22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
June 8, 2023
in Ulas Film
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!

MENURUT teman-teman, bagaimana sistem perkuliahan kita saat ini? Khususnya kampus yang berada di beberapa titik kota Indonesia, yang mungkin, namanya masih belum sebanding dengan kampus-kampus bergengsi seperti Oxford University di Inggris atau Harvard University di Amerika Serikat.

Wajah kampus kita saat ini memang beragam. Ada kampus yang memiliki sistem, peraturan, layaknya Orde Baru: otoriter, anti kritik, dan menginginkan mahasiswanya selalu tunduk-patuh terhadap peraturan, tidak usah ikut-ikutan hal-hal yang tidak jelas, sudah, fokus kuliah saja.

Sebaliknya, ada juga kampus yang terbuka (bukan UT), tak anti kritik, membebaskan mahasiswa untuk berkreasi dan berekspresi, dosennya tidak kolot (asyik), dan tentu menyenangkan bisa kuliah di kampus seperti ini.

Dan berbicara mengenai sistem kampus atau perkuliahan, ada salah satu film yang dirasa releate untuk menggambarkan bagaimana kehidupan mahasiswa di dunia bernama kampus.

Film ini dengan gamblang menyampaikan kritik tentang sistem pendidikan yang mendewakan teksbook dan hafalan. Juga, “meludahi” sistem perkuliahan yang seperti sirkus. Kemudian, mengolok-olok ketakutan-ketakutan yang dialami mahasiswa terhadap sistem pendidikan—dan agama—yang penuh tekanan.

Menghajar sistem rangking yang tidak hanya melahirkan persaingan yang tak sehat, tapi juga kebiasaan saling memakan di antara sesama. Dan, tentu saja, sebuah cara berpikir yang menyamakan pendidikan dengan selembar ijazah!  Hingga bagaimana seharusnya mengejar keterampilan dan pengetahuan tanpa bertumpu pada pengakuan orang lain.

Semua hal itu, dapat kita jumpai dalam film India yang berjudul 3 Idiots, yang dirilis pada tahun 2009. Film ini dibintangi oleh Aamir Khan (sebagai Rancho), R. Madhavan (sebagai Farhan), Sharman Joshi (sebagai Raju), Kareena Kapoor (sebagai Pia) dan Booman Irani (sebagai Viru Sahastrabudi).

Seperti kata Mahfud Ikhwan dalam blognya, Dushman Duniya Ka (aku dan film india melawan dunia), dalam film ini kita akan menemukan kehidupan kampus, panorama ruang kuliah, hingga sesak pengap asrama, muncul di layar lebar dengan cara yang jauh ‘lebih layak dan semestinya’.

Lebih lanjut Mahfud menulis, dalam film ini, kita bisa dapatkan suasana kelas, perdebatan, hingga kegelisahan intelektual dan masa depan yang serupa dengan, ambil contoh, With Honor, Dead Poet Society, atau Good Will Hunting. Ditambah adegan-adegan mabuk-mabukan di malam hari, botol-botol anggur di bawah kursi, dan olok-olok pekok seputar Tuhan dan agama, membuat suasana kampus di 3 Idiots menjadi lebih lengkap lagi.

Maka, bagi mereka yang pernah menghuni bedeng-bedeng di pojok fakultas, atau yang pernah menumpang tidur, mandi, cuci, hingga menggarap skripsi di markas-markas unit kegiatan mahasiswa, 3 Idiots akan menjadi sebuah mesin waktu dan wahana nostalgia yang lumayan menjanjikan.

Masih mengutip tulisan Mahfud Ikhwan, film ini, oleh sutradaranya, Rajkumar Hirani, ditujukan untuk menjadi komentar sosial atas realitas yang terjadi di ranah pendidikan India, khususnya pendidikan tinggi. Seperti yang bisa ditangkap dalam dialog antara mahasiswa Rancho dan Pak Rektor Viru, India dihantui oleh angka bunuh diri pelajar tertinggi di dunia.

Hal ini, menurut Rancho, dan tentu saja menurut film ini, dikarenakan pendidikan di India memperlakukan peserta didiknya seperti mesin; dengan ujung dari semuanya semata adalah pekerjaan dan kesuksesan material.

Sistem perkuliahan seperti dunia sirkus, penuh tekanan!

Sistem perkuliahan yang terlihat seperti sirkus membuat mahasiswanya merasa tertekan dan terbebani. Seperti yang dikutip dari dialognya Rancho, ia mengatakan, hidup ini layaknya seperti dunia sirkus yang mengharuskan segala sesuatu di dalamnya untuk terlatih dengan keras. Tidak memperdulikan apakah mereka merasa nyaman atau malah sebaliknya merasa tertekan.

Sama halnya seperti sistem perkuliahan saat ini, di mana mahasiswa dituntut untuk terus berlomba-lomba dalam meraih nilai, meraih prestasi, dan dituntut untuk terus bersaing.

Dosen tak ubahnya seperti seorang pelatih dalam dunia sirkus yang memegang cambuk untuk membuat seekor singa atau gajah tunduk pada perintahnya. Hal itu bukannya membuat mereka bertambah pintar, tapi lebih kepada rasa takut terhadap cambuk yang membayangi pikiran mereka. Tentu, hal ini akan terlihat seperti tekanan yang sangat kuat terhadap mental mereka.

Hal itu juga kerap terjadi pada sebagian mahasiswa dalam dunia perkuliahan. Di mana mahasiswa tidak berani menyuarakan pendapatnya, atau memiliki sudut pandang yang berbeda dari dosennya—karena itu akan berpengaruh pada nilai, dan proses kelulusan mereka nantinya.

Tak jarang, beberapa mahasiswa hanya mengerjakan tugas layaknya seperti mesin, yang sudah di program oleh sistem kampus. Yang mereka kerjakan hanya sekadar untuk memenuhi tugas mata kuliah atau hanya sebatas hadir dalam setiap kegiatan di kampus. Sehingga tidak ada pembelajaran yang mahasiswa dapatkan dari hal tersebut, melainkan hanya ketakutan—dan tekanan—yang menyelimuti pikirannya.

Dalam film 3 Idiots, hal ini digambarkan dengan kondisi dari salah satu mahasiswa genius yang bernama Joy Lobo. Ia merupakan mahasiswa yang terobsesi dengan mesin, sehingga projek akhir kuliahnya ia membuat semacam drone, namun karyanya itu dipandang aneh dan membuang-buang waktu oleh Profesor Viru Sahastrabudi.

Joy Lobo tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan penemuannya, dan diancam untuk tidak diluluskan pada tahun tersebut. Sehingga, rasa putus asa dan ketakutan itu membuatnya memutuskan untuk bunuh diri, karena beban tekanan mental yang dihadapinya.

Sistem otoriter yang diterapkan

Dalam film 3 Idiots, tokoh yang menerapkan sistem otoriter itu adalah Profesor Viru Sahastrabudi, rektor kampus Imperial College of Engineering (ICE). Ia juga menerapkan sistem tersebut kepada keluarganya. Jika ia memiliki anak perempuan, harus menjadi seorang dokter. Jika anak laki-laki yang terlahir, harus menjadi insinyur.

Hal tersebut tentunya sangat bertentangan dengan prinsip hak asasi—karena anak-anak juga memiliki haknya sendiri untuk memilih apa yang mereka suka. Sehingga, anak laki-laki dari Viru Sahastrabudi meninggal bunuh diri, karena sudah tidak kuat dengan sistem yang dibuat oleh ayahnya sendiri—yang memaksanya untuk sekolah dan menjadi seorang iinsinyur.

Sistem otoriter ini juga ia terapkan di kampusnya, di mana tidak ada yang boleh menyangkal semua peraturan yang telah dibuat. Dan mengharuskan mahasiswanya untuk terus berlomba-lomba dalam menjalani dunia ini, untuk bisa menjadi yang nomor satu.

“Hidup ini adalah perlombaan, menjadi yang terbaik adalah tujuan yang harus dicapai, kita harus mampu menjadi burung Cuckoo yang tidak pernah membuat sarangnya sendiri, tapi dia mengakui sarang burung lain dengan mendepak telur-telur burung tersebut dari sarangnya,” begitulah pidato Viru Sahastrabudi yang terus diulang-ulang setiap ada mahasiswa baru.

Sistem otoriter seperti ini sudah seharusnya dihindari, jika pada akhirnya akan menimbulkan rasa tertekan kepada orang lain. Selain itu, hilangnya kebebasan seseorang dalam mengekspresikan dirinya sendiri juga dipandang kurang baik, karena dapat menimbulkan mental illness bagi mereka yang tidak memiliki pengendalian diri yang kuat.

Tak jarang, kita temui mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan karena tugas menumpuk yang diberikan, dan dikejar deadline yang tidak mengenal waktu.

Alih-alih menjadi paham dengan pelajaran-pelajaran yang didapatnya, mahasiswa hanya akan fokus kepada bagaimana cara untuk menyelesaikan tugas tersebut sampai selesai, dan pada akhirnya tidak ada pembelajaran yang mereka dapatkan. Miris![T]

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Lima Film Program Purwa Carita Campuhan: Karya yang Lengkap, Klise, Ketengan, dan Terkesan Main-main
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Tags: filmfilm layar lebarUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Next Post

Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co