22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 15, 2022
in Esai
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

jJro Dalang Sembroli, Weda Sanjaya dan Adnyana Ole

Diskusi tentang wayang, Senin 14 Maret , menjadi sesi panel pertama Mahima March March March. Tajuknya, The Art of Wayang and Reality.

Di sini didiskusikanlah jarak rentang dalang dan penonton, mulai dari jarak cerita, jarak bahasa, jarak realita, dan jarak-jarak lainnya. Diskusi hangat ini sedang mempertontonkan bagaimana jarak bisa dikikis, diserut, dipipihkan, bahkan dilipat hingga pesan yang disampaikan tak lagi mengeluarkan banyak energi untuk sampai.

Tetapi apakah tujuan kita, tujuan penonton? Apakah memang ingin sampai? Bukankah menonton adalah proses perjalanan, yang tujuannya belum tentu satu, melainkan dua, atau bercabang-cabang.

“Menonton” diskusi wayang di Rumah Mahima, saya bahagia. Pertama ini adalah panel pembuka di festival Mahima March March March yang digagas Komunitas Mahima.

Lalu pembicaranya adalah sahabat saya, Jro Dalang Sembroli atau bernama lengkap Gusti Made Aryana, seorang dalang yang sudah sangat terkenal di Bali Utara, dan belum beberapa lama sempat mementaskan wayang di upacara tiga bulanan ponakan saya. Pembicara pendamping adalah Made Adnyana Ole, jurnalis penyuka wayang. Moderatornya adalah Gus Weda Sanjaya, peraih hadiah sastra Rancage tahun ini.

Dari diskusi ini disadari bahwa mendiskusikan wayang tak akan pernah ada habisnya, kita bisa kupas dari mana saja, perspektif apa saja, lapis mana saja. Ketiga, menyambungkan relevansi wayang dengan konteks seni pertunjukan masa kini. Sampai di mana wayang Bali Utara bicara. Apa yang menumbuhkannya dan kemana tumbuhnya.

Penonton Menuntut Dalang

Menurut Jro Dalang Sembroli, sebagai dalang, ada beberapa ‘teror’ yang kerap dia temui di lapangan. Penonton menuntut dalang agar lucu, cepat, langsung ke jokes, tanpa basa-basi. Tanpa pengantar, tanpa pembuka.

Ini adalah tuntutan yang luar biasa karena sesungguhnya wayang selalu dan harus dibuka dengan pembuka, dan barulah jembatan dibangun, lalu barulah masuk ke jalan cerita. Namun, semua konteks itu di masa yang instan ini ingin dikikis oleh penonton. Dalang dituntut langsung ngelawak. Padahal dalang bukanlah pelawak apalagi stand up comedian. Bukan.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Tentu kita tak hanya bisa menonton wayang dalam rangka menuntut dalangnya mengeluarkan lelucon. Lagipula lelucon macam apa yang kita inginkan. Bahkan untuk menyepakati lelucon saja, bisa panjang referensi yang harus kita paparkan. Lelucon itu tidak bisa disebut lelucon jika konteksnya tidak pas antara audiens dan dalang. Konteks itu termasuk latar belakang budaya, isu sosial, dan pengetahuan yang disepakati bersama.

Sudut pandang lelucon tentu dibatasi (atau tidak dibatasi?) oleh imajinasi dan pengetahuan penonton. Dan lucu atau tidak lucu itu seharusnya tidaklah menjadi beban seorang dalang, namun biasalah netizen, ga lucu sedikit langsung meninggalkan komentar pedas.

Dalang Menuntut Penonton

Lalu Made Adnyana Ole membela dalang, harusnya bukan hanya dalang yang dipaksa-paksa menyesuaikan konteks cerita atau kelucuan, penonton pun harus diedukasi untuk menonton wayang.

Cerita wayang harus bisa disegarkan lagi, tak hanya melalui pelajaran agama, atau pelajaran seni budaya saja, tapi melalui obrolan sehari-hari, sebagai bagian dari cerita rakyat yang bisa mewarnai percakapan sehari-hari.

Namun tunggu dulu, siapa saja yang bisa bercakap-cakap soal wayang? Tentu hanya Ole dan beberapa gelintir pengamat yang hafal cerita wayang, lalu generasi mobile legend apa kabar? Seberapa sabar mereka harus menunggu cerita itu menjadi bagian yang relevan dari hidup mereka, serelevan mobile legends? Misalnya.

Katakanlah seorang anak usia SD ingin memahami wayang, lalu edukasinya mulai dari mana. Pastinya orang tua, bahkan harusnya sejak sebelum usia sekolah anak-anak setidaknya sudah dikenalkan dengan kisah wayang yang dramatis dan romantis sekaligus tragis itu. Sehingga anak-anak ini siap menonton wayang.

Lalu, berapa persenkah orangtua yang bisa menceritakan kisah wayang dengan sederhana kepada anak-anaknya. Belum lagi persoalan bahasa. Bisakah bahasa wayang diganti dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris? Begitulah pertanyaan netizen.

Sabar, ini sudah meluas. Persoalan mengedukasi penonton wayang belum selesai benar. Kini sudah masuk persoalan Pendidikan bahasa. Di manakah kita memulai?

Persoalan cerita yang relevan telah menjadi inti diskusi kemarin malam. Bagaimana jarak makna bisa ditipiskan agar anak-anak memahami cerita yang lebih sederhana. Katakanlah diambil inti sari maknanya. Bisakah wayang menjadi sebuah pertunjukan yang menyentuh hati anak-anak dan membuat mereka merenung akan hakikat kemanusiaan mereka?

Dalang Punya Jalan, Selalu Punya Jalan

Akhirnya kita kembali pada dalang. Sebagai yang punya jalan, tentu dalang yang membukakan jalan bagi penonton. Dalang juga manusia biasa, yang punya keterbatasan. Keterbatasan dalang dapat diatasi dengan dirinya sendiri, menyadari bahwa tidak semua karakter harus persis seperti karakter yang secara mainstream dibentuk.

Dalang bisa menjembatani makna dengan menawar keterbatasannya dengan teknik bercerita, teknik bersuara, dan teknik mengatur adegan. Bahwa cerita harus dibuat agar kontekstual dan relevan, tentu dalang punya siasat sendiri. Bagian mana yang paling relevan untuk dibuat cerita yang dekat dengan realitas. Namun tidak semua realitas juga ada referensinya di dunia wayang, sama seperti tidak semua referensi di dunia wayang dapat direalitaskan.

Ada bagian yang memang harus menjadi semacam gagasan di luar realitas, gagasan yang tidak mungkin dipaksakan menjadi realitas. Itulah yang memang selalu ada. Ada angan, ada realitas. Disanalah wayang memainkan peran ulang alik sebagai jembatan.

Pada isu-isu tertentu yang sangat dekat dengan audiens, dalang mampu membangun chemistry dengan penonton, meskipun chemistry dapat dimaknai dengan berbeda-beda pula. Jero Dalang mengamati penontonnya. Bahkan menyadari bahwa penonton memiliki dunia sendiri ketika menonton wayang. Ada adegan yang sesungguhnya tidak diniatkan menjadi sedih, namun ada penonton terisak isak.

Ada apa? Barangkali sang penonton mengingat hal sedih justru dari hal lucu. Hal lucu yang sedih. Atau hal yang lucu yang mengingatkan pada seseorang yang dirindukan yang telah tiada. Barangkali, jika hal lucu itu membuatnya sedih, itu bukanlah kesedihan atas pertunjukan yang gagal, namun atas respon yang mendalam yang membuat penonton menghubungkan rasa-rasa kompleks di dalam dirinya. Jero justru merasa disana pertunjukannya berhasil.

Wayang adalah Simbol Alam Semesta

Yang menarik dari diskusi kemarin adalah kehadiran penonton secara virtual yang menyimak diskusi secara live baik dari zoom maupun dari Youtube Komunitas Mahima. Seorang penonton, Dokter Arya Nugraha, menyimak diskusi dari ruang praktek. Beliau bertanya apa makna gunung yang dipakai sebagai pembuka dalam pertunjukan wayang.

Dijawab oleh Jero Dalang bahwa gunung adalah simbol semesta, apa yang ada di gunung sebagai semesta besar ada di diri kita, semesta kecil kita. Maka memahami wayang adalah memahami diri sebagai manusia dan memahami konteks kemanusiaan kita. Memahami wayang adalah memahami warna dunia. Demikian Jero Dalang dalam statement akhirnya.

Sementara Ole meyakini bahwa wayang akan hidup dan terus hidup sepanjang masa. Kisah wayang adalah kisah semesta yang tiada habisnya dibagikan dan bahkan semakin dibagikan semakin tidak terbatas.

 Penonton merasa masih haus pertanyaan, tapi waktu telah menunjukkan hampir satu setengah jam diskusi.

Sampai jumpa di diskusi berikutnya. Di Mahima March March March. [T]

Diskusi selengkapnya bisa ditonton di kanal youtube Komunitas Mahima:

Tags: Dalangkisah pewayanganKomunitas MahimaMahima March March March 2020Mahima March March March 2022wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Next Post

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co