5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 19, 2024
in Esai
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

Menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

USAHA-USAHA untuk menggiring aktivitas kepariwisataan ke arah yang lebih positif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal menjadi perhatian pemerintah di berbagai belahan dunia. Ini merupakan buah dari kesadaran bahwa perjalanan jauh yang ditempuh oleh seseorang untuk berwisata mungkin membawa dampak yang kurang baik dan perlu dipikirkan ulang tanpa harus melarang atau membatasi aktivitas tersebut.

Selain itu, keuntungan ekonomi dari bisnis ini diharapkan juga ikut dinikmati oleh masyarakat setempat sehingga mereka tidak lagi sekedar menjadi obyek atau tontonan belaka. Semua terdengar baik dan ideal, tetapi, bagaimana dalam prakteknya?

Ekowisata yang diterjemahkan dari kata ecotourism, berasal dari akronim ecological tourism, merupakan jenis aktivitas pariwisata yang menekankan pada upaya menjaga lingkungan, mempromosikan pendidikan, melakukan kegiatan jalan-jalan mengunjungi tempat yang eksotis, dengan cara memiminalisir dampak-dampak merugikan yang mungkin ditimbulkan. Tidak hanya berfokus pada lingkungan alamiah, konsep ini juga diharapkan berperan dalam memberi dukungan ekonomi kepada komunitas lokal.

Ekowisata yang sering juga dikaitkan dengan konsep wisata desa telah digadang-gadang sebagai jalan untuk mendistribusikan kesejahteraan yang ditimbulkan aktivitas pelancongan kepada masyarakat lokal. Sebelumnya, pariwisata dianggap hanya menguntungkan segelintir investor yang menanamkan modalnya pada sektor ini.

Sejak tahun 2002, UNWTO, lembaga PBB yang memiliki perhatian besar terhadap pariwisata aktif mempromosikan kegiatan-kegiatan yang diharapkan akan mendukung keberlanjutan bisnis ini dan juga lingkungan serta masyarakat pendukungnya.

Saat bertandang ke Vietnam akhir tahun 2023 lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Delta Sungai Mekong. Sungai ini merupakan salah satu yang terpanjang di dunia menemapti urutan ke-12. Artinya, hanya ada 11 sungai lain yang lebih panjang. Kemudian, alirannya melewati beberapa negara: China, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja sebelum masuk ke Vietnam dan beramuara di Laut China Selatan.

Sebagai wilayah paling akhir yang dilewati sungai itu, di Kawasan Vietnam dijumpai beberapa delta, pulau-pulau kecil berlumpur yang subur.

Mendayung di Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Sungai Mekong memiliki peran dalam perdagangan antar negara. Hubungan-hubungan dagang ini membentuk budaya-budaya lokal yang unik sehingga delta sungainya menjadi salah satu destinasi wisata utama di Vietnam Selatan. Kehidupan masyarakat dan kondisi alam yang unik membuatnya berpotensi sebagai kawasan wisata alam dan budaya. Untuk mencapainya, bisa melalui perjalanan darat. Perjalanan dari Saigon ditempuh sekitar 2 jam melewati kota-kota yang lebih kecil penduduk dan persawahan hijau membentang.

Sepanjang jalan banyak coffee shop dengan ayunan hammock untuk tempat beristirahat bagi penduduk yang bermigrasi ke Saigon dari daerah-daerah yang lebih di utara dengan naik sepeda motor. Setiap Imlek mereka menempuh jarak ratusan kilometer ke kampung-ksmpung asalnya, mudik.

Kota memang selalu menjadi magnet bagi banyak orang. Meski di pedesaan juga tersedia pekerjaan, tetapi upah yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih lengkap dan gaya hidup yang dianggap lebih maju selalu mengisi imajinasi banyak orang. Biarlah eksotisme desa menjadi milik pelancong menjadi imajinasi orang yang hanya datang dalam waktu singkat saja.

Selain penjual kopi, banyak penjual buah terutama jeruk besar, mangga, markisa, pisang, delima hingga durian. Ini adalah hasil pertanian penduduk di sekitar sungai yang subur itu. Terbit juga niat untuk mencobanya, tetapi guide kami mengingatkan bahwa nanti akan ada tempat untuk membeli berbagai buah-buahan tersebut beserta ragam olahanya di lokasi wisata.

Perjalanan panjang kami diselingi istirahat di sebuah rest area dimana hasil kerajinan penduduk setempat ditawarkan sebagai souvenir.

Kami tiba di sebuah pelabuhan kecil setelah menempuh perjalanan dari pagi hingga menjelang siang. Delta Mekong memiliki empat buah pulau dengan fungsi yang berlainan. Satu pulau dihuni oleh masyarakat lokal. Tiga lainnnya berfungsi sebagai masing-masing sebuah restaurant, pulau resort pribadi dan, yang terakhir, pulau tempat penduduk bertani serta beternak lebah madu.

Turis menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Kami akan berkunjung ke pulau terakhir. Disinilah pemerintah mengembangkan ekowisata atau wisata alam dan budaya lokal.

Untuk mencapainya, dari pelabuhan kecil tadi kami naik perahu beratap bersuara menggeram-geram. Aroma asap dari mesin solar memenuhi udara saat nakhkoda mulai memacu perahunya memecah gelombang air Sungai Mekong yang berwarna kecoklatan.

Pulau yang kami datangi ini menghasilkan buah-buahan lokal dan madu. Ini dipandang sebagai komoditas eksotis yang keberadaannya harus dilestarikan. Keduanya menjadi suguhan pertama begitu kami menginjakkan kaki di pulau bertanah basah tersebut. Sekelompok ibu-ibu berpakaian tradisional menyilakan kami duduk dan mulai menghindangkan teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis.

Saya menduga mereka adalah penduduk lokal. Rasa hidangannya segar dan manis. Para penyaji mulai bercerita soal bagaimana mereka memproses hidangan tersebut hingga sampai ke depan kami. Tidak lupa berbagai khasiatnya juga disampaikan

Berikutnya kami menuju tempat naik perahu guna menyusuri anakan Sungai Mekong yang kecil-kecil membelah pulau. Sembari menunggu, suguhan buah-buahan lokal kembali dihidangkan.

Naik perahu melintasi sungai kecil berwarna coklat berkelok-kelok di antara tanaman palem yang pendek merupakan atraksi utama. Imajinasi adalah ‚jualan‘ utamanya. Tentu tidak semua memiliki khayalan yang sama.

Saya sendiri berimajinasi sebagai pejuang Vietkong di serial televisi legendaris Tour of Duty yang tayang tahun 1990-an bergerak di antara rerimbunan menghindari serbuan pasukan lawan. Topi kerucut dari anyaman bambu mendukung imajinasi ini. Kawan lain yang tidak terpapar cerita film Tour of Duty mungkin punya imajinasi beda. Biarlah mereka membangun sendiri pengalaman imajiner di kepalanya.

Setiap perahu didayung dua orang dengan maksimal 4 penumpang. Saya naik bersama tiga orang kawan. Seorang ibu sigap mengendali dan mendayung di depan sementara seorang bapak mendayung di belakang. Sepanjang aliran sungai, kami berjumpa dengan turis-turis lain di puluhan perahu serupa dengan yang kami tumpangi. Sesekali tepian perahu saling beradu meski sudah berusaha dihindari oleh dua pendayung di masing-masing jukung. Ramai juga aliran anak sungai kecil berlumpur ini.

Si ibu bercerita setiap hari bolak balik mengantar pelancong sebanyak 8-10 kali. Sementara panjang sungai sekitar 2 kilometer. Sekali berangkat menempuh jarak 4 kilometer karena harus bolak balik. Artinya dalam sehari dia mendayung sejauh 32-40 kilometer. Bukan jarak yang pendek. Untunglah arus di anak-anak sungai ini tidak begitu deras.

Di ujung tour sungai, sebelum memasuki kapal untuk kembali ke pelabuhan awal, kami mendarat di sebuah tempat dimana oleh-oleh dijual. Ini strategi klasik. Setelah mengalami hal unik, tentu kita ingin berbagi dengan orang rumah. Salah satu alat berbagi adalah oleh-oleh. Berbagai macam manisan yang berasal dari buah-buahan lokal: jeruk, semangka, mangga, kelapa muda bahkan juga jahe ditawarkan dalam kemasan plastik menarik. Konon,sekali lagi, ini produk lokal.

Teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis | Foto: Gede Maha Putra

Saya sempat berfikir, siapa yang mendapat keuntungan dari bisnis ini. Jika konsep ekowisata seperti awal tulisan ini berjalan baik, harusnya kesejahteraan sudah menjadi milik puluhan pasang pendayung ini.

Tetapi bagaimana jika ada ‘investor’ di balik bisnis ini?

Jika itu yang terjadi, maka tenaga, keahlian dan waktu ibu pendayung akan dipandang sebagai aset sementara upah yang mereka terima menjadi pengeluaran. Jika si pengusaha ingin meningkatkan margin, hal yang dilakukan adalah memaksimalkan kinerja aset dan menurunkan biaya pengeluaran. Akibatnya, mereka yang bekerja mengandalkan keahlian, waktu dan tenaga tidak akan pernah mendapatkan share yang ‘adil’ dalam bisnis yang sedang berkembang pesat di Asia Tenggara ini.

Dalam dunia bisnis, apapun bentuknya, keuntungan adalah tujuan utamanya. Investasi diarahkan untuk mencetak keuntungan, dalam ha ini keuntungan ekonomi, sebesar-besarnya. Dalam kasus ekowisata, fokus pada hal ini bisa meminggirkan tujuan utamanya yaitu untuk tujuan pelestarian, pendidikan dan keberlanjutan.

Hal lain yang juga mengintai model baru bisnis ini adalah komodifikasi atas kehidupan dan produk masyarakat. Ini dapat menjauhkan masyarakat lokal dari kehidupan nyatanya karena mereka melakukan konservasi atau pelestarian bukanlah untuk tujuan keberlanjutan tetapi keuntungan ekonomi.

Komodifikasi juga bisa menjadi alat seleksi dimana hanya hal-ahal yang laku kepada turis saja yang mendapat perhatian sementara kondisi alam, aktivitas keseharian serta mungkin juga kebudayaan yang berakar di masa lalu yang tidak diminati pengunjung terabaikan.

Komodifikasi juga bisa mengekslusi atau meminggirkan warga lokal. Produk yang dijual dibuat seolah-olah milik warga padahal didatangkan dari wilayah luar.

Kapal bermesin menuju Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Penyeimbang antara sisi bisnis dan sisi keberlanjutan perlu dipikirkan masak-masak. Para perencana umumnya berfokus upaya untuk menghasilkan profit. Jika mereka berhasil membuktikan bahwa bisnis ini menguntungkan, maka investor akan datang. Investor disini bisa juga pihak pemerintah.

Dalam perencanaan pengembangan wisata berbasis pedesaan yang sedang marak sekarang ini di Bali, kemungkinan timbulnya kerugian jarang dibahas. Para penelitilah yang kemudian akan melihat sisi negatifnya.

Perencanaan ekowisata atau wisata desa, dengan demikian, perlu dilakukan hati-hati, tidak bisa grasa-grusu. Tujuan utama untuk menjaga kelestarian dan menjamin keberlanjutan tetap harus dijadikan prioritas. Sementara keterlibatan masyarakat lokal dilakukan sejak tahap perencanaan. Keterlibatan disini harusnya memberikan mereka control penuh, bukan sekedar tokenisme. Jika tidak, istilah ekowisata mungkin akan tetap menjadi jargon. [T]

BACA artikel tentang PARIWISATA atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: balidesa wisataekowisataPariwisataSungai MekongVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mobil Si Pino

Next Post

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co