22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Made Wirya by Made Wirya
September 27, 2023
in Esai
Anak-Anak yang Diasuh Jalanan

Foto ilustrasi: Made Wirya

Saya mengenalnya di jalan, ketika kami sama-sama bersepeda pada hari Minggu, empat bulan lalu. Anak muda berumur sekitar 30 tahun itu mengenalkan dirinya dengan nama “Lapuk”.

“Nama panggilan?”

“Iya, Om.”

“Nama sesuai KTP apa?”

“Indra Febrianto, Om.”

Lapuk lupa sejak kapan dan kenapa dia dipanggil dengan nama itu. Dia menceritakan hal tersebut ketika kami istirahat di kedai kopi di jalan utama yang membelah kota. Kota yang tenang dan relatif bersih, yang akhir-akhir ini dipenuhi baliho caleg dan capres.

Dua bulan kemudian kami bertemu dengan tanpa sengaja di perempatan dekat alun-alun. Dia sedang bercengkerama dengan beberapa teman sesama pesepeda. Umur mereka sebaya, pun jika ada yang lebih tua atau muda, selisihnya hanya setahun atau dua tahun saja.

“Ayo gabung Om. Kami sedang menyiapkan kopi,” ajak Lapuk.

Saya perhatikan, mereka sedang menyiapkan jamuan. Ada yang menjerang air panas, ada yang menyiapkan gelas berisi kopi bubuk sasetan. Sementara lainnya membuka tas plastik berisi aneka gorengan.

Setelah beberapa kali bertemu dan bersepeda bareng dengan anak-anak muda itu, kami menjadi akrab. Rata-rata mereka bekerja di sektor nonformal. Ada yang menjadi penjual es, pedagang asongan, penjual sayur keliling, tukang ojek online, dan usaha tambal ban. Lapuk sendiri jualan stiker.

Meskipun kelas sosial mereka berada pada lapis bawah, tapi beberapa di antaranya peduli pada berbagai isu lingkungan. Mereka kerap kali mengikuti aksi bersih-bersih sampah non-organik di beberapa sungai dan objek wisata. Mereka bergiat, tentu saja, secara probono. Menurut mereka, Lapuk yang paling aktif jika ada acara semacam itu.

Suatu ketika saya bertemu lagi dengan Lapuk, ketika bersepeda ke kota. Kami bertemu tanpa sengaja di depan pasar hewan.

“Ayo ke Waduk Karangkates, Om.”

“Wah! Saya hendak pulang. Hari ini sudah dapat 55 kilometer. Cukup lah.”

“Om belum pernah bersepeda ke sana, kan?”

“Iya.”

“Ayo lah.”

“Yo wis.”

Baru beberapa kilometer, saya ingat akan janji saya untuk mengedit proposal  kegiatan, karena harus dikirim siang itu juga.

“Kita cari tempat istirahat dulu, Puk.”

“Kenapa, Om?”

“Saya butuh waktu 15 menit saja, untuk menyelesaikan pekerjaan.”

“Ok, Om.”

Ketika saya sedang beraktivitas dengan ponsel, saya lihat Lapuk sedang memutar crank sepeda saya.

“Maaf, Om. Rantainya kering, saya beri minyak ya.”

“Ok. Terima kasih.”

Tidak lebih dari 15 menit, proposal selesai saya edit, kemudian saya kirimkan melalui WA. Kami pun meneruskan perjalanan.

Pada kilometer 40 sejak kami berangkat, roda belakang saya bocor terkena paku. Lapuk sigap mencopot dan mengganti ban dalam tanpa saya minta. Saya ajak dia mampir ke toko swalayan untuk membeli minuman dan camilan. Kami pun nongkrong di teras toko tersebut.

“Tinggal 5 kilometer lagi. Kita terus atau istirahat dulu, Om?”

“Santai saja. Toh masih belum terlalu siang.”

Sambil ngobrol, saya mengorek keterangan darinya, awal mula dia bersepeda dan menjadi pegiat lingkungan hidup. Ternyata dia pernah bersepeda hingga Sape, pelabuhan untuk menyeberang ke Labuan Bajo.

Lapuk tidak meneruskan untuk menyeberang karena uangnya tidak cukup untuk membeli karcis kapal. Dia kemudian kembali pulang dengan bersepeda lagi. Saya jadi teringat November tahun lalu juga bersepeda hingga Sape, kemudian menyeberang ke Labuan Bajo.

Pembicaraan kami pun surut lebih jauh ke belakang. Sejak lulus SD, ketika ibunya meninggal dan bapaknya kawin lagi, Lapuk sudah hidup mandiri. Semula dia ikut neneknya dari pihak ibu, sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMP. Untuk membiayai sekolahnya dia bekerja serabutan, mulai dari pedagang asongan hingga pengantar koran.

Setelah neneknya meninggal, dia hidup secara nomaden. Kadang tidur di mushola, kadang di rumah kawannya, kadang juga di rumah saudaranya. Untuk biaya hidup dan melanjutkan sekolah ke STM, Lapuk bekerja sebagai penambal ban.

“Kamu tidak pernah bekerja formal? Di pabrik atau kantor, barangkali.”

“Setiap melamar kerja, saya tidak pernah mendapatkan panggilan,” jawabnya.

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai Karangkates.

“Celaka! Helm saya tertinggal di toko tadi, Om.”

“Kita makan siang dulu saja, setelah itu kita balik untuk mengambil helmmu.”

“Nanti terburu diambil orang. Saya ambil sendiri saja, Om makan duluan nanti saya susul.”

Lapuk segera menggenjot sepedanya dengan terburu-buru. Beberapa saat setelah saya menghabiskan sepiring nasi campur, Lapuk kembali dengan wajah muram.

“Diambil orang, Om. Saya tanyakan ke pegawai toko, katanya tidak tahu siapa yang mengambil.”

“Ya sudah, diiklaskan saja. Kebetulan di rumah ada helm masih bagus dan jarang saya pakai. Ambil saja. Sekarang kamu pesan makanan dulu.

Esoknya, sekira pukul 11 siang saya datangi tempat usahanya, sambil membawa helm yang saya janjikan kemarin. Dia menerima dengan mata berbinar.

“Terima kasih, Om.”

“Sama-sama”

Setelah mencoba helm, dia ambil sepedanya dan bergerak ke arah timur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa 2 nasi bungkus dan teh hangat dalam plastik.

“Makan dulu, Om.”

Lapuk makan dengan lahap. Saya perhatikan wajahnya yang keras karena tempaan hidup sejak belia. Anak muda itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga yang tidak mendukung kesejahteraan hidupnya.

Bahkan dia tidak kuasa menolak, saat dilahirkan di sebuah keluarga yang berantakan, sehingga praktis dia membiayai sendiri hidupnya. Kedua orangtuanya lah yang menginginkan dia lahir ke dunia.

Ada banyak Lapuk lain di negeri ini, yang hidup dan  diasuh oleh kehidupan jalanan. Maka bersyukurlah anak-anak yang lahir dari orang tua yang serba kecukupan dan bertanggungjawab pada anak-anak mereka. [T]

Nasi (Hampir) Basi dan Kisah Tragis Mbok Paerah
Mbah Klunthung dan Dua Bibit Kelengkeng
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo
Tags: anak-anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65

Next Post

“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

Made Wirya

Made Wirya

Lahir dan besar di Surabaya. Penulis dan filmmaker. Suka bertualang

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

“Kuta Accolade”: Festival Bahari Kuta, 1-4 Oktober 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co