23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 19, 2024
in Esai
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam

Menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

USAHA-USAHA untuk menggiring aktivitas kepariwisataan ke arah yang lebih positif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal menjadi perhatian pemerintah di berbagai belahan dunia. Ini merupakan buah dari kesadaran bahwa perjalanan jauh yang ditempuh oleh seseorang untuk berwisata mungkin membawa dampak yang kurang baik dan perlu dipikirkan ulang tanpa harus melarang atau membatasi aktivitas tersebut.

Selain itu, keuntungan ekonomi dari bisnis ini diharapkan juga ikut dinikmati oleh masyarakat setempat sehingga mereka tidak lagi sekedar menjadi obyek atau tontonan belaka. Semua terdengar baik dan ideal, tetapi, bagaimana dalam prakteknya?

Ekowisata yang diterjemahkan dari kata ecotourism, berasal dari akronim ecological tourism, merupakan jenis aktivitas pariwisata yang menekankan pada upaya menjaga lingkungan, mempromosikan pendidikan, melakukan kegiatan jalan-jalan mengunjungi tempat yang eksotis, dengan cara memiminalisir dampak-dampak merugikan yang mungkin ditimbulkan. Tidak hanya berfokus pada lingkungan alamiah, konsep ini juga diharapkan berperan dalam memberi dukungan ekonomi kepada komunitas lokal.

Ekowisata yang sering juga dikaitkan dengan konsep wisata desa telah digadang-gadang sebagai jalan untuk mendistribusikan kesejahteraan yang ditimbulkan aktivitas pelancongan kepada masyarakat lokal. Sebelumnya, pariwisata dianggap hanya menguntungkan segelintir investor yang menanamkan modalnya pada sektor ini.

Sejak tahun 2002, UNWTO, lembaga PBB yang memiliki perhatian besar terhadap pariwisata aktif mempromosikan kegiatan-kegiatan yang diharapkan akan mendukung keberlanjutan bisnis ini dan juga lingkungan serta masyarakat pendukungnya.

Saat bertandang ke Vietnam akhir tahun 2023 lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Delta Sungai Mekong. Sungai ini merupakan salah satu yang terpanjang di dunia menemapti urutan ke-12. Artinya, hanya ada 11 sungai lain yang lebih panjang. Kemudian, alirannya melewati beberapa negara: China, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja sebelum masuk ke Vietnam dan beramuara di Laut China Selatan.

Sebagai wilayah paling akhir yang dilewati sungai itu, di Kawasan Vietnam dijumpai beberapa delta, pulau-pulau kecil berlumpur yang subur.

Mendayung di Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Sungai Mekong memiliki peran dalam perdagangan antar negara. Hubungan-hubungan dagang ini membentuk budaya-budaya lokal yang unik sehingga delta sungainya menjadi salah satu destinasi wisata utama di Vietnam Selatan. Kehidupan masyarakat dan kondisi alam yang unik membuatnya berpotensi sebagai kawasan wisata alam dan budaya. Untuk mencapainya, bisa melalui perjalanan darat. Perjalanan dari Saigon ditempuh sekitar 2 jam melewati kota-kota yang lebih kecil penduduk dan persawahan hijau membentang.

Sepanjang jalan banyak coffee shop dengan ayunan hammock untuk tempat beristirahat bagi penduduk yang bermigrasi ke Saigon dari daerah-daerah yang lebih di utara dengan naik sepeda motor. Setiap Imlek mereka menempuh jarak ratusan kilometer ke kampung-ksmpung asalnya, mudik.

Kota memang selalu menjadi magnet bagi banyak orang. Meski di pedesaan juga tersedia pekerjaan, tetapi upah yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih lengkap dan gaya hidup yang dianggap lebih maju selalu mengisi imajinasi banyak orang. Biarlah eksotisme desa menjadi milik pelancong menjadi imajinasi orang yang hanya datang dalam waktu singkat saja.

Selain penjual kopi, banyak penjual buah terutama jeruk besar, mangga, markisa, pisang, delima hingga durian. Ini adalah hasil pertanian penduduk di sekitar sungai yang subur itu. Terbit juga niat untuk mencobanya, tetapi guide kami mengingatkan bahwa nanti akan ada tempat untuk membeli berbagai buah-buahan tersebut beserta ragam olahanya di lokasi wisata.

Perjalanan panjang kami diselingi istirahat di sebuah rest area dimana hasil kerajinan penduduk setempat ditawarkan sebagai souvenir.

Kami tiba di sebuah pelabuhan kecil setelah menempuh perjalanan dari pagi hingga menjelang siang. Delta Mekong memiliki empat buah pulau dengan fungsi yang berlainan. Satu pulau dihuni oleh masyarakat lokal. Tiga lainnnya berfungsi sebagai masing-masing sebuah restaurant, pulau resort pribadi dan, yang terakhir, pulau tempat penduduk bertani serta beternak lebah madu.

Turis menyusuri Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Kami akan berkunjung ke pulau terakhir. Disinilah pemerintah mengembangkan ekowisata atau wisata alam dan budaya lokal.

Untuk mencapainya, dari pelabuhan kecil tadi kami naik perahu beratap bersuara menggeram-geram. Aroma asap dari mesin solar memenuhi udara saat nakhkoda mulai memacu perahunya memecah gelombang air Sungai Mekong yang berwarna kecoklatan.

Pulau yang kami datangi ini menghasilkan buah-buahan lokal dan madu. Ini dipandang sebagai komoditas eksotis yang keberadaannya harus dilestarikan. Keduanya menjadi suguhan pertama begitu kami menginjakkan kaki di pulau bertanah basah tersebut. Sekelompok ibu-ibu berpakaian tradisional menyilakan kami duduk dan mulai menghindangkan teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis.

Saya menduga mereka adalah penduduk lokal. Rasa hidangannya segar dan manis. Para penyaji mulai bercerita soal bagaimana mereka memproses hidangan tersebut hingga sampai ke depan kami. Tidak lupa berbagai khasiatnya juga disampaikan

Berikutnya kami menuju tempat naik perahu guna menyusuri anakan Sungai Mekong yang kecil-kecil membelah pulau. Sembari menunggu, suguhan buah-buahan lokal kembali dihidangkan.

Naik perahu melintasi sungai kecil berwarna coklat berkelok-kelok di antara tanaman palem yang pendek merupakan atraksi utama. Imajinasi adalah ‚jualan‘ utamanya. Tentu tidak semua memiliki khayalan yang sama.

Saya sendiri berimajinasi sebagai pejuang Vietkong di serial televisi legendaris Tour of Duty yang tayang tahun 1990-an bergerak di antara rerimbunan menghindari serbuan pasukan lawan. Topi kerucut dari anyaman bambu mendukung imajinasi ini. Kawan lain yang tidak terpapar cerita film Tour of Duty mungkin punya imajinasi beda. Biarlah mereka membangun sendiri pengalaman imajiner di kepalanya.

Setiap perahu didayung dua orang dengan maksimal 4 penumpang. Saya naik bersama tiga orang kawan. Seorang ibu sigap mengendali dan mendayung di depan sementara seorang bapak mendayung di belakang. Sepanjang aliran sungai, kami berjumpa dengan turis-turis lain di puluhan perahu serupa dengan yang kami tumpangi. Sesekali tepian perahu saling beradu meski sudah berusaha dihindari oleh dua pendayung di masing-masing jukung. Ramai juga aliran anak sungai kecil berlumpur ini.

Si ibu bercerita setiap hari bolak balik mengantar pelancong sebanyak 8-10 kali. Sementara panjang sungai sekitar 2 kilometer. Sekali berangkat menempuh jarak 4 kilometer karena harus bolak balik. Artinya dalam sehari dia mendayung sejauh 32-40 kilometer. Bukan jarak yang pendek. Untunglah arus di anak-anak sungai ini tidak begitu deras.

Di ujung tour sungai, sebelum memasuki kapal untuk kembali ke pelabuhan awal, kami mendarat di sebuah tempat dimana oleh-oleh dijual. Ini strategi klasik. Setelah mengalami hal unik, tentu kita ingin berbagi dengan orang rumah. Salah satu alat berbagi adalah oleh-oleh. Berbagai macam manisan yang berasal dari buah-buahan lokal: jeruk, semangka, mangga, kelapa muda bahkan juga jahe ditawarkan dalam kemasan plastik menarik. Konon,sekali lagi, ini produk lokal.

Teh dicampur madu dengan perasaan jeruk nipis | Foto: Gede Maha Putra

Saya sempat berfikir, siapa yang mendapat keuntungan dari bisnis ini. Jika konsep ekowisata seperti awal tulisan ini berjalan baik, harusnya kesejahteraan sudah menjadi milik puluhan pasang pendayung ini.

Tetapi bagaimana jika ada ‘investor’ di balik bisnis ini?

Jika itu yang terjadi, maka tenaga, keahlian dan waktu ibu pendayung akan dipandang sebagai aset sementara upah yang mereka terima menjadi pengeluaran. Jika si pengusaha ingin meningkatkan margin, hal yang dilakukan adalah memaksimalkan kinerja aset dan menurunkan biaya pengeluaran. Akibatnya, mereka yang bekerja mengandalkan keahlian, waktu dan tenaga tidak akan pernah mendapatkan share yang ‘adil’ dalam bisnis yang sedang berkembang pesat di Asia Tenggara ini.

Dalam dunia bisnis, apapun bentuknya, keuntungan adalah tujuan utamanya. Investasi diarahkan untuk mencetak keuntungan, dalam ha ini keuntungan ekonomi, sebesar-besarnya. Dalam kasus ekowisata, fokus pada hal ini bisa meminggirkan tujuan utamanya yaitu untuk tujuan pelestarian, pendidikan dan keberlanjutan.

Hal lain yang juga mengintai model baru bisnis ini adalah komodifikasi atas kehidupan dan produk masyarakat. Ini dapat menjauhkan masyarakat lokal dari kehidupan nyatanya karena mereka melakukan konservasi atau pelestarian bukanlah untuk tujuan keberlanjutan tetapi keuntungan ekonomi.

Komodifikasi juga bisa menjadi alat seleksi dimana hanya hal-ahal yang laku kepada turis saja yang mendapat perhatian sementara kondisi alam, aktivitas keseharian serta mungkin juga kebudayaan yang berakar di masa lalu yang tidak diminati pengunjung terabaikan.

Komodifikasi juga bisa mengekslusi atau meminggirkan warga lokal. Produk yang dijual dibuat seolah-olah milik warga padahal didatangkan dari wilayah luar.

Kapal bermesin menuju Sungai Mekong | Foto: Gede Maha Putra

Penyeimbang antara sisi bisnis dan sisi keberlanjutan perlu dipikirkan masak-masak. Para perencana umumnya berfokus upaya untuk menghasilkan profit. Jika mereka berhasil membuktikan bahwa bisnis ini menguntungkan, maka investor akan datang. Investor disini bisa juga pihak pemerintah.

Dalam perencanaan pengembangan wisata berbasis pedesaan yang sedang marak sekarang ini di Bali, kemungkinan timbulnya kerugian jarang dibahas. Para penelitilah yang kemudian akan melihat sisi negatifnya.

Perencanaan ekowisata atau wisata desa, dengan demikian, perlu dilakukan hati-hati, tidak bisa grasa-grusu. Tujuan utama untuk menjaga kelestarian dan menjamin keberlanjutan tetap harus dijadikan prioritas. Sementara keterlibatan masyarakat lokal dilakukan sejak tahap perencanaan. Keterlibatan disini harusnya memberikan mereka control penuh, bukan sekedar tokenisme. Jika tidak, istilah ekowisata mungkin akan tetap menjadi jargon. [T]

BACA artikel tentang PARIWISATA atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: balidesa wisataekowisataPariwisataSungai MekongVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mobil Si Pino

Next Post

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Kecelakaan Mobil Rai Mantra dan Jalur Kenangan Kintamani-Penuktukan Via Siakin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co