3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
January 25, 2024
in Khas
Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Rumpon nelayan di atas kapal pengangkut | Foto: Yudi

PAGI menjelang siang, di area dermaga Pelabuhan Celukan Bawang, Buleleng, Bali, orang-orang itu mulai berdatangan satu persatu. Di bawah terik yang mulai menghangat, orang-orang itu datang dengan tujuan untuk melakukan pendataan diri sebagai pemilik rumpon—alat bantu menangkap ikan yang dipasang di laut—yang telah diangkat beberapa hari sebelumnya.

Dengan raut wajah pasrah namun penuh harap, setidaknya ada dua hal yang mendasari kedatangan para nelayan dari berbagai desa yang ada di Buleleng ke area dermaga Pelabuhan Celukan Bawang itu. Pertama, untuk memastikan apakah rumponnya termasuk salah satu rumpon yang “dibersihkan”. Dan kedua adalah, kejelasan mengenai kompensasi terhadap rumpon yang di pinggirkan oleh petugas.

Para nelayan itu, sembari menunggu giliran untuk melakukan pendataan diri sebagai pemilik rumpon, sesekali mereka mondar-mandir untuk mencari keberadaan rumponnya. Meskipun, dari sorot mata mereka tak bisa disangkal bahwa ada semacam kesedihan yang menyelimutinya, meski para nelayan itu tampak berusaha menerimanya dengan ikhlas.

Salah satu dari nelayan yang hadir itu adalah I Gede Desember. Nelayan asal Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt itu, terlihat beberapa kali mengecek keberadaan keempat rumponnya yang ikut di angkat oleh petugas. Di antara tumpukan rumpon yang menggunung itu, Desember—sebagaimana ia akrab dipanggil—berusaha dengan teliti untuk mencari keberadaan alat pencari nafkahnya selama beberapa tahun terakhir.

Para nelayan sedang memverifikasi data kepemilikan rumpon | Foto : Yudi

Sebagai seorang nelayan, untuk menerima kenyataan bahwa rumpon miliknya termasuk sebagai salah satu yang harus dipinggirkan, tentu hal itu adalah kenyataan yang sulit ia terima. “Sebenarnya saya sangat bergantung pada rumpon itu sebagai alat untuk mencari nafkah,” jelasnya kepada tatkala.co, Kamis (25/02/23) siang.

Namun kini, nelayan dengan 13 orang karyawan itu mengatakan bahwa ia merasa kasihan kepada para karyawannya yang harus menganggur karena alat mencari nafkahnya kini telah tiada. “Saya kasihan kepada mereka. Karena ini kan mata pencaharian mereka satu-satunya, jadinya sekarang mereka nganggur,” ujarnya.

Rumpon yang menjadi tempat kami mencari nafkah selama kurang lebih 6 tahun ini, katanya lagi, sekarang harus kami relakan untuk diangkat. “Tapi mau bagaimana lagi, soalnya ini program pemerintah juga, kan?”tambahnya.

Desember mengatakan bahwa untuk biaya pembuatan rumpon lumayan besar, sehingga ia berharap mendapatkan nilai kompensasi yang sepadan dengan biaya pembuatannya.

“Saya punya 5 rumpon, tapi yang terverifikasi baru 4 buah. Semoga nilai kompensasinya sepadan. Soalnya biaya pembuatan satu rumponnya lumayan besar, sampai dua puluh juta untuk satu rumponnya,” ujarnya.

Selain itu, ia berharap, setelah pemetaan survei sudah selesai dilakukan, ia dan para nelayan lainnya diperbolehkan untuk memasang rumpon kembali. Sebab, menurutnya, jika tidak diizinkan memasang kembali, ia dan nelayan lainya akan mengalami kesulitan untuk menangkap ikan.

“Semoga saja setelah semuanya selesai, kami diperbolehkan memasang lagi. Namun kalau tidak, ya kami akan kesusahan,” jelasnya.

Pemetaan Potensi Migas

Kegiatan yang dilakukan dari pagi sampai siang hari itu merupakan tindaklanjut yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng dan PT. Technical Geophysical Services (TGS) dalam melakukan survei seismik pemetaan daerah potensi migas di Bali Utara.  Sebenarnya, kegiatan pembersihan rumpoh sudah dilakukan sejak akhir bulan lalu, tepatnya 29 Desember 2023.

Kegiatan yang melibatkan nelayan di sepanjang pantai Bali Utara itu dilakukan oleh PT. TGS guna memverifikasi data kepemilikan, serta volume dari rumpon untuk menentukan nilai kompensasi dari rumpon tersebut.

Sedangkan, menurut Abdul Manap, selaku Plt Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Perikana (DKPP) Buleleng, pengangkatan rumpon-rumpon milik nelayan di sepanjang pantai Bali Utara itu dilakukan untuk melancarkan survei pemetaan daerah potensi migas di Bali Utara. “Rumpon ini memang harus kita angkat, supaya tidak menganggu kegiatan survei,” katanya.

Dengan jumlah 202 rumpon yang telah didaratkan, membuat pemandangan di area dermaga Pelabuhan Celukan Bawang tidak seperti biasanya. Rumpon-rumpon itu menggunung dengan bau busuk dari ikan yang mati akibat terselip di antara bambu-bambu rumpon.

“Yang sudah berhasil didaratkan ini ada sebanyak 202 rumpon, dengan total 261 rumpon yang sudah diputus. Beberapa masih ada di dalam kapal belum diturunkan,” jelasnya.

Sedangkan, menurut Gusni Firmansyah, tim sosialisasi PT. TGS, dalam proses survei seismik laut di Bali Utara, kondisi permukaan air laut harus bersih dari berbagai obstacle. Rintangan-rintangan tersebut berupa rumpon, sampah, dan aktivitas nelayan yang dapat mengganggu proses perekaman yang dilakukan oleh PT. TGS.

“Untuk rumpon sendiri kami angkat. Sedangkan, untuk aktivitas nelayan, kami halau agar tidak memsuki area lokasi survei,” jelasnya.

Dengan target waktu dua minggu, PT. TGS berupaya untuk membersihkan laut Bali Utara dari berbagai aktivitas nelayan untuk kelancaran kegiatan perekaman dan pemetaan daerah potensi migas tersebut. Meskipun, menurut Gusni, estimasi awal dua minggu pembersihan ternyata memakan waktu selama hampir 1 bulan.

Tumpukan rumpon yang sudah diangkat | Foto : Yudi

“Awalnya, untuk proses pembersihan itu estimasi waktunya selama dua minggu. Namun, karena volume rumpon yang besar-besar dan memakan waktu untuk menangkat ke atas kapal dan loading di Pelabuhan, ternyata prosesnya sudah hampir 1 bulan,” jelasnya.

Untuk menjawab pertanyaan para nelayan terkait pemasangan rumpon kembali setelah proses pemetaan survei selesai dilakukan, ia menjelaskan bahwa nelayan diperbolehlan untuk memasangnya kembali.

“Selama proses perekaman ini masih berlangsung, selain mengangkat rumpon, kami juga mengimbau para nelayan untuk tidak melakukan aktivitasnya di area survei yang kami lakukan,” jelasnya. Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan, “Kalau sudah selesai, nelayan boleh kok memasang rumponnya kembali, asalkan tidak di area yang sudah ditentukan.”

Sedangkan, untuk memastikan kebenaran rumpon yang diangkat oleh PT. TGS agar tidak menimbulkan kesalahan informasi kepada nelayan, pihak Dkpp Buleleng dalam proses pengangkatan rumpon, mengikutsertakan perwakilan nelayan, perwakilan dari dinas, TNI AL, dan Pol Air, dalam proses pengangkatannya.

“Agar tidak menimbulkan persepsi yang tidak-tidak dari nelayan, untuk proses pengangkatan rumponnya, kami dari Dkpp Buleleng dan PT. TGS mengikut sertakan perwakilan nelayan, perwakilan dinas, TNI AL dan Pol Air dalam proses pengangkatan rumponnya,” tutur Manap.

Namun, selain I Gede Desember, ada juga Komang Sunawa, nelayan asal Kecamatan Seririt, yang rumponnya terkena proses pembersihan yang dilakukan oleh PT. TGS

Ia mengaku bahwa untuk nilai kompensasi yang diberikan oleh PT. TGS kepada rumponnya sudah mencapai nilai kesepakatan dari kedua belah pihak. “Untuk saya, nilai kompensasinya sudah cukup,” katanya.

Nelayan dengan total kepemilikan 20 rumpon yang tersebar dibeberapa desa tersebut, mengaku bahwa kompensasi yang ia terima sudah cukup untuk menggantikan biaya pembuatan rumpon dan untuk ia bagikan kepada karyawan-karyawannya.

“Kompensasi ini nanti selain untuk mengganti biaya pembuatan rumpon, nanti juga akan saya bagikan kepada karyawan-karyawan saya. Dan, ini sudah cukup nilainya,” jelasnya.

Sebagai seorang nelayan dengan kepemilikan jumlah rumpon yang cukup besar, Sunawa mengaku bahwa memiliki ketertarikan untuk bekerja di pertambangan minyak yang dilakukan oleh PT. TGS tersebut. “Jika ada kesempatan dan tawaran untuk menjadi pekerja tambang minyak, saya mau untuk diajak bekerja di sana,” tegasnya.

Dampak yang akan Terjadi

Survei ini dilakukan atas anggapan bahwa di perairan utara Bali diyakini ada cadangan migas sebanyak lima trillion cubic feet (TCF). Cadangan migas itu diprediksi ada pada kedalaman 600-800 meter di bawah permukaan laut. Setelah survei seismik tuntas, hasilnya akan diserahkan pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hal itu tampaknya bukan omong kosong. Sebab, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mengatakan hal demikian. Katanya, potensi sumber daya gas di kawasan Buleleng terbilang besar, bahkan telah masuk dalam tahap eksplorasi di sisi utara Pulau Bali.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, potensi sumber gas di perairan Bali Utara bisa mengambil bagian sekitar separuh dari data yang dimiliki Blok Masela, Maluku. “North Bali saat ini diduga memiliki cadangan yang besar juga, mungkin tidak sebesar Masela, tapi mungkin separuh Masela,” kata Tjipto di Surabaya, Senin (22/5/2023).

Pengembangan blok kaya gas di Bali Utara itu, sebagaimana telah beredar di berbagai pemberitaan, adalah Blok Agung yang terbagi dalam dua zona. Blok Agung I berada di laut dalam seluas 6.656 kilometer persegi lepas pantai Bali dan Jawa Timur, sedangkan Blok Agung II terletak di laut dalam lepas pantai Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur seluas 7.970 kilometer persegi.

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Gede Supriatna, waktu itu mengatakan sudah mengetahui informasi itu sejak setahun lalu, dan berharap potensi tersebut mampu dioptimalkan untuk menunjang pundi-pundi bagi Kabupaten Buleleng maupun Provinsi Bali.

“Saya dapat informasi tentang keberadaan sumber gas alam tersebut sudah sekitar setahun yang lalu. Kalau ini benar dan sudah diekplorasi, tentu sesuatu yang sangat bermanfaat untuk Buleleng— karena kita akan memiliki pendapatan dari sumber daya alam yang selama ini, Bali maupun Buleleng tidak punya,” ungkap Supriatna, Jumat (26/5/2023).

Tumpukan rumpon yang sudah diangkat | Foto : Yudi

Lantas, jika memang PT. TGS jadi menambang gas di lepas pantai Buleleng, apa yang bakal terjadi? Tak ada yang dapat meraba dan melihat masa depan. Tapi setidaknya, berkaca pada pembangunan-pembangunan yang sudah-sudah, dampak positif dan negatif sudah berada di depan mata.

Dampak positifnya, sebagaimana dikatakan Kepala SKK Migas, Indonesia bakal mengalami surplus gas mencapai 1.715 MMscfd yang berasal dari beberapa proyek potensial dalam 10 tahun ke depan. Adapun, potensi gas bumi Indonesia cukup menjanjikan dengan cadangan terbukti sekitar 41,62 triliun kaki kubik (Tcf).

Blok Migas Agung I berlokasi di lepas pantai Bali dan Jawa Timur diperkirakan memiliki sumber daya mencapai 985 miliar kaki kubik atau billion cubic feet (Bcf).  Blok Migas Agung I itu dikelola BP Agung I Limited dengan nilai tanda tangan bonus atau signature bonus sebesar US$100.000. Sementara itu, komitmen pasti 3 tahun dipatok sekitar US$2,5 juta dengan rencana kerja G&G dan seismik 2D 2.000 kilometer untuk mengelola blok sepanjang 6.656,73 kilometer persegi.

Namun, di sisi lain, ada yang dipilih, tentu ada juga yang harus dikorbankan. Mengekstraksi cadangan minyak dan gas dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan. Secara khusus, eksplorasi dan pengembangan minyak dan gas menyebabkan terganggunya jalur migrasi, degradasi habitat hewan, dan tumpahan minyak—yang dapat berdampak buruk bagi hewan dan manusia yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Selain itu, sebagaimana dikutip dari OSPAR Assessement Portal, ancaman seperti fenol, alkilfenol, dan asam naftenat, akan sangat mengganggu ekosistem laut. Beberapa bahan kimia berbahaya yang digunakan selama proses penambangan mengandung zat yang bersifat persisten, dan/atau mudah terakumulasi dalam organisme hidup dan/atau beracun.

Dampak terhadap organisme laut dari bahan kimia yang dibuang ke lingkungan laut dapat bersifat akut atau jangka panjang dan pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia melalui jaring-jaring makanan.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Tags: balibali utarabuleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berpikir Serius Tentang “Gamelan Bukan Musik” di Antara Hujan dan Mie Instan

Next Post

Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co