2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 20, 2024
in Esai
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Penghuni kota tak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

LAPISAN-LAPISAN kehidupan di kota membuat kelompok-kelompok penghuni yang berbeda-beda bisa saling tidak bertemu. Selain itu, dalam proses formal, bisa jadi ada kelompok yang kebutuhannya tidak terlayani oleh berbagai institusi baik perbankan maupun institusi pemerintah.

Kelompok yang tidak terlayani inilah yang saya maksud sebagai penghuni kota yang tidak terlihat. Mereka ada, bahkan kehidupannya bersinggungan dengan kita, tetapi tidak mendapat perhatian yang semestinya. Ada pula yang menyebutnya sebagai kelompok informal, istilah yang saya kurang sukai karena terdengar diskriminatif.

Beberapa dekade lampau, sastrawan Italia, Italo Calvino, menulis kisah tentang kota-kota tak terlihat atau the invisible city. Kota Tak Terlihat karya Calvino menunjukkan batas tak kasat mata antara yang nyata dan yang fiksi, antara ingatan dan hasrat, serta antara masa lalu dan masa kini.

Ceritanya berputar pada kota imajiner yang diceritakan oleh Marco Polo kepada Kublai Khan, sang penguasa Mongolia. Pengembaraan Calvino adalah pengingat bahwa orang dapat melakukan perjalanan dan mencoba memahami dunia, namun mereka akan selalu sampai pada persimpangan jalan penafsiran.

Invisible city adalah soal yang ‘tak terlihat’ bukan hanya karena ia tidak berwujud tetapi seringkali juga karena kekurangpedulian kita atau karena perbedaan cara kerja antara sekelompok penghuni kota dibandingkan dengan yang biasa kita alami.  Bisa juga menunjuk pada ketidakmampuan kita memberi penafsiran atas apa yang kasat mata. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki tuntutan hidup dan kewajiban yang berbeda-beda dalam kesehariannya.

Kehidupan saat ini yang berlangsung cepat, saling berkejaran, selalu ditunggu deadline, membuat kita harus bergerak lebih laju, focus pada tugas yang harus kita selesaikan. Kelakuan ini kadang mem’buta’kan. Menyebabkan banyak hal luput. Ini jenis keluputan yang tidak disengaja. Ada juga keluputan yang disengaja. Saya menyaksikan banyak keluputan yang menyebabkan ketidakmampuan kita dalam menafsirkan ruang kota. Akibatnya, kota terlihat hanya dari satu sisi. Sisi yang kita peduli atasnya. Sementara sisi lainnya, terlupa.

Pagi jam 06.30 seorang ibu sibuk menyendok soto dari panci besar di hadapannya. Asap rebusan daging berbumbu rempah menguar ke udara seperti kabut. Ia mulai berjualan jam 05.00 pagi saat sebagian dari kita masih terlelap. Jalanan masih belum begitu ramai.

Dari ceritanya, jam 11, saat orang berada di puncak kesibukan di kantor atau tempat kerja lain, sotonya habis. Jam 12.00 tengah hari ia pulang dan beristirahat sampai malam saat waktunya ke pasar dan mulai memasak untuk keesokan harinya. Dalam deratan warungnya ada penjual mie ayam, pedagang nasi bungkus daun, penjual cemilan anak-anak dan seorang penjual berbagai minuman sachet yang bisa dimodifikasi sesuai pesanan: the poci-milo, the poci-dancow, extra joss-susu, dan kombinasi lain sesuai permintaan pembeli.

Penghuni kota yang tidak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

Di jalan depan kelompok-kelompok warung yang sederhana tadi, seorang bapak ringkih mendorong gerobak. Aneka mainan di atas gerobak yang ditarik sepeda tuanya dijajakan berkeliling. Ada mainan tradisional hingga ikan-ikan cupang kecil warna-warni yang menarik perhatian anak-anak. Harga dagangannya antara Rp. 1000,- hingga yang termahal Rp. 12.000,-.

Sepanjang pagi, menurut ceritanya, ia akan menunggu di depan sebuah sekolah terkenal di Denpasar. Sabar melayani anak-anak saat waktu istirahat yang terbatas. Setelah jam sekolah, ia berkeliling ke kampung-kampung.

Lain dengan bapak satu lagi yang saya jumpai saban pagi mendorong gerobak sampah. Ia menghampiri setiap tempat pembuangan sampah mencari barang yang sekiranya masih memiliki nilai ekonomi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya. Sekali waktu saya melihatnya membuka bungkusan jajan yang sudah dibuang dan membauinya. Entah, mungkin dia mencari tahu seandainya ada yang belum basi.

Mereka adalah gambaran orang-orang yang menghuni ruang kota yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, keberadaannya luput dari perhatian. Setiap pagi sebenarnya saya berkesempatan berjumpa dengan mereka. Tetapi, seperti kebanyakan orang, saya sering luput perhatian. Pagi itu, saat makan soto saya mencoba melihat lebih seksama.

Luputnya dari perhatian membuat mereka invisible meski kita ada di tempat yang sama. Beberapa diantaranya malah ada di jam yang sama meski sebagian besar kita aktif di waktu yang berlainan.

Keluputan yang membuatnya invisible terlihat dalam beberapa indikator fomal. Pertama, pengaturan ruang dalam Rencana Tata Ruang Kota jarang mengakomodir peran kelompok ini dalam upaya peningkatan ekonomi lokal. Hal ini bukan berarti mereka memiliki kontribusi kecil.

Berbagai laporan menunjukkan betapa signifikan peranan yang mereka mainkan dalam menopang perekonomian keluarganya yang juga berarti berkontribusi bagi perekonomian kota bahkan negara. Jika ada seribu orang saja yang seperti mereka, berarti ada lebih 4000 orang yang bisa dihidupinya.

Tetapi, sekali lagi, keberadaannya dalam ruang-ruang yang ‘diformalkan’ dalam perencanaan keruangan (spatial planning) jarang terlihat, invisible. Akyivitas mereka ‘tidak mampu’ terakomodir dalam rencana zonasi yang kurang fleksibel, memisahkan fungsi-fungsi atas nama ‘keteraturan’. Akibatnya, kelompok ini bukannya diperhatikan tetapi dikejar aparat pemerintah.

Indikator kedua adalah ketidakmampuan kelompok ini mendapatkan berbagai akses yang dibutuhkan. Misalkan akses ke sumber pendanaan. Pekerjaan yang mereka tekuni tidak cukup meyakinkan lembaga keuangan untuk memberi bantuan. Akibatnya, mereka benar-benar harus memulai dari nol. Hal serupa terjadi pada, kemungkinan, akses kesehatan. Mereka harus mengusahakan sendiri biaya saat mengalami sakit karena tidak memiliki jaminan dalam bentuk asuransi.

Saat terjadi terjadi pandemi, kelompok ini dihantam paling keras oleh keadaan kesehatan. Untungnya, sebagian dari anggota kelompok justru memiliki kepedulian sosial tinggi sehingga gotong royong menjadi upaya mereka mengatasi berbagai persoalan.

Indikator berikutnya adalah layanan desain arsitektural. Bisa dipastikan jika warung, gerobak, bahkan juga tempat tinggal mereka bukanlah sesuatu yang menarik bagi arsitek profesional. Tidak ada layanan bagi kelompok ini dalam bidang rancang bangun. Tetapi ini justru bukan hal buruk.

Ketiadaan layanan membuat mereka sangat mandiri, tidak  memiliki ketergantungan. Dari posisi ini, kemampuan mendesain dan mengonstruksi bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki justru sangat baik. Sensitivitas terhadap desain yang fungsional dengan material apa adanya terlatih dengan baik. Inilah vernacular urban yang baru.

Sebagaiman argumen Paul Oliver yang menyatakan kemampuan tanpa bantuan ahli dalam membangun ini harus dipupuk. Kemampuan ini semakin lama menghilang dari diri manusia. Bandingkan dengan makhluk lain, burung misalnya, yang memiliki kemampuan membangun sarang. Pada manusia, pemenuhan kebutuhan dasar terhadap hunian kini kian tergantung pada keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di lain pihak, arsitek profesional seyogyanya memiliki sensitivitas dalam melihat ruang praktek yang lebih luas lagi. Agar kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani jasa mereka tetap memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk tinggal dan berusaha.

Kisah tentang invisible city yang lain juga bisa kita jumpai dalam salah satu film di Netflix. Di sinema tersebut diceritakan seorang detektif yang mengusut sebuah kasus dan tiba-tiba berhadapan dengan ‘dunia lain’ bawah tanah yang selama ini tidak dia sadari eksis. Ini mirip dengan fenomena kota kita. Jika arsitek dan, tentu saja, kita anggap sebagai si detektif, maka ia perlu kasus tertentu yang membuat kesadaran akan adanya ‘kota tak terlihat’ yang mungkin membutuhkan peran serta semua agar menjadi visible. [T]

Denpasar, 17 December 2023

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Tags: gaya hidupKotatata kota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Next Post

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co