Degag.

Muncul rasa amarah yang luar biasa di hati Bapa Darma. Tapi dia sadar tidak bisa berbuat apa karena umur sudah tua. Pelan dia menjawab, “Ya, Wayan. Kalau sudah semua sepakat, Bapa tidak bisa melarang karena itu hak mereka menjual.”

“Begitu dah, Baa. Sekarang sudah beres. Milik Bapa biar dah sendirian. Mudah-mudahan ada jalan untuk ke sawah. Tanah di sekeliling Bapa akan semua dipagari.”

Wayan Degag seenaknya meninggalkan Bapa Darma, sambil memegang meteran gulung. Dia bergerak ke sana ke mari membentangkan meteran.

[][][]

Enam bulan sudah berlalu. Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa. Yang masih bertahan hanyalah sawah Bapa Darma, Men Rentug, dan Pan Ciri.

Sawah-sawah itu semua berada di kisaran Pura Subak. Sebagian lagi berada jauh di pinggiran. Mungkin biaya untuk merawat mahal.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Bapa Darma merasa sedih. Yang paling berat dia pikirkan adalah dari mana kini dia dan kawan-kawan masuk untuk melaksanakan upacara di Pura Subak. Jalan ke Pura Subak tertutup pagar.

“Tuh Hyang Widhi. Hyang Dewi Sri. Kuatkan hambamu untuk menjaga tempat sucimu!” Bapa Darma bicara sendiri.

Tabanan, 23-10-2022

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dendeng Asap Babi Hitam dari Desa Panji, Nyaem, Nyaem…

Next Post

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co