2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Jaswanto by Jaswanto
January 20, 2024
in Ulas Film
Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Tangkapan layar film Made

SEPERTI tipikal film atau sinetron kita pada umumnya, sisi penceritaan (naratif) adalah aspek terlemah dari segala hal. Banyak cerita film yang rasanya janggal dan tak bisa diterima akal sehat. Padahal, naratif adalah—sebagaimana ditulis Himawan Pratista dalam Memahami Film (2017)—suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu.

Sebuah kejadian, tulis Pratista, tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yag jelas. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu dan terikat satu sama lain oleh hukum kausalitas. Dalam sebuah film cerita, setiap kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya.

Namun, pada kenyataannya, masih banyak sutradara film di Indonesia yang cuek atau mengabaikan nalar dan logika tersebut, tak terkecuali film pendek berjudul Made (2022) garapan Agus Primarta, salah satu filmmaker Buleleng yang masuk dalam kategori produktif dalam menghasilkan film pendek.

Made diputar dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film bertajuk Prim Art Edition yang diselenggarakan Komunitas Singaraja Menonton di Kedai Kopi Dekakiang, Singaraja, Jumat malam, 19 Januari 2024. Malam itu diputar karya-karya sutradaraAgus Primarta, selain Made, juga film Tirta, Sesal (2021); Nyambutin (2021); dan Seni di Tengah Pandemi (2021)

Made memuat kisah yang sebenarnya sudah banyak dieksplor—untuk tidak mengatakan klise—oleh pelaku film di Tanah Air: kemiskinan. Cerita digerakkan oleh seorang anak bernama Made yang meminta ibunya supaya dibelikan smartphone. Ibu Made hanya seorang penjual canang—sepertinya ia janda sebab dari awal sampai akhir film tak tampak sosok lelaki paruh baya di rumahnya.

Singkat cerita, seperti yang sudah kita duga, Made tak mendapatkan apa yang ia minta. Sebagai penjual canang, ibunya mengaku tak punya cukup uang untuk membeli benda ajaib dan melenakan itu. Jangankan membeli smartphone, sekadar sekilo beras saja rasanya berat untuk didapat—sebuah gambaran kemiskinan yang berulang-ulang.

Untuk meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar keluarga miskin, sang sutradara menampilkan adegan-adegan berikut: 1) Made membuat mobil mainan dari botol minuman bekas dengan roda potongan karet sendal; 2) Made melihat semua temannya memiliki smartphone; 3) Ibu Made tak mendapati beras di dalam gentong yang terbuat dari tanah; dan 3) Made yang hanya makan nasi jagung setengah centong. Saya pikir, di zaman seperti sekarang ini, gambaran tersebut terlalu berlebihan.

Sampai di sini, di mana letak sutradara mengabaikan nalar-logika dalam konteks menghadirkan realitas cerita? Letaknya ada dalam karakter bernama Made. Gambaran Made dalam film ini bagi saya agak mengada-ada, jauh dari realitas latar-tempat cerita: Bali.

Dalam film ini Made digambarkan sebagai sosok anak kecil yang kreatif, ceria, dan memiliki kebijaksanaan layaknya orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pada saat ibunya mengatakan tak dapat memenuhi keinginannya, alih-alih menangis sambil marah-marah layaknya anak kecil pada umumnya, Made memilih bergumam: “Pokoknya Made mau hp!”, lalu berlari keluar sembari menjambret karung.

Untuk apa? Untuk wadah botol bekas yang ia pungkut di pinggir jalan, di tempat sampah, dan di mana-mana. Selama saya tinggal di Bali, setidaknya di sekitar tempat tinggal atau tempat yang biasa saya kunjungi, nyaris tidak pernah mendapati anak seumuran Made menjadi pemulung. Ini yang saya sebut “jauh dari realitas latar-tempat cerita”.

Lantas, darimana insprirasi atau referensi sang sutradara dalam menghadirkan gambaran tersebut? Dugaan saya, itu didapat dari sinetron atau kebanyakan film yang berlatar kehidupan Jakarta atau kota besar lainnya.   

Tak sampai di situ, pada akhir cerita, setelah memecah celengan kendinya dan ditambah uang hasil penjualan botol yang ia kumpulkan, alih-alih membelikan apa yang ia inginkan, yaitu smartphone, Made memilih pulang dengan sekarung beras di gendongannya. Bertelanjang kaki ia melangkah di trotoar dengan senyum penuh kebanggaan.

Bayangkan, bukankah Made adalah anak impian para orang tua? Tapi apakah di dunia realitas ada anak yang memiliki karakter seperti Made? Mungkin saja ada, meski jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan manusia: langka.

Apa yang menggerakkan Made memilih membeli beras? Apakah cukup hanya sekadar pengetahuan bahwa di rumahnya tak ada beras? Jika iya, apakah benar anak kecil seumuran Made sudah memiliki kesadaran akan skala prioritas, bahwa beras lebih penting daripada smartphone?

Atau barangkali, anak ingusan ini memilih membeli beras bukan karena kesadaran atau kebijaksanaan, tapi mengetahui kenyataan bahwa uang yang dibawanya tak cukup banyak untuk menebus seketeng smartphone yang murah sekali pun. Mungkin saja.

Dalam Made, menurut saya, sutradara terlalu memaksa cerita supaya plotnya berjalan seperti yang dikehendakinya sampai ia lupa untuk mempertimbangkan nalar dan logika. Sebab, dalam bayangan saya, Made adalah anak kecil pada umumnya, yang abai dan terlalu rumit untuk terlibat dalam persoalan orang dewasa.

Gambaran Made dalam film Made tentu jauh berbeda dengan sosok anak kecil bernama Boni dalam film Boni (2023) karya Amrita Dharma dan Gedi Nadi. Dalam film tersebut, tak tampak ego sutradara untuk menciptakan gambaran anak kecil yang cerdas, kritis, penuh ilmu pengetahuan, banyak menyampaikan pesan moral kepada orang yang lebih tua, atau menggugat banyak hal.

Dalam kisahnya, Boni tetap anak kecil yang polos, lugu, dan penuh imajinasi, seperti ditampilkan di akhir film, dengan polos Boni menebar buah boni di pematang sawah dan berkata, “Jadi boni! Jadi boni!” sambil mengibas-ngibaskan ranting pohon seolah itu tongkat sihir Tinkerbell yang mungkin pernah ia tonton. Itulah anak kecil—dan saya menyukainya.

Tetapi Made merupakan film konvensional. Yang harus memiliki pesan moral, petuah bijak, dan nilai-nilai luhur lainnya. Tampaknya, sejauh ini, Agus Primarta memang masih senang bermain-main di ranah konvensional. Lihatlah, tak hanya Made, tapi juga Sesal (2021); Nyambutin (2021); dan Seni di Tengah Pandemi (2021). Pesan moral bertebaran di sana.

Namun, terlepas dari itu semua, Bli Gus sebenarnya adalah filmmaker potensial di Buleleng—bahkan Bali. Sebagai seorang sutradara yang berangkat dari hobi, bukan dari institusi film, dari segi ide cerita dia sudah lumayan. Sedangkan dari sisi sinematografi, karya-karya yang telah ia produksi cukup rapi jika dibandingkan dengan karya filmmaker pemula lainnya. Hanya saja, sebagaimana telah disampaikan beberapa penonton di deKakiang semalam, ke depan, Bli Gus harus mulai mengeksplorasi cerita dengan model lain selain yang sudah konvensional.

Akhirnya, film Made bisa sangat bagus kalau saja Bli Gus, sebagai sutradara, tidak terburu-buru dalam mengeksekusinya. Maksudnya, naskah skenario harus dituntaskan dulu di atas meja. Skenario perlu pengendapan, perlu direnungkan, perlu didiskusikan. Saya yakin, seandainya saja naskah itu dibedah terlebih dahulu bersama orang yang tepat sebelum dieksekusi, Made akan menjadi film pendek yang padat-berisi.

Bagaimanapun, film bukan produk yang penting jadi, tapi proses penggalian, eksperimen, percobaan, penciptaan yang terus-menerus yang dilakukan seorang sutradara, hingga menghasilkan sebuah karya yang bisa dikatakan sebagai “masterpiece”. Bukan begitu, Bli Gus?[T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar
Tags: filmfilm pendekUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Next Post

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co