1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 15, 2022
in Esai
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

jJro Dalang Sembroli, Weda Sanjaya dan Adnyana Ole

Diskusi tentang wayang, Senin 14 Maret , menjadi sesi panel pertama Mahima March March March. Tajuknya, The Art of Wayang and Reality.

Di sini didiskusikanlah jarak rentang dalang dan penonton, mulai dari jarak cerita, jarak bahasa, jarak realita, dan jarak-jarak lainnya. Diskusi hangat ini sedang mempertontonkan bagaimana jarak bisa dikikis, diserut, dipipihkan, bahkan dilipat hingga pesan yang disampaikan tak lagi mengeluarkan banyak energi untuk sampai.

Tetapi apakah tujuan kita, tujuan penonton? Apakah memang ingin sampai? Bukankah menonton adalah proses perjalanan, yang tujuannya belum tentu satu, melainkan dua, atau bercabang-cabang.

“Menonton” diskusi wayang di Rumah Mahima, saya bahagia. Pertama ini adalah panel pembuka di festival Mahima March March March yang digagas Komunitas Mahima.

Lalu pembicaranya adalah sahabat saya, Jro Dalang Sembroli atau bernama lengkap Gusti Made Aryana, seorang dalang yang sudah sangat terkenal di Bali Utara, dan belum beberapa lama sempat mementaskan wayang di upacara tiga bulanan ponakan saya. Pembicara pendamping adalah Made Adnyana Ole, jurnalis penyuka wayang. Moderatornya adalah Gus Weda Sanjaya, peraih hadiah sastra Rancage tahun ini.

Dari diskusi ini disadari bahwa mendiskusikan wayang tak akan pernah ada habisnya, kita bisa kupas dari mana saja, perspektif apa saja, lapis mana saja. Ketiga, menyambungkan relevansi wayang dengan konteks seni pertunjukan masa kini. Sampai di mana wayang Bali Utara bicara. Apa yang menumbuhkannya dan kemana tumbuhnya.

Penonton Menuntut Dalang

Menurut Jro Dalang Sembroli, sebagai dalang, ada beberapa ‘teror’ yang kerap dia temui di lapangan. Penonton menuntut dalang agar lucu, cepat, langsung ke jokes, tanpa basa-basi. Tanpa pengantar, tanpa pembuka.

Ini adalah tuntutan yang luar biasa karena sesungguhnya wayang selalu dan harus dibuka dengan pembuka, dan barulah jembatan dibangun, lalu barulah masuk ke jalan cerita. Namun, semua konteks itu di masa yang instan ini ingin dikikis oleh penonton. Dalang dituntut langsung ngelawak. Padahal dalang bukanlah pelawak apalagi stand up comedian. Bukan.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Tentu kita tak hanya bisa menonton wayang dalam rangka menuntut dalangnya mengeluarkan lelucon. Lagipula lelucon macam apa yang kita inginkan. Bahkan untuk menyepakati lelucon saja, bisa panjang referensi yang harus kita paparkan. Lelucon itu tidak bisa disebut lelucon jika konteksnya tidak pas antara audiens dan dalang. Konteks itu termasuk latar belakang budaya, isu sosial, dan pengetahuan yang disepakati bersama.

Sudut pandang lelucon tentu dibatasi (atau tidak dibatasi?) oleh imajinasi dan pengetahuan penonton. Dan lucu atau tidak lucu itu seharusnya tidaklah menjadi beban seorang dalang, namun biasalah netizen, ga lucu sedikit langsung meninggalkan komentar pedas.

Dalang Menuntut Penonton

Lalu Made Adnyana Ole membela dalang, harusnya bukan hanya dalang yang dipaksa-paksa menyesuaikan konteks cerita atau kelucuan, penonton pun harus diedukasi untuk menonton wayang.

Cerita wayang harus bisa disegarkan lagi, tak hanya melalui pelajaran agama, atau pelajaran seni budaya saja, tapi melalui obrolan sehari-hari, sebagai bagian dari cerita rakyat yang bisa mewarnai percakapan sehari-hari.

Namun tunggu dulu, siapa saja yang bisa bercakap-cakap soal wayang? Tentu hanya Ole dan beberapa gelintir pengamat yang hafal cerita wayang, lalu generasi mobile legend apa kabar? Seberapa sabar mereka harus menunggu cerita itu menjadi bagian yang relevan dari hidup mereka, serelevan mobile legends? Misalnya.

Katakanlah seorang anak usia SD ingin memahami wayang, lalu edukasinya mulai dari mana. Pastinya orang tua, bahkan harusnya sejak sebelum usia sekolah anak-anak setidaknya sudah dikenalkan dengan kisah wayang yang dramatis dan romantis sekaligus tragis itu. Sehingga anak-anak ini siap menonton wayang.

Lalu, berapa persenkah orangtua yang bisa menceritakan kisah wayang dengan sederhana kepada anak-anaknya. Belum lagi persoalan bahasa. Bisakah bahasa wayang diganti dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris? Begitulah pertanyaan netizen.

Sabar, ini sudah meluas. Persoalan mengedukasi penonton wayang belum selesai benar. Kini sudah masuk persoalan Pendidikan bahasa. Di manakah kita memulai?

Persoalan cerita yang relevan telah menjadi inti diskusi kemarin malam. Bagaimana jarak makna bisa ditipiskan agar anak-anak memahami cerita yang lebih sederhana. Katakanlah diambil inti sari maknanya. Bisakah wayang menjadi sebuah pertunjukan yang menyentuh hati anak-anak dan membuat mereka merenung akan hakikat kemanusiaan mereka?

Dalang Punya Jalan, Selalu Punya Jalan

Akhirnya kita kembali pada dalang. Sebagai yang punya jalan, tentu dalang yang membukakan jalan bagi penonton. Dalang juga manusia biasa, yang punya keterbatasan. Keterbatasan dalang dapat diatasi dengan dirinya sendiri, menyadari bahwa tidak semua karakter harus persis seperti karakter yang secara mainstream dibentuk.

Dalang bisa menjembatani makna dengan menawar keterbatasannya dengan teknik bercerita, teknik bersuara, dan teknik mengatur adegan. Bahwa cerita harus dibuat agar kontekstual dan relevan, tentu dalang punya siasat sendiri. Bagian mana yang paling relevan untuk dibuat cerita yang dekat dengan realitas. Namun tidak semua realitas juga ada referensinya di dunia wayang, sama seperti tidak semua referensi di dunia wayang dapat direalitaskan.

Ada bagian yang memang harus menjadi semacam gagasan di luar realitas, gagasan yang tidak mungkin dipaksakan menjadi realitas. Itulah yang memang selalu ada. Ada angan, ada realitas. Disanalah wayang memainkan peran ulang alik sebagai jembatan.

Pada isu-isu tertentu yang sangat dekat dengan audiens, dalang mampu membangun chemistry dengan penonton, meskipun chemistry dapat dimaknai dengan berbeda-beda pula. Jero Dalang mengamati penontonnya. Bahkan menyadari bahwa penonton memiliki dunia sendiri ketika menonton wayang. Ada adegan yang sesungguhnya tidak diniatkan menjadi sedih, namun ada penonton terisak isak.

Ada apa? Barangkali sang penonton mengingat hal sedih justru dari hal lucu. Hal lucu yang sedih. Atau hal yang lucu yang mengingatkan pada seseorang yang dirindukan yang telah tiada. Barangkali, jika hal lucu itu membuatnya sedih, itu bukanlah kesedihan atas pertunjukan yang gagal, namun atas respon yang mendalam yang membuat penonton menghubungkan rasa-rasa kompleks di dalam dirinya. Jero justru merasa disana pertunjukannya berhasil.

Wayang adalah Simbol Alam Semesta

Yang menarik dari diskusi kemarin adalah kehadiran penonton secara virtual yang menyimak diskusi secara live baik dari zoom maupun dari Youtube Komunitas Mahima. Seorang penonton, Dokter Arya Nugraha, menyimak diskusi dari ruang praktek. Beliau bertanya apa makna gunung yang dipakai sebagai pembuka dalam pertunjukan wayang.

Dijawab oleh Jero Dalang bahwa gunung adalah simbol semesta, apa yang ada di gunung sebagai semesta besar ada di diri kita, semesta kecil kita. Maka memahami wayang adalah memahami diri sebagai manusia dan memahami konteks kemanusiaan kita. Memahami wayang adalah memahami warna dunia. Demikian Jero Dalang dalam statement akhirnya.

Sementara Ole meyakini bahwa wayang akan hidup dan terus hidup sepanjang masa. Kisah wayang adalah kisah semesta yang tiada habisnya dibagikan dan bahkan semakin dibagikan semakin tidak terbatas.

 Penonton merasa masih haus pertanyaan, tapi waktu telah menunjukkan hampir satu setengah jam diskusi.

Sampai jumpa di diskusi berikutnya. Di Mahima March March March. [T]

Diskusi selengkapnya bisa ditonton di kanal youtube Komunitas Mahima:

Tags: Dalangkisah pewayanganKomunitas MahimaMahima March March March 2020Mahima March March March 2022wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Next Post

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata,
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails
Next Post
Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata,
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co