23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 19, 2024
in Esai
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

Menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

USAHA-USAHA untuk menggiring aktivitas kepariwisataan ke arah yang lebih positif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal menjadi perhatian pemerintah di berbagai belahan dunia. Ini merupakan buah dari kesadaran bahwa perjalanan jauh yang ditempuh oleh seseorang untuk berwisata mungkin membawa dampak yang kurang baik dan perlu dipikirkan ulang tanpa harus melarang atau membatasi aktivitas tersebut.

Selain itu, keuntungan ekonomi dari bisnis ini diharapkan juga ikut dinikmati oleh masyarakat setempat sehingga mereka tidak lagi sekedar menjadi obyek atau tontonan belaka. Semua terdengar baik dan ideal, tetapi, bagaimana dalam prakteknya?

Ekowisata yang diterjemahkan dari kata ecotourism, berasal dari akronim ecological tourism, merupakan jenis aktivitas pariwisata yang menekankan pada upaya menjaga lingkungan, mempromosikan pendidikan, melakukan kegiatan jalan-jalan mengunjungi tempat yang eksotis, dengan cara memiminalisir dampak-dampak merugikan yang mungkin ditimbulkan. Tidak hanya berfokus pada lingkungan alamiah, konsep ini juga diharapkan berperan dalam memberi dukungan ekonomi kepada komunitas lokal.

Ekowisata yang sering juga dikaitkan dengan konsep wisata desa telah digadang-gadang sebagai jalan untuk mendistribusikan kesejahteraan yang ditimbulkan aktivitas pelancongan kepada masyarakat lokal. Sebelumnya, pariwisata dianggap hanya menguntungkan segelintir investor yang menanamkan modalnya pada sektor ini.

Sejak tahun 2002, UNWTO, lembaga PBB yang memiliki perhatian besar terhadap pariwisata aktif mempromosikan kegiatan-kegiatan yang diharapkan akan mendukung keberlanjutan bisnis ini dan juga lingkungan serta masyarakat pendukungnya.

Saat bertandang ke Vietnam akhir tahun 2023 lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Delta Sungai Mekong. Sungai ini merupakan salah satu yang terpanjang di dunia menemapti urutan ke-12. Artinya, hanya ada 11 sungai lain yang lebih panjang. Kemudian, alirannya melewati beberapa negara: China, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja sebelum masuk ke Vietnam dan beramuara di Laut China Selatan.

Sebagai wilayah paling akhir yang dilewati sungai itu, di Kawasan Vietnam dijumpai beberapa delta, pulau-pulau kecil berlumpur yang subur.

Mendayung di Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Sungai Mekong memiliki peran dalam perdagangan antar negara. Hubungan-hubungan dagang ini membentuk budaya-budaya lokal yang unik sehingga delta sungainya menjadi salah satu destinasi wisata utama di Vietnam Selatan. Kehidupan masyarakat dan kondisi alam yang unik membuatnya berpotensi sebagai kawasan wisata alam dan budaya. Untuk mencapainya, bisa melalui perjalanan darat. Perjalanan dari Saigon ditempuh sekitar 2 jam melewati kota-kota yang lebih kecil penduduk dan persawahan hijau membentang.

Sepanjang jalan banyak coffee shop dengan ayunan hammock untuk tempat beristirahat bagi penduduk yang bermigrasi ke Saigon dari daerah-daerah yang lebih di utara dengan naik sepeda motor. Setiap Imlek mereka menempuh jarak ratusan kilometer ke kampung-ksmpung asalnya, mudik.

Kota memang selalu menjadi magnet bagi banyak orang. Meski di pedesaan juga tersedia pekerjaan, tetapi upah yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih lengkap dan gaya hidup yang dianggap lebih maju selalu mengisi imajinasi banyak orang. Biarlah eksotisme desa menjadi milik pelancong menjadi imajinasi orang yang hanya datang dalam waktu singkat saja.

Selain penjual kopi, banyak penjual buah terutama jeruk besar, mangga, markisa, pisang, delima hingga durian. Ini adalah hasil pertanian penduduk di sekitar sungai yang subur itu. Terbit juga niat untuk mencobanya, tetapi guide kami mengingatkan bahwa nanti akan ada tempat untuk membeli berbagai buah-buahan tersebut beserta ragam olahanya di lokasi wisata.

Perjalanan panjang kami diselingi istirahat di sebuah rest area dimana hasil kerajinan penduduk setempat ditawarkan sebagai souvenir.

Kami tiba di sebuah pelabuhan kecil setelah menempuh perjalanan dari pagi hingga menjelang siang. Delta Mekong memiliki empat buah pulau dengan fungsi yang berlainan. Satu pulau dihuni oleh masyarakat lokal. Tiga lainnnya berfungsi sebagai masing-masing sebuah restaurant, pulau resort pribadi dan, yang terakhir, pulau tempat penduduk bertani serta beternak lebah madu.

Turis menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Kami akan berkunjung ke pulau terakhir. Disinilah pemerintah mengembangkan ekowisata atau wisata alam dan budaya lokal.

Untuk mencapainya, dari pelabuhan kecil tadi kami naik perahu beratap bersuara menggeram-geram. Aroma asap dari mesin solar memenuhi udara saat nakhkoda mulai memacu perahunya memecah gelombang air Sungai Mekong yang berwarna kecoklatan.

Pulau yang kami datangi ini menghasilkan buah-buahan lokal dan madu. Ini dipandang sebagai komoditas eksotis yang keberadaannya harus dilestarikan. Keduanya menjadi suguhan pertama begitu kami menginjakkan kaki di pulau bertanah basah tersebut. Sekelompok ibu-ibu berpakaian tradisional menyilakan kami duduk dan mulai menghindangkan teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis.

Saya menduga mereka adalah penduduk lokal. Rasa hidangannya segar dan manis. Para penyaji mulai bercerita soal bagaimana mereka memproses hidangan tersebut hingga sampai ke depan kami. Tidak lupa berbagai khasiatnya juga disampaikan

Berikutnya kami menuju tempat naik perahu guna menyusuri anakan Sungai Mekong yang kecil-kecil membelah pulau. Sembari menunggu, suguhan buah-buahan lokal kembali dihidangkan.

Naik perahu melintasi sungai kecil berwarna coklat berkelok-kelok di antara tanaman palem yang pendek merupakan atraksi utama. Imajinasi adalah ‚jualan‘ utamanya. Tentu tidak semua memiliki khayalan yang sama.

Saya sendiri berimajinasi sebagai pejuang Vietkong di serial televisi legendaris Tour of Duty yang tayang tahun 1990-an bergerak di antara rerimbunan menghindari serbuan pasukan lawan. Topi kerucut dari anyaman bambu mendukung imajinasi ini. Kawan lain yang tidak terpapar cerita film Tour of Duty mungkin punya imajinasi beda. Biarlah mereka membangun sendiri pengalaman imajiner di kepalanya.

Setiap perahu didayung dua orang dengan maksimal 4 penumpang. Saya naik bersama tiga orang kawan. Seorang ibu sigap mengendali dan mendayung di depan sementara seorang bapak mendayung di belakang. Sepanjang aliran sungai, kami berjumpa dengan turis-turis lain di puluhan perahu serupa dengan yang kami tumpangi. Sesekali tepian perahu saling beradu meski sudah berusaha dihindari oleh dua pendayung di masing-masing jukung. Ramai juga aliran anak sungai kecil berlumpur ini.

Si ibu bercerita setiap hari bolak balik mengantar pelancong sebanyak 8-10 kali. Sementara panjang sungai sekitar 2 kilometer. Sekali berangkat menempuh jarak 4 kilometer karena harus bolak balik. Artinya dalam sehari dia mendayung sejauh 32-40 kilometer. Bukan jarak yang pendek. Untunglah arus di anak-anak sungai ini tidak begitu deras.

Di ujung tour sungai, sebelum memasuki kapal untuk kembali ke pelabuhan awal, kami mendarat di sebuah tempat dimana oleh-oleh dijual. Ini strategi klasik. Setelah mengalami hal unik, tentu kita ingin berbagi dengan orang rumah. Salah satu alat berbagi adalah oleh-oleh. Berbagai macam manisan yang berasal dari buah-buahan lokal: jeruk, semangka, mangga, kelapa muda bahkan juga jahe ditawarkan dalam kemasan plastik menarik. Konon,sekali lagi, ini produk lokal.

Teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis | Foto: Gede Maha Putra

Saya sempat berfikir, siapa yang mendapat keuntungan dari bisnis ini. Jika konsep ekowisata seperti awal tulisan ini berjalan baik, harusnya kesejahteraan sudah menjadi milik puluhan pasang pendayung ini.

Tetapi bagaimana jika ada ‘investor’ di balik bisnis ini?

Jika itu yang terjadi, maka tenaga, keahlian dan waktu ibu pendayung akan dipandang sebagai aset sementara upah yang mereka terima menjadi pengeluaran. Jika si pengusaha ingin meningkatkan margin, hal yang dilakukan adalah memaksimalkan kinerja aset dan menurunkan biaya pengeluaran. Akibatnya, mereka yang bekerja mengandalkan keahlian, waktu dan tenaga tidak akan pernah mendapatkan share yang ‘adil’ dalam bisnis yang sedang berkembang pesat di Asia Tenggara ini.

Dalam dunia bisnis, apapun bentuknya, keuntungan adalah tujuan utamanya. Investasi diarahkan untuk mencetak keuntungan, dalam ha ini keuntungan ekonomi, sebesar-besarnya. Dalam kasus ekowisata, fokus pada hal ini bisa meminggirkan tujuan utamanya yaitu untuk tujuan pelestarian, pendidikan dan keberlanjutan.

Hal lain yang juga mengintai model baru bisnis ini adalah komodifikasi atas kehidupan dan produk masyarakat. Ini dapat menjauhkan masyarakat lokal dari kehidupan nyatanya karena mereka melakukan konservasi atau pelestarian bukanlah untuk tujuan keberlanjutan tetapi keuntungan ekonomi.

Komodifikasi juga bisa menjadi alat seleksi dimana hanya hal-ahal yang laku kepada turis saja yang mendapat perhatian sementara kondisi alam, aktivitas keseharian serta mungkin juga kebudayaan yang berakar di masa lalu yang tidak diminati pengunjung terabaikan.

Komodifikasi juga bisa mengekslusi atau meminggirkan warga lokal. Produk yang dijual dibuat seolah-olah milik warga padahal didatangkan dari wilayah luar.

Kapal bermesin menuju Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Penyeimbang antara sisi bisnis dan sisi keberlanjutan perlu dipikirkan masak-masak. Para perencana umumnya berfokus upaya untuk menghasilkan profit. Jika mereka berhasil membuktikan bahwa bisnis ini menguntungkan, maka investor akan datang. Investor disini bisa juga pihak pemerintah.

Dalam perencanaan pengembangan wisata berbasis pedesaan yang sedang marak sekarang ini di Bali, kemungkinan timbulnya kerugian jarang dibahas. Para penelitilah yang kemudian akan melihat sisi negatifnya.

Perencanaan ekowisata atau wisata desa, dengan demikian, perlu dilakukan hati-hati, tidak bisa grasa-grusu. Tujuan utama untuk menjaga kelestarian dan menjamin keberlanjutan tetap harus dijadikan prioritas. Sementara keterlibatan masyarakat lokal dilakukan sejak tahap perencanaan. Keterlibatan disini harusnya memberikan mereka control penuh, bukan sekedar tokenisme. Jika tidak, istilah ekowisata mungkin akan tetap menjadi jargon. [T]

BACA artikel tentang PARIWISATA atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: balidesa wisataekowisataPariwisataSungai MekongVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mobil Si Pino

Next Post

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co