11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 15, 2022
in Esai
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

jJro Dalang Sembroli, Weda Sanjaya dan Adnyana Ole

Diskusi tentang wayang, Senin 14 Maret , menjadi sesi panel pertama Mahima March March March. Tajuknya, The Art of Wayang and Reality.

Di sini didiskusikanlah jarak rentang dalang dan penonton, mulai dari jarak cerita, jarak bahasa, jarak realita, dan jarak-jarak lainnya. Diskusi hangat ini sedang mempertontonkan bagaimana jarak bisa dikikis, diserut, dipipihkan, bahkan dilipat hingga pesan yang disampaikan tak lagi mengeluarkan banyak energi untuk sampai.

Tetapi apakah tujuan kita, tujuan penonton? Apakah memang ingin sampai? Bukankah menonton adalah proses perjalanan, yang tujuannya belum tentu satu, melainkan dua, atau bercabang-cabang.

“Menonton” diskusi wayang di Rumah Mahima, saya bahagia. Pertama ini adalah panel pembuka di festival Mahima March March March yang digagas Komunitas Mahima.

Lalu pembicaranya adalah sahabat saya, Jro Dalang Sembroli atau bernama lengkap Gusti Made Aryana, seorang dalang yang sudah sangat terkenal di Bali Utara, dan belum beberapa lama sempat mementaskan wayang di upacara tiga bulanan ponakan saya. Pembicara pendamping adalah Made Adnyana Ole, jurnalis penyuka wayang. Moderatornya adalah Gus Weda Sanjaya, peraih hadiah sastra Rancage tahun ini.

Dari diskusi ini disadari bahwa mendiskusikan wayang tak akan pernah ada habisnya, kita bisa kupas dari mana saja, perspektif apa saja, lapis mana saja. Ketiga, menyambungkan relevansi wayang dengan konteks seni pertunjukan masa kini. Sampai di mana wayang Bali Utara bicara. Apa yang menumbuhkannya dan kemana tumbuhnya.

Penonton Menuntut Dalang

Menurut Jro Dalang Sembroli, sebagai dalang, ada beberapa ‘teror’ yang kerap dia temui di lapangan. Penonton menuntut dalang agar lucu, cepat, langsung ke jokes, tanpa basa-basi. Tanpa pengantar, tanpa pembuka.

Ini adalah tuntutan yang luar biasa karena sesungguhnya wayang selalu dan harus dibuka dengan pembuka, dan barulah jembatan dibangun, lalu barulah masuk ke jalan cerita. Namun, semua konteks itu di masa yang instan ini ingin dikikis oleh penonton. Dalang dituntut langsung ngelawak. Padahal dalang bukanlah pelawak apalagi stand up comedian. Bukan.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Tentu kita tak hanya bisa menonton wayang dalam rangka menuntut dalangnya mengeluarkan lelucon. Lagipula lelucon macam apa yang kita inginkan. Bahkan untuk menyepakati lelucon saja, bisa panjang referensi yang harus kita paparkan. Lelucon itu tidak bisa disebut lelucon jika konteksnya tidak pas antara audiens dan dalang. Konteks itu termasuk latar belakang budaya, isu sosial, dan pengetahuan yang disepakati bersama.

Sudut pandang lelucon tentu dibatasi (atau tidak dibatasi?) oleh imajinasi dan pengetahuan penonton. Dan lucu atau tidak lucu itu seharusnya tidaklah menjadi beban seorang dalang, namun biasalah netizen, ga lucu sedikit langsung meninggalkan komentar pedas.

Dalang Menuntut Penonton

Lalu Made Adnyana Ole membela dalang, harusnya bukan hanya dalang yang dipaksa-paksa menyesuaikan konteks cerita atau kelucuan, penonton pun harus diedukasi untuk menonton wayang.

Cerita wayang harus bisa disegarkan lagi, tak hanya melalui pelajaran agama, atau pelajaran seni budaya saja, tapi melalui obrolan sehari-hari, sebagai bagian dari cerita rakyat yang bisa mewarnai percakapan sehari-hari.

Namun tunggu dulu, siapa saja yang bisa bercakap-cakap soal wayang? Tentu hanya Ole dan beberapa gelintir pengamat yang hafal cerita wayang, lalu generasi mobile legend apa kabar? Seberapa sabar mereka harus menunggu cerita itu menjadi bagian yang relevan dari hidup mereka, serelevan mobile legends? Misalnya.

Katakanlah seorang anak usia SD ingin memahami wayang, lalu edukasinya mulai dari mana. Pastinya orang tua, bahkan harusnya sejak sebelum usia sekolah anak-anak setidaknya sudah dikenalkan dengan kisah wayang yang dramatis dan romantis sekaligus tragis itu. Sehingga anak-anak ini siap menonton wayang.

Lalu, berapa persenkah orangtua yang bisa menceritakan kisah wayang dengan sederhana kepada anak-anaknya. Belum lagi persoalan bahasa. Bisakah bahasa wayang diganti dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris? Begitulah pertanyaan netizen.

Sabar, ini sudah meluas. Persoalan mengedukasi penonton wayang belum selesai benar. Kini sudah masuk persoalan Pendidikan bahasa. Di manakah kita memulai?

Persoalan cerita yang relevan telah menjadi inti diskusi kemarin malam. Bagaimana jarak makna bisa ditipiskan agar anak-anak memahami cerita yang lebih sederhana. Katakanlah diambil inti sari maknanya. Bisakah wayang menjadi sebuah pertunjukan yang menyentuh hati anak-anak dan membuat mereka merenung akan hakikat kemanusiaan mereka?

Dalang Punya Jalan, Selalu Punya Jalan

Akhirnya kita kembali pada dalang. Sebagai yang punya jalan, tentu dalang yang membukakan jalan bagi penonton. Dalang juga manusia biasa, yang punya keterbatasan. Keterbatasan dalang dapat diatasi dengan dirinya sendiri, menyadari bahwa tidak semua karakter harus persis seperti karakter yang secara mainstream dibentuk.

Dalang bisa menjembatani makna dengan menawar keterbatasannya dengan teknik bercerita, teknik bersuara, dan teknik mengatur adegan. Bahwa cerita harus dibuat agar kontekstual dan relevan, tentu dalang punya siasat sendiri. Bagian mana yang paling relevan untuk dibuat cerita yang dekat dengan realitas. Namun tidak semua realitas juga ada referensinya di dunia wayang, sama seperti tidak semua referensi di dunia wayang dapat direalitaskan.

Ada bagian yang memang harus menjadi semacam gagasan di luar realitas, gagasan yang tidak mungkin dipaksakan menjadi realitas. Itulah yang memang selalu ada. Ada angan, ada realitas. Disanalah wayang memainkan peran ulang alik sebagai jembatan.

Pada isu-isu tertentu yang sangat dekat dengan audiens, dalang mampu membangun chemistry dengan penonton, meskipun chemistry dapat dimaknai dengan berbeda-beda pula. Jero Dalang mengamati penontonnya. Bahkan menyadari bahwa penonton memiliki dunia sendiri ketika menonton wayang. Ada adegan yang sesungguhnya tidak diniatkan menjadi sedih, namun ada penonton terisak isak.

Ada apa? Barangkali sang penonton mengingat hal sedih justru dari hal lucu. Hal lucu yang sedih. Atau hal yang lucu yang mengingatkan pada seseorang yang dirindukan yang telah tiada. Barangkali, jika hal lucu itu membuatnya sedih, itu bukanlah kesedihan atas pertunjukan yang gagal, namun atas respon yang mendalam yang membuat penonton menghubungkan rasa-rasa kompleks di dalam dirinya. Jero justru merasa disana pertunjukannya berhasil.

Wayang adalah Simbol Alam Semesta

Yang menarik dari diskusi kemarin adalah kehadiran penonton secara virtual yang menyimak diskusi secara live baik dari zoom maupun dari Youtube Komunitas Mahima. Seorang penonton, Dokter Arya Nugraha, menyimak diskusi dari ruang praktek. Beliau bertanya apa makna gunung yang dipakai sebagai pembuka dalam pertunjukan wayang.

Dijawab oleh Jero Dalang bahwa gunung adalah simbol semesta, apa yang ada di gunung sebagai semesta besar ada di diri kita, semesta kecil kita. Maka memahami wayang adalah memahami diri sebagai manusia dan memahami konteks kemanusiaan kita. Memahami wayang adalah memahami warna dunia. Demikian Jero Dalang dalam statement akhirnya.

Sementara Ole meyakini bahwa wayang akan hidup dan terus hidup sepanjang masa. Kisah wayang adalah kisah semesta yang tiada habisnya dibagikan dan bahkan semakin dibagikan semakin tidak terbatas.

 Penonton merasa masih haus pertanyaan, tapi waktu telah menunjukkan hampir satu setengah jam diskusi.

Sampai jumpa di diskusi berikutnya. Di Mahima March March March. [T]

Diskusi selengkapnya bisa ditonton di kanal youtube Komunitas Mahima:

Tags: Dalangkisah pewayanganKomunitas MahimaMahima March March March 2020Mahima March March March 2022wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Next Post

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co