13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 20, 2024
in Esai
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Penghuni kota tak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

LAPISAN-LAPISAN kehidupan di kota membuat kelompok-kelompok penghuni yang berbeda-beda bisa saling tidak bertemu. Selain itu, dalam proses formal, bisa jadi ada kelompok yang kebutuhannya tidak terlayani oleh berbagai institusi baik perbankan maupun institusi pemerintah.

Kelompok yang tidak terlayani inilah yang saya maksud sebagai penghuni kota yang tidak terlihat. Mereka ada, bahkan kehidupannya bersinggungan dengan kita, tetapi tidak mendapat perhatian yang semestinya. Ada pula yang menyebutnya sebagai kelompok informal, istilah yang saya kurang sukai karena terdengar diskriminatif.

Beberapa dekade lampau, sastrawan Italia, Italo Calvino, menulis kisah tentang kota-kota tak terlihat atau the invisible city. Kota Tak Terlihat karya Calvino menunjukkan batas tak kasat mata antara yang nyata dan yang fiksi, antara ingatan dan hasrat, serta antara masa lalu dan masa kini.

Ceritanya berputar pada kota imajiner yang diceritakan oleh Marco Polo kepada Kublai Khan, sang penguasa Mongolia. Pengembaraan Calvino adalah pengingat bahwa orang dapat melakukan perjalanan dan mencoba memahami dunia, namun mereka akan selalu sampai pada persimpangan jalan penafsiran.

Invisible city adalah soal yang ‘tak terlihat’ bukan hanya karena ia tidak berwujud tetapi seringkali juga karena kekurangpedulian kita atau karena perbedaan cara kerja antara sekelompok penghuni kota dibandingkan dengan yang biasa kita alami.  Bisa juga menunjuk pada ketidakmampuan kita memberi penafsiran atas apa yang kasat mata. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki tuntutan hidup dan kewajiban yang berbeda-beda dalam kesehariannya.

Kehidupan saat ini yang berlangsung cepat, saling berkejaran, selalu ditunggu deadline, membuat kita harus bergerak lebih laju, focus pada tugas yang harus kita selesaikan. Kelakuan ini kadang mem’buta’kan. Menyebabkan banyak hal luput. Ini jenis keluputan yang tidak disengaja. Ada juga keluputan yang disengaja. Saya menyaksikan banyak keluputan yang menyebabkan ketidakmampuan kita dalam menafsirkan ruang kota. Akibatnya, kota terlihat hanya dari satu sisi. Sisi yang kita peduli atasnya. Sementara sisi lainnya, terlupa.

Pagi jam 06.30 seorang ibu sibuk menyendok soto dari panci besar di hadapannya. Asap rebusan daging berbumbu rempah menguar ke udara seperti kabut. Ia mulai berjualan jam 05.00 pagi saat sebagian dari kita masih terlelap. Jalanan masih belum begitu ramai.

Dari ceritanya, jam 11, saat orang berada di puncak kesibukan di kantor atau tempat kerja lain, sotonya habis. Jam 12.00 tengah hari ia pulang dan beristirahat sampai malam saat waktunya ke pasar dan mulai memasak untuk keesokan harinya. Dalam deratan warungnya ada penjual mie ayam, pedagang nasi bungkus daun, penjual cemilan anak-anak dan seorang penjual berbagai minuman sachet yang bisa dimodifikasi sesuai pesanan: the poci-milo, the poci-dancow, extra joss-susu, dan kombinasi lain sesuai permintaan pembeli.

Penghuni kota yang tidak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

Di jalan depan kelompok-kelompok warung yang sederhana tadi, seorang bapak ringkih mendorong gerobak. Aneka mainan di atas gerobak yang ditarik sepeda tuanya dijajakan berkeliling. Ada mainan tradisional hingga ikan-ikan cupang kecil warna-warni yang menarik perhatian anak-anak. Harga dagangannya antara Rp. 1000,- hingga yang termahal Rp. 12.000,-.

Sepanjang pagi, menurut ceritanya, ia akan menunggu di depan sebuah sekolah terkenal di Denpasar. Sabar melayani anak-anak saat waktu istirahat yang terbatas. Setelah jam sekolah, ia berkeliling ke kampung-kampung.

Lain dengan bapak satu lagi yang saya jumpai saban pagi mendorong gerobak sampah. Ia menghampiri setiap tempat pembuangan sampah mencari barang yang sekiranya masih memiliki nilai ekonomi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya. Sekali waktu saya melihatnya membuka bungkusan jajan yang sudah dibuang dan membauinya. Entah, mungkin dia mencari tahu seandainya ada yang belum basi.

Mereka adalah gambaran orang-orang yang menghuni ruang kota yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, keberadaannya luput dari perhatian. Setiap pagi sebenarnya saya berkesempatan berjumpa dengan mereka. Tetapi, seperti kebanyakan orang, saya sering luput perhatian. Pagi itu, saat makan soto saya mencoba melihat lebih seksama.

Luputnya dari perhatian membuat mereka invisible meski kita ada di tempat yang sama. Beberapa diantaranya malah ada di jam yang sama meski sebagian besar kita aktif di waktu yang berlainan.

Keluputan yang membuatnya invisible terlihat dalam beberapa indikator fomal. Pertama, pengaturan ruang dalam Rencana Tata Ruang Kota jarang mengakomodir peran kelompok ini dalam upaya peningkatan ekonomi lokal. Hal ini bukan berarti mereka memiliki kontribusi kecil.

Berbagai laporan menunjukkan betapa signifikan peranan yang mereka mainkan dalam menopang perekonomian keluarganya yang juga berarti berkontribusi bagi perekonomian kota bahkan negara. Jika ada seribu orang saja yang seperti mereka, berarti ada lebih 4000 orang yang bisa dihidupinya.

Tetapi, sekali lagi, keberadaannya dalam ruang-ruang yang ‘diformalkan’ dalam perencanaan keruangan (spatial planning) jarang terlihat, invisible. Akyivitas mereka ‘tidak mampu’ terakomodir dalam rencana zonasi yang kurang fleksibel, memisahkan fungsi-fungsi atas nama ‘keteraturan’. Akibatnya, kelompok ini bukannya diperhatikan tetapi dikejar aparat pemerintah.

Indikator kedua adalah ketidakmampuan kelompok ini mendapatkan berbagai akses yang dibutuhkan. Misalkan akses ke sumber pendanaan. Pekerjaan yang mereka tekuni tidak cukup meyakinkan lembaga keuangan untuk memberi bantuan. Akibatnya, mereka benar-benar harus memulai dari nol. Hal serupa terjadi pada, kemungkinan, akses kesehatan. Mereka harus mengusahakan sendiri biaya saat mengalami sakit karena tidak memiliki jaminan dalam bentuk asuransi.

Saat terjadi terjadi pandemi, kelompok ini dihantam paling keras oleh keadaan kesehatan. Untungnya, sebagian dari anggota kelompok justru memiliki kepedulian sosial tinggi sehingga gotong royong menjadi upaya mereka mengatasi berbagai persoalan.

Indikator berikutnya adalah layanan desain arsitektural. Bisa dipastikan jika warung, gerobak, bahkan juga tempat tinggal mereka bukanlah sesuatu yang menarik bagi arsitek profesional. Tidak ada layanan bagi kelompok ini dalam bidang rancang bangun. Tetapi ini justru bukan hal buruk.

Ketiadaan layanan membuat mereka sangat mandiri, tidak  memiliki ketergantungan. Dari posisi ini, kemampuan mendesain dan mengonstruksi bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki justru sangat baik. Sensitivitas terhadap desain yang fungsional dengan material apa adanya terlatih dengan baik. Inilah vernacular urban yang baru.

Sebagaiman argumen Paul Oliver yang menyatakan kemampuan tanpa bantuan ahli dalam membangun ini harus dipupuk. Kemampuan ini semakin lama menghilang dari diri manusia. Bandingkan dengan makhluk lain, burung misalnya, yang memiliki kemampuan membangun sarang. Pada manusia, pemenuhan kebutuhan dasar terhadap hunian kini kian tergantung pada keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di lain pihak, arsitek profesional seyogyanya memiliki sensitivitas dalam melihat ruang praktek yang lebih luas lagi. Agar kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani jasa mereka tetap memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk tinggal dan berusaha.

Kisah tentang invisible city yang lain juga bisa kita jumpai dalam salah satu film di Netflix. Di sinema tersebut diceritakan seorang detektif yang mengusut sebuah kasus dan tiba-tiba berhadapan dengan ‘dunia lain’ bawah tanah yang selama ini tidak dia sadari eksis. Ini mirip dengan fenomena kota kita. Jika arsitek dan, tentu saja, kita anggap sebagai si detektif, maka ia perlu kasus tertentu yang membuat kesadaran akan adanya ‘kota tak terlihat’ yang mungkin membutuhkan peran serta semua agar menjadi visible. [T]

Denpasar, 17 December 2023

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Tags: gaya hidupKotatata kota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Next Post

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co