8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

DN Sarjana by DN Sarjana
December 18, 2022
in Cerpen
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

ilustrasi tatkala.co

“Bapa Kelian, jangan tenget ya. Subak ini bukan milik Bapa. Jangan sok-sok Bapa membela Pura Subak?”

Bapa Darma, kelian subak yang biasa juga dipanggil dengan nama Bapa Kelian hanya diam mendengar kata-kata I Wayan Degag di tengah paruman atau rapat warga subak.

“Biar Bapa tahu, jangankan Pura Subak, rasanya tanah carik, tanah sawah, semua di subak ini kalau dijual akan dibayar oleh investor. Kok Bapa repot. Bapa duduk manis sudah dapat persenan. Uang warna merah akan bertumpuk-tumpuk di semua saku baju dan celana Bapa!”

I Wayan Degag yang penampilan parlente itu terus berkotbah di depan Bapa Darma dan pengurus subak yang lain. Tangannya penuh cincin dengan permata batu akik. Di lehernya bergelayut kalung emas. I Wayan Degag dengan mulut berbuih terus merayu kelian subak agar mau memindahkan Pura Subak ke tempat lain.

Pura Subak memang sangat strategis tempatnya. Ajakan untuk menjual dan memindahkan Pura Subak sudah sejak lama didengar Bapa Darma. Banyak makelar mendatanginya. Ada yang secara halus, tapi ada juga bernada keras, seperti mengancam. Dengan memindahkan Pura Subak, maka siapa pun, terutama investor, akan mudah membuat jalan menuju areal persawahan di belakang. Jika jalan sudah dibangun maka tanah sawah di belakang Pura Subak satu persatu akan mudah juga untuk bisa dijual.

“Yan, coba duduk dulu. Tidak bagus berdiri seperti itu. Lihat orang-orang tua duduk bersila. Belajarlah menghormati orang tua,” kata Bapa Darma kepada I Wayan Degag dengan suara halus.

I Wayan Degag duduk setelah membuang putung rokok dengan sembarangan.

“Wayan Degag. Bapa mengerti. Apa yang Wayan sampaikan tadi benar. Namanya pengusaha pasti uangnya banyak,” kata Bapa Darma.

“Terus, kenapa Bapa tidak setuju? Apa Pura itu milik Bapa? Bapa sibuk jadi kelian subak mengajak karma subak membersihkan plastik berserakan di parit. Terus apa yang Bapa dapat?”

Wayan Degag memotong pembicaraan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang diajak bicara. Kelihatan krama subak sangat kesal. Satu persatu berdiri, terus meninggalkan paruman. Wayan Degag bengong. Dikiranya orang-orang tua merasa takut kepada orang seperti Wayan Degag, ternyata tidak.

“Yan, sudah lihat. Krama sudah pulang. Mau bicara apa lagi?”

Bapa Darma menyentil, dan meninggalkan Wayan Degag. Wayan Degag bengong sendirian. Tatapan matanya kosong. Ia kesal. Bayangan uang ratusan juta yang sudah di depan mata ternyata tidak mudah didapat.

[][][]

Setelah menikmati makan siang, Bapa Darma merebahkan tubuhnya di bale-bale. Tatapan matanya lurus ke depan tapi lemah, seolah menyimpan beban yang berlebih. Bapa Darma sudah tiga puluh tahun menjadi kelian subak, dan sejak lima tahun ini merasa bebannya begitu berat.

Sejak peruamahn dibangun dengan memanfaatkan subak tegalan, subak sawah di Subak Yeh Telu juga kena dampaknya. Para pemilik modal mencari tanah lain untuk pengembangan pemukiman. Padahal Subak Yeh Telu merupakan subak sawah yang menjadi tulang punggung bagi kelangsungan penghidupan dari lima banjar.

Warga di banjar itu rata-rata memiliki sawah kisaran tiga puluh are. Panen di Subak Yeh Telu jarang sekali gagal. Dari namanya sudah disebut Yeh Telu. Air yang mengalir di subak ini bersumber dari tiga mata air, sehingga rata-rata panen tiga kali setahun.

“Kalau jabatan Kelian Subak ini diserahkan kepada orang lain, lalu siapa tugas itu diserahkan? Teman-teman petani sudah pada tua.” Bapa Darma ngomong sendirian.

“Mengapa ngomong sendiri, Bli. Kalau tidur, ya tidur. Tidurlah, nanti sore biar sehat agar bisa mencarikan rumput untuk sapi,” kata istri Bapa Darma tiba-tiba.

Bapa Darma terkejut mendengar suara istrinya. Dia terbangun.

“Pikiranku tidak tenang, Men Iluh. Tadi I Wayan Degag sedikit mengancam di paruman,” kata Bapa Darma.

“Tentang apa, Bli?”

Bapa Darma menceritakan apa yang dialaminya. Kecut wajah istri Bapa darma mendengar keluhan suaminya.

“Begini saja, Bli. Serahkan jabatan Kelian Subak. Bli kan sudah tua. Tidak boleh berpikir berat. Bisa struk,” kata istri Bapa Darma.

“Terus bagaimana nasib sawah-sawah nanti?”

“Ya, mau apa lagi. Bli kan tidak ada apa-apanya buat mereka. Kita terlalu kecil bagi mereka yang punya uang. Kalau tanah kita masih bisa dipertahankan, ya pertahankan tanah sawah Bli saja.”

Begitulah percakapan berlangsung. Tidak terasa sudah sore. Bapa Darma pergi ke sawah menyabit rumput, sambil menghalau burung di sawah. Waktu terus berlalu. Kehidupan di Subak Yeh Telu berlangsung normal. Dua bulan lagi panen pertama di bulan Mei akan berlangsung. Tampak buah padi sudah kelihatan besar. Di sudut-sudut sawah, banyak sesaji yang dihaturkan. Memang ada yang memulai ngerasak, sebagai wujud syukur padi sudah selamat.

Bunyi kentongan jelas terdengar. Ibu-ibu dengan setia menghalau burung-burung. Ada juga dengan mengikat plastik warna-warni yang ditarik-tarik sehingga burung pada terbang.

[][][]

Musim panen telah berlalu. Seperti biasa sawah harus dibiarkan selama satu bulan menunggu waktu tepat untuk memulai kerja di sawah. Petani banyak yang bekerja jadi tukang bangunan agar tetap mendapat penghasilan.

Beda dengan Bapa Darma. Dia tiap hari pergi ke sawah karena hanya itu satu-satunya pekerjaannya. Sambil duduk di sawah dia melihat banyak orang bergerombol. Tidak ada yang dia kenal. Tapi di situ dilihatnya Wayan Degag.

Bapa Darma mencoba mendekat.

“Bapa Darma, ini pekerjaan kecil bagi saya. Bapa Doglar sudah menjual sawahnya. Jalan akan diambil dari sini. Melingkar untuk mencari sawah di dalam. Sawah Bapa urus saja sendirian. Sudah tidak perlu,” kata Wayan Degag.

Muncul rasa amarah yang luar biasa di hati Bapa Darma. Tapi dia sadar tidak bisa berbuat apa karena umur sudah tua. Pelan dia menjawab, “Ya, Wayan. Kalau sudah semua sepakat, Bapa tidak bisa melarang karena itu hak mereka menjual.”

“Begitu dah, Baa. Sekarang sudah beres. Milik Bapa biar dah sendirian. Mudah-mudahan ada jalan untuk ke sawah. Tanah di sekeliling Bapa akan semua dipagari.”

Wayan Degag seenaknya meninggalkan Bapa Darma, sambil memegang meteran gulung. Dia bergerak ke sana ke mari membentangkan meteran.

[][][]

Enam bulan sudah berlalu. Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa. Yang masih bertahan hanyalah sawah Bapa Darma, Men Rentug, dan Pan Ciri.

Sawah-sawah itu semua berada di kisaran Pura Subak. Sebagian lagi berada jauh di pinggiran. Mungkin biaya untuk merawat mahal.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Bapa Darma merasa sedih. Yang paling berat dia pikirkan adalah dari mana kini dia dan kawan-kawan masuk untuk melaksanakan upacara di Pura Subak. Jalan ke Pura Subak tertutup pagar.

“Tuh Hyang Widhi. Hyang Dewi Sri. Kuatkan hambamu untuk menjaga tempat sucimu!” Bapa Darma bicara sendiri.

Tabanan, 23-10-2022

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dendeng Asap Babi Hitam dari Desa Panji, Nyaem, Nyaem…

Next Post

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co