16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
September 17, 2023
in Ulas Film
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

TANGGAL 22 Maret 2016 di Brussels, Belgia, terjadi aksi terorisme yang terkoordinasi—dilancarkan oleh sekolompok ekstrimisme Islam di dua tempat yang berbeda. Pertama, bom diledakkan di Bandara Internasional Brussels. Kedua, ledakan besar terjadi lagi di kereta yang meninggalkan stasiun metro Maalbeek. Sementara serangan ketiga berbuah gagal, pelaku melarikan diri dari bandara tanpa meledakkan bomnya, yang nantinya ditemukan saat penggeledahan berlangsung.

Aksi keji ini mengakibatkan sekitar 32 orang tewas, lebih dari 300 orang mengalami luka-luka, dan nyaris seluruh warga Belgia melumpuhkan kepercayaannya atas komunitas Islam dan etnis Timur Tengah—mereka kembali menyecap trauma kolektif jangka panjang dan melanggengkan kembali stereotip prematur.

Dari sanalah, film Ma Gueule tahun 2022 lahir dan bereaksi. Film pendek produksi Belgia yang disutradarai Grégory Carnoli dan Thibaut Wohlfahrt tersebut berupaya menjadi, entah sintesis fenomenologi atau sekadar gambaran congkak atas stereotip prematur yang mengakar kuat di jantung eropa, khususnya Belgia modern ini.

Ma Gueule adalah salah satu film pendek yang diputar dalam Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival. Film tersebut menjadi bagian screening program Surprise! yang ditayangkan Singaraja Menonton (kolaborator Minikino) di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, pada Sabtu 16 September 2023, bersamaan dengan beberapa film pendek lainnya yaitu Kakak Jenggot, Garek, At Littele Wheelie Three Days Ago, Safe as Houses, dan Its You.

Pemutaran film Ma Gueule serangkaian Minikino Film Week ke-9; Bali International Short Film Festival, di Warung Kopi DeKakiang Singaraja, Buleleng, Sabtu 16 September 2023 | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Ma Gueule menguntit perjalanan sehari semalam seorang pria 35 tahun bernama Stéphane Terrazi. Ia belum lama pindah ke Brussels bersama keluarganya. Di sana dua orang teman lamanya menyeretnya menonton pertandingan bola di sebuah bar, kemudian berlanjut dugem di kelab malam. Namun sesampainya di depan kelab malam, Stéphane mengalami kejadian tak menyenangkan—ia dilarang masuk karena beberapa alasan. Dan tepat pada malam itu pula, ia tertahan di satu absurditas ketakutan dan prasangka yang berlebih.

Arabphobia dan Trauma Kolektif

Konflik berawal dari Stéphane yang dilarang masuk ke kelab malam oleh petugas di sana menunggui temannya keluar, ia berkeliling parkiran sembari gelisah tak menentu. Ia berkaca di spion mobil, mengelus-ngelus kepala botaknya dan janggut panjangnya (betapa Timur Tengahnya ia), sampai dua orang berseragam polisi datang menciduknya dan menuduhnya hendak melakukan tindakan kriminal.

Kita akan melihat momen itu dengan perasaan curiga. Tanpa tedeng aling-aling, kedua polisi memborgolnya dan menginterograsinya seakan Stéphane adalah buronan teroris yang jejaknya sudah menghilang lama. Ia dipersekusi—diperlakukan buruk secara sistemik, sampai kita merasakan bahwa Ma Gueule bukanlah soal individu yang terdzolimi, namun di luar dari itu.

Bila kita membaca lagi dengan baik bagaimana Ma Gueule menuturkan kisahnya, kita akan memahami bahwa film ini, utamanya bukan saja tentang seorang pria yang dituduh setengah arab yang menjadi korban prasangka dini kedua polisi, tapi juga kedua polisi yang mana adalah representasi ideal sosial masyarakatnya tidak bisa menekukkan trauma kolektifnya atas dinamika Timur Tengah dan rentetan peristiwa ekstrimisme yang kahar melanda.

Sebab sejak 2004, kompilasi serangan ekstrimisme Arab atau Islam cukup membanjir di sekujur Eropa, dalam hal ini lebih khusus Eropa Barat. Bom di London, Paris, Nice, Brussels, dan Berlin, membuat fenomena ini menjadi perhatian utama masyarakat di sana, untuk lebih terbiasa bersikap was-was. Bahkan tak dinyana, ada posisi yang hampir sejajar antara etnis Timur Tengah dan orang-orang kulit hitam dalam pandangan masyarakat Eropa kulit putih—sekurang-kurangnya keduanya adalah biang keladi dari kriminalisasi tingkat semenjana sampai internasional, dan selalu ditempatkan di garis-garis batas suudzon dan husnudzon.

Fakta bahwa Stéphane mengalami penolakan sepihak ketika memasuki kelab malam oleh para pegawai bukan hanya karena alasan ia tak membawa kartu idenditas formal, tapi ia juga memiliki keterkaitan masa lalu dengan tindakan-tindakan kriminalnya—meski pada masa kini ia telah membenahi hidup dan mencintai keluarga kecilnya, adalah gambaran tegas seperti apa posisi keyakinan masyarakat akan keberadaan teror-teror berdampak negatif di negaranya.

Trauma kolektif ini kian menarik saat sang sutradara sendiri, Grégory Carnoli, mengalami banyak perundungan dan marjinalisasi etnis di kehidupan nyata, “Saya orang Italia tetapi saya memiliki darah Arab. Film ini terinspirasi oleh anekdot kehidupan yang saya alami selama kurang lebih 2 dasawarsa terakhir dan menyusunnya dalam satu malam untuk menyoroti rasisme, kejahatan rasial, dan paranoia orang-orang dalam situasi tertentu,” begitu yang ia sampaikan sendiri di dalam wawancaranya dengan Sudinfo, sebuah portal berita kontemporer Belgia.

Di sana ia mencoba melihat dan mewartakan bagaimana nantinya sebuah trauma di negaranya telah bertransformasi menjadi “waham” yang juga tentu mempunyai dampak negatif bagi komunitas diaspora yang masih dipandang sebelah mata.

Walau isu trauma kolektif demikian telah dibabarkan Paul Haggis 15 tahun yang lalu melalui Crash dengan kompleksitas multiplot tinggi yang mencerabuti kejahatan dan paranoia hyper orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan etnis-etnis asia di Amerika, tetap saja isu ini menjadi menarik dalam kepadatan kisah dari Ma Gueule. Ma Gueule dengan sadar memberikan ruang bagi kita untuk mencoba mengerti bahwa sebuah trauma kolektif benarlah berangkat dari pendasaran yang jelas lagi kuat.

Bentuk main hakim sendiri memang terasa nyata ketika Stéphane berulang kali mengaku kepada kedua polisi bahwa ia bukanlah orang Tunisia, bukanlah orang Maroko. Namun pada saat yang sama, hantu-hantu ekstrimisme juga terasa nyata ketika di penghujung durasi, ada sekuen di mana keluarga diaspora Arab menanti kedatangan anak lelakinya yang diduga kuat terjerumus ke dalam kelompok ekstrimisme yang cikal bakal memerangi kekafiran di daratan sejuk Eropa Barat.

Ma Guele bergerak dalam dua sungai perspektif yang berbeda—melahirkan tafsir jamak dan konklusi bahwa kehidupan tidaklah hitam putih. Kita tak bisa dengan mudah mengatakan kedua polisi dan para pekerja kelab malam sebagai orang yang rasis, dan kita juga tak bisa melihat Stéphane terus menerus dikambinghitamkan meski ia punya rekam jejak yang dapat diendus sejauh mungkin. Artinya, tak ada benar dan tak ada salah di luar sana. Kita tak lagi mengerti tolak ukur kebenaran dan kita tak lagi memahami tolak ukur kesalahan. Ma Gueule adalah potret yang ambigu tentang apa dan bagaimana post truth beroperasi dalam kehidupan pascamodern tanpa makna. [T]

  • BACA ulasan film lainnya dari penulis AZMAN H BAHBEREH
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Tajun Cup IV, Suasana Malam di Desa Tajun Jadi Tak Biasa

Next Post

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails
Next Post
Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Keputusan Sensitif dan Perkawinan Campur Mencuri Perhatian Mahasiwa Modul Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co