6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
September 17, 2023
in Ulas Film
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

TANGGAL 22 Maret 2016 di Brussels, Belgia, terjadi aksi terorisme yang terkoordinasi—dilancarkan oleh sekolompok ekstrimisme Islam di dua tempat yang berbeda. Pertama, bom diledakkan di Bandara Internasional Brussels. Kedua, ledakan besar terjadi lagi di kereta yang meninggalkan stasiun metro Maalbeek. Sementara serangan ketiga berbuah gagal, pelaku melarikan diri dari bandara tanpa meledakkan bomnya, yang nantinya ditemukan saat penggeledahan berlangsung.

Aksi keji ini mengakibatkan sekitar 32 orang tewas, lebih dari 300 orang mengalami luka-luka, dan nyaris seluruh warga Belgia melumpuhkan kepercayaannya atas komunitas Islam dan etnis Timur Tengah—mereka kembali menyecap trauma kolektif jangka panjang dan melanggengkan kembali stereotip prematur.

Dari sanalah, film Ma Gueule tahun 2022 lahir dan bereaksi. Film pendek produksi Belgia yang disutradarai Grégory Carnoli dan Thibaut Wohlfahrt tersebut berupaya menjadi, entah sintesis fenomenologi atau sekadar gambaran congkak atas stereotip prematur yang mengakar kuat di jantung eropa, khususnya Belgia modern ini.

Ma Gueule adalah salah satu film pendek yang diputar dalam Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival. Film tersebut menjadi bagian screening program Surprise! yang ditayangkan Singaraja Menonton (kolaborator Minikino) di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, pada Sabtu 16 September 2023, bersamaan dengan beberapa film pendek lainnya yaitu Kakak Jenggot, Garek, At Littele Wheelie Three Days Ago, Safe as Houses, dan Its You.

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Ma Gueule menguntit perjalanan sehari semalam seorang pria 35 tahun bernama Stéphane Terrazi. Ia belum lama pindah ke Brussels bersama keluarganya. Di sana dua orang teman lamanya menyeretnya menonton pertandingan bola di sebuah bar, kemudian berlanjut dugem di kelab malam. Namun sesampainya di depan kelab malam, Stéphane mengalami kejadian tak menyenangkan—ia dilarang masuk karena beberapa alasan. Dan tepat pada malam itu pula, ia tertahan di satu absurditas ketakutan dan prasangka yang berlebih.

Arabphobia dan Trauma Kolektif

Konflik berawal dari Stéphane yang dilarang masuk ke kelab malam oleh petugas di sana menunggui temannya keluar, ia berkeliling parkiran sembari gelisah tak menentu. Ia berkaca di spion mobil, mengelus-ngelus kepala botaknya dan janggut panjangnya (betapa Timur Tengahnya ia), sampai dua orang berseragam polisi datang menciduknya dan menuduhnya hendak melakukan tindakan kriminal.

Kita akan melihat momen itu dengan perasaan curiga. Tanpa tedeng aling-aling, kedua polisi memborgolnya dan menginterograsinya seakan Stéphane adalah buronan teroris yang jejaknya sudah menghilang lama. Ia dipersekusi—diperlakukan buruk secara sistemik, sampai kita merasakan bahwa Ma Gueule bukanlah soal individu yang terdzolimi, namun di luar dari itu.

Bila kita membaca lagi dengan baik bagaimana Ma Gueule menuturkan kisahnya, kita akan memahami bahwa film ini, utamanya bukan saja tentang seorang pria yang dituduh setengah arab yang menjadi korban prasangka dini kedua polisi, tapi juga kedua polisi yang mana adalah representasi ideal sosial masyarakatnya tidak bisa menekukkan trauma kolektifnya atas dinamika Timur Tengah dan rentetan peristiwa ekstrimisme yang kahar melanda.

Sebab sejak 2004, kompilasi serangan ekstrimisme Arab atau Islam cukup membanjir di sekujur Eropa, dalam hal ini lebih khusus Eropa Barat. Bom di London, Paris, Nice, Brussels, dan Berlin, membuat fenomena ini menjadi perhatian utama masyarakat di sana, untuk lebih terbiasa bersikap was-was. Bahkan tak dinyana, ada posisi yang hampir sejajar antara etnis Timur Tengah dan orang-orang kulit hitam dalam pandangan masyarakat Eropa kulit putih—sekurang-kurangnya keduanya adalah biang keladi dari kriminalisasi tingkat semenjana sampai internasional, dan selalu ditempatkan di garis-garis batas suudzon dan husnudzon.

Fakta bahwa Stéphane mengalami penolakan sepihak ketika memasuki kelab malam oleh para pegawai bukan hanya karena alasan ia tak membawa kartu idenditas formal, tapi ia juga memiliki keterkaitan masa lalu dengan tindakan-tindakan kriminalnya—meski pada masa kini ia telah membenahi hidup dan mencintai keluarga kecilnya, adalah gambaran tegas seperti apa posisi keyakinan masyarakat akan keberadaan teror-teror berdampak negatif di negaranya.

Trauma kolektif ini kian menarik saat sang sutradara sendiri, Grégory Carnoli, mengalami banyak perundungan dan marjinalisasi etnis di kehidupan nyata, “Saya orang Italia tetapi saya memiliki darah Arab. Film ini terinspirasi oleh anekdot kehidupan yang saya alami selama kurang lebih 2 dasawarsa terakhir dan menyusunnya dalam satu malam untuk menyoroti rasisme, kejahatan rasial, dan paranoia orang-orang dalam situasi tertentu,” begitu yang ia sampaikan sendiri di dalam wawancaranya dengan Sudinfo, sebuah portal berita kontemporer Belgia.

Di sana ia mencoba melihat dan mewartakan bagaimana nantinya sebuah trauma di negaranya telah bertransformasi menjadi “waham” yang juga tentu mempunyai dampak negatif bagi komunitas diaspora yang masih dipandang sebelah mata.

Walau isu trauma kolektif demikian telah dibabarkan Paul Haggis 15 tahun yang lalu melalui Crash dengan kompleksitas multiplot tinggi yang mencerabuti kejahatan dan paranoia hyper orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan etnis-etnis asia di Amerika, tetap saja isu ini menjadi menarik dalam kepadatan kisah dari Ma Gueule. Ma Gueule dengan sadar memberikan ruang bagi kita untuk mencoba mengerti bahwa sebuah trauma kolektif benarlah berangkat dari pendasaran yang jelas lagi kuat.

Bentuk main hakim sendiri memang terasa nyata ketika Stéphane berulang kali mengaku kepada kedua polisi bahwa ia bukanlah orang Tunisia, bukanlah orang Maroko. Namun pada saat yang sama, hantu-hantu ekstrimisme juga terasa nyata ketika di penghujung durasi, ada sekuen di mana keluarga diaspora Arab menanti kedatangan anak lelakinya yang diduga kuat terjerumus ke dalam kelompok ekstrimisme yang cikal bakal memerangi kekafiran di daratan sejuk Eropa Barat.

Ma Guele bergerak dalam dua sungai perspektif yang berbeda—melahirkan tafsir jamak dan konklusi bahwa kehidupan tidaklah hitam putih. Kita tak bisa dengan mudah mengatakan kedua polisi dan para pekerja kelab malam sebagai orang yang rasis, dan kita juga tak bisa melihat Stéphane terus menerus dikambinghitamkan meski ia punya rekam jejak yang dapat diendus sejauh mungkin. Artinya, tak ada benar dan tak ada salah di luar sana. Kita tak lagi mengerti tolak ukur kebenaran dan kita tak lagi memahami tolak ukur kesalahan. Ma Gueule adalah potret yang ambigu tentang apa dan bagaimana post truth beroperasi dalam kehidupan pascamodern tanpa makna. [T]

  • BACA ulasan film lainnya dari penulis AZMAN H BAHBEREH
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Tajun Cup IV, Suasana Malam di Desa Tajun Jadi Tak Biasa

Next Post

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co