2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Made Wirya by Made Wirya
September 27, 2023
in Esai
Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Foto ilustrasi: Made Wirya

Saya mengenalnya di jalan, ketika kami sama-sama bersepeda pada hari Minggu, empat bulan lalu. Anak muda berumur sekitar 30 tahun itu mengenalkan dirinya dengan nama “Lapuk”.

“Nama panggilan?”

“Iya, Om.”

“Nama sesuai KTP apa?”

“Indra Febrianto, Om.”

Lapuk lupa sejak kapan dan kenapa dia dipanggil dengan nama itu. Dia menceritakan hal tersebut ketika kami istirahat di kedai kopi di jalan utama yang membelah kota. Kota yang tenang dan relatif bersih, yang akhir-akhir ini dipenuhi baliho caleg dan capres.

Dua bulan kemudian kami bertemu dengan tanpa sengaja di perempatan dekat alun-alun. Dia sedang bercengkerama dengan beberapa teman sesama pesepeda. Umur mereka sebaya, pun jika ada yang lebih tua atau muda, selisihnya hanya setahun atau dua tahun saja.

“Ayo gabung Om. Kami sedang menyiapkan kopi,” ajak Lapuk.

Saya perhatikan, mereka sedang menyiapkan jamuan. Ada yang menjerang air panas, ada yang menyiapkan gelas berisi kopi bubuk sasetan. Sementara lainnya membuka tas plastik berisi aneka gorengan.

Setelah beberapa kali bertemu dan bersepeda bareng dengan anak-anak muda itu, kami menjadi akrab. Rata-rata mereka bekerja di sektor nonformal. Ada yang menjadi penjual es, pedagang asongan, penjual sayur keliling, tukang ojek online, dan usaha tambal ban. Lapuk sendiri jualan stiker.

Meskipun kelas sosial mereka berada pada lapis bawah, tapi beberapa di antaranya peduli pada berbagai isu lingkungan. Mereka kerap kali mengikuti aksi bersih-bersih sampah non-organik di beberapa sungai dan objek wisata. Mereka bergiat, tentu saja, secara probono. Menurut mereka, Lapuk yang paling aktif jika ada acara semacam itu.

Suatu ketika saya bertemu lagi dengan Lapuk, ketika bersepeda ke kota. Kami bertemu tanpa sengaja di depan pasar hewan.

“Ayo ke Waduk Karangkates, Om.”

“Wah! Saya hendak pulang. Hari ini sudah dapat 55 kilometer. Cukup lah.”

“Om belum pernah bersepeda ke sana, kan?”

“Iya.”

“Ayo lah.”

“Yo wis.”

Baru beberapa kilometer, saya ingat akan janji saya untuk mengedit proposal  kegiatan, karena harus dikirim siang itu juga.

“Kita cari tempat istirahat dulu, Puk.”

“Kenapa, Om?”

“Saya butuh waktu 15 menit saja, untuk menyelesaikan pekerjaan.”

“Ok, Om.”

Ketika saya sedang beraktivitas dengan ponsel, saya lihat Lapuk sedang memutar crank sepeda saya.

“Maaf, Om. Rantainya kering, saya beri minyak ya.”

“Ok. Terima kasih.”

Tidak lebih dari 15 menit, proposal selesai saya edit, kemudian saya kirimkan melalui WA. Kami pun meneruskan perjalanan.

Pada kilometer 40 sejak kami berangkat, roda belakang saya bocor terkena paku. Lapuk sigap mencopot dan mengganti ban dalam tanpa saya minta. Saya ajak dia mampir ke toko swalayan untuk membeli minuman dan camilan. Kami pun nongkrong di teras toko tersebut.

“Tinggal 5 kilometer lagi. Kita terus atau istirahat dulu, Om?”

“Santai saja. Toh masih belum terlalu siang.”

Sambil ngobrol, saya mengorek keterangan darinya, awal mula dia bersepeda dan menjadi pegiat lingkungan hidup. Ternyata dia pernah bersepeda hingga Sape, pelabuhan untuk menyeberang ke Labuan Bajo.

Lapuk tidak meneruskan untuk menyeberang karena uangnya tidak cukup untuk membeli karcis kapal. Dia kemudian kembali pulang dengan bersepeda lagi. Saya jadi teringat November tahun lalu juga bersepeda hingga Sape, kemudian menyeberang ke Labuan Bajo.

Pembicaraan kami pun surut lebih jauh ke belakang. Sejak lulus SD, ketika ibunya meninggal dan bapaknya kawin lagi, Lapuk sudah hidup mandiri. Semula dia ikut neneknya dari pihak ibu, sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMP. Untuk membiayai sekolahnya dia bekerja serabutan, mulai dari pedagang asongan hingga pengantar koran.

Setelah neneknya meninggal, dia hidup secara nomaden. Kadang tidur di mushola, kadang di rumah kawannya, kadang juga di rumah saudaranya. Untuk biaya hidup dan melanjutkan sekolah ke STM, Lapuk bekerja sebagai penambal ban.

“Kamu tidak pernah bekerja formal? Di pabrik atau kantor, barangkali.”

“Setiap melamar kerja, saya tidak pernah mendapatkan panggilan,” jawabnya.

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai Karangkates.

“Celaka! Helm saya tertinggal di toko tadi, Om.”

“Kita makan siang dulu saja, setelah itu kita balik untuk mengambil helmmu.”

“Nanti terburu diambil orang. Saya ambil sendiri saja, Om makan duluan nanti saya susul.”

Lapuk segera menggenjot sepedanya dengan terburu-buru. Beberapa saat setelah saya menghabiskan sepiring nasi campur, Lapuk kembali dengan wajah muram.

“Diambil orang, Om. Saya tanyakan ke pegawai toko, katanya tidak tahu siapa yang mengambil.”

“Ya sudah, diiklaskan saja. Kebetulan di rumah ada helm masih bagus dan jarang saya pakai. Ambil saja. Sekarang kamu pesan makanan dulu.

Esoknya, sekira pukul 11 siang saya datangi tempat usahanya, sambil membawa helm yang saya janjikan kemarin. Dia menerima dengan mata berbinar.

“Terima kasih, Om.”

“Sama-sama”

Setelah mencoba helm, dia ambil sepedanya dan bergerak ke arah timur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa 2 nasi bungkus dan teh hangat dalam plastik.

“Makan dulu, Om.”

Lapuk makan dengan lahap. Saya perhatikan wajahnya yang keras karena tempaan hidup sejak belia. Anak muda itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga yang tidak mendukung kesejahteraan hidupnya.

Bahkan dia tidak kuasa menolak, saat dilahirkan di sebuah keluarga yang berantakan, sehingga praktis dia membiayai sendiri hidupnya. Kedua orangtuanya lah yang menginginkan dia lahir ke dunia.

Ada banyak Lapuk lain di negeri ini, yang hidup dan  diasuh oleh kehidupan jalanan. Maka bersyukurlah anak-anak yang lahir dari orang tua yang serba kecukupan dan bertanggungjawab pada anak-anak mereka. [T]

Nasi (Hampir) Basi dan Kisah Tragis Mbok Paerah
Mbah Klunthung dan Dua Bibit Kelengkeng
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo
Tags: anak-anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65

Next Post

“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

Made Wirya

Made Wirya

Lahir dan besar di Surabaya. Penulis dan filmmaker. Suka bertualang

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co