30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

DN Sarjana by DN Sarjana
December 18, 2022
in Cerpen
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

ilustrasi tatkala.co

“Bapa Kelian, jangan tenget ya. Subak ini bukan milik Bapa. Jangan sok-sok Bapa membela Pura Subak?”

Bapa Darma, kelian subak yang biasa juga dipanggil dengan nama Bapa Kelian hanya diam mendengar kata-kata I Wayan Degag di tengah paruman atau rapat warga subak.

“Biar Bapa tahu, jangankan Pura Subak, rasanya tanah carik, tanah sawah, semua di subak ini kalau dijual akan dibayar oleh investor. Kok Bapa repot. Bapa duduk manis sudah dapat persenan. Uang warna merah akan bertumpuk-tumpuk di semua saku baju dan celana Bapa!”

I Wayan Degag yang penampilan parlente itu terus berkotbah di depan Bapa Darma dan pengurus subak yang lain. Tangannya penuh cincin dengan permata batu akik. Di lehernya bergelayut kalung emas. I Wayan Degag dengan mulut berbuih terus merayu kelian subak agar mau memindahkan Pura Subak ke tempat lain.

Pura Subak memang sangat strategis tempatnya. Ajakan untuk menjual dan memindahkan Pura Subak sudah sejak lama didengar Bapa Darma. Banyak makelar mendatanginya. Ada yang secara halus, tapi ada juga bernada keras, seperti mengancam. Dengan memindahkan Pura Subak, maka siapa pun, terutama investor, akan mudah membuat jalan menuju areal persawahan di belakang. Jika jalan sudah dibangun maka tanah sawah di belakang Pura Subak satu persatu akan mudah juga untuk bisa dijual.

“Yan, coba duduk dulu. Tidak bagus berdiri seperti itu. Lihat orang-orang tua duduk bersila. Belajarlah menghormati orang tua,” kata Bapa Darma kepada I Wayan Degag dengan suara halus.

I Wayan Degag duduk setelah membuang putung rokok dengan sembarangan.

“Wayan Degag. Bapa mengerti. Apa yang Wayan sampaikan tadi benar. Namanya pengusaha pasti uangnya banyak,” kata Bapa Darma.

“Terus, kenapa Bapa tidak setuju? Apa Pura itu milik Bapa? Bapa sibuk jadi kelian subak mengajak karma subak membersihkan plastik berserakan di parit. Terus apa yang Bapa dapat?”

Wayan Degag memotong pembicaraan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang diajak bicara. Kelihatan krama subak sangat kesal. Satu persatu berdiri, terus meninggalkan paruman. Wayan Degag bengong. Dikiranya orang-orang tua merasa takut kepada orang seperti Wayan Degag, ternyata tidak.

“Yan, sudah lihat. Krama sudah pulang. Mau bicara apa lagi?”

Bapa Darma menyentil, dan meninggalkan Wayan Degag. Wayan Degag bengong sendirian. Tatapan matanya kosong. Ia kesal. Bayangan uang ratusan juta yang sudah di depan mata ternyata tidak mudah didapat.

[][][]

Setelah menikmati makan siang, Bapa Darma merebahkan tubuhnya di bale-bale. Tatapan matanya lurus ke depan tapi lemah, seolah menyimpan beban yang berlebih. Bapa Darma sudah tiga puluh tahun menjadi kelian subak, dan sejak lima tahun ini merasa bebannya begitu berat.

Sejak peruamahn dibangun dengan memanfaatkan subak tegalan, subak sawah di Subak Yeh Telu juga kena dampaknya. Para pemilik modal mencari tanah lain untuk pengembangan pemukiman. Padahal Subak Yeh Telu merupakan subak sawah yang menjadi tulang punggung bagi kelangsungan penghidupan dari lima banjar.

Warga di banjar itu rata-rata memiliki sawah kisaran tiga puluh are. Panen di Subak Yeh Telu jarang sekali gagal. Dari namanya sudah disebut Yeh Telu. Air yang mengalir di subak ini bersumber dari tiga mata air, sehingga rata-rata panen tiga kali setahun.

“Kalau jabatan Kelian Subak ini diserahkan kepada orang lain, lalu siapa tugas itu diserahkan? Teman-teman petani sudah pada tua.” Bapa Darma ngomong sendirian.

“Mengapa ngomong sendiri, Bli. Kalau tidur, ya tidur. Tidurlah, nanti sore biar sehat agar bisa mencarikan rumput untuk sapi,” kata istri Bapa Darma tiba-tiba.

Bapa Darma terkejut mendengar suara istrinya. Dia terbangun.

“Pikiranku tidak tenang, Men Iluh. Tadi I Wayan Degag sedikit mengancam di paruman,” kata Bapa Darma.

“Tentang apa, Bli?”

Bapa Darma menceritakan apa yang dialaminya. Kecut wajah istri Bapa darma mendengar keluhan suaminya.

“Begini saja, Bli. Serahkan jabatan Kelian Subak. Bli kan sudah tua. Tidak boleh berpikir berat. Bisa struk,” kata istri Bapa Darma.

“Terus bagaimana nasib sawah-sawah nanti?”

“Ya, mau apa lagi. Bli kan tidak ada apa-apanya buat mereka. Kita terlalu kecil bagi mereka yang punya uang. Kalau tanah kita masih bisa dipertahankan, ya pertahankan tanah sawah Bli saja.”

Begitulah percakapan berlangsung. Tidak terasa sudah sore. Bapa Darma pergi ke sawah menyabit rumput, sambil menghalau burung di sawah. Waktu terus berlalu. Kehidupan di Subak Yeh Telu berlangsung normal. Dua bulan lagi panen pertama di bulan Mei akan berlangsung. Tampak buah padi sudah kelihatan besar. Di sudut-sudut sawah, banyak sesaji yang dihaturkan. Memang ada yang memulai ngerasak, sebagai wujud syukur padi sudah selamat.

Bunyi kentongan jelas terdengar. Ibu-ibu dengan setia menghalau burung-burung. Ada juga dengan mengikat plastik warna-warni yang ditarik-tarik sehingga burung pada terbang.

[][][]

Musim panen telah berlalu. Seperti biasa sawah harus dibiarkan selama satu bulan menunggu waktu tepat untuk memulai kerja di sawah. Petani banyak yang bekerja jadi tukang bangunan agar tetap mendapat penghasilan.

Beda dengan Bapa Darma. Dia tiap hari pergi ke sawah karena hanya itu satu-satunya pekerjaannya. Sambil duduk di sawah dia melihat banyak orang bergerombol. Tidak ada yang dia kenal. Tapi di situ dilihatnya Wayan Degag.

Bapa Darma mencoba mendekat.

“Bapa Darma, ini pekerjaan kecil bagi saya. Bapa Doglar sudah menjual sawahnya. Jalan akan diambil dari sini. Melingkar untuk mencari sawah di dalam. Sawah Bapa urus saja sendirian. Sudah tidak perlu,” kata Wayan Degag.

Muncul rasa amarah yang luar biasa di hati Bapa Darma. Tapi dia sadar tidak bisa berbuat apa karena umur sudah tua. Pelan dia menjawab, “Ya, Wayan. Kalau sudah semua sepakat, Bapa tidak bisa melarang karena itu hak mereka menjual.”

“Begitu dah, Baa. Sekarang sudah beres. Milik Bapa biar dah sendirian. Mudah-mudahan ada jalan untuk ke sawah. Tanah di sekeliling Bapa akan semua dipagari.”

Wayan Degag seenaknya meninggalkan Bapa Darma, sambil memegang meteran gulung. Dia bergerak ke sana ke mari membentangkan meteran.

[][][]

Enam bulan sudah berlalu. Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa. Yang masih bertahan hanyalah sawah Bapa Darma, Men Rentug, dan Pan Ciri.

Sawah-sawah itu semua berada di kisaran Pura Subak. Sebagian lagi berada jauh di pinggiran. Mungkin biaya untuk merawat mahal.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Bapa Darma merasa sedih. Yang paling berat dia pikirkan adalah dari mana kini dia dan kawan-kawan masuk untuk melaksanakan upacara di Pura Subak. Jalan ke Pura Subak tertutup pagar.

“Tuh Hyang Widhi. Hyang Dewi Sri. Kuatkan hambamu untuk menjaga tempat sucimu!” Bapa Darma bicara sendiri.

Tabanan, 23-10-2022

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dendeng Asap Babi Hitam dari Desa Panji, Nyaem, Nyaem…

Next Post

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co