3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan

Emi Suy by Emi Suy
March 8, 2024
in Esai
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan

Emi Suy di panggung Sastra Reboan | Foto: Dok. Emi

SENJA begitu lembap, langit terlihat gelap. Sebagian wilayah Jakarta basah sudah diguyur hujan. Tapi, lagi-lagi hujan tak akan menyurutkan langkah saya untuk menghadiri undangan Sastra Reboan. Biarlah Rabu menggebu bagi kami dan orang-orang yang peduli dan rindu pada puisi—cinta pada sastra. Tak ada alasan lain yang dapat mempertemukan saya, dia, mereka dan kita semua, selain puisi, seni, budaya dan acara merayakan hal-hal baik yang pantas kita rayakan bersama.

Orang-orang yang setia pada puisi, adalah mereka memuliakan hidup dan kehidupan. Memilih setia di jalan puisi, sebuah jalan yang lapang—sunyi di luar, gaduh di dalam. Sunyi dalam proses penciptaan, tapi gaduh di kepala sendiri. Riuh dalam pembacaan, tapi sunyi dalam diri. Sastra Reboan adalah salah satu tempat persinggahan dalam menempuh perjalanan sunyi yang panjangnya tidak terkira.

Kali ini berbeda dari beberapa tahun belakangan, Sastra Reboan berpindah ke TIM tepatnya di gedung PDS HB Jassin. Mengobati kerinduan kali ini, Sastra Reboan digelar di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Blok M Jaksel pada tanggal 6 Maret 2024. Dulunya cikal bakal Sastra Reboan memang di tempat ini, dan sampai kapan pun soulnya akan melekat di Wapres Bulungan.

Sastra Reboan kemarin mengajak kita bersama-sama memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day, yang jatuh pada 08 Maret besok. Dengan tujuan turut serta meningkatkan kesetaraan, menghilangkan diskriminasi, serta menjamin hak-hak kaum perempuan. Maka, banyak atau rata-rata yang hadir kemarin malam adalah kaum hawa/perempuan, dan para pementas di panggung juga dihadirkan para perempuan, ini menjadi acara yang sangat bagus dan emansipatif.

Emi Suy tampil di panggung Sastra Reboan | Foto: Dok. Emi

Hari Perempuan International, kita tahu bermula dari gerakan buruh tekstil perempuan di Amerika, pada 8 Maret 1857, yang menuntut hak-haknya, karena mereka menganggap kondisi kerja yang tidak adil dan upah yang terlalu rendah. Gerakan itu kemudian meluas dan berkembang hingga ke abad teknologi informasi seperti sekarang ini, intinya sama, menuntut kesetaraan hak, kondisi yang adil, aman tidak ada diskriminasi, dan mencita-citakan perdamaian serta nilai-nilai kebebasan yang baik.

Ini membuktikan bahwa sosok perempuan memiliki kekuataan (the power of women) yang mampu mempengaruhi arus nilai global, dan merubah pandangan kebanyakan orang tentang pentingnya peran perempuan dalam membawa obor perubahan menuju masyarakat beradab yang sejahtera dan berkeadilan.

Hari Perempuan Internasional 2024 kali ini mengusung tema: “Invest in Women: Accelerate Progress” yang berarti,”Berinvestasi pada Perempuan: Mempercepat Kemajuan.” Tema ini dimaksudkan bahwa; mencapai kesetaraan gender dan kesejahteraan perempuan di semua aspek kehidupan menjadi semakin penting jika kita ingin menciptakan perekonomian yang sejahtera serta kehidupan yang sehat untuk generasi mendatang.

Maka, atas dasar itulah, Sastra Reboan mengangkat tema perempuan dengan judul “PUITIKA WANITA”. Sebuah penghargaan sekaligus pemuliaan untuk perempuan di mana pun berada. Sebuah puitika yang tak pernah selesai kita baca, dan tak pernah berhenti bergerak dan “berbicara” tentang nilai-nilai baik kehidupan.

Yang mengisi panggung Sastra Reboan edisi kali ini adalah mereka yang memiliki kesamaan ide tentang pentingnya peran perempuan, oleh karenanya dihadirkan pula para penampil dari kaum perempuan.

Sastra Reboan kemarin menampilkan perempuan-perempuan hebat di antaranya: Devie Matahari (Musikalisasi Puisi), Rini Diyanti Ayahbi (Musikalisasi Puisi), NyaPoe Nyanyi Puisi (Ayu Yulia, dkk), Dyah Kencono Puspito Dewi (Puisi), Emi Suy (Puisi), Fia (Musikalisasi Puisi), Mita Katoyo (Puisi), Ruri Pramodawardhani (Petikan Cerpen), Ratu Dzakiyya (Puisi), Mahasiswa UIN (Musikalisasi Puisi). Sastra Reboan mengusung slogan; “Datang ke Sastra Reboan, Pulang Membawa Ilmu”.

Hadir juga di tengah-tengah acara kemarin para senior sastra kita; Mas Kurnia Effendi, Mas Jodhi Yudono, Pak Aloysius Slamet Widodo, Bang Fikar W. Eda, Mas Yoyik Lembayung, dan masih banyak yang lainnya. Saya membawakan satu puisi yang berjudul:

HIMNE SEORANG GADIS

Pada bilik kapal tua
yang berlayar menuju Batavia
aku seperti paku karat
menancap pada dinding kesunyian

Setelah berhari-hari
aku sudah lelah menangis
dan air mata seakan mengering

Bersama gadis-gadis malang
yang namanya telah dihapus
aku disekap dalam gelap
dalam pengap
tanpa harap

Kami hanya bisa bernyanyi
saling menguatkan
untuk tidak bunuh diri:

“Di laut tanpa alamat
hari-hari begitu kiamat
kami berpelukan dengan tatapan
membiarkan duka berdoa
dan kepada badai:
segeralah berlalu …”

Satu-satunya yang tersisa
dan nyala dalam dada:
ibuku …

Ibu yang begitu pilu menatapku
saat diseret seperti binatang
sebagai ganti bayar utang judi ayahku
malam itu

Aku pun pingsan
dan tiba-tiba berada di kapal ini
dengan tangan terikat tali
tak ubahnya kawanan anak ayam
yang kehilangan induknya
dan bernasib sial
di tangan penjagal

“Ibu, selamat tinggal,”
kata yang tak sempat
aku lambaikan

“Mungkin aku tak akan pernah
kembali padamu
pada pelukanmu …”

Sebelum usai bisik
tidur telah mengambilku
lalu aku bermimpi ibu memelukku
dan tangannya yang lembut
mengusap pipi

Aku terbangun …
saat membuka mata
ternyata
yang kulihat bukan ibuku
melainkan seorang perempuan anggun
dan tersenyum serupa ribuan lilin

“Tenang, Nak … tenang …
kini kau aman bersamaku
ibumu yang baru …,” ucapnya

Aku seolah lahir kembali
menjadi manusia lagi

Ia memapaku keluar bilik
turun dari kapal
meninggalkan pelabuhan

Sampailah kami ke sebuah rumah besar
bertulis “Atie Soeji”
dan aku tahu kemudian
bidadari penyelamat itu
adalah Auw Tjoei Lan.

Puisi ini salah satu dari sekian puisi yang akan ditampilkan dalam opera yang digarap oleh Mas Ananda Sukarlan berjudul “I’m Not for Sale: Menyelamatkan Kehidupan”. Puisi ini sebelumnya sudah pernah dinyanyikan oleh soprano Ratnaganadi Paramita dalam seminar “Justice and Mercy” tentang perdagangan manusia tahun lalu.

Dalam opera tersebut, tokoh Ny. Auw Tjoei Lan akan diperankan oleh soprano Mariska Setiawan, seorang penyanyi sopran berbakat yang kini sedang naik daun, dan pementasan melibatkan Ananda Sukarlan sebagai Composer dan Casting Director. Stage Decor & Artistic Director oleh Rama Soeprapto, koreografi Hartati dan sutradara Chendra Panatan.

Mariska akan menyanyikan cuplikan opera ini untuk pertama kalinya tanggal 4 Juli 2024 nanti bersama Melbourne Symphony Orchestra saat kunjungan mereka ke Jakarta dalam rangka perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia. Ratna juga akan kembali memerankan sebagai seorang korban di opera yang rencananya akan diperdanakan pada November 2024 ini.

Suasana panggung Sastra Reboan | Foto: Dok. Emi

Opera yang menceritakan tentang perjuangan Auw Tjoei Lan ini dilatarbelakangi oleh isu perdagangan manusia masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia. Perdagangan manusia masuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa. Pada tahun 2020-2022 terdapat 1.418 kasus dan 1.581 korban yang dilaporkan. Sebanyak 96% korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak (data SIMFONI PPA). Fakta ini memantik rasa kemanusiaan kami—Rumah Hati Suci bersama KEMENPPPA—untuk membuka mata dunia lebih lebar tentang urgensi isu perdagangan manusia.

Ananda Sukarlan dan Tim ingin mengemas pesan penting ini melalui media seni opera yang menggabungkan seni teater, musik dan tari. Kami meyakini cara ini dapat memantik kesadaran di masyarakat, karena pengemasan pesan yang mudah diterima serta menggugah perasaan. Opera kemanusiaan ini akan mengangkat kisah heroik dan inspiratif dari Ny. Auw Tjoei Lan, seorang perempuan Tionghoa, yang pada tahun 1914 telah memerangi perdagangan perempuan.

Siapakah AUW TJOEI LAN? Auw Tjoei Lan atau dikenal juga sebagai Ny. Lie Tjian Tjoen, adalah seorang istri seorang Kapitan China yang bermukim di Batavia setelah menikah. Di sanalah hati Auw Tjoei Lan mulai terpanggil untuk menyelamatkan anak-anak dan perempuan korban perdagangan manusia. Para korban umumnya didatangkan dari daratan China yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik di Batavia.

Namun, faktanya mereka dijual ke rumah bordil dan terjerat prostitusi. Mereka lantas diselamatkan Auw Tjoei Lan, dan dibekali keterampilan di Rumah Ati Soetji. Dampaknya, putri dari pengusaha dan Kapitan Auw Seng Hoe ini pernah diancam akan dibunuh dan menerima kekerasan fisik dari orang-orang yang tidak suka bisnis prostitusinya “diusik”.

Peran Auw Tjoei Lan dinilai signifikan dalam memperjuangkan HAM di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Namun, sosoknya belum banyak dibicarakan yang berpengaruh ke minimnya catatan sejarah tentangnya. Oleh karena itu, Ananda Sukarlan, seorang komponis dan pianis terkemuka, berinisiatif menghadirkan pertunjukkan “Musuh si Mucikari” untuk mencatatkan sejarah perjuangan Auw Tjoei Lan melalui seni opera.

Adapun Rumah Ati Soetji (saat ini menjadi Rumah Hati Suci), yang didirikan sejak 1914, sampai saat ini masih berdiri untuk meneruskan nilai kemanusiaan dan semangat Auw Tjoei Lan yang berfokus mengasuh anak-anak perempuan terlantar yang tidak mampu, hingga korban kekerasan.

Auw Tjoei Lan (1889-1965) adalah seorang wanita kelahiran Majalengka sekaligus istri dari Kapitan China, Lie Tjian Tjoen. la dikenal sebagai pahlawan keturunan Tionghoa yang memiliki peran besar dalam menyelamatkan ratusan anak-anak dan perempuan dari aksi kriminal perdagangan manusia pada abad ke-19. la menampung, melindungi dan membekali para korban dengan berbagai keterampilan di Roemah Ati Soetji yang didirikannya.

Perjuangan Auw Tjoei Lan tidak berjalan mulus. Para mucikari geram dengan aksinya hingga melakukan berbagai serangan hingga ancaman pembunuhan. Namun, Auw Tjoei Lan tak gentar. la tetap pasang badan demi para korban hingga akhirnya perjuangannya berbekas dan masih terus berlanjut melalui eksistensi Rumah Hati Suci yang telah bertahan 109 tahun lamanya hingga sekarang.

Jasa Auw Tjoei Lan yang luar biasa dalam aksi kemanusiaan dirasa pantas disejajarkan dengan R.A Kartini dan Dewi Sartika. Namun, namanya tidak melambung tinggi sebagaimana dua sosok perempuan yang disebut belakangan, malah cenderung tidak dikenal. Opera ini akan menjadi sekian anak tangga lainnya untuk mencatatkan dan melambungkan nama Auw Tjoei Lan sebagai salah satu pahlawan kemanusiaan abad-19, atau sekurang-kurangnya pahlawan nasional.

Menurut saya, Auw Tjoei Lan adalah pembawa obor nilai yang penting dan relevan kita bicarakan sekarang, dan tentu saja kita mesti banyak mengangkat perempuan-perempuan hebat lainnya, yang turut membawa obor nilai yang sama, yang membawa kita dari kegelapan menuju ke “terbitnya terang”.

Foto bersama di acara Sastra Reboan | Foto: Dok. Emi

Jika Anda penasaran dengan kisah dramatis Auw Tjoei Lan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan yang dibalut dengan megahnya orkestra dari Ananda Sukarlan? Yuk, saksikan dalam opera “Musuh si Mucikari”. Itulah sekilas tentang opera berjudul “I’m Not for Sale: Menyelamatkan Kehidupan.”

Sebuah kebanggaan dan kebahagiaan buat saya dapat membacakan puisi tersebut di acara Sastra Reboan kemarin, yang juga dihadiri oleh Mas Ananda Sukarlan. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar, namun yang menarik bagi saya adalah; ketika seluruh penyair dan pengisi acara dipanggil ke atas panggung oleh Mas Jodhi Yudono. Di sela-sela nyanyian puisinya Mas Jodhi menanyakan bagaimana perspektif perempuan tangguh menurut versi masing-masing.

Tiba giliran saya, dan saya menjawab, “Perempuan tangguh menurut versia saya adalah perempuan yang bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Ada pertanyaan lanjutan dari Mas Jodhi, “Apakah lukamu sebegitu dalam, Emi, sehingga harus dijahit?”

Saya menjawab, “Tidak terlalu dalam, namun bagaimana kita sebagai sosok perempuan dalam menjalani problematika dan dinamika hidup mencari ‘way’ atau jalan dari setiap permasalahan, entah sebagai individu, sebagai ibu, istri, atau karyawan, sehingga bisa survive menjalani kehidupan dan berdaya guna untuk orang-orang di sekeliling kita; anak-anak, suami, lingkungan, dan semua orang yang sayang pada kita dan masih membutuhkan kita. Ketika kita bisa menjahit luka sendiri, maka kita bisa menjahit luka orang-orang yang kita sayangi itu.”

Secara keseluruhan acara Sastra Reboan kemarin berjalan sukses dan lancar, namun ada hal yang menyisakan ganjalan di hati. Mengapa ketika acara sedang berlangsung—saat para penampil membacakan puisi, membaca cerpen, musikalisasi, dll—para penonton di belakang asyik sendiri berbincang dengan suara yang cukup keras, sehingga mengganggu orang-orang yang khusyuk menyimak acara, sungguh disayangkan.

Selain kasihan kepada penampil juga para hadirin yang menyimak selama acara berlangsung jadi terganggu. Hal ini berbeda dengan konser Ananda Sukarlan yang kalau ada bisik-bisik sedikit saja pasti dipelototin oleh tetangga di sebelahnya.

Mungkin ke depan kita bisa lebih menghargai dan memberi apresiasi kepada para pembaca puisi, pemain musikalisasi puisi, pembaca cerpen dan semua penampil pengisi acara dan juga hadirin yang menikmati dan menyimak acara tersebut. Agar kita sebagai pecinta sastra juga turut mengamalkan nilai-nilai yang kecil-kecil tetapi penting, sebelum akhirnya turut menyumbang ke nilai-nilai yang besar sebagaimana para buruh tekstil di Amerika, R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Auw Tjoei Lan. Terima kasih.[T]

Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Berdialog dengan Pemikiran Riri Satria Tentang Algoritma, Metaverse, dan Sastra
Tags: Hari Perempuan Internasional 2024HB JassinJakartaPuisisastraSastra ReboanTIM
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harga Sembako Naik, Pasar Pangan Murah Solusinya

Next Post

Jika Uang Kompensasi Rumpon Sudah Diterima, Apakah Nelayan di Buleleng Lantas Bahagia?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Jika Uang Kompensasi Rumpon Sudah Diterima, Apakah Nelayan di Buleleng Lantas Bahagia?

Jika Uang Kompensasi Rumpon Sudah Diterima, Apakah Nelayan di Buleleng Lantas Bahagia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co