14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berpikir Serius Tentang “Gamelan Bukan Musik” di Antara Hujan dan Mie Instan

Gede Yogi Sukawiadnyana by Gede Yogi Sukawiadnyana
January 25, 2024
in Esai
Berpikir Serius Tentang “Gamelan Bukan Musik” di Antara Hujan dan Mie Instan

Foto ilustrasi: Dokumentasi Yogi Sukawiadnyana

GUNUNG Merapi erupsi, hujan deras, tangan saya sedang mengetik. Tulisan ini mungkin akan saya buat seolah-olah serius. Agar yang membacapun jadi ikutan serius. saya menulis ini sembari menunggu rebusan mie instan di dapur.

Di benak saya, hujan-hujan makan mie instan. Nikmat. Entah sejak kapan hujan dan mie instan berteman.

***

Tulisan ini hadir setelah saya membaca tulisan Yudi Setiawan yang berjudul Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik sampai Kebudayaan yang Luntur yang dipublikasikan pada 20 Januari 2024 di tatkala.co. Saya tidak punya komplain mengenai cara menulis Yudi. Tulisannya bagus.  Lewat membaca saja, dan saya yang tidak hadir ke Forum Suluh Tulis, saya mampu setidaknya membayangkan apa yang terjadi di sana. Walaupun tentu tidak akan sedetail jika hadir lagsung ke forum tersebut.

Lalu apa yang ingin saya tanggapi?

Saya tergelitik dengan beberapa argumen yang dilemparkan oleh saudara Gigih Alfajar Novra Wulanda dan Kadek Anggara yang menjadi narasumber pada acara itu. Selain itu, pemilihan tema Gamelan Bukan Musik menjadi akar permasalahan yang muncul di otak saya.  Jadi tulisan ini semacam kumpulan dari keberatan saya terhadap argumen pada forum itu.

Gamelan bukan Musik?

Saya sebenarnya memiliki ekspektasi yang tinggi akan dasar pemikiran terhadap tema ini. Tema yang kontroversial seperti ini (dalam keyakinan saya) mestinya memiliki dasar pemikiran yang kuat, karena terkesan ingin menyimpulkan sesuatu. Tentunya kesimpulan biasanya hadir dari akumulasi berbagai macam pemikiran dan pertimbangan. Saya ijin untuk mengutip beberapa bagian dari tulisan Yudi yang akan menjelaskan di mana letak keberatan saya.

Sebagai seorang etnomosikolog, Gigih mencoba menjelaskan perbedaan gambelan dengan musik. Menurutnya, musik merupakan gabungan dari bunyi yang memiliki ritme, melodi, timbre, dan tempo. Sedangkan gambelan lebih dari itu. “Gambelan itu beyond dari musik,” katanya percaya diri.

Untuk mengklaim gamelan bukan musik, tentunya harus ditelusuri dulu apa yang disebut musik. Pada kutipan di atas, Gigih sudah berusaha menjelaskan apa definisi musik. Sayangnya definisi yang gigih pinjam untuk mendeskripsikan musik adalah deskripsi yang sederhana dan umum, kurang menjelaskan bagaimana dinamika definisi musik hingga saat ini.

Saya sedikit gambarkan bagaimana ketegangan pada upaya pendefinisian musik yang saya temui di berbagai forum diskusi maupun literatur. ABC of Music (1963) menyebutkan bahwa musik adalah gabungan dari  ritme melodi dan harmoni. Lewat definisi tersebut bisa kita gambarkan kalau musik merupakan bunyi yang teratur. Definisi ini lantas menimbulkan persoalan.

Jika musik adalah gabungan dari ritme melodi dan harmoni, bagaimana dengan suara burung, gemericik air dan suara knalpot bermotor? Apakah berarti itu bukan musik? Kemudian apakah bebunyian tersebut tidak disebut musik karena tidak teratur? Pada perspektif siapakah “teratur” ini dibebankan?

Untuk berusaha menjawab hal tersebut, mari kita lihat dua pandangan berbeda tentang intensionalitas pada musik. Edgar Varese (1883-1965) memiliki pendapat bahwa musik adalah “organized sound”. Musik adalah apa yang diniatkan produsen sebagai musik.

Luciano Berio (1925-2003) menyatakan bahwa musik adalah tergantung apa yang ingin kita dengar sebagai musik. Dari pendapat Varese kita bisa melihat kalau intensi produsen yang menentukan itu musik atau tidak. Sedangkan Berio mengatakan musik tergantung dari pendengarnya. Dalam hal ini suara knalpot motor pun bisa disebut sebagai musik tergantung dari intensi produsen maupun pendengar.

Apakah ini menjawab persoalan musik dan bukan musik? Tentu saja tidak sesederhana itu. Pendekatan intensionalitas ini tentunya akan menimbulkan persoalan baru karena tidak menyentuh ranah yang mendalam tentang musik karena sifatnya yang subyektif. Anggap saja kita ganti obyeknya. “Hantu adalah apa yang kita anggap sebagai hantu.” Ini tidak menjawab persoalan mengenai apa itu hantu.

Upaya lain yang sekiranya lebih solutif mengenai definisi musik adalah Andrew Kania yang membuat definisi musik dan merevisinya berkali-kali sebagai upaya pendefinisian yang esensial.

Definisi pertama. Musik adalah (1) bunyi, (2) secara sengaja diproduksi/diorganisasikan, (3) yang sekurang-kurangnya memiliki satu unsur musikal mendasar, seperti nada atau ritme.

Namun definisi ini memiliki kelemahan karena tidak mencakup musik-musik kontemporer. Misalnya karya Toilet Piece/ Unknown (1971) oleh Yoko Ono. Karya berdurasi 30 detik ini merupakan rekaman murni suara flush toilet tanpa diproses sama sekali. Kendatipun tidak memiliki salah satu unsur musik yang disebukan di atas, menurut Kania, Yoko Ono secara sadar merekam suara flush toilet dan diniatkan untuk diperdengarkan sebagai musik yang tentunya perlu dibedakan dengan menyiram toilet tanpa intensi merekam. Kania lalu melengkapi devinisinya.

Musik adalah (1) bunyi, (2) secara sengaja diproduksi atau diorganisasikan, (3) antara yang sekurang-kurangnya memiliki (a) satu unsur musikal mendasar, seperti nada atau ritme, atau (b) untuk diperdengarkan sebagai sesuatu yang memiliki unsur-unsur musikal.

Upaya ini pun masih memiliki kelemahan. Bagaimana dengan kondisi tanpa bunyi? Tanda istirahat misalnya? Atau musik John Cage 4’33 yang tanpa “bunyi”?

Kania pun merevisi kembali definisinya mengenai musik.

Musik adalah (1) segala peristiwa yang secara sengaja diproduksi atau diorganisasikan, (2) untuk didengarkan, dan (3) antara yang sekurang-kurangnya memiliki (a) satu unsur musikal mendasar, seperti nada atau ritme, atau (b) untuk diperdengarkan sebagai sesuatu yang memiliki unsur-unsur musikal.

Kita bisa melihat bagaimana ketegangan dalam upaya pendefinisian musik. Sehingga penentuan mana yang bukan musik dan mana yang musik bukanlah hal yang sederhana. Tentunya definisi yang sederhana pun tidak bisa secara kongkrit menentukan mana yang musik dan mana yang bukan musik. Belum lagi definisi-definisi lain seperti “satu-satunya kebenaran adalah musik”,  “tanpa musik, hidup adalah suatu kesalahan” yang ikut menyumbang kebingungan dalam upaya mendefinisikan musik. Mari kita simak kembali argumen saudara Gigih.

Gigih percaya bahwa gambelan telah melampui dan levelnya di atas musik. Sebab, menurutnya, jika berbicara gambelan, maka kita tidak bisa lepas dari yang namanya nilai, makna, dan filosofis. Bahkan, sambungnya, gamelan merupakan salah satu alat atau jalan manusia mendekatkan diri kepada Tuhan.

Menurut saudara Gigih gamelan melampaui musik karena terdapat unsur nilai, makna dan filosofis bahkan sebagai jalan manusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Argumen ini seolah beranggapan, musik di luar gamelan luput dari (tidak memiliki) unsur-unsur yang disebutkan Gigih di atas. Saya kok ragu. Kita bisa melihat beragam filosofi yang muncul dari karya 4’33 John Cage. Musik gereja juga diperuntukkan sebagai sarana untuk menyembah dan bersyukur kepada Tuhan. Jadi apa yang saudara Gigih maksudkan sebagai melampaui? Pandangan saya, argumen saudara Gigih lebih condong kepada permasalahan politik identitas daripada membicarakan hal yang esensial mengenai perbedaan gamelan dan musik.

Gamelan Langka (?) dan Desakralisasi

. . . . Gigih menyampaikan kesannya kembali berkunjung ke Bali setelah 13 tahun lamanya. Saat ia menginjakkan kaki di Denpasar, katanya, ia kesulitan mendengar bunyi-bunyi gambelan.

“Hanya sekali saya mendengar suara gambelan di Bali, ketika di Batubulan. Itu pun diputar rekaman digital,” sambungnya. Atas kesulitan mendengar suara gambelan tersebut, kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya. “Di mana letak gambelan sekarang? Apakah hanya di Pura?”

Pertama, saya sebagai orang Bali yang tinggal di Jembrana (yang tentunya intensitas orang bermain gamelan tidak seintens Denpasar maupun Gianyar) pun masih sering mendengar suara gamelan. Di Bali (setidaknya sampai saat tulisan ini ditulis) anak-anak, orang tua, pria dan wanita bermain gamelan. Tiap-tiap banjar bahkan mempunyai gamelan yang minimal seminggu sekali pernah dimainkan. Belum lagi gamelan-gamelan yang ada di sanggar, pun gamelan milik pribadi.

Pertanyaan yang tepat bukanlah “Di mana letak gamelan sekarang?” melainkan “Saudara gigih mainnya kemana saja?”

Dengan pernyataan ini, idealnya saudara Gigih mempertimbangkan kembali argumen mengenai gamelan yang langka ini. Juga bukankah menjadi kontradiktif untuk saudara Gigih menyampaikan argumen “gamelan bukan musik” dengan kenyataan yang saudara Gigih akui sendiri yakni jarang mendengarkan gamelan (Bali)?

Untuk menghindari desakralisasi tradisi Bali, perlu dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang mendasar. Dimulai dengan diskusi kebudayaan, melakukan berbagai kajian-kajian yang relevan, sehingga upaya untuk memahami nilai dan makna tradisi dan budaya tersebut tidak mengalami desakralisasi. Dengan demikian, keterhubungan pengetahuan antara objek dan orang yang membutuhkan tidak terputus.

Saya setuju dengan argumen bahwa untuk menjawab sebuah permasalahan tentunya perlu dilakukan pendekatan yang mendasar, diskusi kebudayaan, serta kajian yang relevan. Demkian juga untuk menjawab permasalahan gamelan itu musik atau bukan musik tentunya diperlukan upaya-upaya di atas untuk memahami nilai dan makna sehingga bisa ditemukan kesimpulan walaupun masih bersifat upaya yang bisa didebat. Karena tidak bisa hal tersebut disimpulkan berdasarkan datang ke Bali dan hanya melihat fenomena di permukaan.

Saya ijin mengutip kembali.

Sedangkan menurut Kadek Anggara, musik karawitan mempunyai pengetahuan dan tata kramanya sendiri. Hal tersebut berbeda dengan seni musik yang bisa dan bebas dimainkan kapan dan di mana saja. Sehingga, di dalam kebudayaan Bali, musik karawitan masih digunakan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ritual keagaman.

Bagi saya argumen saudara Anggara (akademisi) agaknya bermasalah. Seolah menunjukkan esklusifitas gamelan dan bagaimana musik menjadi sangat sederhana dengan kalimat “bebas dimainkan kapan dan di mana saja”.

Apakah gamelan Bali ekslusif untuk ritual ke agamaan? Mungkin Anggara perlu menonton Yudane, atau Dewa Alit. Putu Septa? Atau Kadapat mungkin?.

Apakah musik bisa dimainkan kapan dan dimana saja?

Belum tentu. Ada yang namanya site-spesific music yang merespon ruang-ruang tertentu. Atau musik gereja yang memang dimainkan untuk kepentingan gereja yang saya rasa juga memiliki tata krama dan pengetahuannya sendiri.

Menurutnya, jika gambelan hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan saja, maka semakin banyak orang yang kesulitan mendengarkan suara-gambelan, seperti dirinya. Tetapi, katanya lagi, jika gambelan dijadikan tontotan (kebutuhan pariwisata) bukankah gambelan akan mengalami desakralisasi?

Saya curiga, saudara Gigih sama sekali tidak memaknai gamelan di Bali sebagaimana mestinya. Tidak semua gamelan Bali muncul dan digunakan sebagai sarana ritual. Jegog misalnya, ia lahir dari tradisi agraris masyarakat Jembrana yang jauh dari hal yang sifatnya ritus dan sakral. Atau gamelan rindik yang sekarang (sayangnya) digunakan sebagai penyambut tamu dan pengiring tarian joged.

Jadi gamelan mana yang saudara Gigih maksud?

Pada kutipan di atas dapat kita lihat bagaimana saudara Gigih membenturkan antara gamelan untuk kegiatan keagamaan dan kegiatan pariwisata sebagai sebuah hal yang terpisah, bahkan bertolak belakang. Gong kebyar sebagai sebuah barungan gamelan yang populer di Bali pun hadir di kedua ruang tersebut, dan tidak ada permasalahan langka maupun desakralisasi. Kalau boleh saya sarankan Mas Gigih bisa tinggal di Bali agak lama untuk menyempurnakan argumen mengenai gamelan bukan musik maupun sakral dan desakralisasi pada gamelan Bali.

Sepertinya penutup

Jadi apa solusi untuk gamelan?

Bagi saya pilihan untuk gamelan tidak sesederhana gamelan untuk Pura atau gamelan untuk pariwisata. Ada tawaran pilihan lain yang bagi saya lebih waras untuk menjawab gamelan harus kita apakan. Gamelan penuh dengan pengetahuan yang tidak hanya sekedar wacana dan makna filosofis semata. Itu mengandung pengetahuan esensial yang diturunkan sebagai produk kebudayaan. Pengetahuan yang mengendap di dalamnyalah yang bisa kita manfaatkan untuk menjawab kegelisahan apapun yang kita temui pada permasalahan gamelan.

Singkatnya, kita gali pengetahuannya dan kita kembangkan untuk masuk ke wacana yang global sehingga gamelan tidak berakhir menjadi barang antik yang tentunya akan dijual oleh “pahlawan kesiangan”.

Pandangan bahwa gamelan bukan musik (sehingga itu eksklusif) memunculkan tegangan bahwa ada barier yang membatasi silang pengetahuan antara musik dan gamelan. Yang lebih berbahaya lagi adalah rasa superioritas yang sayangnya tidak mendasar. Merasa adiluhung, merasa mulia, merasa nilai kebudayaan kita paling sempurna adalah upaya menutup diri dan optimis berlebih yang biasanya membuat kita enggan belajar, enggan mempelajari, jarang mendengar namun selalu ingin didengar.

Silang pengetahuan tentu diperlukan sebagai upaya penyempurnaan, atau bahkan menguji, “Jangan-jangan kita tidak se-adiluhung itu.”

***

Hujan reda, mie instan saya direbus kelamaan, alhasil saya memilih untuk tidur. [T]

  • Catatan: Tulisan ini adalah bagian dari polemik Gamelan Bukan Musik. Untuk mengetahui secara lebih lengkap, baca juga artikel di bawah ini:
Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur
Gamelan (Bukan) Musik
Tags: baligamelan balikesenian balimusikmusik balipolemik seni bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Kini Punya Pusat Informasi Bernama “Buleleng Command Center”

Next Post

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Gede Yogi Sukawiadnyana

Gede Yogi Sukawiadnyana

Komposer, Pemusik, Jelana Creative Movement

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co