25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

DN Sarjana by DN Sarjana
December 18, 2022
in Cerpen
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

ilustrasi tatkala.co

“Bapa Kelian, jangan tenget ya. Subak ini bukan milik Bapa. Jangan sok-sok Bapa membela Pura Subak?”

Bapa Darma, kelian subak yang biasa juga dipanggil dengan nama Bapa Kelian hanya diam mendengar kata-kata I Wayan Degag di tengah paruman atau rapat warga subak.

“Biar Bapa tahu, jangankan Pura Subak, rasanya tanah carik, tanah sawah, semua di subak ini kalau dijual akan dibayar oleh investor. Kok Bapa repot. Bapa duduk manis sudah dapat persenan. Uang warna merah akan bertumpuk-tumpuk di semua saku baju dan celana Bapa!”

I Wayan Degag yang penampilan parlente itu terus berkotbah di depan Bapa Darma dan pengurus subak yang lain. Tangannya penuh cincin dengan permata batu akik. Di lehernya bergelayut kalung emas. I Wayan Degag dengan mulut berbuih terus merayu kelian subak agar mau memindahkan Pura Subak ke tempat lain.

Pura Subak memang sangat strategis tempatnya. Ajakan untuk menjual dan memindahkan Pura Subak sudah sejak lama didengar Bapa Darma. Banyak makelar mendatanginya. Ada yang secara halus, tapi ada juga bernada keras, seperti mengancam. Dengan memindahkan Pura Subak, maka siapa pun, terutama investor, akan mudah membuat jalan menuju areal persawahan di belakang. Jika jalan sudah dibangun maka tanah sawah di belakang Pura Subak satu persatu akan mudah juga untuk bisa dijual.

“Yan, coba duduk dulu. Tidak bagus berdiri seperti itu. Lihat orang-orang tua duduk bersila. Belajarlah menghormati orang tua,” kata Bapa Darma kepada I Wayan Degag dengan suara halus.

I Wayan Degag duduk setelah membuang putung rokok dengan sembarangan.

“Wayan Degag. Bapa mengerti. Apa yang Wayan sampaikan tadi benar. Namanya pengusaha pasti uangnya banyak,” kata Bapa Darma.

“Terus, kenapa Bapa tidak setuju? Apa Pura itu milik Bapa? Bapa sibuk jadi kelian subak mengajak karma subak membersihkan plastik berserakan di parit. Terus apa yang Bapa dapat?”

Wayan Degag memotong pembicaraan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang diajak bicara. Kelihatan krama subak sangat kesal. Satu persatu berdiri, terus meninggalkan paruman. Wayan Degag bengong. Dikiranya orang-orang tua merasa takut kepada orang seperti Wayan Degag, ternyata tidak.

“Yan, sudah lihat. Krama sudah pulang. Mau bicara apa lagi?”

Bapa Darma menyentil, dan meninggalkan Wayan Degag. Wayan Degag bengong sendirian. Tatapan matanya kosong. Ia kesal. Bayangan uang ratusan juta yang sudah di depan mata ternyata tidak mudah didapat.

[][][]

Setelah menikmati makan siang, Bapa Darma merebahkan tubuhnya di bale-bale. Tatapan matanya lurus ke depan tapi lemah, seolah menyimpan beban yang berlebih. Bapa Darma sudah tiga puluh tahun menjadi kelian subak, dan sejak lima tahun ini merasa bebannya begitu berat.

Sejak peruamahn dibangun dengan memanfaatkan subak tegalan, subak sawah di Subak Yeh Telu juga kena dampaknya. Para pemilik modal mencari tanah lain untuk pengembangan pemukiman. Padahal Subak Yeh Telu merupakan subak sawah yang menjadi tulang punggung bagi kelangsungan penghidupan dari lima banjar.

Warga di banjar itu rata-rata memiliki sawah kisaran tiga puluh are. Panen di Subak Yeh Telu jarang sekali gagal. Dari namanya sudah disebut Yeh Telu. Air yang mengalir di subak ini bersumber dari tiga mata air, sehingga rata-rata panen tiga kali setahun.

“Kalau jabatan Kelian Subak ini diserahkan kepada orang lain, lalu siapa tugas itu diserahkan? Teman-teman petani sudah pada tua.” Bapa Darma ngomong sendirian.

“Mengapa ngomong sendiri, Bli. Kalau tidur, ya tidur. Tidurlah, nanti sore biar sehat agar bisa mencarikan rumput untuk sapi,” kata istri Bapa Darma tiba-tiba.

Bapa Darma terkejut mendengar suara istrinya. Dia terbangun.

“Pikiranku tidak tenang, Men Iluh. Tadi I Wayan Degag sedikit mengancam di paruman,” kata Bapa Darma.

“Tentang apa, Bli?”

Bapa Darma menceritakan apa yang dialaminya. Kecut wajah istri Bapa darma mendengar keluhan suaminya.

“Begini saja, Bli. Serahkan jabatan Kelian Subak. Bli kan sudah tua. Tidak boleh berpikir berat. Bisa struk,” kata istri Bapa Darma.

“Terus bagaimana nasib sawah-sawah nanti?”

“Ya, mau apa lagi. Bli kan tidak ada apa-apanya buat mereka. Kita terlalu kecil bagi mereka yang punya uang. Kalau tanah kita masih bisa dipertahankan, ya pertahankan tanah sawah Bli saja.”

Begitulah percakapan berlangsung. Tidak terasa sudah sore. Bapa Darma pergi ke sawah menyabit rumput, sambil menghalau burung di sawah. Waktu terus berlalu. Kehidupan di Subak Yeh Telu berlangsung normal. Dua bulan lagi panen pertama di bulan Mei akan berlangsung. Tampak buah padi sudah kelihatan besar. Di sudut-sudut sawah, banyak sesaji yang dihaturkan. Memang ada yang memulai ngerasak, sebagai wujud syukur padi sudah selamat.

Bunyi kentongan jelas terdengar. Ibu-ibu dengan setia menghalau burung-burung. Ada juga dengan mengikat plastik warna-warni yang ditarik-tarik sehingga burung pada terbang.

[][][]

Musim panen telah berlalu. Seperti biasa sawah harus dibiarkan selama satu bulan menunggu waktu tepat untuk memulai kerja di sawah. Petani banyak yang bekerja jadi tukang bangunan agar tetap mendapat penghasilan.

Beda dengan Bapa Darma. Dia tiap hari pergi ke sawah karena hanya itu satu-satunya pekerjaannya. Sambil duduk di sawah dia melihat banyak orang bergerombol. Tidak ada yang dia kenal. Tapi di situ dilihatnya Wayan Degag.

Bapa Darma mencoba mendekat.

“Bapa Darma, ini pekerjaan kecil bagi saya. Bapa Doglar sudah menjual sawahnya. Jalan akan diambil dari sini. Melingkar untuk mencari sawah di dalam. Sawah Bapa urus saja sendirian. Sudah tidak perlu,” kata Wayan Degag.

Muncul rasa amarah yang luar biasa di hati Bapa Darma. Tapi dia sadar tidak bisa berbuat apa karena umur sudah tua. Pelan dia menjawab, “Ya, Wayan. Kalau sudah semua sepakat, Bapa tidak bisa melarang karena itu hak mereka menjual.”

“Begitu dah, Baa. Sekarang sudah beres. Milik Bapa biar dah sendirian. Mudah-mudahan ada jalan untuk ke sawah. Tanah di sekeliling Bapa akan semua dipagari.”

Wayan Degag seenaknya meninggalkan Bapa Darma, sambil memegang meteran gulung. Dia bergerak ke sana ke mari membentangkan meteran.

[][][]

Enam bulan sudah berlalu. Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa. Yang masih bertahan hanyalah sawah Bapa Darma, Men Rentug, dan Pan Ciri.

Sawah-sawah itu semua berada di kisaran Pura Subak. Sebagian lagi berada jauh di pinggiran. Mungkin biaya untuk merawat mahal.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Bapa Darma merasa sedih. Yang paling berat dia pikirkan adalah dari mana kini dia dan kawan-kawan masuk untuk melaksanakan upacara di Pura Subak. Jalan ke Pura Subak tertutup pagar.

“Tuh Hyang Widhi. Hyang Dewi Sri. Kuatkan hambamu untuk menjaga tempat sucimu!” Bapa Darma bicara sendiri.

Tabanan, 23-10-2022

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dendeng Asap Babi Hitam dari Desa Panji, Nyaem, Nyaem…

Next Post

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co