23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
December 10, 2022
in Cerpen
Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

TETANGGA sebelah rumahku gemar memelihara merpati. Ia pecinta merpati. Beberapa penyuka merpati berkunjung ke rumahnya. Ia memang mengembangkan merpati. Ia blasterkan beberapa jenis merpati. Merpati khas Bali dikawinkan dengan merpati Jawa. Hasilnya lumayan juga. Jual-beli merpati terjadi di rumahnya. Terkadang memanfaatkan teknologi, ia share di FB agar datang pembeli ke rumahnya.

Merpati-merpati miliknya memang dikenal karena gesit terbangnya. Terkadang sampai meninggi dipeluk awan. Mata tetangga sebelah rumahku itu menatap ke langit. Matanya dimanjakan oleh liukkan merpati, lebih-lebih saat merpatinya menyatu dengan merpati lain.

Ia suka berlama-lama menungu merpatinya terbang. Wajahnya sumringah saat merpati itu bisa terbang tinggi. Itu pertanda merpatinya berkualitas. Ada satu merpati yang tak pernah dilepas kepada siapapun.

Merpati merah. Merpati hasil kawin persilangan itu. Saat terbang, merpati merah itu menuntun merpati-merpati lainnya. Ia meliukkan tubuhnya, merpati lainnya akan meliukkan tubuh juga. Jadilah ia idola di kalangan merpati. Suaranya juga berbeda dengan merpati-merpati lainnya.

“Kwakkwak kruk! Kwakkwak kruuuuuuuuuuuuuuuk Kwak kruuuuuuuuuuuuuuuuuuuk!” Suaranya memanjang. Itu digemari oleh pencita merpati. Ekornya dikibas-kibaskannya.

Jika terbang sampai larut petang, dapat dipastikan akan ada merpati lain masuk dalam perangkapnya. Entah sudah beberapa merpati menjadi cundang. Rata-rata cundangnya berbulu hitam putih. Ekornya putih, kepalanya hitam atau sebaliknya. Senanglah pemilik merpati merah itu, ada dua kemungkinan cundangnya dijadikan lawar atau dijual kembali. Istrinya akan merasa suka jika dijual. Berbeda dengannya. Ia lebih suka kalau dijadikan lawar karena tuak asli sudah siap untuk menjadi temannya.

Dikisahkan kemudian ada seorang pecinta merpati lain. Pecinta merpati itu mengerahkan berbagai upaya agar bisa memilik merpati merah itu. Tak tanggung-tanggung jutaan uang berani dikeluarkan jika merpati merah itu dilepas. Tapi pemiliknya  hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Jika ini kulepas, sama artinya tak sempat membuat lawar merpati.” Ia tertawa saat menyampaikan hal itu.

Gronong merpati merah juga khusus dibuatkan. Ia pesan gronong yang terbuat dari kuningan dengan khiasan naga yang sedang mengeluarkan apinya. Naga api itu diyakini bisa membutakan hati merpati yang masuk perangkapnya.

“Sudahlah. Yang lain saja dibeli. Jangan merpati merah ini. Tak baik menjual yang sudah banyak berjasa pada perjalanan hidup.”

Pecinta merpati merah yang ngotot ingin membeli merpati itu pulang. Ia tak mau menyerah karena merpati peliharaannya tak ada yang memiliki kelebihan dari merpati merah itu. Padahal, sudah beberapa kali melakukan perkawinan silang juga tidak ada yang menetaskan merpati merah. Induknya sudah merah-merah, yang menetas kebanyakan hitam putih.

“Ada yang salah dengan perkawinannya. Perkawianan tidak ada yang salah. Yang salah memadukan perkawinan,” bisiknya. “Ah, tidak boleh menyerah sebelum berhasil.”

Ia kemudian mengintip cara pemilik merpati mengawinkan merpati merah agar unggul dalam merebut hati merpati lainnya.

Senja itu, ia pura-pura ke rumah si pemilik merpati untuk menikmati lawar merpati. Tuak satu jirigen berada di sampingnya. Aroma lawar menyengat hidung. Air liurnya dirasakannya mau keluar.

“Silakan dicoba. Sudah kusembahkan lawar ini. Tadi istriku sudah mebanten. Tak usah ragu. mari menikmati tuak dengan lawar merpati.”

Lelaki pencinta merpati merah terdiam. Ia berpikir, “Apa bedanya dengan memakan merpatiku?”

Ia tak mau menggerakkan tangannya untuk mencicipi lawar merpati. Ia merasakan cintanya telah dicabik-cabik dengan ratusan kali suara kapak. Dengan puluhan kali tangan meremukkan cintanya pada merpati. Burung simbol perdamaian itu dirasakannya tak mampu bersuara lagi. Ia tinggalkan tempat pemilik merpati merah. Hatinya hanya satu bisa memiliki merpati merah.

“Maaf, untuk yang satu ini. Tiang tak mau. Mungkin lain kali bisa bersama menikmati lawar. Permisi, tiang pamit pulang.”

Bau tuak dan lawar merpati menguntit perjalanan pencinta merpati itu. Ia seperti dikejar- kejar  dengan beragam warna merpati. Ia seakan merasakan agar merpati-merpati itu dibebaskan dari kurungan.

“Ah, kenapa aku ini terbius dengan merpati merah saja. Apa karena setiap ia terbang selalu medapatkan cundang atau ada hal lain?”

Senja itu, pecinta merpati merah itu berupaya menenangkan hatinya. Ia lepaskan sekian keinginan tentang merpati merah. Setiap ada merpati yang melintas di atas rumahnya ia pura-pura tak mendengarnya. Istrinya mendekatinya, “Tumben tak tergoda sama merpati?”

Ia tersenyum tipis. “Tak selamanya terikat pada sebuah keinginan. Keinginan selalu mengikat pikiran. Senja ini, Beli mau melepaskan segala keinginan tentang merpati. Beli ingin menyendiri. “

“Menyendiri Beli? Aku ini istrimu. Memangnya Beli tak menganggap penting seorang istri? Kalau tiang tahu seperti ini, pasti tiang menolak cinta Beli. Untuk apa? Sekarang sudah memudar? Itu cintamu sudah diterbangkan merpati begitu khan? Dasar lelaki ingin menang sendiri. Baiklah kalau begitu, tiang pamit saja dari sini!”

“Waduh, bukan ketenangan yang Beli dapatkan justru sebaliknya. Bukan itu maksudnya? Beli ingin melihat diri Beli sendiri. Kenapa keinginan Beli pada merpati merah tak bisa diputuskan?”

“Ah, itu hanya alasan saja. Sudah, tiang mau kembali ke rumah asal.”

“Tidak bisa.” Laki-laki pecinta merpati itu cepat-cepat memeluknya. Ia tak mau kehilangan istrinya. Belahan hatinya tak boleh sakit. Istri yang telah menjaganya selama ini tak boleh tersakiti karena sebuah keinginan pada merpati merah. Ketenangan istrinya kembali pulih. Laki-laki pecinta merpati merah melupakan keinginannya pada merpati merah.

Malam memanggil. Keduanya menikmati malam. Lak-laki pecinta merpati merah itu terbawa ke dunia merpati merah. Ia lihat merpati merah menari-mari di pelupuk matanya, bulunya merah menyala. Matanya menjadi silau. Kamarnya dipenuhi dengan warna merah. Paruh merpati terbuka. Tubuhnya tertelan. “Di mana aku ini?” bisiknya.

“Di dunia merpati. Keinginanmu telah kutelan. Lihatlah di sana!” Ia baca di jantung merpati tertulis namanya beserta keinginannya. ”Jika keinginanmu memenuhi jantungmu? Apa yang terjadi?”

“Mati,” jawabnya singkat.

“Kalau sudah tahu seperti itu, kenapa tidak kau urungkan keinginanmu pada merpati merah?”

“Aku ingin mendapatkan cundang.”

“Berarti?”

“Tidak bisa.”

“Kalau begitu, mana yang kau pilih. Jantung apa keinginan?”

Laki-laki pencinta merpati itu meraba istrinya. “Bangun Bu, Bangun Bu!”

“Ah, Beli sudah tua masih saja berkeinginan.”

“Ini jantungku Bu.”

Istri terperanjat. Ia tahu suaminya pernah terganggu pada jantungnya. [T]

Catatan:

Beli: kakak

Tiang: saya

Mebanten: menghaturkan sajen

[][][]

KLIK untuk baca CERPEN lainnya

Wanita Senja
Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat
Negeri Kopi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka Belajar di SMPN 2 Sawan: Belajar Memasak Dulu, Bikin Bazar Kemudian

Next Post

Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co