14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Made Adnyana by Made Adnyana
January 13, 2024
in Ulas Film
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Sengap, Tompel dan Sokir, bintang film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto: Ist

SESUNGGUHNYA dunia perfilman di Bali sangat potensial dan berpeluang maju. Kalimat ini muncul sejak lama, ketika geliat berkarya para sineas dari Bali makin terlihat, terutama melalui ajang kompetisi atau festival film dokumenter, film pendek dan sejenisnya. Terlebih kemudian kemajuan teknologi turut mempermudah beberapa aspek penggarapan, apalagi juga dilengkapi dengan munculnya potensi pekerja kreatif dari kampus-kampus yang memiliki mata kuliah bahkan program studi sinematografi.

Lalu apakah perfilman Bali terhenti sampai hanya pada potensi dengan segala pendukungnya saja, tanpa karya nyata? Di luar film pendek dan film dokumenter yang diproduksi dan diputar dalam ajang khusus secara terbatas, produksi film Bali jelas masih sangat minim kalau tak mau dibilang langka.

Berbicara film dalam artian tayangan yang bisa disaksikan masyarakat secara luas melalui wahana khusus gedung bioskop, iya, memang minim, langka dan terbatas. Bertahun-tahun potensi perfilman Bali sebatas wacana tanpa karya. Beberapa karya dibuat namun tak semuanya muncul ke publik secara luas.

Jika dihitung sejak produksi berjudul “Leak” (2017) yang mencoba penayangan di bioskop lokal di Denpasar, maka jumlah film yang memang diproyeksikan untuk penayangan layar lebar di bioskop, jumlahnya masih kurang dari hitungan jari tangan.

Kalau ditanya apa penyebabnya, paling mudah menjawab, memproduksi film cerita penuh untuk tayangan bioskop bukan hal mudah. Ada begitu banyak aspek yang harus dipersiapkan, proses panjang, dan tentu saja biaya produksi yang tak sedikit. Ketika film sudah jadi dan siap tayang, tahap berikutnya juga menguras tenaga dan pikiran, mulai dari masalah surat keterangan lolos sensor dari LSF, izin tayang, dan mekanisme penayangan melalui bioskop berjejaring yang memang tak mudah. Lain dari itu, peluang pasar atau potensi penonton jelas menjadi perhitungan.

Sejak “Leak (Penangkeb)” yang diputar Maret 2019, praktis belum ada lagi karya sineas Bali yang diputar secara regular di gedung bioskop setidaknya di Denpasar. Sebelum pandemi Covid merebak, terbetik kabar akan ada satu produksi yang digadang-gadang sebagai unggulan,  yakni film berjudul “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”.

Namun dua tahun lebih masa pandemi — bisa dimaklumi sebagai penyebab banyak hal yang tertunda atau terhenti — termasuk film “Nyi Rimbit” yang sempat tiada kabar lagi. Hingga menjelang akhir tahun kemarin muncul kabar “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” diputar untuk gala premiere di salah satu bioskop baru di Denpasar.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Hingga memasuki minggu pertama Januari 2024, film ini pun resmi masuk gedung bioskop dan diputar secara regular (bukan penonton khusus dengan undangan) di Denpasar Cineplex. “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” mengisahkan satu desa fiktif bernama Kalidasa yang dilanda keresahan setelah sejumlah warga mereka tewas secara misterius. Bukan grubug atau wabah, tapi ada kekhawatiran kalau peristiwa ini berkaitan dengan mistik, ilmu hitam.

Jero bendesa pun memanggil tiga sekawan, Sengap, Tompel, dan Sokir, untuk menyelidiki masalah ini dan menemukan pelakunya. Kecurigaan mengarah kuat kepada seorang nenek misterius yang hidup sendirian di tengah hutan, Nyi Rimbit.

Apa yang menarik dari film ini? Adakah sekadar pelepas dahaga berkepanjangan akan karya-karya sineas Bali yang ditunggu-tunggu?

Melewati 10 hari penayangan (pada saat tulisan ini disusun, Sabtu 13 Januari 2024) bolehlah diapresiasi, menjadi catatan tersendiri, di mana dengan empat kali penayangan tiap hari, kursi yang tersedia selalu penuh terisi.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Entah kebetulan, setipe dengan beberapa film lokal Bali yang beredar di bioskop sebelumnya, “Nyi Rimbit” juga berada di jalur drama horor. Tidak jauh berbeda dengan kondisi perfilman nasional yang masih mengandalkan daya tarik unsur mistis. Bedanya, apalagi karena mengedepankan pemeran grup Clekontong Mas (tiga kawan Sengap, Tompel, dan Sokir), sudah pasti unsur komedi menjadi bagian yang dominan juga. Bukan hal baru atau aneh, karena sejumlah film horor barat, juga film horor nasional sedari era Suzanna, juga kerap memasukkan nuansa komedi. Begitu pula Warkop DKI pernah memasukkan nuansa horor di film “Setan Kredit”.

Jatuh-jatuhnya “Nyi Rimbit” lebih membuat penonton bergidik ngeri atau malah tertawa terpingkal? Meskipun pengadegan horornya digarap cukup apik, tak bisa dimungkiri, lawakan menjadi lebih dominan. Bahkan Leak pun bisa diolok-olok.

Disebut sebagai film apapun, yang jelas “gado-gado” drama, komedi, dan horror yang satu ini berhasil membuat penonton terhibur dan setidaknya tersenyum. Bukankah tujuan utama satu tontonan memang untuk menghibur?

Serupa dengan film lokal Bali sebelumnya, menjadi catatan sekaligus pertanyaan pula, mengapa pemerannya didominasi (kalau tak mau dikatakan nyaris seluruhnya) adalah kelompok publik figur seperti artis, penyanyi lagu pop Bali atau selebgram. Di luar Clekontong Mas yang juga dijadikan sebagai judul, film ini didukung penyanyi pop Bali Yessi Diana, Gek Diah, Yudi Darmawan “Leeyonk Sinatra”, Gek Yuri, juga Lanang Botax dari Lolot Band.

Selain itu juga ada Unggit Desti, Sri Sumahardani, Gede Pay, Bayu Kramas, Asri Saputri, Oli Olie. Last but not least, pemeran Nyi Rimbit, si “niang gaul”, AA Ayu Mas .

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Boleh jadi ada asumsi sekaligus menjadi formula, mengumpulkan pemeran yang rata-rata sudah punya nama untuk memperkuat nilai jual atau daya tarik. Atau boleh jadi juga untuk mempermudah berbagai persiapan hingga masalah teknis, karena kebetulan pemeran yang diajak adalah teman atau terbilang masih satu circle dengan tim produksi khususnya duet sutradara IB Hari Kayana alias Gus Hari dan Gus Windi alias Jibolka Baker, atau Hery Budiana selaku produser.

Awalnya, begitu melihat judul film, juga mengetahui ide cerita dan naskah dari personel Clekontong Mas, ada keraguan terbersit dalam pikiran. Apakah nantinya, jangan-jangan “Nyi Rimbit” hanya memindahkan bondres dari panggung ke layar lebar?

Kerap terjadi, mereka yang terbiasa tampil di atas panggung, saat bermain di depan kamera, sedikit banyak akan terbawa dengan gaya dan penampilan panggung. Walau jelas mediumnya berbeda, audiens juga berbeda. Bahasa panggung dan bahasa audio visual tentu saja berbeda, karena interaksinya jauh berbeda.

Untungnya keraguan itu tak begitu banyak terbukti, karena hanya pada beberapa bagian saja, Clekontong Mas membawakan lawakan panggung ke layar lebar sehingga terkesan agak garing. Selebihnya, Sengap, Tompel dan Sokir, berupaya sedemikian rupa berinteraksi dan memberi ruang kepada pemeran lain seperti Yessi Diana sebagai Nyi Likig alias Leak sesungguhnya, pun Lanang Botax sebagai jero bendesa yang agak-agak konyol juga.

Sisi lain yang membuat “Nyi Rimbit” tidak tergagap dalam penuturannya, karena dialog nyaris seratus persen menggunakan bahasa Bali. Tentu ini menguntungkan karena dialog menjadi lebih natural dan pas. Sekalipun untuk itu perlu disiapkan subtitle atau terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan penonton yang barangkali tak begitu mengerti dengan bahasa Bali.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Bahwa kemudian film ini sulit bisa diputar secara nasional karena faktor bahasa kiranya tak perlu terlalu dikhawatirkan. Terbukti beberapa film nasional seperti “Yo Wis Ben” yang dominan menggunakan bahasa Jawa tetap bisa diterima dengan baik. Apalagi kalau berbicara film asing dari Italia, Jerman, Perancis, juga India yang tetap bisa disaksikan dengan baik dengan adanya terjemahan yang memadai.

Secara teknis, film yang nyaris keseluruhan memakai lokasi suting di Desa Bayung, Kintamani, ini menyuguhkan kualitas gambar dengan angle-angle yang lebih baik daripada beberapa produksi lokal Bali sebelumnya. Begitupun tata suara yang memadai untuk penayangan gedung bioskop, walau pada beberapa frame belum balance.

Tentu tidak fair kalau membandingkan “Nyi Rimbit” dengan prouksi film nasional dengan peralatan yang lebih canggih dan biaya produksi yang mencapai puluhan kali lipat. Namun keinginan untuk menjadikan film ini sebagai lokomotif produksi lokal berikutnya tentu patut diapresiasi. [T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co

Tags: bondresCelekontong Masfilmkesenian baliresensiresensi filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengajarkan Siswa Cara Memilah dan Mengolah Sampah

Next Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co