24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 20, 2024
in Esai
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Penghuni kota tak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

LAPISAN-LAPISAN kehidupan di kota membuat kelompok-kelompok penghuni yang berbeda-beda bisa saling tidak bertemu. Selain itu, dalam proses formal, bisa jadi ada kelompok yang kebutuhannya tidak terlayani oleh berbagai institusi baik perbankan maupun institusi pemerintah.

Kelompok yang tidak terlayani inilah yang saya maksud sebagai penghuni kota yang tidak terlihat. Mereka ada, bahkan kehidupannya bersinggungan dengan kita, tetapi tidak mendapat perhatian yang semestinya. Ada pula yang menyebutnya sebagai kelompok informal, istilah yang saya kurang sukai karena terdengar diskriminatif.

Beberapa dekade lampau, sastrawan Italia, Italo Calvino, menulis kisah tentang kota-kota tak terlihat atau the invisible city. Kota Tak Terlihat karya Calvino menunjukkan batas tak kasat mata antara yang nyata dan yang fiksi, antara ingatan dan hasrat, serta antara masa lalu dan masa kini.

Ceritanya berputar pada kota imajiner yang diceritakan oleh Marco Polo kepada Kublai Khan, sang penguasa Mongolia. Pengembaraan Calvino adalah pengingat bahwa orang dapat melakukan perjalanan dan mencoba memahami dunia, namun mereka akan selalu sampai pada persimpangan jalan penafsiran.

Invisible city adalah soal yang ‘tak terlihat’ bukan hanya karena ia tidak berwujud tetapi seringkali juga karena kekurangpedulian kita atau karena perbedaan cara kerja antara sekelompok penghuni kota dibandingkan dengan yang biasa kita alami.  Bisa juga menunjuk pada ketidakmampuan kita memberi penafsiran atas apa yang kasat mata. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki tuntutan hidup dan kewajiban yang berbeda-beda dalam kesehariannya.

Kehidupan saat ini yang berlangsung cepat, saling berkejaran, selalu ditunggu deadline, membuat kita harus bergerak lebih laju, focus pada tugas yang harus kita selesaikan. Kelakuan ini kadang mem’buta’kan. Menyebabkan banyak hal luput. Ini jenis keluputan yang tidak disengaja. Ada juga keluputan yang disengaja. Saya menyaksikan banyak keluputan yang menyebabkan ketidakmampuan kita dalam menafsirkan ruang kota. Akibatnya, kota terlihat hanya dari satu sisi. Sisi yang kita peduli atasnya. Sementara sisi lainnya, terlupa.

Pagi jam 06.30 seorang ibu sibuk menyendok soto dari panci besar di hadapannya. Asap rebusan daging berbumbu rempah menguar ke udara seperti kabut. Ia mulai berjualan jam 05.00 pagi saat sebagian dari kita masih terlelap. Jalanan masih belum begitu ramai.

Dari ceritanya, jam 11, saat orang berada di puncak kesibukan di kantor atau tempat kerja lain, sotonya habis. Jam 12.00 tengah hari ia pulang dan beristirahat sampai malam saat waktunya ke pasar dan mulai memasak untuk keesokan harinya. Dalam deratan warungnya ada penjual mie ayam, pedagang nasi bungkus daun, penjual cemilan anak-anak dan seorang penjual berbagai minuman sachet yang bisa dimodifikasi sesuai pesanan: the poci-milo, the poci-dancow, extra joss-susu, dan kombinasi lain sesuai permintaan pembeli.

Penghuni kota yang tidak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

Di jalan depan kelompok-kelompok warung yang sederhana tadi, seorang bapak ringkih mendorong gerobak. Aneka mainan di atas gerobak yang ditarik sepeda tuanya dijajakan berkeliling. Ada mainan tradisional hingga ikan-ikan cupang kecil warna-warni yang menarik perhatian anak-anak. Harga dagangannya antara Rp. 1000,- hingga yang termahal Rp. 12.000,-.

Sepanjang pagi, menurut ceritanya, ia akan menunggu di depan sebuah sekolah terkenal di Denpasar. Sabar melayani anak-anak saat waktu istirahat yang terbatas. Setelah jam sekolah, ia berkeliling ke kampung-kampung.

Lain dengan bapak satu lagi yang saya jumpai saban pagi mendorong gerobak sampah. Ia menghampiri setiap tempat pembuangan sampah mencari barang yang sekiranya masih memiliki nilai ekonomi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya. Sekali waktu saya melihatnya membuka bungkusan jajan yang sudah dibuang dan membauinya. Entah, mungkin dia mencari tahu seandainya ada yang belum basi.

Mereka adalah gambaran orang-orang yang menghuni ruang kota yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, keberadaannya luput dari perhatian. Setiap pagi sebenarnya saya berkesempatan berjumpa dengan mereka. Tetapi, seperti kebanyakan orang, saya sering luput perhatian. Pagi itu, saat makan soto saya mencoba melihat lebih seksama.

Luputnya dari perhatian membuat mereka invisible meski kita ada di tempat yang sama. Beberapa diantaranya malah ada di jam yang sama meski sebagian besar kita aktif di waktu yang berlainan.

Keluputan yang membuatnya invisible terlihat dalam beberapa indikator fomal. Pertama, pengaturan ruang dalam Rencana Tata Ruang Kota jarang mengakomodir peran kelompok ini dalam upaya peningkatan ekonomi lokal. Hal ini bukan berarti mereka memiliki kontribusi kecil.

Berbagai laporan menunjukkan betapa signifikan peranan yang mereka mainkan dalam menopang perekonomian keluarganya yang juga berarti berkontribusi bagi perekonomian kota bahkan negara. Jika ada seribu orang saja yang seperti mereka, berarti ada lebih 4000 orang yang bisa dihidupinya.

Tetapi, sekali lagi, keberadaannya dalam ruang-ruang yang ‘diformalkan’ dalam perencanaan keruangan (spatial planning) jarang terlihat, invisible. Akyivitas mereka ‘tidak mampu’ terakomodir dalam rencana zonasi yang kurang fleksibel, memisahkan fungsi-fungsi atas nama ‘keteraturan’. Akibatnya, kelompok ini bukannya diperhatikan tetapi dikejar aparat pemerintah.

Indikator kedua adalah ketidakmampuan kelompok ini mendapatkan berbagai akses yang dibutuhkan. Misalkan akses ke sumber pendanaan. Pekerjaan yang mereka tekuni tidak cukup meyakinkan lembaga keuangan untuk memberi bantuan. Akibatnya, mereka benar-benar harus memulai dari nol. Hal serupa terjadi pada, kemungkinan, akses kesehatan. Mereka harus mengusahakan sendiri biaya saat mengalami sakit karena tidak memiliki jaminan dalam bentuk asuransi.

Saat terjadi terjadi pandemi, kelompok ini dihantam paling keras oleh keadaan kesehatan. Untungnya, sebagian dari anggota kelompok justru memiliki kepedulian sosial tinggi sehingga gotong royong menjadi upaya mereka mengatasi berbagai persoalan.

Indikator berikutnya adalah layanan desain arsitektural. Bisa dipastikan jika warung, gerobak, bahkan juga tempat tinggal mereka bukanlah sesuatu yang menarik bagi arsitek profesional. Tidak ada layanan bagi kelompok ini dalam bidang rancang bangun. Tetapi ini justru bukan hal buruk.

Ketiadaan layanan membuat mereka sangat mandiri, tidak  memiliki ketergantungan. Dari posisi ini, kemampuan mendesain dan mengonstruksi bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki justru sangat baik. Sensitivitas terhadap desain yang fungsional dengan material apa adanya terlatih dengan baik. Inilah vernacular urban yang baru.

Sebagaiman argumen Paul Oliver yang menyatakan kemampuan tanpa bantuan ahli dalam membangun ini harus dipupuk. Kemampuan ini semakin lama menghilang dari diri manusia. Bandingkan dengan makhluk lain, burung misalnya, yang memiliki kemampuan membangun sarang. Pada manusia, pemenuhan kebutuhan dasar terhadap hunian kini kian tergantung pada keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di lain pihak, arsitek profesional seyogyanya memiliki sensitivitas dalam melihat ruang praktek yang lebih luas lagi. Agar kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani jasa mereka tetap memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk tinggal dan berusaha.

Kisah tentang invisible city yang lain juga bisa kita jumpai dalam salah satu film di Netflix. Di sinema tersebut diceritakan seorang detektif yang mengusut sebuah kasus dan tiba-tiba berhadapan dengan ‘dunia lain’ bawah tanah yang selama ini tidak dia sadari eksis. Ini mirip dengan fenomena kota kita. Jika arsitek dan, tentu saja, kita anggap sebagai si detektif, maka ia perlu kasus tertentu yang membuat kesadaran akan adanya ‘kota tak terlihat’ yang mungkin membutuhkan peran serta semua agar menjadi visible. [T]

Denpasar, 17 December 2023

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Tags: gaya hidupKotatata kota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Next Post

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co