2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jika Uang Kompensasi Rumpon Sudah Diterima, Apakah Nelayan di Buleleng Lantas Bahagia?

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 8, 2024
in Khas
Jika Uang Kompensasi Rumpon Sudah Diterima, Apakah Nelayan di Buleleng Lantas Bahagia?

Suasana penyerahan kompensasi rumpon dan diskusi tata kelola kelautan dan perikanan di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng | Foto: Yudi Setiawan

“SEJAK rumpon saya diangkat, saya sudah tiga bulan tidak bekerja. Padahal, hari raya sudah dekat,” ucap lelaki paruh baya itu di siang yang panas di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng.

Nelayan asal Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt itu mengaku, semenjak rumpon miliknya diangkat oleh PT. Technical Geophysical Services (TGS) pada akhir tahun lalu, sebagai nelayan, dirinya merasa sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia bernama Ketut Sudama. Lelaki paruh baya itu adalah salah satu dari sekian banyak nelayan pemilik rumpon di Buleleng, Bali, yang terkena dampak dari adanya pemetaan potensi migas di Bali Utara. Padahal, rumpon adalah pekerjaan dan satu-satunya mata pencahariannya.

“Sejak awal Februari saya menunggu uang kompensasi ini, ternyata sampai tiga bulan tidak juga cair,” ujarnya lirih.

Ia mengaku terpaksa harus ngutang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Padahal, ia juga bercerita, bahwa dirinya mempunyai pinjaman kredit KUR di salah satu bank—untuk modalnya membuat rumpon tersebut.

“Saya bela-belain sampai minjam KUR di bank, rumponnya malah diangkat. Terus bagaimana cara saya membayarnya?” ujarnya penuh ratap dan bingung. Mengingat hari raya sudah dekat, hatinya terasa semakin sesak.

Meskipun uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. TGS mencapai puluhan juta rupiah untuk satu rumponnya, tapi tampaknya hal itu masih belum membuat lelaki dengan tato naga di lengan kirinya itu merasa tenang.

Suasana penyerahan kompensasi rumpon dan diskusi tata kelola kelautan dan perikanan di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng | Foto: Yudi Setiawan

“Hasil dari kesepakatan kemarin sih, satu rumpon milik saya diganti sebesar dua puluh lima juta rupiah,” katanya. Sesaat setelah mengisap rokoknya, ia menambahkan, “Tapi persoalannya kan bukan itu. Ini kan jangka panjang, apa boleh kalau ini sudah selesai, kami diperbolehkan memasang rumpon lagi?”

Meski pihak PT. TGS dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng telah memberikan pernyataan bahwa setelah proses pemetaan potensi migas di Bali Utara selesai di lakukan nelayan diperbolehkan memasang rumpon kembali, tapi tak sedikit nelayan yang meragukan hal itu. Ketakutan tidak diperbolehkan memasang rumpon kembali masih membayang-bayangi kepala mereka. Ya, itu wajar. Sebab, sekali lagi, nelayan rumpon adalah pekerjannya satu-satunya.

“Apalagi sekarang ada peraturan baru kalau satu kelompok balai nelayan, hanya diperbolehkan memasang maksimal lima rumpon. Dan harus izin terlebih dahulu ke dinas, padahal dulu tidak ada peraturan seperti itu. Aduh pusing saya,” tuturnya sembari menepuk-nepuk jidatnya.

Ya, Sudama dan puluhan nelayan pemilik rumpon yang terkena dampak dari pemetaan potensi migas di Bali Utara itu, mendatangi wantilan di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Bali, guna memenuhi undangan dari PT TGS untuk penyerahan kompensasi rumpon dan diskusi tata kelola kelautan dan perikanan bagi nelayan kecil, Kamis (7/03/2024) siang.

Benar, pemetaan potensi migas di Bali Utara itu telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Pengangkatan rumpon-rumpon milik nelayan itu dilakukan untuk kelancaran proses perekaman dan agar tidak menganggangu proses survey pemetaan potensi migas di Bali Utara oleh PT. TGS.

Mereka datang dengan pakaian yang hampir semua seragam, memakai kamen dan udeng. Tentu, dengan tujuan yang sama pula. Ya, di Bali, selain sebagai pakaian keagamaan, udeng dan kamen biasa digunakan untuk menghadiri acara-acara penting lainnya.

Mereka saling bertegur sapa. Alih-alih menanyakan kabar orangnya, tampaknya mereka lebih tertarik untuk menanyakan kabar rumpon miliknya. Mereka memang sama-sama senasib dan sepenanggungan dalam hal ini.

Komitmen Birokrasi

Mengenai penyerahan kompensasi rumpon pada siang hari itu, Deny Suryanto, selaku perwakilan PT. TGS, dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa pihaknya merasa beryukur atas kelancaran proses survey yang telah berlangsung selama beberap bulan terakhir ini.

“Ini merupakan satu tahapan yang patut kita syukuri bersama. Selama kegiatan berlangsung, semuanya berjalan dengan lancer dan aman sampai sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, meski proses kegiatan pemetaan tersebut harus mengorbankan rumpon-rumpon nelayan, selama proses kegiatan tersebut, ia merasa sangat diterima oleh masyarakat Buleleng. “Kami merasa sangat diterima di sini. Sebab, selama kegiatan ini berlangsung, bisa berjalan aman dan lancer,” katanya.

Terhitung, selama proses pemetaan potensi migas di pantai Bali Utara, sebanyak 297 unit rumpon milik nelayan telah berhasil diangkat oleh PT. TGS. Mengenai tahapan pencairan dana kompensasi, pihak PT TGS bekerja sama dengan Bank BPD Bali.

“Selain berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Buleleng, kami juga bekerja sama dengan Bank BPD Bali dalam hal pencairan dana kompensasinya,” jelasnya.

Benar. Setelah melewati tahapan demi tahapan yang dilakukan oleh para nelayan-nelayan tersebut, akhirnya, siang itu, di wantilan kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Bali, penantian panjang mereka menemui titik terangnya.

PJ. Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana, yang juga turut hadir pada siang hari itu menyampaikan bahwa proses pencairan kompensasi tersebut segera akan dituntaskan dalam waktu dekat. Ia tidak mau jika kegiatan itu disebut ganti rugi, melainkan ganti untung. Karena, menurutnya, jika menggunakan kata ganti rugi, seakan-akan ada kesan yang merugikan masyarakat.

“Saya tidak mau kegiatan ini disebut sebagai ganti rugi, tapi ganti untung. Karena, pemerintah daerah tidak mau jika rakyatnya mengalami kerugian. Maka dari itu, saya lebih suka jika kegiatan ini disebut sebagai ganti untung. Bagaimana, setuju?” ujarnya, dibarengi dengan seruan dari para nelayan yang hadir: Setuju…

Lihadnyana menegaskan, bahwa dirinya akan langsung mengecek kebenaran mengenai uang kompensasi yang akan dicairkan itu. “Nanti sore akan langsung saya cek ke BPD. Kalau tidak ada, akan saya cari BPD-nya,” katanya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Lihadnyana, I Gede Putra Aryana, selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, Buleleng, Bali, berjanji bahwa dirinya akan mengawal dengan ketat proses pencairan dana kompensasi rumpon tersebut.

“Kalau nanti selama proses pencairan ini ada masyarakat yang mengeluh dan komplain mengenai dana yang diperoleh tidak sesuai, apalagi jika ada yang tercecer dan tidak mendapatkan uang kompensasi, saya siap mengundurkan diri!” tegasnya. Sontak pernyataan tersebut mendapat sorak sorai dan tepuk tangan yang meriah dari para nelayan yang hadir pada siang hari itu. Dengan demikian, masyarakat akan meyakini betul dengan janji tersebut.

Nasib Nelayan Rumpon

Statement yang dilontarkan oleh pihak perusahaan, PJ. Bupati Buleleng, dan Kadis DKPP Buleleng di atas seakan-akan mampu menjawab atau menjadi obat penawar kehawatiran para nelayan. Namun, tampaknya hal tersebut belum melegakan hati Abdul Kadim.

Nelayan asal Desa Banjar Asem, Kecamatan Seririt itu mengaku bahwa meski nilai kompensasi yang diterimanya sesuai dengan biaya yang telah ia keluarkan selama ini, tapi hal tersebut belum membuatnya benar-benar berlapang dada.  Karena, sebagai nelayan yang bergantung pada rumpon, setelah pemetaan selesai dan diperbolehkan memasang rumpon kembali, dirinya harus memulai dari nol lagi. Ia menjelaskan tentang bagaimana sulitnya mencari spot-spot yang berpotensi menjadi sarang ikan.

“Jumlah uang kompensasi yang saya terima per rumponnya dibayar dua puluh juta. Itu sudah cukup untuk mengganti biaya pembuatan rumpon. Tapi, tetap saja, saya harus memulainya dari nol lagi,” jelasnya dengan nada yang ragu-ragu.

Suasana penyerahan kompensasi rumpon dan diskusi tata kelola kelautan dan perikanan di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng | Foto: Yudi Setiawan

Nelayan pemilik tujuh rumpon tersebut, selama menunggu uang kompensasi sampai kepadanya, dirinya terpaksa dengan berat hati mengistirahatkan para anggotanya.

“Saya punya 25 anggota. Tetapi, semenjak rumpon saya diangkat, terpaksa mereka harus saya istirahatkan terlebih dahulu. Palingan untuk memenuhi kebutuhannya mereka mencari ikan di pinggir, dan tentu penghasilannya jauh dari sebelumnya,” tutur Kadim merasa prihatin.

Selain membahas tentang proses ganti rugi rumpon kepada para nelayan, kegiatan pada siang hari itu juga membahas tentang tata Kelola kelautan dan perikanan di wilayah laut Buleleng. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdul Manap, selaku Plt Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, kegiatan diskusi tersebut penting dilakukan guna membahas peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh para nelayan di pesisir Bali Utara.

Sesi diskusi tersebut berjalan dengan lancar meski beberapa nelayan terlihat tegang ketika membahas peraturan para nelayan di setiap desanya. Pada akhirnya diskusi tersebut mengasilkan beberapa kesepakatan. Di antaranya:

  1. Untuk nelayan di wilayah laut Kecamatan Kubutambahan sampai Kecamatan Gerokgak, nelayan diperbolehkan memancing di rumpon siapa pun. Dan nelayan dari Kecamatan Tejakula tidak diperbolehkan memancing di wilayah tersebut.
  2. Sedangkan, laut di wilayah Kecamatan Tejakula hanya diperuntukan untuk nelayan se-Kecamatan Tejakula. Dan selain nelayan dari Kecamatan Tejakula, tidak diperbolehkan memancing di wilayah tersebut.

Peraturan tersebut disepakati oleh pihak-pihak terkait seperti perbekel disetiap masing-masing desa dan melibatkan dinas-dinas lainnya. Peraturan itu dibuat atas mempertimbangkan peraturan-peraturan di desa-desa tersebut.

Selanjutnya, Abdul Manap juga menyampaikan hasil kesepakatan selanjutnya mengenai sanksi. Jika ada nelayan yang melanggar peraturan tersebut, akan dikenakan sanksi administratif berupa: jika memancing dikenakan denda lima juta rupiah; sedangkan untuk menjaring akan dikenakan denda sebesar sepuluh juta rupiah.

Ya, meski kejelasan mengenai uang kompensasi sudah di depan mata, tampaknya para nelayan di Buleleng masih belum sepenuhnya berbahagia. Tentu mereka memikirkan jangka panjang dampak dari rumpon-rumpon miliknya yang telah terangkat.

Meskipun nilai kompensasi yang mereka terima untuk sementara waktu telah mencukupi biaya ganti rugi pembuatan rumponnya, tapi dengan nominal sebesar itu, mungkinkah mencukupi kebutuhan mereka dalam jangka panjang? Entahlah.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?
Tags: balibulelengDinas Ketahanan Pangan dan PerikananKetut LihadnyanaMigasNelayan rumponPJ Bupati BulelengPT.TGS
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan

Next Post

Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co