14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Made Adnyana by Made Adnyana
January 13, 2024
in Ulas Film
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Sengap, Tompel dan Sokir, bintang film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto: Ist

SESUNGGUHNYA dunia perfilman di Bali sangat potensial dan berpeluang maju. Kalimat ini muncul sejak lama, ketika geliat berkarya para sineas dari Bali makin terlihat, terutama melalui ajang kompetisi atau festival film dokumenter, film pendek dan sejenisnya. Terlebih kemudian kemajuan teknologi turut mempermudah beberapa aspek penggarapan, apalagi juga dilengkapi dengan munculnya potensi pekerja kreatif dari kampus-kampus yang memiliki mata kuliah bahkan program studi sinematografi.

Lalu apakah perfilman Bali terhenti sampai hanya pada potensi dengan segala pendukungnya saja, tanpa karya nyata? Di luar film pendek dan film dokumenter yang diproduksi dan diputar dalam ajang khusus secara terbatas, produksi film Bali jelas masih sangat minim kalau tak mau dibilang langka.

Berbicara film dalam artian tayangan yang bisa disaksikan masyarakat secara luas melalui wahana khusus gedung bioskop, iya, memang minim, langka dan terbatas. Bertahun-tahun potensi perfilman Bali sebatas wacana tanpa karya. Beberapa karya dibuat namun tak semuanya muncul ke publik secara luas.

Jika dihitung sejak produksi berjudul “Leak” (2017) yang mencoba penayangan di bioskop lokal di Denpasar, maka jumlah film yang memang diproyeksikan untuk penayangan layar lebar di bioskop, jumlahnya masih kurang dari hitungan jari tangan.

Kalau ditanya apa penyebabnya, paling mudah menjawab, memproduksi film cerita penuh untuk tayangan bioskop bukan hal mudah. Ada begitu banyak aspek yang harus dipersiapkan, proses panjang, dan tentu saja biaya produksi yang tak sedikit. Ketika film sudah jadi dan siap tayang, tahap berikutnya juga menguras tenaga dan pikiran, mulai dari masalah surat keterangan lolos sensor dari LSF, izin tayang, dan mekanisme penayangan melalui bioskop berjejaring yang memang tak mudah. Lain dari itu, peluang pasar atau potensi penonton jelas menjadi perhitungan.

Sejak “Leak (Penangkeb)” yang diputar Maret 2019, praktis belum ada lagi karya sineas Bali yang diputar secara regular di gedung bioskop setidaknya di Denpasar. Sebelum pandemi Covid merebak, terbetik kabar akan ada satu produksi yang digadang-gadang sebagai unggulan,  yakni film berjudul “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”.

Namun dua tahun lebih masa pandemi — bisa dimaklumi sebagai penyebab banyak hal yang tertunda atau terhenti — termasuk film “Nyi Rimbit” yang sempat tiada kabar lagi. Hingga menjelang akhir tahun kemarin muncul kabar “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” diputar untuk gala premiere di salah satu bioskop baru di Denpasar.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Hingga memasuki minggu pertama Januari 2024, film ini pun resmi masuk gedung bioskop dan diputar secara regular (bukan penonton khusus dengan undangan) di Denpasar Cineplex. “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” mengisahkan satu desa fiktif bernama Kalidasa yang dilanda keresahan setelah sejumlah warga mereka tewas secara misterius. Bukan grubug atau wabah, tapi ada kekhawatiran kalau peristiwa ini berkaitan dengan mistik, ilmu hitam.

Jero bendesa pun memanggil tiga sekawan, Sengap, Tompel, dan Sokir, untuk menyelidiki masalah ini dan menemukan pelakunya. Kecurigaan mengarah kuat kepada seorang nenek misterius yang hidup sendirian di tengah hutan, Nyi Rimbit.

Apa yang menarik dari film ini? Adakah sekadar pelepas dahaga berkepanjangan akan karya-karya sineas Bali yang ditunggu-tunggu?

Melewati 10 hari penayangan (pada saat tulisan ini disusun, Sabtu 13 Januari 2024) bolehlah diapresiasi, menjadi catatan tersendiri, di mana dengan empat kali penayangan tiap hari, kursi yang tersedia selalu penuh terisi.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Entah kebetulan, setipe dengan beberapa film lokal Bali yang beredar di bioskop sebelumnya, “Nyi Rimbit” juga berada di jalur drama horor. Tidak jauh berbeda dengan kondisi perfilman nasional yang masih mengandalkan daya tarik unsur mistis. Bedanya, apalagi karena mengedepankan pemeran grup Clekontong Mas (tiga kawan Sengap, Tompel, dan Sokir), sudah pasti unsur komedi menjadi bagian yang dominan juga. Bukan hal baru atau aneh, karena sejumlah film horor barat, juga film horor nasional sedari era Suzanna, juga kerap memasukkan nuansa komedi. Begitu pula Warkop DKI pernah memasukkan nuansa horor di film “Setan Kredit”.

Jatuh-jatuhnya “Nyi Rimbit” lebih membuat penonton bergidik ngeri atau malah tertawa terpingkal? Meskipun pengadegan horornya digarap cukup apik, tak bisa dimungkiri, lawakan menjadi lebih dominan. Bahkan Leak pun bisa diolok-olok.

Disebut sebagai film apapun, yang jelas “gado-gado” drama, komedi, dan horror yang satu ini berhasil membuat penonton terhibur dan setidaknya tersenyum. Bukankah tujuan utama satu tontonan memang untuk menghibur?

Serupa dengan film lokal Bali sebelumnya, menjadi catatan sekaligus pertanyaan pula, mengapa pemerannya didominasi (kalau tak mau dikatakan nyaris seluruhnya) adalah kelompok publik figur seperti artis, penyanyi lagu pop Bali atau selebgram. Di luar Clekontong Mas yang juga dijadikan sebagai judul, film ini didukung penyanyi pop Bali Yessi Diana, Gek Diah, Yudi Darmawan “Leeyonk Sinatra”, Gek Yuri, juga Lanang Botax dari Lolot Band.

Selain itu juga ada Unggit Desti, Sri Sumahardani, Gede Pay, Bayu Kramas, Asri Saputri, Oli Olie. Last but not least, pemeran Nyi Rimbit, si “niang gaul”, AA Ayu Mas .

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Boleh jadi ada asumsi sekaligus menjadi formula, mengumpulkan pemeran yang rata-rata sudah punya nama untuk memperkuat nilai jual atau daya tarik. Atau boleh jadi juga untuk mempermudah berbagai persiapan hingga masalah teknis, karena kebetulan pemeran yang diajak adalah teman atau terbilang masih satu circle dengan tim produksi khususnya duet sutradara IB Hari Kayana alias Gus Hari dan Gus Windi alias Jibolka Baker, atau Hery Budiana selaku produser.

Awalnya, begitu melihat judul film, juga mengetahui ide cerita dan naskah dari personel Clekontong Mas, ada keraguan terbersit dalam pikiran. Apakah nantinya, jangan-jangan “Nyi Rimbit” hanya memindahkan bondres dari panggung ke layar lebar?

Kerap terjadi, mereka yang terbiasa tampil di atas panggung, saat bermain di depan kamera, sedikit banyak akan terbawa dengan gaya dan penampilan panggung. Walau jelas mediumnya berbeda, audiens juga berbeda. Bahasa panggung dan bahasa audio visual tentu saja berbeda, karena interaksinya jauh berbeda.

Untungnya keraguan itu tak begitu banyak terbukti, karena hanya pada beberapa bagian saja, Clekontong Mas membawakan lawakan panggung ke layar lebar sehingga terkesan agak garing. Selebihnya, Sengap, Tompel dan Sokir, berupaya sedemikian rupa berinteraksi dan memberi ruang kepada pemeran lain seperti Yessi Diana sebagai Nyi Likig alias Leak sesungguhnya, pun Lanang Botax sebagai jero bendesa yang agak-agak konyol juga.

Sisi lain yang membuat “Nyi Rimbit” tidak tergagap dalam penuturannya, karena dialog nyaris seratus persen menggunakan bahasa Bali. Tentu ini menguntungkan karena dialog menjadi lebih natural dan pas. Sekalipun untuk itu perlu disiapkan subtitle atau terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan penonton yang barangkali tak begitu mengerti dengan bahasa Bali.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Bahwa kemudian film ini sulit bisa diputar secara nasional karena faktor bahasa kiranya tak perlu terlalu dikhawatirkan. Terbukti beberapa film nasional seperti “Yo Wis Ben” yang dominan menggunakan bahasa Jawa tetap bisa diterima dengan baik. Apalagi kalau berbicara film asing dari Italia, Jerman, Perancis, juga India yang tetap bisa disaksikan dengan baik dengan adanya terjemahan yang memadai.

Secara teknis, film yang nyaris keseluruhan memakai lokasi suting di Desa Bayung, Kintamani, ini menyuguhkan kualitas gambar dengan angle-angle yang lebih baik daripada beberapa produksi lokal Bali sebelumnya. Begitupun tata suara yang memadai untuk penayangan gedung bioskop, walau pada beberapa frame belum balance.

Tentu tidak fair kalau membandingkan “Nyi Rimbit” dengan prouksi film nasional dengan peralatan yang lebih canggih dan biaya produksi yang mencapai puluhan kali lipat. Namun keinginan untuk menjadikan film ini sebagai lokomotif produksi lokal berikutnya tentu patut diapresiasi. [T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co

Tags: bondresCelekontong Masfilmkesenian baliresensiresensi filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengajarkan Siswa Cara Memilah dan Mengolah Sampah

Next Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co