13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
June 8, 2023
in Ulas Film
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!

MENURUT teman-teman, bagaimana sistem perkuliahan kita saat ini? Khususnya kampus yang berada di beberapa titik kota Indonesia, yang mungkin, namanya masih belum sebanding dengan kampus-kampus bergengsi seperti Oxford University di Inggris atau Harvard University di Amerika Serikat.

Wajah kampus kita saat ini memang beragam. Ada kampus yang memiliki sistem, peraturan, layaknya Orde Baru: otoriter, anti kritik, dan menginginkan mahasiswanya selalu tunduk-patuh terhadap peraturan, tidak usah ikut-ikutan hal-hal yang tidak jelas, sudah, fokus kuliah saja.

Sebaliknya, ada juga kampus yang terbuka (bukan UT), tak anti kritik, membebaskan mahasiswa untuk berkreasi dan berekspresi, dosennya tidak kolot (asyik), dan tentu menyenangkan bisa kuliah di kampus seperti ini.

Dan berbicara mengenai sistem kampus atau perkuliahan, ada salah satu film yang dirasa releate untuk menggambarkan bagaimana kehidupan mahasiswa di dunia bernama kampus.

Film ini dengan gamblang menyampaikan kritik tentang sistem pendidikan yang mendewakan teksbook dan hafalan. Juga, “meludahi” sistem perkuliahan yang seperti sirkus. Kemudian, mengolok-olok ketakutan-ketakutan yang dialami mahasiswa terhadap sistem pendidikan—dan agama—yang penuh tekanan.

Menghajar sistem rangking yang tidak hanya melahirkan persaingan yang tak sehat, tapi juga kebiasaan saling memakan di antara sesama. Dan, tentu saja, sebuah cara berpikir yang menyamakan pendidikan dengan selembar ijazah!  Hingga bagaimana seharusnya mengejar keterampilan dan pengetahuan tanpa bertumpu pada pengakuan orang lain.

Semua hal itu, dapat kita jumpai dalam film India yang berjudul 3 Idiots, yang dirilis pada tahun 2009. Film ini dibintangi oleh Aamir Khan (sebagai Rancho), R. Madhavan (sebagai Farhan), Sharman Joshi (sebagai Raju), Kareena Kapoor (sebagai Pia) dan Booman Irani (sebagai Viru Sahastrabudi).

Seperti kata Mahfud Ikhwan dalam blognya, Dushman Duniya Ka (aku dan film india melawan dunia), dalam film ini kita akan menemukan kehidupan kampus, panorama ruang kuliah, hingga sesak pengap asrama, muncul di layar lebar dengan cara yang jauh ‘lebih layak dan semestinya’.

Lebih lanjut Mahfud menulis, dalam film ini, kita bisa dapatkan suasana kelas, perdebatan, hingga kegelisahan intelektual dan masa depan yang serupa dengan, ambil contoh, With Honor, Dead Poet Society, atau Good Will Hunting. Ditambah adegan-adegan mabuk-mabukan di malam hari, botol-botol anggur di bawah kursi, dan olok-olok pekok seputar Tuhan dan agama, membuat suasana kampus di 3 Idiots menjadi lebih lengkap lagi.

Maka, bagi mereka yang pernah menghuni bedeng-bedeng di pojok fakultas, atau yang pernah menumpang tidur, mandi, cuci, hingga menggarap skripsi di markas-markas unit kegiatan mahasiswa, 3 Idiots akan menjadi sebuah mesin waktu dan wahana nostalgia yang lumayan menjanjikan.

Masih mengutip tulisan Mahfud Ikhwan, film ini, oleh sutradaranya, Rajkumar Hirani, ditujukan untuk menjadi komentar sosial atas realitas yang terjadi di ranah pendidikan India, khususnya pendidikan tinggi. Seperti yang bisa ditangkap dalam dialog antara mahasiswa Rancho dan Pak Rektor Viru, India dihantui oleh angka bunuh diri pelajar tertinggi di dunia.

Hal ini, menurut Rancho, dan tentu saja menurut film ini, dikarenakan pendidikan di India memperlakukan peserta didiknya seperti mesin; dengan ujung dari semuanya semata adalah pekerjaan dan kesuksesan material.

Sistem perkuliahan seperti dunia sirkus, penuh tekanan!

Sistem perkuliahan yang terlihat seperti sirkus membuat mahasiswanya merasa tertekan dan terbebani. Seperti yang dikutip dari dialognya Rancho, ia mengatakan, hidup ini layaknya seperti dunia sirkus yang mengharuskan segala sesuatu di dalamnya untuk terlatih dengan keras. Tidak memperdulikan apakah mereka merasa nyaman atau malah sebaliknya merasa tertekan.

Sama halnya seperti sistem perkuliahan saat ini, di mana mahasiswa dituntut untuk terus berlomba-lomba dalam meraih nilai, meraih prestasi, dan dituntut untuk terus bersaing.

Dosen tak ubahnya seperti seorang pelatih dalam dunia sirkus yang memegang cambuk untuk membuat seekor singa atau gajah tunduk pada perintahnya. Hal itu bukannya membuat mereka bertambah pintar, tapi lebih kepada rasa takut terhadap cambuk yang membayangi pikiran mereka. Tentu, hal ini akan terlihat seperti tekanan yang sangat kuat terhadap mental mereka.

Hal itu juga kerap terjadi pada sebagian mahasiswa dalam dunia perkuliahan. Di mana mahasiswa tidak berani menyuarakan pendapatnya, atau memiliki sudut pandang yang berbeda dari dosennya—karena itu akan berpengaruh pada nilai, dan proses kelulusan mereka nantinya.

Tak jarang, beberapa mahasiswa hanya mengerjakan tugas layaknya seperti mesin, yang sudah di program oleh sistem kampus. Yang mereka kerjakan hanya sekadar untuk memenuhi tugas mata kuliah atau hanya sebatas hadir dalam setiap kegiatan di kampus. Sehingga tidak ada pembelajaran yang mahasiswa dapatkan dari hal tersebut, melainkan hanya ketakutan—dan tekanan—yang menyelimuti pikirannya.

Dalam film 3 Idiots, hal ini digambarkan dengan kondisi dari salah satu mahasiswa genius yang bernama Joy Lobo. Ia merupakan mahasiswa yang terobsesi dengan mesin, sehingga projek akhir kuliahnya ia membuat semacam drone, namun karyanya itu dipandang aneh dan membuang-buang waktu oleh Profesor Viru Sahastrabudi.

Joy Lobo tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan penemuannya, dan diancam untuk tidak diluluskan pada tahun tersebut. Sehingga, rasa putus asa dan ketakutan itu membuatnya memutuskan untuk bunuh diri, karena beban tekanan mental yang dihadapinya.

Sistem otoriter yang diterapkan

Dalam film 3 Idiots, tokoh yang menerapkan sistem otoriter itu adalah Profesor Viru Sahastrabudi, rektor kampus Imperial College of Engineering (ICE). Ia juga menerapkan sistem tersebut kepada keluarganya. Jika ia memiliki anak perempuan, harus menjadi seorang dokter. Jika anak laki-laki yang terlahir, harus menjadi insinyur.

Hal tersebut tentunya sangat bertentangan dengan prinsip hak asasi—karena anak-anak juga memiliki haknya sendiri untuk memilih apa yang mereka suka. Sehingga, anak laki-laki dari Viru Sahastrabudi meninggal bunuh diri, karena sudah tidak kuat dengan sistem yang dibuat oleh ayahnya sendiri—yang memaksanya untuk sekolah dan menjadi seorang iinsinyur.

Sistem otoriter ini juga ia terapkan di kampusnya, di mana tidak ada yang boleh menyangkal semua peraturan yang telah dibuat. Dan mengharuskan mahasiswanya untuk terus berlomba-lomba dalam menjalani dunia ini, untuk bisa menjadi yang nomor satu.

“Hidup ini adalah perlombaan, menjadi yang terbaik adalah tujuan yang harus dicapai, kita harus mampu menjadi burung Cuckoo yang tidak pernah membuat sarangnya sendiri, tapi dia mengakui sarang burung lain dengan mendepak telur-telur burung tersebut dari sarangnya,” begitulah pidato Viru Sahastrabudi yang terus diulang-ulang setiap ada mahasiswa baru.

Sistem otoriter seperti ini sudah seharusnya dihindari, jika pada akhirnya akan menimbulkan rasa tertekan kepada orang lain. Selain itu, hilangnya kebebasan seseorang dalam mengekspresikan dirinya sendiri juga dipandang kurang baik, karena dapat menimbulkan mental illness bagi mereka yang tidak memiliki pengendalian diri yang kuat.

Tak jarang, kita temui mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan karena tugas menumpuk yang diberikan, dan dikejar deadline yang tidak mengenal waktu.

Alih-alih menjadi paham dengan pelajaran-pelajaran yang didapatnya, mahasiswa hanya akan fokus kepada bagaimana cara untuk menyelesaikan tugas tersebut sampai selesai, dan pada akhirnya tidak ada pembelajaran yang mereka dapatkan. Miris![T]

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Lima Film Program Purwa Carita Campuhan: Karya yang Lengkap, Klise, Ketengan, dan Terkesan Main-main
Aurora, Jeritan Hati si Anak Tengah | Catatan Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Tags: filmfilm layar lebarUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Next Post

Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Tiga Perda Disahkan, Ketua DPRD Buleleng Minta Pemerintah Langsung Tindaklanjuti dengan Program

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co