2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 26, 2024
in Esai
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Jalan shortcut yang baru dibuka di Canggu, Badung | Foto: screenshot dari video di facebook

MENINGKATNYA aktivitas ekonomi sebuah kawasan menyebabkan melambungnya harga lahan. Hal ini bisa menjadi alat seleksi alami karena hanya orang dengan kemampuan tertentu saja yang mampu tinggal di kawasan-kawasan seperti itu.

Untuk tetap menjaga nilainya, pihak-pihak tertentu terus berupaya menambahkan value dengan cara membuka bisnis-bisnis atau usaha baru yang akan membuat kantong investor semakin tebal. Tetapi, lama-kelamaan hal ini bisa membawa dampak signifikan bagi kehidupan sosial terutama penghuni awal kawasan yang sudah menghuni jauh sebelum bisnis-bisnis baru bermunculan.

Canggu adalah contoh bagaimana konflik bisa muncul di kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melambung.

Setahun lalu Canggu pernah menjadi pemberitaan di media lokal, nasional dan juga internasional. Bukan. Pemberitaannya bukan tentang keindahan pantainya ataupun ombaknya yang mengundang para peselancar, tetapi soal petisi. Ya, petisi warga yang menuntut agar gangguan yang mereka alami akibat aktivitas turisme bisa didengarkan oleh para pengambil kebijakan.

Petisi ini bisa jadi merupakan langkah yang diambil setelah berbagai cara lain dianggap tidak berhasil. Ketidakberhasilan ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai hal: kuatnya pengaruh politik pemilik usaha, atau tingginya sumbangan ekonomi dari usaha yang mereka jalankan bagi penghasilan pajak daerah. Keduanya bisa membuat pemangku kebijakan enggan melakukan tindakan.

Canggu kini sudah menjadi salah satu kawasan wisata yang sangat padat layaknya Seminyak, Legian, Kuta, Jimbaran dan kawasan lain sepanjang pantai barat daya Pulau Bali. Keramaiannya memiliki kekhasan akibat segmentasi fasilitas hiburan untuk wisatawan yang ada di sepanjang tepian pantai tersebut.

Sepanjang garis pantai terjadi pengelompokan-pengelompokan mulai dari wisata kuliner di Jimbaran, wisata sunset di Kuta dan Legian, lalu restaurant dan klub malam sepanjang Seminyak dan Canggu, dan seterusnya. Pengelompokan ini menggambarkan segmen-segmen wisatawan yang semakin beragam.

Kini, Bali tidak hanya dikunjungi oleh penikmat eksotisme dan romantisme dunia Timur, mereka yang mengagumi keheningan Pura di dekat sumber air, menikmati alunan gamelan dan gemulai penari tradisional. Bali dijejali juga oleh mereka yang menggemari kehidupan malam hingar bingar, para pencari status sosial yang haus pengakuan dari masyarakat. Inilah turisme hari ini.

Pandemi yang melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2021 mulai mereda. Ekonomi yang sempat mati suri kini mendapat perhatian besar. Berbagai acara dihelat, festival digagas, kemudahan-kemudahan ditawarkan. Para tamu yang naik pesawat mulai berdatangan. Beberapa bahkan disambut sangat meriah, pesawatnya disemprot air selamat datang, penumpangnya mendapat kalungan bunga. Dielu-elukan bak tamu agung yang layak disanjung.

Pariwisata memang sudah menjadi panglima. Ini tidak berlangsung dalam waktu singkat. Bisnis pelancongan ini sudah dimulai sejak jaman kolonial. Konon, tujuannya tidak murni ekonomi tetapi juga politis: untuk mengembalikan nama baik pemerintah kolonial yang hancur lebur di mata dunia pasca perang tak seimbang Puputan Badung dan Puputan Klungkung.

Sekarang mungkin lebih dari 80 persen penduduk bekerja di sektor ini. Gangguan kecil bisa merusak mata pencaharian mayoritas populasi. Jadilah pariwisata menjadi alat seleksi: tidak boleh demo nanti turis pergi, jangan melakukan ini, jangan melakukan itu, dilarang mengganggu wisatawan. Banyak lagi seleksi-seleksi aktivitas yang dilakukan atas nama pariwisata.

Berlawanan, banyak hal yang semestinya ditolak atau dihindari justru dilegitimasi atas nama bisnis yang menguntungkan tersebut. Alih fungsi lahan misalnya, menjadi hal biasa demi pembangunan fasilitas pariwisata. Kemacetan yang semakin parah dimaklumi karena itu pertanda bisnis pariwisata berjalan lancar. Inilah paradoks kita hari ini.

Wisatawan berdatangan. Mereka melakukan berbagai hal, tidak hanya wisata budaya seperti yang digembar-gemborkan. Ada yang naik ke pelinggih, ada yang telanjang di bawah pohon yang disucikan, ada yang kencing di gunung yang disucikan. Kita marah. Kita usir mereka. Tapi setelah itu? Kita hidup seperti biasa lagi. Datang lagi wisatawan. Polahnya berbagai macam lagi.

Ihwal gangguan wisatawan tidak hanya dialami Bali. Beberapa belas tahun lampau saya beruntung berkunjung ke Venice, sebuah kota kecil dengan kanal di Italia. Sembari menyiapkan pesanan, seorang penjual pizza ngedumel tentang banyaknya turis yang datang ke kotanya. Ia jadi tidak sempat bersenang-senang karena harus bekerja keras melayani turis dan membayar berbagai sewa yang semakin meningkat.

Sebagai orang lokal, awalnya ia menikmati lalu akhirnya terbebani oleh beban kerja yang semakin tidak terkendali. Banyaknya wisatwan membuatnya menjadi minoritas di kotanya. Sebagian temannya bahkan memilih pergi dari kota itu. Mereka merasa terasing di kotanya sendiri.

Lain halnya dengan London. Meningkatnya ekonomi salah satu kota tersibuk di dunia ini menyebabkan harga-harga melambung tinggi. Harga sewa tempat tinggal hanya bisa dijangkau golongan ekonomi tertentu. Harga sewa property yang tinggi menyebabkan harga-harga komoditas juga otomatis meningkat. Toko-toko kecil tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan bisnisnya.

Konsekuensinya, kelompok menengah ke bawah tidak mampu tinggal di kota, menyingkir ke wilayah pinggiran. Mereka bisa jadi adalah golongan perawat kesehatan, polisi, pelayan toko dan golongan lain yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk dapat bekerja dengan baik.  

Di Amsterdam beberapa turis berkelakuan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan penduduk lokal. Sebagian pendatang sesaat tersebut suka mabuk-mabukan di jalan. Mereka memanfaatkan peraturan setempat yang tidak melarang ganja serta melegalkan prostitusi. Padahal, tujuannya adalah untuk menghargai hak-hak manusia bukan untuk mengijinkan orang untuk berbuat semaunya.

Amsterdam dan Venice kini bekerja keras untuk mengendalikan turis. Walikota Amsterdam mengatakan bahwa ia tidak menolak orang untuk berkunjung ke kotanya. Dia tidak menolak orang berlibur. Yang dia tolak adalah kelakuan amoral yang menganggu penduduk setempat.

Turis yang datang haruslah mereka yang menghormati budaya setempat bukan yang mau berlibur untuk melepaskan diri dari kehidupan teratur dan melepaskan dirinya untuk berbuat semaunya di Amsterdam.

Venice mewajibkan setiap orang yang berkunjung ke kota tepi air tersebut untuk membeli tiket secara online di depan. Sepintas, ini tampak seperti upaya komersialisasi. Tetapi, sesuai yang dinyatakan kepala kantor turisme Simone Venturini, adalah upaya untuk mengatur jumlah kunjungan. Tiket hanya dijual sesuai dengan kemampuan kota untuk menangani pengunjung. Ia berharap, ini akan membuat kunjungan lebih teratur sekaligus juga menjamin kualitas kota tetap dapat terjaga baik untuk penduduk lokal dan pengunjung.

Bagaimana dengan Canggu? Ya, Canggu kini mengarah ke symdrome Amsterdamisasi, Londonisasi dan Veniceisasi sekaligus. Dominasi beach club seolah membebaskan turis untuk berbuat semaunya, melepaskan diri dari kehidupan normalnya sehari-hari. Mereka mungkin tidak sadar bahwa di sekitarnya ada penduduk lokal yang hidup dengan keseharian.

Harga-harga tanah yang kian melambung menyeleksi penduduk kurang mampu untuk keluar dari area ini. Hanya mereka yang berpenghasilan tinggi yang bisa tinggal di sana. Dalam jangka panjang, ini tidak baik karena kota membutuhkan heterogenitas untuk dapat bekerja dengan baik. Meningkatnya kunjungan juga bisa berbanding lurus dengan rasa keterasingan yang dialami oleh penduduknya. Penduduk lokal mungkin tidak lagi merasa sebagai tuan rumah di atas wilayahnya sendiri.

Kini pemerintah berupaya mengatur Canggu. Para pihak berkumpul untuk menyelesaikan persoalan, mencari solusi terbaik yang saling menguntungkan. Kita tentu berharap agar ditemukan cara terbaik untuk keluar dari persoalan ini.

Canggu bisa menjadi masa lalu jika kita mampu keluar dari persoalan itu dan memecahkan masalah pelik yang ditumbulkan oleh pariwisata. Tetapi ia juga bisa menjadi masa depan jika kita melakukan pembiaran. Bisa saja di masa mendatang semua wilayah menjadi seperti Canggu. Kendali ada di tangan kita. [T]

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Rustic System dalam Perencanaan Wilayah
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Tags: Desa CangguKutaPariwisatapariwisata balipariwisata budayapariwisata indonesiaSanurSeminyakTuris
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Next Post

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co