1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
September 27, 2023
in Ulas Film
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65

Salah satu fragmen dalam film Acung Bersuara (2023)

Singkek mangan Babi! (Cina makan Babi!)

EJEKAN di atas merupakan salah satu dialog dalam film Acung Memilih Bersuara (2023) garapan Amelia Hapsari. Sineas kelahiran kota Semarang itu bercerita bahwa setelah bertemu tokoh “asli”—Acung—di Singapura, ia terinspirasi membuat film dokumenter animasi pendek tentang konflik antara orang-orang Tionghoa dengan pribumi pada tahun 1965 sampai 1969 di kota Pasuruan, Jawa Timur.

Acung Memilih Bersuara merupakan kisah seorang keturunan Tionghoa bernama Acung, yang lahir dan besar di Pasuruan. Ia hidup dan tumbuh bersama rasisme dan diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa sebelum dan setelah terjadi gejolak G30/s.

Acung, tokoh yang sangat menyukai sejarah Laksamana Cheng Ho itu, harus menelan pil pahit setelah Pemerintah Indonesia mengeluarkan UU Kewarganegaraan pada tahun 1959—dengan poin diskriminatif—bahwa warga etnis Tionghoa harus memilih menjadi warga negara Indonesia atau Tionghoa. Hal tersebut membuat Acung harus pindah sekolah dari Sekolah Rendah Tionghoa ke Sekolah Negeri.

Kesedihan Acung tak sampai itu saja, pada tahun yang sama, pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 10 atau di singkat dengan PP 10, yang mana inti dari peraturan itu merupakan suatu tindakan pengambil alihan dan merampas hak-hak yang dimiliki oleh orang-orang yang masih menjadi warga negara asing. Sehingga, banyak keluarga Acung harus terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya pada saat itu.

Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa memuncak setelah tragedi G30/S, ketika pemerintah menetapkan—atau menuduh?—Partai Komunis sebagai dalang tragedi kemanusiaan tersebut. Acung, dengan ras Tionghoanya, menjadi objek kecurigaan masyarakat kala itu. Karena, seperti yang kita tahu, bahwa Tiongkok merupakan negara komunis.

Maka tak heran, pada saat itu banyak warga etnis Tionghoa yang diculik bahkan dibunuh atas dasar kecurigaan—atau lebih tepatnya kebencian yang mendalam.

Sejak saat itu, kehidupan Acung mulai mengalami gejolak konflik yang tak berujung. Diskriminasi, sentiment ras, sampai pada kenyataan bahwa ia harus menjadi tahanan politik selama 12 tahun tanpa pernah diadili.

Ya, film ini menarik bukan hanya sebatas sebagai antithesis dari film propaganda Penumpasan Penghianatan G30/S  PKI (1984) itu. Namun, film ini semacam pengingat untuk kita, agar kembali merenungkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tahun ’65 dari sudut pandang yang lain.

Acung Memilih Bersuara merupakan film yang menjadikan Acung sebagai subjek dalam sejarah ‘65. Melalui film tersebut, tampaknya Amelia Hapsari ingin menyampaikan bahwa  Acung merupakan sedikit contoh dari sekian banyak korban kebijakan—atau kebrutalan?—pemerintah pada saat itu.

Skenario di Balik ‘65

Sejarah mencatat, keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia awalnya merupakan sebuah aktivitas perdagangan, yang dilakukan antara orang-orang Tiongkok pada masa Dinasti Tang dengan Kerajaan Sriwijaya tahun 683-740 M.

Karena urusan perdagangan itulah, mengharuskan mereka menetap di suatu daerah dalam jangka waktu yang cukup lama. Maka,  banyak orang Tionghoa melakukan amaglamasi (perkawinan campuran) dengan masyarakat pribumi waktu itu. Dari perkawinan tersebut, kemudian melahirkan satu kelas sosial baru, yang nantinya membagi struktur sosial masyarakat di Nusantara.

Pada era Kolonialisme Belanda, struktur masyarakat dibagi menjadi tiga golongan, yakni golongan satu adalah orang Eropa, golongan dua terdiri dari orang-orang timur asing (Arab, India dan terutama etnis Tionghoa) dan golongan tiga masyarakat bumi putra.

Hak-hak istimewa yang diberikan Belanda kepada etnis Tionghoa waktu itu, membuat kecemburuan sosial antara masyarakat Pribumi terhadap orang Tionghoa. Konflik-konflik yang terjadi karena perbedaan hak inilah yang nantinya mengakar dan menjadi cikal bakal sentimen ras di Indonesia.

Sedangkan, keterkaitan etnis Tionghoa dalam sejarah PKI di Indonesia tak bisa hanya dengan anggapan bahwa “negara Tiongkok adalah negara Komunis saja”, melainkan harus menelusuri jejak sejarah, sehingga dapat menyimpulkan bahwa apakah orang-orang Tionghoa di Indonesia terlibat Gerakan 30 September atau hanya korban dari politik devide at empera.

Seperti yang kita tahu, Presiden Soekarno merupakan orang yang mempunyai konsep politik NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Dengan kebijakan politiknya itu, membuat Soekarno dibenci oleh pihak CIA—badan intelejen Amerika Serikat.

Tentu, CIA membenci Soekarno bukan hanya karena ia sangat dekat dengan Jhon F Kennedy—presiden Amerika yang tewas akibat kepalanya tertembus timah panas oleh orang tak dikenal—melainkan, kebijakan-kebijakan Soekarno lah yang “merugikan” pihak Amerika karena ia menasionalisasikan aset-aset swasta yang berada di Indonesia.

Karena seperti yang kita tahu, Soekarno adalah musuh dari bangsa kapitalis, termasuk Amerika Serikat. Namun, Presiden Amerika saat itu, Jhon F Kennedy, tidak mau menggunakan cara peperangan dan kekerasan untuk membasmi komunisme di Indonesia. Kennedy, justru berusaha merangkul Soekarno dengan memanfaatkan rasa nasionalismenya—dengan pendekatan yang sangat lembut untuk membasmi komunisme di Indonesia.

Di dalam buku FREEPORT, fakta-fakta yang Disembunyikan (2018)yang ditulis oleh Paharizal, S.Sos.,M.A. Setelah kematian Jhon F Kennedy, hubungan Soekarno dengan AS menjadi tak semesra ketika negara Paman Sam itu dipimpin oleh Kennedy. AS kembali menggunakan politik kekerasan untuk membasmi komunisme di seluruh dunia, termasuk PKI di Indonesia.

Salah satu pejabat Freeport yang mendukung politik kekerasan anti komunisme AS adalah Agustus C Long. Ia juga tercatat aktif di Prebyterian Hospital. Menurut Lisa Pease—penulis buku sejarah kematian Jhon F Kennedy—menyebutkan bahwa Prebyterian Hospital merupakan markas non formal bagi CIA. Dari hasil pelacakan Lisa Pease, Agustus C Long kemudian bergabung dengan perusahaan kapitalis milik Rockefeller dan CIA.

Melalui CIA-lah, mereka berkonspirasi untuk menggulingkan Soekarno dari tahta presiden dan membasmi PKI di Indonesia dengan cara ”membeli” beberapa pejabat militer Indonesia—yang mereka sebut dengan Our Local Army Friends—dan elit politik Indonesia, dengan tujuan menggulingkan Soekarno dan menumpas PKI agar perusahaan-perusahaan kapitalis elit dunia bisa bebas masuk ke Indonesia.

Berdasarkan ulasan dalam buku Freeport: Fakta-fakta yang disembunyikan, Agustus C Long menjalin hubungan dekat dengan Julius Tahija—mantan Menteri Komunikasi dan Informatika—yang mengenalkannya kepada Ibnu Sutowo, yang saat itu menjabat Menteri Pertambangan dan Perminyakan.

Melalui Julius Tahija, Soeharto, dan Ibnu Sutowo, agenda penghancuran PKI dan penggulingan Soekarno mulai dijalankan—semua itu dibiayai oleh CIA dan PT. Freeport.

Sebuah kudeta militer pun dirancang. CIA bekerja sama dengan elit militer Indonesia yang pro neo imperialisme dan dengan pejabat tinggi pemerintahan yang berseberangan dengan Soekarno. Dengan cara merekrut dan melatih perwira-perwira Diponegoro—tentara yang belum memiliki bintang—di bawah komando Soeharto mereka membentuk pasukan Cakrabirawa. Pasukan inilah yang menculik para Jenderal untuk dibunuh di Lubang Buaya.

Namun, menurut sejarawan John Roosa, kudeta militer tersebut memang dirancang supaya gagal. Atas terjadinya kudeta ini, PKI difitnah sebagai dalang di balik kudeta gagal tersebut—kudeta itu kemudian dikenal dengan peristiwa G30S/PKI.

Tak hanya difitnah sebagai dalang kudeta, PKI juga difitnah telah melakukan penyiksaan kepada para jenderal, mulai dari mencongkel mata, mengiris-iris kulit menggunakan silet, menyiksa menggunakan pukulan dan tendangan sampai memotong kemaluan para Jenderal. Padahal, menurut hasil otopsi yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran UI, penyiksaan seperti itu tidak ditemukan di tubuh para jenderal.

Setelah adanya kudeta gagal tersebut, di bawah komando Soeharto, penumpasan terhadap seluruh anggota dan simpatisan PKI pun terjadi—yang menurut sejarawan Max Lane, jumlah korban dari penumpasan itu mencapai dua juta orang. Akibat dari kudeta gagal inilah, Soeharto, bisa mendapatkan kedudukannya sebagai presiden, menggantikan Soekarno dengan surat mandat yang dikenal sebagai Supersemar.

Setelah Soeharto mendapatkan kedudukan sebagai presiden, ia segera menebar kampanye teror kepada mereka yang terindikasi sebagai anggota dan simpatisan PKI. Dan, menebar isu bahwa PKI tidak percaya Tuhan dan membunuh para Kyai, menjadikan masyarakat saat itu memiliki cukup alasan untuk membasmi PKI.

Dan, tentu saja, kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang sejak awal tidak suka dengan adanya etnis Tionghoa di Indonesia—karena kecemburuan sosial yang dipelihara sejak era kolonialisme Belanda.

Tentu, kemesraan CIA dengan Soeharto tak hanya sampai pada penggulingan Soekarno dan penumpasan PKI saja, melalui presiden Soeharto—jika diperkenankan menjelaskan lebih lanjut— hubungan itu berlanjut sampai pada Pepera (penentuan pendapat rakyat) dan “bagi-bagi” sumber daya alam Indonesia kepada perusahaan kapitalis asing, juga pada keberhasilan Freeport mendapatkan Papua—Freeport dapat melubangi gunung emas di Mimika Papua karena rezim Soeharto.

Cukup. Sepertinya tulisan ini sudah terlalu melebar ke mana-mana. Padahal, awalnya hanya ingin membahas tentang film yang saya tonton di Minikino Film Week beberapa hari lalu. Yang jelas, seingat saya, sampai tulisan ini selesai, film Acung Memilih Bersuara menyebutkan bahwa dalam menyikapi rasisme dan diskriminasi, etnis Tionghoa lebih memilih bersikap pasrah, “lebih baik diam dan menerima keadaan”. Tetapi, tidak dengan Acung. Pada akhirnya ia memilih untuk bersuara, meski berakhir di penjara.

Hari ini, resistensi terhadap kaum Tionghoa memang tidak seperti dulu, hanya saja, pandangan beberapa orang dan negara terhadap peristiwa berdarah ’65 masih seperti rezim Orde Baru. Padahal, sudah banyak peneliti meragukan sejarah yang ditulis oleh pemerintah. Dengan begitu, dengan adanya Acung Memilih Bersuara, kita bisa melihat bagaimana kekuasaan mengalahkan kemanusiaan dan betapa berbahayanya kekuasaan berada di tangan yang salah.[T]

Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Ballad of a White Cow : Keheningan yang Tak Menawarkan Banyak Hal

 

Tags: film dokumenterfilm pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Netralitas ASN dan Ketidaknetralan Kepala Daerah

Next Post

Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co