2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Didin Tulus by Didin Tulus
January 20, 2024
in Esai
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Buku Arus Bali | Foto: Didin Tulus

LANGKAH saya berhenti di Statsiun K.A Bandung. Masuk gerbang statsiun lama, lalu melewati pintu peron. Saya bukan mau berpergian naik kereta tapi sengaja mencari kenangan lama yang pernah tersimpan.

Saya duduk di bangku besi sambil menyeruput segelas kopi yang saya beli di sudut statsiun.

Di samping kantor informasi ada sebuah toko buku kecil kalau kita mau masuk peron. Saya pernah menemukan sebuah buku Arus Balik karya pengarang besar Pramoedya Ananta Toer.

Ini terjadi sekitar tahun 2006. Tadinya saya tidak tahu tentang buku yang bergambar kapal layar tradisional serta kusam bertuliskan Arus Balik itu. Karya maestro sastra itu adalah buku yang bernilai sastra dan mengandung sejarah tentang epos pasca kejayaaan Nusantara di awal abad 16.

Arus Balik adalah sebuah karya monumental Pramoedya – malah ada yang menganggapnya lebih besar dibanding karya-karya sebelumnya selama ini, seperti tetralogi Bumi Manusia yang sudah menyebar dalam berbagai bahasa asing di dunia.

Di negeri merdeka dan di antara manusia merdeka, orang merdeka menafsir, bagaimana dan ke mana pun ditafsirkan.

Saya hanya ingin membeli koran. Ketika melihat judul Arus Balik, saya tidak tertarik. Saat itu, saya tidak tahu siapa Pram itu. Saya hanya iseng menanyakan harganya berapa. Ah! Tidak punya niat membelinya. Apalagi ketika tahu harga buku tersebut 180 ribu. Saya cuma manggut-manggut. “Mahal amat!” kata saya dalam hati.

Seminggu kemudian saya main ke salah satu toko buku dan perpustakaan di Bandung. Kebetulan pemiliknya teman saya. Ia seorang penulis, kolektor dan pecandu kopi juga. Seorang kolektor buku-buku karya Pram.

Saya sering diskusi, ngobrol tentang sastra dan segala macam. Akhirnya saya mendapat banyak tahu tentang siapa Pram, ditambah lagi, dengan saya kemudian banyak membaca karya Pram di perpustakaan.

Saya teringat kembali sebuah buku Arus Balik karya Pram di stasiun itu. Terbitlah pikiran ingin membelinya. Tapi bila ingat harganya saya jadi bergidik. Tidak punya uang. Uang dari mana? Waktu itu saya belum nyemplung ke dalam dunia perbukuan (bisnis) seperti sekarang ini. Baru sebatas suka membaca dan membaca.

Kebetulan saya tiap hari selalu membantu ibu teman saya membuat gorengan sebangsa gehu, karoket, martabak tahu, dan lain-lain. Ngadonan gorengan mulai jam 04 subuh sampai dengan jam 08:30. Jam 09:00 harus segera dikirim ke kantin sekolah.

Saya dapat uang 5.000 per 3 jam sehari. Bingung juga uang 5.000 mana cukup. Pakai ongkos PP Cicaheum – Rajawali juga sudah habis tak tesisa. Ongkos bis kota 2.000, ongkos angkot 3.000. Berangkat sehabis subuh. Pulang siang.

Pada suatu ketika. siang-siang saya beres-beres gudang. Saya lihat sebuah sepeda mustang tergeletak tak terurus. Bannya bocor. Saya jadi tergerak ingin pinjam. Saya pinjam sepeda itu untuk diperbaiki dengan pinjam uang ke pemiliknya. Akhirnya sepeda sudah bagus bisa dipakai.

Setiap hari saya ngaboseh Cicaheum-Rajawali dengan waktu tempuh satu jam. Berangkat habis subuh pulang siang. Dengan bawa uang 5.000. Setiap pulang selalu bawa nasi dengan lauk pauknya. Sore jam 16.30 saya jaga toko buku dan perpustakaan milik teman saya, kalau boleh saya panggilnya DM (nama panggilan). Sampai dengan jam 1:00 malam.

Sambil jaga toko buku, saya diberi kebebasan membaca buku koleksinya. Sampai satu bulan uang sudah terkumpul 180.000, bahkan lebih. Sepulang dari Rajawali saya mampir ke toko buku yang terletak di sudut stasiun Bandung itu, untuk membeli buku Pramoedya.

Sebenarnya saya kaget juga tapi bersyukur buku itu ternyata masih bertengger di rak buku artinya buku tersebut belum laku. Dengan sangat senangnya, bahagia buku itu akhirnya jadi saya beli. Dan menjadi milik saya.

Ketika saya cerita ke teman DM tentang perjuangan mendapatkan buku Arus Balik itu. Teman saya sampai ngacungin jempol. “Mantap!” katanya.

Seiring dengan berjalannya waktu dari hari ke hari, ke minggu, ke bulan, ke tahun. Akhirnya saya tahu-tahu sudah nyemplung ke dunia perbukuan dengan modal kepercayaan. Saya sering diajak pameran. Jaga Stand buku oleh teman baik pemilik toko buku, penerbit. Dengan sistem freelance.

Ya, Pramoedya telah pergi untuk selama-lamanya tapi karyanya akan terus dibaca, dikenang sepanjang masa. Dengan kesadaran akan pentingnya sebuah sastra. Harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karyanya.

Pramoedya tak menulis lagi namun karyanya akan terus dibaca dibaca dibaca. Masih dapatkah arus balik membalik lagi?

Kopi sudah habis dan hari sudah sore saya pulang dengan bergegas. [T]

Hantu dan Tikus – [Pengalaman Pahit-Manis Berpameran Buku]
Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”…
Tags: BukunovelNovel Arus BalikPramoedya Ananta ToerSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Next Post

Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur

Didin Tulus

Didin Tulus

Pembaca karya Ajip Rosidi. Koleksi karya Ajip sudah 150 judul belum termasuk tulisan pengantar buku yang ditulis oleh Ajip. Penulis juga aktif mengelola perpustakaan Rumah Baca Ajip Rosidi.

Related Posts

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails
Next Post
Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur

Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co