3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Jaswanto by Jaswanto
January 20, 2024
in Ulas Film
Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Tangkapan layar film Made

SEPERTI tipikal film atau sinetron kita pada umumnya, sisi penceritaan (naratif) adalah aspek terlemah dari segala hal. Banyak cerita film yang rasanya janggal dan tak bisa diterima akal sehat. Padahal, naratif adalah—sebagaimana ditulis Himawan Pratista dalam Memahami Film (2017)—suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu.

Sebuah kejadian, tulis Pratista, tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yag jelas. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu dan terikat satu sama lain oleh hukum kausalitas. Dalam sebuah film cerita, setiap kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya.

Namun, pada kenyataannya, masih banyak sutradara film di Indonesia yang cuek atau mengabaikan nalar dan logika tersebut, tak terkecuali film pendek berjudul Made (2022) garapan Agus Primarta, salah satu filmmaker Buleleng yang masuk dalam kategori produktif dalam menghasilkan film pendek.

Made diputar dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film bertajuk Prim Art Edition yang diselenggarakan Komunitas Singaraja Menonton di Kedai Kopi Dekakiang, Singaraja, Jumat malam, 19 Januari 2024. Malam itu diputar karya-karya sutradaraAgus Primarta, selain Made, juga film Tirta, Sesal (2021); Nyambutin (2021); dan Seni di Tengah Pandemi (2021)

Made memuat kisah yang sebenarnya sudah banyak dieksplor—untuk tidak mengatakan klise—oleh pelaku film di Tanah Air: kemiskinan. Cerita digerakkan oleh seorang anak bernama Made yang meminta ibunya supaya dibelikan smartphone. Ibu Made hanya seorang penjual canang—sepertinya ia janda sebab dari awal sampai akhir film tak tampak sosok lelaki paruh baya di rumahnya.

Singkat cerita, seperti yang sudah kita duga, Made tak mendapatkan apa yang ia minta. Sebagai penjual canang, ibunya mengaku tak punya cukup uang untuk membeli benda ajaib dan melenakan itu. Jangankan membeli smartphone, sekadar sekilo beras saja rasanya berat untuk didapat—sebuah gambaran kemiskinan yang berulang-ulang.

Untuk meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar keluarga miskin, sang sutradara menampilkan adegan-adegan berikut: 1) Made membuat mobil mainan dari botol minuman bekas dengan roda potongan karet sendal; 2) Made melihat semua temannya memiliki smartphone; 3) Ibu Made tak mendapati beras di dalam gentong yang terbuat dari tanah; dan 3) Made yang hanya makan nasi jagung setengah centong. Saya pikir, di zaman seperti sekarang ini, gambaran tersebut terlalu berlebihan.

Sampai di sini, di mana letak sutradara mengabaikan nalar-logika dalam konteks menghadirkan realitas cerita? Letaknya ada dalam karakter bernama Made. Gambaran Made dalam film ini bagi saya agak mengada-ada, jauh dari realitas latar-tempat cerita: Bali.

Dalam film ini Made digambarkan sebagai sosok anak kecil yang kreatif, ceria, dan memiliki kebijaksanaan layaknya orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pada saat ibunya mengatakan tak dapat memenuhi keinginannya, alih-alih menangis sambil marah-marah layaknya anak kecil pada umumnya, Made memilih bergumam: “Pokoknya Made mau hp!”, lalu berlari keluar sembari menjambret karung.

Untuk apa? Untuk wadah botol bekas yang ia pungkut di pinggir jalan, di tempat sampah, dan di mana-mana. Selama saya tinggal di Bali, setidaknya di sekitar tempat tinggal atau tempat yang biasa saya kunjungi, nyaris tidak pernah mendapati anak seumuran Made menjadi pemulung. Ini yang saya sebut “jauh dari realitas latar-tempat cerita”.

Lantas, darimana insprirasi atau referensi sang sutradara dalam menghadirkan gambaran tersebut? Dugaan saya, itu didapat dari sinetron atau kebanyakan film yang berlatar kehidupan Jakarta atau kota besar lainnya.   

Tak sampai di situ, pada akhir cerita, setelah memecah celengan kendinya dan ditambah uang hasil penjualan botol yang ia kumpulkan, alih-alih membelikan apa yang ia inginkan, yaitu smartphone, Made memilih pulang dengan sekarung beras di gendongannya. Bertelanjang kaki ia melangkah di trotoar dengan senyum penuh kebanggaan.

Bayangkan, bukankah Made adalah anak impian para orang tua? Tapi apakah di dunia realitas ada anak yang memiliki karakter seperti Made? Mungkin saja ada, meski jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan manusia: langka.

Apa yang menggerakkan Made memilih membeli beras? Apakah cukup hanya sekadar pengetahuan bahwa di rumahnya tak ada beras? Jika iya, apakah benar anak kecil seumuran Made sudah memiliki kesadaran akan skala prioritas, bahwa beras lebih penting daripada smartphone?

Atau barangkali, anak ingusan ini memilih membeli beras bukan karena kesadaran atau kebijaksanaan, tapi mengetahui kenyataan bahwa uang yang dibawanya tak cukup banyak untuk menebus seketeng smartphone yang murah sekali pun. Mungkin saja.

Dalam Made, menurut saya, sutradara terlalu memaksa cerita supaya plotnya berjalan seperti yang dikehendakinya sampai ia lupa untuk mempertimbangkan nalar dan logika. Sebab, dalam bayangan saya, Made adalah anak kecil pada umumnya, yang abai dan terlalu rumit untuk terlibat dalam persoalan orang dewasa.

Gambaran Made dalam film Made tentu jauh berbeda dengan sosok anak kecil bernama Boni dalam film Boni (2023) karya Amrita Dharma dan Gedi Nadi. Dalam film tersebut, tak tampak ego sutradara untuk menciptakan gambaran anak kecil yang cerdas, kritis, penuh ilmu pengetahuan, banyak menyampaikan pesan moral kepada orang yang lebih tua, atau menggugat banyak hal.

Dalam kisahnya, Boni tetap anak kecil yang polos, lugu, dan penuh imajinasi, seperti ditampilkan di akhir film, dengan polos Boni menebar buah boni di pematang sawah dan berkata, “Jadi boni! Jadi boni!” sambil mengibas-ngibaskan ranting pohon seolah itu tongkat sihir Tinkerbell yang mungkin pernah ia tonton. Itulah anak kecil—dan saya menyukainya.

Tetapi Made merupakan film konvensional. Yang harus memiliki pesan moral, petuah bijak, dan nilai-nilai luhur lainnya. Tampaknya, sejauh ini, Agus Primarta memang masih senang bermain-main di ranah konvensional. Lihatlah, tak hanya Made, tapi juga Sesal (2021); Nyambutin (2021); dan Seni di Tengah Pandemi (2021). Pesan moral bertebaran di sana.

Namun, terlepas dari itu semua, Bli Gus sebenarnya adalah filmmaker potensial di Buleleng—bahkan Bali. Sebagai seorang sutradara yang berangkat dari hobi, bukan dari institusi film, dari segi ide cerita dia sudah lumayan. Sedangkan dari sisi sinematografi, karya-karya yang telah ia produksi cukup rapi jika dibandingkan dengan karya filmmaker pemula lainnya. Hanya saja, sebagaimana telah disampaikan beberapa penonton di deKakiang semalam, ke depan, Bli Gus harus mulai mengeksplorasi cerita dengan model lain selain yang sudah konvensional.

Akhirnya, film Made bisa sangat bagus kalau saja Bli Gus, sebagai sutradara, tidak terburu-buru dalam mengeksekusinya. Maksudnya, naskah skenario harus dituntaskan dulu di atas meja. Skenario perlu pengendapan, perlu direnungkan, perlu didiskusikan. Saya yakin, seandainya saja naskah itu dibedah terlebih dahulu bersama orang yang tepat sebelum dieksekusi, Made akan menjadi film pendek yang padat-berisi.

Bagaimanapun, film bukan produk yang penting jadi, tapi proses penggalian, eksperimen, percobaan, penciptaan yang terus-menerus yang dilakukan seorang sutradara, hingga menghasilkan sebuah karya yang bisa dikatakan sebagai “masterpiece”. Bukan begitu, Bli Gus?[T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar
Tags: filmfilm pendekUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Next Post

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co